Title : Mengejar Cinta Sehun!

Pairing : Hanhun Part II

Cast : Luhan & Sehun

Genre : Romance, Brothership

Length : Chaptered (7)

Rate : T

.

.

.

Mengejar Cinta Sehun – HanHun Part II

Coffe and Buble Tea

~ Rainrhainyrianarhianie ~

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Bagi Luhan, jika nama berawal dari huruf 'S' mewakili inspirasi. Dan Sehun selalu menjadi inspirasi bagi orang lain. Sehun punya sejuta pesona yang sudah dimiliki sejak lahir.

Pertama bertemu ketika Luhan berusia 4 tahun sedangkan Sehun masih bayi. orangtuanya mengajak berkunjung ke rumah sakit, menjenguk sahabat karibnya yang melahirkan.

Luhan anti medical, hal berbau injeksi, dokter gigi, apapun berhubungan dengan itu, Luhan membencinya. Kaki kecilnya diseret paksa melewati bangsal anak-anak botak penderita kanker.

"Aku mau pulang!"

"Hey boy, Setelah kau melihat Sehun, kau akan menyukainya." Ibunya merayu, tangannya mencengkram lengan mungil Luhan.

"Ayah… Bantu aku!" Luhan mengeluarkan tatapan memelas. Siapa tahu ayahnya membiarkan Luhan pulang ke rumah. "Ayah—"

"Luhan, Hanya sebentar okey.. " Tubuh Luhan diangkat ke langit-langit, ayahnya sengaja menggendongnya agar tidak kabur. "Sepulangnya kau bisa membeli rubik baru lagi!"

Luhan mengangguk pasrah. Lorong-lorong panjang telah dilewati, tak juga menemukan kamar inapnya. Luhan berpikir 'apa masih jauh?' orang tuanya berbelok memasuki lift dan menekan tombol 8. Selain, rumah sakit yang dibencinya, Luhan juga membenci lift— maklumlah, bocah TK ini fobia ketinggian.

"Kalian datang?" sebuah suara mengalihkan atensi Luhan. Oh, itu adalah Ibu dari si bayi.

"Ya. Bersama Luhan." Ayahnya menurunkan Luhan dalam gendongan. "Beri salam boy.."

"Anyeong, Xi Luhan imnida."

Para orang tua bercakap-cakap tanpa henti, sampai mengacuhkan keberadaan Luhan. Ia jenuh, tidak ada sesuatu yang menarik disini. Dan mana si bayi? Luhan bukan ingin melihatnya—Hanya sedikit penasaran saja.

Seseorang membuka pintu kayu itu, dalam kedua tangannya terdapat buntalan selimut tebal. Mungkin ia ayah si bayi. dan sesuai prediksinya, orang tersebut tertawa lembut menghampiri sang istri.

"Lihatlah, Sehun sangat menggemaskan!"

Luhan hanya berdiam diri. Orangtuanya mencoba mengambil alih, menggendong bayi itu ke dalam dekapan hangat. "Sehun… kenapa kau manis sekali?" senyum merekah di kedua bibir ibunya. "Terbalik dengan anak disana, mukanya masam dan kusut!"

Luhan memutar matanya bosan. Kebal sekali hatinya menerima cemoohan dari ibunya sendiri.

"Kemarilah~"

Luhan memandang bayi dihadapannya. Apanya yang harus dibanggakan? Bayi itu merepotkan. Selalu menangis dan minta susu, air liur dimana-mana, belum pola tingkahnya yang tidak bisa diatur. Pipis sembarangan, juga rapuh. Tidak bisa apa-apa! Untuk apa hidup?

Hey Luhan, kau pun dulunya bayi. Tidak pernahkah kau berpikir kau juga merepotkan bukan?!

"Rentangkan tanganmu!"

Luhan menurut, tak disangkanya ibunya memberikan bayi itu ke tangan Luhan.

"Sapalah dongsaengmu."

