Qtalita
.
.
WonKyu
.
.
07 Januari 2015
Hujan itu masih menjadi sahabatku, entah sejak kapan tapi hujan selalu membawa damai tersendiri, penyejuk bukan hanya dari sekedar fisik, namun lebih ke dalam jiwa. Aku suka hujan dan segala yang dibawanya, seperti..
"Sayang, kau sudah berkutat dengan laptopmu itu 3 jam"
Ya, Seperti Siwon misalnya, kami bertemu dalam hujan, menjalani semuanya dengan hujan dan kuharap jangan berakhir bersama hujan,Ugh bukankah menyedihkan.
"15 menit lagi Siwon dan aku akan benar-benar berhenti"
"Ck,Kyu kau sudah mengatakan itu 4 kali dalam 1 jam, 11 kali terakhir, Dan Ya Tuhan, kau baru saja mengucapkan yang ke 12 dalam 3 jam ini"
Aku mengernyit, Siwon menghitungnya.
"Sorry dear, tapi laporan ini menunggu untuk diselesaikan, aku tidak ingin mengecewakan pihak universitas, duduk tidak akan merubah apapun, dan apa itu? kau menghitungnya?" aku terkekeh tapi tidak mengalihkan pandanganku dari layar imajiner di depanku.
"Bagaimana aku tidak menghitungnya, kau sudah berada disana sejak siaran jelek ini terputar, dan masih disana selama 3 jam siaran yang semakin jelek ini ditayangkan"
"..."
"Dan jangan lupakan Baby boy"
Aku berbalik demi melihat seorang namja dengan balutan pakaian kasual tengah kerepotan menggendong seorang bayi yang berumur kira-kira 6 bulan, tangan kecil merayap di kepala Siwon, menarik rambut disekitar telinganya dengan cukup keras, Siwon hanya mengaduh namun tidak memindahkan tangan mungil itu dari sana.
Aku beranjak, melepas kacamataku, memisahkan Siwon dan Baby boy kami. Menggendong tubuh berisi bocah itu yang kini menarik-narik telingaku.
"Arra.. arra.. mianhe Mommy mengacuhkan kalian"
Siwon tersenyum, menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan agar aku duduk disana, dahiku mengernyit.
"Tubuhku tidak ringan lagi Siwon"
"Ck, maka dari itu aku ingin tahu Kyu, kemarilah"
Siwon memeluk perutku yang duduk di atas pahanya bersama baby boy, Siwon mengecupi bahuku lalu tangannya memainkan kaki mungil yang bergerak gelisah di pangkuanku.
"Kalian amazing"
"Siwon, aku.."
"Sst, Mengadopsi anak sepertinya ide terbaik"
"Maaf"
"For?"
"Our babies"
"No dear, Kau ada disini cukup untukku, dan hey, kita punya baby Minho here"
Siwon menggerak-gerakkan kaki minho di atas tangannya, menggelitik telapak mulusnya hingga bayi yang memiliki Dimples itu tertawa geli.
Ya Siwon benar, Saling memiliki saja sudah cukup. Seperti hujan pada rumput di samping rumah kami.
...
Aku kembali mengamati Siwon dari ujung kaki hingga ujung rambut, mengernyit tidak yakin.
"Siwon, aku tidak yakin kau bisa"
"Tenang saja kyu, hari ini akan menjadi hari terhebat, Daddy with Baby"
Siwon membenarkan letak Minho di gendongannya, caranya memegang bayi saja membuatku prihatin dengan pasien-pasiennya di rumah sakit yang memang khusus bayi dan anak-anak.
"Okay, Siwon kau tahu dimana susu, popok, dan biskuit cemilan Minho bukan? Ah, susu dengan air hangat yang pas, lalu biskuit, Minho lebih suka rasa pisang daripada strawberry yang kau belikan, jangan memberikan itu, aku tidak ingin Minho berakhir di rumah sakit lagi" Celotehku panjang lebar sambil memasukkan berkas-berkas dan laptop ke dalam tas, mengenakan jas dan meraih kunci mobil yang tergantung di samping kulkas, Siwon dengan setia mengekor di belakangku dengan Minho di gendongannya.
