GROWING PAINS
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance
WARNING!
BOYS LOVE
SEWAKTU-WAKTU BISA NAIK RATED.
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
I hope You will not be like Me, remembering too much of the past...
.
.
Langkah kaki Donghae terasa begitu berat dan penuh beban ketika ia menginjakan lagi kakinya di tempat yang sudah lama ia tinggalkan dan ingin sekali ia lupakan. Setiap langkah yang Donghae ambil, mengingatkannya pada masa lalu. Masa lalu yang sebenarnya ingin ia tinggalkan jauh di belakang tapi ternyata tidak bisa, masa lalu itu terus saja mengikutinya dan selalu berada dekat dengannya.
Nafas Donghae pendek-pendek dan tidak teratur, ia berjalan dengan gontai seperti orang sakit. Orang lain mungkin mengira Donghae sedang mengalami jet lag, tapi yang sebenarnya terjadi adalah Donghae tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
"Kau akan baik-baik saja. Percaya padaku."
"Henry, aku—aku tidak bisa."
"Kau bisa."
Henry membawakan tas Donghae, ia melingkarkan tangannya di lengan Donghae dan membawa Donghae naik ke taksi. Ketika sampai di hotel mungkin Donghae akan baik-baik saja, wajahnya pucat sekali dan selama di perjalanan menuju hotel, Donghae terus memejamkan matanya seperti menghindari sesuatu. Henry mengerti, luka hati Donghae mungkin belum sepenuhnya kering itu sebabnya dia selalu merasa tertekan dan dihantui masa lalu. Tapi jika masa lalu itu tidak dihadapi, maka akan selamanya jadi bayang-bayang dan tidak akan mungkin bisa dilupakan.
"Hari ini kau istirahat saja dulu, besok baru kita berkeliling dan mengambil foto. Oh, jangan lupa minum obatmu."
Sepeninggal Henry, Donghae menghampiri balkon. Ia memandangi pemandangan kota Seoul dari ketinggian, ada banyak hal yang berubah. Kota ini semakin ramai dan semakin banyak gedung pencakar langit, hampir sama dengan London. Semuanya berbeda, kecuali satu hal.
Perasaannya.
Perasaannya pada kota ini masih sama seperti dulu.
Jantung Donghae berdegup kencang ketika merasakan angin berhembus menerpa wajahnya. Perasaan ini dan hembusan angin ini, semua mengingatkan Donghae ketika ia berdiri di atap gedung sekolah dan ditemani gelak tawa Eunhyuk. Donghae memejamkan matanya sambil terus menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, samar-samar Donghae mendengar suara tawa Eunhyuk dan mendengar ocehannya soal teman-temannya. Bagaimana dia tersenyum, tertawa, merajuk dan menangis, semua masih terekam jelas dalam ingatan Donghae.
"Kau bisa sakit kalau berdiri terus di situ tanpa mantel."
Henry menggantungkan sebuah mantel di bahu Donghae, mata Henry tertuju pada wajah tenang Donghae yang sedang menikmati hembusan angin. Saat di London pun Donghae sering sekali melakukan hal ini, katanya hanya ini satu-satunya yang bisa membuatnya tenang.
"Benarkah kau tidak bisa mencintaiku?"
Donghae membuka matanya, ia menatap Henry dengan penuh penyesalan.
"Maaf."
"Sedikitpun?"
"Henry, kau bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku."
"Tentu saja, aku tidak meragukan hal itu. Aku tampan, pintar, fotografer muda berbakat dan menguasai beberapa Bahasa. Aku yakin bisa mendapatkan siapapun yang aku mau, yang jauh lebih baik darimu. Tapi yang diingkan hatiku hanya kau seorang, apa yang bisa aku lakukan?"
Tidak ada jawaban dari Donghae, ia malah menyampirkan mantelnya pada Henry lalu memeluknya. Donghae menepuk-nepuk punggung Henry, entah apa maksudnya mungkin hanya ungkapan rasa bersalah yang tidak bisa ia ucapkan secara langsung.
"Suatu saat kau akan mendapatkan seseorang yang akan menjagamu sepenuh hati, seseorang yang kau cintai dengan sepenuh hati dan begitu pun sebaliknya. Tapi bukan aku."
Donghae melepaskan pelukannya, ia mengelus pipi Henry sebelum mengecup lembut keningnya.
"Kau baik, sangat baik. Maaf dan terima kasih atas segalanya."
Lagi-lagi sebuah penolakan secara halus. Henry menampik tangan Donghae, ia melepaskan mantel Donghae dan kembali memasangkannya pada Donghae sebelum pergi meninggalkan kamar Donghae. Lelah rasanya terus-menerus di tolak seperti ini, tapi menyerah bukanlah gayanya. Semakin Donghae menolaknya, maka semakin keras juga perjuangan Henry untuk mendapatkannya.
"Jangan berucap seolah-olah kita akan berpisah. Aku tidak akan menyerah, ingat itu."
Yang bisa Donghae lakukan hanya menghela nafas panjang, ia kembali masuk dan menutup pintu balkon. Sebenarnya, Donghae merasa tidak enak terus-terusan menolak Henry seperti ini, tapi ia juga tidak mungkin memaksakan perasaannya. Hanya kata maaf yang bisa Donghae ucapkan pada Henry, ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membuat Henry merasa nyaman.