Bayi itu hanya menggeliat mencari posisi nyaman untuk tidur. Bibirnya mungil, kulitnya seputih salju. Seperti bayi pada umumnya, pekerjaan tetapnya hanya untuk tidur. Sampai kelopak mata itu terbuka..

Deg

Luhan seolah terhisap dalam bola mata musim semi, irisnya sangat menyejukan dan menentramkan hati. Matanya indah. Ditambah tawa lucu yang sangat merdu seperti lullaby. Dan Luhan tanpa sadar jatuh ke dalam sejuta pesona Oh Sehun.

"Mulai sekarang dan seterusnya Sehun milik Luhan!"

Itulah inspirasinya membuat ikrar sewaktu kecil. Tak ada yang boleh mendekati Sehun barang seinci pun. Sehun telah diklaim secara mutlak, Dan Luhan adalah pemilik dari bayi bernama Oh Sehun.

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Bagi Luhan, Sehun orang yang cerdas, ramah, mudah terharu dan tersentuh.

Di usianya yang ke 4 tahun, Sehun sudah bisa baca Koran ataupun buku pelajaran. Berhitung cepat juga jago menggambar. Semua itu Luhan yang mengajarinya.

"Sehun~ah… lama-lama buku gambarku rusak."

Luhan menghela nafas, tahun ini Luhan berusia 8 tahun, dan mengenyam pendidikan Elementary School. Niatnya mengerjakan tugas seni rupa—melukis bangunan sejarah paling favorit. Apa daya tangan tak sampai? Sehun lebih dulu mencuri buku gambarnya. Semua crayon ia pakai, dipadu padankan mencampur warna.

"Sehun~ah, jangan dimakan." Teriak Luhan.

Sehun hampir menangis, matanya berkaca-kaca. Crayon sewarna dengan buah strawberry itu hampir ia jilati sebelum Luhan mengambil paksa.

"Huwee… Lulu hyung cahat!" Tangis Sehun pecah. Jujur Sehun terlihat menggemaskan di mata Luhan. Matanya berair layaknya sungai kecil, ilernya menetes dan ingusnya keluar-masuk. "Cetaubeyi cehun.. huhuhuh…"

Luhan tahu, Sehun itu mudah terharu dan tersentuh.

Bisa diralat?

Bukan terharu atau tersentuh, Sehun sebenarnya anak cengeng. jika tangisnya pecah, tak bisa di diamkan dengan mudah.

Hanya minuman tak sehat yang bisa meredam tangisnya. Apalagi kalau bukan buble tea? Minuman laknat yang membuat Luhan mengeluarkan tanduknya. Sejak saat itu, Luhan menyesal telah membelikan Sehun buble tea. Ternyata oh Ternyata anak 4 tahun itu di diagnosis kecanduan buble tea tingkat akut.

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Bagi Luhan, Sehun suka membantu dan tidak suka melihat orang lain bersedih. Cenderung senang barbagi dengan sesama. Ia punya bakat banyak serta mau mendengarkan orang lain dengan sabar. Suka belajar hal baru baik lewat buku, flm, atau apapun. Sayangnya, Sehun selalu saja jadi pusat perhatian. Dan itulah akar dari permasalahan Luhan. Banyaknya lelaki yang mendekati Sehun, membuat Luhan terusik.

"Coba perhatikan tubuh pendekmu! Mana bisa melindungi Sehun dengan postur tubuh kurcaci macam itu."

– Kim Jongin, Lelaki tan yang hobi tebar feromon, status terkini pengejar cinta Sehun pertama sekaligus saingan terberat.

Luhan tak pernah mengira selain Jongin, masih banyak lagi yang mengejar Sehun, kala itu Luhan melihat Sehun diantar pulang oleh lelaki lain dengan motor besarnya.

– Huang zitao, mahluk iseng yang hobi usil pada Sehun.