"Apa tidak sebaiknya Minho ikut bersamaku saja?" Aku menatap Siwon cemas, sebagai seorang dokter anak Siwon memang punya banyak cara menenangkan Minho, mengetahui asupan gizi, peralatan makan, minum, mandi bahkan peralatan tidur yang aman bagi Minho, tapi sebagai Daddy.. dia masih sangat amatir.
"Lalu membiarkan nenek sihir itu menciumi Minho ku? Tidak Kyu" Siwon teringat dengan manajer baru di kantorku, yeoja dengan rambut coklat gelap, dan kuku panjang berwarna delima. Siwon pernah bergidik ngeri melihat Minho yang aku bawa ikut ke kantor dan akhirnya pulang dengan pipi berwarna merah dipenuhi bekas lipstik. dan kali ini Siwon tidak ingin itu terulang kembali.
"Aku bisa menitipkannya di ruangan Yunho hyung, lagipula Yoona tidak akan berani masuk kesana"
"Lalu membiarkan Minho memakan kertas-kertas milik Yunho? Yang benar saja Kyu" Siwon kembali mengingat saat Minho harus dilarikan ke rumah sakit akibat radang pernafasan yang ia derita, Siwon selaku dokter yang menangani anaknya sendiri malah kelabakan ketika menemukan sobekan kertas di tenggorokan Minho saat foto toraks.
"HHhh baiklah aku menyerah, dengan semua komplain itu, aku harap kau menjaga Minho dengan sempurna"
Ucapan finalku dibalas anggukan ragu Siwon, matanya menatap ngeri. Ditambah lagi raut wajah Minho kecil yang selalu tegang di gendongan Daddynya.
"Okay, aku pergi, baik-baiklah dirumah"
Aku mengecup pipi Minho sekilas lalu bibir Siwon, melambaikan tangan sebelum menutup pintu, Hhh semoga saja Siwon bisa mengurus semuanya.
...
Tuk.
"Ehm"
Suara ketukan bolpoin dan deheman seseorang membuyarkan lamunanku yang sudah ke sekian kalinya, Aku membenarkan posisi dudukku sebelum meminta Yunho melanjutkan penjelasannya.
"Apa yang kau fikirkan?"
"Huh?"
"Apa kau tidak sadar? Sudah 6 kali kau menatap jendela bodoh itu"
Aku menghela nafas, tidak mengindahkan pertanyaan Yunho, jariku malah asik menyentuh dial dari ponsel.
Tutt..tuttt..tutt..
"Ya" Suara singkat khas Siwon terdengar dari line seberang.
"Siwon, bagaimana Minho?"
"Dia sedang tidur" gumaman Siwon sampai ke telingaku, Hei apa yang sedang ia lakukan.
"Hh, apa dia meminum susu paginya?"
"Tentu saja Kyu, sesuai anjuranmu"
"Aku bisa gila memikirkan kalian disini" Aku menyandarkan tubuh dan kepalaku.
"Hei, aku ini Daddynya, aku tidak akan merebus Minho lalu menjadikannya sup makan malam kita"
"Aku serius Siwon" Aku tergelak, sontak mengangkat wajahku.
"Aku juga sayang, Tenanglah, selesaikan pekerjaanmu lalu cepatlah pulang"
"kau menyerah?" Aku menyeringai, jika memang Siwon menyerah, berarti besok aku bisa membawa Minho lagi ke kantor.
"Tidak, tidak sama sekali, tapi kau tidak percaya padaku"
"Kau takut?" Seringaiku semakin lebar.
"Aku lebih takut saat kau bertanya seperti itu, seperti menantangku"
Aku melirik Yunho yang menaikkan sebelah alisnya lalu menunjuk jam di pergelangan tangannya.
"Sudahlah Siwon, aku tutup sekarang, Yunho ada disini"
"Hhh baiklah. Eum wait Kyu.." Suara Siwon menggantung
"Hm?"
"Kau tidak bertanya aku sedang apa sekarang?"
"Well, kau sedang apa?" Aku terkekeh, menaikkan jari telunjukku di depan Yunho, memberi isyarat jika aku membutuhkan waktu sedikit.
"Menyantap sisa makan malam kita, aku baru sadar jika masakanmu enak" Ada suara piring dan sendok yang di letakkan disana, lalu suara keran wastafel terbuka lalu dimatikan dengan cepat diiringi gumaman Siwon yang mengeluh jika suara air itu terlalu berisik.
