A/N : Maaf atas keterlambatan update fanfict ini. Author sedang membuat laporan karena sebentar lagi akan sidang. Ini pun Author mencuri-curi waktu jadi tolong dimaklumi. Sekali lagi author meminta maaf. Dan buat Adegan perkelahian Sakura maaf kalau kurang panas :P
TIGA
.
.
Seorang pemuda dengan wajah tampan dengan rambut berwarna dark blue berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Ia mengerjapkan mata. Menatap sekelilingnya dengan bingung.
Kamar bernuansa biru yang begitu ia kenal. Ini kamarnya. Tapi kok bisa? Sasuke-nama pemuda itu mengerutkan dahi bingung. Seingat pemuda berambut ala pantat ayam itu, ia sedang merayakan hari penyambutan Haruno Sakura si cewek yankee berambut pink yang baru-baru ini tinggal di Sakurasou, lalu Kakashi-sensei memberikan minuman yang berbau dan terasa aneh di lidahnya. Seperti sake.
Mata Onyxnya membulat. Ia ingat. Setelah meminum minuman keparat itu tubuhnya terasa panas. Ia mabuk. Hal paling ia benci. Karena ia tahu saat ia mabuk ia bisa melakukan hal gila.
Oke, mencium seseorang itu terlihat wajar saat kau dalam keadaan sadar. Tapi saat dalam posisi mabuk seperti Sasuke membuat si bungsu Uchiha itu agak tertekan. Apalagi saat mengetahui korban-korbannya selama ini yang seratus persen laki-laki semua yang sudah dipastikan adalah semua penghuni Sakurasou. Bahkan Kakashi-sensei pun pernah jadi korbannya. Sial runtuh sudah harga dirinya sebagai seorang Uchiha.
"Arrgghh!"
Sasuke menggeram. Oke, ini masih terlalu pagi. Kepalanya pun terasa sakit. Hangover dipagi hari memang enggak keren. Dengan tertatih-tatih ia melangkah keluar dari kamar. Mungkin air putih bisa membantu menghilangkan efek dari minuman setan yang diberikan oleh Sensei mesum itu.
"Ohayou, Teme." Ucapan selamat pagi dari seorang Namikaze Naruto menyapanya. Sasuke meliriknya sekilas.
"Hn. Ohayou, Dobe."
Naruto mendekati Sasuke yang sedang menuangkan air ke gelasnya. "Kau enggak papa kan, Teme?" Tanya Naruto dengan nada khawatir. Namun Sasuke tak menjawab. Ia masih setia dengan minumannya.
"Aku sempat khawatir padamu karena ulah Sensei. Kadang-kadang sensei memang keterlaluan sih. Tapi kau juga bersalah kenapa kau menerima minuman itu. Kau hampir memperkosa Sakura tau!"
Byurrr.
Sasuke menyemburkan minumannya saking terkejutnya dengan ucapan Naruto. Dengan gerakan bak robot yang habis baterai, ia memutar tubuhnya dan menatap Naruto tajam menuntut penjelasan.
"Apa kau bilang? Aku hampir apa?"
Naruto menggaruk lehernya dengan cengiran tak enaknya. "Err, kau tahu kan kalau kau mabuk seperti apa. Kau menyerang Sakura saat ia mengantarkanmu ke kamar."
Oke. Sekarang Sasuke hanya bisa diam. Dia tahu apa yang sudah terjadi tadi malam. Pantas saja ia seperti mendengar suara desahan. Ternyata si Haruno Sakura.
Onyxnya sekali lagi melotot.
Nani? Sakura?
Mati. Uchiha Sasuke bakal mati hari ini karena dibogem oleh seorang cewek pink.
Oke, harga diri Uchihanya makin jatuh.
Otou-san. Okaa-san. Maafkan anakmu ini.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Adaptasi dari Anime berjudul Sakurasou no Pet na Kanojo dengan perubahan sana-sini
Chara :
Haruno Sakura and Male Chara
Rating : M untuk bahasa yang kasar
Warning : Sakura-centric, Reverense Harem, OOC, Bahasa non-baku and Typo's dimana-mana.
(No Bashing Chara ini hanya tuntutan cerita :D)
Don't Like Don't Read !
