Qtalita..

Wonkyu.. a little sad

.

.

Enjoy

.

10 November 2014

3 tumpukan berkas berwarna-warni masih kubiarkan tergeletak meminta dijamah, aku tidak kemana-mana, masih duduk dibalik meja dengan melipat tangan di depan dada sesekali melirik keluar, dimana titik-titik hujan pertama merembes, menghapus debu jendela ruanganku.

Aku menghela nafas, Ya Tuhan, betapa aku tidak bersyukur dengan semua ini, lihatlah, masih pagi dan berapa helaan nafas sudah aku hembuskan.

Tok tok tok.

Cklek.

Aku masih memperhatikan detail hujan saat seseorang duduk didepanku, aroma Armani menyeruak, lalu ada aroma lavender dan sedikit mint. Aku berbalik, Yunho hyung tersenyum padaku, ia juga melipat lengan di depan dadanya.

"Kau bisa pulang jika kau mau"

"Dan membiarkan aku terpuruk sendiri, begitu?"

Yunho tersenyum, meraih berkas berwarna merah menyala dan sebuah pena, membuka lembar demi lembar lalu jemarinya lincah, mengoreksi beberapa bagian lalu membubuhinya dengan tanda tangan.

"laporan ini tidak akan selesai jika hanya dibiarkan Kyu"

Aku kembali memandang keluar saat yunho akan membubuhi tanda tangan di berkas lainnya.

"biarkan seperti itu hyung, aku yang akan mengerjakannya" Sanggahku, yunho kembali meletakkan pena bergaris kuning emas di posisinya lalu bersandar, memposisikan kedua lengannya saling terkait dibelakang kepala.

"Tadi Siwon menghubungiku lagi, ini sudah ke 10 kalinya dalam sehari Kyu, ia meminta aku menengokmu sedikit"

Ada sedikit rasa haru menggelitik ketika tahu Siwon begitu mencemaskanku, meskipun aku merasa sudah mengecewakannya terlalu dalam.

"Aku baik-baik saja hyung"

"Ya kau masih mampu berkata seperti itu"

"Lalu apa yang harus aku katakan?"

"..."

"..."

"Hhhh.. sudahlah kyu, relakan saja, ini takdirnya"

"..."

"Sudahlah, aku harus kembali ke ruanganku, jika ada apa-apa, hubungi aku, aku tidak ingin Siwon mengulitiku hidup-hidup jika terjadi sesuatu padamu"

Aku terkekeh.

"Aku yang akan mengulitinya jika ia berani menyentuh hyungku "

Yunho tersenyum.

...

Rak-rak buku itu terlihat miring, cangkir kopi dan tatakan pena juga, Ah. Bukan dunia yang terbalik, namun aku yang merebahkan kepalaku di atas meja, menjadikan sisa tumpukan berkas sebagai alas kepala, bantal sementara.

Di luar masih hujan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dari kaca disisi pintu terlihat beberapa kubikel sudah gelap, menyisakan 4-5 kubikel lainnya yang masih terang dan 1 ruangan yang sejajar denganku masih menyisakan kehidupan.

Drrrttt.. Drrttt..

Ponselku bergetar, namun tubuhku terasa sangat enggan hanya untuk mengecek laci mejaku dimana ponsel hitam itu berada. Tubuhku terasa seperti jelly.

Cklek.

Aku bahkan tidak sanggup lagi mengangkat kepalaku hanya untuk mengecek siapa yang sedang berjalan masuk ke ruanganku.

"Hei, ayo kita pulang"

Aku tersenyum samar, ketika sebuah jas putih terlampir di kedua bahuku, menyelimuti punggungku. Lalu sebuah telapak tangan mengusap lenganku, ekor mataku mampu melihat jelas cincin putih bermata biru di jari manisnya. He's my husband.

"Kau sudah datang?"

