Cherry Hunt © Park Hyesung
The Artist characters isn't mine. But this story and the OC is mine.
Enjoy Reading! ^^
.
.
.
Dibalik tirai panggung sebuah bar, seorang lelaki muda tengah mengamati penampilannya dari pantulan cermin. Topi model bowler dipasang miring ke satu sisi, poninya yang cukup panjang ditata searah dengan topi, dan baju khas jaman itu—yang sederhana namun tetap elegan melekat di tubuhnya.
Diraihnya buah ceri di atas meja, mengunyahnya perlahan sambil menikmati hiruk-pikuk penonton. Sorak sorai berpadu dengan dentingan gelas. Mereka, kaum bangsawan sangat kaya. Perfum para pria maupun wanita sangat menusuk hidung pemuda pendek ini.
Terbayang sudah gerak-gerik para wanita berdandan menor menggerakkan kipasnya sok—atau topi mereka yang trendi tapi terlihat merepotkan itu.
"Nathan! Habis ini giliranmu!" Salah seorang anggota keluarganya memanggil dari samping tirai. "Bernyanyilah untuk satu jam."
Nathan Chauster menyahut, "Baik!" Dan merapikan dasinya sebagai sentuhan terakhir sebelum menginjak panggung.
Tepuk tangan menggema seiring lampu sorot tertuju padanya. Bersamaan dengan permainan piano sang adik, suara Nathan memenuhi bar. Tangannya bergerak kesana-kemari untuk mendramatisir suasana.
Kadang kalau lagunya berhentak cepat, ia akan bergerak ke sisi kiri dan kanan panggung. Sebaliknya saat lagu bernada lembut, dia akan diam di tengah panggung, memainkan ekspresinya dan tenggelam dalam lirik menyedihkan.
Orang-orang terkesima, namun Nathan tak menghiraukannya. Sepasang matanya tak bisa lepas dari meja bar di seberang panggung. Hampir setiap saat, perhatiannya terpaku pada seorang pria di sana.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri, mengelap tubuh sebotol wine tanpa meliriknya, seolah-olah Nathan hanyalah angin lewat.
Nathan sudah terbiasa akan hal itu. Makanya dia terus bernyanyi, meringankan rasa sakit hatinya yang tak kunjung ditanggapi oleh pria itu.
"Terima kasih atas perhatiannya."
Pertunjukan berakhir. Saat ia membungkuk dalam, seorang wanita maju ke depan, menyerahkan sebuket bunga padanya.
Dengan mempertahankan senyum manis, Nathan menerimanya dengan senang hati. Lalu melesat meninggalkan panggung menuju ruang pribadinya yang dikelilingi setengah dinding dan tirai.
Jangan tanya seberantakan apa ruangan ini, Nathan saja berkunang melihatnya.
"Nathan," Beberapa suara berbeda memanggilnya. Nathan menengadah dan menemukan tiga sampai empat orang berdiri berjajar di depan jalan masuknya.
Wajah mereka tampak mesum, namun Nathan masih menanggapinya dengan senyuman.
"Iya?"
"Kita berbincang lagi di ruanganmu ya? Bisa 'kan?"
Biasanya juga begitu. Ini cuma basa-basi biasa. Sehingga Nathan mengangguk dan memandang sedikit seduktif.
"Silahkan masuk."
.
.
.
"Nathan, aku membawa hadiah lagi."
Nathan Chauster menarik dasinya dan merebahkan diri di atas sofa.
"Yah, yah. Taruh di mana saja." Tangan Nathan melambai, membiarkan si anak baru dalam keluarga menaruh tumpukan hadiah berpita cantik sesukanya.
Karena setiap sudut telah penuh kotak dan bungkusan kado, si anak baru tersebut menumpuknya di sekeliling sofa.
"Nathan, kau tak mau membuka pemberian yang kemarin?"
"Kau bakar juga tak apa. Aku tak peduli." Nathan membalikkan badan ke punggung sofa, menolak untuk menonton kesulitan si anak baru.
Gadis mungil itu menghela napas. "Nathan, bersemangatlah. Kata kakak senior, kau dulu senang sekali saat diberi pekerjaan menyanyi. Aku heran kau bisa semuram ini."
