GROWING PAINS

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance

WARNING!

BOYS LOVE

SEWAKTU-WAKTU BISA NAIK RATED.

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

I hope You will not be like Me, remembering too much of the past...

.

.


"Kau lembur lagi? Hentikan kebiasaan itu! Kau bisa ambruk kapan saja, ingat? Usiamu tidak muda lagi."

Suara Henry memecah konsentrasi Donghae, laki-laki berusia duapuluh empat tahun itu selalu saja mengomelinya dengan Bahasa Korea beraksen British dan terdengar sangat aneh. Sudah dua tahun Henry menjadi asistennya, setidaknya kemampuan berbicara Bahasa Koreanya mulai ada kemajuan. Bila suatu saat nanti Donghae membawanya ke Korea, Henry tidak perlu repot-repot belajar Bahasa Korea dari awal. Tapi untuk apa? Toh Donghae tidak pernah berencana kembali ke Korea. Anggap saja ini untuk memudahkan komunikasinya dengan Donghae, karena jujur saja Bahasa Inggris Donghae tidak begitu fasih, terkadang ia menyebutkan beberapa kalimat dengan salah dan Henry selalu membetulkannya.

"Hanya hari ini saja."

"Kau bisa minta tolong padaku atau Victoria! Apa gunanya punya dua asisten kalau kau selalu melakukan semuanya sendiri?"

"Maaf."

Kalau Henry sudah mulai mengomel, maka Donghae hanya bisa menggumamkan kata maaf. Percuma, adu argumen dengan Henry hanya buang-buang tenaga dan yang jelas ia sudah pasti kalah. Apapun yang keluar dari mulut Henry selalu benar, terutama soal kesehatannya. Henry benar-benar asisten yang sangat detail, dia selalu mengomel panjang lebar bila Donghae mengabaikan kesehatannya atau melewatkan jam makan. Dia persis seperti ibu-ibu.

"Besok kau harus check up lagi, bukan? Aku akan menemanimu."

"Hm."

"Apa susahnya menjawab pertanyaanku dengan sebuah kalimat? Kau selalu saja menjawabku dengan gumaman atau anggukan. Menyebalkan!"

"Bahasa Korea mu hampir menyamai levelnya Victoria, bagus sekali."

Akhirnya sebuah kalimat, kalimat yang tidak berarti apa-apa dan hanya mengundang senyum miris dari Henry. Donghae bingung, apa yang harus ia katakan pada Henry. Laki-laki muda itu selalu menunjukan rasa tertariknya pada Donghae, tapi Donghae tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Hatinya tertutup rapat dan terkunci, ia tidak tahu harus mencari kemana kunci itu karena mungkin kunci itu telah lama hilang, atau mungkin tertinggal di hati seseorang? Donghae tidak tahu, yang jelas ia tidak dapat merasakan apa-apa pada orang lain.

Setelah berpisah dengan Eunhyuk, Donghae menjalani harinya dengan menikmati satu-satunya rasa yang dapat ia rasakan. Rasa kesakitan karena merindu. Setiap hari Donghae selalu berusaha melupakan segalanya dan membiarkan masa lalu tertinggal dibelakangnya, tapi apa daya? Saat ia membuka matanya di pagi hari, bayangan Eunhyuk selalu terlintas di kepalanya. Segala cara telah Donghae lakukan untuk melupakan sosok Eunhyuk, namun semakin berusaha dilupakan, semakin kenangan itu menghantuinya. Tidak ada yang bisa Donghae lakukan selain menikmati rasa sepi yang terus menggerogoti hatinya, menikmati setiap detik yang ia lalui dengan memikirkan Eunhyuk seorang.

"Apa kau masih sering merasa pusing?"

Henry tiba-tiba menangkup wajah Donghae yang sedang sibuk memasang bingkai foto di ruang kerjanya, ia mendekatkan dahinya dengan dahi Donghae dan tentu saja itu membuat Donghae sedikit terkejut. Donghae langsung mendorongnya menjauh, bola mata Donghae bergerak liar, ia merasa pusing ketika tiba-tiba sekelebat kenangan tentang Eunhyuk yang juga pernah melakukan hal yang sama melintas begitu saja di kepalanya.

"Kau baik-baik saja? Perlu ke dokter sekarang?"

"Keluar! Aku baik-baik saja."

Sial! Tidak seharusnya Donghae bersikap berlebihan seperti itu. Kecelakaan yang pernah dialaminya lima tahun yang lalu sepertinya berakibat fatal pada seluruh fungsi sarafnya. Mungkin Henry benar, ia perlu ke dokter secepatnya dan kembali menjalani check up yang teratur. Donghae sering sekali merasa pusing tiba-tiba, terlebih ketika ingatannya memutar kenangannya dengan Eunhyuk di masa lalu.

Donghae duduk di kursinya sambil mengatur nafas dan menenangkan pikirannya. Setelah pikirannya cukup tenang, ia keluar dari ruangannya untuk menemui Henry. Sikapnya barusan sungguh berlebihan dan sedikit keterlaluan, tidak seharusnya ia memperlakukan seseorang yang selalu membantunya dengan buruk. Donghae boleh saja menolak kehadiran Donghae di hatinya, tapi ia tidak boleh menampik kebaikannya dan sudah seharusnya ia memperlakukan Henry dengan baik.

