Qtalita back again

.

.

WonKyu with sweet story

.

.

Choco Raining

.

.

28 Maret 2014

Aku mengerang, kepalaku baru saja seperti dipukul palu godam, berdentum memekik di telinga, sakit kepala ini masih saja menyerang bahkan jauh lebih ganas dibanding hari lalu. Aku bersandar di depan meja kasir, memperbaiki tata letak beanie biruku, dan sweater rajut tipis yang membungkus tubuh bagian atasku, beberapa waiters mengatakan Style ku sedikit berbeda, segar. Aku mengatakan ini membosankan. Well, bagian mana dari kehilangan rambut yang terlihat segar? Okay, jika rasa sejuk berada didalamnya.

Sedikit memperjelas, aku baru saja menjalani operasi Bypass, apa itu? Entahlah? Yang aku tahu, saat aku sadar, rambutku sudah habis dan membuatku tertekan selama proses penyembuhan.

Eum, anyway, sepertinya cerita diatas tidaklah sepenting itu, now, lets see how Tuxedos without me for 2 week..

Bangunan dua lantai berdesain minimalis dan maskulin dalam satu line ini masih tampak lengang, ini masih cukup pagi, pukul 09:25. Namun wangi kopi yang sengaja kuhangatkan sudah merebak kepenjuru ruangan, wangi yang seakan menjadi therapy sendiri bagiku, aku mencintai kopi, mengaguminya, hingga membuatkan tempat spesial untuk mereka berlabuh. Tuxedos.

"Kyuhyun" Hyukkie menghampiriku dengan beberapa lembar gambar di tangannya, pensil hitam terlampir ditelinga atasnya, dahinya nyaris menyatu.

"Hm?" Ucapku membalik badan, melongokkan kepalaku di atas mesin kasir.

"Menurutmu, gambar mana yang cocok untuk bulan ini Kyu?"

Aku mengikuti arah tangan Hyukkie yang menunjuk beberapa desain untuk walpaper besar di sisi belakang yang berhadapan langsung dengan pintu utama. Ada beberapa pilihan, ya! Ini memang sedikit unik namun sangat aku tekankan, penampilan Tuxedos akan berubah-ubah sesuai dengan permintaan pelanggan atau sesuatu yang sedang menjadi trending di musim ini.

Aku mengetuk-ngetuk daguku, alunan suara Demi Lovato dari stereo di beberapa sudut ruangan membawa ide cemerlang.

"Eum simpan saja dulu, sepertinya aku punya ide yang lebih briliant" Senyumku, mengemasi kertas-kertas desain lalu meletakkannya di laci bawah mesin kasir.

"Oh iya, kau sibuk hyung?"

Hyukkie menggeleng, aku dengan sigap merobek selembar kertas menu, membaliknya ke sisi yang kosong lalu menulis beberapa catatan.

"Kalau begitu tolong lengkapi semua catatan ini ne"

Hyukkie mengernyit, meletakkan pencilnya di depanku lalu mengangkat sebelah alisnya sambil menatapku penuh tanya.

"Untuk apa benda-benda ini Kyu?"

"Untuk wallpaper kita"

Hyukkie mengangguk-angguk pasrah, ia melepas apron kebanggaannya dan menggantinya dengan jaket kasual.

"Mobilmu?"

Aku menunjuk batang kayu berplitur coklat terang dengan ranting-ranting kecil pendek, tempatku menggantung kunci mobil, topi milik Hae hyung, jaket dan benda-benda kecil lainnya.

"Okay Kyu, jika ada masalah dengan dapurku hubungi aku ne?"

"Tidak akan ada masalah, selama Jae Noona yang berada di dalam"

"Aku tahu Lee Donghae jelek itu juga berada disana" Hyukkie memutar bola matanya malas

"Kau takut akan dapurmu atau.." Ledekku

"Dapur Kyu! Dapur.." tekannya

Aku terkekeh geli, menggoda namja bergummy smile ini begitu mengasyikkan, lihat saja hidungnya yang berubah kembang kempis, dan matanya yang cukup besar melotot hendak meloncat keluar.

"Tenang saja, Yunho hyung jauh lebih tampan dari Lee Donghae itu" Aku menghentikan laju mesin pembuat Kopi, membuat suara dengungan berhenti dan telinga kami menjadi lega.

"Kyu!"

Aku tertawa, mengusir Hyukkie dengan isyarat tangan, namja itu berlalu dengan omelan panjang lebar. Aku tersenyum. Tuxedos pertama setelah proses penyembuhanku... menyenangkan.

...

