Nyahaha!
Gak nyangka fic ini kubiarkan berlumut dan berkerak di page 9!
All right, sejujurnya saya lumayan gak sreg buat ngelanjutin fic ini, takut ngerusak alur yang dibuat oleh Animonsta
Saya pan cuma minjem tokoh-tokohnya doang(tapi Fang sudah jadi milikku hehehe...*digilesAnimonsta*)
Selamat membaca!
8. Yang akan Bangun dan Beraksi
Boboiboy berlari di tengah hujan. Ia tak peduli akan badannya yang mulai menggigil atau bajunya yang sudah basah kuyup. Peristiwa tadi terlanjur membekas di pikirannya, memenuhi angannya. Ya, peristiwa yang membuka identitas tersembunyinya, menampilkan sisi liarnya, dan menunjukkan kepada semua orang bahwa ia... monster. Sejujurnya, ia tak terlalu ingat apa yang terjadi setelah robot Boboibot terus mengatakan 'Terbaik' seraya mengacungkan jempol, yang membuat ia frustasi dan tertekan. Namun ia tahu apa yang terjadi saat ia bangun dari pingsannya dan melihat...
Sekelilingnya terbakar.
Orang-orang menatapnya takut.
Gopal, Yaya, Ying, dan Fang menatapnya nanar.
Adu Du menyunggingkan senyum licik.
Sedangkan Boboibot hanya diam dalam mode apinya.
Adu Du melanjutkan ceramah panjangnya, menjelek-jelekkan Boboiboy dan memuji-muji Boboibot. Semua penduduk Pulau Rintis tampak terpengaruh, dan dengan pandangan tajam yang ditujukan untuk Boboiboy, mereka meninggalkan lapangan tersebut. Tinggal Boboiboy dan kawan-kawan saja yang berada di lapangan itu.
"Heh, sedap merenungi kekalahan kau Boboiboy?" tanya Adu Du dengan senyum mengejek. Rupanya alien kotak itu memilih berdiam sebentar di lapangan, tampak puas melihat Boboiboy sudah terpuruk. Sedangkan kawan-kawan Boboiboy mulai berang.
"APA KAU CAKAP KEPALA KOTAK!"
"BERANI-BERANINYA KAU!"
"BIAR KAMI BELASAH KAU!"
Menanggapi hal tersebut, Adu Du hanya tersenyum, dan berteriak.
"BOBOIBOT!"
Serta merta Boboibot bergerak mendekati tuannya, dan berdiri di depan Adu Du.
"Saya Boboibot siap melayani!"
Dan sebelum kawan-kawannya menyerang robot tersebut, Boboiboy berkata lemah.
"Hei, sudahlah... Aku memang dah kalah..."
"Hah?"
Kontan mereka tertegun atas apa yang diucapkan oleh teman bertopi mereka. Adu du menimpali dengan puas.
"YA BOBOIBOY! KAU SEKARANG MEMANG SUDAH KALAH!"
Boboiboy menghiraukannya dan mulai berjalan menjauh.
"Aku nak balik..."
"Ya, pulanglah kau dan tangisilah kekalahan kau! Bwahahaha!"
Fang tampak menggeram marah, tapi Ying memegang pundaknya, mengajaknya untuk menyusul Boboiboy. Sedangkan Gopal tampak mencak-mencak.
"Apa maksudmu tadi Boboiboy? Kau terima je kalah dari robot plagiat tu?"
"Aku memang kalah pun... kau tak nampak ke pertarungan tadi?" jawab Boboiboy pasrah.
"Tapi... Tapi kau hero sebenarnya! Kau yang terkuat!" Ying mencoba menyemangati.
"Buat apa menjadi yang terkuat kalau aku tak bisa kontrol kuasa aku? Kau nampak kan aku mengamuk tadi?"
"Itu bukan salah kau Boboiboy... Boboibot sengaja pancing kau tadi..." Yaya berkata sambil memegang pundak Boboiboy.
"Apapun itu tetap saja, aku dah mengamuk. Aku hampir celakakan orang-orang..."
"Boboibot tu juga sengaja bergerak dekat penduduk, agar orang-orang kira kau nak celakakan mereka... Itu bukan salah kau.." Fang mencoba menghibur namun tiba-tiba hawa panas keluar dari tubuh Boboiboy.