"Setidaknya aktingku bagus, gadis kecil."
"Namaku Franca, Nathan. Franca Eqrushia." Tekan gadis kecil itu berkacak pinggang.
"Ah, terserah! Keluar sana! Aku mau tidur!"
Franca mendengus, tanpa banyak bicara meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah suasana tenang, Nathan mengubah posisi tidurnya. Menerawang langit-langit temaram bar yang seolah merefleksikan kegetirannya. Sebelah tangannya terangkat, menekan setengah wajah frustasi.
"Jeremy..."
Pria itu seorang bartender. Sejak berusia tujuh tahun, ia sering mencicipi berbagai rasa wine. Tak peduli sekeras apa Dad melarangnya, dia tetap membangkang.
Katanya, rasa wine yang pahit dan menyesakkan memberi kesan tersendiri. Nathan jadi tertarik. Dan mulai sering terbangun pada malam hari hanya untuk menguping gumaman pria itu dibalik tembok gudang penyimpanan.
Tidak sampai disitu saja, lidah peka pria itu menjanjikannya sebagai peracik minuman. Terbukti dari seberapa banyak campuran bahan yang disatukannya dalam blender terasa sangat enak saat diminum.
Jangan lupakan wajah rupawannya. Damn, Nathan mengerang tertahan dalam ruangannya. Dia terlalu menawan, bahkan bagi pemuda sepertinya, pesona pria itu sangat besar.
Bahkan di kalangan perempuan, dia juga terkenal sebagai 'Si Senyum Hambar'. Jeremy memang tersenyum, tapi dengan mata kosong dan tarikan sudut bibir, bukankah itu terlihat unik?
Seperti tanpa minat tapi juga berminat.
"Jeremy Mazuurek." Nathan bergumam, menatap pria pendiam itu dari celah tirai ruangannya.
Jeremy baru saja melintas seraya mengangkat ember dan tongkat pel ke ruang penyimpanan.
Nathan tersenyum samar. Dia punya ide.
.
.
.
"Aku menyukainya." Nathan berujar, mencodongkan tubuhnya melewati meja bar.
Jeremy yang tengah mengelap meja kini membenahi posisi mundurnya. "Menyukainya? Ah, tunggu sebentar."
Pria itu berbalik, melakukan sesuatu di meja kecil di depan rak wine. Nathan memiringkan kepala sejenak, terheran-heran. Apa yang dilakukannya?
Tak lama kemudian, Jeremy kembali dengan uluran gelas, tak lupa senyum hambarnya. "Ini jus ceri yang kucampur apel dan jeruk mandarin. Selamat menikmati."
Nathan termangu sejenak, sebelum menyambutnya. "T-Thanks."
"You're welcome, sir." Jeremy memperlebar senyumnya kemudian berbalik, membereskan kekacauan kecil di meja tadi.
Nathan menggerutu, menegakkan cairan manis tersebut lalu menggigit buah ceri yang Jeremy selipkan di bibir gelas.
Sial, Jeremy tak peka. Kenapa semua bartender kelihatan jual mahal? Menyebalkan! Lagipula timingnya sudah tak tepat lagi untuk dilanjutkan.
Pendekatan kali ini gagal. Nathan terus mencobanya tanpa mengenal menyerah. Hampir setiap saat diluar jam kerja ia mengajak Jeremy berbicara tetapi pria itu terlalu menutup mulut.
Dua minggu berlalu, dicoba berapa kalipun masih saja gagal. Bahkan Nathan tidak rela menghitungnya dengan kedua tangan. Tak ada kemajuan sama sekali!
Ia juga sudah muak dengan senyum hambar itu. Memangnya dia apa? Dia kan bukan pengunjung! Dia keluarga Jeremy!
"Cukup! Aku tak tahan lagi!"
Ini sudah waktunya mengaku sebelum terlambat.
.
.
.
"Jeremy,"
Si pemilik nama mendongak dari meja barnya. "Ya? Kau mau jus lagi? Atau wine?"