Aku masih dengan dahi mengernyit dan kepala yang mungkin sebentar lagi berasap dan boom, meledak. Di sudut cafe yang hanya berpenerang lampu berwarna kuning kecil berkesan elegan, meja kecil dan sofa merah menyala, my favorite place. Why? Di sisi kiriku, di dinding berwarna hijau dan beraksen menara kebanggaan paris ini tergantung sebuah sketsa dari orang ternama kebanggaanku, the art of coffee, he said.

"Ehm!" Seseorang berdehem, tidak cukup menarik untuk mengangkat kepala, aku tetap berkutat dengan berlembar-lembar kertas putih, Yeah sekarang tidak putih lagi, banyak coretan diatasnya.

"Sebegitu pentingkah kertas itu huh?"

Aku tersenyum kecil, nada merajuk itu, sangat menggoda, aku mengangkat kepala, Siwon dengan alis yang menyatu dan mata besar tajam tengah berdiri di depanku sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Jas putihnya masih terlampir di bahu kokohnya.

"Oh, kau datang?"

Siwon menarik kursi anyam, mendudukkan diri yang sebelumnya melepas jas kebanggaannya itu.

"Tentu saja, aku tidak ingin dipecat dari pekerjaanku" Senyumnya, aku menyelipkan pensil di atas telingaku.

"Pekerjaan?"

"Kasir" Siwon mengangkat bahu.

Aku tertawa, ia juga.

"bagaimana harimu?" Tanyanya. Aku mendesah pelan.

"Seperti yang kau lihat, sedikit sibuk"

"Oh.."

"Well, kau selalu bertanya hal yang sama setiap harinya, itu membosankan" Godaku, Siwon mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut kecil runcing.

"Wae? Tidak boleh?"

"Ani, hanya saja kau seolah tidak tahu, dan itu aneh"

Siwon tertawa renyah, serenyah Cookies yang beberapa menit sebelum ia datang sudah habis aku lahap. Siwon merendahkan tubuhnya, lengannya bertumpu di meja oval, tatapannya mengunci, aku waspada, seperti biasanya jika Siwon sudah dalam pose seperti ini ia biasanya akan..

"Karena permata indah itu sudah kumiliki tanpa harus melihatnya dari balik etalase sayang"

...Menggombal.

Aku mendengus, mencubit lengannya cukup keras, ia mengaduh.

"Aww sakit chagi"

"berhenti menggodaku, dan berhenti menatapku seperti itu, kau seakan ingin mengunyahku"

"Ow ow baby, jadi kau ingin aku 'mengunyahmu'?"

Aku kembali mencubit lengannya, jauh lebih keras dari sebelumnya. Ia hanya tertawa tanpa berusaha melepas cubitanku.

"Ehm! Ehm! Sepertinya ada yang berkencan, Apa aku mengganggu?" Hyukkie muncul dari lantai 2 masih dengan nampan yang terisi gelas kosong. Tatapannya mengintimidasi seakan mengatakan 'Dekorasimu belum selesai Kyu'

"Well tidak juga, jika kau ingin bergabung" Siwon tersenyum lembut, selalu seperti itu, dihadapan semua orang. Cheese..

"Thanks but no Thanks, Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan sepertinya kau juga bukan Kyu?" Hyukkie menunjuk setumpuk kertas di depanku dengan dagunya. Hey, siapa bos disini?

"Okay okay, dont worry Hyukkie, i'll be done sooner, just go back and waiting" Ucapku menarik pensil lagi.

Siwon menatapku sebentar sebelum kembali menahan Hyukkie.

"Apa ada yang bisa aku bantu?"

"Yeah, meja kasir kosong tuan Choi"

Siwon mengerucutkan bibirnya, aku tahu ia sedang mencari pekerjaan lain, seperti biasa, anak itu memang selalu ingin tahu apa yang sedang kami perbuat.

"Well, okay itu memang pekerjaanku, tapi maksudku, apa yang kalian bicarakan dengan 'dekorasi'?"

Hyukkie meletakkan nampannya sementara di mejaku, tepat diatas desain-desain dekorasiku, aku menggeram, Hyukkie dengan cepat menggesernya ke sisi meja. Disaat bersamaan Jae Noona muncul dengan kaleng-kaleng cat yang terlihat berat.

"Noona, akan kau apakan kaleng-kaleng itu?" Tanyaku, Jae Noona menepuk tangannya setelah meletakkan kaleng cat di sampingku seolah pekerjaannya telah selesai.

"Kalian akan memulai dekorasi bukan?"

"Who say?"

"Donghae"

"Huh? Kita bahkan belum tutup Noona, bagaimana bisa kita.."