Kepala Donghae sedikit pusing ketika ia duduk di tepi tempat tidur, mungkin karena ia terlalu lama berdiam diri di luar dan di terpa angin musim dingin. Donghae membuka mantelnya, ia meminum obatnya dan berbaring di tempat tidur, berharap rasa pusingnya akan segera hilang. Lama-kelamaan matanya terasa berat dan akhirnya Donghae terlelap tidur.
Henry Calling...
Mungkin baru sekitar tigapuluh menit Donghae terlelap dan ia merasakan ponselnya berdering kencang. Pantas saja, ia menaruhnya di samping kepala. Donghae bangun, lalu mengangkat panggilan telepon dari Henry.
"Ada apa?"
"Donghae, aku tersesat!"
Mendengar suara panik Henry, Donghae langsung bangkit dari tempat tidur.
"Kau dimana?"
"Tidak tahu. Aku tadi pergi keluar untuk membeli beberapa makanan kecil dan sekalian ingin memotret. Tapi aku malah tersesat, aku bingung harus kemana."
"Kau tunggu di tempatmu, biar aku yang mencarimu. Katakan saja ciri-ciri dimana kau berada dan yang ada di sekitarmu."
Dengan petunjuk seadanya yang diberikan Henry, Donghae berangkat menggunakan taksi mencari keberadaan Henry. Donghae panik bukan main, masalahnya Henry baru pertama kali datang ke Seoul dan sama sekali buta arah. Bagaimana kalau dia dikerjai orang jahat? atau di tipu? Atau—entahlah terlalu banyak pikiran buruk yang mengelilingi kepala Donghae.
"Henry Lau!"
Tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap, akhirnya Donghae menemukan Henry sedang duduk di sekitar super market dengan mulut yang penuh dengan remah roti. Bocah itu, bikin panik setengah mati dan lihat dia, malah makan dengan santainya sementara Donghae sudah panik setengah mati dan berpikiran yang tidak-tidak sejak tadi.
"Donghae! Aku takut sekali tadi."
"Takut? Kau terlihat menikmati makananmu! Lain kali jangan pernah pergi sendirian! Kau membuatku panik setengah mati!"
Donghae berdecak, lalu menaikan nada bicaranya. Bukan marah, ia hanya panik dan tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat Henry tersenyum sambil menunjukan deratan gigi putihnya pada Donghae.
"Kau cemas padaku?"
"Tentu saja! Dasar bodoh!"
"Aku senang."
Melihat Henry tersenyum bodoh dengan remah roti di sekitar bibirnya, membuat emosi Donghae sedikit turun, ia mengendurkan urat-urat marahnya dan mulai ikut tersenyum. Bocah ini benar-benar keterlaluan, membuat Donghae panik setengah mati dan sekarang dia tersenyum bodoh layaknya anak anjing yang baru bertemu lagi dengan tuannya.
"Kita pulang dan istirahat, bukankah kau yang bilang? Kita akan mulai memotret besok pagi. Seharusnya kau tidak kelayapan dan istirahat di kamarmu!"
Henry mengangguk kooperatif, ia membawa semua makanan kecilnya dan mengikuti Donghae dari belakang. Donghae mendesah pelan melihat Henry yang tampak kerepotan membawa makanan kecilnya dan kameranya, akhirnya ia menggenggam tangan Henry dan membawakan kameranya.
"Repot sekali."
"Maaf."
Tanpa melihat lampu lalu lintas, Donghae melangkah ke jalan raya sambil menggandeng tangan Henry. Ia terlalu sibuk memperhatikan Henry dan tidak menyadari mobil yang melaju kencang ke arahnya. Semua orang berteriak mengingatkan, tapi terlambat. Ketika Donghae menoleh, mobil itu sudah hampir menabrak Henry. Dengan gerakan cepat, Donghae memeluk Henry dan membiarkannya tubuhnya di hantam mobil. Donghae tersungkur dengan kepala yang bercucuran darah dan terkapar tidak berdaya di jalanan, sementara Henry mematung menatap Donghae yang hampir tidak sadarkan diri.
"Tidak, tidak, tidak! Donghae bangun! Jangan seperti ini! Lee Donghae!"
Donghae tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya terasa kaku. Tapi ia masih bisa mendengar jeritan Henry dan melihat wajah paniknya, ia masih bisa mengenggenggam tangan Henry sebelum matanya terpejam dan semua tampak gelap.
"Jangan tinggalkan aku!"
.
.
Sudah hampir setengah jam Eunhyuk dan Taemin menunggu seseorang yang katanya dari London itu, tapi seseorang itu tak kunjung datang juga. Jantung Eunhyuk sudah berdegup kencang tidak karuan karena menanti seseorang dari London itu, meski hanya sebuah harapan tidak pasti Eunhyuk tetap berharap semoga itu Donghae. Sekali lagi, sekali lagi saja Eunhyuk ingin bertemu dengan Donghae.
"Hai, maaf terlambat."
Jantung Eunhyuk semakin berdegup kencang, ia menolehkan kepalanya dan—
"Halo, Park Sungin-ssi."
Taemin berdiri menyambut kedatangan seseorang dari London itu, tapi itu bukan Donghae. Kenapa? Kenapa bukan dia?
"Park Sungin, seorang penata rambut yang berkarir di London dan biasa menata rambut para pejabat atau aktris terkenal di sana."
Telinganya mendengar ucapan Taemin, tapi pikiran Eunhyuk sudah melayang entah kemana. Mungkin Eunhyuk terlalu berharap akan kehadiran Donghae, itu sebabnya ia merasa sedikit kecewa ketika melihat seseorang yang datang ternyata bukan Donghae.