"Apa itu rayuan?"
"Bukan, hanya permintaan agar kau membuatkanku lagi" Aku yakin Siwon tengah tersenyum lebar disana, aku tertawa.
Tok tok tok
"Apa ada tamu Siwon?" Dahiku mengernyit, mendengar suara ketukan.
"Yeah, hanya pengantar barang Kyu"
"Kkkk, baiklah Siwon, kita lanjutkan nanti, Bye dear"
"Bye chagiya"
Pip
"Kalian masih sangat romantis" Yunho berbisik tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa berkas yang sedari tadi kami periksa.
"Siwon yang berlebihan sebenarnya" Ujarku mengambil alih 3 lembar dari hadapan Yunho.
"So, Minho bersama Siwon?"
"yeah, dan itu yang membuatku khawatir"
"Siwon menyayangi Minho, tenanglah, dia akan baik-baik saja bersama Daddynya" Yunho tersenyum.
"Semoga"
Aku kembali berkutat dengan laporan pekerjaannku sebelum jariku terhenti bekerja. Mengingat ucapan terakhir Siwon barusan.
"Huh? Pengantar barang?"
...
Disatu sisi
...
"Ya ampun, Minho, Yak Choi Minho, berhentilah berputar-putar, Daddy pusing"
Siwon sedang menahan tubuh telanjang Minho yang sudah dibaluri bedak dengan tidak rata, tangan kanan namja itu memegang baju piyama sang anak. Minho yang menatap Daddynya hanya mengernyitkan kening sebelum kembali berguling-guling di atas karpet, kaki Siwon di selonjorkan, menahan Minho agar tidak berguling terlalu jauh.
"Hei, Champ, kau harus terlihat tampan"
"..."
"Ck, Daddy tahu, kau ingin ini?" Siwon menggoyang-goyangkan botol susu di depan Minho yang tentu saja dibalas dengan rengekan Minho.
"Eits, pakai bajumu dulu baby"
Siwon menyembunyikan botol susu Minho di belakang tubuhnya lalu dengan cekatan memakaikan piyama Minho disaat bayi itu lengah dan menerima saja.
Setelah selesai dengan piyama dan sedikit taburan bedak beraroma lembut Siwon menyerahkan botol susu hangat ke mulut Minho, bayi gempal itu meminum susunya dengan cukup rakus, matanya mulai sayu.
"Hei, kau ingin tidur lagi? Baguslah, Daddy juga harus berkemas-kemas" Siwon menggendong Minho ke dalam kamar, meletakkannya di dalam box bayi berbentuk tenda dengan banyak gambar Pocoyo dan boneka-boneka mobil di dalamnya. Siwon tersenyum, ia mengecup masing-masing pipi Minho sebelum meninggalkan kamar mereka, Minho sepertinya cukup lelah bermain seharian bersama Daddynya. SSttt kita biarkan saja bocah itu bermimpi.
...
Aku menguap, masih dengan tangan yang setia menopang di belakang kepalaku, aku melirik jam digital di sudut meja, 5 menit lagi tengah malam, aku bahkan belum menyelesaikan 1 bundel berkas lainnya.
Kulirik jendela yang masih setia memantulkan hujan, aku berdiri merenggangkan otot-ototku, berjalan pelan, suara langkah kakiku bergema melewati kubikel karyawan yang sudah kosong dan gelap, kecuali ruangan yang berhadapan denganku, ruangan Yunho yang masih terang.
"Hyung, kau belum pulang?" Lirikku dari pintu, Yunho tampak berbaring di sofa tamunya, ia menengadah lalu kembali memejamkan mata saat aku masuk dan duduk di depannya.
"Kau sudah selesai?"
"kau menungguku?"
"Tentu saja"
Aku tersenyum.
"Sisa 1 bundel, tapi mungkin bisa kukerjakan besok"
"Hhh, ya sebaiknya begitu, kau harus banyak istirahat"
"..." Aku menenggelamkan leherku di sandaran sofa besar di samping Yunho berbaring.
"Kyu?"
"Hm?" Gumamku.
