"Mengejar Cinta Sehun"
Pair: 8 Member EXO x Hun. [KaiHun, HanHun, TaoHun, ...etc]
Chapter 3 by: byunpies
.
.
.
.
.
Appetizer Fiction. TaoHun Part.
.
.
.
.
.
Sudah dikatakan sebelumnya, jika Sehun itu baik dan manis.
Dan juga seorang primadona, dimana tidak ada yang mampu menolak pesonanya barang seujung kukupun—meskipun teman-temannya selalu menyuruhnya ini-itu seperti saat ini hingga membuatnya beberapa kali harus rela bolak-balik koridor dengan tumpukan buku-buku ditangannya, mereka juga suka berbaik hati memberinya macam-macam barang karena dia selalu baik pada semua orang dan terlihat menyenangkan. Kadang dengan bubble tea, cupcake, pernah dengan kotak bekal atau seringnya berbagai cokelat dengan surat beramplop warna-warni yang di berikan lewat lokernya.
Karena Sehun tidak pernah mengerti arti surat-surat berwarna cerah tersebut, jadi dia hanya memakan cokelatnya saja.
Namun, kebaikan dan pesona tersebut tidak menjamin semua orang disekitar Sehun berlaku menyenangkan pula kepadanya.
Contohnya seperti salah satu pengganggu yang menyeramkan ini—
"Hai, Hunshine."
Sehun mendongak sekuat tenaga dari tumpukan di tangannya (itu buku-bukur terakhir yang harus dia bawa ke ruangan guru) dan mendapati salah satu teman sekelasnya sedang berdiri di depannya dengan tersenyum ramah.
Sebenarnya menyeringai jahat, kalau kau melihatnya dengan seksama dan tidak memakai 'kacamata penglihat sisi positif' milik Sehun.
"Eh, Zitao?"
Sehun tidak terlalu dekat dengan anak itu sebenarnya. Tatapannya tajam dengan iris sehitam rambutnya, ditambah dengan bayangan hitam tebal di bawah matanya membuat kesan mengerikan yang selalu membuat Sehun takut—
"Butuh bantuan?"
—namun begitu, si polos dengan iris hazel yang sekarang sedang berbinar-binar penuh harap itu tetap saja tidak memiliki kecurigaan apapun pada seringai serupa bibir kucing di hadapannya. "Bolehkah?"
"Tentu saja."
Dengan senang hati, Sehun memindahkan perlahan-lahan satu demi satu buku di pelukannya pada tangan terbuka temannya, hingga separuh dari tumpukan tersebut telah berpindah tangan dan Sehun pikir dia dapat bernafas lega.
Tapi,
"Oops!"
Seluruh buku-buku di tangan Zitao terjatuh dan berserakan di lantai koridor dalam hitungan detik.
Sehun menahan nafas ketika suara husky di hadapannya terdengar ringan seakan tanpa merasa bersalah.
"Maaf ya, tanganku licin."
Jika Jongin hyung-nya yang baik adalah berandalan, maka teman sekelasnya yang satu ini adalah manusia paling jahil yang pernah Sehun kenal.
Dan perlu kalian tahu, jahil ukuran Sehun adalah jahat bagi ukuran orang normal.
Namun Sehun terlalu baik untuk membuat perhitungan apapun—dia selalu mencamkan dalam hatinya bahwa dia tidak ingin punya musuh. Jadi Sehun hanya membungkuk, memunguti satu persatu buku tulis milik teman-temannya yang terjatuh dan bergumam, "Tidak apa-apa."
Zitao ikut membungkuk, "Maaf, ya, maaf." dan mulai memunguti buku-buku tersebut, namun ketika dia hendak berpindah —entah disengaja atau tidak— kaki panjangnya tersandung punggung Sehun yang sedang dalam posisi berjongkok, membuatnya terjatuh dan terguling.
"Aduhduh, kakiku!" Meringis, Zitao menatap tajam Sehun yang panik dan kembali menjatuhkan buku-bukunya. "Kenapa kau berjongkok disitu, sih?"
