Kali ini saya gak nyulik laptop lho... dialah yang datang padaku(?)
Abaikan, nah di fanfic ni saya ingin mengembalikan jalur cerita saya yang semula melenceng dari judul (thanks for kakak-kakak yg dah review, i love you all)
En.. saya juga nyoba bikin cerita panjang dan bukan tipe drama, tapi seperti novel
Jadi klo jelek mohon dimaklumi
6. Boboiboy vs Boboiboy Api
Rasanya baru 1 menit berlalu sejak kejadian malam itu. Ya, kejadian saat Boboiboy berubah menjadi Boboiboy Api dan hampir membuat hangus padang sekolah. Meskipun Boboiboy tak tau apa yang terjadi malam itu, tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa bersalah dan takut. Bersalah? Ya, karena ia melihat teman-temannya terluka malam itu dan ia segera tahu ialah yang berbuat. Takut? Tentu saja, siapa yang tidak takut mengetahui bahwa ada bagian dari dirinya yang gila merusak segalanya (menurut Boboiboy yang tidak tahu apa-apa). Dan bagian dirinya itu akan muncul malam nanti.
Teman-temannya bertekad untuk mengawasi Boboiboy lagi nanti malam. Tapi, bocah bertopi oranye itu tak ingin teman-temannya terluka lagi. Karena masalah ini sungguh membuatnya pusing, ia lalu berpecah menjadi 3 di kamarnya.
"Nanti malam, kita akan berubah jadi Boboiboy Api. Aku tak nak Boboiboy Api ni buat kerusakan. Tapi aku juga tak nak kawan-kawan kita terluka lagi.." Boboiboy Tanah memulai percakapan. Kenapa Boboiboy Tanah? Karena mereka merasa tak perlu mengaktifkan kekuatan tahap 2.
"Ha ah.. aku pun tak nak? Tapi, siapa lagi yang dapat tahankan amukan Boboiboy Api kecuali kawan-kawan kita?" Boboiboy Angin berkomentar dengan resah.
Boboiboy Petir hanya membisu, tak tahu harus bicara apa. Tiba-tiba ia berseru dengan keras.
"Ha! Aku tahu siapa yang dapat menahan amukan Boboiboy Api!"
"Siapa?" tanya kedua Boboiboy yang lain penasaran.
"Kalian."
"HAAH!?"
"Dengar, kemungkinan besar Boboiboy Api akan muncul dari bagianku, kan elemenku berhubungan dengan Api. Nanti malam kita sembunyi-sembunyi keluar rumah dan pergi ke padang kosong dalam keadaan berpecah tiga. Nanti aku bawa bantal dan selimut. Saat aku berubah dan mengamuk, kalianlah yang bertugas menenangkan'ku' dan berkata bahwa Boboiboy yang asli tak nak dia merusak bangunan dan menyakiti kawan-kawan kita."
" Ha! Ide bagus tu! Tumben kau pandai." Celetuk Boboiboy Angin dan mendapat hadiah jitakan maut dari Boboiboy Petir.
"Aku pun setuju, tapi tak menutup kemungkinan bahwa kami berdua yang berubah, jadi kau pun tetap waspada.." kata Tanah *hanya menyebutkan elemennya saja ya.. author males ngetik* bijaksana.
"Oh.. jadi kita semua kene bawa bantal dan selimut kat padang kosong tu, lalu kita semua tidur. Siapapun yang berubah nanti, yang lain kene tenangkan dia. Kan kan?" seru Angin riang.
"Oke, kita laksanakan rencana ni malam nanti dan jangan lupa, rahasiakan dari yang lain" kata Petir serius ditanggapi dengan yang lain mengangguk sebelum mereka bersatu kembali.
Pada malam harinya..
Boboiboy mengendap-endap keluar kamar lewat jendela, kali ini ia dalam mode Angin sehingga ia bisa keluar dari kamarnya yang di lantai 2 tanpa cedera. Bergegas ia pergi ke padang kosong dan mulai berpecah menjadi 3.
"Nah jom kita tidur" kata Tanah.
" Macem mane kita nak tidur ni? Aku belum ngantuk" risau Petir
"Tak pe, aku culik buku cerita Sejarah Kedai Kokotiam Tok Aba tadi. Aku tahu nantinya kita tak dapat tidur. Macem mane, aku pandai kan?" bangga Angin dan disambung jitakan dari Petir.
