Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Warning : Out Of Character here. Many. Mistakes. Story from me
Pair : NaruSaku always and Hanami
Rate : T slight M
Song by 2PM - A.D.T.O.Y (All Day I Think Of You)
Naruto - 29 year
Sakura - 27 year
Hanami - 5 year
.
.
.
.
Missing |chapter 2 (last chap)
.
.
.
.
Suara tawa dari sekumpulan anak-anak terdengar begitu lucu membuat seorang lelaki pirang tersenyum karenanya. Lelaki itu menyusuri koridor Taman Kanak untuk mencari sang keponakan yang menuntut ilmu di tempat tersebut.
Naruto yang saat itu tengah bekerja di kantor tiba-tiba Sasuke menelfon dan mengatakan tidak bisa menjemput Shisui di karenakan sibuk dengan proyek untuk Namikaze corp. Mau tidak mau Naruto menuruti permintaan sang kakak ipar agar nanti Karin tidak murka terhadap Sasuke yang telah berani menelantarkan putra mereka. Dan juga kebetulan pada saat itu Naruto tidak terlalu di sibukan oleh pekerjaan kantor.
"Paman Naruto...!" Seruan cempreng dari belakangnya menghentikan langkah Naruto, ia memutar tubuh dan mendapati seorang bocah tampan dengan manik hitam pekat seperti milik Sasuke.
"Maaf karena aku sudah membuat Paman menunggu lama..." Tutur bocah itu seraya menghampiri sang Paman.
"Tidak masalah, Paman juga baru tiba..." Balas Naruto sambil menggandeng tangan mungil Shisui lalu kemudian mengajaknya melanjutkan perjalanan membuat pemuda cilik tersebut menyunggingkan senyum lebar.
Terlihat seorang gadis kecil bersurai pink sebahu tengah lari mengejar temannya. Kedua gadis mungil itu tertawa bersama dan bocah pink tersebut menambah kecepatan larinya agar dapat menggapai sang teman.
Tepat saat Naruto dan Shisui keluar dari tikungan, gadis jelita itu terlambat menyetop laju larinya sehingga tanpa bisa di cegah ia menubruk tubuh kecil Shisui menyebabkan bocah tampan itu jatuh terduduk sambil memegang pinggang belakang dengan bibir manyun mengaduh kesakitan.
Naruto yang melihat sang keponakan terduduk di lantai segera membantunya untuk bangkit. Shisui berdiri dengan gerakan patah-patah merasakan nyeri melanda tulang bokongnya.
"Maafkan aku" Naruto melihat ke bawah untuk mengetahui siapa bocah yang meminta maaf tadi.
"Hehehe... Tidak apa-apa Hanami-chan" Shappire Naruto beralih melirik Shisui. Ia tidak mengerti akan perilaku bocah disana yang entah kenapa pipinya merona dengan cengiran lebar yang bertengger di wajah Shisui sambil tangannya menggaruk tengkuk dengan mata terpejam.
Naruto berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan gadis yang tengah tertunduk itu. Ia menyentuh lembut puncak kepala pink anak itu membuat sang empu mendongak memperlihatkan wajah polosnya.
Deg...
Naruto membatu saat bertatapan secara langsung dengan Shappire yang sama seperti miliknya. Entah kenapa jantungnya berdetak keras seperti ada sesuatu yang datang merasuki separuh jiwanya selayaknya hati mereka baru bertemu kembali setelah lama terpisah.
"Si–siapa tadi nama mu gadis cantik...?" Ekspresi Naruto seperti orang sakit namun ia berusaha menutupinya dengan senyum yang ia perlihatkan pada gadis cilik tersebut.
"Namaku Hanami," Sahut bocah yang bernama Hanami itu seraya membalas senyum Naruto membuat Shisui yang berdiri di samping lelaki tersebut menjadi salah tingkah dengan wajah merah menyeluruh hingga telinga.
"Kalau Paman boleh tahu, siapa nama Ibu Hanami!?" Bukan bermaksud lancang, namun hati Narutolah yang memaksanya untuk bertanya lebih dalam lagi.