Sehun melompat dan menghampiri Zitao. "M-maaf, aku tidak sengaja! Dimana yang sakit?"
"Jangan sentuh aku!" Si surai hitam legam menepis tangan Sehun yang mencoba menyentuh kakinya. "Huh! Padahal aku berniat ingin membantumu, tapi kau rese sekali, sih."
Iris Sehun mulai menggenang, berkaca-kaca ketakutan. "Maaf..."
Zitao hendak mengomel lagi ketika satu sosok tinggi bersurai pirang berjalan ke arah mereka dan berhenti di hadapan Sehun.
Dasinya bergaris tiga, dan kedua anak itu terdiam menyadari siswa tersebut dua tingkat lebih tinggi daripada mereka.
Tanpa terduga, remaja jangkung itu memungut buku-buku yang tergeletak dan mengulurkannya pada Sehun—yang dengan telaten segera merapikannya satu persatu dan pergi secepat mungkin dari tempat itu, meninggalkan Zitao dengan si jangkung pirang yang sekarang saling menatap satu sama lain.
"Kalau memang naksir," Yang lebih tua memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menantang tatapan sengit Zitao. "Tidak perlu cari perhatian dengan kekanakan seperti itu."
Kemudian beranjak pergi setelah menyempatkan diri untuk memberikan sedikit delikan pada Zitao yang marah-marah tidak terima.
"Apa-apaan senior itu!"
.
.
.
.
.
"Hyung benar-benar tidak bisa mengantarmu, Hunna. Latihan ini penting sekali, apa kau mau menunggu hingga sore nanti?"
Mengerti keadaan Jongin yang berwajah cemas sekaligus panik dan terus-terusan melirik jam tangannya, Sehun lalu mengacungkan jempolnya dan nyengir meyakinkan. "Tidak apa-apa, hyung! Aku kan bisa naik bis!"
Jongin spontan mendelik. "Tidak boleh! Bagaimana nanti kalau kau diculik?"
Sehun cemberut. "Mana mungkin!"
"Uh, bagaimana ya..." Yang lebih tua melirik jam tangannya sekali lagi dan akhirnya menghela nafas tidak rela. "Begini saja. Kali ini kau boleh pulang dengan temanmu, siapa saja, tapi kalau mereka tidak mau maka kau harus menunggu hyung. Tidak boleh pulang sendiri! Mengerti?"
Memposisikan tangannya di dahi dengan patuh. "Ay ay, kapten!"
"Aih manisnyaaaa." Jongin mengusak surai Sehun dengan gemas, kemudian mulai beranjak pergi—tidak terlalu rela sebenarnya. "Aku duluan. Hati-hati, ya, Sehunna!"
Sehun mengangguk senang dan melambai dengan imut. "Pai pai, hyung~!"
Orang-orang di sekitarnya, yang diam-diam mengintip interaksi keduanya, nyaris tumbang karena suara lucu yang dibuat Sehun—Jongin bahkan terus berjalan cepat-cepat tanpa berani melihat ke belakang, tidak mau membuat hidungnya mengeluarkan darah hanya karena aegyo memabukkan dari hoobae-nya itu.
Well, Oh Sehun adalah cobaan berat dari Tuhan dalam wujud makhluk tanpa dosa yang terlalu manis dan... berefek mengerikan.
Sepeninggal Jongin, Sehun mulai berkeliling mencari teman-temannya yang mungkin bisa diajak pulang bersama. Namun, hingga dia mulai lelah berjalan, tidak satupun murid dengan dasi bergaris satu dengan wajah familiar yang dia temukan. Jadi kemudian Sehun melangkah ke ruang kesehatan dengan sedih, berniat meminjam balsam atau sesuatu yang lain untuk menghangatkan kakinya yang mulai sakit. Mungkin dia akan menunggu Jongin di perpustakaan sambil membaca novel terbaru saja.
"Yuri Saem?"
