Title : Mengejar Cinta Sehun!
Pairing : KrisHun Part II - Random part
Genre : Romance, Brothership
Length : Chaptered (8)
Rate : T
Standard disclaimer applied
Hyun Hiroshi a.k.a La'Purple Rose present..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menjelang sore.
Hari itu hujan mendadak deras di tengah teriknya matahari. Suhu menurun drastis. Angin yang menusuk kulit hilir mudik di depan mata mereka, karenanya Jongin maupun Sehun dipaksa bertandang mengunjungi pos penjagaan sekolah.
Sah-sah saja bagi Jongin mengajak Sehun untuk menunggu hujan reda sekiranya Sehun sendiri tak menolak. Barangkali membantu daya tahan tubuh pria manis itu supaya tak terkena demam esok harinya. Jongin pikir dengan menghindari keroyokan air hujan sudah cukup melindungi Sehun. Akan tetapi selain mempesona, Sehun itu rapuh. Dia perlu vitamin agar selalu sehat. Perlu banyak istirahat dan tak boleh diajak bekerja keras. Si cantik itu benci berkeringat. Sehun juga manja, payahnya ia tak mampu bertahan di tengah musim dingin. Barang antik memang memerlukan perawatan ekstra.
Sehun sempat mengeluh mengenai pipinya yang berubah merah. Apalagi diambangi bintik-bintik menggelikan, jelek katanya. Di sisi lain Jongin dibuat uring-uringan. Ia bahkan membuang tampilan sok kerennya saat mendengar Sehun bersin-bersin dibarengi tampilan hidung semerah tomat.
"Dingin, hyung..."
Duh, Jongin tak paham kesehatan. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Maka opsi terakhirpun Jongin ambil. Jongin menyeret Sehun menuju motornya dan secara anarkis memberhentikan bus di tengah jalan dengan tanpa menepikan motornya terlebih dahulu.
Supir bus berteriak marah-marah tapi Jongin tak ingin dengar. Walau tak yakin akan dapat menyelamatkannya, Jongin tetap mendorong Sehun supaya cepat masuk ke dalam bus tersebut.
"Lalu, hyung bagaimana?"
"Aku mengikuti bus ini di belakang!"
Jadilah mengapa pagi ini Jongin kembali dibuat lebih uring-uringan lagi. Sehun sakit. Berkat sikap sembrononya kemarin Sehun harus diistirahatkan di ruang kesehatan setelah ujian, berikut setelah pelajaran kedua usai. Sebenarnya sebelum berangkat tadi, Jongin –yang niatnya menjemput Sehun tapi malah keduluan Luhan, mendengar Luhan memarahi Sehun agar tak perlu masuk sekolah satu hari ini. Tapi Sehun membantah, lantaran akan diadakannya ujian tulis.
Jongin memapah Sehun menaiki ranjang. "Kau tidurlah, aku akan mencari obat." Jongin dengan telaten melepaskan sepatu-sepatunya.
"Jangan yang pahit!" Rajuk Sehun.
Tangan Jongin terangkat dan mengusak surai bayi besar itu. Delikan dan cebik bibir manis Sehun diterimanya dengan senang hati. Jongin tertawa kecil, "Ne.. Ne.."
Tentu tak ada obat tidak pahit di ruang kesehatan sekolah menengah. Jongin si berandalan tak segan memaksa penjaga sekolah membukakan pintu gerbang sebab bagaimanapun caranya ia perlu mengunjungi apotek. Sebelum keluar, Jonginpun lebih dulu menaikkan selimut hingga menutupi sebagian tubuh Sehun. Ia kemudian menyarankan, "Tak perlu ikut kelas selanjutnya. Kau harus tunggu di sini sampai aku kembali, ok?"
Dengan lemas, Sehun hanya mampu mengangguk. Pandangannya berangsur menggelap. Kepalanya berat. Nafasnya terasa panas dan selepas itu ia tak ingat apa-apa lagi. Terlebih saat seseorang berperangai tegas masuk tak lama setelah kepergian Jongin.
"Maaf mengganggumu. Kau tak keberatan'kan jika ikut denganku? Hmmm.. Sehun?"
...
La'Purple Rose
...
"Hilang? Bagaimana bisa, Kim? Kenapa kau meninggalkan Hunshine sendirian?"
