Beey Presents.
My Master
Akashi Seijuurou
x
Michiyo Shina
Romance, Smut, Comedy || M || Chaptered
-o-
Part II : I'm His
-o-
Shina menghela napas berat.
Pagi ini adalah pagi yang paling melelahkan di dalam hidupnya. Bayangkan olehmu, dia harus membuat sarapan sendiri dengan bahan-bahan murahan. Padahal dulunya dia hanya perlu bangun dan mandi, lalu ketika selesai mandi pakaian gantinya sudah digeletakan oleh Slaine di atas ranjang king sizenya. Soal sarapan dia hanya butuh berjalan sebentar ke ruang makan megahnya, dan di sana sudah terhidang banyak sekali makanan berkualitas.
Ditambah lagi kini Shina harus berjalan kaki kesekolahnya. Dan juga, dimana Slaine yang selalu membawakan tasnya?
"Sialan. Mentang-mentang aku bukan seorang nona muda lagi dia pergi begitu saja, tch." Ia menendang kerikil di jalanan dengan kasar. Ini baru pagi pertama dan dia merasa tak mampu menyelesaikan hari-hari menjadi orang miskin. Bahkan membayangkannya saja membuat kepala Shina ingin meledak.
"Aku harus bertingkah bagaimana di sekolah..." maklum, Shina biasanya sok waktu masih kaya. Jadi adik-adik, jangan tiru kelakuan kakak ini ya.
"Itu Michiyo Shina?"
"Kenapa dia jalan kaki?"
Shina menundukkan kepalanya, alih-alih menatap orang yang berani membicarakannya seperti dulu, kini hanya ada kata takut di kepalanya.
"Kalian tidak dengar? Katanya perusahaan Michiyo sudah bangkrut, lho!"
"Jadi itu bukan cuma gosip?"
Shina mengepalkan tangannya erat-erat. Selang beberapa sekon ia langsung berlari, tidak memperdulikan bagaimana jadinya dia nanti. Yang ada dibenaknya hanyalah lari. Ia tidak mau seperti ini. Dia tidak mau menjadi bahan olok-olokan orang lain. Dia hanya mau dia seoranglah yang mengolok orang lain (kok kampret).
Karena sibuk berkutat di dalam pikirannya, tak sengaja Shina menabrak seseorang. Baru saja ia mau kembali berlari, namun wangi orang itu mengingatkannya dengan seseorang, "Seijuro!"
Benar saja, ketika ia mengadah, manik hazelnya bertemu pandang dengan yang heterokrom. Shina langsung menyuap paru-parunya dengan oksigen dan bersiap untuk menyembur Seijuro dengan semua uneg-unegnya.
"Sei, dengar aku. Papa benar-benar orang bodoh. Karena kebodohannya ia ditipu oleh orang kurang ajar yang memanfaatkan kebodohannya. Lalu dengan bodohnya ia berhutang dan tak mampu membayarnya sehingga rumah kami disita dengan begitu bodohnya. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi kebodohannya itu, Sei!" Seijuro kukuh dengan ekspresi datarnya. Ia menatap Shina dalam diam. Kebungkaman Seijuro membuat Shina kesal, "Hey, Seijuro! Kau dengar aku?"
"Kalau begitu kau bukan lagi nona muda?"
"Eh?" Shina melepaskan pelukannya, lalu mundur beberapa langkah. Matanya melebar, " Jangan bilang... kau mau mengolokku juga?"
Wajah Seijuro kini dihiasi seulas seringaian, membuat Shina bingung, "Mungkin, iya."
Shina terdiam dengan mata melebar tak percaya dan bibir yang tidak mengatup sepenuhnya. Tangannya mengepal. Ia menunduk, membuat poninya menutupi matanya. Lalu tawa getir terdengar darinya, "Oh, begitu," ia menarik napas dan mengangkat wajahnya, "baiklah."
Dengan itu ia kembali melangkah, namun belum sampai ia melewati Seijuro, pria itu menarik tangan Shina. Bibirnya ia dekatkan ketelinga Shina, "Itu baru kemungkinan. Aku tidak akan mengolokmu jika kau datang ke ruanganku nanti." Bisiknya.
Melupakan merinding yang ia rasakan, Shina menatap Seijuro yang mulai melangkah menjauh darinya. Ia berjongkok sambil berusaha menutupi wajahnya.
"Apaan, sih."