"Kenapa melamun? Cepat ambil foto!"
Tepukan tangan Taemin di pundaknya membuat Eunhyuk kembali pada kesadarannya, ia mengangkat kameranya dan mengarahkannya pada Taemin juga Park Sungin. Eunhyuk terus memotret dengan perasaan tak tentu, tubuhnya ada di sini tapi pikirannya entah ada dimana.
"Okay, terima kasih atas waktunya. Semoga bisa bertemu lain kali, Park Sungin-ssi."
Setelah Park Sungin pergi, Taemin menyikut lengan Eunhyuk. Ia geram sekali karena beberapa kali Eunhyuk melamun dan mengarahkan kameranya entah kemana.
"Kau sudah gila? Ada apa denganmu hari ini? Kau masih sakit?"
"Maaf, Taemin. Aku hanya masih sedikit tidak enak badan."
"Sudahlah, kau pulang saja sana."
"Tapi—"
"Aku tidak mau kau mengacaukan artikelku dan boss mengamuk padaku."
Eunhyuk menghembuskan nafasnya dan menuruti perintah Taemin. Bagaimana pun Taemin benar, hari ini Eunhyuk sangat kacau. Satu lagi pelajaran yang Eunhyuk dapat hari ini, jangan berharap berlebihan pada sesuatu yang belum pasti jika tidak mau kecewa.
"Kau membawa mobil, jadi usahakan jangan melamun kalau masih ingin hidup. Mengerti?"
"Hm."
"Aku serius! Jawab aku dengan benar!"
"Aku tahu, Taemin."
Di perjalanan pulang, Eunhyuk melihat sekerumunan orang mengelilingi sesuatu. Sepertinya ada kecelakaan lalu lintas, lokasi yang tidak jauh dari apartemennya itu memang sering terjadi kecelakaan. Eunhyuk mengangkat bahu acuh, tidak aneh karena hampir setiap bulan Eunhyuk melihat kecelakaan di lokasi yang tak jauh dari apartemennya itu. Entah pengendara yang kurang hati-hati atau pejalan kaki yang tidak melihat kanan dan kiri, semuanya salah.
Tadinya Eunhyuk ingin turun dari mobil dan melihat bagaimana keadaan korban kecelakaan itu, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya karena setelah di pikir-pikir lagi untuk apa melihat orang kecelakaan? Bukan tontonan menarik juga. Manusia yang mengelilingi seseorang yang sedang kecelakaan tanpa ada niat membantu sama seperti orang idiot.
Setelah sampai di apartemennya, Eunhyuk menyelakan televisi dan yang pertama kali ia lihat adalah berita kecelakaan yang baru saja ia lihat di jalan tadi. Kurang kerjaan sekali, ada orang kecelakaan dan mereka semua sibuk berdiri di belakang reporter. Eunhyuk penasaran, apa si korban selamat atau tidak karena sepertinya orang yang menolong sedikit sekali dan ambulans belum datang juga. Bosan, Eunhyuk mematikan televisinya. Ah, Eunhyuk ingat ia mendapat panggilan telepon dari Siwon tapi tidak sempat menerimanaya karena tadi Eunhyuk sibuk sekali. Eunhyuk menekan panggilan cepat nomor dua dan langsung tersambung ke Siwon.
"Kenapa baru menelepon sekarang?"
"Maaf, aku sibuk sekali tadi. Ada apa?"
"Aku mau menitipkan Baro padamu."
Eunhyuk mendesah pelan, selalu saja seperti ini. Kibum pasti sedang ada di luar negeri dan Siwon tidak bisa menjaga Baro karena ada urusan penting lainnya, kalau sudah begini Siwon pasti datang mencari Eunhyuk untuk menjaga Baro sementara waktu. Bukannya Eunhyuk tidak suka atau merasa keberatan, ia hanya kasihan pada Baro karena orangtuanya selalu saja sibuk sendiri. Baro mungkin belum bisa mengungkapkan isi hatinya, tapi Eunhyuk yakin bocah kecil itu merasa kesepian.
"Kenapa lagi? Sibuk?"
"Aku dan Kibum ada urusan penting dan tidak mungkin membawa Baro."
"Okay, aku akan menjemputnya."
"Terima kasih, kau benar-benar yang terbaik."
Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, kebiasaan Siwon menitipkan anaknya pada Eunhyuk. Sejak putus dari Donghae, Eunhyuk kembali bertemu lagi dengan Siwon dan wow, Siwon punya anak laki-laki sekarang. Siwon dan Kibum mengadopsi anak laki-laki yang mirip sekali dengan Kibum. Mereka menjadi teman baik, setelah Eunhyuk yang menceritakan masalahnya dengan Donghae dan Siwon yang menceritakan keadaan rumah tangganya pada Eunhyuk. Sampai sekarang mereka menjalin hubungan dekat sebagai teman, Eunhyuk juga berteman baik dengan Kibum. Jadi, singkirkan pikiran-pikiran tentang selingkuh dan apapun itu.
Dengan langkah yang sedikit berat, Eunhyuk meraih mantelnya dan terpaksa kembali lagi ke jalanan padahal cuaca sedang dingin-dinginnya. Mau bagaimana lagi? Seorang teman minta tolong padanya dan Eunhyuk tidak bisa menolaknya, lagi pula Baro anak yang baik dan tidak pernah membuatnya repot. Saat Eunhyuk harus membawa Baro ke tempat kerjanya, maka Baro akan duduk tenang di kursinya dan bermain dengan PSP-nya tanpa menganggu Eunhyuk. Baro hanya akan merengek ketika ia lapar atau haus.
