Mengejar Cinta Sehun
Pair : KaiHun, HanHun, KrisHun, Chanhun
Chapter 6 by : ChocoKookies
.
.
Appetizer Fiction.
KaiHun Part,
.
.
" Baca apa Jongin-hyung ? " suara Sehun mengalun ditelinganya bagai sengatan listrik. Membuat Jongin langsung tersadar dalam keasyikannya membaca.
" Sherlock Holmes. Kau baru datang ? " Sehun menggangguk, mendudukan diri di samping Jongin. Lalu ia menopangkan dagu dengan kedua tangan, sambil memiringkan kepala.
" Apa tidak pusing Hyung, membaca buku setebal itu ? "
" Tidak, ini sangat seru Sehun. Mau membacanya? "
" Terimakasih Hyung, bagiku komik jauh lebih mengasyikan "
" Ckck, yasudah. Kita pulang sekarang ? "
" Tapi mampir dulu ya, aku lapar sekali nih Hyung ! " ucap Sehun sambil mengelus-elus perut. Jongin cuma menggeleng, lalu mengenggam tangan Sehun " Siap ! ayo jalan ". Mereka berjalan menuju tempat makan kesukaan Sehun. Di sana Jongin dan Sehun saling berbincang, tertawa, dan bercanda. Ini merupakan momen terindah, terutama bagi Jongin. Dia amat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama pujaan hati. Terlebih-lebih itu Sehun.
Jam bergulir cepat, senja mulai menyelimuti langit. Waktunya untuk pulang, lalu mengakhiri saat bahagia ini. Jongin masih mengenggam tangan Sehun, berdampingan berjalan menikmati indahnya sore. Sekalian mengantarkannya ke rumah.
" Sampai besok Sehun " ujar Jongin begitu mereka sampai di depan rumah Sehun
" Dah, Hyung ! " dia melambaikan tangan, lalu berlari memasuki rumah. Jongin masih memerhatikan rumah Sehun, setelahnya ia beranjak pulang.
" Lelahnya..." ucap Jongin merentangkan badan
" Mandi sepertinya menyenangkan "
.
Jongin tengah menyandarkan diri di sofa ruang tengah rumahnya, sambil tangannya sibuk mengutak-atik ponsel. Dia terkikik dan tersenyum-senyum sendiri saat layar ponsel menampilkan foto-foto dirinya bersama Sehun, juga berbagai pose menggemaskan Sehun. Pikiran Jongin melayang, mengingat-ingat kembali waktu-waktu kebersamaan dengan Sehun. Sekejap matanya melirik jam dinding.
Pukul 7 malam.
Kira-kira Sehun-ah sedang apa ya? Jongin bertanya. Ah, lebih baik ia menelponnya.
Tut...
Tut...
" Halo, Jongin-hyung! " Jongin tidak dapat menahan senyumnya.
" Sehun-ah sedang apa sekarang ? "
" Aku? aku sedang..."
" Hunnie ini minumanmu "
...
" Terimakasih Luhan-hyung~"
Oh, Luhan. Laki-laki pendek itu. Tsk, Jongin mencibir.
" Kau bersama Luhan sekarang, Hun-ah? Dimana? "
" Iya, di kedai dekat kompleks rumah Jongin-hyung "
" Begitu...ah iya, apa Sabtu besok, kau kosong? Tidak ada acara?"
" Sabtu? Tidak kok Jongin-hyung. Memang kenapa? "
" Hehe, aku mau mengajakmu pergi. Kau mau, kan? "
" Boleh saja, Hyung. Jemput aku ya? "
" Baiklah, pukul 10 aku jemput. Oke? "
" Oke, Hyung. Sudah ya, kasihan Luhan-hyung dia diam terus daritadi "
" Ya...malam Sehun-ah "
Klik
Sambungan berakhir, Jongin menatap nanar layar ponselnya. Meletakkan ponsel itu di meja sebelah. Dia menghela napas, seraya berujar
" Sampai kapan, akan begini terus Sehun-ah..."
.
.
.
.
Masih pukul 9 pagi, Sehun sudah rapih. Tinggal menunggu Jongin-hyungnya menjemput. Dia sangat bersemangat, menunggui hari ini sejak kemarin-marin. Tapi...ada sedikit perasaan resah merayapi. Sehun tak tahu apa dan kenapa itu, mungkin efek menunggu hari Sabtu itu cukup lama, mengingat Jongin menelpon pada hari Rabu. Daripada Sehun berprasangka terus-terusan, lebih baik menonton televisi. Omong-omong kartun favoritnya sedang tayang.