Summary :
Hidup Sakura si yankee KIS berubah 180 derajat saat ia harus pindah ke Sakurasou. Asrama para anak bermasalah di tempatkan. Dan pertemuannya dengan para penghuni Sakurasou membuatnya frustasi sendiri akan perasaan aneh yang mulai muncul. / "Sial. Aku enggak bisa berhenti menciumnya."/ "MATI SAJA KAU, BRENGSEK!"/ "Kalau bukan Sasuke, lalu kissmark buatan siapa?"
.
.
.
Sakura menatap buku dihadapannya tanpa minat. Moodnya sedang buruk pagi ini. Bahkan ia sampai mengeluarkan aura hitam membuat tak ada seorang pun berani untuk mendekatinya.
"Hhhh.. Dasar pantat ayam sialan!" Itu merupakan rutukannya yang ke dua belas kalinya pada si Sasuke yang hampir saja merenggut keperawanannya malam tadi. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Ia lelah. Ia lebih baik melawan segerombolan cowok yankee berbadan besar bak truk kontainer dari pada kumpulan cowok mesum yang suka merape dirinya.
Sialan! Ini semua gara-gara keputusan nenek tua yang sok muda itu. Padahal setahu Sakura, Obaa-sannya begitu baik padanya. Padahal sejak dulu ia selalu dimanja oleh Obaa-sannya. Tapi semenjak Obaa-sannya menjalin hubungan dengan si sensei killer Orochimaru semua jadi berubah. Ahh, Sakura benar-benar enggak sudi kalau sampai Tsunade menikah dengan Orochimaru. Bisa-bisa hancur sudah dunianya.
"Kau terlihat mengerikan." Sakura mengangkat wajahnya saat mendengar suara Neji yang menyapa indera pendengarannya. Menatap Neji yang kini duduk di hadapannya.
"Aku sedang malas berdebat. Lebih baik kau pergi saja, cewek jadi-jadian!"
Bughh.
"Ittai Baka Neji! Apa yang kau lakukan hah?" Sakura berteriak marah saat Neji memukul kepalanya dengan buku tebal yang dibawa oleh pemuda tersebut. Kini semua pandangan orang-orang yang berada di perpustakaan tempat Sakura saat ini berada beralih menatapnya dan Neji kesal. Namun Sakura tak peduli, ia mengabaikan pandangan kesal orang-orang itu.
"Aku laki-laki bodoh! Berhenti menyebutku dengan sebutan bodohmu itu!" Ucap Neji dengan penuh intimidasi. Namun sepertinya tidak berpengaruh pada Sakura, melihat si gadis pink itu hanya memutar bola mata bosan.
"Terserah katamu. Aku sudah bilang aku sedang malas berdebat jadi apa maumu?" Sakura bertanya sinis. Melipat tangan ia memandang Neji dengan dagu terangkat.
"Kau benar-benar menyebalkan!"Ucap Neji. Ia meletakkan sebuah kotak makan berwarna merah muda di meja membuat Sakura tertawa kecil.
Neji mengangkat alis bingung. "Kenapa tertawa?"
"Sudah kuduga kau memang cewek jadi-jadian. Kotak makan pun berwarna merah muda. Manis sekali..haha"
"Itu untukmu bodoh!"
Dahi Sakura mengerut. "Apa? Untukku?"
"Kau enggak punya gangguan pendengaran kan?"
"Urusai!" Sakura mendesis. Ia mengambil kotak makan pink itu lalu membukanya. Sedikit terpana melihat isinya.
"Kakashi-sensei menyuruhku untuk memberikan itu padamu. Kau enggak sempat sarapan tadi jadi ia khawatir padamu. Itu juga sebagai bentuk permintaan maafnya." Jelas Neji sambil membuka buku tebalnya.
"Astaga, Kakashi-sensei manis sekali." Ujar Sakura dengan wajah berseri-seri. Namun, ia langsung terdiam sambil menatap Neji yang masih asyik membaca buku.
"Tunggu, bukankah Kakashi-sensei enggak bisa masak?" Tanya Sakura bingung.
"Itu masakan Sasuke."
"Ehh Sasuke? Kalau begitu aku enggak mau makan!"Kata Sakura sambil menutup kembali kotak makan berwarna merah muda itu.
Neji menutup bukunya kesal. Memandang Sakura yang kini membolak-balikan halaman bukunya.
"Kakashi-sensei akan memberiku hukuman jika kau engaak mau makan itu!"Neji menatap tajam Sakura.
"Enggak peduli. Itu urusanmu." Balas Sakura acuh.