Jangan tanya Luhan darimana tahu namanya? Luhan ini cerdas, mahasiswa politik merangkap juga jadi asisten dosen. Dia hafal tabiat orang jahil yang suka cari-cari perhatian.

– Park Chanyeol, si bodoh yang mengira Sehun adalah perempuan. Hanya Pejuang cinta dan bukan saingan berat.

Luhan mengetahui Chanyeol ketika mengantar Sehun ke sekolah. Chanyeol mengeluarkan tatapan 'Pendek' di iringi seringai menyebalkan. Luhan ingin mengklarifikasi, dirinya tidak pendek kok, hanya kurang tinggi!

– Kris, Sunbae sekaligus tetangga baru Sehun. Si ketua Osis yang absolut. Masuk dalam kandidat yang terkuat untuk disingkirkan.

Luhan berpegang teguh pada pendiriannya, cinta itu patut untuk diperjuangkan. Mereka hanya orang asing yang baru mengenal Sehun, sedangkan Luhan telah mengklaim Sehun miliknya sedari bayi.

Lamunan Luhan terhenti, Proposal yang dikerjakan setengah jadi, atensinya beralih pada layar datar dihadapannya.

'Laporan cuaca kali ini. Diperingatkan potensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat petir pada pukul 13.00 di distrik II dan sekitarnya. Kondisi cuaca juga terjadi di distrik VI dan X. Hujan sendiri diprediksi akan berlangsung hingga malam hari. Dan meluas ke distrik V.'

.

Buru-buru dirapikannya filemap. Luhan berasumsi bahwa Sehun tidak melakukan tindakan bodoh seperti dulu—Menerobos hujan. Kejadian itu membuat Sehun demam sampai seminggu.

"Luhan, kita belum selesai rapat!"

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Sehun takut petir dan hujan badai. Bisa dibilang fobia. Ia sensitive akan dingin yang menggigit kulit dan menggerogoti tulangnya setiap badai dimulai. Bibirnya akan pucat setelah itu, ujung jarinya memutih, tubuhnya gemetaran hebat, belum lagi kulitnya yang berbintik. Cukup membuat banyak orang panic untuk segera membawanya ke rumah sakit.

Hari ini hujan badai, serta petir yang tak jua reda, mengguyur kota Seoul selama tiga jam. Sehun terjebak di halte. Bus terakhir tidak beroperasi sampai badai reda kelak. Opsi berlari menembus hujan sama sekali tak rasional, mengingat jarak yang ditempuh lebih dari 25 kilometer.

Sehun hanya bisa berdiam diri, kepalanya bersandar pada kedua lututnya yang ditekuk. Sehun berharap ada seseorang yang menolongnya. Siapapun itu Sehun akan sangat berterima kasih.

"Hatchih.. "

Sepertinya setelah ini Sehun akan terserang pilek. Pernah suatu kali Sehun sakit karena kehujanan. Orangtuanya panic membawanya ke clinic terdekat. Demam serta flu yang dideritanya sembuh dalam jangka sepekan. Beruntung waktu itu Luhan yang menemukan Sehun pingsan di pinggir jalan.

"Sehun~ah… "

"Hyung…"

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Chanyeol seorang stalker sejati.

Dia menyadari ada yang salah dengan dirinya. Tampan, populer dan memiliki banyak fans gadis. Ia pikir mungkin akan tertarik pada primadona sekolahnya. Tentu yang dimaksud gadis cantik.

Semua prediksinya meleset karena melihat Sehun. Dia mengira Sehun seorang gadis yang patut dipuja-puji. Nyatanya Sehun adalah pria. Chanyeol menyangkal— akan tetapi hatinya tidak! Setiap hari Chanyeol membuntuti Sehun.

"Hyung…"

Sehun memanggil kembali.

"Sehun~ah, Jongin tidak menjemputmu?"

Sehun menggeleng, "Tidak!"

Oh. Kesempatan.

"Kau bisa menumpang padaku. Kebetulan aku membawa mobil." Tawarnya.

