Brak!

Baik Kris maupun Sehun terlonjak mendengarnya. Mereka menoleh, bersamaan dengan Chanyeol yang menyeret langkahnya begitu cepat ke arah Kris. Tanpa aba-aba pukulan telak dilayangkan Chanyeol ke pipi kiri Kris begitu saja. Kris tersungkur di lantai. Ia menatap ke arah Chanyeol sambil memegangi pipinya.

"Kau melakukan apa pada Sehun, sialan?"

"Excuse me?"


.

.

Pecinta Uke Sehun (Peci Usun) / Uke Sehun Lovers

Presents

MENGEJAR CINTA SEHUN

Author: Nelicious

.

Romance fanfiction

Standard disclaimer and warning applied

.

.

.


Suasana menjadi hening di ruang OSIS tersebut. Hanya terdengar napas Chanyeol yang berat di antara keheningan tersebut. Sebelum Sehun hampir menjerit ketika Chanyeol tiba-tiba saja menarik seragam Kris dengan kasar.

"Kau ketua OSIS tidak bermoral! Beraninya kau menyekap Sehun seperti ini?!"

"Haa?!" Kris menautkan alisnya, mulai mengerti kesalahpahaman yang terjadi. Tubuhnya tersentak ketika Chanyeol menariknya berdiri. Tubuh mereka tidak berbeda jauh, pantas saja anak ini bisa menariknya begitu mudah.

"Akan kulaporkan kejadian ini pada kepala sekolah! Ingat itu!"

"Dengar ya!"

"Tidak! Kau yang mendengarkan! Meskipun kau ini ketua OSIS atau presiden sekalipun, aku tidak peduli. Orang yang berani melecehkan Sehun pantas mendapatkan ganjarannya!"

"U-uhm..." Chanyeol mendengar gumaman Sehun yang terdengar ragu untuk menyela. Pandangannya beralih menatap sosok manis yang tengah berdiri menatapnya dengan ragu.

"Sehun... kau tidak apa-apa? Apa saja yang sudah dilakukan orang itu padamu?" tanyanya dengan serius. Tapi yang ditanya hanya diam mematung sambil mengatupkan tangan di dada.

"H-hyung... kurasa kau harus minta maaf pada Kris-hyung..."

Perkataan itu membuat alis Chanyeol naik, bingung. "Kau tidak perlu berbelas kasihan pada orang ini, Sehun!"

"Tapi... Kris-hyung tidak melakukan apapun... hanya memberiku obat. Dan yah... dia memang mengejekku bodoh, tapi kurasa itu bukan hal yang harus dibalas dengan pukulan, hyung!"

Chanyeol berkedip.

Sekali...

Dua kali...

Tiga ka─

"EEEEHH?!" cengkeramannya pada kerah kemeja Kris melonggar perlahan dan melepaskannya dengan cepat. Tatapannya kembali pada si ketua OSIS itu dengan bersalah. "M-maafkan aku!" ujarnya seraya membungkukkan badan dengan cepat. Aiish, dia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Sehun.

Dan memukul ketua OSIS? Oh itu pelanggaran yang luar biasa, Park Chanyeol! Bisa-bisa dia mendapat surat panggilan untuk orang tuanya!

"Sebaiknya kau gunakan otakmu untuk mencerna situasi, bukannya memakai instingmu dan bertindak sembarangan!"

Chanyeol marah mendengar itu, tentu saja. Dia menegakkan punggungnya dan hanya bisa menatap Kris dengan decihan pelan, tidak berani membalas. Oh ayolah, dia baru saja memukul Kris. Jika Kris melaporkannya pada kesiswaan, itu bisa gawat.

Pintu sekali lagi menjeblak terbuka, tapi kali lebih keras karena di dorong oleh dua orang. Dan dua namja dengan warna kulit hampir senada itu terlihat berantakan sekali dengan nafas ngos-ngosan.

"Sehun-ah, oh syukurlah kau baik-baik saja!" Jongin yang pertama menyela masuk mendekati Sehun. "Masih sakit? Kenapa kau ada disini? Kau baik-baik saja kan? Apa yang dilakukan dua orang itu padamu?"

Oh lihat, pertanyaan Jongin hampir mirip dengan Chanyeol.

"Tidak apa-apa, hyung. Kris-hyung sudah memberiku obat. Tapi rasanya masih pusing dan lemas," jawab Sehun ringan. Dan setelah itu, sebuah tangan besar langsung menyentuh dahinya, terasa dingin. Atau mungkinkah suhu tubuhnya yang panas jadi telapak tangan itu terasa dingin di dahinya. Dan rasanya nyaman... ah, Sehun jadi ingin berguling di lantai karna panas tubuhnya ini.

"Masih panas. Sebaiknya kau pulang saja, ne?"

Dia hanya mengangguk lemah, mengiyakan saja perkataan Jongin. Lagipula, walaupun dia tetap berada di sekolah, dia hanya akan terbaring lemas di UKS.

"Ayo!"

"Eh?" Sehun memiringkan kepalanya bingung ketika melihat Jongin justru berjongkok di hadapannya.

"Kau masih pusing kan? Aku tidak mau kau pingsan, oke?"

Yang Sehun lihat setelah itu adalah sebuah senyuman hangat... seperti bunga matahari di musim panas. Mengangguk singkat, dia menurut untuk naik ke gendongan Jongin. Tangannya merangkul ke pundak Jongin ketika merasakan namja tan itu mulai berdiri.

"Biar aku saja yang akan mengurus surat izinnya!" sahut Kris kalem seraya membenarkan seragamnya yang tadi di cengkeram oleh Chanyeol.

"Aku akan membereskan tas Hunshine!" Tao menyahut cepat.

"Ya. Aku tunggu di gerbang!" balas Jongin seraya membenarkan posisi Sehun di punggungnya.

Dan setelah itu semuanya mulai melakukan tugas masing-masing, meninggalkan Chanyeol yang masih mematung di tempat.

"Uhh, tunggu Jongin-hyung!" ujar Sehun cepat membuat Jongin menghentikan langkahnya. Sehun menoleh ke belakang dengan cepat, memberikan sebuah senyuman paling tulusnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Chanyeol-hyung!"

Dan setelah itu pintu ruang OSIS tertutup, tidak ada yang melihat bagaimana merahnya wajah Chanyeol saat ini.

.

.