"15 menit yang lalu, tapi sepertinya kau butuh sendiri, jadi aku keruangan Yunho tadi"

"Hm, sepertinya begitu"

"Masih mood swing?"

Aku menggeleng.

"Mungkin lebih buruk, aku bahkan merasa sudah tidak memiliki mood"

Dengan duduk di atas meja menghadap padaku, Siwon mengusap pucuk kepalaku lembut, senyumnya hangat.

"Semuanya akan baik-baik saja sayang" yakinnya, aku menunduk.

"hei, look at me"

"..."

"Aku kecewa"

"..."

"Bukan padamu, tapi pada diriku sendiri, seharusnya aku bisa menjaga 'kalian' khususnya kau"

Aku kembali menunduk, memainkan ujung jas putihnya, mataku melirik apa yang ada dibaliknya, seharusnya sampai detik ini 'mereka' masih ada disana, membuat 'gumpalan' lucu di salah satu tubuhku, membuat cara berjalanku sedikit aneh, dan membuat Siwon harus membantuku setiap aku hendak berdiri.

"Jadi, bisa kita pulang sekarang? Aku lapar"

Aku tersenyum, lalu mengangguk, membiarkan Siwon merapikan mejaku, mematikan layar PC, memasukkan laptop, ponsel, dan menjinjing tas ku yang berwarna mencolok. Sebelah lengannya menahan tubuhku agar merapat pada tubuhnya. I have a perfect life..i hope.

...

Hujan semakin menggila malam ini, petir sedikit banyak membuat tubuhku berjengit beberapa kali, kaget. Jendela di belakang televisi seakan menjadi layar flat baru yang menunjukkan Discovery channel, tentang petir, tentang hujan, tentang angin.

Aku memencet remote control, mengarahkannya pada stasiun TV kesukaanku, Nickelodeon. Dengan merebahkan diri menyamping aku menikmati setiap tayangan kartun tanpa ekspresi. Siwon sendiri masih sibuk dengan lasagna dan pepperoninya, aroma rebusan merebak hingga ruang TV, kami terpaksa menikmati makanan instan setelah masa bed rest ku berakhir, Siwon sama sekali bukan koki yang handal, ia bisa meledakkan rumah kami hanya dengan 1 ommelette.

"Kau ingin susu Kyu?" teriak Siwon.

"Ani" balasku.

"Ocha?"

"Hm"

Tak lama berselang, Siwon datang dengan dua piring lasagna segelas susu dan segelas Ocha. Wangi tomat dan pepperoni memancing selera makanku. Aku bangkit, duduk bersila di atas karpet hingga meja berada persis di depan dadaku, Siwon sendiri duduk di atas sofa, bersila di belakangku dengan tangan kiri memegang piring dan tangan kanannya menyuap. Kebiasaannya.

Kami melahap lasagna yang lumayan enak itu tanpa suara, hanya beberapa suara gemuruh petir dan tawa dari TV yang menemani kami.

"Kau bisa menggantikan Hyukkie setelah ini" Gurauku. Siwon terkekeh.

"paling tidak aku masih terlalu tampan untuk berada di dapur sayang"

"Ck, gantikan Donghae kalau begitu"

"kau ingin aku diperhatikan semua orang?"

Aku menggerutu, sementara siwon tertawa menang.

"Aku hanya menggantikan kau saat ini Kyu"

"..."

"Aku terlalu sering meninggalkanmu dulu, sekarang aku harus membayarnya"

"..."

"..."

"Well, walaupun hanya lasagna"

Aku tertawa, melempar sumpit ke arahnya, ia mengelak dan menggerutu sebentar sebelum ikut tertawa denganku.

...

Sudah pukul 11 malam, awan masih bergumul sejauh mataku memandang, angin mulai berhembus dingin membawa sedikit gerimis air hujan di balkon kamar. Aku masih duduk disini, menunggu hingga mataku benar-benar ingin terpejam, memeluk lututku lalu bertumpu di puncaknya. Di ujung jalan masih melintas beberapa kendaraan dengan suara berat, bergemuruh.