Nathan mendelik, mendadak teringat sikap mabuknya yang kelewat parah di gelas ke tiga puluh enam. Lantas ia melesat duduk di depannya, berkata serius,
"Aku mau bicara."
"Bicara saja." Jeremy menghiraukannya setengah hati, kembali mengelap keramik persolen meja.
Nathan cemberut, merasa harga dirinya teruji. "Buatkan aku minum."
Jeremy tersenyum hambar, Nathan tahu meski itu sangat tipis. Pria itu mengejeknya.
Tanpa memprotes, gelas cantik yang mencekung tajam terhidang. Nathan meneguk perlahan jus kombinasi rasa lemon dan jeruk itu. Asam dan manis. Kecut. Persis perasaannya sekarang ini.
Jeremy menyingkir ke sisi lain meja, mengelap bagian sana seolah menunggu Nathan berbicara.
Nathan menghela napas, menopang dagu dengan satu tangan, mengumpulkan keberanian. "Itu, apa kau sudah punya pacar?"
"Kau tahu aku sibuk bekerja."
Jawaban singkat namun meyakinkan. Jeremy memang tak pernah terlihat melalaikan pekerjaan.
Namun Nathan tak mau kalah. Ia ingin memancing ketertarikan Jeremy. Siapa tahu dia sedang memendam perasaan pada seseorang. Salah satu anggota keluarga mungkin?
"Sibuk bukan berarti tidak dapat pasangan 'kan? Sudah, jujur saja. Aku tak akan membocorkannya."
"Aku tak punya pacar."
"Benarkah? Perempuan idaman mungkin? Atau jangan-jangan kau gay? Jujur saja. Kita 'kan saudara."
Jeremy enggan menjawab. Nathan merasa ia menyembunyikan sesuatu.
"Tidak menjawab kuanggap jawaban iya."
Tak ada respon.
"Baik. Jawabanmu iya. Siapa wanita itu? Mungkin aku bisa membantumu."
"Urus saja dirimu sendiri."
"Apa?"
"Urus saja dirimu sendiri. Tidak ada gunanya mencampuri urusan orang."
"Jeremy!" Nathan spontan menarik dasi lelaki itu mendekat, gemas. Jarak antara wajah mereka sekarang tak ada bedanya dengan orang yang mau berciuman.
"Aku mau kita melakukannya." Nathan memberi penekanan di akhir kalimat. Ia tak mengerti kenapa dirinya jadi seperti ini. Mungkin terlampau kesal.
Namun Jeremy tak menjawab. Membuat Nathan menyunggingkan senyum, senyum melecehkan sekaligus seduktif.
"Kau seharusnya bersyukur. Banyak wanita yang menginginkanku. Mereka jauh lebih kaya dan seksi. Lelaki di luar sana juga banyak yang lebih tampan daripada kau."
"Kalau begitu, pilih saja mereka."
"Eh?"
"Kau, seperti lelaki murahan."
Nathan termangu. Rasa-rasanya ada panah yang menusuk hatinya.
Jeremy menolaknya. Dari raut dingin dan sorot sinis yang ditampilkannya, Nathan tahu Jeremy telah menolaknya.
Lantas ia menunduk, mundur dan turun dari kursi. Melepaskan genggamannya dari dasi Jeremy.
"Aku mau ke kamar dulu." Lirihnya.
Kemudian hilang dari pandangan Jeremy.
.
.
.
Nathan kecil bersembunyi di balik tembok. Kepalanya mencuat menyaksikan ayah angkatnya tampak memberikan sekantung uang pada seorang pria kekar. Di bawahnya ada seorang lelaki yang kemudian di dorong masuk ke bar.
Dad tampak berjongkok, terlihat memberitahukan sesuatu pada bocah kecil itu. Sepertinya tentang latar belakang keluarga ini.
Mereka semua anak-anak yang dipungut dan dibeli oleh pria yang mengaku Dad mereka. Tanpa terikat jalinan darah, mereka di suruh bekerja.
Kemudian bocah berwajah datar itu mengangguk, lantas mengangkat kepalanya yang entah kebetulan atau bukan langsung tertuju pada Nathan.
Saat itulah Nathan sadar, bocah lelaki itu sangat tampan.