Sehun mengedarkan pandangan, namun guru yang biasanya berada di ruang kesehatan tersebut tidak terlihat di sudut manapun. Tentu saja karena murid-murid sudah dibubarkan setengah jam yang lalu. Tidak heran kalau ruangan ini tampak kosong melompong seperti sekarang—
Oh, baiklah, pengecualian untuk sebuah gundukan besar di atas ranjang yang terletak paling sudut dan kalau Sehun tidak salah lihat sempat bergerak-gerak, mencari posisi yang nyaman.
Mungkin salah satu anggota klub yang masih mempunyai kegiatan di sekolah hari ini, pikir Sehun. Perlahan melangkah masuk dengan berjingkat, berusaha untuk tidak membuat keributan apapun yang bisa membuat pasien yang sedang tidur itu terbangun karena terganggu, namun usahanya tersebut malah membuatnya merasa kaku dan tanpa sengaja menyenggol kotak P3K hingga terjatuh.
Dan berhasil membuat gundukan tersebut membesar, membentuk seperti kepompong raksasa di atas ranjang sebelum cangkang selimutnya tersingkap dan menampilkan siluet seorang pria, yang ternyata adalah—
"Oh, hai, Hunshine."
Sehun, yang sedang kelabakan dengan kotak P3K yang ia jatuhkan, tersenyum gugup pada sosok bersurai hitam acak-acakan itu.
"Uhm—uh—Zitao? M-maaf mengganggu tidurmu." Terus terang saja Sehun semakin takut dengan mengingat kejadian pagi tadi, namun raut wajah temannya yang mengantuk tidak menyiratkan kegalakan seperti biasanya.
"Kenapa belum pulang?" Zitao menguap panjang, memperhatikan bagaimana kegugupan lucu Sehun yang menyibukkan diri dengan lemari ruang kesehatan dan tidak berani menatapnya. "Mana si hitam itu?"
Tidak memprotes apapun tentang ejekan kentara dari remaja yang kulit gelapnya bahkan dapat dibilang mendekati yang diejeknya, Sehun dengan serius membongkar botol-botol di lemari dan mengeceknya satu persatu—walaupun dia tidak terlalu yakin bisa menemukan balsam penghangat, sih. "Jongin hyung ada latihan, pulangnya nanti sore."
Semua orang tahu Sehun sudah menjadi incaran jelas senior berandalan dari klub tari itu, dan karena itu pula hampir tidak ada yang berani mendekati si manis ini terang-terangan. Well walaupun Sehun yang polos tidak pernah sadar akan pendekatan ekstrim si hitam itu dan dia masih punya sedikit kesempatan, pikir Zitao. "Kenapa harus menunggu dia? Naik bis kan bisa."
Sehun beralih menatapnya lucu. "Tidak boleh pulang sendiri katanya."
Mendecih, si iris hitam gelap itu memutar matanya jengah. "Protektif, huh."
Lalu keduanya terdiam canggung. Zitao yang pura-pura sibuk memandang sekeliling dan Sehun yang masih belum mendapatkan balsamnya, membongkar-bongkar dengan berisik hingga temannya menjadi sedikit penasaran juga.
"Kau mencari ap—"
BLAM
Keduanya menoleh pada pintu yang sekarang tertutup rapat.
"Siapa itu?"
Zitao reflek melompat dari ranjang yang ia duduki untuk berlari pada pintu dan Sehun mengikutinya, menemukan engsel pintu yang tidak dapat terbuka karena terkunci dari luar. Iris tajam Zitao sempat menangkap sekilas bayangan yang menghilang di sudut koridor—gelisah setelah menyadari pintu yang mengunci mereka berdua di dalam adalah perbuatan iseng seseorang.
"HEI KAU!" Berteriak dan menendang-nendang pintu, Zitao terus mengumpat sementara Sehun berdiri dengan ketakutan dibelakangnya. "YAH! BUKA!"
Tidak mendapati sosok bayangan tersebut kembali untuk membuka pintu ataupun pintu yang ia tendangi itu terbuka, si surai hitam terduduk menyandar pada pintu dengan terus mengusap wajahnya gusar—lelah berteriak. "Bagaimana ini?"
