Qtalita back

.

.

WonKyu sweet story

.

.

Choco Raining

.

.

02 Mei 2014

Hujan diluar sana semakin menderu, butirannya menghantam tepat diatas atap, menimbulkan suara nyaring yang membuat orang-orang lebih memilih meringkuk di kamar masing-masing dibandingkan berada diluar.

Berbekal sebotol air mineral dan beberapa buah segar aku kembali menggoreskan pensil diatas lembar kertas putih, sesekali alisku tertarik ketengah, membenarkan kacamata, atau merenggangkan kepala ke kanan dan ke kiri.

Kakiku bersila diatas sofa merah ditengah ruangan dilantai dua yang berbatasan langsung dengan partisi kaca berisi aliran air hujan, aroma kopi tidak terlalu teras di tempat ini, terpisah satu lantai dan merupakan smoking area, ruangan ini di desain khusus dengan beberapa penyangga tahan api dan cerobong asap tersendiri, kalian tidak akan merasakan sesak asap rokok ataupun aroma menyengat dari batang berisi tembakau itu.

Jika banyak bertanya kenapa kali ini aku memilih lantai 2 Tuxedos untuk bekerja, jawannya hanya hal kecil, aku tidak bisa diganggu saat bekerja, tidak ingin diusik, dan tidak ingin diajak berbicara. Dan semuanya tidak akan terjadi jika Choi Siwon yang sejak seharian ini berada di lantai bawah.

Drrttt drrrttt.

Ponselku bergetar, aku mengapit pensil berwarna biru di antara daun telinga atasku, melepas kacamata lalu mengangkat panggilan.

"Ya"

"..."

"Disana ada Siwon, he can"

"..."

"Ya Tuhan, baiklah tunggu sebentar"

Aku menghela nafas, terburu-buru turun kelantai satu, melewati tangga melingkar yang baru kali ini membuatku berfikir 'kenapa aku membuat desain tangga yang bisa membuat kepalaku terasa tertinggal di atas'.

Aku menelan ludahku ketika kakiku berpijak di lantai satu, gerakan berputar membuat perutku mual. Sangat.

"Kyuhyun!" Hyukkie berteriak dari meja kasir, disana juga ada Siwon yang sibuk menekan mesin penghitung. Aku menghampiri mereka.

"Okay, here we go, berapa banyak?"

"Seperti biasa Kyu dengan orang yang sama, 5 gelas" Hyukkie menyerahkan apron hitam kebanggaan cafe kami, aku mengenakannya cepat lalu mengikuti Hyukkie ke tempat 'sakral' miliknya. Dapur.

Aku menarik nafas panjang sebelum meletakkan bahan-bahan racikanku sedekat mungkin agar mudah kujangkau, 5 gelas berukuran sedang, serbuk kopi lokal, coklat batang yang telas dicairkan, kayu manis, dan sedikit mint.

"Okay, seperti biasa, kutinggalkan kau sendiri" Hyukkie menepuk bahuku yang masih terasa lelah. Aku mengangguk, mempererat ikatan apron dipinggangku lalu berkutat pada gelas-gelas dihadapanku.

Sedikit banyak aku mengeluhkan menu ini, kenapa masih tertulis rapih diantara deretan menu lain dan bahkan tercatat di papan order sebagai 'Hot Offer' , bukan karena aku tidak ingin membuatnya, hanya saja, ini membuatku terikat dengan cafe ini, aku ingin semua bisa melakukannya, bukan hanya aku, meskipun Hyukkie juga bisa dan pegawai baru Mr Choi itu juga telah belajar banyak, hanya saja mereka selalu berkata rasanya berbeda.

Sraaakk.

"Argghh.." Aku berteriak kecil, semangkuk coklat cair tersenggol lenganku sendiri, menimbulkan bercak-bercak coklat lengket di seluru bagian depan apron yang aku kenakan.

Suara derap langkah kaki terdengar mendekat, aku tidak perlu berbalik untuk menebak, dia pasti..

"Sayang?"

..Choi Siwon.

