Mengejar Cinta Sehun

Pair : All x Hun

By : Takuchizuki

.

Secret admirer (Chanhun)

.

.

.

"Chanyeol, jangan lupa hari ini latihan basket."

"Aku tak mungkin lupa kalau berurusan dengan basket. Hahahaa..."

Chanyeol, pemuda tinggi dengan paras tampan dan disukai banyak orang. Dia selalu tersenyum hingga orang yang berada di dekatnya ikut menunjukkan gigi karena pengaruh happy virus-nya. Tidak ada yang tidak menyukainya. Karena Chanyeol adalah sosok yang disukai oleh kebanyakan gadis.

"Surat lagi?" tanya teman Chanyeol saat pemuda itu menemukan sebuah kertas berwarna merah muda tersemat dengan rapi di lokernya.

"Hahaha... begitulah. Aku akan membacanya nanti," ujar Chanyeol sambil memasukkan surat itu dalam saku celana.

"Sebaiknya kau mencari pacar, agar mereka tidak salah paham dengan perbuatanmu."

Chanyeol memang terlalu baik, hingga banyak gadis berharap pemuda itu mau melirik mereka.

"Aku ingin hubungan yang serius. Sampai saat ini belum ada gadis yang kusukai."

Bagai terkena sihir, setelah mengatakan itu Chanyeol tak melepaskan pandangannya pada seorang gadis yang berjalan melewatinya. Gadis itu memiliki rambut pendek berwarna hitam, kulit putih yang terlihat lembut, dan tubuh ramping yang tinggi.

"Cantik," gumamnya tanpa sadar.

"Nama pemuda itu Sehun. Banyak orang yang mengejarnya. Dia bagai primadona sekolah ini," ujar teman Chanyeol saat menyadari kemana arah pandangan pemuda itu.

"Namanya pun indah," gumam Chanyeol.

"Kau menyukainya?"

Tersadar dari lamunannya, Chanyeol menatap temannya yang menampilkan wajah menggoda. Dia tidak mempercayai cinta pada pandangan pertama, namun entah kenapa saat melihat gadis tadi, dadanya mendesir dan tubuhnya bergetar. Chanyeol menyukai perasaan itu.

"Entahlah," elaknya singkat.

.

.

.

Entah setan apa yang mempengaruhi, hingga tanpa sadar kakinya membawa dirinya ke depan kelas gadis yang kini menjadi mimpi baginya. Dan entah keberanian dari mana, nama indah itu melantun bagai mantra dari bibirnya.

"Sehun? Dia ada di dalam."

Chanyeol menoleh ke dalam kelas dan menemukan sosok yang membayangi harinya. Sosok itu begitu indah, bahkan saat dia merapikan buku dan memanyunkan bibir.

"Sehun, ada yang mencarimu!"

Chanyeol kelabakan saat teman sekelas Sehun memanggil sosok indah itu dengan lantang.

Sehun berjalan menuju pintu kelas dan mendapati teman yang memanggilnya barusan.

"Siapa yang mencariku? Apa Jongin hyung?"

"Bukan. Dia-" kata-kata pemuda itu terpotong saat tidak mendapati siapapun di belakangnya. "Tadi dia disini," pemuda itu mengendikkan pundak, kemudian memasuki kelas.

Sehun menoleh ke kanan dan kiri, namun nihil, tak seorang pun yang terlihat seperti mencarinya. Kemudian mengikuti temannya memasuki kelas.

.

"Huft..."

Chanyeol bersandar pada tembok dengan nafas tersengal dan jantung berdetak tak normal.

"Kenapa aku lari?" gumamnya.

Saat Sehun beranjak dari kursinya, tanpa sadar kakinya berlari dan mencari tempat sembunyi. Walau bagaimanapun, dia belum siap mental untuk menemui pujaan hatinya.

"Ehem, apa yang kau lakukan disini, Mr. Park?"

Chanyeol menoleh kearah suara. Dia mendapati Soman seongsaenim, guru bahasa inggris killer, dengan buku dan penggaris panjang di tangan.

"Good mouning, Mr. Man!" Chanyeol berkata dengan lantang dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat, tak peduli pengejaan bahasa inggrisnya nol besar.

"Kubilang, apa yang kau lakukan disini? Kau merindukan pelajaranku?"

Chanyeol menatap mantan gurunya dengan bingung. Kemudian pandangannya mengarah pada penjuru kelas dengan puluhan mata yang menatapnya.