.

Suara langkah kaki yang menggema di koridor...

Suara hembusan nafas halus di telinganya...

Detak jantungnya yang berubah cepat merasakan punggungnya yang menempel dengan dada Sehun.

"Uhmm... Luhan-hyung..."

Dan Jongin tersentak dari khayalannya. Mendengar igauan Sehun tadi, membuatnya menghela napas panjang. Bahkan disaat seperti inipun, yang dipikirkan Sehun hanyalah Luhan ya? Belakangan dia tahu seberapa dekat Sehun dengan Luhan. Teman masa kecil ya? Sepertinya akan sulit menjelaskan perasaannya pada Sehun.

"Uhh... hyung, pusing..."

"Iya, iya... sabarlah... tidur saja lagi!" jawab Jongin ketika mendengar rajukan Sehun sekali lagi. Berhenti sebentar, dia kembali membenarkan posisi Sehun yang agak melorot di gendongannya sebelum melanjutkan jalannya dengan langkah pelan.

Apa dia harus mengantar Sehun dengan motor? Tapi kalau Sehun ketiduran dan jatuh bagaimana? Atau dia harus menggendong Sehun sampai halte bus terdekat? Uhh... mungkin punggungnya akan mati rasa nanti malam. Tapi dia tidak bisa membiarkan Sehun pulang sendirian.

Jongin sekali lagi tersadar dari pikiran-pikirannya ketika mendengar sebuah kekehan halus yang terdengar dekat dengan telinganya.

"Ada apa, Sehun-ah?" tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa, hyung. Hanya saja... aku jadi teringat, sudah lama sekali aku tidak digendong seperti ini," jawab Sehun dan Jongin bisa merasakan dagu Sehun yang kini menyangga di pundaknya. "Padahal dulu aku sering sekali digendong seperti ini oleh Luhan-hyung. Tapi sekarang Luhan-hyung bahkan lebih pendek dariku, dia tidak akan bisa menggendongku lagi."

Jongin hanya diam, tidak menanggapi kali ini. Bagaimanapun, topik seperti ini adalah yang paling dia hindari. Dia bukan masokis yang senang ketika merasa sakit hati karena orang yang dia suka malah membicarakan orang lain disaat berduaan seperti ini.

Yah... mungkin kenangan yang dibuat Sehun dengan Luhan lebih banyak dibandingkan dengan dirinya. Rasanya Luhan itu seperti musuh yang mustahil dia kalahkan ya? Sehun bahkan hanya ingat pertemuan pertama mereka ketika dia membantu Sehun membawakan buku ke perpustakaan. Padahal... dia sudah mengenal Sehun ketika upacara penerimaan siswa baru. Dia ingat sekali!

Perpustakaan...

Bau apak buku-buku di lemari...

Jendela yang sedikit terbuka...

Dengkuran nafas halus seseorang...

"Mungkin..." mulainya membuka suara. "... aku bisa menggantikan Luhan untuk menggendongmu, Sehun-ah."

"E-eh? Tidak usah, hyung! Aku berat. Hyung pasti capek!"

Mana bisa!

Mana bisa dia diam saja ketika ada peluang bagus untuk menjadi dekat dengan Sehun.

.

.

.

Zitao menyusul tepat sebelum dia sampai di halaman depan. Membawa tas Sehun dengan langkah terburu-buru. Tapi langkah keduanya terhenti, sebenarnya hanya langkah Jongin yang terhenti, Zitao hanya ikut berhenti dan kebingungan.

Apalagi ketika tatapan Jongin tertuju ke gerbang sekolah. Disana... seseorang tengah berdebat kecil dengan satpam sekolah.

"Sehun!" teriakan keras itu membuat keduanya mau tak mau kembali melanjutkan jalannya.

Luhan menghampiri dengan tatapan khawatir. Dan diimbuhi serentetan pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan kekhawatiran itu pada Sehun yang hanya bisa tersenyum lemah di gendongan Jongin.

Dan pada akhirnya... Jongin dan Zitao yang berdiri di gerbang hanya menghela nafas sambil melambaikan tangan lemah pada mobil yang berlalu membawa Sehun untuk pulang.

Kalah telak!

"Oey, sunbae! Kau tidak masuk?" tanya Zitao.

Jongin melirik sebentar, sebelum tatapannya beralih menatap sebuah daun berwarna kecokelatan yang terjatuh, sebeluh hembusan angin yang terasa kering menerbangkan dedaunan itu. Huh, sudah hampir satu tahun ya?

.

.

.

Tahun ajaran baru saat itu...

Jongin menguap sekali sambil mengibas-ngibaskan kelopak bunga yang jatuh ke rambutnya. Matanya melirik malas pada siswa-siswi baru yang terlihat antusias di hari pertama sekolah. Hari yang dibencinya sebenarnya.

Penuh dengan warna pink yang bikin sakit mata, penuh keceriaan yang bikin sakit kepala, dan penuh dengan wajah-wajah baru yang membuatnya pusing.

Kalau bisa sih, dia masih ingin tidur lebih lama di kasurnya.

"M-mianhae..."

Seseorang menubruknya dari belakang. Dia hanya menoleh sedikit dengan tatapan malasnya. Mendapati seorang namja dengan seragam yang tidak terpasang rapih tengah menggendong seekor kucing di kedua lengannya. Rambutnya acak-acakan, dasinya tidak terpasang dengan benar dan kemejanya tidak dimasukkan dengan rapih ke celana. Dasar! Anak baru tapi semrawut begini!

Jongin bisa melihat sebuah kantung mata hitam yang samar, sepertinya anak itu kurang tidur. Yah, murid baru biasanya tidak akan bisa tidur di malam sebelum hari pertama masuk sekolah. Dia juga pernah mengalami itu sebenarnya.

Namja itu terlihat bergerak gelisah, mungkin risih karena dia memandangnya dari atas hingga ke bawah. Sebelum sekali lagi namja dengan kulit putih bersih itu membungkukkan badannya meminta maaf dan berlalu mendahuluinya.

"Kau tidak boleh membawa masuk hewan ke sekolah!" ujarnya cukup keras di dengar namja itu, sebelum menguap sekali lagi. Namja itu berhenti dan terlihat tegang.

"Eh? Tidak boleh ya?"