"Sakura Haruno, Ibu pernah mengatakan bahwa margaku bukanlah Haruno tetapi Namikaze..." Hanami teramat senang saat mengatakan marga dari sang Ayah walau ia tidak pernah tahu seperti apa ukiran wajahnya namun Sakura kerap mengatakan pada Hanami bahwa Ayahnya adalah pria yang sangat tampan seperti rupa seorang pangeran di cerita dongeng.
Naruto mencengkram kepalanya yang berdenyut sakit ketika muncul ingatan asing di benaknya.
"Aku sangat mencintaimu Naruto..."
"Ya, aku tahu" Samar-samar pembicaraan antar lelaki dan wanita memenuhi pikiran Naruto. Perlahan bayangan dua insan tersebut dapat di lihat dengan jelas olehnya.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki pria sepertimu" Tutur seorang gadis bersurai pink sambil telunjuknya bermain di dada bidang sang pria dengan lengan dari lelaki itu menjadi bantalan untuk ia membaringkan kepala.
"Aku juga sangat bersyukur bisa mendapatkan jelmaan bunga Sakura sepertimu..." Gadis itu terkikik geli dan kemudian tangannya berangsur naik untuk memeluk manja leher lelaki pirang tersebut. Lelaki itu menarik selimut menggunakan kaki untuk menutup tubuh polos mereka berdua.
"Selamat malam Sakura ku..." Ucapnya sembari mengecup puncak kepala pink gadis yang bernama Sakura itu.
"Selamat malam juga Naruto ku..." Dan setelahnya mereka memejamkan mata dengan tubuh saling berhimpitan dan memeluk satu sama lain.
"Aarrghhh...!" Naruto menggeram saat merasa kepalanya semakin sakit tak terkendali.
"Paman !" Hanami dan Shisui berseru panik ketika tubuh Naruto ambruk di lantai dengan kepala yang ia cengkram kuat.
"Sa–sa–saku...ra..." Lelaki itu masih bisa menangkap samar suara kedua bocah disana yang tengah panik. perlahan pandangan Naruto mengabur dan setelahnya ia tidak bisa melihat mau pun mendengar apa-apa lagi melakinkan gelap gulita dan sunyi sepi.
.
.
Praang...
Suara gelas terjatuh menggema di dapur tempat pemasakan. Terlihat seorang wanita yang mengenakan pakaian khas pelayan masuk ke dapur dengan tergesa untuk melihat keadaan wanita pink yang bertugas di belakang.
"Kau tidak apa-apa Sakura...?" Wanita yang di panggil Sakura itu menoleh kearah pintu dan mendapati sang rekan kerja tengah menatapnya khawatir dari sana.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa Ayame..." Wanita yang berdiri di ambang pintu tersebut datang menghampiri Sakura.
"Biar aku bersihkan" Saat Ayame hendak merunduk Sakura terlebih dulu mencegahnya.
"Tidak, biar aku saja... Sebaiknya lanjutkan pekerjaanmu di depan, jangan membuat Paman Teuchi marah..." Ayame menatap ragu wanita di hadapanya yang tengah tersenyum aneh.
"Tapi..."
"Percayalah padaku!" Sakura memaksa senyum agar sang teman tidak khawatir seperti tadi. Ayame menghela nafas pasrah akan kegigihan Sakura. Dengan berat hati ia kembali kedepan.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati.!" Sedikit meninggikan suara dari balik pintu dapur Ayame memperingati Sakura.
"Ku pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi..." Sahut wanita itu seraya berjongkok memunguti pecahan gelas kaca di lantai.
"Baiklah, kupegang kata-katamu..." Senyum Sakura pudar setelah memastikan Ayame sudah kembali ke depan. Ia memegang dadanya yang entah kenapa seperti ada sesuatu menerobos masuk setelah lama pergi.
"Perasaan apa ini?... Aahh–hmpp—..." Sakura membekap cepat mulutnya yang hendak meloloskan jerit kala kaca kecil nan tajam tersebut menyayat jari tengahnya. Ia berhenti memungut kaca-kaca itu untuk melihat luka yang di dapatnya.
"Hanya luka kecil..." Gumam wanita itu sesaat dan kemudian kembali memunguti serpihan kaca gelas tersebut. Luka di jari Sakura hanyalah luka kecil namun luka yang tercipta di dalam hatinya lubang yang menganga lebar nan dalam. Rasa perih di jarinya tidak seperih luka di hatinya.
.
.
.
.
