Beey Presents.
My Master
Akashi Seijuurou
x
Michiyo Shina
Romance, Smut, Comedy || M || Chaptered
-o-
Part III: Danger!
-o-
"Shina, ambilkan proposal yang diberikan kelas 3-2 tadi."
"Shina, berikan dokumen ini kepada Takashiro Hana."
"Shina, buatkan aku teh."
"Shina, ambilkan itu."
"Shina."
"Shina."
"Shina."
Buk!
"Oi, Seijuro!" Shina menelik tajam kepada pria bersurai merah itu dengan manik hazelnya, "Kenapa sedari tadi yang kau lakukan hanyalah memerintahkan ini dan itu kepadaku?! Dimana pelayanmu yang dulu, hah?! Kau tahu tidak akhir-akhir ini aku harus datang awal sekali dan aku juga terlambat tidur?! Ini semua karenamu! Ka-re-na-di-ri-mu! Kau lihat kantung mata ini?! Ini hanya bisa hilang dengan masker emas! Dan juga kau tahu 'kan aku tidak lagi sanggup membeli barang-barang seperti itu sekarang?! Apa yang bisa kau lakukan? Ah iya, kau bisa saja sih membelikan masker itu. Tapi aku tidak butuh, oke? Jadi tidak usah."
Seijuro melirik Shina yang terengah-engah akibat omelan panjang lebarnya yang ia ucapkan dengan satu tarikan napas, "Aku tidak pernah berniat membelikanmu." Ucapnya dengan wajah datar bak triplek yang ingin Shina hancurkan berkeping-keping sekarang juga.
"Ugh..." tahan dirimu, Shina! Semangat, Shina! Kalau kau tidak berhenti kau tidak akan bisa membeli baju di butik-butik langgananmu lagi!
Akhirnya gadis berperawakan anggun itu menyerah. Dia menghempaskan tubuh rampingnya di sofa maroon yang tidak asing lagi di fanfic ini karena author seringkali menyebutkannya. Dia meraung pelan, "Aku tidak kuat lagi." Gumamnya pelan.
Seijuro tersenyum tipis di tempatnya. Shina yang menyadarinya melirik pria itu kesal, "Bahkan kau tersenyum di atas penderitaanku," Shina menegakkan punggungnya, "Sadis."
Masih dengan senyumnya ia bangkit dari singgasananya dan menghampiri Shina. Mantan nona muda itu menatapnya dengan sebelah alis terangkat saat Seijuro berdiri di hadapannya. Sadar dengan tatapan bingung dari si gadis, Seijuro berbicara, "Pulang sekolah nanti mau pergi?"
-o-
Dia kemasukan apa?
Apa dia salah makan?
Jangan-jangan dia sakit?
Atau dia punya maksud tersendiri?
Shina menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir persepsi buruk yang bergelantungan di otaknya. Perlahan dia melirik Seijuro, "Sei..."
"Hn?"
Dia menatap pria itu dengan tatapan curiga, "Kita kemana?"
Yang ditanya tidak membuka mulutnya sedikitpun. Hal itu membuat Shina harus menghela napas, "Kalau memang kau tidak mau menjawab, aku mau belanja—"
"Apa kau mau mengembalikan uang yang dipakai orang tuamu?"
"Tentu saja!" Kata Shina cepat. Bagaimanapun juga dia adalah tipe orang yang tidak suka berhutang budi pada orang lain. Dia memandang sosok tampan di sebelahnya, "Walau sekarang masih mustahil, tapi pasti suatu saat aku akan menggantinya!"
"He..." Seijuro menyeringai puas saat mendengar jawaban Shina, "Kau bisa berangsur menggantinya. Akan kuberikan kemudahan padamu."
Matanya berbinar seketika, "Sungguh?!"
Tiba-tiba saja Seijuro mendorong Shina kesebuah dinding, membuat gadis itu merintih pelan. Manik heterokromnya menatap Shina dengan tatapan lapar. Shina menelan salivanya gugup, "S-Sei...?"
"...tubuhmu."
Shina menatapnya bingung, "Aku tidak dapat mendengarmu."
"Kau membayarnya dengan tubuhmu."
Entah kenapa Shina malah menyesal telah meminta Seijuro untuk memperjelas kata-katanya. Dengan wajah merona dia segera mendorong pria itu dan berteriak di depan wajahnya, "Apa— baka! Aho! Hentai! Pendek! Mata belang! Jonggol sana!"