"Paman Eunhyuk!"
Eunhyuk berdecih, begitu turun dari mobil ia langsung di sambut dengan panggilan paman. Bocah kecil yang menjadi satu-satunya alasan bagi Eunhyuk untuk tetap tersenyum itu mendekat dan otomatis bibir Eunhyuk menyunggingkan senyuman. Lihat? Senyum itu hanya terjadi ketika Eunhyuk berada di dekat Baro.
"Hai, jagoan. Berapa kali harus aku bilang? Panggil aku Hyung."
"Tidak mau!"
Baro langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang dengan manis. Lagi-lagi Eunhyuk berdecih, bocah kecil itu menggemaskan tapi sedikit menyebalkan. Sifatnya sedikit sama dengan ayahnya.
"Maaf ya, aku harus merepotkanmu lagi."
"Sama sekali bukan masalah, lagi pula aku sedang libur. Kau pergi berapa hari?"
"Hanya dua hari."
Sebenarnya Eunhyuk ingin mengobrol sebentar dengan Siwon, tapi kemudian Baro merengek ingin segera pergi makan pizza kesukaannya. Akhirnya Eunhyuk hanya basa-basi sebentar dengan Siwon dan langsung pergi ke restoran pizza terdekat agar Baro berhenti merengek dan mengeluh lapar. Bocah itu, kalau sudah ada maunya harus segera dituruti atau dia tidak akan berhenti merengek dan membuat kepala Eunhyuk pusing.
"Kau bertingkah seolah-olah kau tidak pernah di beri makan oleh ayah dan ibumu."
Lagi-lagi Baro membuat Eunhyuk tersenyum, bocah itu makan dengan lahap menyisakan saus yang belepotan di bibir dan pipinya.
"Akan menyenangkan kalau kau yang jadi ibuku. Bagaimana kalau paman menikah saja dengan ayah?"
"Baro!"
"Bercanda."
Dalam hati Eunhyuk meratap, seandainya Siwon tidak pernah bertemu dengan Kibum dan dirinya tidak pernah bertemu dengan Donghae, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin semuanya akan berakhir lebih baik.
Seandainya...
.
.
ooODEOoo
Dua hari sudah Donghae berbaring di tempat tidur dan belum menunjukan tanda-tanda akan bangun. Henry masih menungguinya di rumah sakit, ia tidak henti-hentinya berdoa dan rela menukar apapun asal Donghae kembali membuka matanya. Bahkan bila ia harus mengorbankan kebahagiaannya, Henry sama sekali tidak keberatan asalkan Donghae kembali membuka mata dan kembali sehat seperti semula.
Sebenarnya saat kecelakaan itu terjadi Henry juga mengalami luka-luka kecil sehingga harus di rawat inap di rumah sakit yang sama dan mengharuskannya istirahat total, tapi Henry tidak bisa berdiam diri di kamarnya sementara ia tidak tahu bagaimana keadaan Donghae. Henry selalu bangun tiba-tiba dan teringat pada Donghae, akhirnya ia memutuskan untuk tidur di kursi ruang tunggu dekat kamar Donghae dengan harapan ada kabar baik dari suster yang merawat Donghae.
"Henry-ssi?"
"Ya, aku. Ada apa?"
"Donghae-ssi sudah sadar dan dia mencari seseorang."
Henry terburu-buru masuk ke ruangan Donghae, mungkin Donghae mencarinya. Perasaannya campur aduk dan tidak menentu ketika melihat mata bening Donghae menatap ke sayu ke arahnya. Rasa bersalah itu kembali, seandainya Henry tidak ceroboh mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi dan Donghae tidak akan terbaring lemah seperti ini. Tatapan matanya mungkin tidak akan seredup itu.
"Donghae."
"Mana Eunhyuk?"
"Eunhyuk? Aku Henry, kau tidak ingat?"
"Aku bilang, mana Eunhyuk!"
Kontan saja Henry tersentak, ia terkejut mendengar bentakan Donghae. Henry melirik suster yang sedang memeriksa suhu tubuh Donghae, ia bingung kenapa Donghae jadi seperti ini. Kenapa tiba-tiba mencari Eunhyuk? Apa yang terjadi padanya?
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter yang menangani operasinya."
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada situasi yang di alami Henry sekarang, ia merasa seperti di tampar dan di timpa beban yang berat ketika Donghae menatapnya dengan dingin seolah sedang melihat orang asing. Kepala Henry berputar-putar, ia melihat sekelilingnya seperti berputar. Telinganya tidak bisa mendengar apapun, ia hanya diam saja melihat dokter dan beberapa suster masuk ke kamar Donghae dan memeriksanya.
"Henry-ssi?"
"Henry-ssi!"
"Ya?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu."
Henry melangkah gontai mengikuti dokter ke ruangannya. Tangannya bergetar hebat, bahkan ketika ia duduk dan dokter menjelaskan keadaan Donghae, seluruh tubuhnya mulai ikut bergetar. Henry takut dan tidak siap mendengar penjelasan dokter, mungkin saja penjelasan dokter soal keadaan Donghae akan semakin menghancurkan hatinya.
"Lee Donghae mengalami amnesia retrograde. Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelum ini?"
"Ya, kecelakaan mobil sekitar lima tahun yang lalu. Tapi, amnesia retrograde itu apa?"