"terlambat Kyu, namja bodoh itu sudah membuat tulisan 'Open' menjadi 'Close' di depan pintu"

Aku membulatkan mataku, mengintip jam tanganku yang masih berputar di angka 7 malam, ini masih terlalu cepat untuk menutup cafe. Ya Tuhan

"Ck, anak itu.."

Aku hendak berdiri anda saja namja bernama Lee Donghae itu tidak muncul di depan kami dengan mata tersenyum.

"Jja, saatnya mendekor"

Aku memutar bola mataku malas, Siwon mengangkat bahunya pasrah, begitupula Jae noona.

Hhhh...

...

Aku tertawa kecil memperhatikan 3 namja di dinding belakang, satu tengah berdiri dengan lutut bergetar diatas tangga, dua lagi tengah memegang cat dan sketsa. Jae Noona berdiri dibelakang mereka dengan tangan teracung keatas, komando. Aku sendiri? Sebagai namja yang baru saja melewati tahap penyembuhan, aku hanya duduk di depan sofa dengan segelas latte mint, penonton.

"Yak! Choi Siwon, berhenti bergoyang di atas sana"

"Aiissshhh, Letakkan gambarnya di tempat yang benar Hyukkie"

"Lee Donghae... Yak!"

Aku memijit pelipisku yang sebenarnya sedikit pusing, pengobatan yang gagal menurutku, buktinya sekarang kepalaku masih sering berdenyut.

"kalian terlalu berisik"

Ucapku akhirnya, Siwon menunduk, yeah, ia sedang diatas tangga bukan? Tangannya yang memegang kuas bergetar. Satu hal yang baru aku sadari, Siwon takut ketinggian.

"Well, Gambarmu buruk" Aku membandingkan sketsa yang kubuat dengan apa yang Siwon sedang berusaha gambar di dinding.

"Aku sudah berusaha sayang"

"Uugghh, telingaku sedikit gatal mendengar panggilanmu" Celetuk Donghae, Siwon mendecih sebal.

"Tapi, ini benar Siwon, kau menggambar tidak sesuai sketsa" Jae Noona mengernyit ngeri.

Siwon turun dari tangganya, meletakkan kuas dengan asal lalu memperbaiki tatanan rambutnya, lelehan keringat terlihat jelas di lengannya yang sudah terekspos akibat kemeja yang ia lepas beberapa waktu lalu, menyisakan kaus tanpa lengan berwarna hitam.

"Hmmm, sepertinya jiwa seniku sedikit bangkit sayang" Siwon mengerlingkan matanya padaku.

"Well, tidak juga Siwon sayang, look!" Aku menyerahkan lembaran sketsa buatanku.

Hyukkie melangkah mundur duluan disusul Jae Noona, pandangannya prihatin pada Siwon, bagaimana tidak, sketsa yang beberapa jam kukerjakan harus berakhir aneh di kanvas aslinya? Lihat saja, sketsa yang berupa 3 mobil VW klasik, Menara Eiffel, biji kopi dan warna-warna abstrak dalam desain artistik malah berubah menjadi 3 buah mobil but yeah jika sekarang masih bisa disebut mobil, karena Siwon menambah penghubung sejenis derek disetiap bagian mobil, hingga tampak seperti kereta mainan.

"Eum, aku tidak melihat mobil-mobil ini berderet seperti ini tadi"

"Ini bukan Simsalabim Siwon, aku membuatnya"

"Tapi ini terlihat lebih manis sayang" Tunjuknya pada dinding yang cat nya sudah mulai mengering.

"I dont like sweet 'thingy' Siwon, itu cengeng"

"Tapi kau manis dear"

"Ehm!" Donghae menyela.

"Aku tidak seharusnya ada disini, silahkan lanjutkan" Ucapnya melewatiku, setelah menepuk bahu Siwon.

Siwon tersenyum penuh di depanku, memamerkan lesung pipinya yang begitu ia banggakan.

"masalah kita belum selesai sampai disini"

Senyumnya luntur, ia kembali membandingkan sketsa dengan dinding hasil buatannya, ia meletakkan tangannya di dagu, menggosoknya pelan.

"Kyu, apa ini menara Eiffel?"

"Apa harus kujelaskan?"

"Yeah, maksudku, tadi ini tampak seperti menara mercusuar"

Yup, menara eiffel yang aku harapkan berdiri megah di depan kanvas dindingku kini berubah menjadi mercusuar lengkap dengan cahaya-cahaya kuning sedikit biru, menyorot pada 'mobil' kereta mainan.

Aku menggosok wajahku kasar, pendingin udara seolah-olah tidak berfungsi sekarang, karena yang aku rasakan hanya rasa gerah dan siap meledak.

