I Love You Thank You

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah MV I Love You oh Thank You – MC Mong

"Sesaat tadi, kufikir kau akan mengajakku balikan.." Ucap Yunho tiba-tiba membuat hati wanita yang ada di sebelahnya itu kalang kabut.

.

.

.

"Mungkin, lain kali.." jawab Ahra memutuskan segala harapan yang dimiliki oleh Yunho. Namun, entah kenapa tidak ada perasaan kecewa dalam hati Yunho ketika mendengarnya.

"Huwaah!" ucap Yunho sambil meregangkan badannya, "Lega sekali rasanya, sejak tadi selalu mengganjal disini.." Yunho menunjuk dadanya, membuat Ahra tertawa kecil.

"Terima kasih, Yunho-ah"

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 06.45 pagi, matahari sudah nampak dengan sosok sempurnanya berdiri dengan gagah di timur dunia. Beberapa burung bertengger di ranting pepohonan yang menghiasi SMA Tohou. Suara nyanyiannya yang merdu tenggelam dalam suara anak-anak yang kini mulai memenuhi ruang ruang kelas. Beberapa anak masih melenggang santai walaupun sudah tahu jam 7 nanti semua pelajaran harus dimulai. Namun, berbeda dari semua anak-anak itu, Jung Yunho kita sudah ada didepan lokernya. Ada beberapa buku yang harus dia ambil hari ini.

Dengan pasti ia membuka loker nomor 16 miliknya itu. Seiring dengan pergerakannya membuka pintu loker, sepucuk surat berwarna merah jambu mendarat dengan sukses di sepatunya. Untuk beberapa saat Yunho hanya menatap horor pada surat itu. ada yang tidak beres.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Yunho bukanlah pria populer yang akan memungkinkannya untuk diberi surat cinta. Penggemar rahasia Yunho benar-benar nol di sekolah. Ini adalah peristiwa sekali seumur hidup Yunho, peristiwa yang sangat sangat jarang terjadi. Mungkin, taraf ketenarannya sedikit meningkat? hidup selalu berubah kan? Yunho mengangguk, mencoba berfikir positif akan kemajuan ketenarannya yang jauh lebih baik daripada ketika ia SMP. Dengan canggung Yunho memungut surat cinta yang jatuh dari lokernya itu. Ia membolak balik amplop berwarna merah jambu itu, mencoba menebak siapa orang yang mengiriminya surat seperti ini? sebuah pertanyaan yang tak dapat di jawab oleh amplop merah jambu yang polos itu. Fikirannya menjelajah pada setiap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Yunho merasa dirinya tidak dekat dengan siapapun pasca putus, satu-satunya wanita yang masih dekat dengannya adalah..

'Mungkinkah?' batin Yunho

Dengan hati-hati Yunho membuka amplop itu. Jika sebuah kemungkinan sudah didapat, maka tinggal membuktikan kebenarannya. Sebuah kertas berwarna merah jambu juga terselip di amplop itu, dengan gugup Yunho membuka dan membacanya dalam hati.

Selamaaat!

Aku penasaran mau liat wajahmu sebelum dan setelah melihat amplop ini hahaha

Jangan GR Yunho, kadang cara primitif lebih greget daripada memberitahumu langsung

Hihihi

Sahabatmu tercinta, Shim Changmin

*untuk mengurangi kekesalanmu atas keisenganku ini, aku memberikanmu sebuah hadiah minta maaf (lihat dibelakang kertas)

Sebuah kata makian terlontar dari mulut Yunho. Cara Changmin mengerjainya benar-benar primitif. Yunho merasa malu telah mencoba menebak-nebak orang yang mengiriminya surat cinta. Perasaannya benar-benar campur aduk antara geli dan ingin memaki teman baiknya itu. Mungkin hadiah dari Changmin akan meredakan rasa gemas yang kini tengah melanda dirinya. Yunho pun membalik surat itu. Sebuah tulisan tangan lain tergores membentuk nomor-nomor dan sebuah nama yang tak asing bagi fikiran Yunho. "K-Kim Jaejoong?" gumam Yunho kaget dengan nomor handphone yang baru saja ia dapatkan. Sahabatnya Shim Changmin memang benar-benar penuh kejutan. Sebuah senyum mengembang di wajah Yunho, dengan segera ia menuju kelas untuk memberikan 'hadiah' buat sahabatnya itu.

.

.

.

Suasana kelas sebelum pelajaran di mulai hampir sebelas dua belas dengan suasana pasar loak. Bermacam-macam kepribadian bercampur jadi dalamnya. Ada yang tidak bisa berbicara pelan dan ada yang tidak bisa berbicara kencang, semua obrolan dan tawa campur aduk jadi satu. Terkadang malah membentuk sebuah nada sendiri. Shim Changmin, pemuda jangkung itu tengah bercanda dengan teman sekelasnya ketika sebuah tangan 'memijit' kepalanya dengan keras. Dengan reflek pemuda itu pun meng-aduh keras.

"Yah!" Sungutnya ketika melihat tersangka yang tak lain dan tak bukan adalah temannya sendiri, Jung Yunho. Pria itu tersenyum, menampilkan sederetan gigi-giginya yang putih dan rapi.

Changmin tersenyum membalas, "Ternyata kau menyukai 'surat cinta' dariku, hm?"

"Yah.. Kau benar-benar membuatku jantungan, hampir saja aku berfikir yang tidak-tidak"

Changmin terbahak mendengar jawaban Yunho yang seperti perawan yang baru saja jatuh cinta itu. Sudah pacaran beberapa kali, tapi baru pertama kali mendapat surat cinta. Surat cintanya palsu lagi, Shim Changmin benar-benar seorang PHP sejati.