"Naruto, jangan pernah meninggalkanku sendirian lagi..."
"Itu tidak akan terjadi... Namun jika takdir yang memisahkan, maka hati kita akan selalu merasa hilang..."
Shappire indah milik seseorang terbuka lebar setelah terkatup selama beberapa jam. Sang pemilik terdiam di atas ranjang kecil dengan tangan menyentuh dada di iringi lelehan liquid hangat.
"Naruto, kau sudah sadar..." Seruan dari seorang wanita baya membuyarkan lamunan Naruto. Dengan gesit ia menyeka jejak aliran air mata saat merasa wanita di ambang pintu tersebut melangkah kearahnya. Masih dalam keadaan terbaring Naruto menoleh ke samping untuk melihat sang Ibu.
"Ibu..." Wanita baya cantik itu berdiri tegak di samping ranjang tempat sang putra terbaring sambil membelai surai pirangnya.
"Apa kepalamu masih terasa sakit ?" Tanya Kushina lembut.
"Hanya sedikit" Balasnya seraya berusaha untuk bangun.
"Jangan di paksa !" Kushina menegur sembari memegang bahu Naruto.
"Aku akan terus berusaha selagi mampu... jika itu bisa membawanya kembali padaku..." Wanita merah itu tertegun akan perkataan yang meluncur dari bibir sang putra. Ia merasa bahwa Naruto seperti berusaha untuk suatu hal.
"Apa yang hilang darimu?" Tanya Kushina setelah Naruto duduk.
"Ada seseorang yang selalu membawa hatiku kemana dia pergi..." Hati lelaki itu bergetar hebat karena perasaan rindu mendalam terhadap sosok yang kerap manghantuinya di alam mimpi.
"Aku ingin pulang, Ibu..." Kushina tersentak saat Naruto turun dari tempat yang ia duduki tadi lalu lelaki itu mengamit tangannya dan mengajaknya keluar dari ruang pasien tersebut.
.
.
.
.
Hanami berjalan menuju untuk dapur untuk menemukan keberadaan sosok Sakura. Ia tersenyum lebar kala mendapati sang Ibu tengah memunggunginya. Sepertinya wanita disana terlalu di sibukan oleh pekerjaan masak sampai-sampai ia tidak menyadari sang putri telah berdiri tak jauh di belakangnya.
Sakura tersentak kala merasakan tangan kecil milik seseorang melingkari pinggulnya dari belakang. Ia memutar tubuh menyebabkan pelukan itu terlepas dan langsung mendapati gadis cilik serupa dengannya tengah tersenyum lebar.
"Sayang..." Sakura berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka ia lalu mengelus lembut pipi chubby Hanami nan putih mulus sembari balas tersenyum manis.
"Ibu, aku lapar..." Tuturnya manja membuat Sakura tertawa geli.
"Kebetulan sekali Ibu baru selesai memasak" Gadis polos itu berlonjak girang dan langsung memeluk sang Ibu. Sakura berdiri dengan tubuh kecil Hanami yang berada di gendongan dan membawanya berjalan menuju meja makan.
.
.
.
.
Naruto bergegas keluar dari kamar saat perlahan sinar matahari pagi memaksa masuk melalui celah gorden yang tersingkap lebar. Lelaki itu sudah bangun sejak dini tadi karena merasa terganggu dengan kehadiran seseorang dialam mimpinya. Hampir sepenuhnya ia bisa mengingat kembali kenangan masa lalunya bersama seorang wanita yang kerap membungai alam tidurnya.
Naruto berhenti di depan meja coklat petak panjang segi empat dan mangambil segelas susu yang tersaji manis beberapa jengkal dari hadapan Minato.
"Bagaimana,? apa kau mau menerima lamaran dari orang tua Sara..." Pertanyaan Minato sukses menghentikan Naruto dari kunyahan rotinya. Lelaki itu tidak berniat untuk duduk, ia hanya berdiri dengan roti bekas gigitan yang berada di pegangan tangan.
"Berulang kali aku katakan bahwa hatiku menolak menerima wanita mana pun..." Jawab Naruto dingin seraya melempar kasar roti tawarnya ke dalam piring. Kushina yang baru saja kembali dari dapur terheran melihat raut datar sang putra di pagi hari yang cerah ini.