"Siwon" Bisikku.

"Ah, okay Kyu, i know! Aku tahu kau marah, sorry" Siwon mengaitkan kesepuluh jari tangannya lalu menempelkan didepan mulutnya, alisnya bergerak turun dan hampir menyatu, penyesalan berat.

Aku tidak menjawab, hanya menatapnya bergantian dengan sketsa.

"Maaf" Tulusnya.

Aku menghela nafas, dahiku mengerut, biji-biji kopi yang seharusnya berserakan disudut bawah kenapa terlihat berbeda dengan hasil buatan Siwon?

Namun sedetik kemudian senyumku mau tidak mau tertarik, Siwon selalu memiliki jalan tersendiri, jalan unik namun sangat berkesan. Ingin tahu apa yang ia lakukan dengan biji-biji kopi itu?

Ia mengolahnya, menjadikannya secangkir kopi dengan asap mengepul, meletakkannya di depan sebuah meja kasir dengan siluet namja dibaliknya menggunakan apron hitam bertulis TX dengan tinta emas di dada kirinya dan name tag 'Cashier' di dada kanannya. Aku tahu dengan jelas Siwon mencoba menggambarkan siapa? Aku. Yeah, itu Aku.

Lalu kemana warna-warna abstrak itu? Siwon merubahnya menjadi 'makhluk-makhluk' kecil yang bersorak di atas kereta – yang awalnya mobil – bersinar mercusuar.

"kau membuat cerita tuan Choi?"

"Kau membuat cahaya sayang, kepulan asap beraroma tajam, orang-orang bahagia, kereta khayalan" Siwon tertawa kecil.

"kau membuat cafe ini terlihat tidak maskulin lagi" Rengutku, Siwon tersenyum sekilas, ia kembali meraih kuas paling kecil, mencelupkannya di kaleng cat berwarna hitam.

Garis-garis tajam terbentuk disana, bisa terlihat dari bahu yang kokoh dan sedikit tinggi, membawa nampan, hei..

"Apa sudah maskulin?"

Aku tertawa, tergelak, membuat Hyukkie melongok dari balik dapur.

Aku masih tertawa.

"kau menggambar dirimu sendiri?"

"Well, hanya aku yang tampak maskulin disini"

Donghae mengerang dari pintu depan. Siwon meringis.

"So?" Siwon melipat tangannya di depan dada.

"What?"

"How maskulin ur place ?"

"Tidak seberapa"

"Huh?" Siwon melotot.

Aku meremas kertas sketsaku lalu melemparnya ke tong sampah. Siwon masih mengekor dengan peluh menetes.

"Ok, wait" Tahannya. Aku kembali berbalik, mengikuti gerakan tangannya yang menari diatas kanvas.

"Eum, bisakah kau berbalik sebentar Kyu?" Pintanya, aku mengangkat bahu lalu berbalik membelakanginya, menatap jalan yang mulai diterangi lampu mobil dari kaca besar di samping pintu masuk.

"Kyu.."

Siwon menepuk bahuku, meminta untuk berbalik, dan..

"S-siwon?"

Tak ada yang aku lihat selain dinding berlukis mercusuar, kereta khayalan, siluet tubuhku, dan.. Siwon dengan nampan, bukan! Bukan sekedar siluet, namun Siwon nyata, entah sejak kapan ia berganti pakaian lengkap dengan apron dan nampan dengan kotak biru diatasnya. Senyumnya mengembang.

"How masculin baby?"

Aku menepuk dahiku dengan senyum yang tertahan, wajah memerah dan bibir tergigit. Siwon sendiri menggaruk kepala belakangnya sementara satu tangannya masih menahan nampan, aku berbalik, sepi. Hei, kemana semua orang-orang?

Siwon masih berdiri didepanku ketika beberapa lampu padam berganti dengan cahaya lilin yang entah berasal dari mana, Siwon menunduk menarik nafas panjang. Wajahnya menengadah bersamaan dengan lantunan melodi 'two is better than one' milik Boys Like Girls terdengar sayup dari stereo.

"Sayang.." Siwon berbisik.

"..."

"Kita mungkin tidak sebebas merpati setelah ini, kita mungkin akan tumbuh tua setelah ini.."

"..."

"Tapi, hanya kau yang membuatku setenang aroma kopi, secerah cahaya mercusuar, dan melayang indah setiap harinya"

"..."

"I'll be your rainbow after the rain, be the sunshine when the sky turning gray"

"Siwon" Bisikku lirih, Siwon menggeleng melarangku untuk berbicara sebelum ia menyelesaikan perkataannya.

