Meeting Death God
Warning: Agak lemon disini..
Disclaimer : i am not own hetalia
Elizabeta mengikuti pria tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Fritz tersebut. Pria tua membawa dirinya ke sebuah istana. " Selamat Datang di Istana Pandonium,tempat tinggal Dewa kematian" Kata Fritz sambil membuka gerbang pintu istana tersebut.
Dalam pandangan Elizabeta, Istana Pandonium sangat megah. Arsitektur yang menawan,diperindah dengan kombinasi warna biru,putih dan hitam. Gadis berambut coklat itu mendapati dirinya berdecak kagum saat Fritz membawanya melewati taman bunga. Keindahan berbagai jenis dan warna bunga disertai sebuah kolam yang cukup besar menyejukan pemilik bola mata hijau tersebut.
" Nona Elizabeta disini tempatnya,"kata Fritz yang telah membuka sebuah ruangan yang sangat gelap berbanding kontras dengan taman yang ia lihat barusan. Tanpa Elizabeta sadari, tubuhnya gemetaran saat ia mencoba memikirkan apa yang ada didalam ruangan gelap tersebut.
"Jangan takut nona,Dewa kematian bukanlah orang jahat" kata Fritz seakan - akan dapat membaca ketakutannya. Elizabeta pun memberanikan diri melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
Ruangan gelap itu pun semakin gelap karena Fritz telah menutup pintu ruangan tersebut. Elizabeta hanya terdiam berdiri tidak mengetahui apa yang ia harus lakukan. Di dalam kegelapan ia menyadari sepasang bola mata berwarna merah mengawasinya. Perlahan - lahan cahaya lilin mulai menyinari ruangan tersebut. Elizabeta dapat melihat jelas pemilik bola mata berwarna merah tersebut.
Seorang pria duduk ditepi tempat tidurnya. Berambut perak serta berkulit putih pucat manjadi daya tarik tersendiri pikir Elizabeta. Elizabeta pun membungkuk badannya,tanda memberi hormat.
Pria berambut perak tersebut meminum sake sebelum bertanya pada Eliza. "Siapa namamu"tanyanya pada Eliza dengan suara paraunya. "Elizabeta Hedervary" Jawab gadis itu.
Pria berambut perak itu meletakan mangkok sakenya dan berjalan mendekati Elizabeta. Elizabeta terkejut ketika ia merasakan kehangatan yang terpancar dari dewa kematian saat pria itu menyentuh dagunya. "Gilbert Beilschmidt."kata Gilbert.
"Eh"respon Eliza bingung.
"Namaku Gilbert" balas Gilbert yang mencium bibir merah Elizabeta. Pikiran Eliza melayang bibirnya menyentuh bibir Gilbert. Ia selalu mengira dewa kematian memiliki hawa dingin tapi yang terjadi justru sebaliknya ia bisa merasakan kehangatan dari sentuhan - sentuhan tangan dewa kematian yang menjadi suaminya sekarang.
Elizabeta merasakan ia tidak lagi berdiri saat Gilbert menggendongnya menuju peraduan. Elizabeta bisa merasakan Gilbert sangat berhati - hati ketika membaringkanya diatas kasur. Jari - jemari Gilbert menari dengan lincah di atas tubuh Eliza,membuat gadis mengeluarkan suaranya yang paling indah.
(time skip,)
Elizabeta terbangun dari tidurnya. Ia mendapati dirinya terbangun disebelah sang dewa kematian. Eliza mengamati baik - baik wajah pria yang menjadi suaminya kini. Ia benar - benar merasa kagum pada setiap detail wajah Gilbert.
"Frau sampai kapan kamu memandangi wajahku" kata Gilbert tiba - tiba dengan mata yang masih terpejam. Hal itu tentu saja membuat wanita berambut coklat itu terkejut. " Maaf "jawab Eliza gugup.
Gilbert hanya tersenyum kecil. Pria itu menghembuskan nafasnya ketika ia merasakan adanya kehadiran lain dalam istananya. "Frau bersihkan tubuhmu kita kedatangan tamu"kata Gilbert membuat Elizabeta kaget. "Eh"hanya itu respon yang keluar dari bibir Eliza sambil memandang sosok suaminya itu pergi meninggalkan kamar.
Elizabeta membuka pintu yang membawa pada sebuah kolam permandian yang cukup luas. Air pada kolam itu juga cukup hangat untuk membersihkan diri. Eliza membiarkan tubuhnya terendam di kolam hangat tersebut. Pikirannya melayang ke kejadian tadi itu membuat wajahnya terasa panas. Ia bisa menebak, saat ini pasti wajahnya memiliki warna merah yang sama dengan tomat. Eliza juga tidak memungkiri dirinya tertarik pada pemilik bola mata merah tersebut.
Ditempat lain, Gilbert yang sudah berganti pakaian sedang duduk ditaman istananya. Saat tiga burung merpati pembawa pesan mendarat didekatnya. Dengan lembut,ia membuka kertas yang berisikan pesan tersebut.
Dear Dewa Kematian,
Aku Pimpinan para dewa ingin mengundangmu untuk memperkenalkan istrimu pada teman - temanmu yang lain pada jamuan makan malam hari ini
tertanda, Dewa Matahari Ameterasu
Daftar istilah di fic ini
Dewa Kematian : Gilbert (Prussia)
Pandenium : tempat tinggal dewa kematian