"Ingatannya hilang sebagian, dia hanya mengingat hal-hal yang terjadi sebelum kecelakaan yang pertama. Pada intinya, dia tidak mengingat apa yang telah dia alami setelah kecelakaan pertama terjadi. Dia tidak mengingat orang-orang dan kejadian di tahun ini, dia hanya ingat kecelakaan pertama tapi tidak dengan yang sekarang ini."
Mata Henry mulai berkaca-kaca, ia benar-benar ketakutan sekarang. Jadi maksudnya Donghae melupakannya? Melupakan semua kejadian yang telah mereka alami selama dua tahun ke belakang? Bagaimana bisa? Kenapa?
Henry menarik nafas, ia mencoba menstabilkan emosinya dan kembali bertanya pada dokter untuk memastikan sekali lagi.
"Jadi, maksudmu ingatannya terjebak di lima tahun yang lalu? Dia tidak mengingatku?"
"Begitulah. Pasien yang menderita amnesia retrograde kondisi sarafnya sangat lemah, sedikit saja kesalahan, maka akibatnya sangat fatal. Selain saraf ingatannya rusak, seluruh ingatannya akan hilang permanen dan itu sangat berbahaya."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Bersikap saja seperti biasanya. Ikuti ingatannya yang sekarang, jangan memaksanya untuk mengingat karena itu terlalu beresiko. Aku sudah menjelaskan padanya kalau dia mengalami kecelakaan dan ingatannya hilang sebagian, tapi aku tidak mengatakan apapun soal masa lalunya. Kau tidak perlu cemas, kalau penangannya tepat, kemungkinan besar ingatannya akan kembali seperti semula."
Sepertinya Donghae benar-benar tidak menginginkannya dan tidak pernah mengijinkannya untuk menempati ruang hatinya yang selalu diisi oleh bayang-bayang Eunhyuk. Buktinya, Donghae tidak mengingat Henry dan malah mengingat Eunhyuk yang sudah mencampakannya. Apakah ini adil untuknya? Tidakkah Tuhan terlalu kejam padanya?
Kedua kaki Henry masih lemas, tapi ia memaksakan diri untuk menemui Donghae. Henry ingin melihat Donghae, meskipun ia tahu Donghae tidak mengingatnya lagi tapi Henry tetap ingin melihatnya dan bicara dengannya meski sebagai orang asing.
Henry tersenyum getir melihat Donghae yang sedang melamun melihat keluar jendela dengan tatapan kosong, orang yang selama dua tahun ini hidup bersamanya kini menjadi orang asing dalam sekejap. Mata Henry beralih menatap kalung milik Donghae yang ada ditangannya, saat kecelakaan itu terjadi Henry memungut kalung itu dan menyimpannya. Haruskah Henry mencari Eunhyuk dan memberitahu keadaan Donghae yang sesungguhnya? Mungkin saja obat yang diperlukan Donghae adalah hadirnya Eunhyuk disisinya. Lalu bagaimana dengan perasaannya? Haruskah Henry kembali mengalah?
"Kau sedang apa di situ?"
Henry terkesiap, ia mendadak bingung mau mengatakan apa. Donghae sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan bertanya-tanya, mungkin ia merasa bingung melihat Henry mematung di depan pintu.
"Itu—kenapa kau bangun dari tempat tidur? Seharusnya berbaring saja."
Kepalanya bahkan masih di balut perban tapi Donghae sudah turun dari tempat tidurnya dan berjalan kesana-kemari, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Kondisinya masih sangat lemah.
"Memangnya kau siapa?"
"Aku—a—ku itu—aku Henry, temannya Eunhyuk."
"Teman?"
"Y—ya."
"Ah, aku benci hilang ingatan sebagian seperti ini. Apa yang sudah aku lewatkan selama lima tahun ini? Kenapa Eunhyuk belum datang juga? Dia tahu aku kecelakaan, bukan?"
"Dia—dia sedang sibuk sekarang dan akan datang besok."
"Oh, begitu."
"Sebaiknya kau berbaring saja di tempat tidur."
Donghae menurut, ia naik ke tempat tidurnya dan berbaring. Sementara itu Henry duduk di samping tempat tidur Donghae, sekarang ia harus memikirkan bagaimana cara menemukan Eunhyuk. Henry harus mengorek informasi keberadaan Eunhyuk dari Donghae dengan sangat hati-hati bila tidak ingin melukai Donghae.
"Kau masih mengingat alamat rumah Eunhyuk?"
"Tentu saja! Dia tinggal bersamaku di apartemen yang sama. Di Jayang-dong, Gwangjin-gu."
"O—oh, kau benar. Artinya ingatanmu tidak begitu buruk."
"Hm, tapi aku tidak bisa mengingatmu."
Meski sakit, Henry tetap berusaha tersenyum. Ia menatap Donghae dengan percaya diri dan menunjukan senyuman terbaiknya.
"Tidak masalah, pelan-pelan saja. Kau pasti akan mengingatku kembali."
Suatu saat, kau harus mengingatku.
Harus...
.
.
Pagi-pagi sekali sebelum Donghae bangun, Henry pulang ke hotel tempatnya menginap dan membereskan barang-barang Donghae. Ia mengepak barang-barang Donghae menjadi satu untuk ia kirimkan ke apartemen yang di sebutkan Donghae kemarin, rencananya sudah matang dan niat untuk mengikuti alur ingatan Donghae yang sekarang sudah bulat. Kenapa Henry melakukan semua ini? Jawabannya mudah saja, ia bersumpah akan menukarkan segalanya asalkan Donghae membuka matanya kembali dan sekarang Henry sedang melaksanakan sumpahnya. Henry menukarkan kebahagiaannya, ia mengorbankan perasaannya demi Donghae.