Waktu berselang, sejam berlalu. Sehun masih asyik menonton, hingga suara bel membuyarkan fokusnya.
Jongin-hyung !
Segera ia membukakan pintu, dan mendapati Jongin sedang tersenyum
" Pagi, Sehun-ah. Sudah siap ? "
" Sangat siap, Kapten! Ay yaya kita mau kemana ?"
" Menurutmu? " Sehun memasang pose berpikir yang menggemaskan. Membuat Jongin tak tahan untuk mencubit. " Ouh, Jongin-hyung ! "
" Haha, ayo kita pergi sekarang " Jongin mengulurkan tangan lantas menggenggam tangan Sehun. Mereka memasuki mobil, lalu Jongin melajukan mobilnya.
Selama diperjalanan Sehun terus berceloteh tentang hidupnya. Mulai dari Candy anjing kecilnya Zitao, kekesalannya pada tetangga baru yang sekaligus Sunbaenya di sekolah Kris, kebaikan hati Luhan-hyungnya, dan yang terakhir mengenai Chanyeol yang Jongin tahu sebagai anggota tim basket sekolah. Dalam mencelotehkan semua itu, Sehun selalu mengekspresikannya dengan lucu. Dari menggerucutkan bibir, tersenyum, dan tertawa. Jongin senang mendengarnya, banyak orang yang perhatian dan sayang pada Sehun.
Dia menanggapi ocehan-ocehan Sehun dengan bergumam, sesekali melirik dan memberi ulasan senyum. Sedikit rasa tidak suka menyerang, terhadap perhatian orang-orang itu. Tapi, mengingat betapa lugu dan cluelessnya Sehun atas perhatian mereka, Jongin cuma mampu menahan diri. Ingin sekali rasanya berteriak " Aku mencintaimu Sehun, tolong jangan lihat yang lain. Cukup aku saja ! "
Egois memang, dan begitulah sifat Jongin. Hanya saja Jongin masih belum bisa memastikan, apakah Sehun memiliki perasaan yang sama atau malah tidak. Sekali lagi, Jongin berusaha menahan luapan hatinya. Ia terus berharap sambil menunggu waktu menjawab harapnya.
" Jongin-hyung..." tiba-tiba Sehun memanggilnya, membuat Jongin menoleh sedikit.
" Ya, Sehun-ah? Ada apa ? "
" Sebenarnya, kita mau kemana? Sepertinya jauh sekali ya ?" Sehun bertanya, matanya melihat sekeliling lewat jendela mobil.
" Sebentar lagi sampai. Kenapa? Kau lelah ? "
" Tidak, hehe hanya tidak sabar saja "
" Dasar kau.. " tangan Jongin terulur untuk mengusak rambut coklat Sehun.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai. Jongin mematikan mesin mobilnya dan bersiap turun.
" Pantai ?! Waaaah !" Sehun terdengar sangat antusias
" Kau senang ? "
" Heum... " Dia mengangguk, sampai-sampai poninya ikut bergoyang. Lantas buru-buru melepas seatbelt. Sehun keluar mobil, berlarian menuju tepi pantai sambil melompat kegirangan. Jongin menyusulnya, lalu ikut-ikutan bermain-main di tepi pantai. Mereka berlarian mengejar ombak, dan kembali ke pinggir ketika ombak menerjang. Saling menyipratkan air satu sama lain. Tertawa, bercanda, dan kebahagian terpancar jelas di wajah mereka.
Sesaat, Jongin menghentikan aksi menyiprat air ke Sehun. Dia melihat sepasang muda mudi sedang menaiki speed boat. Sepertinya akan seru bila dia dan Sehun begitu. Jongin bertanya
" Bagaimana, kalau naik itu ? " Jongin menunjuk ke arah speed boat. Sehun ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Jongin. Dia terlihat bingung
" Tidak bahayakah ? aku takut tenggelam dan aku belum pandai berenang, Hyung "
" Tidak akan. Kan, ada aku. Kau pasti baik-baik saja. Tenang " ucap Jongin bangga, menunjuk dirinya. Sehun menanggapinya dengan mengangguk. Setelahnya mereka berjalan menuju tempat penyewaan speed boat.