-o-
Demi harga dirinya, Shina membuat dirinya mengikuti perintah Seijuro. Kini dia tengah berdiri di depan ruangan osis—lebih terlihat seperti ruangan Seijuro sebenarnya. Ia mengambil napas, lalu kembali membuangnya. Setelah selesai menata mentalnya(?), ia memutar knop pintu yang terasa dingin itu.
"Baiklah, aku datang."
Wajah datar Seijuro adalah hal pertama yang ia lihat. Entah kenapa Shina merasa wajahnya memanas. Padahal sebelumnya ia bahkan mampu menghina Seijuro. Tapi sekarang...
Walau samar, Seijuro menyeringai puas. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan hingga jaraknya dengan Shina berubah menjadi 2 meter. Shina memberanikan diri untuk menatap manik heterokrom itu, "Jadi, apa yang kau mau?" Tanyanya.
Seijuro menaikkan sebelah alisnya, "Kau yakin tidak mau merubah sikapmu kepadaku itu? Kita tidak sekelas lagi, lho."
Pernyataannya barusan membuat Shina tersentak. Memang benar, dia dan Seijuro tidak lagi berada dalam satu kasta. Shina mengalihkan tatapannya, yang tadinya tepat diiris Seijuro kini menatap kejendela di belakangnya. Ia menarik napas, "Baiklah maafkan aku, tolong katakan apa maumu."
Seijuro terkekeh pelan. Ia mengambil selembar kertas dari atas mejanya, menunjukkannya tepat di depan wajah Shina.
"Seperti yang kau lihat, aku memberikan keluargamu uang," mata Shina melebar, "Apa—"
"kata utusanku tadi mereka langsung menangis bahagia saat melihatnya dan tanpa pikir panjang mentanda-tangani kertas kontrak ini. Dan disini tertulis mereka mau menyerahkan putri mereka, Michiyo Shina." Jelasnya. Shina berfacepalm, "Orang-orang bodoh itu."
Seijuro menatap gadis bersurai hazel di hadapannya dengan tatapan yang tak dapat diartikan, lalu kembali berbicara, "Jadi, kau milikku sekarang."
Crap. Shina lupa bagian serah-menyerahkannya.
Dengan wajah memanas ia mendongkak, "M-milikmu?! Aku tak mengerti!"
"Ini seperti waktu kau memiliki si Slaine itu. Ya, seperti itu." Penjelasan Seijuro yang semakin absurd membuat Shina harus memijak dahinya, "Maksudmu itu— Slaine?! Aku menjadi pelayanmu, begitu?!"
"Nah." Kini wajah Shina telah sepenuhnya berubah menjadi merah merona tatkala pria di depannya kembali menorehkan seulas seringaian. Namun cepat-cepat ia menggeleng, berusaha menghilangkan semua fantasinya(?), "Kau mau aku melayanimu?! Jangan bercanda!"
Seijuro menghela napas, ia menatap Shina dengan tatapan merendahkan, "Aku ini absolut," ia memegang tangan Shina dan menggenggamnya kuat, "siapa yang melawan perintahku wajib dihukum."
Entah sejak kapan bibir Seijuro menempel pada bibirnya, Shina tidak tahu. Matanya melebar, dengan sekuat tenaga ia mencoba meloloskan diri dari Seijuro, namun tentu saja itu mustahil.
Gadis itu menjerit kecil saat merasakan tangan Seijuro bergerak mengelus pahanya. Kesempatan itu tidak disia-siakannya untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Shina. Lelah melawan, akhirnya gadis itu menyerah. Ia menutup matanya dan perlahan membalas ciuman Seijuro, membuat pria itu menyeringai puas ditengah-tengah ciuman panas mereka.
Merasa Shina mulai kehabisan napasnya, Seijuro melepaskan ciuman mereka. Kaki Shina mendadak terasa lemas sehingga membuatnya terjatuh kedalam pelukan Seijuro. Seijuro tersenyum tipis, "Kenapa napasmu begitu memburu, nona muda?" Sindirnya.
Shina memukul pelan dada Seijuro, "Berisik." Ucapnya dengan nada rendah.
Seijuro terkekeh pelan, diangkatnya dagu Shina dengan ibu jarinya, "Bagaimana, nona muda? Aku tidak akan memberikan tugas berat padamu." Katanya. Shina menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menghindari tatapan seduktif Seijuro padanya.
"...baiklah."
To be Continued
Halohaloha! Jadi ini chapter duanya. Aduh apa banget ya ini fict maafkan akoe. Yang minta dipanjangin nih aku udah berusaha tapi... mentok! ((Alah alasan)) Makasih yang udah review, fav, follow. Lope lope diudara buat kalian!