"Hei, maafkan aku. Tadi itu aku—"

"Sudahlah, kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti kenapa kau seperti itu."

"Okay, tapi tetap saja. Maafkan aku."

"Cepat bersiap dan datanglah ke halaman, di sana sudah banyak wartawan yang menunggumu. Oh, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Apa?"

Donghae menghampiri Henry yang sedang sibuk memasang bingkai foto di dinding, ia membantu Henry naik ke tangga sambil memegangi tangannya.

"Soal tawaran Tuan Roxburg."

Oh, Donghae ingat ia pernah ditawari oleh seniman besar London untuk melakukan pameran di galerinya. Melakukan pameran di galeri Tuan Roxburg adalah impian semua fotografer dan Donghae entah beruntung atau apa, mendapat kesempatan untuk memamerkan hasil karyanya di galeri Tuan Roxburg. Alasannya sederhana, dia menyukai hasil jepretan sederhana Donghae saat ia berkeliling dunia. Donghae selalu mendapatkan angle yang bagus sehingga membuat hasil fotonya tampak sangat artistik dan menarik minat seniman sekelas Tuan Roxburg.

"Kenapa?"

"Dia menentukan temanya. Begini, ada satu Negara yang ingin sekali Tuan Roxburg eksplorasi keindahannya lewat lensa kamera. Aku tidak tahu harus menyampaikannya bagaimana padamu."

"Sebenarnya apa yang kau pusing kan? Dia ingin aku kembali bepergian ke luar negeri? Tidak masalah buatku. Kau khawatir dengan kesehatanku? Aku tidak akan apa-apa."

Henry turun dari tangga dan menyeret Donghae menuju sofa terdekat. Donghae mengehela nafas, sebenarnya apa yang ingin Henry sampaikan? Kenapa wajahnya terlihat kebingungan seperti itu?

"Korea. Dia ingin kau pergi ke Korea dan memotret di sana untuk dipamerkan digalerinya."

Waktu seolah-olah berhenti, Donghae tidak bisa mendengarkan apapun kecuali kalimat Henry.

Korea? Kenapa harus Korea? Donghae sudah bertekad bulat untuk tidak kembali ke Korea lagi setelah banyak hal buruk menimpanya juga hubungannya dengan Eunhyuk. Bertahun-tahun Donghae bertahan di negeri orang hanya sekedar untuk melupakan masa lalunya dan sekarang seseorang memintanya untuk kembali ke sana. Ke tempat dimana semuanya berawal dan berakhir.

Tidak...

Aku tidak mau...

.

.


Perjalanan menuju tempat wawancara yang di tunjuk oleh atasan Eunhyuk ternyata cukup jauh, ia bahkan belum sempat makan siang dan tiba-tiba Taemin menyeretnya ke mobil untuk melakukan perjalanan ini. Eunhyuk tidak bisa berbuat banyak kecuali menurut, resiko pekerjaannya ya seperti ini. Semua tergantung pada waktu si aktris atau aktor yang akan ia wawancarai dan jangan lupakan soal tempat, biasanya mereka hanya ingin di wawancara di tempat yang telah mereka tentukan sebelumnya. Mereka tidak akan peduli tempat itu jauh atau dekat, yang mereka tahu hanya kenyamanan diri sendiri.

"Pekerjaan kita akhir-akhir ini menghabiskan banyak waktu, jadi sebaiknya kau banyak istirahat dan berhentilah minum! Hari Minggu nanti kita ke dokter, kita periksa seberapa parah insomnia yang kau derita."

"Konsentrasi saja menyetir, tidak perlu mencemaskan aku."

"Kau hidup seperti mayat! Mana bisa aku tidak cemas! Aku tidak mau tahu, hari Minggu kau harus mau ke dokter atau aku seret dengan paksa!"

"Terserah."

Entah kenapa orang-orang macam Junsu dan Taemin ini suka sekali mengomelinya dan terus memaksanya pergi ke rumah sakit. Eunhyuk benci rumah sakit! Suasananya, aromanya dan semua orang yang berlalu-lalang di rumah sakit. Semua Eunhyuk benci! Datang ke rumah sakit hanya membuat Eunhyuk semakin sakit.

"Aku tidak akan menyuruhmu melupakan Donghae Saem karena aku tahu itu sulit bagimu, tapi kalau kenangan kalian hanya membuatmu menderita ada baiknya kau lupakan semua itu dan mulai sesuatu yang baru tanpa mengingat masa lalu."

Eunhyuk berdecih, entah sudah berapa kali ia mendengar kalimat yang sama dari Taemin maupun dari Junsu. Rasanya muak! Melupakan bukan lah hal yang mudah, terlebih ada begitu banyak kenangan dan tidak mungkin untuk Eunhyuk lupakan semuanya. Terlalu membekas, terlalu mendalam dan terukir dengan jelas dalam ingatan juga hatinya.