"ARGH! SEMUANYA MEMANG SALAH AKU! AKU BAKAR SEMUA BANGUNAN TU! AKU YANG HAMPIR CELAKAKAN ORANG-ORANG PULAU RINTIS! SENGAJA ATAU TAK ITU MEMANG SALAH AKU!"
Dan Boboiboy berubah menjadi Boboiboy Api. Api keluar dari tubuhnya, menyebarkan hawa panas bahkan nyaris membakar tangan Yaya. Reflek mereka berempat mundur beberapa langkah. Tiba-tiba Boboiboy Api kembali menjadi Boboiboy biasa.
"Tengok. Aku bahkan hampir celakakan korang semua.."Kata Boboiboy dengan suara serak.
"Boboiboy..." Yaya memanggilnya lemah, namun secepat kilat Boboiboy membalikkan tubuhnya.
"Tolong tinggalkan aku sendiri."
"Tapi-"
"Kumohon."
Mereka berempat pun hanya bisa memandangi Boboiboy yang berlari menjauh. Tak lama kemudian...
"Hujan..."
ooooooo
Boboiboy berlari di tengah hujan, dengan air mata yang mengaliri pipinya. Hatinya sangat sakit saat ini. Dan tampaknya hujan masih setia menemani Boboiboy. Hujan turun dengan amat deras, sama derasnya dengan air mata Boboiboy yang mengaliri pipinya. Tubuhnya mulai mengeluh kedinginan dan kepalanya mulai berkunang-kunang. Saat ia sampai di depan rumah Tok Aba...
"Aku... memang... terburuk..."
"BRUK!"
"BOBOIBOY!"
Tok Aba tentu saja histeris mendapati cucu kesayangannya mendadak hujan-hujanan dan pingsan. Bergegas ia membopong tubuh cucunya ke dalam, menggantikan baju Boboiboy yang telah basah kuyup, dan membaringkannya di kasur sambil berusaha menghangatkan tubuh Boboiboy. Ochobot terpogoh-pogoh datang ke kamar Boboiboy.
"BOBOIBOY! KENAPA NI TOK?!"
"Hei, Atok pun tak tahu. Atok jumpa dia di luar hujan-hujanan. Kenapa ni Boboiboy?"
Tit tut! Mendadak Ochobot mendapatkan pesan. Ia segera menampilkan pesan tersebut melalui matanya. Ternyata Yaya.
"Tok Aba! Macem mana Boboiboy?"
"Dia sekarang demam karena kedinginan. Apesal budak tu hujan-hujanan basah kuyup macam tu?"
"APA! BOBOIBOY SAKIT? NANTI TOK, YAYA NAK KE SITU. JOM KAWAN-KAWAN!"
5 menit kemudian, Yaya dan juga yang lain telah sampai di rumah Boboiboy. Tok Aba segera memberondong Yaya dengan pertanyaan.
"Aduh Yaya! Kenapa cucuku ni? Kenapa dia hujan-hujanan? Dan tadi dia cakap bahwa dia memang terburuk! Apa maksudnya tu?"
"Em, begini Tok, sebenarnya..." Yaya segera menjelaskan apa yang terjadi di lapangan tadi. Tok Aba dan Ochobot mendengarkan dengan penuh minat. Tiba-tiba konsentrasi mereka terpecah oleh teriakan Gopal.
"Hei Yaya! Tengok ni!"
Serentak mereka memandang layar TV yang sedang menayangkan kilas berita.
"Kembali bersama saya, Ramli J. Jambul. Sekitar siang tadi, superhero kebanggaan kita yaitu Boboiboy mendadak mengamuk! Dia menembakkan bola-bola api kepada penduduk sipil! Dan dari keterangan seorang penduduk bernama Abdul Dudul, Boboiboy lah dalang dibalik semua kebakaran akhir-akhir ni! Hayoyo, apa superhero kita sudah mabuk atas kuasanya kah? Atau-"
KRAK! Fang, Yaya dan Ying meninju TV sekuat tenaga, mengakibatkan TV tersebut rusak dan mati, sedangkan tangan mereka sukses berdarah, namun mereka tidak memedulikannya,
"HOI! KORANG DAH GILA KAH!" teriak Gopal histeris.