"Ada apa?!" Pertanyaan Kushina tidak di kubris oleh Naruto yang malah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menyahuti panggilan darinya.
"Jangan terus memaksa yang bukan kehendaknya !" Minato meraih koran yang terletak di meja lalu membuka lipatan kertas tipis tersebut.
"Kenapa dia tidak pernah mau menjalin hubungan dengan seorang wanita ?" Kushina menumpuk piring dan gelas bekas Naruto tadi sambil menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Dia pernah mengatakan padaku bahwa ada seseorang yang selalu membawa hatinya kemana orang itu pergi..." Jawab wanita itu seraya berjalan kembali menuju dapur dan menaruh piring serta gelas kotor tadi ke tempat pencucian piring.
"Apa mungkin dulu dia ada mempunyai seorang kekasih ?!"
"Kurasa memang begitu..." Sedikit meninggikan suara wanita baya itu menyahuti perkataan sang suami dari arah dapur.
.
.
.
.
Mobil sedan hitam mewah milik seorang lelaki pirang terparkir di sebuah halaman rumah sederhana bercat biru laut. Sang pemilik membuka pintu dan lalu menutup kembali setelah sepenuhnya keluar dari mobil tersebut. Ia berdiri di samping badan mobil dengan Shappire menatap lekat rumah yang tidak terlalu mewah di sana.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk berdiam diri akhirnya Naruto melangkahkan kaki menuju rumah kecil tersebut. Ia berhenti saat telah tiba di depan pintu putih bercorak bunga mawar. Satu tarikan nafas panjang membawa tangan pria itu untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu dari asal depan menghentikan aktifitas Sakura yang sedang mengganti pakaian kerja. Wanita itu menggantung baju yang tidak jadi ia pakai lalu meninggalkan kamar dengan alis turut bertekuk tipis karena tidak biasanya ada tamu di jam segini. Jika Hanami yang pulang pasti anak itu akan berseru 'aku pulang' dari ambang pintu. Dengan fikiran berkecamuk Sakura menyentuh gagang pintu kala ia sudah sampai di tempat tersebut.
Cklekk...
Sakura membatu dengan Zambrut terbelalak lebar serta pandangan tak percaya yang mengarah pada lelaki pirang tinggi nan tampan berdiri tegap di depan pintu tepat di hadapannya.
"Sa–sakura...!" Yang di panggil tidak merespon apa-apa melainkan hanya diam dengan mata berkaca-kaca membuat lelaki di depannya maju selangkah dan meraih tangannya.
"Hati kita berdua bagaikan Langit dan Bumi yang selalu mengisi kekosongan di dunia ini... Kau yang selalu menghias hatiku dan aku yang selalu menemani hatimu... Langit dan Bumi tidak akan pernah terpisah begitu pula dengan kita berdua... Jika kita jauh, itu hanya raga dan hatiku selalu dekat padamu begitu pula sebaliknya, hatimu selalu dekat padaku..."
Kembali Naruto merasakan sakit melanda kepalanya. Masih dalam keadaan memegang tangan Sakura ia mencengkram kuat sisi kepalanya menggunakan sebelah tangannya yang menganggur. Sakura terlihat panik mendapati lelaki yang ia rindukan menggeram sakit tanpa melepas cekalannya.
"Jadi, kita berdua mempunyai julukan Heaven and Earth... Kau Bumi dan aku Langit..."
"Aarrgghh...!" Sakit di kepala Naruto semakin menjadi, ia merunduk dalam sambil melepas tangan Sakura dan beralih memegang kepalanya.
"Na–naruto...!" Sakura menyanggah tubuh tinggi Naruto yang hendak terjatuh. Ia semakin panik saat lelaki itu tidak sadarkan diri dengan tangan yang terkulai lemah di sisi tubuhnya.
.
.
Perlahan iris Shappire Naruto terbuka yang sejak tadi tersembunyi selama puluhan menit. Sang pemilik meringis kecil sembari berusaha bangun dari rebahnya. Lelaki itu menyapu pandang di setiap ruangan dan seketika ia baru menyadari bahwa tadi dirinya tidur di sofa sederhana. Naruto bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan tertatih kecil menuju dapur ketika mendengar bunyi gesakan gelas dan piring dari arah sana.