Neji menggeram. Dengan segera ia membuka kotak bekal itu. Menyumpit sebuah onigiri lalu menyuapkannya pada Sakura agar memakannya.
"Buka mulutmu!" perintah Neji.
"Enggak. Aku enggak lapar." Ucap Sakura jutek.
Neji kesal. Membujuk Sakura memang bukanlah perkara mudah kerena si cewek pink ini begitu keras kepala. Namun sebuah ide gila melintas di otaknya. Pemuda berambut panjang itu menyeringai. Gadis pink ini harus diberi hukuman agar mau menurut. Ia melahap sendiri onigiri yang ia sumpit tadi. Mengunyahnya sebentar ia menatap Sakura yang sedang focus menatap bukunya. Tangan kanannya menarik tengkuk Sakura membuat Sakura menjerit karena terkejut.
"Heii!" Sakura protes. Namun teriakannya terbungkam saat bibirnya sudah bertabrakan dengan bibir tipis Neji.
Mata emeraldnya membulat.
Neji menciumnya. Tidak lebih tepatnya memaksanya untuk memakan onigiri yang berada di mulutnya.
Tangan Sakura mencengkram bagian depan seragam Neji kuat saat merasakan lidah Neji menari di dalam mulutnya. Bahkan saat bibir bawahnya dihisap oleh Neji, Sakura hanya dapat berharap tak ada melihatnya. Ia sedikit bersyukur karena ia dan Neji saat ini berada di tempat duduk yang paling pojok.
"Sial. Aku enggak bisa berhenti menciumnya." Neji menggerutu didalam hati. Bibirnya masih saja menghisap bergantian bibir atas dan bawah milik Sakura.
"Ngghh~" Sakura melenguh saat Neji menghisap lidahnya. Sial! Sakura merutuki dirinya karena mengeluarkan suara aneh itu. Ia semakin memperkuat genggamannya. Oke, napasnya sudah mulai habis. Kan enggak elit kalau ia sampai mati karena ciuman.
Neji yang mengerti keadaan Sakura pun alkhirnya melepaskan ciumannya. Keduanya tampak menghirup udara dengan rakus. Sakura menatap Neji tajam.
"Kau!" Sakura menarik kerah Neji membuat cowok dengan rambut coklat itu hanya menyeringai.
"Lebih baik kau makan saja bekalmu. Atau kau ingin aku yang menyuapimu, Sakura-chan?" Kata Neji santai membuat Sakura langsung melepaskan kerah Neji. Neji menyeringai, ternyata mudah juga menaklukan seorang yankee sekelas Sakura. Ia pun mengambil buku tebalnya dan mulai membaca kembali sambil sesekali mata perak miliknya menatap Sakura yang memakan bekalnya dengan wajah cemberut.
"Hahhhhh." Helaan napas lelah dari seorang Haruno Sakura membuat Yamanaka Ino mengerutkan dahi. Gadis bersurai pirang itu bingung, pasalnya sejak pelajaran pertama sampai pelajaran terakhir Sakura selalu menghela napas. Bahkan saat kelas sudah berakhir dan kini kelas sudah kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Sakura masih menghela napas.
Memang sih semenjak pindah ke asrama Sakurasou, Ino merasa perubahan besar pada seorang Haruno Sakura. Gadis pink itu jadi sering marah engga jelas, sering melamun kadang sering menghela napas. Seperti mempunyai masalah yang begitu berat. Ahh, padahal menurut Ino hidup Sakura kini enak sekali bagai di surga. Tinggal satu atap dengan kumpulan cowok keren. Semua cewek pasti mau jika ada di posisinya. Jadi sekarang kenapa Sakura malah terlihat begitu menyedihkan setelah tinggal dengan cowok-cowok ganteng itu?
"Kau kenapa sih?" Ino akhirnya memberanikan bertanya pada Sakura. Ia benar-benar penasaran apa yang membuat sahabatnya itu seperti tak mempunyai semangat hidup lagi. Pasalnya Sakura adalah gadis yang penuh semangat jadi sangat aneh melihatnya seperti ini.
"Engga usah tanya deh. Kayak engga tau aja." Sakura membalas sinis sambil menatap lurus ke depan. Ia tak berniat sama sekali menatap Ino, membuat gadis pirang itu mengerucutkan bibirnya sebal.
"Aku kan cuman tanya. Kenapa responmu begitu?" Ucap Ino dengan nada plus ekspresi sedih yang tentunya itu hanya pura-pura. Tapi hal itu sukses membuat Sakura merasa tak enak.