"BERANI-BERANINYA!" 3 anak tersebut masih marah. Ochobot memutuskan untuk menenangkan mereka.
"Hoi sudah. Aku pun marah Boboiboy diperlakukan macam tu. Tapi kita kene berkepala dingin. Jangan turut emosi, nanti orang-orang tambah berpikiran buruk tentang Boboiboy. Nah, hujan dah reda ni. Baik korang balik. Aku dan Tok Aba akan jaga Boboiboy."
Akhirnya mereka tampak lebih tenang. Tok Aba kemudian nyeletuk.
"Betuah punya budak. Tengok, TV Atok dah rusak.."
"hehe... maaf tok, kitorang balik dulu. Bye..."
Mereka berempat kemudian pulang. Dengan pelan, Tok Aba menuju kamar Boboiboy. Begitu terlihat wajah Boboiboy yang tertidur pulas, Tok Aba menghela napas pelan seraya mengusap kepala Boboiboy lembut.
"Kasihannya cucu Atok...:
oooooooooooo
Selama Boboiboy tidur, Boboiboy bermimpi aneh. Ia melihat sebuah lapangan kosong. Awan di langit tampak sangat mendung, hitam, dan dekat. Udara di lapangan tersebut pun sangat pengap. Kemudian ia melihat seorang anak, mirip sepertinya, sedang duduk seraya menatap langit. Wajahnya tampak sangat sedih. Boboiboy segera menyadari bahwa sosok tersebut ialah Boboiboy Api. Dengan langkah marah ia berjalan ke arah anak tersebut, untuk mendampratnya atas segala kesusahan yang telah ia alami. Tapi kemudian petir menyambar.
"BLAR!"
"Aku takut..." kata Boboiboy Api lemah.
Petir kedua mulai menyambar.
"BLAR!"
dan samar-samar diiringi suara seseorang.
"Tak kusangka Boboiboy jadi liar macam tu."
Petir terus-menerus menyambar, dan suara-suara tersebut terus bermunculan.
"Kusangka dia budak baik."
"Apa dia mulai mabuk atas kuasanya kah?"
"Sekarang Boboiboy bisa celakakan kita."
"Mungkin Boboibot lebih bisa diandalkan."
Pada saat itulah Boboiboy mengerti. Di sinilah tempat Boboiboy Api bersemayam selama ini. Awan hitam yang mendekat itu tekanan yang ia alami, udara pengap ini rasa terbelenggu yang ia rasakan, dan petir-petir itu... apa yang orang-orang pikirkan tentang dirinya. Tentang Boboiboy Api khususnya. Sekarang Boboiboy mengerti kenapa Boboiboy Api acapkali keluar. Boboiboy Api kemudian menenggelamkan wajahnya di lututnya ketika seseorang berpakaian serba biru dan mirip dengannya menghampirinya.
"Kau tak keluar hari ini?"
Boboiboy Api mengangkat wajahnya.
"Biasanya begitu kau merasa tersiksa di tempat ini kau langsung keluar."
Boboiboy Api menjawab seraya membuang muka.
"Kalau aku keluar, tekanan yang aku rasakan akan tambah besar."
Sosok tersebut hanya mengangkat bahu.
"Kan aku dah cakap."
Boboiboy Api tampak menyadari sesuatu.
"Kau, kau si suara menyebalkan itu."
'suara menyebalkan? Suara mereka berdua kan sama?' pikir Boboiboy dari balik rerumputan.
Tedengar suara menghela nafas.
"Heh, sekarang aku dibenci oleh semua orang. Semua menganggap aku monster. Sekarang orang-orang akan mengandalkan bantuan si robot menyebal itu."
"Tidak. Yang mereka perlukan bukan Boboiboy sejak awal." Kata sosok tersebut.
"Apa maksudmu?" Boboiboy Api bertanya keheranan.
"Sejak awal, orang-orang memerlukan seorang pahlawan yang sempurna. Pahlawan yang tak kenal lelah. Pahlawan yang selalu menolong orang kapanpun mereka membutuhkannya. Pahlawan yang tak pernah protes."