"Kenalkan, ini Jeremy Mazuurek. Dia akan menjadi salah satu anggota keluarga kita sekarang." Jelas Dad.
Anak-anak lain mengangguk paham dan mengelilingi Jeremy bagaikan semut menemukan gula. Berdesak-desakan hanya untuk berkenalan.
Sementara Nathan, ia terlalu malu untuk mendekat. Sehingga ia memutuskan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Bocah laki itu pun tak berbicara banyak—menjawab singkat dan jelas, makanya sesi berkenalan cepat selesai dan semua kembali bekerja.
Nathan tak sadar sejak kapan ia mulai memperhatikan Jeremy. Dari caranya membawa barang berat, mengepel hingga tak sengaja melihatnya meracik minuman dan mencicipi wine.
Nathan tahu segala hal. Hampir seluruh penampilan luar dihafalnya di luar kepala. Bahkan sampai dewasa pun, perhatiannya pada Jeremy masih sama.
Mereka tak banyak bicara, seakan ada sekat sepanjang tembok Cina yang memisahkan mereka.
Seperti waktu itu, mereka kebagian mengepel panggung. Nathan tentu merasa senang, naik ke panggung juga merupakan salah satu impian konyolnya.
Lagi sunyi-sunyinya, Nathan iseng ke tengah panggung ketika Jeremy berada di sisi lainnya. Kemudian bernyanyi. Ia pikir ini mampu menarik perhatian Jeremy.
Namun ternyata salah. Bukannya mendapat pujian dari lelaki idamannya, dia malah kena marah oleh kakak tertuanya yang merupakan kepala pelayan di bar Royal Scandal tersebut.
Padahal nyanyiannya sudah keras dan merdu, bahkan dimarahi. Tetapi Jeremy peduli apa? Dia melenggang lurus meninggalkan Nathan dengan embernya. Membiarkannya dimarahi tanpa pembelaan.
Beberapa hari berselang, tiba-tiba Dad mengangkat Nathan sebagai penyanyi tetap di bar.
Lelaki itu senangnya bukan main. Menjadi penyanyi adalah impiannya sejak dulu. Didetik pertamanya kebahagiaan menyelimuti, ia menoleh pada Jeremy, berharap diberi kata selamat meski pendek.
Namun harapan tetaplah harapan. Jeremy melenggang keluar dari kerumunan menuju meja bar-nya.
Mengingat itu semua, hati Nathan semakin teriris. Berulang kali ia berdusta dengan kata 'baik-baik saja' dan barusan ia berdusta soal ingin kembali ke kamar.
Padahal rumah mereka tepat si samping bar ini tapi dia terlalu malas menyelinap kesana. Terutama karena ini menjelang pagi.
Nathan kini berada di ruang pribadinya, bersimpuh di lantai dengan bagian depan bawah sofa sebagai sandaran. Tangannya yang lentik merobek bermacam surat pemberian penggemar.
Tak peduli semahal apa pemberian mereka, tak peduli semewah apa pemberian mereka, hati Nathan telah hancur. Tak ada yang dapat menyusun kembali pecahan hati ini.
Setetes air mata jatuh.
Nathan tercenung sesaat. "A-Apa ini?" Ia menyeka air matanya berulang kali namun liquid jernih itu terus mengalir.
"Aneh. Aku kenapa? Padahal aku sudah terbiasa."
Tak bisa berhenti. Hiburan itu tak mempan. Suaranya semakin tercekat dan parau di setiap kata. Dan isak tangis menggelegar bagaikan gesekan biola.
.
.
.
Seperti biasa, dua jam setelah bar tutup, Jeremy pasti sudah menyelesaikan pekerjaan mengepelnya. Dengan peralatan yang sudah dirapikan, Jeremy keluar. Menyampirkan selimut dari kamarnya yang hendak dicuci ke lengan.
Tetapi langkahnya terhenti saat melihat sepasang kaki mencuat dari ujung sofa ruangan Nathan berada.
'Siapa?' Batinnya. Bukankah Nathan sudah pamit mau ke kamar? Kenapa tirai terbuka lebar begitu? Tidak mungkin Franca masih di sini 'kan?