Chanyeol berpura-pura tidak sengaja berpapasan dengan Sehun. Padahal sedari di sekolah, Chanyeol membuntuti kemanapun Sehun pergi.

"Mmm, apa hyung tidak kerepotan?" Tanya Sehun was-was. Mau menolak tak enak hati. "Luhan hyung bilang akan menjemputku."

Ya. Sehun tidak pernah berbohong. Luhan memang akan menjemputnya. Makanya Sehun setia menunggu Luhan di halte.

"Tidak— " Chanyeol sedikit membantah. Dia tidak ingin Sehun diantar oleh Luhan. Pemuda pendek bermata rusa itu sedikit menyebalkan. "Ma-Maksudku tentu tidak merepotkan."

"Aku yang merasa direpotkan jika Sehun diantar olehmu."

Panjang umur— pucuk dicinta ulam pun tiba. Bagus, kesempatannya dirampas oleh orang itu.

Luhan berjalan mendekati Sehun. "Pulanglah! Aku tidak mau Sehun merepotkanmu. Cukup aku saja." usirnya halus.

Luhan memberikan mantel tebalnya pada Sehun. Dikaitkannya semua kancing satu per satu. Dengan ini tubuh Sehun tidak terlalu menggigil, hitung-hitung meminimalisir rasa dingin.

"Luhan hyung.." Sehun menatapnya sekilas, "Aku pikir tidak jadi menjemput."

Luhan tersenyum hangat. "Maaf telat. Banyak proposal yang kukerjakan."

Chanyeol merasa jadi obat nyamuk. Dia kecolongan start oleh Luhan. Di sekolah sendiri, Sehun sangat sulit didekati. Terlebih banyak orang populer yang mengelilinginya. Kim Jongin, Tao, Kris. Dengan terpaksa dirinya hanya menjadi stalker— lebih keren jika kalian menyebutnya secret admeirer.

"Sehun~ah.. mungkin lain kali aku akan mengantarmu pulang. "

Bau tanah yang tertimpa hujan dan udara dingin yang menusuk, membuat hati Chanyeol pecah belah, bahkan langit pun tahu. Chanyeol kalah sebelum berperang.

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Sehun merasa bosan. Mulanya Luhan akan mengantarnya pulang ke rumah, namun cuaca yang tidak memungkinkan akhirnya Sehun terkurung di apartemen Luhan.

"Luhan hyung.. sampai kapan berkutat dengan proposalmu itu?" nada Sehun sedikit menyindir.

"Kau seperti merajuk."

Jam dinding berdetak-detik. Menjadi saksi bisu betapa hening menyelimuti suasana disini. Luhan tengah disibukkan dengan laptop dipangkuannya. Mengetik bahkan beberapa kali mengedit. Sedangkan Sehun duduk di sofa panjang.

"Saat merajuk sudah dari kemarin. Hyung ingkar janji mentraktirku buble tea." Sehun mengerucutkan bibirnya lucu. "Jika nilai ulanganku bagus, hyung akan membelikanku buble tea selama sepekan."

Luhan tertawa.

Dia mematikan laptopnya sementara waktu. Pandangannya beralih pada bola mata Sehun. Ada kilatan amarah disana. Ya Ya Ya, Luhan tahu betul sikap Sehun yang kekanak-kanakan. Apapun yang diinginkannya harus segera dipenuhi.

"Tidak baik jika terlalu sering." Luhan sedikit menasehati. "Kau sudah minim pil?"

Sehun menggelengkan kepala. Piyama milik Luhan tampak lucu sesuai dengan selera Sehun—berwarna biru muda didampari cahaya lampu yang merah.

Luhan berjalan menuju lemari P3k dan mengambil sebutir pil serta segelas teh hangat.

"Minum dulu, baru tidur."

"Aku tidak demam." Sehun menolak mentah. "Tidak mau!"