Sudah duduk di atasnya, Jongin menyalakan mesin. Speed boat berderu, siap melaju, sebelumnya menengok ke belakang, Sehun memeluknya.
" Pegangan erat ! " komando Jongin, dan ...
Wooosh, speed boat melaju cepat.
Menyibak-yibak air, membasahi baju mereka. Sehun awalnya merasa takut, namun setelah melaju...wohoho, it's really kinda fun! dia menyukai ini. Menikmati panorama laut dari atas speed boat, merasakan sensasi air menyibak ke tubuhmu cepat. Paling utamanya ialah ia merasakan hal-hal itu berdua Jongin, Hyung terbaiknya.
Usai melakukan permainan speed boat, mengganti pakaian, mereka memilih menduduki diri di pinggir pantai merasakan sore. Langit biru berganti oranye, sunset tiba. Jongin dan Sehun tentu tak ingin melewatkan yang satu ini. Melihat langsung detik matahari tenggelam. Mata Jongin terpejam sejenak, menghirup udara pelan-pelan, dan menghembuskannya. Tatapanya beralih ke seseorang di samping, yang kini sedang bergumam, menyanyikan bait-bait lagu.
Tak terlalu jelas, dan juga Jongin tidak mengerti itu lagu apa. Masa bodo, ia tak peduli. Apapun itu akan terasa merdu baginya, menaruh perhatian penuh pada Sehun. Merasakan seseorang terus memerhatikannya, Sehun menoleh. Mendapati Jongin tak melepas pandang darinya. Sehun bertanya,
" Ada yang salah denganku, Hyung? Oh, apa nyanyianku menganggumu ya ? "
Jongin menarik sudut bibirnya, mendapat pertanyaan lugu tersebut.
" Tentu saja tidak. Aku hanya memandangimu, tidak bolehkah ? " Sehun memiringkan kepala, dia belum sepenuhnya paham maksud Jongin. Memandanginya? Memangnya dia lukisan, huh.
" Aku kan bukan lukisan, Hyung "
" Kau bahkan lebih indah dan mengagungkan daripada itu, Sehun "
" Hyung mencoba menggombaliku ya ? Bisa saja, nih Hyung ! "
" Itu fakta dan jujur. Aku hanya mengungkapkan "
" Terserah, Hyung saja deh " Sehun kembali pada kegiatannya, begitupun Jongin. Mereka larut lagi, sejenak. Kemudian, Jongin bergerak, meenghilangkan batasan dirinya dan Sehun. Merentangkan tangan, mencoba merengkuh tubuh sedang Sehun.
Grab
Jongin berhasil memeluknya. Sehun kaget, merasakan tubuh seseorang menempel padanya. Segera, ia membalas pelukan Jongin.
" Aku... apa arti Kim Jongin untukmu, Sehun-ah ? "
" Jongin-hyung? Hmm...kau Hyung terbaik bagiku " Jongin mempererat rengkuhannnya. " Kalau Luhan, bagaimana ? "
" Luhan-hyung juga Hyung terbaik "
" Jadi, Jongin dan Luhan sama bagimu? Sama-sama Hyung terbaik ? "
" Iya, seperti itu " hati Jongin sakit mendengarnya. Hanya sebatas Hyung terbaik?.
Sehun-ah dirimu benar-benar.
" Yang lain bagaimana? Orang-orang yang perhatian padamu " ya, Jongin tahu semua. Zitao, Kris, dan Chanyeol.
" Memang ada ya, Hyung ? Aku tak tahu " anak ini benar-benar tidak peka. Jongin langsung melepas pelukannya.
" Apa Sehun tidak merasa jantung berdetak cepat saat berdekatan dengan Hyung?. Sama seperti Hyung rasakan saat bersama Sehun ? " Sehun mengernyitkan dahi.
" Hyung punya penyakit jantung?, dan itu bereaksi saat bersama Sehun?. Ya ampun itu berbahaya, Hyung harus segera ke dokter! "
Tuhan, kenapa bisa ada manusia sepolos ini. Jangan sampai Jongin harus melakukan hal di luar batas wajarnya, guna mengetahui perasaan Sehun.