"Dan aku gagal menjadi pahlawan seperti itu." Kata Boboiboy seraya menunduk.
"Bukan itu maksudku. Singkatnya, mereka butuh pahlawan yang sempurna... seperti robot."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Bukankah para penduduk Pulau Rintis lebih memilih robot itu dibanding kita? Berarti mereka sejak awal tak menginginkan kita. Mereka ingin sebuah robot."
Boboiboy Api tampak merenungi ucapan sosok tersebut. Kemudian ia berkata.
"Tapi... aku rela menjadi pahlawan yang mereka inginkan, bila mereka menginginkannya. Aku ingin mereka menerimaku kembali."
"Kau tidak perlu semua itu. Kau bahkan tidak perlu mereka."
"Lalu, apa yang aku perlukan?"
"Seseorang yang menginginkan Boboiboy apa adanya. Seseorang yang tak peduli apakah Boboiboy pahlawan ataupun monster. Seseorang yang menganggap Boboiboy sebagai teman... bukan sebagai robot."
Boboiboy Api tampak meresapi ucapannya.
"Nah, aku harus segera pergi." Ujar sosok tersebut sambil berdiri.
"Tunggu! Kau mau kemana?"
"Aku harus segera bersiap-siap."
"Aku belum tahu siapa kau sebenarnya."
"Bukankah sudah kubilang. Aku sama seperti kau. Bagian diri yang tak pernah muncul."
"Dan apa maksud kau tentang untuk menghentikanku dan bertarung bersamaku?"
"Itu tergantung sikap kau nanti."
"Berarti kau akan segera muncul?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Untuk membereskan kekacauan yang telah kau perbuat."
Sosok tersebut kemudian pergi. Sekilas, ia melirik ke arah Boboiboy yang sedang bersembunyi dan menggumamkan sesuatu seperti 'Bersiaplah'.
Dan Boboiboy bangun dari tidurnya.
ooooooo
Saat Boboiboy terbangun, jarum jam menunjukkan angka 11. Ia meraba dahinya sebentar, masih hangat. Kepalanya pun masih pusing. Tok Aba segera menghampiri Boboiboy.
"Boboiboy! Kau dah bangun rupanya. Hampir 24 jam kau tidur."
Boboiboy menoleh ke arah Atoknya. Tampak semangkuk bubur di tangannya.
"Atok? Atok tak bekerja di kedai kah?"
"Tak apa. Sekarang Ochobot yang gantikan Atok jaga kedai."
"Tak pe kah Ochobot jaga seorang-seorang?"
"Tenang, Ochobot tu kan kuat. Lagipula kedai Atok tak terlalu ramai."
Dan Boboiboy tahu ia penyebabnya.
"Dah Tok, tinggalkan saja bubur tu. Nanti Boboiboy makan. Atok temankan Ochobot."
Tok Aba pun meninggalkan kamar cucunya.
Sepeninggalan Tok Aba, Boboiboy sama sekali tidak menyentuh mangkuk buburnya. Perutnya entah kenapa tidak begitu lapar. Ia teringat atas kejadian kemarin, dan mimpi anehnya semalam. Apa maksudnya? Orang yang menerima Boboiboy apa adanya? Namun Boboiboy memutuskan untuk tak menghiraukannya sebentar dan mulai memakan buburnya. Saat suapan pertama baru di telannya...
DRAP DRAP DRAP
"BOBOIBOY! AKU KHAWATIR KAU KENAPA-KENAPA!" tiba-tiba Gopal menerjang dan memeluk Boboiboy, membuat ia tersedak bubur yang baru di telannya.
"Ish kau Gopal, lepaskanlah Boboiboy dulu. Dia nak kehabisan napas tau." Kata Yaya.
Serta-merta Gopal melepaskan pelukannya, sedangkan Boboiboy sibuk meminum air demi memulihkan tersedaknya.
"Kau ni Gopal. Terkejut aku." Kata Boboiboy setelah ia meminum airnya.