"Gomen, Pig." Sakura berujar pelan sambil menatap sahabatnya dengan wajah bersalah. "Akhir-akhir ini aku banyak pikiran."
"Kau mikirin apa? Para cowok ganteng Sakurasou, eh?" Tanya Ino semangat. Bahkan kini ia melupakan ekspresi sedih yang dipasangnya tadi.
Mata Sakura menyipit. Ia tahu bahwa Ino tadi hanya berpura-pura sedih. Ck, ia tertipu. "Engga juga."
"Engga juga berarti iya. Ayo cerita padaku!" Ino mengambil posisi duduk di hadapan Sakura
"Engga akan!."
"Ah, dasar kau pelit."
"Biar saja."
Ino manyun. Sakura memang susah jika dipaksa bercerita.
"Heii, Sakura. Selama tinggal di Sakurasou, kau engga ngelakuin sesuatu sama mereka kan?" tanya Ino kemudian.
Sakura menatap Ino. "Apa maksudmu?"
"Ah, masa kau engga ngerti. Seperti pelukan, ciuman atau melakukan sex." Kata Ino santai. Kedua alis pirangnya turun naik bergantian sambil menatap Sakura penuh minat membuat Sakura merinding.
"Jangan samakan aku dengan dirimu, bodoh!" balas Sakura sinis dengan wajah sedikit memerah mengingat bahwa dia hampir dirape oleh Sasuke dan Neji baru saja menciumnya tadi pagi.
"Kenapa wajahmu memerah begitu. Pasti kau sudah melakukannya. Ayo beritahu aku dengan siapa!"
Sakura diam tak berniat menjawab.
"Apa dengan Kakashi-sensei? Ah dia memang sangat dewasa. Aku yakin ia sangat berpengalaman dengan hal begituan. Apalagi ia selalu baca buku mesum jadi engga diragukan kalau dia hebat dalam urusan itu."
"Yang benar saja!"
"Ah atau jangan-jangan dengan Sai? Kau bilang pernah tidur dengannya. Jangan-jangan kalian juga melakukannya?"
"Kau ingin ku bunuh, hah?"
"Ah, atau kau melakukan itu dengan salah satu dari Namikaze bersaudara? Atau malah dua-duanya? Astaga, aku enggak nyangka kau mau melakukan threesome"
"BERHENTI BICARA NGAWUR! AKU HANYA CIUMAN DENGAN NEJI DAN HAMPIR DIPERKOSA OLEH SASUKE. JADI BUKAN BERARTI AKU MAU NGELAKUIN HAL YANG BARU SAJA KAU OMONGIN!" Sakura berteriak keras membuat Ino tmenghentikan ocehannya. Namun baru beberapa detik mata hijau dan biru itu sama-sama membulat.
" HAH KAU HAMPIR DIPERKOSA OLEH SASUKE?" dan Ino tak dapat menahan rasa terkejutnya membuat si pirang berteriak histeris.
Sedangkan Sakura hanya berharap, bahwa teriakannya maupun Ino tak terdengar oleh siapa pun. Kan bisa hancur sudah harga dirinya jika ada yang tahu bahwa dia hampir kehilangan kegadisannya karena pantat ayam yang lagi mabuk.
Benar-benar engga keren.
Haruno Sakura berjalan meninggalkan sekolah dengan penuh kelegaan. Pasalnya ia berhasil kabur dari seorang Yamanaka Ino yang kini sangat berbahaya untuknya. Tentu saja, saat seorang Ino dengan mode ingin tahunya yang begitu mengerikan membuat Haruno Sakura harus kabur untuk keselamatan dirinya dan juga harga dirinya.
Ia menghentikan langkahnya saat sudah berada jauh dari Konoha Internasional School. Yah, ia sedikit bersyukur karena kini ia tinggal di Sakurasou yang letaknya berlawanan arah dan terpisah dengan asrama-asrama reguler.
"Yokatta. Akhirnya aku lepas juga dari Ino." Sakura berucap lega.
"Are? Haruno Sakura, ya?" Sebuah suara yang asing di telinganya membuatnya menoleh. Segerombolan pria-pria dengan tubuh kekar berada di hadapannya. Sakura mengangkat alis.