"Aku sedikit gelisah, Kandungan Jaejoong sudah memasuki masa-masa puncak"
Aku tersenyum lirih, pahit. Dengan lembut kuraba perutku yang kembali rata, aku menghela nafas panjang membuat sedikit suara di ruangan yang hening itu. Yunho menyadari sesuatu ia memandangiku dengan wajah penyesalan.
"maaf Kyu, hyung tidak bermaksud untuk.."
"Its okay, tak ada yang perlu dimaafkan disini hyung" Aku tersenyum menepuk-nepuk pahaku, menghibur diri. Andai saja, kejadian itu tidak merenggut bayi-bayiku, mungkin kini aku tengah bersiap-siap seperti jae, dan Siwon akan sepanik Yunho. Hhh..
"Sebaiknya kita pulang, sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat"
Aku mengangguk, kubiarkan Yunho memberekan barang-barangnya di atas meja sementara aku berdiri di depan jendela besar, mengamati lalu lalang penghuni kota yang masih setia dengan kendaraannya masing-masing.
Drrrt.. drrrttt...
Ponsel di saku celanaku bergetar, aku memekik senang membuat Yunho nyaris membuang berkasnya, ia menatapku kesal yang kubalas dengan menampilkan layar ponselku.
"Look" Ucapku antusias, Yunho memiringkan kepalanya.
"Apa yang anak itu lakukan?" Yunho menggerutu, menjinjing tas nya, ia mengetuk kepalaku dan mengacak rambut caramelku gemas. Aku mempoutkan bibir, tidak perduli dengan Yunho yang sudah berjalan mendahuluiku, aku sibuk menekan dial ponselku.
"Ya"
"Minho dimana?"
"Dia sedang tidur, hei kau tidak mengucapkan apa-apa padaku?"
"Thank you"
"Ur welcome dear"
"Kau berhasil?"
"Jika yang kau tanyakan menjaga Minho? yah, aku bisa"
"..."
"Tapi jika yang kau tanyakan makan malam, aku belum"
"Wae?"
"Aku ingin makan malam denganmu Kyu"
"Siwon, aku baru saja menutup pintu kantorku, kau bisa kelaparan"
"Tidak masalah, hanya kelaparan bukan? Aku belum mati" Terdengar tawa renyah dari Line sebelah. Aku membereskan dompet dan beberapa berkas yang bisa kukerjakan dirumah ke dalam tas berukuran lumayan besar, menjinjing sebundel laporan lain dan menggenggam kunci mobil.
Cklek.
Aku mengunci ruanganku dengan suara yang menggema.
"Kau baru saja menutup pintu?"
"ya"
"Cepatlah pulang, aku merindukanmu"
"Berlebihan" Aku menggerutu meskipun ada guratan merah tercipta di sekitar pipi pucatku.
"Aku tidak berlebihan, kau yang tidak terbiasa Kyu" Suara Siwon terengah, seakan tengah melakukan sesuatu, belum lagi suara dentingan benda yang aku yakin berbentuk benda tajam.
Sreekk.
Terdengar suara sobekan disana bertepatan saat aku berada di dalam lift.
"Apa itu?"
"Hm? Penutup kardus" Singkat Siwon.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membuka kemasan"
"Maksudku apa yang kau lakukan dengan kemasan itu"
"Mengeluarkan barang di dalamnya"
"Ya Tuhan Siwon!"
Siwon tertawa puas setelah menggodaku.
"Maka dari itu aku memintamu agar cepat pulang Kyu, barang ini akan sulit aku gunakan tanpamu, cepatlah"
"Siwon, kau tahu rumah kita sudah dipenuhi barang-barang aneh yang kau beli di ebay, sekarang kau menambah lagi?"
"masih ada sudut di samping TV yang kosong Kyu"
"Ya setelah itu terisi maka tidak akan ada lagi"
"Paling tidak cukup untuk satu barang, aku tidak akan membeli lagi setelah ini, i swear"
Aku memijit pelipisku, kakiku berjalan cepat di basement, menemukan mobilku. Dengan terburu-buru aku menghidupkan mesin.
"Aku pegang janjimu Siwon, sudahlah aku menyetir, sampai jumpa dirumah, Bye"
Tidak menunggu balasan Siwon, aku menginjak gas, meninggalkan basement yang sangat sepi, sedikit menakutkan berhubung di luar tengah hujan.
...