Henry sempat takut apartemen yang pernah ditinggali Donghae dengan Eunhyuk dulu sudah ditempati orang, tapi ketika Henry sampai kesana dan menanyakan soal apartemen yang terletak di lantai 12 itu ternyata masih kosong dan belum ada yang menempati. Petugas keamanan yang berjaga bilang, tempat itu memang tidak di jual dan di biarkan kosong begitu saja. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga yang suka datang seminggu sekali untuk membersihkan apartemen itu.
"Pemilik yang dulu pindah dan meninggalkan tempat ini dengan isinya, tapi terkadang pemilik apartemen ini datang sesekali dan tidak lama kemudian pergi lagi."
Henry mengangguk menanggapi penjelasan penjaga keamanan, ia hanya terlalu bingung dengan situasinya sekarang. Jadi sekarang ia harus mencari Eunhyuk kemana lagi?
"Maaf, tapi apa kalian tahu kemana pemilik apartemen ini pindah?"
"Oh, ya tentu. Dia menitipkan alamatnya di sini, dia bilang kami harus memberikan alamatnya pada orang yang mencarinya. Mungkin dia sedang menunggu kekasihnya untuk datang dan mencarinya, tiap kali datang kemari wajahnya selalu murung dan tertekan. Entahlah, aku juga tidak begitu tahu."
Ternyata bukan hanya Donghae saja yang masih berharap pada Eunhyuk, sesungguhnya mereka berdua masih saling berharap dan saling mencintai. Bodoh! Mereka berdua sungguh bodoh! Untuk apa berpisah kalau masih saling mencari seperti ini? Tidak tahu kah mereka? Hal-hal seperti ini membuat orang-orang seperti Henry berharap pada angin dan tersiksa.
Henry kembali naik taksi menuju apartemen baru Eunhyuk, lucu sekali bukan? Ia benar-benar mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Tuhan benar-benar harus mengganjarnya dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat dan ketika Donghae bersatu kembali dengan Eunhyuk, mereka harus berterimakasih padanya.
"Lantai 21, nomor 2113."
Sambil menunggu elevator sampai ke lantai 21, Henry terus menggumamkan nomor apartemen Eunhyuk. Entah apa maksudnya, hanya membunuh rasa bosan dan kesal saja mungkin. Setelah sampai, Henry melangkah ragu-ragu. Sekarang ia sudah berada di depan pintu apartemen Eunhyuk, tangannya terangkat ragu-ragu dan menekan bel dengan sangat pelan.
"Siapa?"
Suara anak kecil?
"Baro, siapa yang datang? Hei, kau menekan tombol intercom yang salah! Anak nakal!"
"Kakiku terlalu pendek!"
Samar-samar, Henry mendengar percakapan Eunhyuk dan entah siapa itu. Tak lama pintu terbuka dan sosok laki-laki manis berambut pirang berdiri di ambang pintu, menyambutnya. Eunhyuk sangat manis, dia memiliki mata yang indah, bibir plum yang berwarna terang dan kulit yang putih bersih. Tidak heran Donghae sangat mengagguminya. Dia memang pantas dikagumi.
"Hai, aku Henry. Boleh aku masuk?"
"Oh, tentu."
Setelah mempersilahkan Henry masuk, Eunhyuk juga mempersilahkan Henry duduk dan menyuguhkan segelas cokelat hangat untuknya. Henry memang membutuhkan itu sekarang, di luar sangat dingin dan Henry hampir mati beku rasanya.
"Jadi, kau siapa? Datang kemari mencari siapa?"
"Aku Henry, aku datang kemari untuk mencarimu."
Eunhyuk tampak bingung, ia mengerutkan keningnya. Tentu saja, Eunhyuk tidak mungkin mengenal Henry. Bertemu saja baru kali ini, itupun karena Donghae mendadak hilang ingatan dan terpaksa Henry harus mencari Eunhyuk agar kondisi Donghae tidak semakin buruk.
"Mencariku? Untuk apa? Maaf, tapi aku tidak mengenalmu sepertinya."
"Kau memang tidak mengenalku, tapi orang pemilik kalung ini mengenalmu. Sangat mengenalmu dan sebaliknya, kau juga pasti sangat mengenalnya."
Henry mengeluarkan kalung milik Donghae dari saku mantelnya, ia menyerahkan kalung itu pada Eunhyuk. Reaksi Eunhyuk sama seperti yang sudah Henry duga, dia mendelik dan menatap kalung yang ada di tangannya dengan terheran-heran.
"Bagaimana kalung ini bisa ada padamu?"
"Temui dia, aku mohon."
"Tapi—"
"Dia kecelakaan dan ingatannya terjebak di lima tahun yang lalu!"