Sehun berkali-kali mengamati pintu dan wajah gusar temannya dengan berkaca-kaca, tahu mereka berdua telah terkurung di dalam ruang kesehatan yang pengap itu dan dia sangat ketakutan sekarang, namun dia lebih takut untuk membuat wajah sangar temannya menjadi semakin angker jika dia panik dan merengek-rengek.
Jadi Sehun akhirnya mendudukkan diri di samping Zitao dalam diam—setengah takut akan terkurung dan setengah lagi takut dekat-dekat dengan si surai hitam, meluruskan kakinya yang sakitnya mendadak hilang begitu saja. Sedikit-sedikit melirik pada Zitao yang sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangan, Sehun pikir dia lebih baik mencari cara keluar dari tempat itu saja.
"Kau bawa ponsel?"
Tersentak kaget, Sehun menoleh pada temannya yang baru bersuara itu. "T-tidak. Kenapa?"
"Duh. Aku bawa, tapi tidak punya pulsa." Zitao menghela nafas—menyadari ketidakmodalannya sama sekali tidak dapat membantu apapun. Hiks. "Bagaimana lagi ya..."
Sehun bermain-main dengan jari-jarinya, mengabaikan temannya dan mencoba berpikir kembali. Biasanya yang iseng sebegini tega adalah Zitao, otak Sehun dengan polos mulai menyelidiki. Namun sekarang anak itu sedang berdiri di sampingnya dan terlihat berfikir keras setengah mati, jadi siapa yang melakukannya?
"Bukan Zitao yang mengunci kita disini, kan?"
Zitao mendelik kejam, mendapati tatapan tak berdosa Sehun yang air mukanya bercampuraduk antara ingin menangis dan ketakutan juga polos disaat yang bersamaan—membuatnya urung untuk membentak-bentak. "Memangnya apa menurutmu keuntungan mengunci diriku sendiri di ruang kecil seperti ini untukku?"
Ketakutan dengan delikan mengerikan dari temannya, Sehun cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menunduk. "M-maaf."
Ruangan tersebut hening kembali. Zitao memandangi wajah Sehun yang masih menunduk dengan helai-helai poninya yang mulai memanjang itu menutupi setengah wajahnya.
"Hei, Hunshine." Sehun mendongak menatap temannya secepat kilat, seolah gugup dan takut bercampur menjadi satu. "Kamu kaku sekali kalau denganku, kenapa sih?"
Merapikan poni dari wajahnya dengan menyibakkannya ke atas, Sehun menggeleng canggung. "A-ah, tidak juga."
"Padahal dengan oranglain kau selalu terlihat ceria." Zitao terus menatap Sehun yang terus menghindari matanya. "Aku menyeramkan, ya?"
Nada suara temannya terdengar sedih membuat Sehun tersentak merasa bersalah. "B-bukan begitu!" Lalu menunduk lagi. "A-aku hanya tidak enak... aku dan Zitao kan tidak dekat..."
Kata-kata Sehun tersebut membuat suasana diantara mereka terasa hening dan canggung kembali. Sehun yang merasa salah bicara memilih memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana, sementara Zitao mengeluarkan ponselnya dari saku dan membuka-buka galeri foto untuk mengusir kebosanan.
"Itu anjing Zitao?"
"Eh?" Zitao menoleh terkejut, mendapati iris mempesona yang sedang menatap layar ponselnya lekat-lekat—dan entah sejak kapan jarak keduanya menjadi sesempit itu. "I-iya."
"Aku mau lihat!" Mendadak, suasana canggung diantara keduanya seolah terusir begitu saja dengan Sehun yang melompat pada Zitao, mencoba membujuk dan meraih ponsel temannya tersebut. "Aku mau lihat, boleh kan? Kan kan kan kann~?"
Ugh, aegyo Sehun rasanya seperti merenggut nafasnya perlahan-lahan. "B-boleh saja." Dan Zitao menyerahkan ponselnya pada Sehun yang sekarang memekik girang.
"Waaaa! Lucuuuu!" Sehun hampir menjatuhkan ponsel Zitao karena terlalu excited, kalau-kalau tidak ditahan oleh pemilik ponselnya. "Siapa namanya?"