"Aduh! Kenapa kau jitak aku?"
"Hish kau ni, kita semua kan mungkin menjadi Boboiboy Api, lalu siapa yang bacakan buku ni? Dasar!" ujar Petir geram.
"Bagaimana bila aku je yang bacakan buku tu?" ujar Tanah menengahi.
"Ha! Betul tu! Dibanding kita semua, kan Tanahlah yang paling tak mungkin berubah jadi Boboiboy Api!" ujar Angin. Petir pun mengangguk tanda menyetujui.
"Baiklah, aku bacakan. Sejarah Kedai Kokotiam Tok Aba. Pada tahun, aik.. dah pada tidur?" Tanah berujar sambil senyum sendiri. Tapi senyumnya langsung memudar ketika Petir menggeliat seakan kerasukan. Tanah yang panik segera membangunkan Angin.
"Angin, bangun!"
"Hoaem, ada apa Tanah? Eh? Kenapa Petir tu?"
"Aku pun tak tau, mungkin ia akan berubah jadi Boboiboy Api!"
Perkataan Tanah akhirnya terbukti, Petir bangkit dan berubah menjadi Boboiboy Api. Terdengar bunyi nafas Boboiboy Api naik-turun dan matanya yang menyala-nyala. Tanah dan Angin segera berubah menjadi Gempa dan Taufan, tanda siap bertempur. Namun..
"Wah, Taufan! Gempa! Korang ada kat sini? Dah lame aku nak jumpa korang tau!" ujar Boboiboy Api dengan suara riang. Taufan dan Gempa hanya sweatdrop melihatnya.
"Ee.. betulkah kau Boboiboy Api?" tanya Gempa perlahan.
"Betul lah... oh, aku belum kenalkan diri ye.. Aneh juga aku kenalkan diri dengan diriku sendiri, hi hi hi. Baiklah, aku Boboiboy Api, dan aku senang atraksi dan main. Tengok atraksi bola apiku ni! Ha ha ha!" ujar Boboiboy Api sambil melemparkan bola apinya hingga membentuk lingkaran di udara.
Gempa pun bingung akan berbuat apa. Sepertinya Boboiboy Api tak seseram yang ia duga. Ia melirik Taufan untuk melihat reaksinya. Dan ternyata reaksi Taufan membuat ia ingin memukul kepalanya ke dinding terdekat.
"Wah.. hebatnye kau Api! Aku Taufan, aku senang main dan tertawa. Eh aku pun dapat buat macam kau lah! Tengok ni! Bola Taufan!" seru Taufan kesenangan(?) sambil melemparkan bola taufannya hingga membentuk lingkaran di udara juga.
Gempa ingin protes dan mengingatkan Taufan, namun niatnya terpotong oleh Boboiboy Api.
"Wah, hebatnye! Coba kita sambungkan bola kita!"
Mereka berdua menyatukan bola-bola mereka. Seperti sifat api yang membesar karena angin, bola-bola api itu membesar. Kedua Boboiboy yang periang namun ceroboh itu kegirangan.
"nah sekarang kita buat api kau menjunjung tinggi!" seru Taufan yang disambung teriakan antusias Boboiboy Api. Segera Taufan mengendalikan api-api itu hingga membentuk spiral dan membumbung ke atas. Namun tiba-tiba api-api itu menjadi tak terkendali dan mulai membakar sekitarnya.
"Aduh macem mane ni?" tanya Taufan panik.
"Entah.." ujar Api cuek tapi juga ketakutan melihat api mulai membakar pepohonan di sekitarnya.
"Hish korang ni! Kau Taufan! Kau kan bertugas tenangkan Boboiboy Api, kenapa kau malah ikut main dengan dia! Dan kau Api! Jangan bertingkah macam budak kecil! Kau seharusnya tak main-main dengan api!"
Oo.. Gempa yang biasanya kalem dan tenang rupannya hilang kesabaran. Taufan yang disindir pun merasa bersalah dan malu, namun bagi Boboiboy Api yang mempunyai sifat pemarah seperti Halilintar merasa tersinggung mendengar perkataan Gempa.
"Ape kau cakap! Kau kata aku macam budak kecil!"