Dia hanya diam, melihat bagaimana ekspresi itu berubah sedih dan terlihat berpikir sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk sebelum berjongkok dan melepaskan kucing yang sedari tadi didekap erat itu.

"Uhm... maaf ya aku tidak bisa membawamu masuk," ujar namja milky skin itu terlihat menyesal. "Jangan bermain di jalan lagi atau kau akan tertabrak lagi!"

Kucing putih itu hanya mengeong sekali terlihat menikmati sentuhan lembut si namja milky skin di kepalanya.

Jongin mengangkat sudut-sudut bibirnya melihat itu. Dia tidak akan bilang hal itu sangat konyol. Karena dia juga sering melakukannya. Hey, dia juga punya peliharaan, kau tahu? Dan dia senang ketika melihat ada suasana hangat tak kasat mata yang menguar dari si namja milky skin dan si kucing.

Bel terdengar berdentang nyaring. Murid-murid yang masih berada di luar sekolah mulai berlari cepat sebelum gerbang ditutup.

"Ah, sudah masuk! Sampai jumpa! Maaf aku tidak bisa memeliharamu!" namja itu bangkit berdiri, dan terlihat berat untuk meninggalkan si kucing, tapi meskipun begitu langsung berbalik dan berlari pergi.

Jongin hanya memandang punggung yang semakin menjauh itu, diantara hujan kelopak merah muda bunga khas musim semi sakura.

Matanya kembali menunduk kebawah, melihat si kucing kini balik menatap kearahnya juga dengan mata kuning berbinar terang sinar matahari.

"Jangan merajuk padaku! Aku lebih suka anak anjing!" sahutnya sebelum kembali menyampirkan tasnya dan berlalu pergi.

.

.

Kerjaan Jongin ketika istirahat itu, pergi ke kantin membeli roti isi atau makanan lain. Dan jika masih ada waktu sebelum bel masuk berbunyi, dia akan menyelinap ke UKS lalu tertidur. Kebiasaan buruk karena tidur setelah makan. Tolong jangan ditiru!

Tapi sial hari ini UKS masih dikunci entah petugasnya kemana. Dia sudah hampir mati bete rasanya. Dan opsi terakhirnya, perpustakaan. Masih ada novel yang belum sempat dia baca disana. Akhirnya kakinya kini membawanya memasuki area perpustakaan.

Bau apak buku langsung tercium di hidungnya begitu dia melangkah masuk di tempatnya para kutu buku itu. Dia mengambil sebuah novel Sherlock Holmes yang belum sempat dibacanya dan membawanya mencari tempat untuk membaca.

Tak diduga, ruang baca cukup sepi ternyata. Hanya ada beberapa orang saja yang sibuk dengan buku masing-masing.

Dan tempat favoritnya di samping jendela paling ujung sudah dicuri oleh orang lain.

Dahinya mengernyit melihat namja itu justru tertidur dengan lelap. Dia melangkah mendekat, berniat mengusir paksa. Dan lihat apa yang namja itu lakukan, membiarkan jendelanya terbuka seperti itu.

Gorden putih tipis berpendar menjadi kekuningan karena sinar mentari kini terlihat melambai-lambai tertiup angin, membiarkan hujan kelopak sakura memasuki ruangan. Bukannya mengusir namja itu sesuai niatnya, Jongin hanya berdiri diam di sana. Memperhatikan bagaimana kulit putih itu terlihat menyatu indah dengan sinar matahari dan sakura yang pink merona yang menelusup masuk melalui celah jendela.

Rambut cokelat itu tertiup hembusan angin yang lembut, membuat poni itu justru jatuh ke mata yang masih terpejam, terlihat berbaur dengan bulu matanya yang terlihat panjang. Entah ini hanya ilusinya saja, atau memang ini jauh lebih indah dari semua hal indah yang pernah dilihatnya.

Pada akhirnya, Jongin justru mengabaikan novel yang tadi diambilnya dan kini hanya duduk diam di samping namja itu. Sambil menyangga dagunya, dia menikmati bagaimana wajah damai itu terlihat jelas di hadapannya. Menampilkan sebuah senyum simpul ketika mendengar hembusan nafas teratur dari namja yang tadi pagi ditemuinya itu.

Dan sudah Jongin tetapkan, cintanya mekar dengan indah di musim semi. Terasa menenangkan dan manis...

.

.

.

Jongin tersenyum simpul mengingat kejadian itu. Sebenarnya Sehun itu bukan hanya seperti musim semi. Tapi Sehun itu bagaikan semua musim.

Sehun selalu tersenyum cerah seperti cerahnya sinar matahari di musim panas, rambut cokelatnya terlihat anggun seperti daun-daun berwarna kecokelatan yang berjatuhan ke tanah di musim gugur, kulitnya putih bersih seperti salju di musim dingin, dan rona merah muda di pipinya setiap kali tersenyum manis itu terlihat seperti bunga sakura yang mekar di musim semi.

Itulah Sehun... itulah namja yang dicintainya... semakin dia mengenal Sehun, semakin dia jatuh semakin dalam pada pesona cantik namja bermarga Oh itu.

Tapi saingan terberatnya adalah teman masa kecil Sehun. Tapi sepertinya belum ada yang bertindak terang-terangan dan menyatakan cinta pada Sehun. Yah... Sehun itu polos, seperti kanvas putih kosong tanpa noda dimana para seniman akan ragu untuk mulai menggoreskan kuas diatasnya.

Siapapun akan ragu untuk mengubah pola pikir Sehun yang polos itu. Tapi mungkin jika dia berani mengambil tindakan pertama, dia akan memiliki kesempatan. Lagipula kalau boleh pede, dia lumayan dekat dengan Sehun. Mungkin juga Sehun punya perasaan yang sama dengannya.

Siapapun yang mengambil tindakan pertama, dialah yang akan mendapatkan Oh Sehun.

.

.

.

"Luhan-hyung..."

"Hmm...?" gumam Luhan singkat masih fokus untuk menyetir.

"Apakah ada definisi lain dari kata 'suka'?"

"Huh? Apa maksudmu? Suka ya suka..." jawabnya lagi sambil mengerutkan dahi, Sehun tiba-tiba bertanya seperti ini. Kenapa tiba-tiba?

"Kris-hyung tadi bertanya padaku apakah aku menyukai Jongin-hyung?"

"MWO?!" syoknya hampir saja membanting kemudi. "Lalu... Sehunnie jawab apa?" tanyanya penasaran.

