Qtalita back after long time

Wonkyu as always

.

.

.

The day before

.

.

Aku merentangkan kedua tanganku ke udara, di luar kembali hujan, sedikit dingin di dalam sini, suara gemericik air di balkon kamarku pun terasa sedikit berisik.

Aku mengintip keluar di balik jendela disamping rak buku berplitur hitam, helaan nafas terdengar pasrah dari hidungku, beberapa ornamen berwarna biru langit yang dipasang rapi di luar ruangan terlihat basah, meja-meja dan beberapa bunga lili sintetis juga bernasib sama.

Aku menutup horden jendela rapat, membiarkan kamarku dengan cahaya temaramnya. Kurebahkan tubuhku di atas karpet berbulu tebal, menatap samar langit-langit kamarku.

Tok tok tok

"Kyuhyun, bunga-bunga barunya sudah datang, sebaiknya kau melihatnya sebentar" Yeoja paruh baya dengan setangkai lili putih mendongak dari balik pintu, Aku mengangguk pelan, sambil berjalan mendekati Yeoja tadi atau bisa dibilang Eommaku.

"Sudah datang?"

"Hm, Bagaimana keadaanmu? Masih pilek?"

Aku menggosok ujung hidungku yang masih memerah. Lalu mengangguk.

"You really need some rest honey, dont be nervous, its okay"

Eomma membelai rambutku, menyampirkannya di belakang telinga. Aku tersenyum pelan, langkahku terhenti di anak tangga teratas, mataku membulat, Demi apapun kenapa namja itu ada disini, bukankah ia seharusnya berada dirumahnya? Well, mungkin kini rumah ini juga menjadi rumahnya, tapi tetap saja..

"Hai sayang"

Ugh, suara itu, aku melirik Eomma yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Lalu kembali melirik Siwon si namja pengganggu yang sibuk dengan berpuluh-puluh ikat bunga lili di pelukannya hingga wajahnya tersembunyi dan hanya menampakkan ujung rambut spike nya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku sambil berlari menuruni anak tangga dengan cepat, Eomma sampai berteriak kecil takut jika aku terjatuh, akibat ornamen kain silk yang melilit di pegangan setiap anak tangga.

"tentu saja membantumu, dan ah Hai Eomma mertua kau tampak cantik hari ini" Siwon menyerahkan setangkai lili ke depan Eommaku yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai bawah.

"Siwon, kau bisa menghabiskan bunga-bunganya" Ucapku merebut bunga yang sudah Siwon sodorkan, Eomma hanya terkekeh kecil lalu meninggalkan kami untuk mengatur yang lainnya.

Aku mengedarkan pandanganku ke ruangan bawah yang disulap menjadi aula dadakan, dengan partisi yang digeser sehingga ruang tamu dan ruang makan serta mini bar berada dalam satu ruangan yang cukup lapang.

Salahkan saja cuaca yang tiba-tiba berawan dan bahkan hujan pun jatuh membasahi halaman belakang yang telah di tata sedemikian rupa untuk pesta outdoor seperti yang kami rencanakan.

"Kau masih demam?" Siwon menyentuh keningku yang segera kubalas dengan gelengan kepala.

"Sudah tidak"

"Kau jangan terlalu memikirkan pernikahan kita sayang"

Siwon menggerakkan alisnya naik turun, aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut semakin parah.

"Aku tidak memikirkan itu Siwon"

"Kau memikirkan aku?"

"Ugh, Siwon please, kau setiap hari datang, bagaimana bisa aku memikirkanmu"

"..."

"..."

"Atau jangan-jangan kau memikirkan setelah pernikahan ini?"

Dug

Aku memukul kepala Siwon cukup keras, hingga namja itu melepas semua bunga lili di tangannya, ia mengaduh namun tetap tersenyum ah lebih tepatnya menyeringai.

Siwon berjongkok memunguti bunga-bunganya, merasa bersalah aku ikut berlutut di depannya, menata perlahan bunga di lenganku.

"Kau tampak indah dengan bunga-bunga itu"

Aku memutar bola mataku jengah, Siwon is back..