Pandanganku menjauh, sejauh orang tuaku berada sekarang, aku merindukan mereka, setidaknya aku ingin memeluk mereka saat ini, menumpahkan rasa kesal, rasa marah, betapa bodoh anaknya ini.

"Kau bisa sakit jika seperti ini Kyu"

Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya, Siwon pasti akan terbangun lalu melampirkan selimut di bahuku, duduk disampingku, berbagi selimut. Siwon memeluk bahuku, menempatkan kepalaku di dadanya. Ini cara romantis kami menikmati hari, ya hanya di malam hari.

"kau terbangun lagi"

"Tempat tidurmu kosong"

"Kau bisa tertidur lagi, kau tahu aku hanya disini"

"Karena kau hanya disini maka aku terbangun sayang"

Aku melirik Siwon sebentar sebelum menyamankan tubuhku dalam pelukannya lagi.

"Lalu jika aku tidak disini?"

"Aku tidak akan terbangun"

"huh?"

"Yah, aku tidak akan terbangun karena aku memang tidak akan tertidur Kyu"

Aku tersenyum, hangat, hanya dengan memeluk Siwon, duniaku menjadi hangat.

"Bagaimana harimu?"

"Buruk"

Aku menatap Siwon yang mengecup kedua mataku lembut.

"Seorang anak menderita kanker mata datang ke ruanganku tadi"

"Lalu?"

"ia meminta satu hal"

"..."

"Ia ingin bertemu denganmu"

"Huh?"

"ia ingin meminta matamu untuk jadi matanya"

Aku tergelak, Siwon memelukku erat, mengusap lenganku.

"Aku berkata, ambil saja"

Aku mendorong tubuh Siwon menjauh, tidak mengerti. Bukan! Bukan aku tidak ingin menolong anak itu, tapi aku yakin Siwon punya hal lain yang ingin ia sampaikan.

"Hei sayang dengarkan aku dulu, kemari aku ingin memelukmu"

Siwon meraih tubuhku lagi, memeluknya gemas sebelum mengusap-usap lenganku.

"Anak itu begitu bahagia, ia sudah siap melompat-lompat"

"..."

"Lalu aku katakan, jika kau mendapatkan matanya, katakan padanya agar kembali bersinar"

"lalu? Kau akan menyerahkan mataku padanya?"

Siwon tersenyum.

"Jika itu bisa membuatnya kembali bersinar Kyu, i'll do it"

Aku tersenyum, tentu saja aku tahu ini hanya cerita karangan Siwon, aku memeluk lengannya kuat.

"Maka jadilah mata untukku jika itu terjadi hyung"

Siwon mengangguk semakin mendekapku sayang, mendengungkan sebuah lagu pengantar tidur, aku terkekeh.

"Ayo, kita masuk, aku sudah mengantuk" Ajakku, ia berdiri, masih memelukku dari belakang dengan selembar selimut yang kami bagi. Ia menutup pintu balkon pelan lalu menuntunku kembali ke tempat tidur, memperbaiki selimutku, mengecup dahiku lalu mendekapku.

"jaljayyo honey"

"Hm, jaljayyo hyung"

...

Kesempurnaan itu sederhana, saling menutupi. Hanya itu, jelas dan tidak perlu banyak pertanyaan lagi, mungkin Siwon dan Kyuhyun masih terlalu baru untuk membicarakan kesempurnaan, tapi bagi mereka dunia yang mereka bangun sendiri sudah lebih dari cukup, sudah sempurna.

...

"Kyu, kau sudah tidur?"

"hm? Wae?"

"Eum, masalah tadi, walaupun matamu tidak bersinar, aku tidak akan pernah memberikannya pada siapapun"

"yak!"

...

END

I dont know, i cant explain anything now hehehhe

Enjoy it love

Qai..