Gila? Katakanlah begitu karena memang kenyataannya Eunhyuk gila karena tidak bisa membuang Donghae dari ingatannya. Semua seperti terpatri abadi dalam ingatannya. Kegilaan ini menyebabkan semua orang di sekitar Eunhyuk cemas, terakhir Junsu menyuruh Eunhyuk untuk menemui psikiater karena kebiasaan mabuknya semakin parah dan tiap malam Eunhyuk selalu meledak-ledak tanpa sebab. Sepertinya Eunhyuk memang sudah gila. Terlalu sakit hingga gila rasanya.

"Setelah wawancara ini selesai kau langsung pulang dan istirahat, biar aku yang menyelesaikan artikel ini."

"Hm."

"Jangan mabuk!"

"Aku tahu."

Teman-teman dekatnya selalu menyarankan ini dan itu yang katanya akan membuat perasaannya lebih baik, semua Eunhyuk lakukan dan semuanya hanya sia-sia saja karena ketika malam menjelang, secara otomatis ingatan Eunhyuk berputar ke masa lalu di saat dirinya dan Donghae jatuh cinta seperti orang gila dan secara tiba-tiba juga ingatannya melompat ke saat mereka saling berteriak dan akhirnya berpisah.

"Kecelakaan itu sudah lama, kenapa harus mengingatnya terus? Berhentilah menyalahkan diri sendiri seperti orang bodoh."

Kecelakaan itu.

Oh, kecelakaan yang mengawali semua ini. Haruskah Eunhyuk menyebut itu sebagai ketidakdewasaannya? Saat itu usianya duapuluh empat tahun dan Eunhyuk baru menyadari dirinya begitu tidak dewasa meskipun sudah menginjak usia duapuluhan. Tidak jelas apa yang menyebabkan semua itu, saat itu yang mereka tahu hanya jatuh cinta seperti orang gila dan akhirnya mereka di ganjar oleh perpisahan yang menyakitkan.

"Hai, maaf membuatmu menunggu. Seharusnya kami sampai duluan."

Seorang aktris cantik tersenyum ramah ke arah Eunhyuk dan Taemin. Sementara Taemin berbasa-basi dengan si aktris, Eunhyuk memilih untuk menyiapkan kameranya. Mulai dari pencahayaan sampai mencari angle yang bagus. Selang beberapa saat setelah semuanya siap, Taemin memulai wawancaranya. Eunhyuk tidak begitu menyimak apa yang ditanyakan Taemin pada aktris itu, ia hanya fokus pada objek di depannya dan mengatur lensa kameranya.

Semua berjalan seperti semestinya, Taemin bertanya dan aktris itu menjawab pertanyaan Taemin dengan antusias. Sampai akhirnya, aktris berambut pirang itu berbisik pada Taemin dan Taemin mulai melirik Eunhyuk dengan tatapan yang sudah bisa Eunhyuk duga.

Lagi-lagi begini...

"Baiklah Kim Hyoyeon-ssi, sampai di sini dulu. Terima kasih banyak atas waktunya, aku akan membuat artikel yang luar biasa."

Taemin membungkuk sebelum menarik Eunhyuk keluar dari restoran berkelas itu, dalam benaknya Eunhyuk sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Taemin setelah mereka sampai di mobil.

"Gadis itu ingin nomor ponselmu."

Benar, 'kan?

Eunhyuk menghela nafas panjang, kemudian tersenyum remeh. Kejadian seperti sudah berkali-kali terjadi dan Eunhyuk tidak pernah menanggapi permintaan seperti itu.

"Katakan padanya aku tidak tertarik pada perempuan."

"Jawabanmu selalu saja begitu! Terakhir ada aktor tampan yang ingin berkenalan denganmu tapi kau malah menyiramnya dengan air dan akibat ulahmu itu, kita jadi kena masalah!"

"Orang itu mesum, dia memberiku selembar kertas dan kau tahu apa yang dia tulis?"

Taemin menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.

"Dia mengajakku ke hotel padahal dia baru bertemu denganku hari itu."

"Oh, kalau begitu dia memang pantas di hajar! Kenapa hanya kau siram dengan air? Seharusnya kau hajar juga!"

Eunhyuk tersenyum tipis, pandangannya tertuju pada lampu merah yang menyala terang. Bosan melihat lampu merah, pandangannya teralih pada layar LCD besar yang bisa menampilkan iklan atau pidato para pejabat. Kali ini layar LCD besar itu menampilkan cuplikan berita, entah apa yang di bicarakan oleh pembawa berita itu. Eunhyuk hanya bisa melihat judul berita tersebut, pameran seorang fotografer Korea Selatan di galeri terbesar di kota London. Harus Eunhyuk akui karya yang di pamerkan di galeri itu sangat menarik perhatiannya, hasil jepretannya seperti mengandung banyak makna. Satu-persatu karya si fotografer di tampilkan, foto-foto sudut kota setiap Negara yang di garap apik oleh si fotografer dan tiba-tiba ada salah satu foto yang menyedot semua perhatian Eunhyuk. Foto sebuah liontin.

Tunggu.

Liontin?

DH.

Itu—itu kalung miliknya! Kalung yang pernah Donghae berikan padanya dulu sebagai hadiah kelulusan juga tanda bahwa Eunhyuk adalah miliknya.