"Siwon please"

"Serius, kau indah"

Aku tersenyum simpul, menyerahkan bunga-bunga di tanganku ke pelukannya lagi.

"Setelah ini aku ingin bicara sayang, bisa?"

"tentang apa?"

"Tentang kita, Yeah lebih tepatnya tentang aku, sebelum 'Aku' menjadi 'Kita', eum atau bisa dibilang ketika 'aku' berusaha menjadi 'kita'.."

Aku memiringkan kepalaku bingung.

"Well Kyu kau tidak usah berusaha menjadi orang bodoh, aku tahu kau mengerti"

Aku terkekeh.

"Okay, letakkan bunga-bunga itu pada Jae noona atau Eomma, aku menunggumu di balkon, sepertinya hujan sudah reda" Lirihku, Siwon mengangguk patuh, ia mencubit singkat pipiku sebelum berbalik dengan langkah panjang. Akupun ikut berbalik kembali ke kamarku setelah melilitkan silk biru langit di pegangan tangga.

...

Hujan benar-benar telah mereda, menyisakan semburat mentari dari balik awan hitam abu-abu, menyisakan genangan air kecil di balkon berbatu alam, membuat kaki pucatku semakin terlihat kontras di lantai hitam itu.

"Pakai jaketnya sayang"

Siwon muncul sembari menyampirkan jaket kulit hitam di bahuku, aku tersenyum hangat, ia juga membawa dua gelas minuman berisi satu Cappucino dan satu lagi berisi Coklat panas. Siwon menawarkan Coklat panas untukku dan Cappucino untuknya.

"Ingat satu hal?" Siwon berdiri disampingku, menyandarkan lengannya di rail kayu hitam.

"Hm?" Jawabku setelah menyesap perlahan coklat panasku, aku mengerling sebentar padanya yang asik menatap sekumpulan warna-warni melengkung di atas awan, sebuah pelangi.

"Suasana ini, minuman ini, Dan jaket itu"

"Siwon?"

"Ayolah Kyu, kau tidak ingat hari pertama kita bertemu?"

"..."

"Okay, hari pertama kau menyadari kehadiranku" Siwon meralat perkataannya sendiri, ia sudah meletakkan cangkirnya yang sudah setengah kosong di atas meja yang terbuat dari batang pohon melingkar.

Aku terkekeh, suasana ini memang tidak asing bagiku, dingin, dan aroma bekas tetesan hujan memang mengingatkanku pada hari itu, hari dimana semuanya bermula, dan akan mengawali hal baru esok.

"So?"

"What?"

"Kau mengingatnya bukan?"

Aku kembali terkekeh, lebih ke arah tergelak.

"Tentu saja"

"Well sebenarnya kau belum mendengar semua ceritaku Kyu" Siwon menarikku untuk duduk di kursi kayu memanjang, satu-satunya benda yang ada di balkon itu yang tetap kering.

"Mau mendengarkan?"

Aku mengernyit.

"Siwon sebenarnya kita harus segera bersiap-siap, dibawah mereka membutuhkan kita dan.."

"Hanya beberapa menit"

"Yeah, okay. Hanya saja.."

"Kyu, please.. aku tidak bisa tidur semalaman karena hal ini"

Aku menghela nafas pasrah, wajah Siwon memelas dengan alis tebalnya yang menyatu.

"Okay, cepatlah"

Siwon tersenyum menang, ia mencubit pipiku gemas.

"Kyu, kau ingat pertama kali kita bertemu?"

Aku terdiam sebentar, berfikir, lalu mengangguk.

"Pet Shop"

Siwon mengangguk, ia mengelus rambut kecil di dahiku yang terbang akibat angin yang berhembus cukup kencang di balkon ini.

"Sebenarnya itu bukan yang pertama, well mungkin bagimu, tapi bagiku, itu yang kesekian kalinya"

"..."

"Beberapa bulan sebelumnya kita sempat bertemu, di suatu tempat yang tidak kau sadari"

"..."