Pria itu berhenti di ambang pintu dapur kala mendapati seorang wanita bersurai pink memunggunginya yang sepertinya ia sedang sibuk membikin sesuatu. Dengan langkah pelan Naruto menghampiri wanita disana tanpa ada suara jejak kaki. Ia langsung merengkuh tubuh mungil tersebut dari belakang ketika sudah tiba sangat dekat dengannya membuat sang empu terlonjak seraya menghentikan adukannya terhadap gelas keramik yang berisikan teh panas.
"Aku sangat merindukanmu... Sakura..." Bisikan lembut Naruto menguar hangat di samping telinga Sakura. Ia semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang ramping Sakura sambil menenggelamkan wajahnya di lekukan leher jenjang yang harum khas strawberry tersebut.
Sang wanita hanya diam dengan titikan liquid bening yang mengalir perlahan hingga jatuh ke lantai. Ia sangat menikmati pelukan hangat dari lelaki yang sejak lama ia nantikan kehadirannya. Naruto dapat merasakan bahu Sakura bergetar pelan dan ia tahu kalau wanita tercintanya itu tengah terisak kecil. Naruto melepas rengkuhannya lalu meraih kedua lengan Sakura kemudian memutarnya untuk saling berhadapan.
"Maafkan aku..." Ucapnya seperti bisikan pelan dengan tangan bergerak mengusap lembut pipi Sakura yang membuat wanita cantik itu semakin menangis hingga tersedu. Naruto benar-benar tidak tahan jika melihat bunga musim seminya menangis seperti saat ini maka dengan cepat ia peluk kembali wanita berhati rapuh tersebut. Sedikit berjinjit karena tingginya ukuran tubuh sang lelaki, Sakura balas memeluk punggung lebar Naruto dengan tangan yang mencengkram kuat kemeja putih lelaki itu hingga mengusut dan tak luput dengan suara isak tangis yang memenuhi ruangan sepi tersebut.
Mereka berpelukan lama untuk saling mengeratkan kembali hati yang telah lama terpisah dan kuatnya rasa rindu di lubuk hati terdalam dari jiwa mereka masing-masing.
"Ibu...!?" Seruan polos yang berasal dari arah pintu dapur membuat Naruto dan Sakura melepas pelukan mereka dan serentak kedua insan tersebut melihat ke ambang pintu yang terdapat gadis pink cilik berdiri disana dengan seragam khas Taman Kanak.
Naruto meninggalkan Sakura untuk menghampiri Hanami dan lalu di gendongnya bocah itu ketika sudah tiba dekat dengannya membuat iris Shappire bulat tajam tersebut menatap lekat sang Ibu.
"Paman..." Hanami beralih menatap wajah tampan Naruto saat tangan pria itu mengusap lembut pipi tembemnya membuat ia semakin bingung akan sitauasi ini. Sakura yang tadinya berdiri tidak jauh dari mereka melangkah perlahan mendekati Ayah dan Anak yang tidak pernah berjumpa itu, namun sebelumnya ia terlebih dulu menyeka bekas sisa jejak aliran air mata serta menormalkan kembali pita suaranya yang sempat hilang akibat menangis.
"Hanami sayang... Paman ini adalah Ayahmu yang selalu kau tanya pada Ibu..." Bocah jelita itu tersentak dan kemudian kembali menatap wajah seorang Ayah yang sudah lama ingin ia lihat seperti apa rupanya.
"Benarkah Paman Ayahku ?" Tanyanya meyakinkan yang di jawab anggukan serta senyum dari Naruto. Ekspresi Hanami yang tadinya bingung berubah menjadi sedih antar bahagia. Sambil berusaha menahan tangis ia memeluk erat leher 'sang Ayah' dan beberapa detik kemudian terdengar pecahnya suara tangis khas anak kecil berasal dari rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Sakura bersama sang putri tanpa di temani oleh sosok Ayah dari buah hatinya tersebut.
.
.
.
.
"Dia menolak..." Minato membuka suara setelah terjadi keheningan selama beberapa saat ketika kedua orang tua Sara menanyakan kembali lamaran yang mereka tawarkan terhadap Naruto. Sara menunduk sedih akan penolakan dari lelaki yang telah berhasil mencuri hatinya. Kushina memandang gadis bersurai merah itu dari sebelah Minato dengan raut penuh salah.