Kau di London?

.

.


ooODEOoo


Donghae berdiri di depan lemarinya, ia memandangi pakaian-pakaiannya dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus membawa pakaian seberapa banyak atau pakaian apa yang harus ia bawa? Bahkan Donghae tidak tahu harus menetap di Korea berapa lama, yang ia tahu ia hanyalah pergi ke sana untuk memenuhi keinginan Tuan Roxburg. Henry bilang, tawarannya tidak akan dua kali dan bagi seorang fotografer seperti Donghae, kesempatan seperti ini sangat langka.

"Karena berangkat di bulan Oktober sebaiknya membawa pakaian hangat yang banyak."

Tanpa di perintah, Henry menghampiri Donghae yang sedang mematung di depan lemari. Dengan cekatan ia mengambil beberapa mantel dan pakaian dalam Donghae, seperti seseorang yang telah mengenal Donghae luar dan dalam Henry bahkan tidak perlu bertanya pakaian mana yang Donghae suka. Dua tahun bersama Donghae membuat Henry tahu kebiasaan Donghae, di mulai dari apa yang Donghae sukai sampai sesuatu yang dibencinya.

"Apa perlu pakaian sebanyak itu? Mungkin aku hanya akan tinggal beberapa hari saja di sana."

"Pulai Jeju, Nami, Myeongdong dan Gangnam. Kau pikir bisa memotret tempat-tempat itu dalam waktu singkat?"

Donghae beranjak dari tempatnya, ia duduk di sisi tempat tidur sambil memperhatikan Henry yang sibuk melipat pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper. Mungkin sudah seharusnya Donghae memberikan perhatian yang lebih pada Henry, dia baik juga cekatan mengurus semua keperluannya dan di tambah lagi dia pintar. Semua yang ada pada Henry adalah sesuatu yang sempurna, hanya satu kekurangannya.

Dia bukan Eunhyuk yang selalu Donghae cintai.

"Oh iya, dokter memberikan persediaan obat untukmu selama di Korea nanti. Dia bilang, kalau kau tiba-tiba merasa pusing yang berlebihan lagi segera hubungi dia atau langsung saja ke rumah sakit terdekat."

"Kau ikut saja."

Henry berbalik, ia memandangi Donghae dengan wajah bingung.

"Apa?"

"Kau ikut saja, aku tidak bisa tanpamu sepertinya."

Sudut bibir Henry terangkat, ia tersenyum dengan begitu manisnya.

"Benarkah?"

"Pergilah ke kamarmu dan siapkan barang-barangmu, barangku biar aku yang urus sendiri."

Sebelum Donghae berubah pikiran, Henry langsung melesat ke kamarnya dan menyiapkan semua keperluannya untuk di bawa ke Korea. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Donghae, kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kapan lagi Donghae mengajaknya ke luar negeri? Berdua pula!

Tapi tunggu. Langkah Henry terhenti, ia kembali berbalik memandangi pintu kamar Donghae. Perasaannya mendadak tidak enak, bagaimana kalau Donghae bertemu lagi dengan mantan kekasihnya? Bagaimana kalau ternyata Donghae masih memiliki perasaan yang sangat besar? Bagaimana kalau Donghae kembali lagi pada mantan kekasihnya?

Terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi benak Henry sampai sesak rasanya. Henry bimbang, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di saat seperti ini haruskah ia merasa senang? Atau sedih? Sebagai orang dekat dengan Donghae saat ini dan sebagai seseorang yang menyayanginya, apa yang harus Henry lakukan bila hal yang ia bayangkan terjadi?

"Kau sedang apa? Kita berangkat besok pagi, cepat bersiap!"

Henry mengangguk kaku, ia tidak berani mengungkapkan kegundahan hatinya pada Donghae. Henry hanya terlalu takut, takut Donghae akan pergi darinya bila Henry mengungkapkan semua kegundahan hatinya.

Tidak bisakah kau menoleh ke belakang?

Sadarilah kehadiranku.

.

.


Setelah semua barangnya terkemas, Donghae kembali duduk di tepian tempat tidurnya ia memandangi liontin yang ada tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap kali melihatnya, ingatan Donghae seperti tertarik ke masa lalu dan memaksanya untuk mengingat setiap detail yang pernah ia alami bersama Eunhyuk. Ketika ingatannya memaksa Donghae untuk kembali ke masa lalu, kepalanya berdenyut sakit. Rasa sakit yang berlebihan itu kembali menyerangnya, ia tidak bisa bernafas dengan teratur. Sistem tubuhnya seperti kacau dan tidak terkontrol satu sama lain.

"Aku mencintaimu, bodoh!"

"Hei, aku dapat nilai tertinggi di universitas! Aku ingin hadiahku sekarang!"

"Kapan kita menikah?"

"Donghae, kita menikah di Malibu saja! Junsu bilang tempatnya ekslusif dan romantis, tapi aku tidak suka sesuatu yang terlalu romantis karena kau bukan orang yang romantis."

"Aku kembalikan ini padamu. Maaf."

"Maafkan aku."