"Ada apa? Are you okay?" Lanjutnya memutar tubuhku, meneliti jika saja ada bagian tubuhku yang terluka.

"Aku baik-baik saja , dan apa yang kau lakukan disini? Bukankah didepan sedang banyak orang?" aku menepis lengannya pelan, tanganku kembali cekatan meracik bahan yang tersisa, untung saja coklat yang kuperlukan masih cukup.

Tanpa menjawab Siwon melepas apron yang sejak tadi menempel di tubuh tingginya.

"Pakai punyaku" Siwon menyodorkan apronnya.

"Sudah hampir selesai"

"Tapi itu lengket"

"Its okay Siwon, ini hanya coklat" Aku berdebat sambil melemparkan senyum padanya, Siwon menghela nafas kembali mengenakan apronnya.

"Ya..ya..ya.." Siwon memutar bola matanya berpura-pura kesal. Kakinya maju beberapa langkah, mendekatiku yang tengah mengaduk gelas ke-tiga. Siwon melipat kedua lengannya di depan dada.

"Sebenarnya, resep rahasia apa yang kau masukkan ke dalam minuman ini Kyu?"

"..." Aku tidak menjawab apa-apa hanya memberi senyuman hangat.

"Aku selalu gagal membuatnya, it suck!" Siwon berdecih, wajahnya menunjukkan mimik serius membuat tawaku tergelak.

"Hanya perasaan senang" Jawabku meletakkan ke-lima gelas berisi Choco Vintage Coffee di atas nampan, menekan bel order dan menunggu Hyukkie ataupun yang lainnya masuk.

"Senang? Hah? Sayang jangan bilang kau menuduhku tidak senang saat membuat racikan minuman ini, aku sangat bahagia" Siwon membuka lebar matanya, aku kembali tertawa bertepatan dengan Donghae yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu dapur bertirai kerang-kerang berwarna hitam.

"Sudah selesai?" Tanyanya menyenggol Siwon agar memberinya sedikit spasi. Siwon memukul pelan kepala Donghae, menghasilkan rintihan kecil namja mungil itu.

"Yup, dan segera bawa saja, kau mengganggu" Siwon menjawab sambil berjalan kedepan, aku mengernyit, ada apa dengan Siwon, ia sedikit sensitif akhir-akhir ini, tunggu! Dia benar-benar namja bukan? Bukan yeoja, dia tidak mungkin.. ah! Apa yang aku fikirkan.

"Kyu,Kyuhyun, hei kau melamun?" Donghae memukul bahuku, aku tersentak kecil lalu menggeleng.

"Bawa saja" Titahku mengikuti Siwon.

...

"Hei, kau baik?" Aku merendam beberapa buah jeruk, nanas dan mangga dalam wadah berisi soda, Kulirik Siwon yang masih sibuk dengan mesin hitungnya, menulis beberapa catatan kecil dengan tulisan khasnya, ia menggulung lengan bajunya sebelum berbalik ke arahku.

"Aku baik jika kondisi kesehatanku yang kau ingin tahu sayang, hanya saja.." Siwon melipat kedua lengannya di depan dada, aku meletakkan dua Mason Mug Jar *gelas berbentuk toples* di depan mesin penggiling kopi, masih dengan melirik Siwon aku menunggu ia melanjutkan perkataannya.

"Mengenai pernikahan kita 2 minggu kedepan, Aku tegang"

Aku nyaris tertawa dengan kalimat terakhir Siwon, namja itu tegang? Sejak kapan? Bahkan sejak pertama aku mengenal Siwon, dia yang selalu menetralkan rasa tegang yang aku rasakan. Well sepertinya sekarang aku yang harus menjadi penyeimbangnya.

"Tegang? Kenapa? Bukankah semua sudah selesai?"

Aku meletakkan buah-buah tadi ke dalam Mason Mug Jar, membaginya sama rata lalu menuangkan Mint Tea , kusodorkan Siwon segelas, ia mendesah sebelum menerimanya, segelas Tropical Tea.

"Aku tahu, hanya saja, aku, ini..Hhh" Siwon kembali tersesat dalam kata-katanya, aku tersenyum menepuk lengannya, mengusap lembut.