Perlahan-lahan, Jongin bergerak lagi. Iris matanya tertuju lurus pada iris mata Sehun. Membius dan memenjarakan agar tidak beralih ke manapun. Sehun terdiam. Pelan-pelan, dan pasti, semakin dekat, hingga...
Bunyi kecipak bibir dan kulit terdengar. Jongin mencium dahi Sehun. Cukup lama, sampai keduanya turut hanyut. Saling memejamkan mata. Saat dirasa cukup, Jongin mengakhiri. Dia menatap wajah Sehun, mencari-cari secercah harap. Sehun membuka matanya lagi, dan di hadapkan oleh tatapan Jongin.
" Kalau yang barusan, bagaima...Sudah lupakan ! " ucapnya tak selesai, ketika tidak mendapati perubahan berarti di wajah Sehun. Walau ia menangkap sedikit rona merah menjalari pipi putih Sehun. Namun, sepertinya Sehun merasa biasa-biasa saja.
" Mari kita pulang. Hari sudah gelap " ujar Jongin pelan, mengulurkan tangan. Sehun menyambutnya, tanpa kata-kata lagi mereka beranjak.
" Jongin-hyung... terimakasih " Jongin menghentikan langkah kakinya, lalu menengok dan disuguhi senyum eye smile Sehun. Beratnya mencintai, begini ya? Mana mampu aku melepas dan tidak mengejarnya? pikir Jongin.
Dia mengangguk, kemudian melangkah lagi, hingga sampai di mobil. Mereka segera memasuki mobil, mengenakan seatbelt, Jongin menghidupkan mesin. Mobil bergerak, meninggalkan sang pantai, membelah jalanan. Selama itu, keduanya terjebak dalam keheningan. Sehun tak tahan, mulutnya sudah gatal bersuara,
" Jantung, Hyung sakit lagi ? " Nada suaranya cemas. Sungguh, ia menghawatirkan jantung Hyungnya ini, Sehun kaget mengetahuinya.
" Tidak..." jawab Jongin singkat.
" Kalau bukan, berarti Hyung lapar? "
" Tidak..."
" Haus ? "
" Tidak..."
" Hyung marah padaku ? "
" Ti... " Jongin melihat Sehun sekilas, lalu menghela napas. " Tolong jangan menganggu konsentrasi Hyung. Aku sedang menyetir ! " hening muncul kembali. Mengunci mulutnya rapat-rapat, Sehun menahan segala hasrat untuk bertanya.
Sehabis memakan waktu tempuh 20 menit, yang lebih cepat 25 menit dari sebelumnya. Mobil mereka tiba di depan gerbang rumah Sehun. Jongin menghentikan mesin. Terdiam sebentar, kemudian..
" Turunlah, sudah malam " perintahnya, tanpa melirik orang di sebelah. Sehun masih duduk, belum beranjak, memainkan ujung kaos, ragu untuk berbicara. Jongin masih menunggui Sehun keluar, melirik sekilas, memilih mengalah lantas berujar
" Kenapa belum turun ? ini sudah jam 9 lebih 15 menit. Jam tidurmu terlewat 15 menit. Tidak mau Mamamu marah pada Hyung, kan? Masuklah ! "
" Tapi...Hyung "
" Tidak, aku tidak marah "
" Sungguh ? " matanya bersinar penuh harap.
" Ya. Lihat aku tersenyum kan, hehe ?" Jongin menarik sudut bibir dengan jarinya. Lalu terkekeh. Sehun turut terkekeh, secara cepat dia mendekati Jongin. Mengecup pipinya.
" Malam Jongin-hyung " Sehun bergegas keluar mobil.
Bagaimana Jongin? Dia diam, tubuhnya serasa kaku. Otaknya masih memeroses kejadian beberapa detik lalu. Lantas, jemarinya mengelus pipi yang habis dikecup Sehun. Degup jantungnya mencepat, aliran darah terasa naik ke wajah. Muka Jongin memerah,
" Ya..Tuhan. Yang tadi, nyata kan " dia menepuk dan mencubiti lengan kirinya. Sakit. Berarti nyata, Jongin tak menyangka, Sehun akan menciumnya!. Dia yang memulai, inisiatif, tanpa Jongin minta.
" Sehun-ah...manis sekali..."
.
.
.
.
.
" Hunshine, Hunshine.." panggil Zitao.