Satu-persatu ingatan itu muncul secara acak, suara Eunhyuk terdengar jelas di telinganya.

Hentikan!

Tidak ada gunanya berteriak dan mengelak, karena ingatan itu semakin jelas dan semakin jelas lagi membuat kepala Donghae semakin berdenyut sakit.

"Donghae!"

Donghae melihat Henry samar-samar, pandangannya mulai kabur tapi ia masih bisa melihat bagaimana paniknya Henry saat itu. Donghae masih bisa merasakan sentuhan halus tangan Henry di keningnya, kemudian semua gelap dan Donghae tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya.

.

.


"Kapan kau memberiku sebuah cincin? Aku sudah duapuluh empat tahun sekarang! Lagi pula, sebentar lagi kuliahku selesai. Dengar ya, kau semakin tua dan tidak baik bagimu menunda-nunda pernikahan!"

Suara Eunhyuk menyapa gendang telinga Donghae, kekasih manisnya itu memeluk leher Donghae dari belakang dengan erat. Donghae sedikit terganggu, ia masih sibuk dengan pekerjaannya dan Eunhyuk tiba-tiba muncul merajuk tidak jelas. Sudut bibir Donghae tertarik, ia melepaskan kacamatanya dan berbalik untuk menatap Eunhyuk. Begitu Donghae berbalik, Eunhyuk langsung duduk di pangkuannya seperti yang biasa ia lakukan.

"Kapan?"

Eunhyuk mengulangi pertanyaannya dengan bibir yang mengerucut. Well, tidak biasanya Eunhyuk seperti ini, tapi Donghae sama sekali tidak keberatan. Terkadang, Donghae sangat menyukainya ketika Eunhyuk manja padanya.

"Kau harus benar-benar menyelesaikan kuliahmu. Ingat? Dapatkan nilai tertinggi dan kau akan dapat pernikahan yang kau inginkan."

"Di Malibu?"

"Tentu. Apapun yang kau mau."

Eunhyuk mengecup singkat bibir Donghae sebelum memeluknya, menyembunyikan wajahnya di bahu Donghae. Aroma yang menjadi candu bagi Eunhyuk menguar kuat, aroma yang selalu membuatnya tenang.

"Donghae, apa yang terjadi kalau aku melepaskan kalung ini?"

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Jawab saja."

Donghae tampak berpikir sambil memandangi wajah Eunhyuk, ia mencari sesuatu di mata Eunhyuk. Pertanyaan itu seperti keraguan, mungkinkah Eunhyuk ragu padanya?

"Selama kalung itu melingkar di lehermu, selama itu juga kau menjadi milikku."

"Lalu apa yang akan terjadi jika aku melepas kalung ini?"

"Kita berakhir."

.

.


"Kau sudah sadar?"

Pertama kali membuka mata, Donghae mendapati wajah panik Henry. Donghae mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan seperti yang sudah ia duga sebelumnya, yang tadi itu mimpi dan sekarang ia berada di rumah sakit. Pasti karena sakit kepala yang berlebihan tadi. Sejak mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu, Donghae sering sekali merasa sakit kepala dan bolak-balik ke rumah sakit seperti sekarang.

"Harus aku ingatkan berapa kali? Minum obatmu secara teratur! Bagaimana kalau tadi aku tidak melihatmu ke kamar? Aku sungguh tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu!"

Omelan Henry terdengar seperti angin lalu, mata Donghae meraba ke daerah saku celana. Donghae ingat, ia sedang memegang kalung milik Eunhyuk sebelum pingsan tadi.

"Kau mencari ini?"

Donghae merebut kalung itu dengan kasar dari tangan Henry tanpa sepatah katapun, membuat Henry berdecih tidak suka.

"Kau membuatku tersinggunng! Haruskah bersikap berlebihan seperti itu? Aku tidak akan mencurinya."

"Aku ingin pulang, besok kita harus ke bandara."

Henry tampak menimbang-nimbang sebentar, ia melirik jam tangannya sejenak.

"Okay, kita pulang. Aku akan bilang dulu pada dokter."

Setelah Henry menutup pintu, pandangan Donghae kembali teralih pada kalung beinisial DH itu. Donghae selalu berusaha melupakan masa lalunya tapi ia tidak mampu membuang kalung yang telah menjadi saksi cintanya dengan Eunhyuk. Tanpa sadar Donghae justru mengingat satu-persatu kenangannya dengan Eunhyuk dan bukan melupakannya.

"Hei, kau melamun."

Tak lama Henry datang dengan seorang perawat, Donghae bersiap dan perawat itu melepaskan infus Donghae. Setelah semua terlepas Donghae turun dari tempat tidur dan berjalan mendahului Henry, ia bahkan masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Matanya memandangi jalanan kota London, memandangi tanpa arti karena pikirannya terus tertuju pada masa lalu yang tidak bisa ia lupakan sama sekali.

"Aku penasaran, sebenarnya Eunhyuk itu orang yang seperti apa? Dia bisa membuatmu sampai seperti ini. Sial! Karena dia aku jadi tidak punya kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu."

"Dia istimewa."

