Realm of God part 2
Disclaimer: i am not own hetalia
A/n:
Dewa siang : Alfred
Dewa malam : Matthew
Dewa cinta : Francis
Dewi kecantikan : Francoise
Dewi musim panas: Michelle
Dewi musim semi: Mei
Dewi Bunga : Sakura
Dewa Judi: Alexander (nyo!monaco)
Dewa militer dan perang: Ludwig
Elizabeta tertegun. Ia memandang pantulannya sendiri di cermin dengan rasa takjub. Bagaimana tidak rambut coklatnya yang biasanya terurai menjadi cantik tersanggul dengan hiasan mutiara. Gaun putih sepanjang mata kaki memeluk tubuhnya dengan sempurna. Francoise, sang dewi kecantikan tersenyum bangga dengan mahakaryanya. Riasan wajah Elizabeta juga tidak terlalu tebal. Bibir dan pipinya juga telah berwarna muda lembut.
"Mereka memanggilku dewi kecantikan bukan tanpa alasan" kata Francoise bangga.
"Terima kasih"kata Elizabeta tulus.
"Nah sekarang kau tinggal menunggu suamimu, Aku juga harus bersiap - siap"kata Francoise yang kemudian meninggalkan tempat itu.
"Daniel,Tolong berikan aku kekuatan"kata Elizabeta lirih. Sewaktu ia akan dikorbankan untuk menikah dewa kematian,ia separuh berharap akan bertemu dengan adik laki - lakinya yang telah mendahuluinya,namun sekarang sepertinya tidak mungkin. Sekarang, ia hanya berharap hidup akan mudah baginya.
Gilbert mengenakan pakaian (baju perang prussia di perang Austria Hungary prussia) yang di dominasi oleh warna biru dan merah. Gillbird burung kesayanganya sudah bertengger dipundaknya. Langkah - langkah kedua kakinya,membawanya ke tempat Elizabeta berada.
Gilbert membuka pintu kamar dimana Elizabeta telah menunggunya. Gilbert menatap Eliza kagum membuat semburat merah muda dipipinya terlihat jelas. "Kau terlihat cantik"puji Gilbert.
"Terima kasih,"Balas Eliza yang sedari tadi mengakui dewa didepannya ini menjadi sangat keren.
"Huh?itu peliharaanmu?"Tanya Elizabeta .
"Oh Gillbird. Iya ini burung kesayanganku" jawab Gillbert.
"Kau menamainya dengan namamu?" tanya Elizabeta.
"Tentu saja. Dia peliharaanku yang paling awesome"jawab Gillbert bangga membuat Elizabeta tertegun beberapa saat.
Time skip.
Istana Matahari biasanya sangat megah, namun untuk malam ini terlihat sangat mewah dan matahari dan bulan menghiasi sudut - sudut ruangan.
Alfred sang dewa siang dan Matthew sang dewa malam membantu atau diperintahkan oleh sang pimpinan para dewa dewi untuk mempersiapkan pesta ini. "Wah ini sangat sudah tidak sabar bertemu dengan mempelai wanitanya"Kata Michelle sang dewi musim panas begitu memasuki tempat pesta.
"Bukankah kita semua tidak sabar bertemu dengannya"balas Mei,sang dewi musim semi menimpali."Tidak semuanya Mei. Haruskah ku ingatkan mengenai,Sakura sang dewi bunga"kata Michelle. Sesungguhnya bukan rahasia umum bila Sakura menentang pernikahan ini. Para dewa maupun dewi tahu hubungan asmara yang pernah terjalin antara Gilbert dan Sakura namun harus terputus saat Gilbert memutuskan untuk mengambil istri.
"Di saat pesta seperti ini kalian bergosip"kata Francoise yang ditemani oleh Alexander,sang dewa judi.
"Nona Francoise kau sudah bertemu dengannya 'kan"kata Michelle ceria. Francoise hanya mengulum senyum.
Tak berapa lama semua tamu undangan kecuali Sakura yang tidak hadir. Gilbert dan Elizabeta pun telah hadir. Banyak yang memberikan selamat pada mereka berdua. "Tidak semua dewa dan dewi hadir"kata Gilbert yang sangat bersyukur dengan ketidakhadiran sebagian para dewa dan dewi tersebut.
"Kakak,"panggil Ludwig,sang dewa perang.
"Eliza kenalkan ini adikku Ludwig dan Ludwig ini Eliza,istriku"kata Gilbert mengenalkan mereka berdua.
"Kakak ipar"kata Ludwig sopan. Elizabeta hanya tersenyum. "Gilbert boleh aku pinjam Elizabeta?"kata Francoise yang sudahc menarik tangan Elizabeta.
Francoise mengajak Elizabeta menemui dan Michelle. "Eliza kenalkan dewi musim semi dan panas."kata Francoise.
"Halo"sapa Elizabeta.
"Ada yang ingin kami sampaikan padamu"kata Francoise dengan wajah serius.
next chapter.
"Kami ingin kamu lebih berhati - hati"
"kamu belum bisa memaafkan Toni,Gil?"
"Pikirkanlah perlindungan Eliza."
"Seandainya dia masih disini semua akan lebih mudah"
"kamu bukan satu - satunya istri dewa kematian"