"Tentu saja aku jawab kalau kau menyukai Jongin-hyung. Aku kan tidak mebencinya!"

Luhan menghela napas lega dan melirik ke samping, melihat Sehun yang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dan memandang ke jalanan yang terlihat kabur. Sepertinya definisi 'suka' ini sebagai orang yang tidak dibenci oleh Sehun seperti biasa. Tapi belakangan Sehun jadi agak berubah menurutnya.

Luhan meremas kemudi dengan erat dan menelan ludahnya gugup. Detak jantungnya semakin meningkat di setiap tarikan nafasnya. "Sehun..." panggilnya berusaha menarik perhatian Sehun kearahnya.

Sehun hanya mengangkat wajah dan menatapnya dengan tatapan sayu nan lemas, sepertinya pengaruh dari demam.

"Aku menyukai─ah, tidak! Oh Sehun... aku mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku?"

.

.

.

.

.

Jongin berlari ke gerbang sekolah dengan cepat. Hari ini dia tidak bawa motor dan sialnya lagi dia malah kesiangan. Ini akan jadi hari yang besar baginya, jadi mungkin sepulang sekolah nanti dia akan kencan dengan Sehun, jadi dia memilih untuk tidak membawa motor. Lagipula naik bus itu lebih romantis. Haha...

Dia berhenti berlari ketika melihat Sehun tengah berdiri di gerbang sekolah sendirian. Sepertinya baru diantar juga. Senyumnya melebar sebelum kembali melangkah mendekati Sehun.

"Sehun!" panggilnya dan melihat Sehun menengok kearahnya. Dia senang melihat bagaimana senyum Sehun mengembang dan melambai ke arahnya. Tapi kemudian dia mengernyit bingung ketika senyum Sehun tiba-tiba luntur dan lambaian Sehun tiba-tiba terhenti menggantung di udara. Eh, kenapa?

"M-maaf hyung! Aku tidak bisa dekat-dekat denganmu lagi!" itu jawaban dari Sehun sebelum anak itu berbalik dan berlari meninggalkannya. Jongin hanya terpaku disana, menatap punggung Sehun yang semakin menjauh darinya.

Lho? Kenapa tiba-tiba?

.

.

.

Seharian ini Sehun terus menghindarinya. Dia temui di kelas, Sehun tidak ada. Ketika berpapasan di koridor, Sehun langsung berbalik pergi. Dan sepertinya Sehun bukan hanya menghindarinya. Tapi juga menghindari Zitao dan Chanyeol. Gelagat Sehun juga terlihat sama pada dua orang itu.

Ada apa dengan Sehun?

Apa anak itu sedang merajuk lagi atau ada sesuatu yang lain?

Pilihan terakhirnya, 10 menit sebelum bel pulang berbunyi, dia keluar dari sekolah dengan melompati pagar belakang. Untung saja tidak ada yang melihat. Dia harus pergi ke suatu tempat dulu. Ini perjuangan, kau tahu? Jangan menyerah mendapatkan cintamu meskipun lawanmu itu bagaikan seorang ketua mafia.

Itu prinsip Jongin!

.

.

.

Entah kenapa hari ini Jongin terus saja dibuat berlari. Ketika berangkat sekolah kesiangan, ketika membolos pelajaran terakhir hanya untuk pergi ke sebuah kafe. Dan sekarang harus kembali lagi ke sekolah dikejar oleh waktu, tidak boleh terlambat atau Sehun akan pulang duluan.

Dan meskipun dengan penampilan berantakah penuh keringat dan nafas memburu, dia tersenyum lega ketika melihat Sehun berjalan keluar sendirian. Ah, syukurlaah...

"Sehun-ah!" panggilnya seraya menyodorkan satu cup bubble tea di depan wajahnya.

"Bubble~"

Rona ceria itu kembali pada wajah Sehun. Jongin senang bisa melihat ekspresi seperti itu lagi. Pada akhirnya hanya segelas minuman tidak sehat inilah yang bisa memancing Sehun.

Dan sebelum tangan putih itu merebut bubble tea dari tangannya, dia segera menarik kembali tangannya dan menyembunyikan bubble tea-nya di punggung.

"Eeeeh? Kok tidak diberikan padaku, hyung?"

Jongin hampir tertawa keras ketika melihat ekspresi Sehun berubah cemberut. Lihat bagaimana tangan-tangan putih itu meremas seragam yang dipakai dengan kesal.

"Kau mau ini?" tanyanya dengan nada jahil.

"Uhm!" yang dijawab dengan anggukan antusias dari si namja milky skin itu. Dari awal Jongin memang tahu, dia tidak akan bertahan kuat jika menghadapi tatapan seperti anak anjing yang ingin dipungut itu.

"Tapi ada syaratnya!" ujarnya seraya mengacungkan telunjuknya.

"Apa? Apa? Apa? Beritahu aku, hyung!" tanya Sehun penasaran, tidak melihat tatapan licik yang Jongin sembunyikan.

Huh, misi berhasil!

.

.

.

Pada akhirnya mereka disini, duduk berdua di bangku taman terdekat. Jongin sama sekali tidak mengindahkan suara seruputan Sehun yang terlalu keras. Dia hanya menunggu... menunggu Sehun untuk mulai bercerita.

Dan dia bisa mulai melihat gelagat keraguan dari Sehun.

"Uhm... Luhan-hyung bilang, aku tidak boleh dekat dengan Jongin-hyung, Zitao, ataupun yang lainnya lagi!"

Jujur saja, Jongin merasa kaget mendengar perkataan Sehun itu. "Luhan? Kenapa dia bilang begitu? Dia tidak berhak mengatur hidupmu, Sehun-ah!" ujarnya menyuarakan protesnya.

"Luhan-hyung bilang, dia mencintaiku."

Sehun hanya menunduk, menatap pada gelas plastik bubble tea yang sudah kosong di pangkuannya, tidak melihat bagaimana Jongin tersentak dan melebarkan matanya.

"Dia bilang kalau selama ini dia selalu mencintaiku..." lanjut Sehun, seraya memainkan jemarinya di gelas plastik itu. "Aku bingung. Aku menyukai Luhan-hyung, Jongin-hyung, dan semuanya! Kalian selalu baik padaku..."