"Sehebat itukah dia sampai kau terus menolakku? Aku tidak biasa sentimental seperti ini tapi setelah mengenalmu aku jadi laki-laki yang penuh emosi dan sensitif. Tidak kah kau merasa bertanggungjawab?"

Tidak ada jawaban, Donghae masih saja memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Henry mendengus kesal, lagi-lagi diabaikan! Entah sudah yang ke berapa kali ia diabaikan seperti ini.

"Ceritakan padaku bagaimana kau mengenal Eunhyuk dan bagaimana kalian menjadi sepasang kekasih lalu putus."

Untaian kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Henry, tanpa menyadari perubahan raut wajah Donghae yang menjadi masam. Henry melirik Donghae dengan ekor matanya dan sadar ia baru saja melontarkan kalimat yang dilarang dokter. Henry ingat, dokter yang menangani Donghae pernah bilang agar tidak mengungkit masa lalu Donghae karena itu yang membuat sakit di kepala Donghae berlebihan.

"Maaf, lupakan saja yang tadi."

"Dulu aku seorang guru dan Eunhyuk adalah muridku."

Henry tampak terkejut karena Donghae tiba-tiba menceritakan masa lalu tanpa ada beban sedikit pun. Dia bahkan tersenyum pada Henry, ini pertama kalinya Donghae mau bercerita karena sebelum-sebelumnya Donghae selalu acuh atau ketika Henry memaksanya, Donghae akan mendadak sakit kepala. Sebenarnya Henry sudah tahu Eunhyuk itu siapa, hanya saja Donghae tidak pernah menceritakan dengan jelas siapa itu Eunhyuk dan sosok seperti apa dia. Henry hanya tahu Eunhyuk adalah mantan kekasih Donghae, mereka bersama selama lima tahun, kemudian mereka putus setelah Donghae mengalami kecelakaan, lalu Donghae pindah ke London dan itu pula yang menyebabkan Donghae enggan kembali ke Korea. Cerita selebihnya Henry sama sekali tidak tahu apa-apa.

"Dia murid yang nakal, tidak ada guru yang bisa menghadapinya. Merokok, mengendarai mobil ugal-ugalan, mabuk dan berkelahi menjadi kebiasaannya. Di samping itu, dia juga melakukan kenakalan di luar batas, dia suka datang ke bar dan melayani laki-laki hidung belang. Tapi sebenarnya dia anak yang baik dan manis, dia seperti itu karena tertekan dengan semua masalahnya dan dia tidak tahu cara mengatasi masalah-masalahnya. Dia benar-benar membuat hari-hari magangku sebagai guru sangat melelahkan karena semua ulahnya, tapi dia juga membuat hari-hariku lebih menyenangkan tanpa aku sadari."

"Bagaimana kau bisa jatuh cinta padanya?"

Terdengar tarikan nafas Donghae yang begitu berat sebelum dihembuskannya dengan perlahan. Meski tampak sedikit tertekan, Donghae tetap melanjutkan ceritanya sambil mengenang apa saja yang telah ia lalui bersama Eunhyuk.

"Aku tidak tahu sejak kapan rasa itu ada, yang jelas aku selalu mencarinya ketika dia tidak berada dalam jarak pandangku. Dia nakal, dia pernah di sentuh orang dan aku ingin sekali membencinya. Tapi, semakin aku ingin membencinya, semakin aku dekat padanya. Setelah beberapa bulan mengenalnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda dan aku menyadari itu cinta ketika dia memikirkan laki-laki lain dan aku merasa terganggu akan hal itu."

"Kau bilang, kalian bersama selama lima tahun. Lalu, kenapa kalian putus? Bukankah kalian sudah berjanji akan menikah?"

Lagi-lagi Donghae menarik nafasnya, ia menggenggam kalung yang ada di tangannya semakin erat lagi.

"Aku—maaf, aku merasa pusing."

Dan rasa sakit itu kembali lagi.

Sesak.

Pusing.

Gemetar.

.

.


ooODEOoo


"Kalau kau tidak mau menikahiku maka katakan sejak awal! Jadi aku tidak perlu berharap berlebihan padamu! Kau memang brengsek, Lee Donghae! Menghilanglah dari pandanganku!"

Eunhyuk mendorong tubuh Donghae hingga tersungkur. Emosinya memuncak, ketika melihat wajah Donghae dan semua penjelasannya yang menurut Eunhyuk hanya dusta. Eunhyuk mencintai Donghae dengan sepenuh hatinya tapi Donghae malah menyia-nyiakan semua itu dan mulai berbohong. Menikah? Bagaimana mereka mau menikah jika Donghae sudah mulai berani berbohong padanya dan bertemu dengan seseorang dibelakangnya.

"Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu? Kau kekanak-kanakan!"

"Kekanakan? Jelas-jelas kau berbohong padaku! Kau bilang ada rapat di sekolah sampai malam dan apa? Kau ada di galeri foto milik si jalang itu!"