"Maaf Boboiboy. Aku sangat khawatir saat tahu kau tak masuk sekolah karena sakit. Jadi meskipun aku dilarang oleh bapak aku, aku tetap kesini untuk-" BLETAK! 4 kepalan tangan sukses menjitak kepala Gopal. Ni anak emang mulutnya gak bisa dijaga. Sedangkah Boboiboy sudah beraura suram.
"Apa korang semua juga dilarang berjumpa denganku oleh orang tua korang?"
Barulah Gopal menyadari apa kesalahannya. Yaya segera menanggapai.
"Em... iya Boboiboy. Tapi tenang je, aku dah yakinkan mak abah aku kalau aku boleh belasah kau kalau kau macam-macam nanti!" kata Yaya sambil mengacungkan tinjunya.
"Kalau aku tak dilarang oleh nenek aku. Malah pas aku nak minta izin tengok kau, nenek aku cakap 'Boboiboy? Siapa itu? Peliharaan kau ke?' Macam tu." Kata Ying sambil tersenyum geli. Tak ayal lagi, Fang tertawa terbahak-bahak.
"Hwa ha ha! Boboiboy disangka binatang peliharaan! Binatang apa? Kelinci? Kucing? Kambing?"
"Hish kau ni, tak baik gelakkan orang sakit tau. Nah Boboiboy, ini biskut istimewa untuk kau. Agar kau sepat sembuh!" kata Yaya seraya mengulurkan sekeranjang penuh biskut. Seketika Gopal nyeletuk.
"Jangan makan Boboiboy! Biskut tu mengandung radiasi! Tak baik untuk kesehatan kau!"
"APE KAU CAKAP GOPAL!" kata Yaya sambil memukuli Gopal habis-habisan.
"Nah Boboiboy. Ini obat herbal Cina. Obat ni bakal sembuhkan kau dengan cepat." Kata Ying seraya mengulurkan sebotol obat. Sontak Fang berkomentar.
"Hati-hati minum obat tu! Obat Cina tu sangat pahit tau."
"Eleh, lagi pahitan mane, obat Cina atau biskut Yaya?" Gopal menimpali.
"Hmm.." Fang tampak menimbang-nimbang. Sedangkan aura hitam sudah terbentuk di belakang tubuh Yaya.
"APA YANG KORANG MAKSUD HAH!" Gopal sudah mengkeret ketakutan. Sedangkan Fang mencoba menyenangkan hati kawannya yang bersiap mengamuk itu.
"Ahaha... Tentu saja Yaya, biskut kau yang paling pahit. Biskut kau yang menang! Biskut kau yang terhebat!"
Seperti yang sudah diduga, Fang langsung diamuk Yaya. Boboiboy mulai tertawa memperhatikan kelakuan teman-temannya, dan kemudian ikut bergabung dalam canda tawa mereka. Boboiboy dan Ying menertawakan Gopal dan Fang yang habis dipukuli Yaya. Boboiboy mencak-mencak saat ia dicekoki biskuit serta obat secara bersamaan. Dan Boboiboy serta teman-temannya mengejek Gopal yang mendapatkan hasil minus dalam ujian matematika. Dan saat itulah Boboiboy mengerti perkataan sosok dalam mimpinya. Merekalah menganggapnya teman. Merekalah yang tak peduli apakah ia sempurna atau tidak. Merekalah yang tak pernah menganggapnya monster.
Merekalah yang ia butuhkan.
Namun Boboiboy masih bingung atas beberapa hal. Siapa sosok itu sebenarnya? Apa maksudnya bahwa ia akan keluar dan membereskan segala kekacauan. Dan kenapa Boboiboy harus bersiap?
Sungguh Boboiboy tak mengerti.
DISC
Hai semua!
Mungkin ada yang mencak-mencak, membanting laptop, atau bersumpah serapah setelah melihat kata DISC, setelah fanfic ini akhirnya update dan membuat akhir senggantung-nggantungnya.
Tapi benar, aku ingin mendiscontinue fic ini dan menyerahkan sisanya kepada pihak Animonsta.
Secara singkatnya, aku tidak ingin mengubah alur yang sudah dipersiapkan oleh Animonsta
Terima kasih bagi yang sudah membaca fic ini, dan MOHON REVIEWNYA! (dan kuharap tidak ada yang benar-benar membanting laptop.)