"Ini bukan obat. Hanya vitamin." Luhan menyerahkan pil itu pada tangan Sehun. "Aku tidak mau kau sakit."

Bintang-bintang merayap di langit. Bisa dilihat dari jendela kaca yang gordennya disisihkan ke samping. Awan-awan tampak hilang. Hujan pun sudah lama reda. Langit menganga dan sinar bulan memandikan cahaya. Sementara itu Sehun terpaksa menelan pil dengan susah payah— itu pun terbuai bujuk rayu Luhan yang akan memberi kompensasi banyaknya buble tea.

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Setelahnya Luhan menggiring Sehun masuk kamar tamu. Dia bilang istirahat yang cukup akan membuat tubuh Sehun bugar kembali saat pagi hari.

Sehun yang terbilang anak baik, hanya mengangguk menuruti perintah Luhan. Biasanya jika Sehun menginap disini, belum pernah satu kali pun Sehun memasuki kamar Luhan. Padahal ketika kecil, mereka berbagi apapun dan tidak menyembunyikan rahasia.

"Sesekali aku ingin tidur di kamar Luhan hyung." Sehun memohon.

"Tidak, banyak hal rahasia disana."

Yah, berulangkali Luhan menolak mentah kemauan Sehun.

.

Ranjangnya empuk dan bad covernya sesuai selera Sehun, Pinkupinku. Tubuh ringkihnya ia baringkan perlahan. Matanya terpejam, mungkin efek vitamin yang diminumnya mulai bereaksi.

Sesaat matanya kembali terbuka. Sehun lupa mengabarkan keadaannya pada orangtuanya. Tangannya lihai mencari ponsel dalam tasnya. Ketemu!

"Yah, mati."

Sehun inisiatif memasuki kamar Luhan dengan alasan meminjam ponsel untuk menghubungi orangtuanya. Sekalian mengorek rahasia-rahasia hyungnya tercinta.

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Luhan masih mengerjakan proposalnya. Bulan depan fakultasnya mengadakan event yang terbilang cukup besar memakan anggaran. Maka dari itu sebelum hari H, proposal telah tersebar untuk menarik dana.

Tok Tok Tok

Ketukan pintu mengusik pekerjaan Luhan. Ya siapa lagi jika bukan Sehun?

"Luhan hyung.. bolehkah aku masuk?"

Luhan bukan melarang Sehun memasuki kamarnya. Hanya saja dia tidak mau kalau koleksi pribadinya terkuak dihadapan Sehun. Rahasia terbesarnya. Selama ini Luhan berusaha menutupi sebisa mungkin.

"Ada apa?"

Luhan sedikit membuka pintu kamarnya— memberi celah melihat Sehun.

"Mm.. aku ingin pinjam ponsel. Apa bisa?"

"Tunggu sebentar."

Luhan menutup pintu kembali. Ia mengambil ponselnya di nakas. Tanpa di duga kesempatan emas tersebut Sehun gunakan sebaik mungkin. Menerobos masuk kamarnya.

"Luhan hyung…"

Tidak!

Ini bukan seperti yang dibayangkan.

"Sehun~ah, aku.. " Luhan mendadak kelu.

"Ternyata selain mahasiswa politik, Luhan hyung berbakat menjadi fotografer."

Hah?

Sehun dibuat kagum oleh Luhan. Bagaimana tidak? Dinding kamar Luhan dipenuhi foto dirinya. Tidak satupun dinding yang polos— semua dipenuhi potret dirinya.

Luhan bahkan mengira Sehun akan marah. Karena selama ini Luhan membuntuti Sehun— mengambil sebanyak mungkin foto-fotonya. Tangan Luhan hampir membanting ponselnya. Kenapa ada manusia sepolos Sehun? Tak pernahkah Sehun berprasangka buruk pada seseorang?