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara desiran angin yang terasa dingin, menyapu dedaunan berwarna cokelat yang menumpuk di tanah. Jongin tidak mampu berkata-kata, lidahnya kelu. Entah kenapa dia seolah bisa merasakan sesuatu yang retak di dalam hatinya. Huh... dia keduluan!

"Ketika dia memintaku menjadi pacarnya..." suasana hening itu kembali dipecahkan oleh suara lirih dari Sehun. "Aku hanya bisa mengangguk. Tatapan Luhan-hyung terasa hangat padaku. Luhan-hyung selalu menjadi sosok yang aku kagumi, dia selalu bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan!"

Entah perasaannya saja, atau Jongin memang sekilas melihat bahu Sehun yang bergetar. Dia tidak bisa melihat ekspresi dari Sehun, karena anak itu terus menunduk. Tapi dia tetap diam, menunggu Sehun melanjutkan.

Sehun mulai mengangkat wajahnya, mendongak menatap kumpulan awan-awan yang berarak di langit. "Luhan-hyung bilang selama ini dia selalu merasa menderita ketika melihatku dengan Jongin-hyung..."

Sekarang Jongin mulai mengerti. Jadi inikah akhirnya? Mungkin di awal pun dia sudah kalah dari Luhan. Seharusnya dia sadar lebih awal, karena setelah semua yang dia lalui bersama Sehun, dia harus membuangnya. Setelah inipun, hari-harinya akan kembali seperti sebelum mengenal Sehun, terasa membosankan dan monoton.

"Maaf, hyung... kurasa─"

"Wah, dia itu posesif sekali ya..." katanya pada akhirnya membuka suara. Mengangkat sudut bibirnya secara paksa, menampilkan sebuah senyuman yang biasa dia berikan pada Sehun. Dia meregangkan tubuhnya sekali merasa pegal terus diam sedari tadi lalu menatap ke langit, berusaha agar matanya yang terasa panas menjadi lebih sejuk. "Hanya menjadi sebatas teman pun tidak boleh ya?"

Sehun mengalihkan pandangannya menatap sosok yang duduk di sampingnya itu. Melihat kelopak mata Jongin turun menikmati desir angin semilir yang bermain di rambut hitam itu. Suasana seperti ini, entah kenapa membuatnya tenang, tatapannya tanpa sadar beralih menatap bahu tegap Jongin. Merasakan sebuah desakan, tangannya menggenggam gelas plastik yang sudah kosong itu semakin erat.

Baru saja dia akan menunduk untuk menyandarkan kepalanya di bahu tegap itu─

"Yah... mau bagaimana lagi!"

Jongin bangkit tiba-tiba, masukkan kedua tangannya ke saku celana dan menengok kearahnya sambil tersenyum. "Ini pertemuan terakhir ya?"

Sehun hanya diam masih duduk di bangku taman itu seraya mendongak menatap Jongin yang kini sudah berdiri di hadapannya. Keduanya diam... Jongin yang berdiri sambil menunduk menatap Sehun, dan Sehun yang masih duduk diam sambil mendongak menatap Jongin.

"Sebagai salam perpisahan..."

Semuanya terjadi begitu saja.

Sehun masih diam ketika melihat Jongin yang perlahan menunduk kearahnya semakin dekat, sebelum merasakan sesuatu yang menempel di bibirnya. Sebuah kecupan ringan dari Jongin. Dia hanya bisa melebarkan matanya menatap wajah Jongin yang begitu dekat dengannya.

Ketika itu angin berhembus semakin kencang, menerbangkan dedaunan musim gugur di udara. Dari sudut pandangnya, terlihat seperti kepak sayap puluhan kupu-kupu yang terbang di langit. Seperti perasaan menggelitik menyenangkan yang bisa dia rasakan di perutnya.

Secepat kecupan itu terjadi, secepat pula sentuhan lembut itu berakhir. Sehun hanya mematung disana, bahkan ketika Jongin melambaikan tangan sambil berlalu pergi.

Hari itu di musim gugur, kisah cinta Jongin berakhir dengan menyedihkan.

.

.

.

"Jangan lepaskan syalmu, oke?"

Sehun hanya mengangguk ketika Luhan sibuk melilitkan syal putih itu di lehernya. Dagunya tenggelam oleh tebalnya syal, membuatnya mendengkur nyaman akan rasa hangat itu.

"Jangan keluar sebelum aku bilang sudah sampai depan gerbang ketika pulang nanti. Cuaca hari ini akan sangat dingin, oke?"

Dan lagi-lagi Sehun mengangguk singkat. Pemandangan seperti ini sudah terbiasa terjadi satu bulan belakangan. Menjelang liburan musim dingin, Luhan terlihat semakin protektif menjaga kondisi kesehatan Sehun. Sehun sendiri tidak masalah, dia merasa gatal melihat rintik salju yang berguguran satu demi satu. Di pikirannya sudah tercetus untuk bermain perang bola salju ketika liburan nanti.

Tangannya mencengkeram ujung seragam musim dingin yang dipakainya, ketika sudut matanya menangkap sosok seorang namja yang tengah berjalan malas sambil menguap sesekali itu. Kepalanya semakin menunduk, membuat syal itu menutupi hingga hidungnya. Telinganya sudah tidak menangkap penjelasan yang Luhan berikan lagi.

Menggigit pipi bagian dalamnya ketika dari ekor matanya dia melihat sosok Jongin berlalu begitu saja melewatinya.

"Sehun-ah!"

Sehun tersentak mendengar panggilan yang cukup keras itu. "Eh, iya hyung. Aku paham. Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Sudah ya, sampai nanti!"

Memberikan sebuah kecupan singkat di pipi, Sehun berbalik dan berlalu pergi memasuki sekolah. Lalu mengubah larinya menjadi berjalan pelan ketika melihat Jongin yang berjalan di depannya. Tangannya semakin menggenggam erat tasnya ketika dia mengekor di belakang Jongin, tapi cukup menjaga jarak agar namja tan itu tidak menyadari keberadaannya.

Jongin sendiri tidak bodoh. Dia tahu betul Sehun kini tengah berjalan di belakangnya. Matanya tidak serabun itu untuk tidak melihat keberadaan Sehun dan Luhan di gerbang sekolah tadi. Belum lagi mendengar sapaan beberapa orang yang memanggil Sehun. Sudah cukup untuk membuatnya tahu kini Oh Sehun tengah mengekor di belakangnya.

