Disclaimer: Sket Dance © Shinohara Kenta-sensei.
Warning!
Hanya terinspirasi dari anime Tamako Market episode 11^^ Aneh, Gaje, AU SANGAT! typo, mungkin, OC^^ Disini, Housuke bisa bicara seperti manusia^^ Alur ceritanya di ubah. Tapi sedikit di samain, biar.. Yah, biar sreg aja lah~(?)
Rated: T.
Category: Romance, Hurt/Comfort, Drama.
Miwa Lucifer present,
I can't believe that Girl is a Princess
-oOo-
Ia berlari ke arah orang itu dan mengambil medalinya. Ia terlihat tersenyum puas ketika mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya.
"Yuu, lihat! Medaliku kembali!"
Yuu tidak mengindahkan kalimat itu. Melainkan ia menunduk hormat ke arah pemuda yang memegang medali Himeko sebelumnya. "Pangeran,"
"Pa-pangeran?!" Himeko mengulangi kalimat Yuu.
"Selamat datang, pangeran. Bila saya boleh tahu, dengan alasan apa anda datang ke sini?"
"Oh, tidak ada. Aku hanya ingin menjumpai Housuke. Karena aku rindu padanya. Yuu juga. Himeko-sama, aku sekali lagi berterima kasih karena sudah mau merawat mereka."
Himeko mengangguk satu kali. "Y-ya. Sama-sama."
-oOo-
Satu tahun telah berlalu. Sudah setahun juga, pangeran Lerin Houston tinggal di rumah Himeko.
"Pangeran, makan malam sudah siap." Ucap Yuu sembari mengetuk pintu kamar seseorang.
Pemuda itu membuka pintu kamar dan tersenyum. "Ya. Tolong tunggu aku."
-oOo-
Malam itu, di pinggir jembatan jalan, berdiri Saaya dan Momoka juga Bossun. Mereka terlihat murung dan membicarakan sesuatu.
"Hei, apakah kau percaya, kalau Himeko akan menjadi mempelai untuk pangeran?" Tanya seorang pemuda kepada teman-temannya.
"Kalau iya.."
Gadis berambut oranye itu memutar balikkan badannya dan menghadap langit. "Kalau iya, kita tidak akan bisa bertemu dengan nee-san lagi.."
Di sebelahnya, berdiri seorang gadis berkuncir dua sedang menatap bayangannya di air sungai. "Ya. Terkadang aku merasa iri padanya. Terkadang juga aku merasa rindu padanya."
"Kita semua pasti sedih kalau membayangkan Himeko menjadi mempelai pangeran dan tidak kembali lagi." Ucap seseorang berkacamata sambil membawa laptop berjalan menghampiri mereka.
"Switch!" Ucap mereka serentak.
"Yo."
Momoka menjatuhkan dirinya perlahan sambil bersender tiang pendek di jembatan itu. Setelah ia jatuh terduduk, ia menekuk kedua kakinya. "Aku sungguh tak bisa membayangkan! Kalau hidup tanpa nee-san.." Ucapnya sembari menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.
"Ya. Hidup tanpa Himeko rasanya sepi. Apalagi yang sudah menjadi sahabat dekat dengannya." Ucap Switch.
Bossun— pemuda yang sedari tadi bersama Saaya dan Momoka berbalik badan dan berusaha menyemangati semua temannya. "Kita harus menerima kenyataan. Kenyataan bahwa kita tidak akan bertemu dengan Himeko lagi."
"Tapi, apa akan semudah itu? Maksudku, nee-san adalah satu-satunya orang yang sangat aku hormati. A-aku mungkin saja tidak akan menerima kenyataan itu."
"Ya. Aku sama denganmu, Momoka." Ucap seorang gadis berambut pirang yang datang menghampiri mereka berempat.
"Siluet itu.." Momoka berkata sembari memicingkan matanya sedikit. "Nee-san!" Ucapnya seraya bangkit dari jatuhnya dan berlari memeluk sosok itu.