"Jangan bilang kau lupa pada kami." Seorang pria dengan tubuh berwarna biru pucat sedikit melangkah maju. Ia membawa pemukul bola bisbol di tangan kanannya.
"Gomen. Aku benar-benar tak tahu siapa kalian. Lagi pula aku banyak urusan jadi jangan menghalangi jalanku!" Sakura berujar kesal.
"Kau jahat sekali Sakura. Begitu banyakkah korbanmu sampai-sampai kau tak mengenali mereka?" Kini Seorang pria dengan rambut hijau dengan kulit berwarna hitam berkata sinis membuat Sakura terkekeh.
"Ahh jadi kalian korban-korbanku? Aku benar-benar minta maaf karena tidak mengingat kalian. Terlalu banyak yang menjadi korban pukulanku sih." Sakura berkata santai. "Demo..aku tak ada urusan lagi dengan kalian. Jadi cepat menyingkir karena aku ingin pulang!"
"Sayang sekali. Tapi kita tidak bisa membiarkanmu pergi!" Seorang laki-laki dengan rambut jingga dan wajah yang dipenuhi pierching melangkah maju. Ia menatap Sakura dengan sinis. "Karena kita ada urusan denganmu, Haruno Sakura."Lanjutnya.
Sakura balik menatap pria jingga itu lalu terkekeh. "Ah, ternyata kau Pain?"
"Sudah ingat ternyata?" Tanya Pain sambil menyeringai kearah Sakura. "Kau tau kami belum bisa melupakan kekalahan kami dulu!"
"Jadi kalian ingin balas dendam, eh?" Sakura bertanya santai. "Tapi maaf saja aku engga ada waktu buat itu. Jadi cepat menyingkir dari hadapanku sekarang, Brengsek!"
"Ah..sayang sekali. Apakah kau sebegitu takutnya pada kami sehingga kau ingin kabur, Sakura-chan?" Tanya Pain kembali. Pria berambut jingga itu tersenyum sok manis- yang membuat Sakura ingin muntah.
"Cih, kau pikir aku sebegitu pengecutnya! Melawan kecoa seperti kalian saja adalah hal yang mudah bagiku!"
"Ah, tetap sombong seperti biasanya." Pain melangkah maju mendekati Sakura dan berhenti setelah berada 10 cm di hadapan gadis pink itu. Tangan kanannya terangkat membelai sisi wajah kiri Sakura. "Kau harus tahu bahwa ada batasan antara kekuatan laki-laki dan perempuan!"
Sakura tersenyum sinis. Ia menggenggam tangan Pain yang berada di sisi wajahnya, lalu menarik tangan pemuda itu kebawah dengan kasar yang menyebabkan pemuda berambut jingga tersebut jatuh ke tanah dengan suara dentuman yang lumayan keras. Pain meringis membuat Sakura melebarkan senyumannya. Ia mengangkatsalah satu kakinya lalu menginjak perut Pain membuat pemuda tersebut menjerit kesakitan.
"Dasar lemah!" Ucap sakura Sarkastik.
"SIALAN KAU HARUNOOOOOOOO!" suara teriakan dari belakang tubuhnya membuat Sakura menoleh. Pemuda berkulit biru pucat itu melayangkan tongkat bisbol kearah wajah Sakura, reflex Sakura langsung menghindar dengan menundukkan kepala. Namun sayang tongkat kayu yang dipegang seorang pemuda berambut hitam yang berada di belakang pemuda berkulit biru pucat itu berhasil mengenai wajah Sakura, saat gadis itu mengangkat wajahnya. Dengan segera Sakura meninju wajah pemuda tersebut.
Bugh!
Pemuda itu tersungkur.
Sakura mundur beberapa langkah. Ia mengusap sisi wajahnya yang terkena ayunan tongkat kayu tadi. Ia sedikit meringis saat merasakan perih di sekitar pelipis kanannya. Sialan! Berani-beraninya kecoa-kecoa tak berguna seperti mereka melukainya. Tak bisa diampuni!
"Baiklah! Kalian yang memaksaku." Ucap Sakura sambil melempar tasnya. Ia mengambil kuda-kuda sambil matanya menatap para kumpulan pria kekar di hadapannya. Ia serius sekarang.
"HHHYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Sakura berlari menerjang para pria-pria tersebut. Begitu pun sebaliknya dengan pria-pria itu yang berlari kearah Sakura. Dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan.
Bugh!
Bugh! Bugh!
Bugh!
Bugh! Bugh! Bugh!