"Iya lah. Kau main api, kau bakar tempat milik orang lain, kau lukain kawan-kawan aku!" seru Gempa mengemukakan apa yang ingin dia dan Boboiboy yang asli katakan, meskipun ia tahu bahwa itu hanya akan memperburuk keadaan. Dan benar saja...
"Aku...cuma nak...HILANGKAN TEKANAN JE! HYAH HYAH!" Boboiboy Api mulai menyerang Gempa. Alhasil itu membuat api bertambah besar dan luas. Taufan ingin membela Gempa, namun ia tahu tidak ada gunanya, karena yang apapun yang ia lakukan hanya akan membuat sang api bertambah besar. Sementara Gempa bersiap-siap menerima serangan Boboiboy Api, namun ia juga khawatir api akan membakar habis pepohonan. Tiba-tiba...
"PERISAI BAYANG!" terdengar teriakan dan disusul dengan adanya bayangan hitam yang menyelimuti padang itu, sehingga api tak bertambah luas.
"BOBOIBOY!" kemudian terdengar suara kakek-kakek dan robot.
"Yaya! Gunakan kuasa kau untuk padamkan api yang bakar pepohonan! Ying! Gopal! Cepat padamkan api kat padang ni! Taufan! Hibur Boboiboy Api! Gempa! Lindungi Ochobot dan Tok Aba!" suara yang sangat dikenal itu semakin lantang.
"Baik!" ujar Taufan, Yaya, dan Ying.
"Kenapa kau yang suruh-suruh aku?" Gopal yang tak terima langsung berucap dan diberi death glare oleh Ying dan Yaya serta bentakan dari sang pemilik suara.
"Bukan saatnya tuk itulah! Cepat padamkan api! Bayang aku tak dapat tahan lebih lama lagi!" Gopal yang ketakutan mendengar bentakan itu segera memegang pemadam apinya dan segera menyemprotkannya.
"Fang! Kenapa kalian bisa sampai sini?" seru Gempa tak percaya.
"BAGAIMANA KITA SAMPAI DI SINI!" ujar Fang dengan perempatan siku di dahinya dan tangan mengepal.
#Flashback#
"Oh, korang semua dah datang! Ada yang aneh lah.." Ochobot yang sedari tadi berada di dekat pintu kamar Boboiboy menyambut teman-teman Boboiboy yang datang.
"Aneh kenapa?" kata Gopal
"Boboiboy tak keluar dari tadi senja" ujar Ochobot dengan khawatir.
"Apa dia dah tidur? Tak mungkin, harusnya dia dah jadi Boboiboy Api klo dah tidur. Apa mungkin malam ni dia tak jadi Boboiboy Api?" Gopal mulai beranalisis dengan gaya Detektive Conan.
"Tak mungkin! Selama ini hampir tiap malam dia selalu berubah jadi Boboiboy Api." Kilah Yaya.
"Berarti hanya ada satu kemungkinan..." Ying berkata seraya khawatir.
"Si bodoh itu! Kuharap dia tidak lari dari rumah!" Fang yang memiliki pikiran sama dengan Ying kemudian mendobrak pintu dengan serangan bayangnya. Dan mendapati...
Kamar kosong dengan bantal dan selimut yang menghilang.
#Flashback off#
"TERNYATA KAU MEMANG LARI DARI RUMAH YE!"
"Maaf, aku cuma tak nak kalian terluka lagi.." sesal Gempa.
"Kau dah buat Atok jantungan karna khawatir tau!" omel Tok Aba.
"Iya, setelah tau kau menghilang, kitorang langsung cari kau ke semua padang kosong sekitar sini, tau!" Ochobot tak ketinggalan.
Gempa pun tak bisa berkata apa-apa kecuali maaf. "Maaf, buat kalian khawatir.."
Fang pun memegang pundak Gempa dan berkata dengan serius "Kau tau tak kenape Boboiboy Api sampai muncul?" Gempa hanya bisa menggeleng.
"Boboiboy Api berkata pada kitorang sebelumnya, kalau dia penat dan tertekan karena tugasnya sebagai superhero. Sejujurnya kitorang sangat marah setelah Boboiboy cakap macam tu? Kalau Boboiboy tertekan karena tugasnya, kenapa dia tak minta kitorang bantu?"
"Aku tak nak repotkan kalian.."
"Nah itulah yang buat kau tertekan. Kau selalu buat sendiri tugas-tugas kau. Kau kan punya kitorang?" Fang memberi penekanan pada tiap kata-katanya.