Yah percuma saja, itu hal wajar karena mereka satu Sekolah ya...?

Oh. Dia lupa belum mengerjakan laporan praktek biologi minggu kemarin. Sial!

Kakinya yang harusnya terus melangkah lurus, kini justru berbelok dan menuju ke ruang klub dance. Ah biar, untuk hari ini saja dia membolos. Lagipula tahun depan dia tidak akan bisa santai lagi.

"Eh? Hyung, kelasnya kan bukan kesana!"

Perkataan spontan itu membuatnya berhenti melangkah. menurunkan tas yang tadi menyampir di bahunya, dia menengok ke belakang. Mendapati Oh Sehun yang kini tengah gelisah dan gugup, sepertinya menyesal karena sudah keceplosan bicara seperti tadi.

"Hmm?" dia menaikkan sebelah alisnya terlihat bertanya-tanya kenapa juga Sehun harus memikirkan kemana dia akan pergi?

"Uhmm... anoo... m-maksudku..." Oh Sehun terlihat seperti stalker yang sudah tertangkap basah.

Jongin tertawa geli dalam hati melihat kelakuan menggemaskan itu.

"A-annyeong!" membungkuk sekilas, Sehun langsung berlari meninggalkannya dengan terburu-buru. Haha... lucu sekali anak itu.

Mengangkat bahu ringan, Jongin kembali melanjutkan langkahnya menuju klub dance.

.

.

.

Liburan musim dingin. Mereka sudah melewati upacara kelulusan. Sehun hanya mengucapkan sebuah kata 'selamat' singkat pada Kris dan Chanyeol yang pada bulan depan sudah akan menjadi seorang mahasiswa.

Waktu berlalu begitu cepat. Dan semua yang sudah Sehun rencanakan untuk liburan ini terpaksa harus dibatalkan. Dia diserang flu berat, karena kemarin nekat keluar rumah karena melihat tumpukan salju yang indah di taman belakang rumahnya.

Achoooo!

Bersin sekali lagi, Sehun kembali berusaha berbaring di kasurnya lagi. Tisue bertebaran dimana-mana penuh dengan ingusnya. Matanya terasa panas dan berat untuk terbuka, tapi ketika dia berbaring dan berusaha tidur, nafasnya justru jadi tersumbat. Flu itu menyebalkan.

Dia bangkit sekali lagi dari kasurnya dan berjalan menuju jendela. Tangannya menempel pada kaca jendela yang kini menampilkan pemandangan musim dingin yang serba putih. Kristal putih yang berjatuhan dari langit yang kelabu. Dia ingin pergi keluar dan bersenang-senang, sungguh! Tapi yang bisa dia lakukan hanya berdiri disini, menatap dari dalam kamarnya.

Ne ne... apa yang sedang dilakukan Jongin saat ini ya? Apa namja itu sedang bersenang-senang diluar sana?

Terdengar ketukan pintu!

"Sehun-ah?"

Dia bisa mendengar suara Luhan dari luar. Oh, Luhan-hyung berkunjung ya? Entah kenapa rasa antusias setiap kali Luhan berkunjung itu perlahan memudar dari hari ke hari.

Berjalan perlahan ke arah pintu, dia membukanya dan mempersilahkan Luhan masuk.

"Kupikir kau tidur. Kenapa tidak istirahat saja?" tanya Luhan.

Sehun kembali duduk di tepi ranjangnya seraya mengambil selembar tisue lagi untuk mengusap hidungnya yang meler lagi.

"Ehehe... saljunya indah, hyung! Aku ingin bermain di luar!"

"Dan kau akan berakhir semakin parah dari sekedar flu."

"Eeeh? Benarkah?"

"Hmm!" Luhan mengangguk cepat. "Hidungmu akan semakin berlendir seperti kran yang mengucurkan air, matamu akan merah bengkak dan melotot, akan sulit untuk berkedip. Lubang hidungmu akan melebar selebar hidung babi!"

"Heee? Tidak mauuu!" Sehun menjerit sambil menutup hidungnya sendiri.

"Makanya, istirahat saja sampai kau sembuh. Tidurlah... ada hyung disini," ajak Luhan seraya menuntunnya untuk kembali berbaring.

"Aku benci musim dingin!" dia merengut seraya menarik selimut hingga sebatas lehernya. Semakin cemberut ketika mendapati Luhan justru menertawakannya.

"Ne... Sehunnie! Kenapa belakangan kau sering melamun?"

Sehun berkedip beberapa kali menatap Luhan, bingung akan pertanyaan tiba-tiba seperti itu. "Uhm... aku tidak─"

"Kau melamun!" potong Luhan cepat. "Ketika kita mengobrol, aku tahu kau tidak mendengarkan. Ketika kau sendirian, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Itu seperti bukanlah Sehun yang aku kenal. Sehun yang aku kenal, dia melakukan apapun yang dia suka, dia tidak akan terlalu memikirkan apapun yang mengganggunya. Yang dia tahu hanyalah bersenang-senang," tutur Luhan seraya mengelus dahinya.

"L-lalu... aku ini siapa hyung? Kalau aku bukan Sehun, apakah aku ini alien yang akan menginvasi bumi?"

Sekali lagi Luhan tertawa, dan jemari yang tadi mengelusnya lembut itu kini menyentil dahinya sekali. Membuatnya mengaduh kecil.

"Sehun merasa senang saat bersama siapa?"

"Oh. Aku senang saat bersama Luhan-hyung, bersama Eomma dan Appa, bersama teman-temanku, lalu saat bersama dengan..." suaranya menghilang ketika pikirannya melayang.

Ada bau kering dari musim gugur...

Suara gemerisik dari ranting kering yang ditinggalkan dedaunan...

Kepak sayap puluhan kupu-kupu kecokelatan...

Angin semilir yang bermain-main di helai rambut...

Kecupan ringan nan manis seperti permen kapas...

"Kau melamun lagi!"

Sehun tersadar dari lamunannya saat sekali lagi sebuah sentilan kecil mendarat di dahinya. Dia kembali menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajahnya, malu ketahuan melamun lagi di hadapan Luhan.

"Ne.. ne... jangan pikirkan hal lain. Meskipun kau terkurung disini, hyung akan selalu menemanimu. Dan tanpa kau sadari, salju akan mencair dan membiarkan kelopak bunga untuk mekar kembali..."