Gawat. Tanpa sadar dia tadi memasuki ruang kelas yang ada disamping kelas Sehun untuk sembunyi. Chanyeol tidak terlalu peduli dengan kata pepatah, namun kali ini pepatah yang pantas dikatakan untuk situasinya adalah keluar dari surga, masuk lubang neraka.

"Hahahahaa..." hanya senyum andalannya yang dia harap dapat meluluhkan hati seongsaenimnya.

.

.

.

"Sudah lama kau tidak menerima hukuman seperti ini," ujar teman Chanyeol dengan nada mengejek. "Terakhir kau dihukum, saat kelasnya Mr. Man. Jangan bilang kau membuat masalah dengan Mr. Bad-man."

Chanyeol hanya menunduk mendengar ocehan temannya. Kemudian kembali mengepel lantai kamar mandi laki-laki di gedung kelas satu.

"Minho, sepertinya ada gadis yang-," tiba-tiba Chanyeol menghentikan perkataannya dan menahan napas. Entah kenapa tubuhnya jadi menegang.

Minho yang sedari tadi bersandar dekat wastafel memperhatikan temannya dengan alis mengernyit. Namun pandangannya teralih pada seorang pemuda yang lewat dihadapannya menuju bilik paling ujung. Netranya kembali tertuju pada temannya yang masih berdiri kaku.

"Kau tadi membicarakan tentang gadis?"

"Bukan apa-apa," ujar Chanyeol panik. "Sepertinya sudah waktunya makan siang. Aku duluan," dia berlari seolah Minho menagih jawaban atas pertanyaannya barusan.

Sementara Minho, dia masih terdiam, mencoba menerka apa yang terjadi pada sahabatnya. Kemudian seringai dan kekehan geli muncul di bibir tipisnya.

"Ternyata seorang penakluk wanita bisa berantakan seperti itu. Khekhekhekhe khikhikhikhi khukhukhu-" tawa Minho terhenti saat matanya bertatapan dengan Sehun. "Aku harus pergi."

'Sepertinya aku sudah menakuti tuan putri. Kalau sang pangeran tau, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi denganku,' batinnya setelah melihat wajah takut Sehun yang melihat tawanya.

.

.

.

Chanyeol mengangkat nampannya dan berdiri di antrian paling akhir. Dia menghela napas lelah, menyumpahi tingkah bodohnya. Kenapa dia tidak berani berhadapan langsung dengan gadis pujaannya. Biasanya dia akan bersikap biasa kalau berhadapan dengan banyak gadis, tapi saat berhadapan dengan Sehun, semua saraf otaknya memerintah untuk segera menghindar. Mungkin ini demi kebaikan jantungnya.

Antrian berjalan, namun netra Chanyeol menatap seorang gadis dengan tinggi semampai dan aura indah yang mengelilinginya memasuki kantin. Tanpa sadar kakinya berlari kearah pohon hias yang tak jauh dari tempatnya.

Chanyeol tersenyum saat melihat gadis yang merebut perhatiannya terlihat bingung memilih menu makanannya. Gadis itu terlihat menatap sederetan meja prasmanan yang penuh makanan dengan minat, namun bingung untuk memilih. Sampai seorang namja dengan kulit terbakar matahari meletakkan menu pertama pada nampan gadis itu. Seketika senyuman Chanyeol lenyap. Ada perasaan tidak nyaman yang merasuk di dadanya. Perasaan meletup yang membuat rongga dalamnya sakit.

Chanyeol segera berdiri disamping Jongin, setelah meminta ijin merebut antrian. Pemuda itu memandang kagum pada Sehun dan tatapannya berubah sinis saat jatuh pada Jongin.

Karena kesal dengan tingkah sok mesra Jongin yang mengambilkan makanan untuk gadis pujaannya, Chanyeol dengan beringas mengambil semua makanan yang ada di nampan Jongin dan menaruhnya ke nampannya sendiri.

Saat sampai di ujung, di hadapan meja kasir, Chanyeol cekikikan saat melihat Jongin menatap bingung nampannya yang kosong. Dia segera merubah ekspresinya jadi pura-pura tidak tahu saat menerima tatapan menyelidik dari Jongin.