Sakura menghajar habis-habisan. Beberapa pria tersungkur di tanah . Sakura semakin menggila. Jiwa yankee-nya telah bangkit. Ia lepas kendali.
Bugh!
Bugh! Bugh!
Bugh!
Bugh! Bugh! Bugh!
Bugh!
Bruk!
Kini giliran Zetsu, pria berkulit hitam putih tak sadarkan diri di tanah. Sakura menatap remeh kearah kumpulan pria-pria yang jatuh tak sadarkan diri di hadapannya.
"Dasar lemah!" cibir Sakura. Wajah dara berambut merah muda tersebut sudah dihiasi oleh banyak sekali luka disertai darah. Dengan sedikit tertatih-tatih ia berjalan menjauh, mengambil tasnya yang ia lempar tadi.
Bugh!
"Arghhh.." Sakura tersungkur saat seseorang memukul tengkuknya dengan keras. Matanya berkunang-kunang. Ia menatap pelaku pemukulan, dan mendapati Pain tersenyum sambil memainkan tongkat yang berada di genggamannya.
"Kau pikir kau sudah menang, eh Jalang! Kau harus tahu batasannya, Haruno. Seorang pria lebih kuat daripada wanita!" Ujarnya .
"Urusai! Dasar pengecut kau!" Sakura bangkit dan langsung menerjang Pain. Namun entah kenapa semua pukulan yang dilayangkannya dapat dengan mudah dihindari oleh Pain. Mungkin efek kelelahan yang dialami oleh Sakura setelah bertarung dengan pria-pria bawahan Pain.
Bugh!
Wajah Sakura dipaksa menoleh ke kiri saat kepalan tangan Pain mengenai wajah cantiknya. Pain menarik kerah seragam gadis tersebut, memaksa Sakura menatapnya.
Bugh!
"Ini untuk tiga tahun yang lalu!"
Bugh!
"Ini untuk semua luka yang kau buat, Jalang!"
Bugh!
"Ini untuk hukumanmu karena telah membuatku dikeluarkan dari sekolah!"
Bugh!
Pukulan balasan yang keras dari Haruno Sakura membuat Pain terjatuh. Sakura menatap Pain dengan nafas memburu. Hampir seluruh wajah gadis pink itu dihiasi warna ungu serta luka yang juga dihiasi oleh darah.
Sakura berjalan tertatih-tatih kearah Pain. Pain berusaha bangkit namun kalah cepat dengan Sakura yang kini telah menduduki tubuh kekarnya.
Bugh!
"DASAR SIALAN!"
Bugh!
"DASAR PENGECUT!"
Bugh!
"MATI SAJA KAU, BRENGSEK!"
Sakura dengan bringas memukuli Pain tanpa menghiraukan Pain yang kini sudah hampir sekarat. Ia tetap memukuli pria jingga tersebut tanpa peduli jika Pain akan mati.
Sakura mengangkat tangan kanannya siap untuk membuat Pain yang sudah sekarat untuk menuju kematian. Namun sebelum tangannya itu melayang kearah Pain, sebuah tangan lain mencengkram tangannya lalu menariknya membuat Sakura secara otomotis bangkit dari tubuh Pain yang sudah hampir tak sadarkan diri.
Dengan emosi yang masih tinggi, Sakura siap melayangkan tinjunya untuk orang yang berani mengganggu dirinya. Namun, saat ia berbalik dan berhadapan langsung dengan orang yang mencengkram tangannya, emeraldnya melebar. Tubuhnya kaku seketika.
"Haruno Sakura. Sudah kuduga kau memang biangnya masalah!"
"Kenapa kau berada di Konoha?" Tanya Sakura sambil menatap pemuda di hadapannya yang kini sedang membereskan peralatan P3K yang digunakan untuk mengobati luka Sakura. Kini, Sakura sedang berada di apartement milik pemuda tersebut.
"Aku punya urusan disini!" jawab pemuda itu sambil menyimpan kotak P3K pada sebuah laci. Mata milik pemuda itu mengerling kearah Sakura sebelum tersenyum. "Oh, ayolah. Kenapa wajahmu begitu tak suka melihatku ada di sini?"
Sakura mendengus. "Memang aku enggak suka! Bertemu pecundang sepertimu membuatku ingin muntah!"
"Seperti biasa bibirmu begitu tajam. Pantas saja kau banyak musuh sampai sekarang."