.

.

.

Yunho menatap gelisah layar handphonenya, otak dan hatinya berseteru apakah harus menghubungi Jaejoong apa tidak. Entah kenapa sejak ia menyimpan nomor handphone Jaejoong tadi, keadaan tidak menjadi semakin baik. Ia kira melewatkan kesempatan untuk bertanya nomor handphone Jaejoong merupakan masalah yang buruk, ternyata melewatkan untuk tidak mencoba mengirim pesan singkat kepada pria itu rasanya jauh lebih buruk. Mungkin jika diumpakan rasanya seperti ingin bersin namun tidak jadi. Ya, memang seburuk itu.

"Kenapa?" tanya Changmin disebelahnya,

"Sekarang aku jadi bingung.."

Changmin mendecak gemas, Entah kenapa temannya yang satu itu menjadi seorang pribadi yang kikuk jika di hadapkan dengan Jaejoong, benar-benar reaksi yang aneh. Yunho bukanlah orang yang pemalu dalam menjalin hubungan pertemanan, bisa di bilang Yunho orang yang mudah bergaul. Akhirnya Changmin merebut handphone milik Yunho.

"Yah!" sungut Yunho sebal handphonenya di ambil. Changmin segera pasang badan, ia membalikkan badannya dan menghalangi Yunho dengan tasnya yang sudah ia sampirkan punggungnya.

"Ah.. Halo Jaejoong-ah!"

Yunho menepuk dahinya, satu hari ini ia sukses di kerjai Changmin. Mulai dari surat cinta, sampe sekarang kelakuan bocah itu. Astaga..

"Ini Changmin, pakai nomor Yunho.. haha hanya ingin mengecek jika itu benar-benar kau.."

Pria pemilik ponsel itu hanya bisa pasrah mendengar alasan tidak masuk akal yang dilontarkan oleh temannya itu. Yunho mengguncang-guncangkan bahu Changmin, memberikan isyarat bahwa ia ingin handphonenya kembali.

"Ah.. Jaejoong-ah, Yunho sebenarnya ingin bicara denganmu, sedari tadi ia mengguncangkan bahuku agar aku mau bergantian dengannya"

Sebelum toyoran Yunho mengenai kepala Changmin, pemuda jangkung itu menyodorkan handphonenya kembali. Sebuah senyuman penuh maksud tergambar jelas di wajah Changmin, Yunho menggeleng sebuah 'aish' pelan berbisik dari lisannya. Namun tangannya tetap menyambar handphone yang disodorkan oleh Changmin.

"Halo? Changmin? Yunho?" Sapa suara dari speaker handphone Yunho. Entah Yunho harus bersikap apa, yang jelas sepertinya ia tengah dilanda sakit perut dan serangan jantung ketika mendengar suara itu.

"Ah.. ini Yunho.. Changmin memang suka seenaknya sendiri.." Ucap Yunho sambil nyengir kuda.

Jaejoong tertawa renyah, "Sepertinya kalian sangat akrab ya?"

Yunho hanya tertawa hambar. Sebenarnya bukan candaan Jaejoong yang tidak lucu, hanya saja Yunho menyadari bahwa topik pembicaraannya habis. Fikirannya mulai menerawang mencari topik apa yang dapat ia jadikan bahan pembicaraan. Sejenak, ada jeda diantara mereka berdua.

"Yunho-ah.." panggil Jaejoong berusaha mengatasi jeda yang tengah berlangsung. Yunho tersentak kaget, ia terlarut dalam lamunannya "Ya?" jawabnya

"Kibum hyung sudah menjemputku, aku harus pulang.."

"Oke, tentu.."

"Emm.. ku hubungi kau lagi nanti.. bye"

"Tunggu.. Jaejoong-ah.." denga reflek Yunho memegang gagang handphonenya dengan erat. Mungkin dengan begitu ia bisa menunda perpisahan dengan Jaejoong yang ditelepon.

"hmm?"

"Hati-hati dijalan.." ucap Yunho lembut. Changmin dibelakangnya hampir tertawa terpingkal-pingkal mendengar nada suara Yunho yang benar-benar gak banget, namun sengaja ia menahannya agar tidak merusak mood.

Jaejoong hanya menjawabnya dengan jeda beberapa detik di iringi dengan suara dehaman kecil, Yunho membayangkan wajah Jaejoong tengah tersipu disana. Pria itu menyudahi pembicaraan, namun sensasi geli-geli lucu masih menghinggapi hatinya. Entah apa yang tengah ia rasakan sekarang. Perasaan senang, excited, grogi, mau joget, lompat-lompat, semuanya deh jadi satu. Sebuah tepukan di pundak membawa kembali Yunho menapaki dunia. Shim Changmin disana dengan wajah tersenyum penuh maksud. Yunho baru sadar, makhluk itu sedari tadi berada dibelakangnya dan mendengar semua pembicaraannya dengan Jaejoong. Ia harus memasang poker facenya.

"Ehm.." deham Yunho, "Changmin, hari ini aku ada briefing dengan anak OSIS untuk festival sekolah, jadi aku tidak bisa pulang bersama mu.. maaf"

"Tidak apa apa Yun, aku duluan yaa.." pamit Changmin mendahului Yunho.

Yunho menggendong tasnya tepat ketika Changmin berhenti di depan pintu kelas. "Hati-hati dijalan Yunho-aaaaahhh!" godanya dengan nada yang sangat mengejek. Tawanya yang jahat memenuhi koridor sekolah. Yunho jadi malu sendiri, "Yah Shim Changmin!" gerutunya.

-TBC-

Kurang?

Thanks reviewnya ;)