"Apa?" ujarnya singkat, berpura-pura tidak nyaman dengan tatapan intimidasi dari Jongin. "Kau sudah selesai dengan urusanmu? Sekarang giliranku," ujarnya sinis. Baru kali ini dia bersikap seperti ini pada orang lain.

Chanyeol tersenyum puas saat melihat wajah pasrah Jongin yang kembali mengantri. Kemudian dia berjalan kearah Sehun berada. Namun kakinya berbelok arah dan berakhir duduk bersama rombongan kelas dua tepat di belakang Sehun.

Chanyeol dapat membaur dengan baik. Sesekali dia melirik gadis pujaannya yang makan sendirian di belakangnya. Dia segera meletakkan saos saat gadis itu terlihat mencari benda merah itu dari mejanya. Dia tersenyum senang saat Sehun menggumamkan kata 'terimakasih' setelah menoleh kesana kemari mencari orang yang menaruh saos di meja, namun tak ditemukannya.

Sehun menjatuhkan sendoknya. Dengan segera Chanyeol menaruh sendok yang belum sempat ia gunakan ke piring Sehun.

"Kemana sendokku?" gumam orang di sebelah Chanyeol tanpa menyadari kalau pemuda tinggi itulah yang mengambilnya.

Chanyeol tersenyum dalam hati menunggu reaksi apa yang akan terjadi, ketika Jongin datang dan mengacaukan segalanya.

"Jadi kau hyung, yang melakukannya?" ujar Sehun setelah mendapati sendok bersih di atas piringnya.

"Melakukan apa?" tanya Jongin, kemudian duduk di hadapan Sehun.

"Tidak," Sehun menggeleng. Namun sebuah senyum tak lepas dari bibir merah mudanya.

Chanyeol menggenggam sendok di tangannya sampai bengkok. Dia merasa, ada baiknya kalau pemuda tan itu tersengat matahari sampai terbakar habis.

"Ka-kau kenapa?" tanya teman Chanyeol yang merasa ada aura mematikan dari pemuda itu.

.

.

.

Istirahat

Chanyeol berniat untuk pergi ke toilet. Namun entah kenapa dia berada di gedung kelas satu, bukannya kelas dua, tempat dimana seharusnya dia berada.

Kalau ditanya, dia akan beralasan; ingin merasakan hasil jerih payahnya membersihkan toilet di gedung kelas satu. Alasan yang memaksa.

Chanyeol membuka keran, berniat untuk membasuh wajah, namun sebuah deritan pintu mengalihkan perhatiannya. Dan seseorang yang memasuki toilet, menghentikan gerakannya.

Sehun

Tatapan Chanyeol tak lepas dari gadis pujaannya. Namun dia tercengang saat melihat keadaan Sehun yang basah kuyup. Melihat hal itu, Chanyeol segera berlari keluar.

.

Dan disinilah dia. Pemuda tinggi dengan senyum lebar, memandang baju olah raganya dengan hati-hati, seolah baju itu dapat tergores dan robek bila tidak diperlakukan dengan lembut.

Dia meletakkan baju olahraga itu ke dalam loker gadis pujaannya. Mengelus lembut baju itu, kemudian menutup pintu loker dengan sangat pelan.

Dia berjalan menjauhi tempat loker sambil senyum-senyum sendiri. Dia tidak sabar melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Sehun.

Awalnya Chanyeol tidak menyadari kehadiran Jongin yang melewatinya. Namun saat merasakan aura cemerlang yang menurutnya mengerikan, dia segera berbalik dan menyembunyikan dirinya di ujung loker begitu menyadari kalau Jonginlah yang mengeluarkan aura itu.

Chanyeol terus menatap Jongin, berharap tatapannya dapat mencabut nyawa pemuda itu. Dia semakin memicingkan mata saat Jongin mengeluarkan baju seragam yang dia bawa, dan memasukkannya dalam loker.

Pemuda tinggi itu menghela napas saat menyadari bukan loker Sehun lah yang Jongin buka.

Setidaknya untuk saat ini Jongin bukan saingannya.

Chanyeol membalikkan badan dan akan beranjak dari sana, saat melihat Sehun berjalan menuju tempat loker. Bajunya masih basah. Dia yakin, Sehun akan mencari pakaian ganti di lokernya. Dia melihat ke loker Sehun, dan Jongin sudah tidak ada disana.

Chanyeol tersenyum sendiri menunggu reaksi Sehun.

Namun harapan tinggallah harapan.