"Candy." Zitao memperhatikan layar ponselnya di tangan Sehun yang sekarang digeser oleh jari telunjuk si manis itu dan menampilkan foto-foto lain yang sepertinya merupakan kumpulan selcany—"YAH YAH YAH, jangan dilihat!"
Sehun terkikik girang ketika temannya merebut ponsel tersebut dan menguncinya. "Selca-selca Zitao lucu!"
Sialan. Dia malu sekali.
"Aku sebenarnya dari dulu ingin sekali punya anjing, tapi..." Mendadak ekspresi Sehun menjadi sedih dan mereka terdiam dengan Zitao yang tidak tahu harus mengatakan apa, namun beberapa detik kemudian Sehun kembali melompat riang dan menatap temannya dengan berbinar. "Aku mau lihat Candy nya Zitao, ya? Boleh tidak?"
"Kau kan baru saja melihat fotonya."
"Tapi aku mau lihat langsung." Sehun cemberut.
"Kalau mau menginjakkan kaki di rumahku kau harus membayar." Menuding, Zitao membuat ekspresi serius yang meyakinkan. "Mahal, tahu."
"Semahal apa?"
"Semahal-mahal-mahalnya hingga kau tak sanggup membayarnya."
"Sungguh?" Sehun menatap serius dengan bola mata yang meredup seperti anak anjing yang baru saja diusir. "Bahkan untuk temanmu yang hanya ingin berkunjung sebentar juga?"
"Ya."
Cemberut lagi dan berbalik. "Huft. Yasudah."
"Hei, Hunshine." Mencoba memanggil temannya agar berbalik. "Tidak boleh merajuk, nanti kita tidak bisa keluar dari sini."
Sehun berbalik perlahan dan menatap bingung, "Memangnya begitu?"
"Iya. Jangan merajuk, makanya."
Kembali ke posisi semula, Sehun menatap ke depan dengan bibir dimajukan dan dicebikkan sekali. "Oke."
Dan Zitao terperangah.
Ternyata mood Sehun mudah sekali untuk dirubah—bahkan dengan tipuan konyol.
"Oh!" Tersentak dengan teriakan Sehun, Zitao menoleh demi menemukan iris mempesona yang selalu terlihat polos itu. "Ngomong-ngomong aku tidak pernah mendengar Zitao memanggilku dengan namaku sendiri."
Zitao menatapnya lekat-lekat. Jadi begini rasanya dekat dengan pujaan hati, hehehe. Dan dalam artian benar-benar dekat, bukan pakai acara iseng-iseng segala. "Masa?"
"Hum!" Sehun mengangguk antusias. "Hunshine kan bukan nama asliku, tapi Zitao memanggilku dengan itu terus. Kenapa, sih?"
"Jadi kau tidak suka?"
"Aku suka! Kedengarannya seperti sinar matahari. Aku suka yang bersinar-sinar!" Kemudian Sehun tertawa atas perkataannya sendiri.
"Memang kau itu seperti sinar matahari, kan? Selalu tertawa dan menebar cahaya dimana-mana. Silau, tahu. Makanya aku memanggilmu seperti itu."
Sehun merona malu, sementara Zitao di depannya tersenyum jahil seperti kucing.
"Zitao..." Mencoba menghilangkan rasa panas yang menjalari pipinya, Sehun mengalihkan pembicaraan. "Zitao baik, tapi kenapa suka iseng padaku, sih?"
"Karena..." Yang lebih tinggi mengalihkan tatapan, mendadak gugup. "Karena kau lucu dan aku senang melucuimu."
Merona lagi—bersamaan dengan Zitao yang ikut merona karena kata-katanya sendiri.
"Lalu..." Aura disekitar mereka kembali terasa sedikit canggung. "Kenapa... kenapa Zitao waktu itu mendorongku ke kolam renang?"
Kali ini Zitao terhenyak. Ternyata Sehun masih mengingat kejadian waktu itu. Iya, kejadian di bulan ketiga mereka sekelas dan saat Zitao pertama kali mencoba mengambil perhatian Sehun namun gagal karena si hitam sialan itu, lalu jadilah dia terus-terusan iseng seperti ini—"Itu memalukan, jangan diingat lagi."