Kedua alis Jongin spontan menukik. Memangnya siapa si Zitao ini? "Siapa Hunshine? Yang aku tanya; apa kau melihat Sehun? Kau tahu Oh Sehun,'kan?"
Kemarahan Jongin bahkan nyaris merusakkan pintu masuk. Terkecuali Huang Zitao, satu kelas itu ditakutkan dengan kedatangan Jongin yang tiba-tiba. Berbeda dengan teman-teman satu kelasnya yang lebih memilih terlihat menyibukkan diri, Zitao justru menawarkan diri untuk mencari Sehun bersama-sama.
"Sebaiknya kau tak membuat masalah. Kau bahkan lebih mencurigakan!" Untuk sementara mengesampingkan masalah perasaan, Jongin akhirnya menerima penawaran Zitao. Jika benar, kemungkinan besar Jongin akan membuktikan prasangkanya tepat bahwa Zitao yang menculik Sehun. Mengingat Zitao itu kerap bersikap jahil terhadap Sehun.
"Kelas mana yang belum kau periksa?"
""Kau"?" Alis Jongin terangkat satu, "Aku satu tingkat di atasmu, saeng!"
"Ya, ya.. Hyung?"
...
La'Purple Rose
...
Kris.
Atau nama sesungguhnya adalah Wu Yi Fan.
Pria tampan berstatus sebagai nomor satu di sekolah.
Bertubuh proporsional.
Terkenal. Cerdas. Berwibawa. Dia juga bijaksana.
Tipe favorit gadis-gadis.
Anti kebisingan. Keras kepala dan pemilik watak cuek. Seantero sekolah sering kali diabaikannya.
Terkecuali Sehun.
Awalnya ia sama sekali tak menaruh perhatian pada apapun, pada siapapun. Tapi prinsipnya runtuh begitu melihat Sehun menderita karena setumpuk buku pelajaran. Hati Kris mendadak mendapat semacam dorongan untuk membantu. Bukan sekedar simpati sih, jelasnya Kris itu mendadak suka pada Sehun. Jadilah ketika itu Kris rela menggantikan tangan rapuh Sehun menanggung beban buku yang perlu diantarkan ke perpustakaan.
Tapi dimana ada keinginan, disitu usaha diperlukan. Semestinya Kris bisa mendekati Sehun dengan mudah. Tak perlu menguras kalori banyak-banyak. Mengingat kepopuleran serta kesempurnaan Kris, harusnya tak sulit menakhlukan pria manis macam Sehun. Namun apalah daya. Kris juga manusia, ia punya kekurangan. Tindakan itu tak semudah mengatakan. Ia kaku. Walau ia mau, ia tak mampu bersikap baik –terlebih romantis.
Intinya, pikiran bersama hatinya selalu berjalan tidak sinkron. Mereka berlawanan. Hingga akhirnya, kekalahan sebelum perang dimulaipun berimbas padanya.
"Kau sudah bangun?"
Kris bertanya dengan nada ketus pada lelaki manis yang baru saja membuka mata di atas sofa itu. Sehun mengusak matanya beberapa kali, memperjelas penglihatan. Dengan susah payah ia mencoba duduk dan memijit pelipisnya.
Kris mulai mendekat. Di tengah langkahnya, ia menyisipkan tangan diantara saku celana untuk mengeluarkan sesuatu. Itu obat, obat manis yang lumrahnya diberikan pada anak usia dini. "Kau, minumlah." Kris melemparkan bungkusan itu.
Masih dengan tangan memijit pelipis, mata sipit Sehun memicing ke arah Kris. Kemudian beralih menatap obat di pangkuannya. Sehun nampak bingung. Seingatnya, terakhir kali ia tidur di ruang kesehatan. Dan sendirian. "Kenapa aku di sini?"
"Maaf, aku yang membawamu." Pria bersurai pirang itu duduk di samping Sehun. Ia mengambil gelas berisi susu vanilla yang berada di atas meja kerja di samping sofa. Lalu menyodorkannya tepat di depan mulut kecil Sehun yang baru saja melahap obat ogah-ogahan. "Seingatku kau lebih suka susu strawberry, tapi aku hanya punya ini."