Sehun hanya terkikik geli. Ia berpikir dirinya sangat tampan karena dijadikan objek foto oleh Luhan. Jika dikalkulasikan mungkin ratusan foto Sehun sedari bayi sampai sekarang. Komplit. Bahkan buku album di rumahnya kalah banyak dibanding milik Luhan.

Sehun mengamati satu demi satu foto itu. ada foto yang lucu. Dirinya yang berumur 4 tahunan. Disana Sehun menangis dengan tangan yang berlumuran buble tea.

"Itu… kau mengingatnya?" Luhan mencoba mencairkan suasana.

Sehun menggeleng. "Tidak!" dia terus tertawa mengingat betapa cengengnya dulu. "Kenapa aku menangis Luhan hyung?"

"Yeah, kau menggerutu buble teanya kurang manis. Lalu menyuruhku memasukan banyak gula." Luhan sedikit bernostalgia. Bibirnya menahan tawa, "Kupikir itu adalah gula, nyatanya garam. Setelahnya kau bisa menebak sendiri."

Sehun tersenyum. Buble tea dengan rasa asin, membayangkannya saja sudah mual. Apalagi meminumnya. Pantas saja Sehun kecil menangis menumpahkan buble teanya.

"Hhahaha.." Sehun tertawa tanpa henti. "Aku sangat cengeng."

"Kau memang cengeng."

Sehun cemberut. "Luhan hyung tidak boleh menghinaku. Lalu foto apakah ini?" Sehun menunjuk foto hitam putih berukuran kecil. "Apa itu aku?"

"Ya." Jawab Luhan. "Foto itu diambil ketika kau masuk Tk."

Percakapan mereka tak berhenti begitu saja. mulanya dari foto-foto kecil Sehun merembet ke foto Sehun yang sekarang. Ketika memasuki Senior High School.

"Kau tahu, berat rasanya melihatmu sekolah sendirian." Luhan mengehela nafas. "Aku berspekulasi, kau akan jauh dari jangkauanku."

"Loh, bukannya Luhan hyung bisa menjemputku?" Heran Sehun.

"Apa kau tak sadar?!" Luhan sedikit memberi penekanan. "Kau menjadi pusat perhatian. Sehun~ah.. banyak sekali yang mendekatimu."

Sehun semakin kebingungan."Aku tidak mengerti." Tukas Sehun polos.

Luhan bisa dibilang tersulut emosi. Sehun yang terlampau polos dan dirinya yang sering kali terbakar percikan api, merasa harus memberikan sedikit pelajaran, agar Sehun tersadar cinta itu seperti apa.

Tangannya meraih dagu Sehun— mempersempit jarak mereka. Sampai kedua bibir tersebut bertemu.

Kiss.

Bola mata Sehun membesar, ia kaget bukan main. Langkahnya mundur menabrak dinding.

"L-Luhan hyung…"

Entah kenapa rasa yang asing mendadak muncul dihatinya. Bergulung-gulung seperti ombak, silih berganti membasahi hati. Sehun tanpa sadar manangis.

Luhan tersentak, tindakannya bisa dikategorikan perbuatan asusila—Mencium adiknya sendiri secara paksa.

"Sehun~ah…." Luhan tidak tahu harus bagaimana. "Aku bisa menjelaskan."

~ Rainrhainyrianarhianie ~

Mereka duduk bersebelahan di balkon. Udara sedikit dingin, Sehun membalut tubuhnya dengan selimut tipis. Mencoba menenangkan pikiran dan memahami pola pikir Luhan.

"Sehun~ah, seharusnya kau melihat wajah terkejutmu itu!" gumam Luhan disela tawanya.

Sehun tertegun mendengar jawaban Luhan, dan lagi-lagi jantungnya berdetak tidak normal. "M-Maksud hyung?"

"Aku sudah menjelaskan bukan? Aku mengikuti pentas drama. Well, berlatih ciuman." Luhan berbohong. Dia hanya mencari alasan logis agar Sehun tidak membencinya. "Maaf. Kau pasti kaget." Luhan menepuk pelan surai caramel Sehun.

