"Itu kan Ying?"
Chapter 2 - Start to Hunt You!
Ku lihat seoran gadis, yang sedang berjalan di seberang sana.
Kepalanya tertunduk. Ia tak memakai alat apapun untuk menjaga tubuhnya agar tidak basah.
Apa dia tidak kedinginan?
Aku saja, sudah hampir 1 jam ikut meneduh di depan cafe ini.
Sesampai, aku biarkan motorku terpakir kehujanan.
Bodo! Yang penting aku tidak kebasahan.
Ying pun akhirnya berbelok, masuk ke arah perumahan.
Aku harus menyusulnya, kasihan juga.
Kan, kalau aku biarkan, bisa - bisa aku di CAP laki laki yang kurang ajar.
Oh, tidak! Aku ini lelaki yang baik! Ya, ku akui walaupun sifat sombong dan dingin yang selalu ku gunakan ditiap harinya.
Apa boleh buat? Itu sifatku!
Aku pun mulai menyebrang, dan berlari menghampiri Ying.
Tak peduli tubuhku akan basah kuyup.
.
PLUK!
Jaketku yang sedari tadi telah disiapkan, ku taruh di atas kepalanya.
"F - fa - fang?" Ucap Ying.
Ia menoleh ke arahku, yang tepat disebelahnya kini.
"Pakai saja." Lanjutku datar, tanpa melirik ke arah gadis itu.
.
.
Keheningan pun tercipta. Dan kita masih saja jalan dengan perlahannya.
Bersyukur, hujan sudah mereda.
Oh, terima kasih tuhan.
.
Akhirnya, sampai juga.
"Terima kasih ya Fang, sudah mengantarku."
"Sama - sama." Jawabku.
Tanpa sepatah kata lain, aku pun berbalik dan mulai beranjak pergi meninggalkan Ying.
Tapi,,,
"Fang!"
Langkahanku terhenti.
"Iya?"
"Hati - hati."
"Pasti."
.
.
Entah apa yang membuatku jadi begini.
Senyuman kecil, tertera dibibirku.
Rasanya berseri - seri untuk malam ini.
Mengingat kejadian tadi,
Oh ya, mengapa Ying tadi jadi murung? Tidak terlihat seperti biasanya.
"Tuan?"
Lamunanku pecah seketika, setelah mendapati ada yang memanggilku dari luar kamar.
"Iya bi?"
"Makan?"
"Tidak ah."
"Baiklah tuan."
Itu bi Minah. Orang yang merawat rumahku.
Baiklah, kembali lagi dengan posisi dudukku yang sedari tadi nyaman,
Memikirkan hal tadi.
.
.
Eh, tunggu tunggu tunggu.
Yang harus ku lakukan adalah mendekati Ying untuk memenangkan permainan dari Boboiboy dan Gopal.
Tapi, mengapa malah jadi begini?
.
.
* Ying's POV *
"Hacih!"
Oh tidak! Bersin ini membunuhku!
Ahh! Akibat hujan kemarin, aku malah tidak bawa payung sih, alhasil jadi begini.
Ribet!
"Hallo Yinggggg..."
Itu.
Sapaan dari beberapa lelaki di kelas, yang setiap paginya memang terkadang selalu menyapaku.
Tapi, nada mereka terdengar sedikit aga jahil.
Jangan bilang, mereka akan meng-iseng ngi ku lagi.
Seperti minggu lalu,
Rio. Laki - laki paling pecicilan di kelas.
Yang kerjaannya, selalu berantem sama Boboiboy atau Fang.
Waktu itu, ia bilang bahwa aku dipanggil ke BP.
Pas kesana,Apa coba yang terjadi?
Masa, aku dituduh mengempeskan bola basket punya sekolah?
Padahal itu kerjaan Rio!
Sial kan jadi diriku? Tapi, mungkin ini juga suatu balasan, bahwa aku juga suka ngisengin orang.
.
"Apa pangerannn?" Lanjutku. Terdengar jelas, dari suaraku yang bindeng. Ditambah, sehelai tissue yang sedari tadi ku gunakan untuk menutup hidung.
Aku pun mulai melangkah mendekati kerumunan laki - laki di kelas.
"Ko pilek sih Ying?"
"Yahh ga seru dong.."
"Mau dijailin, takut tambah sakit."
"Iya ya, ga akan ada yang berisik lagi dong dikelas untuk hari ini."
"Ah Ying, tapi gapapa sih kalo lagi sakitpun, jadi nanti ngomong ga lancarrr."
"Iya, desak - desakkan ingus terus."
"Wkwkwkwkwkwkwkwk"
Iiiiiiiii!
Kalian dengar kan tadi? Mereka! Mereka! Memang benar - benar somplak!
Mendapati ocehan lelaki - lelaki tadi yang membuat moodku turun drastis, aku pun beranjak pergi menuju bangkuku.
BRAG!
BRUG!
Tas, aku gebrakkan dengan sedikit cukup keras di atas meja.
Duduk pun, sedikit ku hentakkan.
Wajah cemberut, kini menghiasi mukaku.
"Hallo semuaaaaaa"
"Halloooo"
Ku lirik ke arah manusia yang mengeluarkan suara tadi.
Oh, Gopal dan Boboiboy ternyata.
"Ci elah,, tumben cemberut Ying.." ucap goda lelaki bertubuh gempal itu, yang sedang berdiri di depan bangku.
"Apaan?" Lanjutku malas.
"Acie cie Yingg" lanjut Boboiboy yang sama halnya dengan Gopal.
"Woy! Anak - anak! Kenapa si Ying nih?" Teriak Gopal pada kerumunan lelaki yang tadi,mengomeliku.