Lihat? Eunhyuk pasti ragu-ragu dan banyak pertimbangan. Henry sudah tahu itu, untuk itu Henry menjelaskan keadaan Donghae yang sebenarnya. Henry benar-benar menjelaskan soal amnesia Donghae dengan detail dan sekalian memberitahu Eunhyuk soal keadaan Donghae selama di London, soal penyakitnya pasca kecelakaan dan semuanya, Henry memberitahu Eunhyuk segalanya. Sudah terlanjur basah, sekalian saja Henry ceritakan semuanya. Urusan mereka mau kembali bersama atau tidak, itu di luar urusannya. Henry hanya tidak ingin melihat Donghae hidup seperti mayat dan selalu sakit-sakitan karena mengingat masa lalu yang belum selesai ini. Selain menyiksa Donghae, kisah yang belum selesai ini juga ikut menyiksanya. Henry tidak tahu-menahu soal masa lalu mereka, tapi Henry malah terseret-seret seperti ini dan bahkan ia juga harus mengorbankan perasaannya demi mereka berdua.
"Jadi aku mohon, ikutlah denganku."
"Amnesia?"
"Sudah aku bilang, ingatannya terjebak di lima tahun yang lalu. Dia hanya bisa mengingat kejadian sebelum kecelakaan pertama dan dia tidak tahu kalau kalian sudah putus. Saat dia pertama kali membuka mata, yang dia tanyakan adalah dirimu. Aku mohon, datanglah dan bersikaplah seperti biasanya."
Sekali lagi Henry memohon pada Eunhyuk. Menyebalkan sekali, orang-orang seperti Donghae dan Eunhyuk benar-benar membuat Henry frustasi! Kalau masih cinta ya katakan dengan dengan jelas, agar tidak membuat orang lain berharap.
"Uh, lama sekali! Aku kelaparan!"
Belum sempat Eunhyuk menjawab permintaan Henry, Baro datang dan merengek kelaparan. Oh, Eunhyuk sedang menyiapkan makanan untuk Baro tadi sebelum Henry datang dan memang waktu makan baro sudah terlewat duapuluh menit, pantas saja dia rewel.
"Sebentar, sayang."
"Kau sudah punya anak?"
Tentu saja Henry akan bertanya seperti itu, bisa gawat kalau Henry meminta seseorang yang sudah berkeluarga menemui mantan kekasihnya. Bisa-bisa Henry menyebabkan keretakan rumah tangga orang dan urusannya akan semakin panjang lagi.
"Tidak! Baro bukan anakku, dia anak temanku."
Untunglah. Henry menghembuskan nafas lega, setidaknya masalah ini tidak akan berbuntut panjang.
"Baguslah. Ini alamat rumah sakit Donghae, aku harap kau datang dan temui dokter yang menanganinya, agar kau tahu lebih jelas lagi bagaimana keadaannya. Aku permisi."
Henry membungkuk dan pamit pada Eunhyuk, hatinya perih tapi ia masih tetap tersenyum dan melangkah pergi dari apartemen Eunhyuk dengan perasaan yang tidak karuan.
Aku benar-benar ingin membencimu, Lee Donghae!
Tapi rasa cintaku tidak mengijinkan itu...
.
.
ooODEOoo
"Hai."
Suara itu terasa sangat menyejukan dan membuat hati Eunhyuk menghangat. Bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya Eunhyuk bisa melihat lagi wajah yang selalu hadir menghiasi mimpi-mimpinya dan mendengar suara yang selalu terngiang di telinganya.
"Maaf, aku baru bisa menjengukmu."
Donghae langsung memeluk Eunhyuk dengan erat dan perasaan hangat langsung menyelimuti seluruh tubuh Eunhyuk.
"Aku merindukanmu."
"A—aku juga."
"Dokter bilang aku kehilangan ingatan selama lima tahun ke belakang, apa banyak hal yang telah aku lewatkan denganmu?"
"Hm, banyak sekali. Kenapa tidak berbaring di tempat tidur?"
"Dengan melihatmu aku sudah merasa sembuh. Aku ingin pulang besok."
"Hm, tentu."
Donghae melepaskan pelukannya, ia tersenyum memandangi wajah Eunhyuk. Sementara itu Eunhyuk tidak bisa menahan airmatanya dan ikut tersenyum, ia diam saja ketika Donghae meraba kalung yang melingkar di lehernya, merasakan sentuhan tangan Donghae setelah sekian lama membuat Eunhyuk seperti dihujani kebahagiaan lagi. Rasa yang selama ini menyiksanya seperti hilang entah kemana, digantikan oleh perasaan hangat seperti dulu.
"Kenapa menatap kalungku seperti itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya senang melihatnya. Sekarang, ceritakan padaku semua bagian yang terlewat. Bagaimana rumah tangga kita?"
"Rumah tangga?"
"Hm."
"Itu—kita—"
Eunhyuk mengatakan yang sebenarnya, kenyataan bahwa mereka tidak pernah menikah. Tapi kemudian ia ingat pesan Henry dan juga dokter yang menangani Donghae, tidak mungkin baginya mengungkapkan semuanya karena akan berakibat fatal pada ingatan Donghae.
"Kita sangat bahagia, tentu saja."
Kedua telapak tangan Donghae menangkup pipi Eunhyuk, ia mengecup kening Eunhyuk dan kemudian turun ke bibir plum Eunhyuk. Donghae memagutnya dengan lembut, sangat lembut hingga membuat Eunhyuk melayang dan tanpa sadar memejamkan matanya.
"Aku janji tidak akan kecelakaan lagi dan tidak akan melupakan semua kejadian yang telah kita alami."
Eunhyuk diam saja, ia hanya mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus mengatakan apa atau harus bereaksi bagaimana, semua terlalu cepat dan situasi seperti ini membuat Eunhyuk bingung akan perasaannya sendiri.