Jadi, apakah Luhan memang harus melepaskan Sehun secepat ini?

.

.

.

Sebelumnya Jongin sangat menantikan tahun ajaran baru. Hari dimana ketika dia berangkat sekolah, akan ada wajah-wajah baru yang penuh antusias, hari dimana semua yang dilihatnya hanyalah ada warna merah muda. Tapi itu sebelumnya, dan sekarang rasanya dia kembali ke sifatnya satu tahun yang lalu. Sungguh rasanya dia hanya ingin kembali bergelung di kasurnya. Rasanya masih mengantuk sekali.

"Jongin-hyuuuuuung~"

Sebuah teriakan melengking yang terdengar familier itu membuatnya membulatkan mata dan berbalik ke belakang. Dimana dia langsung mendapat sebuah tubrukan keras di dadanya membuatnya hampir saja terjungkal ke belakang jika saja kakinya tidak cepat menahan.

"Sehun?"

Jongin menatap syok pada kepala bersurai cokelat yang kini mengusak di dadanya. Tak jauh dari sana, matanya menangkap sosok Luhan yang berjalan mendekati keduanya.

"E-eh, tunggu! Sehun, lepaskan aku!" ujarnya gugup seiring dengan langkah Luhan yang semakin dekat. "Pssst... Sehun-ah, Luhan sedang menuju kemari. Lepaskan aku dulu!"

"Tidak mau!" Sehun justru semakin membenamkan wajah di bahunya. Ya Tuhan anak ini kerasukan apa sih? Berniat selingkuh di depan pacar sendiri ya? Dan kini Luhan sudah berdiri satu meter dari mereka.

"T-tunggu! Ini tidak seperti apa yang terlihat! Haha... Sshh... Sehun, bisakah kau melonggarkan pelukanmu?" Jongin mengusap tengkuknya sendiri dengan gugup. Dia tahu seorang pacar yang cemburu itu sama ganasnya seperti singa jantan yang daerah kekuasaannya direbut.

Tapi Luhan justru tersenyum. "Tidak apa-apa..."

Jongin berkedip beberapa kali kebingungan mendengar jawaban itu. Apa yang sudah terjadi? Oh kenapa dia merasa seolah ada bunga harapan yang tengah mekar di hatinya?

"Lagipula kurasa Sehun akan menamparmu."

"Hee?"

Plaakkk!

Benar saja! Sesaat setelah Sehun melepaskan pelukannya, sebuah tamparan pelan langsung bersarang dipipinya. Semuanya terpaku, termasuk orang-orang yang tadi berlalu lalang juga terdiam menatap kejadian itu. Meski tamparan itu sangatlah pelan dan tidak sakit sama sekali, tapi tetap saja entah kenapa harga dirinya seolah jatuh terinjak-injak.

Memegang pipi kirinya yang tadi terkena sapuan tangan Sehun, dia menatap sosok di depannya dengan tertegun. Kebiasaan Sehun meremas ujung seragamnya kembali dilakukan, bahu Sehun terlihat tegang dan bergetar dengan bibir yang mengatup rapat. Dan Jongin bisa melihat bagaimana mata Sehun yang berkilau, berkaca-kaca karena air mata.

"Jahat!"

Huh? Kenapa justru dia yang dibilang jahat setelah ditampar begitu? Tunggu! Dia jadi merasa seperti seorang lelaki brengsek yang sudah merebut keperawanan seseorang. Ah, sial!

"Kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Aku bahkan sakit ketika liburan, dan hyung tidak peduli sama sekali!"

Eeeeeh? Sakit? Sungguh? Oh dia jadi merasa bersalah sekarang. Tapi bukankah Sehun sendiri yang bilang kalau tidak mau dekat-dekat dengannya lagi?

"Hyung malah asyik bersenang-senang dengan orang lain kan? Aku tidur terus di kamar dan hyung malah asyik kencan!"

"K-kencan? Sehun, apa yang kau bicara─"

"Hyung jahat!" Sehun menunduk mengusap matanya dengan lengannya. "Luhan-hyung menunjukkanku foto Jongin-hyung yang sedang sibuk mengobrol dengan seorang yeoja! Lalu Kris-hyung mengirimiku email foto Jongin-hyung yang sedang berfoto dengan wanita dan membawa bayi!"

Entah bagaimana ekspresi Jongin saat ini. Mungkin jauh dari kata keren!

"Kris hyung bilang Jongin-hyung sudah menikah dan punya anak! Uhh... kenapa hyung melakukannya disaat aku sedang flu? Aku sampai membuat Luhan-hyung berlari ke minimarket terdekat untuk membelikan tisue baru," Sehun masih terlihat terus meracau sambil mengusap air mata dengan lengan seragamnya sendiri.

Kris?

Sehun menangis karena melihat fotonya?

Uhh... Oh!

Jongin mulai paham sekarang. Dan dia tertawa dalam hati membayangkan Sehun yang menangis berlinang air mata sekaligus ingus yang meler.

Melihat anak itu masih sibuk mengusap matanya yang berair, dia melangkah maju mendekat dan membawa tubuh Sehun dalam pelukannya.

"Bodoh!" bisiknya lirih seraya mengusap kepala berusai cokelat itu lembut.

"Jangan menyebutku bodoh..." lirih Sehun di bahunya. Jongin sudah tidak peduli lagi kalau jas sekolahnya sudah basah akan air mata Sehun.

"Itu hanya kakakku, aku baru saja punya keponakan, kau tahu? Jadi jangan cemburu pada keponakanku sendiri, oke?"

"Eh? Keponakan?" Sehun mengangkat wajahnya, meski matanya masih sembab tapi binar mata itu berubah antusias. "Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki."

"Sungguh?"

"Hey, apa aku terlihat seperti namja yang suka sama tante-tante?"

Sehun menggeleng imut, membuatnya tidak tahan untuk mengecup pipinya gemas. Sudah dia bilang dia tidak begitu bodoh untuk tidak menyadari situasi saat ini. Luhan yang tadinya posesif kini berubah dan hanya diam saja. Luhan pasti sudah menyadari lebih awal apa yang Sehun rasakan. Yah, lagipula Sehun itu tipe yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Anak itu pasti menangis meraung-raung ketika melihat fotonya dengan kakaknya.