"Mungkin ini terdengar sangat menggombal, tapi percayalah.. aku memulainya ketika tak satupun orang menyadarinya"

Aku memperhatikan Siwon dari samping, dengan segala kesempurnaan fisik yang Tuhan titipkan padanya, dengan hidung menjulang runcing, senyum berdimple, mata setajam anak panah, dan bibir yang bergerak lincah diantara kata-katanya. Aku tersenyum sendiri.

"Tapi kau memulainya diwaktu yang tepat Siwon, aku cukup tersanjung"

Siwon tersenyum, ia menggenggam tanganku hangat.

"Kau ingat saat kau berada di airport? Mengantar Eomma Cho? Sekitar 4 tahun lalu?"

"Siwon jelaskan lebih rinci, Eomma terlalu sering bepergian, dan tentu saja aku ada di sana tiap kali ia bepergian" kekehku. Siwon pun ikut tertawa lalu mendekat, dan mengecup ubun-ubun kepalaku.

"Ingat itu?"

Aku terdiam, memoriku terputar paksa, Yah, ini tidak asing, kejadian ini benar-benar tidak asing, kejadian yang membuatku mengeluarkan tendangan di tengah airport yang disesaki banyak orang. Dan membuat Eomma memukul kepalaku dengan hand bag bermotif macannya.

Dahiku mengernyit, lalu..

"Siwon, jangan bilang kalau kau.."

"Yeah, aku orang itu"

Mulutku membuka cukup lebar, Siwon kembali mencubit pipiku gemas.

"Tendanganmu cukup menyakitkan sayang"

Aku menutup wajahku, bukan! Aku sama sekali tidak merasa menyesal ataupun malu, hanya.. Oh My God cukup menyebalkan mengingat kejadian itu..

Flashback..

Kala itu aku masih berada dalam masa labil dan betul-betul membutuhkan penanganan Khusus, orang tua yang berada jauh dan hidup sendiri di Seoul membuatku sedikit berjiwa temperamental dan sering kali berdebat hebat dengan Eomma. Seperti hari itu, hari dimana keberangkatan Eomma ke Adelaide setelah berada di Seoul selama 1 minggu mengurus beberapa hal.

Kami duduk saling berjauhan, Eomma dengan tabletnya dan aku.. dengan sebatang rokok di ruangan dengan pendingin udara, berulang kali security mencoba melarang, dan berulang kali pula aku langgar, eomma? She dont care. I think.

"..."

"..."

Kami terdiam cukup lama, aku menarik nafas panjang, mengeluarkan kepulan asap tebal di udara, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, entahlah hanya saja, aku merasa seseorang memperhatikanku.

"Eomma.." Mulaiku.

"Hm?"

"Mianhe.."

Eomma mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, lalu tersenyum.

"Gwenchana"

"..."

"..."

Kami terdiam kembali, cukup absurd. Aku masih sibuk menggaruk tengkuk ku, sedikit meremang.

"Kyuhyun.."

"Hm?"

Aku menatap Eomma dalam. Ia tersenyum hangat.

"Eomma harap kau sedikit berubah sayang, kau terlihat seperti seorang mafia"

Aku tertawa, Eomma juga, keadaan mencair seketika, cukup aneh, selalu seperti ini ketika semalaman kami bertengkar hebat, pagi.. kami kembali hangat.

"Eomma.."

"Ne?"

"Apa Airport ini berhantu?"

"Wae?"

"Aku merasa bulu kudukku meremang sejak tadi"

Eomma ikut mengusap lehernya.

"Tidak Kyuhyun-ah, mungkin saja kau terlalu banyak merokok, singkirkan asap itu dari Eomma"

Aku mengangkat bahu tidak peduli lalu mematikan api di ujung batang putih itu.

Flashback End.

"Jujur sayang, kau benar-benar tampak seperti seorang mafia saat itu" Siwon tertawa dengan memegangi perutnya. Aku menggerutu kesal.

"Tapi kau cukup membuat duniaku berhenti sedetik lalu berjalan lebih cepat"

Aku tersenyum, mengusap lengannya yang pucat, ia kedinginan.