Yang dipeluk hanya diam membeku. Berselang tiga detik kemudian, ia membalas pelukan itu.
"Himeko!" Ucap Bossun dan Switch secara bersamaan. Disusul Saaya yang memanggilnya juga.
"Nee-san, apa kau yakin akan menjadi mempelai bagi pangeran Houston?"
"Mungkin saja.."
Gadis bersurai oranye itu meneteskan air matanya sedikit demi sedikit. Lalu memeluk orang itu lagi. "Tidak! Jangan, nee-san! Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu!"
"Sudah. Aku juga tidak yakin," ucap orang itu sembari melepaskan pelukan Momoka darinya. "Maksudku.. Aku tidak ingin meninggalkan kalian. Tapi aku juga tidak ingin membuat pangeran kecewa."
"Jadi.."
"Kemungkinan, aku akan membatalkannya."
"Be-benarkah!?" Tanya Momoka, Saaya, Switch dan Bossun secara bersamaan.
Saaya maju selangkah dan meletakkan kepalan tangan kanannya di depan dadanya. "Bagaimana caramu berbicara kepada pangeran kalau kau akan membatalkannya?"
"Bagaimana?" Himeko menoleh ke arah langit malam. "Entahlah. Kita lihat saja nanti." Ucapnya sembari kembali menatap ke empat temannya dan tersenyum.
-oOo-
"Housuke-chan? Yuu?"
Himeko menuruni tangga di rumahnya untuk mencari kedua orang itu. Namun ia tidak menemukannya. "Oh, aku tahu aku harus kemana!"
Ia segera memakai sendal dan pergi ke suatu tempat. (Anggap saja tempat biasa untuk rapat. Aku lupa soalnya XO) ditengah jalan, ia melihat Housuke terbang menghampirinya.
"Himeko, kau dari mana saja!? Ayo, pangeran sudah menunggumu sedari tadi."
"Ta-tapi, Housuke-chan.."
Housuke berhenti terbang maju. Ia diam di tempat sambil terus mengepakkan sayapnya agar tidak terjatuh dan menghadap Himeko. "Apa?"
"A-aku rasa aku.."
-oOo-
"Aku rasa, aku.." Ia menggantungkan kalimatnya sambil menundukkan kepalanya. "..tidak bisa menjadi mempelai bagi pangeranmu."
"A-apa!?"
"E-entahlah." Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum paksa ke arah Housuke. "Aku belum siap untuk menikah, Housuke-chan."
"Ah, sou."
"Hei, kau bisa beritahu aku dimana pangeran berada?"
Housuke berbalik badan dan terbang maju. "Ya. Pangeran berada di tempat biasa."
Mendengar itu, Himeko melangkahkan kakinya maju sedikit demi sedikit. Lama kelamaan, ia mengarahkan kakinya untuk berlari secepat yang ia bisa. Setelah ia sampai di tempat yang ia tuju, ia membuka pintu itu secara cepat. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkaget.
"Himeko.."
"Pa-pangeran! A-aku ingin meminta maaf.." Ia menarik nafas dan mengaturnya. "Aku ingin minta maaf. Bahwa aku tidak bisa menjadi mempelaimu. Sekali lagi, maaf!" Ucapnya seraya membungkukkan badannya.
Pangeran turun dari duduknya dan menghampiri Himeko yang sedang membukukkan badan. "Kenapa?"
"Karena.." Ia mengangkat tubuhnya dan memandang semua yang ada di dalam ruangan itu dengan senyuman paksa. "..aku lahir di sini. Aku juga besar di sini. Aku mencintai semua orang yang ada di sini! Semuanya baik padaku! Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas mereka.."
Housuke yang ketika itu baru sampai, melihat Himeko mengusap air matanya. Lalu, Himeko melanjutkan kalimatnya. "..mereka.. Adalah bagian dari hidupku!"
"Pangeran! Aku juga ingin menyampaikan sesuatu! Ia bilang padaku tadi, kalau ia masih mau tinggal di sini."
"Housuke.."