Tangan Eunhyuk melayang di udara, bersiap menampar Donghae. Tapi sebelum itu terjadi, Donghae menahan gerakan tangan Eunhyuk dengan cara mencengkramnya. Donghae mendorong Eunhyuk hingga terjerembab ke tempat tidur, tidak ada lagi kelembutan yang ada hanya emosi yang meledak-ledak. Keduanya diselimuti emosi hingga tidak ada salah satu dari mereka yang mau mengalah dan mendengarkan. Bahkan Donghae yang biasanya tenang dan selalu menyelesaikan masalah dengan tenang, kini mengamuk dan menyakiti Eunhyuk.

"Dia bukan jalang!"

"Enyah dari hadapanku, bajingan!"

Dan Donghae berlalu begitu saja, tanpa menoleh lagi ke arah Eunhyuk yang sudah berlinangan airmata.

.

.


"Eunhyuk, bangun!"

Suara Junsu memaksa Eunhyuk untuk membuka matanya. Untuk kesekian kalinya Eunhyuk memimpikan masa lalunya bersama Donghae, keringat dingin mengucur dari pelipisnya dan tenggorokannya terasa sangat kering,

"Kau baik-baik saja? Badanmu panas sekali. Kita ke rumah sakit, ya?"

"Berikan aku air."

Junsu melangkah terburu-buru menuju dapur untuk mengambilkan Eunhyuk segelas air, ia baru saja pulang berlibur dengan Yoochun dan langsung melihat keadaan Eunhyuk terkapar lemas di tempat tidur dengan keringat bercucuran dari dahinya.

"Badanmu panas sekali, kali ini dengarkan aku dan kita pergi ke rumah sakit."

"Aku sungguh baik-baik saja, aku hanya perlu istirahat. Ngomong-ngomong, kapan kau pulang?"

Junsu mendengus, sulit sekali mengajak Eunhyuk ke rumah sakit.

"Baru saja. Kau mimpi buruk lagi?"

"Hm. Mimpi yang sangat buruk."

Sudah sering sekali Eunhyuk menceritakan mimpi-mimpinya pada Junsu dan itu membuat Junsu semakin cemas padanya. Junsu tidak tahu bagaimana cara menenangkan Eunhyuk, ia hanya bisa memeluknya dan memberi semangat. Berulang kali Junsu menyarankan Eunhyuk pergi ke psikiater untuk memulihkan semuanya tapi Eunhyuk selalu menolaknya dengan alasan dia belum gila. Junsu menyarankan hal itu bukan karena ia menuduh Eunhyuk gila, tidak semua orang yang pergi ke psikiater adalah orang gila. Junsu hanya ingin Eunhyuk lebih tenang dengan menghapus beberapa memorinya tentang Donghae, tapi niat baik Junsu yang satu itu tidak pernah di terima Eunhyuk sama sekali. Eunhyuk akan marah besar dan tidak mau bicara dengan Junsu satu hari penuh.

"Junsu, aku yang menyebabkan dia kecelakaan. Semuanya karena aku!"

"Eunhyuk, hentikan! Ini bukan salahmu. Sudahlah, kau kembali tidur. Besok harus bekerja pagi-pagi, bukan? Selamat malam."

Cukup sudah, Junsu tidak mau mendengar Eunhyuk menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Donghae lima tahun yang lalu. Cerita Eunhyuk hanya membuat hatinya pilu, bagaimana bisa ada kisah cinta setragis itu. Junsu bahkan tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi padanya dan Yoochun.

Malam ini, Junsu terpaksa tidak tidur karena cemas pada Eunhyuk yang suhu tubuhnya tidak kunjung turun juga. Junsu sudah memberinya obat penurun panas, ia juga mengompres dahi Eunhyuk tapi semua hanya sia-sia saja karena tubuh Eunhyuk tetap panas dan di tambah lagi dia mulai menggigil. Karena panik, Junsu terpaksa menelepon Yoochun dan menyuruhnya datang ke apartemennya. Bodoh, kenapa tidak sejak tadi ia menelepon Yoochun? Yoochun 'kan seorang dokter juga, untuk apa memaksa Eunhyuk ke rumah sakit jika pacarnya bisa memeriksa Eunhyuk di rumah? Junsu menepuk dahinya, kesal karena kebodohannya sendiri.

"Ada apa, sayang?"

"Bisa kau datang ke rumah? Eunhyuk demam tinggi dan badannya menggigil, aku takut sekali."

"Aku akan datang dalam limabelas menit. Tunggu aku, okay?"

"Hm, terima kasih."

Limabelas menit kemudian Yoochun datang dengan peralatan dokternya, Junsu mengantarnya ke kamar Eunhyuk. Ia benar-benar panik karena selain panas, Eunhyuk juga menggigil seperti orang kedinginan.

"Sejak kapan dia begini?"

"Saat aku datang dia sudah begini. Tadi dia sempat bangun karena mimpi buruk, kemudian aku menyuruhnya tidur lagi dan tiba-tiba dia menggigil seperti ini. Apa perlu kita membawanya ke rumah sakit?"

"Tidak usah."

Yoochun melepaskan stetoskopnya, ia mengacak rambut Junsu. Wajah panik Junsu sangat manis di mata Yoochun.

"Kenapa? Dia sakit apa?"

"Sakit karena cinta."

"Jangan bercanda, Park Yoochun!"