"Kita jalani bersama, seperti yang kau katakan beberapa waktu lalu, kita yang memilih, ini jalan kita, jalan yang akan kita lewati di sisa hidup kita, kita yang memilih, lalu tak akan ada jalan kembali"

Siwon memasang Senyum kebanggaannya, berhias dimple.

"Aku tahu sayang, Maaf, apa aku terdengar menyesal?"

Aku memukul lengannya.

"begitukah? Putuskan sekarang jika kau tidak mau" Aku meletakkan gelas tropical tea ku yang telah habis setengah ke depan mesin kasir, membuka mesin itu lalu mengambil beberapa lembar uang.

"Apa kau rela?" Siwon bersandar miring di sampingku, wajahnya benar-benar menyebalkan.

"Lebih rela daripada kau menikahiku lalu meninggalkanku nanti" Aku memasukkan lembar uang itu ke dalam sebuah amplop.

"Sayang sekali aku tidak akan melakukan keduanya Kyu, kau terlalu berharga"

"Cih" Aku mendecih, trik menggombal yang ia miliki kembali menguar.

"Ah dan kau jangan melupakan usaha 2 tahunku mendekatimu" Siwon menarik kertas menu, menyobeknya pelan, lalu menarik pensil yang terlampir di belakang telingaku

"Aku tidak menganggapnya usaha tuan Choi, kau menguntitku" Belaku, ia mengendikkan bahunya.

"Menurutku itu usaha, dan berhasil bukan?"

"..."

"Kau akan menjadi 'Choi' juga dalam bulan ini, sayang" Bisiknya tepat di telingaku. Aku merona, okay ini menggelikan, sejak kapan seorang namja akan merona ketika digoda seperti ini? Ah memalukan.

"Siwon!"

"Apa?"

"Kau.."

"Iya, aku tahu, i love you too"

Aku mengerang, memutar bola mataku malas, Siwon nyari saja melanjutkan acara 'mari menggoda Kyuhyun seharian' andai saja Jae noona tidak menginterupsi kami.

"Ehm, calon pengantin, tolong jangan lupa hari ini pesanan pakaian kalian sudah jadi, dan Kyu, ingat undanganmu di tempat kemarin, noona tidak bisa membantumu hari ini, well kau lihat? Cafe sedang ramai" Jae noona meletakkan nampan yang sudah kosong di depanku, aku mengangguk saja, berbeda dengan Siwon yang tampak berfikir.

"Noona, perasaanku kurang nyaman, apa.." Siwon berujar.

"Oh, dan aku lupa Kyu, Yunho oppa akan datang berkunjung, ia akan membantu kita hari ini"

"..."

"Dan Siwon sebaiknya kau bersiap-siap, sepertinya Yunho sedang dalam Mood kurang bagus" Jae noona mengedipkan sebelah matanya, Siwon sendiri sudah tenggelam dalam tangkupan jemarinya, feeling namja Choi ini sangat kuat.

"Sayang.. aku bisa mati ditangan Yunho hyung"

"Kau takut?"

"Tidak tapi, Ya Tuhan tolong aku" Siwon mengemis, aku mengangkat bahuku tidak peduli. Kulepas apron hitamku, memakai jaket dan merogoh kunci mobil milik Siwon di laci.

"Aku harus pergi, usahakan sikapmu baik di depan Yunho hyung" Pesanku, Siwon mengikutiku dari belakang, wajahnya berubah kusut. Ia seperti sedang dirundung masalah besar padahal ia hanya akan bertemu Yunho hyung, calon kakak iparnya sendiri.

"Kyu.. bisakah aku ikut saja?"

"Siwon, aku hanya ke butik lalu kembali lagi, bisakah kau berhenti bersikap kekanakan?" Kesalku, Siwon merengut, aku jadi tidak tega karena sudah membentaknya tadi.

"Hhh.." Siwon mendesah.