"Baby, you know i always be there, i'm never far away"

Siwon berdehem sebentar lalu maju selangkah mendekat, senyumnya bersinar hanya dengan cahaya lilin disekitar kami, hanya kami berdua, ya! Setelah ini aku akan membuat sidang kecil untuk orang-orang itu.

"Kyuhyun, Cho Kyuhyun, My Kyunnie, My Baby, My sweetheart.."

"..."

"..."

"..."

"Will You Marry Me?"

Siwon membuka kotak biru berisi sepasang cincin dengan batu permata kecil berwarna biru juga, lantunan 'Marry you' tiba-tiba menemani kami, cukup membuat suasana menggelitik, apalagi Siwon menahan tawanya dengan mengulum bibir tipisnya. Wajahnya memerah. Aku memalingkan sejenak wajahku, dan disanalah mereka, orang-orang yang kucari sejak tadi, tengah bersembunyi di taman belakang, mengirim isyarat padaku dengan gerakan aneh, memintaku untuk menerima lamaran di depanku.

"So?"

"What?"

"Kyu.." rajuknya, aku tertawa kecil, lalu mengangguk kecil.

"Huh?" Siwon menaikkan alisnya sebelah. Aku membuang nafas.

"Cincin itu tidak akan berpindah jika kau hanya memainkan alismu Choi"

Siwon terkekeh, ia meletakkan nampannya, memegang sepasang cincin dengan ukuran berbeda, cincin yang berukuran sedikit kecil ia letakkan menggantung sesaat di depan wajahku.

"My dream, finally will come true" Lirihnya tersenyum lega.

Siwon meraih jemari kiriku, mengusapnya sebentar lalu memakaikan benda bulat berwarna itu di jari manisku, Siwon mengecup jemariku lama.

"Now.." Siwon menyerahkan cincin berukuran lebih besar padaku.

Dengan tangan bergetar kuangkat jemari Siwon, meloloskan sang cincin di tempat yang sama denganku, dan mengelusnya beberapa kali. Siwon menarikku kedalam pelukannya dibarengi dengan sorakan Hyukkie dan Donghae dari belakang sementara Jae Noona nampak menyeka airmata haru yang menetes dari mata indahnya.

"Siwon.." Bisikku di bahunya.

"Hm?

"Kau sudah merencanakannya sejak lama?"

"Menurutmu sayang?"

"Dan mereka tahu?"

Siwon menoleh sebentar ke arah taman belakang tanpa melepas pelukannya, dadanya bergemuruh pertanda ia sedang tertawa kecil. Dagunya ia letakkan diatas bahuku.

"Ini tidak akan seindah ini tanpa mereka sayang"

"Kau jahat" Bisikku

"Aku tahu"

"Kau mau membunuhku?" Tanyaku diselingi tawa

"Tidak sayang, tentu saja tidak"

"Kau sudah berusaha membunuhku" Lanjutku

"Huh?"

"kau tidak merasakan jantungku berdegup terlalu kencang, Oh God, " Aku melepas posisiku tanpa melepas pelukannya, tangan Siwon masih memeluk pinggangku.

"Setidaknya aku yang akan mati duluan baby" Siwon menyentil hidungku.

"Jangan bercanda"

"Aku serius, kau tidak tahu sejak semalam jantungku sudah berdegup 5 kali lebih cepat dan semakin cepat sejak tadi pagi" Siwon mempoutkan bibirnya tidak lucu. Membuatku tergerak untuk mencubit pipinya.

"Maaf membuat jantungmu hampir meledak" Ucapku tulus.

Siwon mengangguk, ia mendekat selangkah, merengkuh pinggangku lebih dekat.

Cup

Siwon mengecup keningku lembut, senyumku mengembang.

"Lets get married, my wife"

"Lets go "

Siwon kembali memelukku, hangat...

Tak ada hujan hari ini, namun desir suaranya, lembayung awannya merasuk jauh kedalam bathin.

Damai.. dan tenang..

Mungkin ini adalah akhir kisah kami, Ah! Bukan, ini adalah awal, awal yang baru..

END

Hhhh, akhirnya bisa comeback lagi setelah sekian lama menghilang hehehehehe,

Maaf ya mungkin jiwa penasarannya bisa terobati dikit, tentang siapa sebenarnya Siwon dan apa pekerjaannya hahahahahaha..

Oia, ada yang bertanya ini ffnya bergaya apaan? Nnah, ini Cuma kumpulan ff one shoot tapi masih berhubungan satu sama lain kok..

Untuk lanjutannya? Nanti yaaa hehehehehehe

Ok, thanks banget buat review nya, so sweet heheheheheh

Qai