"Sebaiknya kita ke dalam"

"Tidak sayang, aku ingin memberitahumu semuanya"

Siwon merapatkan jaket di bahuku, menepuk pelan pipiku sebelum kembali menerawang, ia memutar memori itu.

Flashback

"Kyuhyun ayo cepat sayang, Eomma bisa saja tertinggal"

Aku menggerutu di belakang Eomma yang berjalan tergesa, 5 menit lagi pesawat akan berangkat, sementara Eomma masih berada di tengah kerumunan orang di tengah kantin.

"Ini semua salah Eomma, kenapa menyalahkanku"

Eomma berbalik, berkacak pinggang. Hhh, another fight

"Kyuhyun, andai saja kau tidak merokok dan menimbulkan masalah di sofa tadi, mungkin Eomma tidak akan tergesa-gesa. Ya Tuhan, Jantung Eomma bisa kambuh" Eomma berpura-pura menyentuh dada kirinya, aku memutar bola mataku jengah.

"Sudahlah Eomma, daripada Eomma hanya mengeluh lebih baik berjalanlah lebih cepat"

Aku menarik 2 koper super besar milik Eomma, sambil berjalan mundur, masih menggerutu ke arah Eomma yang merapikan dandanannya.

"Kyuhyun.."

"Ya ya ya, Aku tahu Eomma, Eomma pasti akan menyalahkanku, lagi dan lagi.."

"Tapi, Kyuhyun.."

"Well, stop Eomma, aku tahu"

"But.."

"Eomma, ak-"

Bruk!

Entah apa yang terjadi, yang pasti aku merasa dunia memendek dan semakin dekat dengan wajahku, pipi yang terasa dingin, dan tubuh yang menelungkup. Aku mendongak dan..

Cup.

Brakk..

Trakk..

"Aw!"

Seorang namja dengan T-shirt putih polos terjungkal di depanku dengan wajah meringis, Tidak! Dia bukan korban 'terjatuh' sepertiku, tapi seorang tersangka yang mengecup ubun-ubunku sepersekian detik lalu.

"Kyuhyun! Ya Tuhan apa yang kau lakukan?"

Eomma dengan suara khas nya yang melengking memenuhi telingaku.

"Eomma, Namja ini menciumku dengan seenak jidatnya"

Eomma menarikku menjauh dari 'korban' tendanganku itu, sementara sang namja masih mengelus lututnya yang aku yakin akan membiru selama beberapa hari ke depan.

Flashback End.

"Hahahahahahhaha" Aku tertawa sambil memegangi perutku, Siwon memasang wajah murung, ia masih mengingat jelas kejadian itu.

"Padahal aku tidak sengaja"

Aku masih tertawa.

"Aku bahkan harus kehilangan gigi taring kananku setelah menabrak kepala batumu itu" Gerutu Siwon.

Yah, Siwon pelakunya, bukan! Sebenarnya tidak ada pelaku disini, kami sama-sama korban, dimana aku yang menabrak Siwon sehingga tubuhnya oleng dan wajahnya jatuh di atas kepalaku. Aneh.

"Kau tahu kyu, dokter-dokter yang lain bertanya padaku tentang gigi ini dan aku menjawab apa?"

"Apa?"

"Aku baru saja mengigit cangkang kepiting yang balik menyerangku"

Aku kembali tertawa, memegangi perutku yang terasa keram.

"Namun sejak itu aku memutuskan sesuatu, Tentang kau dan juga masa depanku"

"Aku?"

"Yah, Namja terhebat milikku"

Siwon tersenyum tulus. Hhhh.. keindahan ini akan bermula esok.

END

Hhhh.. Choco raining..

Sebenernya udah g bakal qai lanjut, tapi berhubung ada hal yang sepertinya bagus untuk qai bagi so, its ok lah, 2 – 3 chapter ke depan hehehehe.

Oia, di chapter ini, keseluruhan cerita itu nyata, kecuali 'ritual' tabrak-tabrakan di airport, aslinya sih Cuma senggol biasa, tapi buat wonkyu, itu terlalu mainstream, perlu hal yang lebih, so.. begitulah. ^^

Thanks banget masih nunggu ff qai yaa

LOVE

Qai.