Hari Senin, saat ini mereka berada di kantin yang ramai. Zitao dan Sehun duduk satu meja. Sedari tiba di sini, Sehun terus menggerakkan kepala, ke kiri ke kanan. Seperti mencari keberadaan seseorang.
" Hunshine, mencari siapa ? "
" Jongin-hyung, Zitao " Sehun masih celingak-celingukan.
" Jongin Sunbae, klub tari ? "
" Iya..."
" Oh... " Zitao memutar bola matanya malas, dia tak suka kedekatan Jongin dan Sehun, ck. " Hunshine, Candy bilang dia merindukanmu "
" Benarkah ? " Sehun menoleh, pancarannya berbinar
" Serius, Candy kemarin bilang dia merindukanmu, rindu dipeluk dan dielus-elus kau. Kapan mau bertemu Candy lagi ? "
" Waah, aku juga rindu Candy. Kalau gitu, bagaimana nanti sepulang sekolah ?"
" Boleh saja, naik motorku ya "
" Oke... tapi, uangku tinggal sedikit, apa cukup untuk tiket masuk ke rumah Zitao ? "
" Pffftt.. haha. Kau masih percaya? Aku kan hanya bercanda " gelak tawa Zitao meledak, dia tidak yakin laki-laki di sebelahnya seumuran.
" Zitao jahat! Sehun kesal, huh! "
" Maaf, oke ? tetap jadi ke rumah bertemu Candy ya, hehe "
" Sip ! " kembali menikmati makanannya, berbincang dengan Zitao. Hingga Sehun lupa mencari Jongin, dia terlalu tenggelam dalam obrolan Zitao. Tak menyadari, kalau Jongin melihatnya, memerhatikan, dan mengeram kesal.
Sehunnya tertawa, dan nampak asyik dengan pemuda itu. Dia tak menyadari tatapan sayang berlebih di mata Zitao, hah Sehun memang lugu.
Ekor mata Jongin menangkap Sehun berjalan. Sendirian, tanpa Zitao. Mau ke mana? Tanpa pikir apa-apa lagi Jongin membuntuti Sehun. Jongin berjalan 10 langkah di belakang, mengikuti terus. Langkahnya berhenti, tatkala Sehun menghentikan langkah, dan berdiri di hadapannya seorang pemuda pirang.
Kris...
Nampak mereka berbincang, samar-samar Jongin mendengar isinya.
" Hei, Hoobae ! " panggil Kris, menghentikan laju kaki Sehun.
" Apa Sunbae ? " mau tak mau ia menyahuti panggilan itu.
" Berhenti melakukan itu... "
Sehun tidak mengerti.
" Berhenti ? " Kris maju, mendekat lebih ke Sehun.
" Keluguanmu. Segala respon atas perhatian semua, tetapkan hati. Pilih salah satu di antara yang benar-benar kau sayang dan cinta. Paham ? "
Sehun memiringkan kepala, sangat bingung, dan tak paham maksud Sunbaenya ini.
" Aku nggak ngerti, Sunbae " Kris hanya menghela napas, dia menepuk-nepukan kepala Sehun.
" Pikir sendiri. Dah, Hoobae ! " begitu Kris berlalu, berjalan melewati Sehun. Ketika melangkah, ia melihat seseorang memerhatikan mereka daritadi, ia tersenyum.
Jongin masih berdiri beberapa langkah di belakang, mendapati senyum misterius Kris. Ia berusaha mencerna kilas adegan tadi, pikirannya berkecamuk. Memikirkan berbagai hal. Lalu, berujar lirih..
" Haruskah, Sehun ?... "
.
.
.
To Be Continue
A/N :
Hello, maafkan aku mengupdate chapter ini lama. Author yang lain terutama, Rain aku minta maaf, karena kemarin-kemarin aku sedang berada di antah berantah dan virus wb menyerang. Aku harap chapter ini nggak bikin kecewa kalian semua, aku sempet kaku menulis lagi, dikarenakan hiatus. Kritiki dan sarannya sangat dibutuhkan, agar aku bisa memperbaiki tulisan ini, hehe ^^
Pokoknya, tetep support author-author di sini, tetep support FF ini, dan tetep support Kaihun. Hahaha...
udah ya aku rasa cukup cuap-cuapnya...
Selanjutnya, bagianmu Kak Rain...
S.E.M.A.N.G.A.T ! ^^
Salam ChocoKookies...