"Ha ah, itu gunanya teman.." Yaya yang selesai memadamkan api ikut masuk percakapan.
"Yalo.. berat sama dijinjing, ringan sama diangkut.." Ying menambahi.
"Jangan lupakan aku, kawan baik kau ni..." Gopal nimbrung sambil nyengir.
Sudut mata Gempa alias Boboiboy basah. Ia menyadari kekeliruannya, harusnya ia percaya kepada kawan-kawannya. Sementara itu Boboiboy Api...
"Yuhu... wii!"
"Macem mane rasanya melayang di udara Api? Seronok?" Taufan kerkata kepada Boboiboy Api yang sedang melayang karena angin yang dibuat oleh Taufan.
"Terbaik sangat! Ha ha ha!" ujar Boboiboy Api kesenangan.
Gempa mau tak mau tersenyum melihat 2 sejoli(?) itu. "Hei Taufan.."
"Ya?" Taufan yang panik (rupanya dia takut melihat tadi Gempa mengamuk) menoleh, melupakan Boboiboy Api yang berada di udara.
"aduh!"
"Alamak! Aku lupa Api ada kat atas"
Mereka pun bergegas ke Boboiboy api, melihat apakah dia cedera. Bukannya Boboiboy Api yang mereka lihat, malah tampak sosok Petir yang sedang pingsan.
"Untunglah dia dah balik ke bentuk semula. Jom kita pulang ke rumah." Gempa berkata seraya lega.
Di rumah Tok Aba...
Tanah dan Petir-yang sudah bangun- memutuskan untuk tidak bersatu dulu. Mereka ingin membicarakan kejadian ini dan tentu saja, menghukum Angin yang sudah melalaikan tugas.
"Eh.. bukankah kalian bisa hilang ingatan jika berpisah lama-lama?" Tanya Yaya.
"Tak kan bila kita tetap bersama dan di ruangan yang sama. Selain itu juga aku ingin menghukum angin dengan siksaan yang pedih!" Petir berkata sambil menatap tajam ke arah Angin. Yang dilirik tak berkata apa-apa sambil merinding dalam hati.
"Aik? Bukannya kau dah jitak dia habis-habisan tadi?" tanya Ying sambil melihat kepala Angin yang sudah membengkak.
"Hmm.. aku belum puas.."
"Dah lah tu... kasian Angin. Tanah, biasanya kau yang melerai bila hal macam ni terjadi." Gopal rupanya juga bersimpati kepada Angin.
"Sekali ini dia pantas mendapatkannya." Kata Tanah dengan cuek.
"Maaf, bagiku Boboiboy Api tu orang yang seronok dan senang main macam aku, aku tak tau kalau dia punya sifat pemarah kau Petir.." ujar angin lemah.
"Jadi, Boboiboy Api ni punya sifat pemarahnya Petir, namun punya sifat humorisnya Angin ya.."Fang menyimpulkan.
"Aghh! Aku tak percaya ada bagian diriku yang sama sifatnya seperti Angin!" Petir mulai frustasi.
"Sejujurnya, saat Petir dan aku bertarung bersama, aku sering berdoa agar Petir punya sisi yang humoris dan menyenangkan. Rupanya doaku terkabul.." Angin nyeletuk.
Hening
.
.
.
"APPEE! Kau rupanya yang jadi penyebabnya!" Semuanya pun menjitak Angin habi-habisan.
"Aduh! Aku kan Cuma doa je!"
"Doa kau yang terkabul penyebab semua ni tau!" Tanah mulai frustasi.
"Ya ampun, kau tau.. aku pun nak berdoa kepada Tuhan agar bagian dalam diri kau bisa jadi orang yang tenang, tak ceroboh macam kau!" Petir berseru.
"Hoi! Jangan cakap macam tu! Nanti kalau terkabul macem mane! Kita pasti repot mengatasi dia lah! Sudah cukup Boboiboy Api saja!" kata Ochobot.
Sayang Ochobot, doa sudah terucap.
Huah.. selesai juga..
Agak susah ya, buat yang tipe seperti ini... jadi maaf kalo jelek
Kira-kira ada yang paham tak apa maksud kalimat terakhir saya dalam cerita ni?
Kalo ada yang tau jawab sekalian review saya ya!