"Hey, Luhan-ssi..." panggilnya sopan. "Jadi dia milikku sekarang?" tanyanya seraya memeluk kepala Sehun yang menyandar di bahunya.

"Heh, aku tidak sanggup mendengarnya merengek tentangmu terus-terusan! Kau merebut hatinya dalam waktu singkat, hebat sekali kau Kim!"

"Belum ada pernyataan kalau Hunshine itu milkmu! Jadi boleh aku rebut kan?" Zitao tiba-tiba saja muncul dengan seringai menyebalkannya. Dia menghela napas mendengar pernyataan perang seperti itu.

"Sehun-ah..." panggilnya seraya melepaskan pelukannya pada Sehun.

Sehun sendiri hanya bisa kembali menatap Jongin seraya mengusap matanya yang sembab sekali lagi. Dan ketika membuka matanya lagi, sebuah tangan hangat menyibak poninya dan sebuah kecupan manis mendarat di dahinya. Tangannya mencengekram lengan Jongin dengan erat. Sesuatu terasa berdesir hangat di hatinya ketika merasakan sentuhan ringan namun manis itu.

Dan pemandangan yang Sehun lihat kali ini, hujan kelopak sakura yang terlihat seperti kepak sayap kupu-kupu berwarna merah muda di tengah bias matahari pagi. Oh indahnya... bisakah hal seperti ini berlangsung selamanya?

Kecupan itu berakhir, tapi dia masih bisa merasakan perasaan hangat bibir Jongin di dahinya.

"Sekarang aku adalah Sehunnya Jongin-hyung!" ujarnya seraya memberikan senyum terbaiknya. Jongin terlihat tertegun sebentar mendengar kata-katanya, sebelum namja itu balas tersenyum padanya. Sepertinya Oh Sehun itu tipe yang akan menyadari perasaannya setelah merasa kehilangan orang tersebut.

"Kenapa kau bilang begitu? Bukannya pacarmu itu Luhan-hyung?" tanya Jongin dengan nada jahil, dan Sehun terlihat gelagapan sambil kembali memainkan jemarinya gugup.

"Luhan-hyung pernah menciumku sebelumnya..." tutur Sehun yang membuat Jongin tertohok akan pernyataan itu. "...an aku hanya bisa kaget dan hampir melompat menjauh. Tapi ketika Jongin-hyung menciumku..."

Oh, anak itu memerah.

"Hmm? Kenapa?"

"Ketika Jongin-hyung menciumku, rasanya seperti melihat ribuan warna di mataku. Meski rasanya hampir seperti akan terkena serangan jantung, tapi ada perasaan menggelitik menyenangkan─"

Jongin tersenyum geli melihatnya. Uhh... dia sunggu merasa gemas melihat tingkah Sehun saat ini. "Benarkah?" tanyanya seolah tidak percaya.

"Uhm... itu yang aku baca di internet!"

Dan bagaikan ada batu 1 ton yang menghantam kepalanya setelah mendengar hal itu. Oh Sehun, kau merusak suasana romantis itu dalam sekejap.

"Tapi tapi... Aku tetap jadi 'Sehunnya Jongin-hyung', kan?" tanya Sehun dengan ekspresi menuntut. "Dan hyung juga jadi 'Jonginnya Sehun'! Hyung harus terus bersamaku! Hyung tidak boleh melihat ke orang lain!"

Oh Sehun, kau posesif sekali. Itu perkataan yang terbalik, sayang. Kau benar-benar tidak peka ya untuk sekedar menyadari banyak orang yang tertarik padamu?

Jongin hanya terkekeh kecil mendengar kalimat itu. Oh Sehun benar-benar seperti anak kecil yang tidak mau bonekanya dipinjam oleh anak lain. Haha... "Ya. tentu saja! Kau milik Kim Jongin sekarang... dan Kim Jongin ini sekarang milikmu! Lagipula..." dia menggantung kalimatnya gugup sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.

Sehun terlihat menunggu apa yang akan dia katakan. Wajah sok serius itu terlihat sangat menggemaskan di matanya.

"... aku adalah orang yang dulu melamarmu lewat surat yang aku taruh di lokermu!"

Sehun masih diam. Justru wajah Luhan dan Tao yang terlihat syok seolah mengatakan, 'Kau berniat merusak kepolosan Sehun, haa?'

Jongin tidak mengindahkan sama sekali, justru semakin lama sebuh senyum makin berkembang di wajah manis itu.

"Apa itu artinya kita akan punya banyak bayi yang lucu-lucu? Aku ingin yang perempuan, hyung!"

Dan Jongin memerah mendengarnya. Kenapa Sehun berkata ingin punya bayi seolah semudah memilih baju di toko? Punya bayi, berarti membuat anak... dengan Sehun.

Dengan Sehun...

Dengan─

"AYO PERGI, HUNSHINE!"

Oh. Zitao dan Luhan sudah menjauhkan Sehun dari Jongin saat itu juga. Haha...


.

MENGEJAR CINTA SEHUN

.

END

.


PENGUMUMAN!

Berhubung ff pertama selesai, kami kekurangan member untuk project berikutnya! Kami butuh member lagi. Yang mau ikutan, silahkan bisa hubungi Kinah (atau yg biasa disebut Rillakumahun) lewat FB atau twitter (Eh, si Kinah punya twitter kagak?).

Ada yang pernah ngehubungin pas sebelum ff pertama ini dipublish, tapi karna waktu itu plot udah setengah jalan dan pembagian chapter selesai, jadi maaf ya saya pending. Kali ini saya buka lagi!

Silahkan bisa liat di profil akun FFn ini ada link FBnya Kinah.

Yoo~

.

.


A/N: PANJANG ABEEEESS! Haloo~ Nel disini. Ada yang kenal sama Nel? Gak ada? Sip! #pundung Semoga pada gak bosen chapter terakhir sepanjang ini! Dan juga semoga gak ada yang bingung sama flashbacknya. Sekarang mulai musim semi n sakura mulai mekar katanya! hohohoo~ maaf kalo jadinya alay nih chapter terakhir. Dan bukannya jadi fluff, ini malah jadi sinetron abis. Mian mian miaaan~ #bow

Yosh~ sampai jumpa di ff berikutnya! Tapi sebelum itu, tolong kasih tau gimana hasil tulisan saya saat ini?! Apakah yang saya rasakan tersampaikan pada kalian wahai readers? #haa

Annyeong! ^^