Ternyata loker Sehun berada di sebelah loker yang Chanyeol masuki baju olahraganya. Loker Sehun adalah tempat Jongin meletakkan seragam sekolah. Dan Sehun yang mendapati hal itu tersenyum manis, yang Chanyeol harap itu ditujukan untuknya.

Chanyeol-lah yang kalah telak.

"Baju raksasa siapa ini?"

Chanyeol mendongakkan kepala, mendapati anak kelas satu membuka loker dan menemukan seragam olahraganya. Mulutnya menganga saat baju olahraganya di lempar ke bak sampah tak jauh dari sana, seolah baju olahraga yang sudah ia sirami dengan cinta hanyalah seonggok kain tak berharga yang setara dengan sampah.

Chanyeol membatu di tempat, menghiraukan Sehun yang melewatinya dengan senyum cantik di wajahnya.

.

.

.

Chanyeol berdiri di balik tembok.

"Kau sudah seperti penguntit," ujar Minho yang kebetulan melihat Chanyeol sedang mengendap-endap memperhatikan Sehun.

"Bukan urusanmu," ujar Chanyeol tanpa mempedulikan ucapan sahabatnya.

Minho termenung. Baru kali ini Chanyeol bicara seperti itu padanya.

"Sepertinya seorang Sehun bisa memperngaruhi akal sehatmu. Kau jadi buas sekarang."

Chanyeol terdiam mendengar komentar sahabatnya. Apa dia sudah keterlaluan?

"Hahaha... maaf, aku tidak sadar kau ada disini," ujar Chanyeol dengan senyum seperti biasa.

"Kadang aku takut dengan perubahan sikapmu."

"Ah, aku harus pergi sekarang," ujar Chanyeol buru-buru saat tidak mendapati Sehun di tempatnya tadi.

.

Chanyeol melangkah lebar-lebar, berusaha berjalan dengan cepat. Namun Sehun belum juga ditemukannya. Sampai disebuah tikungan, dia bertabrakan dengan seseorang.

"Aww!"

"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol yang masih dapat berdiri dari tabrakan barusan, hanya saja tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.

'Sehun!' teriaknya dalam hati. Dia menatap gadis pujaannya yang terjatuh di lantai sambil meringis menahan sakit. Chanyeol segera membantu Sehun berdiri.

"Apa kau terluka?" tanya Chanyeol dengan lembut.

"Aku tidak apa-apa," Sehun menerima uluran tangan Chanyeol dengan sedikit meringis karena pantatnya terbentur lantai. Poor sexy ass.

"Kau terlihat buru-buru," tanya Chanyeol basa-basi, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

"Ada yang mengikutiku," ujar Sehun ketakutan.

"Apa! Siapa yang berani mengikutimu?" Chanyeol membawa Sehun untuk sembunyi di belakang tubuhnya yang lebih besar.

"Entahlah. Dia tinggi dan rambutnya berdiri seperti... ah, sama sepertimu."

DEG

Sepertinya ciri-ciri itu sama sekali tidak asing bagi Chanyeol.

"Be-begitu..." Chanyeol menelan ludah dengan gugup. Dia merasa ada di ujung tombak sekarang. "Tenang saja, aku akan melindungimu," Chanyeol berusaha bersikap sebiasa mungkin.

"Terimakasih, hyung."

'Hyung?' batin Chanyeol, bertanya pada dirinya sendiri.

"Kenapa kau memanggilku 'hyung'?" kata Chanyeol setelah membalikkan tubuhnya, menatap tepat ke mata indah Sehun. "Seharusnya kau memanggilku 'Oppa'," lanjutnya dengan wajah polos.

"Oppa?" gumam Sehun terlihat bingung. Dia mencoba mencerna apa yang didengarnya barusan. "Aku laki-laki. Namja! Namja! Lihat, bahkan aku pakai celana," wajah Sehun memerah setelah mengerti maksud ucapan Chanyeol barusan.

Chanyeol menatap bingung gadis di depannya. Kemudian pandangannya turun ke celana yang di tunjuk Sehun.

"Kau pakai celana, bukannya karena kau tomboy?" tanya Chanyeol dengan wajah polos.

Sementara wajah Sehun semakin memerah.

"Meskipun aku tomboy, apa di sekolah ini membolehkan perempuan memakai celana?"

Skakmat

Chanyeol terpaku di tempatnya.

Jadi selama ini Chanyeol salah mengira kalau Sehun itu perempuan?

