I Love You Thank You
By : shinsungrin
Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC
Genre : Romance
Terinspirasi dari sebuah MV I Love You oh Thank You – MC Mong
"Jung Yunho kau benar-benar bodoh," rutuknya mengasihani nasibnya sendiri.
.
.
.
Selama seminggu ini, Yunho dan kawan-kawan di sibukkan dengan ujian tengah semester yang benar-benar menguras fikiran. Hampir setiap hari pula Yunho menyempatkan dirinya mampir ke rumah Changmin setelah pulang sekolah untuk belajar. Biar cuek begitu, Changmin sangat mempedulikan akademiknya. Diantara mereka bertiga, Changmin lah yang biasa dijadikan andalan ketika pelajaran menjadi sangat suram.
Bel pelaran berbunyi, menandakan selesainya ujian tengah semester yang terakhir. Setelah mengumpulkan kertasnya, Yunho membereskan sisa sisa barangnya yang ada di meja dan langsung pergi menuju kelas Changmin.
"Yunho-ah!" Teriak Changmin sambil melambai, anak jangkung itu tidak sulit untuk di temukan.
Yunho menghampiri Changmin dan langsung berjalan beriringan dengannya keluar sekolah. Hari ini Yunho akan mampir ke rumah Changmin lagi, namun kali ini dia tidak ingin belajar. Refreshing setelah ujian itu perlu, Changmin juga sepakat untuk tidak menyentuh buku pelajaran untuk hari ini.
"Kita ke minimarket dulu ya, aku mau beli beberapa camilan" ucap Changmin saat mereka memasuki bus yang menuju arah rumahnya. Yunho hanya mengangguk tanda setuju.
Sepanjang perjalanan, Yunho dan Changmin sibuk berbincang-bincang mengenai kesulitan dalam mengerjakan soal ulang tadi. Yoochun tidak dapat ikut bergabung karena ia harus mengejar part timenya. Terkadang Yunho dan Changmin sangat bangga memiliki Yoochun sebagai seorang teman, karena ia adalah sosok pekerja keras dan orang yang bertanggung jawab. Walaupun keluarganya mampu mencukupi kebutuhan hidup Yoochun, namun pria itu tak mau bersandar terus dengan keluarganya.
Sesampainya dirumah Changmin, Yunho langsung memasang diri didepan x-box milik Changmin. Dirumah Changmin jarang ada orang kalau siang, orang tua Changmin sibuk bekerja dan baru pulang nanti pukul 7 malam. Oleh karena itu secara resmi rumah Changmin ditunjuk sebagai base camp alias tempat berkumpul Yunho dan Yoochun kalau mereka sedang tidak ada kerjaan. Selain itu, koleksi permainan dan komik yang dimiliki Changmin memiliki jumlah yang cukup fantastis sehingga tak bisa kau habiskan dalam sehari main. Jangan heran jika Yunho dan Yoochun betah berlama-lama atau bahkan menginap dirumah itu.
"Kau tidak bosan bermain itu mulu, Yunho?"
"Nanggung abisnya daripada iseng.."
Changmin hanya merebahkan diri di kasur sambil membaca komik barunya, sedangkan Yunho masih terlena dengan permainan yang ia mainkan.
"Aku mau ke toilet dulu.." ijin Changmin ngeloyor pergi ke dalam rumah.
Yunho tak merespon, masih terlanjur seru dengan permainan. Tak lama setelah Changmin izin, bel rumah Changmin berbunyi. Sekali, Yunho tidak menggubrisnya. Dua kali, sepertinya Yunho harus mewakili tuan rumah dalam membuka pintu. Dengan berat hati, ia pun mem-pause pekerjaannya dan berjalan menuju pintu rumah Changmin kemudian membukanya.
"Ah.. Selamat Sore.. Aku.. Yunho?"