"Dia hanya demam biasa, kalau dia bangun berikan obat ini dan jangan biarkan dia pergi bekerja dulu. Dia mungkin hanya kelelahan dan—"

"Dan?"

Junsu tidak sabar karena Yoochun menggantung kalimatnya seperti itu, sudah tahu Junsu panik tapi Yoochun malah menggodanya dan mengajaknya bercanda.

"Dan dia terlalu banyak pikiran. Eunhyuk mungkin masih terus memikirkan Donghae Saem, itu yang membuatnya tertekan dan sakit seperti ini. Haruskah kita membuat mereka bertemu kembali?"

"Dasar gila!"

Langsung saja Junsu memukul lengan Yoochun sekuat tenaga. Gila! Kekasihnya ini sudah gila! Untuk apa mempertemukan Eunhyuk dengan Donghae lagi? Bukannya sembuh, yang ada Eunhyuk semakin menderita.

"Aku penasaran, sebenarnya kenapa mereka bertengkar dan kenapa mereka putus? Dan kenapa Donghae Saem kecelakaan lalu pergi entah kemana?"

"Bukan urusanmu, sudah cepat pulang sana. Selamat malam, dokter Park."

.

.


Akibat semalaman tidak tidur Junsu jadi memiliki lingkaran hitam di bawah matanya, meskipun begitu Junsu tetap pergi ke dapur untuk membuatkan sesuatu untuk Eunhyuk makan. Ketika sakit biasanya Eunhyuk susah makan dan tidak mau minum obat, Junsu harus memutar otak agar Eunhyuk mau makan dan minum obat. Rasanya Junsu lebih mirip ibunya dari pada sahabatnya, tiap kali Eunhyuk sakit Junsu hampir tidak pernah tidur dan terus menjaga Eunhyuk. Terutama ketika tiga bulan pertama setelah Eunhyuk putus dari Donghae, Junsu sangat kerepotan karena Eunhyuk tidak mau melakukan apapun dan hanya mengurung diri di kamar. Dan yang membuat Junsu semakin khawatir adalah karena Eunhyuk sama sekali tidak menangis, dia melamun dan mengurung diri tapi sama sekali tidak mengeluarkan airmata. Dia hampir mirip dengan mayat hidup. Jelas itu bukan hal yang wajar, Junsu akan lebih tenang bila Eunhyuk memangis dan memaki, mengutarakan perasaannya agar dia merasa lebih baik.

"Kau tidak tidak tidur semalam?"

"Kau sudah bangun."

"Harus berapa kali aku bilang? Jangan begitu berlebihan ketika aku sakit, kau bisa ikut sakit!"

"Makan lah, setelah itu minum obat. Kata Yoochun hari ini kau tidak perlu bekerja dan istirahat saja di rumah."

"Tapi—"

"Aku sudah menelepon Taemin dan dia bilang kau memang seharusnya istirahat."

Eunhyuk bahkan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Junsu sudah melenggang pergi dan menutup pintu kamarnya. Tidur, sudah pasti. Apa lagi? Dia pasti lelah semalaman menjaga Eunhyuk.

Sambil menelan bubur yang di buat Junsu, pikiran Eunhyuk kembali mengingat iklan di LCD kemarin. Eunhyuk yakin ia tidak berhalusinasi, jelas-jelas ia melihat foto kalung yang pernah Donghae berikan padanya di pameran yang di selenggarakan di London itu. Eunhyuk tersenyum getir, mungkin Donghae sudah hidup bahagia dan tidak lagi memikirkannya.

"Lee Hyukjae! Angkat ponselmu, bodoh! Itu berdering sejak tadi dan ribut sekali."

Eunhyuk menggelengkan kepalanya, ia melirik ponselnya yang tergeletak di sofa dekat kamar Junsu. Bukan kah dia tidur? Telinganya peka sekali.

"Oh, Taemin ada apa?"

"Besok kalau sudah sehat temani aku wawancara, ya? Kau tahu? Hari ini aku pergi wawancara dengan Key dan dia mengacaukan semuanya! Aku tidak mau fotografer lain selain dirimu, jadi usahakan sembuh besok, okay?"

"Hm, aku tahu."

"Datang lebih awal, ya. Boss bilang dia datang dari London dan sulit sekali mewawancarainya, jadi kita harus datang tepat waktu dan tidak membiarkannya menunggu."

London?

"Halo? Eunhyuk, kau dengar aku? Hei!"

London...

Mungkinkah?

.

.

TBC


Hai~

Makasih atas responnya kemarin~ ^^ pertanyaan-pertanyaan kemarin semoga terjawab di chapter ini ya :) maaf belum bisa jawab pertanyaan. kantor crowded sekali tadinya mau update ini senin kemarin tapi saya gak punya waktu luang...

Maaf kalau mengecewakan dan gak sesuai sama ekspektasi kalian :)

Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasinya ^^ semoga minggu depan bisa update cepet dan lebih panjang lagi dan lebih bagus lagi supaya kalian puas yah.. ^^

I LOVE YOU GUYS ! REALLY REALLY REALLY LOVE YOU

Last, Review please?

.

.

With Love,

Milkyta Lee