Dengan seluruh kekuatan dia berlari menjauh dari pria bersurai merah itu. Dia pasrah kemanapun kakinya akan membawanya asalkan wajah datar dan seringaian milik pria itu luput dari pandangannya.
"Dia benar-benar bodoh..." Shina duduk di kursi taman. Dia tak menyangka Seijuro menganggap dirinya sebagai wanita murahan. Hatinya sakit, matanya perih. Ia merasa dilecehkan. Dia terkekeh miris, bahkan Seijuro tidak berusaha menghentikannya maupun mengejarnya.
"Hai, nona kecil," Shina terpenjat pelan tatkala mendengar suara asing dari belakangnya. Matanya menatap horror orang di belakangnya.
Tampang yang brutal. Dan juga... bau alkohol.
"Sendirian saja?" Pria itu mendekat kepada Shina, membuat rasa takut menyerang gadis itu, "Aku punya teman di dekat sini. Mau main bersama kami?"
Jangankan menjawab, bergerak saja dia tak sanggup. Betapa ia mengharapkan Slaine masih ada di dekatnya, namun apadaya dia bukanlah nona muda yang selalu jauh dari kekejaman dunia luar. Satu-satunya yang bisa menyelamatkannya hanyalah...
Shina menelan salivanya. Mungkin tidak ada.
"A-aku tidak mau..."
"Hah? Kau pikir kau siapa?! Sok jual mahal seperti itu?!" Shina ingin menjawab kalau dia adalah gadis nomor satu paling cantik dan anggun seantero Jepang yang tak bisa disentuh sembarang orang. Namun dia tak membayangkan apa yang akan dilakukan pria mesum berbau alkohol murahan ini jika dia mengatakannya. Jadi Shina memilih untuk mencoba kabur.
"Sudahlah, ikut saja denganku. Aku janji kau akan puas, kok." Sumpah, Shina ingin sekali melempar wajah mesum di depannya ini dengan batu sebesar-besarnya. Ya, sebenarnya sih orang ini tidak terlalu jelek. Tapi tetap saja Shina ogah.
Matanya melebar tatkala pria itu merangkulnya dan menyentuh sesuatu miliknya. Dia segera mendorong pria itu dengan kasar yang menyebabkan pria itu terjatuh di pavinblok taman. Segera saja Shina menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Namun baru beberapa langkah dia berlari sesuatu yang besar dan keras menghantamnya hingga membuatnya terjatuh.
"Ara, ara. Tadinya kukira ada apa ribut-ribut. Ternyata seorang kucing kecil yang berusaha kabur, ya."
Kalau saja Shina tidak mendongkak, dia tidak akan melihat wajah mengerikan bak orang utan di ragunan yang tengah menatapnya lapar. Namun dia sudah terlanjur melihatnya, dan dia amat menyesalinya.
"Gadis sialan itu cukup berani juga untuk mendorongku hingga membuatku terjatuh seperti ini," tubuh Shina semakin bergetar saat dia mendengar suara yang menandakan bahwa pria mesum yang didorongnya barusan bangkit, "Kau membuatku semakin bergairah, nona."
"Diam kau, dasar om-om mesum tak berguna! Kau kira aku takut, hah?! Coba saja buka bajuku kalau kau bisa! Bahkan kau tak bisa menyentuhku!" Shina menjerit. Menyembunyikan fakta bahwa dia sangat ketakutan sekarang. Perkataannya barusan tampak membuat pria mengerikan itu marah besar.
Shina memberontak kuat saat pria bertampang sangar dihadapannya menarik kerah bajunya dan mengangkatnya. Lehernya tercekik, membuat napasnya tercekat dan matanya berair. Pria itu tertawa, "Bagus juga ekspresimu itu. Nah," dia mendekatkan wajahnya pada wajah Shina, "aku akan membuka bajumu secepatnya."
Langit semakin kelam di atas sana dan air matanya tak kunjung berhenti. Hanya satu orang yang ada dipikirannya sekarang.
Akashi Seijuro.
"Bisa kau turunkan dia sekarang juga?"
Suara itu, Seijuro. Shina ingin sekali melihat wajahnya, tapi dia tidak bisa bergerak se-inchipun. Pria itu menyerngit kepada Seijuro, "Hah? Siapa kau?"