Betapa kagetnya Yunho ketika membuka pintu dan mengetahui bahwa orang yang berkunjung ke rumah Changmin adalah Jaejoong. Tuhan selalu membuat kejutan pada dirinya, dan entah kenapa Yunho merasa tidak siap dengan semua kejadian yang serba mendadak ini. Untuk beberapa detik Yunho hanya terbelalak menatap Jaejoong, seakan akan ia adalah hantu di siang bolong. "Ah.. oh.. Hai!" ucapnya kikuk sambil menggosok leher belakangnya.
"Emm.. oh iya, ada apa? Pemilik rumah ini sedang menuntaskan pekerjaannya di kamar mandi.." ucap Yunho berusaha sesantai mungkin.
Jaejoong tersenyum, "Hanya ingin mengantarkan titipan dari Umma.." ia pun menunjukkan bungkusan kain yang sengaja dibawa olehnya.
"Ah.. Kim! Ada apa ke sini?" tanya Changmin yang berjalan menghampiri Yunho dan Jaejoong. Kedua manusia itu pun menoleh mendengar suara Changmin yang ada di belakangnya.
Jaejoong menunduk sopan, "Aniya.. ini ada titipan dari Umma untuk tetangga sekitar.." ia kemudian memberikan bungkusannya kepada Changmin.
Changmin mengendus bungkusan itu, "Yah!" ejek Yunho sambil menoyor kepala Changmin untuk mencegahnya bertingkah memalukan di hadapan tamu. Jaejoong hanya mampu menutupi senyum dengan tangannya melihat tingkah kedua bocah itu.
"By the way, thanks to you, Mr Kim" ucap Changmin sengaja memakai bahasa Inggris.
"You're welcome, aku harus pulang.. Kibum Hyung pasti akan mencariku.." pamit Jaejoong
Changmin dan Yunho mengangguk, Jaejoong tersenyum kembali sebelum akhirnya berbalik meninggalkan rumah Changmin. Yunho masih memperhatikan Jaejoong yang mampir lagi ke tetangga lain untuk memberikan bungkusan yang sama.
"Ayo masuk.." ajak Changmin kepada Yunho yang masih terus memegangi pintu rumah yang terbuka. Namun, Yunho sama sekali tidak menggubris perkataan Changmin sama sekali. Matanya masih tertuju kepada Jaejoong yang kini tengah berbincang dengan seorang wanita paruh baya, tetangga Changmin. Changmin merasa ada yang janggal dari Yunho, ia mencoba memperhatikan kemana kepala Yunho tertuju. Senyum licik kemudian terpancar dari wajah Changmin.
"Yaaaah~ Jung Yunho ayo masuk~" ucap Changmin sambil menarik jambang rambut Yunho agar ia mau mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dengan reflek Yunho memegang tangan Changmin dan mengaduh keras, badannya pun mau tak mau mengikuti perintah Changmin untuk masuk ke dalam rumah.
Changmin menggiring Yunho ke bangku tempat tadi dia merebahkan diri, "YAH! SHIM CHANGMIN BERANINYA KAU?!" gerutu Yunho setelah jambang rambutnya dilepaskan oleh Changmin. Rasanya sakit sekali, Yunho merasa bahwa ada beberapa rambut kecilnya yang lepas. Dengan reflek tangannya pun menggosok bagian yang ditarik Changmin tadi, berharap dengan begitu rasa sakitnya dapat mereda.
"Sekarang ceritakan ada apa sebenarnya ini, dan apa yang belum aku ketahui.." ucap Changmin sambil membuka bingkisan dari Jaejoong yang ternyata berisi cookies. Dengan mata berbinar, makhluk itu langsung melahapnya.
"Ada apa gimana? Aish Shim Changmin.. kau menarik rambutku terlalu keras!" keluh Yunho
Changmin hampir menyemburkan kue yang tengah dimakannya karena ekspresi Yunho, "ah.. Mianhae Yunho," ucapnya sambil menutup mulutnya agar kejadian sembur-semburan tidak terjadi, "Maksudku.. ada apa dengan kau dengan bocah Kim tadi?"