"Tak apa."

Luhan merasa lega. Tak pernah terbayangkan rencana mendapatkan hatinya bisa hancur dalam hitungan detik. Beruntung Sehun tipe orang yang pemaaf. Selanjutnya Luhan akan berusaha kembali memperoleh kepercayaan Sehun.

"Minumlah."

Luhan menyediakan dua cangkir kopi yang berbeda. Cappuccino dan latte.

"Aku tidak suka kopi,," Sehun menggelengkan kepalanya. "Bukankah aku memiliki secup buble tea di kulkas?" Sehun otomatis berlari menuju dapur.

"No!"

Luhan mencengkram lengan Sehun, menyuruhnya duduk kembali. "Udara dingin tak baik meminum buble tea." Tatapannya terarah pada meja. "Aku menyiapkan kopi untukmu, kau bisa memilihnya."

Sehun tak tahu berapa banyak jenis minuman kopi, yang dia tahu kopi pekat yang sering dikonsumsi ayahnya dirumah. Pernah Sehun mencicipi satu sendok makan, dan rasanya..

"PAHIT." Sehun merapatkan mulutnya.

"Lidahmu bahkan belum menyentuh kopi." Luhan tertawa meremehkan." Ini Cappuccino—espresso ditambah campuran susu, dihidangkan di gelas besar. Perpaduannya menghasilkan warna coklat mirip pakaian para biarawan caphucin, makanya dinamakan cappuccino." Luhan memberikan info seputar kopi.

"Tetap saja itu tidak enak."

Luhan meletakan cangkir satunya ke arah Sehun, "Cobalah."

Sehun melirik cangkir kopi, di atasnya terdapat busa lucu. Ada gambar disana. Icon kartun favoritnya. Matanya berbinar. Rasa ingin mencicipinya lebih besar.

"Ini enak." Sehun tersenyum lembut. Bibirnya belepotan busa putih.

"Kau ini seperti bocah saja." Luhan menyeka ceceran kopi dengan jarinya. Dia mengusap perlahan. "Jenis kopi yang kau minum itu Latte, berasal dari bahasa italia yang artinya kopi susu. Sama seperti cappuccino, terbuat dari espresso dicampur susu tapi ditambahkan lapisan busa tipis di atasnya." Luhan ikut tersenyum juga. "Kau menyukainya?"

"Ya." Sehun mengangguk lucu. "Tapi aku sudah berjanji tidak akan menduakan buble tea."

Yeah. Luhan tahu kok. Bahkan posisinya kalah dengan minuman laknat itu.

"Luhan hyung mahir sekali meracik kopi." Sehun mengacungkan dua jempol. "Bertambah lagi bakat yang dimiliki Luhan hyung."

Berbincang bersama Sehun memang menyenangkan. Di kala Luhan penat dengan segudang aktivitasnya, Sehun selalu hadir menjadi penghibur. Tentu saja Sehun tidak menyadari itu.

"Aku lupa. Kepribadian seseorang bisa dilihat dari kopi." Ujar Luhan. "Kau ingin tahu?"

Sehun berbangga diri. "Aku kira hanya coklat yang bisa menentukan kepribadian seseorang. "Sahutnya. "Dari coklat. Luhan hyung tahu tidak? Ternyata aku ini tipe punya keinginan kuat untuk diperhatikan, penuh pesona juga senang membuat orang lain tersenyum—dianggap penghibur sejati." Celotehnya panjang lebar.

Ya. Karakter yang sesuai untukmu. Timpal Luhan dalam hati.

"Jenis yang kau minum itu—Latte tipekal orang yang selalu disukai dan diperhatikan. Selain itu ia memiliki sisi yang kurang dewasa."

"Luhan hyung… aku sudah besar." Sehun menampik pernyataan Luhan. "Tentu aku pun dewasa."