"Sekarang, istirahatlah dan besok kita jalan-jalan."
Eunhyuk membantu Donghae kembali berbaring dan menyelimutinya. Donghae langsung memejamkan matanya, tapi tangannya menggenggam jemari Eunhyuk dengan erat. Bahkan ketika Donghae mulai terlelap, dia tetap memeggangi jemari Eunhyuk seolah tidak akan melepaskannya pergi.
Dalam hati Eunhyuk berdecih, kenapa saat hubungan mereka retak dulu Donghae tidak pernah memegang tangannya seerat ini? Kenapa Donghae malah pergi dan melepaskannya begitu saja? Sekarang Donghae kembali dan sama sekali tidak ingat dengan apa yang telah dia lakukan pada Eunhyuk di masa lalu. Lalu apa yang bisa Eunhyuk lakukan? Mengeluh? Menangis? Semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang yang bisa Eunhyuk lakukan hanya menjalani sandiwara ini dan entah sampai kapan ia harus menjalankan sandiwara ini.
Aku tidak tahu harus bagaimana...
.
.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Eunhyuk membawa Donghae pulang ke apartemen lama mereka. Eunhyuk berusaha bersikap seperti biasanya, seperti saat mereka bersama tapi semua terasa kaku untuknya. Bagaimana bisa Eunhyuk bersikap biasa saja sementara dalam ingatannya masih terekam jelas bagaimana mereka bertengkar, saling memaki, saling menyalahkan dan akhirnya berpisah di tempat ini.
"Kenapa melamun?"
Donghae menghampiri Eunhyuk ke kamar dan langsung memeluknya dari belakang, ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Eunhyuk dan menghirup aroma tubuh Eunhyuk yang entah kenapa sangat ia rindukan.
"Tidak apa-apa, aku hanya terlalu senang melihatmu kembali ke rumah."
"Benarkah?"
"Hm."
Donghae membalikan tubuh Eunhyuk, ia mendorongnya dan menghimpit tubuh Eunhyuk di antara lemari. Perlahan Donghae mendekatkan bibirnya pada bibir plum Eunhyuk dan akhirnya mereka kembali berpagutan, tangan Donghae bahkan mulai berani masuk ke dalam kemeja Eunhyuk dan meraba lembut dada Eunhyuk.
Donghae...
Semua perlakuan Donghae membuat Eunhyuk terbuai, ia menyukai sentuhan Donghae di tubuhnya. Tapi ketika Eunhyuk memejamkan matanya, ingatan ketika mereka berpisah kembali terulang dan Eunhyuk mendorong tubuh Donghae menjauh darinya. Nafas Eunhyuk memburu dan tidak teratur, ia terengah-engah ketika rasa sakit itu kembali dan membuat segalanya terasa buruk.
"Kau sakit?"
"Aku baik-baik saja. Kau lapar? Kita jalan-jalan keluar dan cari makan di luar. Bagaimana?"
"Baiklah."
Donghae memakaikan Eunhyuk mantel dan langsung menggandeng tangannya, perasaannya hari ini sangat bahagia. Donghae mudah sekali tersenyum karena hal-hal kecil, apapun yang dilakukan Eunhyuk bisa membuat Donghae tersenyum tanpa alasan. Hari ini dan seterusnya, Donghae hanya ingin hidup bahagia seperti ini bersama Eunhyuk.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau kenal dengan Henry? Yang aku tahu temanmu hanya Junsu dan Taemin saja."
"Dia seorang fotografer, sama sepertiku."
"Bekerja di tempat yang sama?"
"Hm, ya."
"Oh."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan wajahnya. Ah, tidak seharusnya ingatanku hilang sebagian seperti ini. Aku benci melupakan setiap detik yang telah aku lalui denganmu."
Setiap detik yang aku lalui bersamamu...
Masihkah Donghae mau mengingat setiap detik itu ketika ingatannya pulih? Eunhyuk bahkan tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada mereka bila ingatan Donghae tiba-tiba kembali?
Masihkah kau ingin mengingatnya ketika kau tahu yang sebenarnya?
Masihkah kau akan tersenyum seperti itu ketika kau menyadari semuanya?
Masihkah kau akan menggenggam tanganku setelah kau tahu semua ini hanya sandiwara?
Masihkah?
.
.
TBC
Halo~~ update nih...maaf kl ada typo heheh
Untuk chapter ini, adegan amnesia itu saya memang terinspirasi dari filmnya shah rukh khan :) saya suka sama jalan ceritanya tapi yang saya ambil cm adegan amensianya aja dan itupun gak sama persis...sekali lagi, saya cuma terinspirasi aja sama adegan itu...makanya gak sama persis :)
Belum bisa jawab-jawab pertanyaan dan say hi sama kalian waktu saya mepet banget...tapi saya ada di twitter, askfm dan line kl kalian bener2 ada sesuatu yg urgent dan perlu ditanyakan ^^ saya bener2 berterimakasih sama dukungan dan semangat yg kalian berikan...apresiasi kalian bikin saya terus semangat dan gak mau berhenti nulis ff haehyuk ^^
Hm~ mau bilang sesuatu ah~ tgl 13 maret kemaren saya ulangtahun loh~ hahahah tadinya mau post di tanggal itu tapi ternyata sibuk hihi.
Okay~ see ya next chapter dan keep review biar updatenya semakin cepet ^^
Makasih semua~~ ^^
.
twitter: MilkyBaobei
line: Milkytalee
.
.
With Love,
Milkyta Lee