Sehun tak langsung menerima kebaikan Kris. Ia berfikir lebih dulu. Sementara tangan Kris mulai pegal menahan gelas di tangannya, Sehun malah menimang terlalu lama. Kris jadi salah tingkah. Ia sadar ia salah bicara tadi. Bagaimana jika Sehun berfikir ia stalkernya? "Eumm, mungkin sebelumnya aku kasar padamu. Tapi aku tak pernah berniat meracuni siapapun."
Sehun menatap tepat ke arah mata elang Kris sambil menggigit bibir –ragu-ragu. "Umm.."
"Minumlah." Kata Kris seraya mengangguk.
"Terima kasih, hyung."
Tak jadi persoalan bagaimana mudahnya bagi pria Wu itu mengetahui kebiasaan dan hal-hal yang disukai Sehun. Ia punya banyak koneksi. Maklum, Kris itu 'kan populer. Ini juga merupakan alasan ia meminta pindah ke rumah tepat di samping rumah Sehun.
Tapi ini yang terpenting; Kris musti tahu perasaan Sehun.
Walau punya persediaan 'kesabaran' seumur hidup, Kris tidak payah. Ia tentu ingin menjalani kehidupannya dibarengi kepastian. Yang biasa ia temui dari diri Sehun itu hanya sebuah kebaikan. Tanpa cacat. Sementara kebanyakan pria bertingkat kepercayaan diri luhur macam Kim Jongin menyikapi tindakan Sehun sebagai perasaan suka-sama-suka. Hah! Kris tak sudi dibodohi. Ia yakin Sehun itu tak mungkin menyukainya –wajar saja. Ia juga sudah menyerah.
"Masih pusing?"
Sehun menggeleng kecil tanpa berani melihat wajah Kris. Ia menunduk. Tangan kurusnya memelintir seragamnya.
Melihat itu, Kris tahu bahwa Sehun ketakutan. Ia jadi tak enak. Di samping sudah ia bawa tanpa sepengetahuannya –atau kasarnya sudah ia culik. Sebelum ini, Kris sering kali bersikap agak keras pada Sehun.
"Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan."
Sehun akhirnya menoleh, "Ne?"
"Kau ingin tahu kenapa aku membawamu,'kan? Tak perlu takut. Kau berhak menanyakan alasanku."
"Tidak. Bukan seperti itu." Sehun menunduk lagi. "Yang ingin aku tahu hanya, apa luka hyung sudah sembuh?"
Kris terkesima, mata tajamnya membelalak. Harusnya Kris sudah mengenal Sehun. Tapi –tapi sepolos itukah Sehun? Bukannya bersikap waspada, Sehun justru lebih mengkhawatirkan orang lain. "Sudah kukatakan jangan bersikap bodoh, Sehun!"
"Oh Sehun tidak bodoh, hyung." Kilahnya. "Hyung bisa cek nilai-nilai raport terakhirku."
Kris menghela nafas. "Baiklah, terserah padamu. Tapi aku minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?"
Kris mendadak segan untuk menjawab.
Haruskah ia menjawab; maaf karena sudah membawanya ke ruangan OSIS ini?
Tidak-tidak!
Harga dirinya masih sejuta kali lebih mahal.
Tapi jika boleh jujur, Kris melakukan itu karena berniat meminta –mendesak– Sehun untuk memilih. Diantara sekian banyak pria populer yang menyukainya, siapa diantara mereka yang benar-benar Sehun suka dan bersedia ia jadikan pacar. Memang benar, Kris itu konyol. Ia juga tak menyangka mencintai seseorang akan memaksanya bertindak tanpa alasan jelas. Tidak begitu penting jika difikir secara rasional, tapi Kris muak jika harus terus melihat Sehun menebar perhatian. Lebih muak lagi menyaksikan orang-orang bisa dengan mudahnya berhasil Sehun bodohi.
Diam-diam Kris mengeluarkan dan melirik benda persegi putih dari dalam saku celana. Delapan belas panggilan tak terjawab dari Kim Jongin tertera di layar ponsel yang sesaat lalu ia rampas dari Sehun.
...
La'Purple Rose
...
Tabiat tak mungkin dirubah. Dibawa pada situasi seperti apapun, Chanyeol pasti bersikap abnormal.