Luhan tertawa hambar. Dewasa dari segi mana? Segala masalah yang Sehun hadapi, selalu Luhan yang menangani. Sedikit-sedikit menangis. Di kecup bibirnya saja menangis. Luhan sampai terheran, Sehun terlampau kekanakkan. Apa dia tak mengerti arti dari ciuman dibibir?

"Terserahmu lah." Luhan beringsut masuk ke dalam. "Sehun, ayo lekas tidur. Sudah malam." Ajaknya.

Sehun mengikuti Luhan. "Hyung.. kita tidur bersama ya?!"

Tidur bersama? Kenapa kalimatnya begitu ambigu?

Luhan mungkin akan kehilangan control. Dia tidak akan bisa menahan diri untuk menyentuh kulit bayi Sehun. Dan sekarang bocah itu mengajaknya tidur bersama.

"Tidak." Tolak Luhan.

"Luhan hyung, kita sudah lama tidak tidur bersama." Sehun terus saja merayu. Dia mengeluarkan aegyo andalannya. "Nanti Luhan hyung bacakan cerita ya." Pintanya lagi.

"Sehun~ah sebenarnya usiamu itu berapa?"

Luhan beranggapan Sehun orang yang takut menghadapi kehidupan. Dia mungkin terjebak dalam dunia anak-anak dan tidak mau beranjak dewasa.

Luhan tahu segalanya tentang Sehun. Apapun— bahkan tentang banyaknya lelaki yang mengejar cinta Sehun.

Kalian tahu?

Drama ini masih jauh dari kata akhir, jadi Luhan tidak perlu khawatir jika segala sesuatu berjalan dengan lambat. Tidak perlu buru-buru, kisah kasihnya layaknya menikmati cappuccino, ringan namun tetap nikmat.

.

.

Mengejar Cinta Sehun – HanHun Part II

Coffe and Buble Tea

~~~~ FIN~~~~

Eh, dikira ff oneshoot milik Rain,

TBC aja.

.

.

RainDay :

Hallo chingu, bersama Rain disini!

Adakah yang mengenal Rain? Sepertinya Rain author tak populer. Well, yang sebagian kenal Rain, pasti tahu Rain author kayak gimana. Semua plot ff Rain jauh dari kata fluff. Kebanyakan plotnya aneh, nyentrik dan gak masuk akal. Bahasa baku serta penulisan yang berat, Miss typo. Dan jangan lupa Rain author yang hobi publish word panjang.. (7-8K+ perchap)

Rain sebelumnya minta ijin sama Nell (Maklum, sesepuh ini pendirinya), dikasih 7k+ boleh gk? Katanya 5K+ aja. Pada akhirnya di pangkas jadi 3k+. (Khawatir reader mati kejer bacanya). Minta maaf juga buat Onix, kesannya Rain neror mulu biar cepet update. hehe

Lalu bagaimanakah tentang pair HanHun Part II? Rain sendiri lebih nyaman membuat karakter Luhan yang sangat dewasa. Dia cenderung posesif dan overprotektif pada Sehun. Bilang saja Luhan seorang stalker. Dia tahu apapun tentang Sehun luar-dalam.

Disini Rain gambarkan bahwa Luhan itu sudah mengenal Sehun sejak bayi, sangat tidak adil baginya jika Sehun dimiliki oleh yang lain. Dibanding Luhan, mereka sendiri (Para seme) hanya orang asing yang baru mengenal Sehun.

Dan ini sudah mulai masuk konflik loh… Rain sih lebih feel HanHun, namun endingnya bukan Rain yang pegang -_- . Rain juga minta maaf kalau chap ini tidak memuaskan. Demi apa? Diksi Rain sangat payah dalam genre beginian.

Ayo, tunjukkan eksistensi kalian dengan RnR ya, Rain tunggu.

Untuk selanjutnya akan diserahkan pada author yang lebih professional dibanding Rain, My dongsaeng— Hyun Hiroshi.

~Sayonara Chingudeul~