"Tapi aku penasaran alasannya." Sehun menatapnya penuh kepercayaan hingga Zitao merasa berdosa atas semua kejahilannya pada anak itu. "Aku tahu kok Zitao punya alasan."
Menghela nafas. "Aku tadinya hanya ingin membuatmu basah agar aku bisa meminjamkanmu seragamku, tapi tiba-tiba kau sudah berganti dengan seragam baru!" Mengepalkan tangan dengan kekanakan. Zitao tahu jika seragam baru Sehun saat itu adalah pemberian dari si sialan Kim Jongin seniornya yang selalu menutupi celah bagi oranglain untuk mendekati incarannya. Hiks. "Aku jadi kesal! Kesempatanku selalu diambil orang lain! Makanya karena itu, agar kau melihatku jadi aku selalu iseng pada—"
Keduanya terperangah. Zitao yang menyadari dia terlalu banyak bicara sementara Sehun karena setengah terkejut dan setengah tidak mengerti atas perkataan Zitao yang panjang berentet seperti kereta api.
Maksudnya apa?
"Kalau begitu, Zitao tidak boleh menyerah!" Sehun, yang merasa dirinya mendadak menjadi bijak, mulai mengelus bahu temannya dengan sayang—tidak menyadari reaksi Zitao yang salah tingkah dan terus bergerak-gerak gelisah. "Kalau Zitao menginginkan sesuatu, harus benar-benar dikejar, oke? Walaupun awalnya sering kedahuluan orang, pasti nanti Zitao punya kesempatan sendiri! Aku yakin, kok!"
Aku akan punya kesempatan, ya?
"A-ah... Terimakasih..."
"Sama-sama!"
"Heum, Hunshine?"
Sehun menoleh dengan innocent. "Ya?"
"Aku..." Seolah terhipnotis oleh iris mempesona milik anak didepannya, Zitao menggumam. "Ngg, aku sebenarnya..."
BRAK
Mereka berdua tersentak dan spontan berdiri begitu merasakan gebrakan kuat dari pintu yang terbuka di belakang mereka dan menemukan satu sosok tinggi berdiri disana, dengan wajah panik dan menyeramkan pada saat yang bersamaan.
"Kalian sedang apa?" Si jangkung pirang yang pagi tadi 'bertemu' dengan keduanya itu mendelik. "Jangan pacaran disini. Keluar."
"Kami tidak pacaran, sunbae." Sehun menjawab tenang yang diangguki kuat-kuat oleh Zitao. "Kami terkunci sejak jam istirahat lalu! Ada yang mengunci kami tadi!"
"Aku tidak peduli." Sosok itu menunjuk keduanya, kemudian menunjuk kearah ujung koridor. "Keluar."
.
.
.
.
.
"Dia galak sekali!" Sehun berseru sementara mereka berjalan di koridor tengah, baru saja mengambil ransel masing-masing dari kelas. Zitao mengangguk menyetujui—moodnya mendadak buruk setelah bertemu dengan senior pirang tadi.
"Oh iya, tadi Zitao mau bilang apa?"
Menggeleng. Tidak mungkin kan dia bilang kalau tadi nyaris saja dia akan mengatakan perasaan—"Ah tidak kok."
"Bohong. Mau bilang apa, sih?" Sehun menghadang langkah temannya dengan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Mau bilang apa? Bilang apa? Bilang apa? Bilang apa?"
Sehun itu sekali penasaran akan terus bertanya dengan berisik hingga yang ditanya lelah.
Dan kepala Zitao rasanya ingin pecah saja.
Rupanya Sehun secerewet itu.
"Oh baiklah aku akan mengatakannya, tapi tolong diam dulu!" Sehun berhenti bertanya dan Zitao menghela nafas lega, mendapatkan pengalihan yang dapat dia gunakan sebagai jawaban. "Kau bilang kau mau lihat anjingku?"
Mengangguk kuat-kuat. "Uh-huh!"