Ingatannya tiba-tiba kembali kehari-hari sebelumnya.

Sehun berambut pendek, dia memakai celana, bahkan dia masuk ke toilet laki-laki.

"Pemuda itu..."

Tiba-tiba ucapan sahabatnya menyeruak dalam ingatannya. Selama ini Minho selalu menyebut Sehun 'Pemuda', bukan gadis, atau yeoja, atau apapun sejenisnya. Namun seolah tuli, Chanyeol hanya fokus pada pemikirannya.

Jangan lupa juga saat Sehun memanggil pemuda terbakar matahari itu dengan panggilan hyung.

Jadi selama ini hanya dirinya yang menganggap kalau Sehun perempuan?

Kemudian tatapan Chanyeol tertuju pada dada Sehun yang datar seperti triplek.

Sehun yang menyadari kemana arah pandangan Chanyeol, segera menyilangkan tangan di depan dada.

.

Bisa diambil kesimpulan kalau selama ini Chanyeol mengejar laki-laki. Bukan perempuan.

Cinta pertamanya adalah laki-laki, bukan perempuan.

Gadis cantik yang selama ini membayangi mimpinya adalah laki-laki, bukan perempuan.

Dan kenyataan yang menyakitkan bahwa orang yang berada di hadapannya saat ini adalah laki-laki.

Laki-laki,

Laki-laki,

Laki-laki,

La-

"Arrghh!"

Chanyeol berlari kesetanan. Berusaha menghindari kenyataan yang seolah mengejarnya. Meninggalkan Sehun yang diam mematung, bingung dengan apa yang terjadi.

.

.

.

Beberapa hari kemudian.

Pukul 07:15

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Minho pada Chanyeol yang sedang celingukan seperti mencari seseorang.

"Aku sedang menunggu seseorang," ujar Chanyeol tanpa memandang sahabatnya. "Cepat kemari," Chanyeol menarik Minho untuk ikut sembunyi di balik tiang lampu saat melihat orang yang ditunggunya sudah tiba di depan gerbang.

"Sehun?" Minho menatap Chanyeol penuh pertanyaan. Namun dia tidak dihiraukan oleh sahabatnya. "Kau bertekad untuk melupakannya, dan itu hanya bertahan selama tiga hari?"

"Berhenti mengejekku."

Mata Chanyeol melebar saat melihat pujaan hatinya mencium pipi pemuda lain.

'Siapa kali ini? Cukup dengan si Jongjong,' batinnya mendengus kesal.

Chanyeol segera keluar dari tempat sembunyinya ketika melihat Sehun berlari menuju kelas. Dia berdiri dihadapan pemuda dengan mata rusa. Cukup manis, tapi tidak secantik Sehun.

Merasa ada yang menatapnya, pemuda rusa itu berbalik dan memandang pemuda tinggi di hadapannya dengan pandangan bingung.

Chanyeol menyeringai menyebalkan saat menyadari satu hal yang membuatnya menang telak.

"Pendek," dengus Chanyeol mengejek, dengan senyum kemenangan yang melengkung indah di bibirnya yang tipis.

Sementara pemuda rusa itu hanya berkedip dua kali. 'Apa aku mengenalnya?' batinnya. Kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Halo semua, Taku disini.

Saya meneror author lain agar bisa apdet lebih cepat. Hahahaa...

Sebelumnya terimakasih sudah meninggalkan review. Saya harap reader meninggalkan jejaknya, karena jujur, membuat ff bersambung dengan beberapa penulis yang memiliki pemikiran beda itu lumayan sulit. Kadang berbeda dengan persepsi kita.

Chapter ini adalah tentang cinta pertama Chanyeol, yang dia kira orang yang dicintainya adalah perempuan. Dan akhirnya sadar juga kalau Sehun itu sebenarnya laki-laki. Poor Chan-Chan. Chanyeol disini adalah pemuda populer yang disukai banyak orang, namun selalu salting saat berhadapan dengan orang yang disukai. Maaf sudah menistakan ChanChan. Lol.

Aku mencoba untuk menghubungkan chap ini dengan chap 1 dan 2. Maaf kalau gagal.

Terimakasih sudah membaca.

Tetap dukung author-author disini. Bagaimanapun ini adalah project baru.

#Bow

Mind to review?

Ps: Chap selanjutnya adalah Dhan mi. Fighting!