"Ah.. Jaejoong.." Ucap Yunho yang nadanya sedikit menurun ketika mendengar nama Jaejoong diucap. Setiap kali ia mendengar nama Jaejoong, tiba-tiba rasanya seluruh badannya terkena penyakit gatal-gatal yang membuat Yunho selalu ingin menggaruk. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Yunho juga tak mengerti. "Dia.. teman lama.." Ucap Yunho akhirnya.
"Teman lama? wah.. kenapa tak kau kenalkan padaku?"
"Yah!" bentak Yunho sambil menggamit kerah baju Changmin dengan segenap kekuatannya. Tinjunya kini mengepal di udara. Alih-alih takut, Changmin malah tertawa terbahak bahak. Oke, ini benar-benar aneh, kelakuan Yunho makin di ambang batas kewajaran. Yunho mengendurkan cengkramannya di kerah Changmin. Segala hal mengenai Jaejoong membuat dirinya gila, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Jaejoong menjadi semenarik ini? Apa coba yang menarik dengan bola mata besar kecokelatan yang selalu menatapnya dengan penuh kebahagiaan itu? tidak ada yang menarik bukan? Mungkin yang menurut Yunho menarik adalah wajahnya yang selalu menyunggingkan senyum dari bibir berwarna pink yang selalu menggoda untuk di.. kecup..
sial..
benar benar sial..
"kau benar benar sudah sinting" batin Yunho mengumpat dirinya sendiri.
"Kau menyukainya.."
Ucapan Changmin benar-benar seperti musik film horor yang terus akan meninggi sampai akhirnya hantunya datang. Petir di siang bolong. Sekarang Changmin ikut-ikutan gak waras seperti dirinya. "Tidak.. tidak.. tidak.." bantah Yunho
Changmin kembali terbahak lagi, "Yunho.. Yunho.. aku hanya bercanda.. kau terlalu tegang, kawan!" ucap Changmin sambil menepuk nepuk punggung Yunho.
Tepukan di punggungnya menyadarkan Yunho bahwa ia terlalu serius beberapa menit tadi. Lagipula hal itu cuma bercanda, Yunho harus lebih rileks lagi. Ia menghela nafas lega.
"Jaejoong dan aku adalah teman kecil, sampai kelas 3 SD kita selalu bersama.."
Changmin mengangguk mendengar penjelasan Yunho, "Lajutkan!"
"Dia pindah ke Amerika bersama keluarganya pada semester 2, aku mengetahuinya dari wali kelasku.."
"Sepertinya kau dan Jaejoong cukup dekat.." Tegas Changmin
Yunho tertawa, "Kau bercanda, aku dan Jaejoong tidak pernah akur.. Bocah itu selalu jadi bulan-bulananku"
"Dulu.. dia selalu menangis setelah ku kerjai, siapa sangka dia jadi terlihat seperti itu sekarang?"
Changmin mengangguk, "Waah.. dia tahan sekali denganmu, bahkan setelah dewasa pun dia masih sanggup menemuimu"
Yunho menggosok belakang lehernya, entah kenapa sekarang itu menjadi sebuah kebiasaan, "Oleh karena itu aku ingin mencoba mengenalnya, yah.. hitung-hitung sebagai penebus dosa.."
"Jangan berkata seolah olah kau berada di jaman primitif, bung, mengenal seseorang di zaman modern seperti ini tidaklah begitu sulit.. Kau punya teknologi,, manfaatkan!" sugesti Changmin.
Bicara soal teknologi, Yunho melewatkan kesempatannya lagi untuk bertanya nomor handphone Jaejoong. Ia menghela nafas pasrah, Tuhan benar-benar punya rencana lain untuknya. Ia hampir saja menganggap pertemuan pertamanya dengan Jaejoong hanyalah suatu kebetulan yang tak disengaja. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukkannya untuk Jaejoong hampir saja terlupa akibat kesibukan minggu ini yang menyita seluruh fikirannya. Tuhan secara tidak langsung mengingatkannya lagi dengan mempertemukanya kembali dengan Jaejoong. Yunho tertawa kecil, kehidupan begitu lucu.
-TBC-
Kepanjangan? Kurang panjang?
Feel free to review