Rutinitasnya menguntit Sehun hari itu berjalan seperti biasa. Chanyeol menyaksikan dari kejauhan waktu Sehun menolak mencium pipi Luhan. Ada yang aneh, pikirnya. Maka selepas kepergian Sehun melewati gerbang sekolah, Chanyeol menyapa Luhan untuk kedua kali.
"Ah, kau pasti orang aneh yang dibicarakan Sehun itu." Kelakar Luhan menyebalkan, membuat Chanyeol berdecak jengkel. "Jadi, tempo hari kau berniat untuk apa?"
Persimpangan imajiner di dahi Chanyeol tercetak jelas mendengarnya, pupus sudah niat sopannya untuk bertanya perihal keadaan Sehun. Seandainya Luhan bukan orang kecil, kemungkinan besar ia sudah menghajarnya habis-habisan. Beruntung mood Chanyeol sedang agak baik hari itu. Ia menghadiahi Luhan hanya dengan pandangan bertelepati 'pendek', namun mematikan. Setelah itu, barulah ia berbalik dan berjalan menuju sekolah.
Waktu pelajaran kedua hampir usai, Chanyeol tak sengaja melirik ke luar jendela. Dan di sana, melewati lapangan, Jongin tengah memapah Sehun menuju ruang kesehatan. Benar mengenai firasatnya, Sehun tidak sedang baik-baik saja.
Maka saat istirahat tiba ia bergegas untuk melihat. Sebelum mencapai ruang perpustakaan yang tepat bersebelahan dengan UKS, dari kejauhan Chanyeol mendapati Kris keluar dari sana. Kris tidak sendiri, ia memangku seseorang di lengannya. Chanyeol tak tahu siapa yang dibawa oleh Kris. Merasa bukan menjadi urusannya, Chanyeol pun mengabaikan hal itu. Tapi ruang kesehatan tak sedang dihuni siapapun begitu ia memasukinya. Tak ada penjaga, tak ada perawat, bahkan Sehun tak berada di sana.
"Apa mungkin...?"
...
La'Purple Rose
...
Sehun menukikkan alisnya lantaran bingung. Ia menoleh dan melirik Kris. "Pendapat apanya?"
Kris berdehem. Ia mengarahkan telunjuknya. "Kau lihat itu siapa?" Sehun mengangguk. "Nah, menurutmu kenapa Jongin sampai melakukan itu?"
Sehun bingung harus jawab apa. Memangnya dengan mengacaukan satu sekolah ini, Jongin akan menemukannya? Zitao juga. Dari ruangan gedung paling atas ini Sehun melihat, si pemilik Candy itu berperangai layaknya preman yang sedang memalaki rakyat.
"Kau tidak tahu?" Kris berusaha menekan nada bicaranya. Gemas sih gemas, tapi Sehun itu bayi. Kris tak mau sampai Sehun menangis.
Sehun mengibaskan tangannya di depan wajah Kris, tanpa meliriknya. "Tidak, Tidak! Aku tahu, hyung."
"Lalu, apa?"
"Mereka ingin menemukanku." Kepala Sehun mengangguk-ngangguk.
"Kau tak merasakan apa-apa?"
"Huh?"
"Aku tanya, apa kau merasakan sesuatu?"
"Mmm.. Ah iya, masih sedikit pusing."
Kris bodoh jika bertanya mengenai asmara pada Sehun. "Berapa sih umurmu?"
"Enam belas, hyung."
Kris menelan ludah. Beruntung ia sudah menyerah duluan. Jika tidak, ia rasa akan mati di tempat. Ironi semacam ini merupakan sesuatu yang langka. Sayangnya, ini bukan di film. Ia tak berani mengotori Sehun.
"Begini saja." Kris berjalan kembali menuju sofa. Ia mengorek tas ranselnya, kemudian diraihnya laptop besar yang sering ia gunakan untuk mengurus rincian kegiatan-kegiatan sekolah. "Sehun, kemarilah."
"Ada apa, hyung?" Sehun duduk di samping Kris sambil berusaha melihat dan memahami apa yang tengah Kris lakukan dengan laptopnya.
"Kau lihat?"
Sehun mengangguk, "Hmm.." Gambar Kim Jongin bersama anjing-anjingnya sedang berpose sedemikian rupa di atas ranjang terlihat begitu lucu, dan.. Jongin tampan sekali.