Lantas berdasarkan penasaran, Jeremy melangkah mendekat. Ia agak berjengit menemukan Nathan tertidur pulas bermodalkan lipatan tangan. Kancing bajunya nyaris terbuka semua.
Alis Jeremy terangkat. 'Ngelindur?' Tebaknya dalam hati kemudian tersenyum hambar menatap lengannya.
Dalam sekali gerak, selimut berbahan lumayan tebal Jeremy berikan pada Nathan, menyelimuti punggungnya dan merapatkan sisi-sisinya supaya lelaki di hadapannya ini tak masuk angin.
Cukup lama Jeremy mematung, berjongkok menatap setengah wajah Nathan yang terlelap. Lantas merapat, menempatkan bibirnya di dekat telinga sang Diva.
"Don't stop loving me."
Kemungkinan karena geli, Nathan merespon dengan lenguhan. Memperbaiki posisi kepalanya, menghadap Jeremy.
Senyum sang bartender tak luntur jua. Malah semakin terlihat lebih nyata dengan perubahan raut. Sebuah senyuman puas nan usil.
Perlahan dirinya bersandar di atas sofa. Menyisir rambut lembut Nathan menggunakan sela jarinya kemudian obsidiannya tak sengaja menangkap sesuatu.
Sebuah bunga mawar yang terbuang di tong sampah. Ia memungutnya, menyelipkan tangkainya di sela bantal dudukan sofa, tepat di samping Nathan.
"If you can do that, then I want to see it."
Kemudian melanjutkan permainan jarinya. Menyentuh pipi tirusnya, hidungnya kemudian turun ke bibir. Bibir terang semerah ceri yang disukai Nathan.
"You are a cherry hunter, it keeps existing in my mind. As for this captured cherry, tonight I'll keep you again."
.
.
.
The End
A/N:
"This is why bartender all bartender always the badass one." « I found it on some blog and it is right. bartender always selfish, forgive his true live as human or playing with the butterflies.
Balik ke bahasa Indonesia- Hei, hei! Ada yang kangen saya? Gak ada? Oke sip xD Saya sudah mengira nggak bakal ada yang kangen sama tulisan saya www
Yosh, tanpa basa-basi, sebenernya ini fict terinspirasi dari PV Cherry Hunt - Luz. Damn, he's cool bartender. I love him ;;; Terutama pas ngomong "Ah, Dont stop loving me." Eh, tiba-tiba jadi niat bikin fict berdasarkan lagu itu.
Fun fact: Sebenarnya susah bayangin Yesung sebagai bartender. Le coba bayangkan versi illust anime, Nathan juga begitu www
.
.
.
Bonus Story
Sinar matahari semakin menyengat, menembus dari kaca dan memanggang kulit Nathan hingga menyentakkannya bangun.
"P-Panas sekali..." Lenguhnya parau, khas orang bangun tidur. Kamudian menatap sekitar, dan terbelalak. "Ya ampun! Sudah siang?! Kenapa tak ada yang membangunkanku?!"
Emosi Nathan seketika mereda kala melihat setangkai bunga di sela bantal sofa. Dia melirik sekitar sebentar. Kenapa bisa ada di sini? Seingatnya sudah ia buang kemarin.
"Siapa ya?" Dia berbalik, menatap segelas jus ceri berwara merah kejambuan dengan ceri yang terselip di mulut. Tak lupa semangkuk buah kesukaannya di samping gelas.
Sekilas, otak Nathan terasa kosong. Ia menarik selimut yang menutupi pungungnya.
Aroma jeruk dan wine berpadu menjadi suatu wangi yang tak terlupakan.
Perlahan bibirnya melengkung membentuk senyuman. Nathan semakin membungkuk, mengambil dan mengunyah buah ceri seraya menghirup aroma khas tubuh Jeremy.
"I love you, Jeremy Mazuurek. From now, tomorrow and forever."
Di balik tirai, seorang pria berlalu. Tersenyum lembut hingga matanya yang terkenal kosong dan tajam berubah menjadi sendu.
.
.
.
Last, mind to review? ^^