Aku mengetuk pintu jati dengan warna coklat gelap itu pelan, aku yakin Minho sudah tertidur dan aku sama sekali tidak ingin mengganggu tidurnya.
Cklek.
Pintu terbuka, aku disambut senyuman lebar Siwon.
"Diluar masih hujan, cukup membuat mataku buram dimalam hari" Keluhku, Siwon mengekor setelah memastikan pintu terkunci dengan benar.
"Aku bisa menjemputmu jika kau mau"
"Lalu Minho?"
"Tentu saja ikut"
"Ck"
Siwon tertawa, ia memelukku dari belakang.
"Siwon aku bau keringat"
"Tidak apa, aku suka"
Aku terkekeh, Siwon menggenggam tanganku, menempatkan dagunya di bahuku, ia menghela nafas, kami berjalan menuju balkon dengan cara seperti ini, masih saling memeluk. Aku melirik sebuah rak kaca kecil dengan banyak pigura di dalamnya.
"jadi kau membeli rak itu?"
Siwon mengangguk.
"Aku tahu kau suka mengabadikan setiap momen perkembangan Minho, dan tentu saja perkembanganku juga" Kekehnya, aku mencubit gemas lengannya yang masih melingkari perutku.
"Lalu kau membelinya?"
Siwon mengangguk, mendudukkan dirinya di kursi putih tepat di tengah balkon, ia menarikku untuk duduk di pangkuannya.
"Well, meskipun sempat berdebat sedikit"
"..."
"Wanita itu, Ya Tuhan, aku sekarang yakin kenapa keriput memenuhi wajahnya, dia bahkan merebut hampir setengah tabunganku hanya untuk rak tua klasik itu"
Aku berbalik, menatap wajah Siwon serius.
"Kau ke tempat itu lagi?"
Siwon mengangguk.
"Aku sudah mencari hampir disemua penjualan furnitur tapi tidak menemukan yang sama seperti rak eomma"
Aku menghela nafas, sudah 3 bulan lamanya aku mengagumi rak klasik tahun 80an yang ada di rumah Siwon – sebelum kami menikah – Sudah banyak tempat yang kami datangi namun hasilnya nihil, barang langka itu bahkan sudah tidak diproduksi lagi, Ebay? Siwon sudah memasang iklan pencarian, tak ada hasil juga. Sebenarnya cukup mudah untuk hanya meminta pada Eomma mertuaku itu tapi, seperti yang pernah ia katakan, rak tua itu pemberian mendiang orang tuanya, aku tidak sampai hati memintanya.
Maka dari itu, kami Ah lebih tepat jika aku mengatakan Siwon, berusaha keras mencari hingga harus ke 'tempat' yang paling menyebalkan di seluruh dunia.
Toko furnitur antik itu berada di tepi pantai, dijaga oleh 2 karyawan masing-masing berusia paruh baya, pemiliknya sendiri masih cukup muda, ya pemilik aslinya telah meninggal dan diteruskan oleh anaknya yang eum, perawan tua. Sebenarnya usianya mungkin masih berkisar 40an tahun namun Siwon lebih senang jika menyebutnya perawan tua. Tabiat keras dan kasarnya membuat toko yang sekiranya menarik banyak minat kolektor itu malah menjadi sepi dari pengunjung, tak ada tawar menawar, tak ada barang yang dapat dikembalikan jika rusak, and no touching. Untuk alasan terakhir cukup membuat Siwon mengamuk parah saat pertama kali ke tempat itu.
"Lalu?" Tanyaku setelah terdiam beberapa saat, Siwon mendengus, ia menarik lengan baju panjangnya hingga siku, ada 3, 4 ah 5 goresan panjang di lengannya. aku beringsut, menatap cemas matanya, Siwon tersenyum.
"Sebanding dengan rak klasik itu Kyu"
Aku sudah berfikir macam-macam, apa mereka terlibat perkelahian?
"No, dia tidak melukaiku" Seakan membaca arti tatapanku, Siwon menurunkan kembali lengan bajunya.
"Tapi aku berkelahi dengan kucingnya" Kekehnya, aku mengulum tawa. Bukan rahasia lagi jika si perawan tua memiliki banyak kucing, dan tidak ada satupun dari mereka menunjukkan tatapan bersahabat pada Siwon.