"Dan bacalah komentar-komentar di bawah."
'Kyaa.. Kai, Saranghae!'
'Uahhh, keren! Jongin anak berandalan itu ternyata... ho ho ho, cinta deh'
'Gimana bisa, Jong? Shit, aku kalah ama dia'
'Pangeran dari mana tuh? No. HPnya boleh dong."
'Awesome!'
'Kencan besok, ya?'
Air muka Sehun berubah masam. Kris tersenyum miring melihatnya. Karena ini berarti Sehun menyukai Jongin, ia rasa tak perlu mengetes lebih dari itu.
"Cemburu?"
"Eh?"
"Sudahlah, Sehun. Kau menyukai Jongin, 'kan?"
"Ne.." Jujur Sehun. Ia menghela nafasnya.
"Kau bisa mengatakannya setelah ini. Jika tidak secepatnya, kau akan keduluan mereka. Lihat? Banyak yang menginginkannya di luar sana."
"Iya, akan aku katakan nanti."
Tatapan Kris berubah menyelidik. Terdengarnya seperti Sehun mengerti dari apa yang tidak ia maksudkan. Kebanyakan orang normal akan bereaksi seperti; terkejut, memerah, atau 'kyaaaaa' atau malah diam saja. Bukan berarti Kris menganggap Sehun aneh. Tapi akan lebih wajar jika seandainya Sehun bertingkah demikian jika benar-benar ia menyukai Jongin, memerah dan malu-malu. Membayangkannya saja sudah memancing emosi laki-laki Kris, apalagi jika terealisasikan di depan matanya langsung?
"Arggghhhh! Kau itu kenapa sih? Please Sehun, perhatikan sekelilingmu baik-baik! Apa kau tak kasihan pada mereka?! Apa kau tak kasihan padaku?! Hah? Bicara yang jujur Sehun, bilang padaku sekarang!" Kris menutup laptopnya dengan kasar, menyimpan dengan sedikit melemparnya ke atas meja kerja para pengurus organisasi. Kris mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kemudian menatap mata Sehun yang tahu-tahu sudah basah karena menangis. Kris mendadak dibuat gugup. Terlebih saat mengusap mata, tangan Sehun gemetaran.
Hah, Kris tak berfikir akan seperti ini.
Ia harus mengakhirinya sekarang juga. Sebab, percuma saja. Sehun tidak sepeka itu untuk mengerti.
Kris mengambil ponsel Sehun dari saku celananya. Ia tak menghiraukan rengekan Sehun ketika pria manis itu mengetahui bahwa yang dipengang Kris merupakan barang miliknya. Kris mengutak-atik ponsel tersebut. Ia menghubungi Jongin, Luhan, dan Zitao supaya datang ke tempat itu secepat mungkin. Kris berniat memaksa Sehun untuk memilih hari itu juga.
Namun tiba-tiba..
Brak!
Baik Kris maupun Sehun terlonjak mendengarnya. Mereka menoleh, bersamaan dengan Chanyeol yang menyeret langkahnya begitu cepat ke arah Kris. Tanpa aba-aba pukulan telak dilayangkan Chanyeol ke pipi kiri Kris begitu saja. Kris tersungkur di lantai. Ia menatap nyalang ke arah Chanyeol sambil memegangi pipinya.
"Kau melakukan apa pada Sehun, sialan?"
"Excuse me?"
To be Continued..
...
La'Purple Rose
...
(Muncul di permukaan berkat mandat dari kak Rain)
Please, timpuk saya pake sendal jepit kalian!
Sumpah ini demi apa, jelek banget! Alur aneh apa ini? Udah updatenya telat, chap gk mutu, konflik gk jelas.
Maafkan saya reader, maafkan saya...
Maafkan saya juga kak Rain, udah percaya bilang saya author senior tapi malah gini hasilnya. :'( Ini membuktikan bahwa yang kak Rain bilang itu TIDAK BENAR!
Nah, silahkan author selanjutnya untuk bertanggung jawab atas apa yang saya buat ini. Kak Nell, monggo dilajeng.. virus WB saya masih bersarang jadi maklum aja ya kalau ujung-ujungnya nyusahin?
Guna membuat author terakhir ini semangat, saya berharap banyak atas review kalian. Gomawo..
March 19th, 2015