"Apa tidak bisa kita coba dengan cara tertutup !?"
"Percuma saja...!" Semua orang yang tengah duduk berkumpul di sofa ruang tamu itu menoleh kearah pintu depan nan lebar dan disana terdapat Naruto menggendong seorang gadis kecil jelita yang tidak buang persis dengan rupa wanita di gandengannya tersebut.
"Cukup dengan lamaran ini karena aku sudah mempunyai anak dan istri..." Tanpa melepas tangan Sakura, Naruto berhenti melangkah tepat di hadapan orang disana.
"Naruto, siapa mereka ?" Tanya Kushina seraya bangkit dari duduknya di lanjutkan berjalan menghampiri sang putra.
"Gadis kecil ini anakku dan wanita di sebelahku ini Ibu dari anakku..." Minato serta Sara dan kedua orang tuanya termasuk Kushina membola sempurna akan perkataan Naruto tadi sementara Sakura berdiri gelisah di samping pria itu takut akan makian yang akan ia peroleh.
"Sebaiknya kita pulang sekarang... Aku tidak ingin putriku merebut hak milik orang lain !" Ujar Ayah Sara sopan seraya bangkit di ikuti oleh sang istri dan putri.
"Kami permisi untuk pulang Minato-san, Kushina-san serta Naruto-kun..." Pamit sepasang suami istri tersebut sedang Sara hanya diam dengan tatapan hancur yang mengarah ke Naruto.
"Tolong maafkan kami Naruto-kun..." Ayah Sara menyentuh bahu Naruto sambil tersenyum lebar melihat Sakura dan Hanami.
"Tidak apa-apa Paman"
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu..." Minato dan Kushina mengatarkan tamu mereka hingga ambang pintu.
Setelah memastikan mobil sang tamu sudah melesat jauh dari halaman rumah mewah bak istana tersebut, sepasang suami istri itu kembali masuk dan lalu menghampiri Naruto dan Sakura. Kushina mengambil Hanami dari gendongan Naruto lalu ia memeluk gadis itu dalam gendongannya membuat Sakura terkejut tidak percaya.
"Ini sulit di percaya..." Gumam wanita baya merah itu seraya mengelus lembut punggung kecil Hanami penuh perasaan sayang dengan kepala bocah itu bertumpu di bahunya. Minato menghampiri Sakura lalu menyentuh bahunya.
"Sudah berapa lama kalian menikah...?" Pertanyaan yang Minato lontarkan membawa Sakura dalam tundukan kecil. Iris Shappire lelaki baya itu beralih menatap Naruto menuntut sebuah penjelasan.
"Pada saat aku ingin menjemput Sakura untuk mengenalkan pada Ayah dan Ibu, aku mengalami kecelakaan di jalan raya karena menghindari orang yang mengendarai sepeda motor..." Jeda sejenak dan kemudian Naruto kembali menjelaskan.
"Ketika sadar aku sudah tidak mengingat apa-apa lagi... Aku yakin sekali jika Sakura datang pada waktu itu aku pasti bisa mengenalinya..." Sambung Naruto detail sambil melirik Sakura yang tengah menatapnya lekat dari samping.
"Jadi artinya kalian belum menikah !?"
"Benar... jika saja aku tidak mengalami kecelakaan pada saat itu pasti Sakura tidak akan menderita seperti ini" Naruto menarik Sakura dalam dekapannya tidak peduli dengan keberadaan kedua orang tuanya disana.
"Tak kusangka bahwa aku mendapatkan cucu secantik ini..." Kushina memuji Hanami dan lalu ia kecup puncak kepala pink tersebut.
"Aku lapar..." Tutur Hanami seraya sedikit menjauhkan kepalanya dari bahu Kushina. Ketika Sakura hendak mengambil Hanami dari Kushina, wanita itu langsung mencegahnya.
"Biar aku saja yang menemaninya makan, sebaiknya kau bersiap-siap untuk pernikahanmu dan Naruto malam ini...!" Sebelum meninggalkan ruang tamu bersama Hanami. Kushina terlebih dulu mengecup kening lebar Sakura atau bisa di sebut 'calon menantunya' kemudian ia melesat ke dapur untuk makan bersama sang cucu. Minato tersenyum tulus lalu ia kembali membuka suara.