Bukannya menjawab, Seijuro malah menatap pria berwajah seram itu dingin, "Sudah kubilang," dia berjalan mendekat, "turunkan gadis itu, sekarang!"
Entah kenapa pria itu mengikuti perintah Seijuro. Dia melepaskan Shina, membiarkan gadis bersurai hazel itu menyuap paru-parunya dengan oksigen. Seijuro yang masih berwajah datar itu maju, berjalan melewati pria yang mencekik Shina barusan. Ketika dia berpapasan dengan bahu pria itu, seketika saja pria itu terjatuh dan sebuah gunting menancap ditelapak tangannya. Seijuro melihatnya dengan pandangan merendahkan, "Sadarilah tempatmu, sampah."
"O-oi, apa yang kau lakukan, keparat?!" Pria mesum yang satu lagi tetap pada tempatnya, menatap manik heterokrom Seijuro dengan mimik yang sok menantang. Kali ini sorot matanya merendahkan sekaligus meremehkan, "Jadi kau yang pertamakali mengganggunya?"
Seijuro melangkah maju, pria itu melangkah mundur. Dan begitu seterusnya, meninggal Shina yang napasnya masih terengah-engah.
"Kalau kalian sebegitunya ingin memperkosa seorang wanita, sebaiknya kau mencari orang lain saja," tatapan dan suaranya amatlah tajam dan mengintimidasi, membuat pria itu menatapnya horror, "Karena nona ini, hanyalah milikku seorang dan tidak bisa disentuh sembarangan orang,"
Pria itu terjatuh, lalu sebuah gunting menancap ditengan pria itu, sama persis dengan pria yang sebelumnya, "Apalagi disentuh sampah masyarakat sepertimu."
Seijuro tidak berkutik sedikitpun, bahkan setelah kedua pria itu berteriak sembari berlari terbirit-birit menjauh. Shina berdiri dan berjalan kearah Seijuro, "Sei, aku..."
"Kau," Seijuro melirik Shina lewat iris heterokromnya, "Kalau tadi orang-orang itu benar-benar memperkosamu, apa yang akan kau lakukan?"
Shina tergelak. Dia melipat kedua tangannya kedepan dada, "Mereka tidak akan bisa melakukannya—"
"Kalau tadi ada lebih dari dua orang apa yang akan kau lakukan?!"
Shina melangkah mundur. Ia menatap Seijuro yang tengah meneliknya tajam dengan mata melebar. Sudah 10 tahun dia mengenal Seijuro dan baru kali ini dia melihat dia semarah itu, "Sei..."
Seijuro menarik tangan gadis itu dan membuatnya luluh dengan ciuman. Kali ini Shina menyerah, ia mengalungkan tangannya keleher pria itu, memperdalam ciuman mereka. Seijuro bahkan tidak perlu memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya dan mempersilahkan lidahnya untuk menelusuri seluruh rongga mulutnya karena gadis itu sudah melakukannya sendiri. Mereka berhenti saat mereka kehabisan napas.
"Kutarik tawaranku tadi," Seijuro menatap Shina dengan seringaian menggoda diwajahnya, "Sepertinya tanpa membuat perjanjian seperti itu, kau sudah memperbolehkanku melakukan apa yang kuinginkan." Katanya dengan nada jenaka. Wajah Shina memerah, "Baka! Diam kau."
Lalu sebuah mobil mewah mengkilap datang menghampiri mereka. Seijuro menyeret(?) Shina untuk masuk kedalamnya dan melanjutkan apa yang mereka lakukan... (ayo mainkan fantasimu! /ditabok)
Sementara seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam kegelapan mulai berjalan menjauh dengan seringaian licik diwajahnya.
"Got you, Seijuro."
TBC
OMAKE:
"Apa yang kau lakukan sewaktu aku berlari?"
Seijuro melirik gadis yang bersandar pada dadanya itu sebentar sebelum mengalihkan tatapannya dan menyembunyikan wajahnya agar Shina tak dapat melihatnya.
"Tidak ada."
Bukannya marah, Shina malah tersenyum jenaka.
Pasalnya dia dapat melihat telinga pria itu memerah dengan jelas.
-o-
Ayo bayangin Seijuro ngapain.