"lain kali katakan dulu padaku"
"Tidak ada lain kali Kyu, itu spasi terakhir yang ada dirumah kita dan Well, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi disana, mengerikan"
Aku tertawa, Siwon memelukku lagi dari belakang, jarinya memainkan cincin di jari manis kananku, ia mengecupi bahuku bertubi-tubi.
"Wae?" Singkatku. Siwon menggeleng.
"Aku mencintaimu Choi Kyuhyun"
Bukan pertama kali Siwon berbisik mesra padaku, ia sering melakukannya, entah aku baru bangun, sementara memandikan Minho, memasak, atau bahkan saat ia melihatku tengah Sibuk diruang kerja. Hal tergila yang pernah ia lakukan adalah saat ia membuat panggilan video di tengah paviliun anak-anak penderita kanker di rumah sakit.
"Kau tahu jawabannya"
Siwon tertawa, ia mengenalku, sangat.
"Aku menganggap itu balasan terindah Kyu"
Siwon mengeratkan pelukanya.
"Kyu.."
"Hm?"
"Jika suatu saat nanti aku mati, apa yang akan kau lakukan?" Siwon berbisik lirih, menghasilkan guratan tidak suka pada wajahku. Aku menghela nafas pendek, pertanda jika aku tidak suka pembicaraan seperti ini.
"menguburkanmu tentu saja"
Siwon tertawa lagi mendengar jawabanku.
"Kau tega?"
"Lalu aku harus menyimpanmu di kamar?"
"Paling tidak ikutlah mati bersamaku Kyu"
"Berhentilah menonton roman picisan Siwon"
Aku terkekeh, Siwon ikut tertawa, lalu kemudian tawa kami teredam, ia memainkan dagunya di bahuku.
"Lalu jika aku yang mati duluan, apa yang akan kau lakukan Siwon?"
"..."
"..."
Siwon terdiam, tidak menjawab. Aku menyenggol lengannya, ia tersenyum, helaan nafas mint menerpa hidungku.
"Kenapa tidak dijawab?"
"Apa yang harus aku katakan jika aku terlebih dahulu mati Kyu?"
Aku mendengus.
"Kau selalu seperti itu"
"Apa?"
"Cheesy.."
"Hanya untukmu"
Aku tersenyum, Siwon mendengungkan sebuah nyanyian, mengganti setiap nama di bait-baitnya dengan namaku.
"Kau suka?"
"Hm?"
"Lagu ini, kau suka?"
"hanya jika kau yang menyanyikannya"
Siwon mengecup kepalaku, kembali menyanyikan dua bait sebelum berhenti, aku hendak protes.
"Sebelum itu, tolong masaklah sesuatu, aku sungguh lapar" Gerutunya. Aku tertawa melepas pelukan Siwon lalu berdiri di depannya, aku menjulurkan tangan kananku.
"Bersedia membantu?"
Siwon meraih uluran tanganku, memasang posisi hormat.
"Ay ay Captain"
...
Cinta mungkin datang dengan cara yang aneh dan tidak biasa, berjalan dengan cara yang berbeda namun tetap pada akhir yang sama.
Kisah mereka belum berakhir, ini adalah awal.. hanya saja, mungkin kisah ini adalah yang terakhir, tertulis dalam catatan, biarkan mereka menjalani semuanya, dan cukup menjadi penonton.
Terima Kasih telah hadir..
Terima Kasih telah ada..
Sampai Jumpa.
END
Ini adalah episode terakhir 'Choco Raining'
Maaf jika qai ada kesalahan baik itu sengaja atau tidak sengaja, terlambat update, ataupun ngaret yang kampret banget hahahaha..
Terima kasih banyak masih setia menunggu, membaca dan mereview ff absurd ini. Qai sadar, qai Cuma penulis yang banyak kekurangan, kalimat-kalimat standar, ide cerita yang gampang di tebak, daann masih banyak lagi.
Ini pertama kalinya Qai ngomong panjang lebar, Hhhh cukup sedih buat nutup ff ini, mungkin suatu saat nanti qai akan berikan yang terbaik untuk para reader setia, biarkan qai belajar agar menjadi lebih baik lagi..
Hhhh, akhir kata.. Terima kasih.. Terima kasih.. dan terima kasih..
LOVE
QAI
:')