"Ngambek tuh! Eh Gopal, dia pilek!" Jawab Rio dengan nada yang sama.
"Wah iya? Waduh,,, sayang ya. Padahal, aku bawa kartu remi untuk main loh. Gimana kita main? Setuju ga kawan - kawan?"
"Setujuuuuuu! Ayo Boboiboy!"
Oke, sebagai sahabat, Boboiboy dan Gopal membuatku kesal 100 persen hari ini.
Ditambah, kenapa lelaki bertopi jingga itu membawa permainan kesukaanku sih?
.
Aku dapat dengar, suara ramai yang diciptakan para monyet itu yang sedang bermain kartu di bangku belakang.
Tak lama kemudian, Fang pun datang.
"Oy Fang! Sini, main kartu rame - rame!"
"Sip."
Apa? Si Fang diajak? Aku ngga?
Lelaki sedingin dia, ternyata juga suka ya, main permainan kayak gituan?
Errrrrr.
Akan ku tonjok laki - laki itu semua!
"Woy!" Teriakku.
"Baiklah, aku masih bisa terima, kalau aku tak diajak main itu. Tapi, kalian jangan harap bisa bermain basket nanti dengan tenang!"
Itu ancamku.
Terbaik bukan? Haha!
"Aduhhh atuttt..."
"Ayo lari semuaaaaaaaa."
Mereka malah lari, namun dengan pura - pura ketakutan.
Ahhh! Sial hari ini!
Aku pun kembali duduk dengan wajah yang masih saja cemberut.
Kedua tangan, ku lipat di dada.
.
.
.
.
.
Kriinnngggggg!
Fiuh, waktu yang makin berlalu disekolah, ternyata badankupun makin terasa hangat.
Untuk istirahat dihari ini, aku tak semangat. Aku tak mau pergi ke ruang musik, untuk mutusin senar gitar, atau, pergi ke ruang lab inggris, untuk dapat beberapa materi baru, atau,aku tidak akan lagi menghapal rumus IPA, dengan nada suara yang hampir membuat telinga orang pecah.
Semuanya itu, aku tak mau lakukan.
Hmmm, bosan ya.
Ditambah, Yaya tak masuk hari ini, karena izin.
.
"Tumben hanya diam."
Celetukkan kalimat tersebut, dapat ku terdengar jelas dari sebelah.
Fang. Sang lelaki, teman duduk sebangkuku.
Benar juga apa katanya.
Mungkin, dia juga dapat menggambarkan dari posisiku saat ini yang terlihat lesu.
Kepala berbaring di atas meja, dengan kedua tangan yang ku lipat, dijadikan sebagai bantal.
Menjawab ucapannya pun aku tak kuat.
Alhasil, aku hanya menggeleng kepala.
.
* Fang's POV *
Mungkin, dia sakit karena kemarin.
Entah apa yang merasuki.
Tiba - tiba, aku membuka sarum tangan kananku.
Kemudian, aku mulai mengecek keadaan panas wajah Ying.
"Oh, panas ternyata" ucapku datar.
Aku pun mengambil posisi berdiri.
"Ayo, aku antar ke UKS. Kau menyusahkan ya." Lanjutku, masih dengan nada yang sama.
Mendapati perkataanku, mungkin membuat Ying tergoda juga.
Dia ingin tidur sepertinya.
Ia pun berdiri.
Kedua tangannya mengangkat.
"Apa?" Tanyaku.
"Gendongg" jawabnya manja.
Tunggu, apa? Apa ku tak salah dengar?
"Apa kau gila? UKS itu cukup jauhh!" Protesku.
"Oy! Aku ini sedang sakit! Wajar, jika meminta yang tidak - tidak!"
Fiuh.
Bola mataku berputar, meresponnya malas.
Tapi, apa boleh buat? Memang benar juga.
.
.
Sepanjang jalan, orang - orang melihatiku.
Ada yang menyoraki, adayang melihat sampai tidak berkedip, pokoknya macam - macam.
Aku bisa merasakan, Ying kini sedang tertidur.
Dia memang menyusahkan.
Sekecil - kecil tubuhnya, tetap berat juga, jika dipangku diatas punggungku ini.
"Fang!"
Teriak Rio.
Ia pun berlari menghampiri.
"Ying kenapa? Ia tidak apa - apa kan? Sini - sini, biar aku saja yang mengendongnya, dan membawanya ke UKS. Sudah, sudah, biar aku saja..." Ucapnya. Bisa terdengar, ia khawatir.
Ada apa dengannya?
Keningku mengkerut.
Melihatnya heran.
Tapi, Rio ini juga sedikit membantu.
Ku berikan tubuh Ying, untuk digendongnya.
.
Melihat mereka yang mulai berjalan menjauh, wajahku masih heran melihat aksi lelaki tadi.
Bukannya dia suka menjahili Ying? Dan mengapa ia mendadak seperti tadi?
.
Sialnya, terlalu lama aku berdiri disitu, sehingga tanpa ku sadari, segerombolan perempuan, yang sedang berlari sebari berteriak ke arahku.
"Itu si kapten baskeetttt! Ayo kejarrrr!"
O - ow.
.
.
.
.
Entah, aku masih memikirkan hal tadi.
Seolah - olah, aku tak rela, jika Rio memiliki perasaan lain terhadap Ying.
Aku harus memburu informasi tersebut cepat - cepat.
The End of Chapter 2.
Di ffku ini, mereka sudah tidak menggunakan kuasanya lagi.
Dikarenakan, ceritanya mereka ingin fokus terhadap masa depan dahulu.
Oyya, terima kasih pada review2 sebelumnya yaa ^^
Terbaikk :3
Review lagi?