"Ibu mertuamu memang seperti itu, sudah sekali lama dia menginginkan cucu dari Naruto..." Kekehan geli lolos dari bibir Minato membuat Sakura tersenyum malu sedang Naruto mengamit jemari lentiknya dan mengenggamnya lembut.
.
.
.
.
Setelah mengucapkan janji suci di gereja tadi, saat ini Naruto dan Sakura sedang memperhatikan wajah damai Hanami yang tertidur pulas di tengah mereka sambil saling membalas tatapan mata.
Awalnya Minato dan Kushina tidak mengizinkan mereka pulang ke rumah Sakura, namun Naruto bersikeras ingin pulang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya yang sejak lama ia rindukan. Sedikit tidak rela Kushina melepaskan mereka serta cucu tercantiknya Hanami Namikaze kembali ke rumah lama milik Sakura dan kini jemari panjang Naruto mengelus lembut pipi sang istri.
"Aku mencintaimu..." Ungkap Naruto pelan agar Hanami tidak terganggu dari tidurnya. Perlahan lelaki itu bangkit lalu berjalan mengelilingi ranjang kemudian ia merebahkan diri di dekat Sakura dengan memeluknya dari belakang dalam keadaan berbaring. Telapak tangan wanita itu menyentuh pipi kokoh Naruto lalu ia membalikan tubuhnya untuk saling berhadapan.
"Sudah lama sekali aku mengharapkan kehadiranmu seperti sekarang ini..." Ucap Sakura dengan suara kecil berupa bisikan. Naruto menggenggang lembut punggung tangan Sakura kemudian di kecupnya tangan putih bersih tersebut.
"Setiap penantian pasti ada batasnya..." Balas pria itu seraya mendekati wajah bersemu Sakura dengan tangannya yang menggerayangi dari tubuh atas Sakura hingga bawah dan terhenti di bokong padatnya. Remasan lembut di bawah sana mengantar Sakura pada pelukan Naruto. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu membuat mudah tangan kekarnya memasuki piyama yang ia kenakan.
"Naru... Disini ada Hanami..." Sakura menegur kala dirasa tangan Naruto menjamahnya lebih jauh.
"Harusnya aku terima tadi tawaran Ibu" Gumam Naruto yang masih setia menggerayangi tubuh indah Sakura yang sudah lama sekali ingin ia jamah seperti saat-saat mereka bersama dulu.
"Penyesalan selalu datang di akhir" Tepat saat Sakura mendongak untuk melihat wajah mesum sang suami bibir peach miliknya langsung di serang dengan beringas oleh Naruto.
Wanita itu menahan erang ketika Naruto menghisap kuat bibir bawahnya hingga sedikit bengkak di iringi tangan jahil pria itu meremas kembali bokongnya. Hanami menggeliat kecil membuat Naruto dengan cepat memisahkan bibirnya dari Sakura serta tangan yang tadi bekerja kembali menjauh dari bawah sana. Sakura terkikik geli mendapati wajah Naruto yang terlihat sangat mesum jika mereka sudah melakukan sebuah ciuman malam sebelum tidur.
"Sepertinya kita tidak bisa berbulan madu untuk malam ini..." Goda Naruto dengan pura-pura memasang raut tidak bersemangat.
"Dasar mesum !" Sakura mengejek seraya mencubit manja perut Naruto membuat sang empu meringis bohong.
"Ooucchh~ Sakit sayang...!" Ringis Naruto masih dengan suara seperti bisikan sambil memeluk erat tubuh ramping Sakura.
Penantian yang cukup lama bagi Sakura dan Hanami menunggu kehadiran sosok Naruto dalam kehidupan mereka. Berkat ketabahan dan ketegaran hati, Sakura mampu menghadapi semua rintangan yang ia lalui selama enam tahun menunggu sosok lelaki tercintanya. Pada saat mengikat tali benang merah, Naruto bersumpah tidak akan pernah lagi meninggalkan kedua belah jiwanya kecuali maut yang memisahkan.
.
.
.
.
The End
Terimakasih
.
.
.
.
Pengen lihat Hanami ? Coba saja kalian buka foto profil ku di akun ini, maka... Sim sala bim... Terlihatlah sebuah gambar seorang gadis cilik yang sangaaat cantik dan manissss disana hehehehe... :D