"Hanya beberapa menit okay, kali ini aku yakin kau bisa Siwon, dia hanya seorang Yunho bukan? Kau bahkan sudah bisa menaklukkan adiknya, well ini memalukan" Jelasku, senyum Siwon mengembang, ia mengangguk. Aku menepuk lengannya sebelum berjalan ke arah parkiran.

"Kyu! Doakan aku ne!" Teriak Siwon, aku berbalik lalu melayangkan jempolku.

"Doakan aku agar selamat!" Lanjutnya, aku kembali melayangkan jempolku.

"Kyuhyun!" Siwon kembali berteriak, aku berbalik.

"DOAKAN AKU!"

Aku memutar bola mataku malas.

"SIWON KAU HANYA AKAN BERMAIN CATUR BERSAMA YUNHO HYUNG, JANGAN BERLEBIHAN!"

...

Aku memutar setir menuju pelataran sebuah butik di tengah kota, pakaian yang kami pesan ternyata telah selesai hari ini, cukup cepat jika diingat kami memesannya sebulan yang lalu.

Aku membuka laci dashboard, ingin mengambil bukti pemesanan kami yang aku simpan di mobil milik Siwon, namun mataku tercekat ketika ada lembar surat lainnya di sana, dengan penasaran aku membuka surat kecil berwarna kuning itu, sedikit familiar, sering kutemui di cafe, dan..

Aku tertawa lebar, tentu saja aku mengenali kertas ini, kertas menu yang berasal dari cafe..

Dan tulisan kecil di atasnya lah yang menimbulkan rona merah di pipiku, kembali lagi ini adalah hal memalukan.

Sayang, I LOVE YOU

Cepat kembali..

I MISS YOU ALREADY

C.S.W

Aku memukul-mukul kepalaku dengan jari telunjuk, ingin tertawa lebar, kurogoh ponsel di saku celanaku, mengetik pesan singkat untuk orang yang meninggalkan pesan berlebihan itu di mobil.

To : Siwon

Sejak kapan kau menyimpan pesan di mobil?

Aku kembali menimang-nimang pesan kecil milik Siwon itu sambil menunggu ponselku berdering menerima balasannya.

Drrrtt drrrttt..

From : Siwon

Sudah kau baca?

Aku menaruhnya Ah! Ani! Donghae yang menaruhnya saat kau sibuk berbicara dengan jae noona.

Hebat bukan?

Cepatlah kembali, aku merindukanmu, Yunho sudah datang Arrrggghhh aku akan mati.

Aku tertawa, masih di dalam mobil dengan mesin yang masih menderu.

To : Siwon

Jangan berlebihan, kau membuatku terlihat memalukan.

Yunho tidak akan memakanmu, jadi jangan seperti anak kecil.

Aku akan masuk.

Kuhentikan deru mesin, melepas seatbelt lalu membuka pintu mobil, panas udara menyergap permukaan kulitku ketika pesan baru kembali menggetarkan ponselku.

From : Siwon

Arra..arra..

Cepatlah pulang. Hati-hati.

LOVE YOU.

Aku tersenyum simpul, kugigit bibir bawahku agar kekehan tidak meluncur dari bibirku.

To : Siwon

Me Too.

Hhhhh, hidupku sudah terlampau sempurna hingga detik ini.

Siwon mengajarkan banyak hal tentang perasaan yang tidak selamanya diungkapkan dengan perkataan manis, kadang perasaan hanya butuh 2 kata 'AKU JUGA' dan semuanya bisa berjalan beriringan, seperti cerita ini yang berawal dari sebuah hujan lalu terangkai dengan hujan, dan menjadi nyata bersama hujan.

Cerita ini mungkin berakhir disini? Ani, hanya untuk sementara, karena kisah yang sebenarnya baru saja akan dimulai..

Lets began..

END

Hhhhh... Choco raining update lagi, wow! Suatu rekor baru buat Qai, kok bisa update cepet? Hahahahahaha, soalnya urusan bla bla bla udah mulai berkurang, tinggal nunggu hari hehehehehe

Thanks banget buat yang udah baca, udah review n udah setia nungguin yah, suatu saat Qai bakan bales reviewnya, janji dah..

So, ditunggu salam sapanya teman2

Qai