"Y-ya! A-aku masih mau tinggal di sini! Masih mau mencoba membalas semua kebaikan mereka!"
"Ah.. Baiklah. Aku mengerti, Himeko-sama. Tidak usah di fikirkan."
"Be-benarkah?"
"Ya." Ucap pangeran sembari tersenyum ramah ke arah Himeko. "Baiklah. Kalau begitu, nanti sore aku akan pulang. Himeko-sama, terima kasih atas segala yang telah kau berikan pada kami selama setahun terakhir ini."
"Ah." Kalimatnya seperti ingin meninggal saja.. Ucap Himeko dalam hati. "Ya. Sama-sama."
-oOo-
Pangeran dan Yuu menaiki mobil yang di bawa oleh salah satu bodyguard yang datang bersama Pangeran setahun lalu. Himeko memperhatikan gerak gerik Yuu. Seperti ada yang aneh. Karena Yuu tidak biasanya menutupi leher kirinya.
Namun, ia berusaha mengabaikan itu. Sampai saat dimana mobil itu melaju perlahan demi perlahan meninggalkan kota. "Hati-hati, Yuu!"
-oOo-
"Aneh, Housuke tidak ada, pangeran."
"Apa? Housuke kemana?"
"Entahlah. Tapi, akan saya cari."
"Ya."
-oOo-
Himeko, Bossun, Saaya, Switch memulai sekolah seperti biasanya lagi. Mereka melangkahkan kakinya dengan langkah yang berat.
"Sepi." Gumam Himeko. Semua menoleh ke arah Himeko.
"Ya. Sepi." Jawab Bossun.
"Aku merindukan Housuke! Aku rindu Housuke!" Ucap Saaya. "Aku merindukannya.. Sungguh."
"Ya. Aku juga merasakan perasaan yang sama dengan kalian semua."
Mereka berempat menoleh ke sumber suara dan mendapati seekor burung hantu sedang terbang di belakang mereka. Burung itu bertengger di atas kepala Himeko dan menutup sayapnya.
Semua menoleh ke atas kepala Himeko. "Housuke! Bagaimana kau.. Kembali?" Tanya Saaya.
"Aku sudah bilang. Aku juga merasakan apa yang kalian rasakan. Ehem. Dengan kata lain, aku juga suka tinggal disini. Bersama kalian."
-oOo-
"HOUSUKE! AKU SUDAH MENCARI-CARIMU KEMANA-MANA! DIMANA KAU!?"
"Ma-maafkan saya, Yuu-sama."
"Yuu-chan?"
"Uh, Himeko-sama? Lama tak jumpa denganmu. Hm.. Kurang lebih, setahun, benar?"
"Ya. Sudah setahun kita tidak bertemu. Apa kabarmu?"
"Ah? Aku? Baik-baik saja. Bila sempat, aku akan datang berkunjung, Himeko-sama."
"Benarkah? Wah.. Akan kutunggu, Yuu-chan!"
-oOo-
.
.
.
.
.
FINN!^^
-oOo-
A/N: yah, walaupun chapter ini berakhir dengan gaje.. Tapi, setidaknya aku masih mengingat jelas episode 12 di anime Tamako Market itu :v jadi.. Bagaimana? Boleh aku meminta pendapat kalian? ^^
Replies for previous chapter.
Panda Dayo: Dare? :v apa itu? :v a sudahlah. Hehe.. Maaf sekali, jika chapter lalu itu kurang jelas. Karena saya juga setengah nyambung, buatnya :v baiklah. Terima kasih, sudah review!^^
maggie98: ya. Saya maklumi :D hei, aku baru tahu pen name-mu XD aku kira sama dengan itu XD ternyata bukan! Itu orang byule~(?) :v ya, aku ngebales ini sekalian fiksi yang Jauh Dimata, Dekat Dihati juga :v hehe.. Pissss (w)v
In-chan: ^^ terima kasih :)
Sekali lagi, terima kasih atas dukungan dan reviewnya!^^