"Sabtu ini kalau tidak ada acara, kau..." Zitao berdeham. "Boleh kerumahku. Lihat Candy."
Bola mata Sehun spontan berbinar-binar. "Benarkah?!"
"Ya."
"Tapi..." Mendadak murung. "Aku tidak punya uang banyak, tidak bisa membayar tiket masuk rumah Zitao..."
Zitao terperangah heran.
Sehun itu memang sepolos ini atau... mendekati bodoh, sih? "Tidak perlu, aku yang akan membayarnya."
"Horeee!" Yang lebih muda berbalik untuk kemudian melompat girang. "Aku akan bawa makanan yang banyakk, terus mau peluk-peluk juga!"
Zitao tertawa geli, memperhatikan bagaimana keantusiasan dan kehebohan anak yang bahkan berjalan seperti melompat di depannya.
"Oh iya!"
Yang surainya hitam berhenti melangkah ketika anak didepannya berhenti dan berbalik, seolah-olah baru mengingat sesuatu. "Ada apa? Ada yang tertinggal"
Sehun menggeleng. "Aku tidak bisa pulang sekarang, aku kan harus menunggu Jongin hyung."
"Mau kuantar saja? Aku bawa motor, kok." Kesempatan emas tidak boleh disiasiakan, bukan? Hihihi. "Si hitam itu mungkin lama. Sekarang masih jam tiga."
Dengan ragu-ragu Sehun menghitung, masih sekitar dua jam lagi hingga waktu normal Jongin selesai latihan—benar juga. Lagipula dia juga tidak pulang sendiri, Jongin tidak akan keberatan, bukan? "Apakah merepotkan?"
"Tidak." Kalau untuk Sehun sih tidak ada yang merepotkan.
"Terima kasih!" Sehun tertawa hingga matanya menghilang, meninggalkan seperti dua garis di bawah alis matanya. "Tapi sebelum pulang aku mau membeli bubble tea di kedai seberang dulu, Zitao tidak keberatan menunggu kan?"
Oh, ya, kesukaan Sehun kan minuman itu—teh manis dengan bola-bola dari entah tepung apa yang rasanya manis juga.
"Tentu saja tidak." Zitao mengambil ancang-ancang, "Baiklah, jadi siapa yang terakhir sampai di tempat parkir, dia yang harus mentraktir bubble tea!" Dan dengan itu Zitao melesat meninggalkan Sehun yang menganga, masih berusaha mencerna.
"K-kok—" Melihat Zitao yang sudah berada beberapa meter dari tempatnya terpaku dan tengah tertawa-tawa menang, Sehun mengejar sekuat tenaga. "Aaaaaah Zitao curaaangg!"
"Hahahaha! Dahului aku kalau bisa, Hunshine~~!"
Tidak ambil pusing dengan siapa yang telah mengisengi mereka berdua hingga terkurung di ruang kesehatan tadi, Zitao justru ingin berterimakasih padanya.
Memangnya kapan lagi bisa sedekat ini dengan Sehun tanpa gangguan, bukan?
.
.
.
.
.
Zitao mungkin akan berhenti menjahili Sehun—yang keisengannya sekarang sudah setingkat lebih 'manis'— bila si primadona polos tersebut telah menjadi miliknya sepenuhnya.
Mungkin suatu saat nanti, atau—tidak sama sekali?
.
.
.
.
.
To Be Continued.
Halooo, dengan Pies di chapter ini! Adakah yang mengenalku? Lol. Btw review di chapter kemarin rasanya agak sedikit berkurang ya, lebih banyak siders, wae?TT
Oh ya, aku ingin menjelaskan sedikit perubahan lagi. Fic ini tidak hanya 5 pair dan menjadi All x Hun, tapi karena kita baru bersepuluh dan chapter 9-10 harus sudah antiklimaks, jadi hanya 8 pair yang bisa dimuat disini. Dan pair lain yang akan datang, akan menjadi rahasia author yang mendapat chapter selanjutnya kkkk.
So, keep review and look forward to us!
P.S. Chapter selanjutnya oleh kak Ichizuki Takumi!