"Apa itu masalah bagimu?"
Pemuda itu terkekeh. Lalu berjalan mendekati Sakura dan duduk disamping gadis musim semi itu. "Aku hanya merasa aneh, dulu kau begitu manis dan pemalu. Tapi kini, kau menjadi seorang yankee. Benar-benar tak kusangka."
"Jangan bercanda. Sejak dulu pun aku sudah begini." Sakura menjawab sinis yang lagi-lagi dibalas kekehan dari pemuda tersebut.
Sakura menatap kesal pemuda itu. Sejak dulu ia benci jadi bahan tertawaan. Dan kini, pemuda itu menertawai dirinya. "Berhenti tertawa atau kutonjok kau!" Ancam Sakura.
Pemuda itu berhenti tertawa. Matanya menatap lembut kearah Sakura. Tangan kanannya terangkat memegang dagu Sakura.
"Kau tau sejak dulu bahkan sampai sekarang aku tak menyukai jika kau berkelahi. Kau membuat dirimu sendiri terluka." Ujarnya dengan sendu.
"Kau tau dengan baik alasannya kenapa aku jadi seperti ini!" jawab Sakura sambil menuduk.
Pemuda itu memandang sedih Sakura. Kedua tangannya memegang masing-masing sisi wajah Sakura mengangkatnya agar mau menatap mata milik pemuda itu. Saling menatap sebelum akhirnya pemuda itu mempertemukan bibirnya dengan bibir Sakura. Mencium Sakura dengan lembut. Ciuman penuh kerinduan. Mata Sakura terpejam menikmati ciuman membuat Pemuda itu pun terhanyut dalam ciuman dan ikut menutup mata. Namun pemuda itu tau, bahwa Sakura juga menangis dalam ciuman mereka.
"Aku sudah bertanya pada seluruh teman sekelasnya, namun tidak ada yang tahu dimana Sakura-chan!" kata Naruto kepada Kakashi yang kini sedang mondar-mandir di ruang tamu Sakurasou.
"Tanya lagi!" Perintah Kakashi dengan suara rendah membuat Naruto langsung menjalankan perintahnya.
"Aku sudah mencarinya di setiap sudut kota tapi tidak menemukannya!" Kata Sai.
"Cari lagi!" Perintah Kakashi.
"Aku sudah mencarinya. Namun GPRS handphonenya tidak bisa dilacak!" Suara khawatir Neji terdengar.
"Cari lagi!" Lagi-lagi perintah dari Kakashi.
"Aku sudah berusaha menghubingi Handphonenya tapi tak diangkat!" Gaara berujar.
"Coba lagi!"
"Aku dan Sasuke sudah mengecek sekolah tapi Sakura tak ada di sana!" Menma berkata dengan napas terengah-engah
"Cari lagi!"
"Aku tidak bisa menemukan Sakura di mimpiku!" Ujar Shikamaru
"Cari la-… Barhenti bercanda Shikamaru!" Ujar Kakashi tajam.
"Mendokusei!"
"Berhenti mengatakan kata menyebalkan itu!"
"Hn!"
"Berhenti menggunakan kata-kataku!"
"Menyebalkan!"
"Hei Shika berhen-"
"Tadaima."
"SAKURAAAA!"
"Tadaima." Suara malas Sakura terdengar di pintu depan asrama Sakurasou. Gadis musim semi itu melepas sepatu sekolahnya dan berencana untuk langsng mandi. Ia butuh air untuk menyegarkan tubuhnya. Namun baru saja ia berbalik, tubuh mungilnya sudah dipeluk erah oleh banyaknya tubuh pria, membuatnya sesak napas.
"Hei- Kalian apa-apaan!"
"Kami merindukanmu, Sakura-chan!" Suara Naruto terdengar seperti mau menagis.
"Menyingkir dariku, kalian ingin membunuhku, HAH!" Omelan Sakura langsung membuat semua penghuni Sakurasou sadar. Dengan segera melepas tubuh Sakura.
"Astaga Sakura kenapa wajahmu?" Kakashi memekik kaget melihat wajah Sakura. Walaupun sudah diobati dan ditempeli plester luka tetap saja luka serta memar masih nampak di wajah putih Sakura.
"Jangan bilang kau habis berkelahi?" Suara Neji bertanya dengan penuh penekanan.
"Bukan urusanmu kan?" Sakura berujar dingin sambil melengos pergi. Namun ditahan oleh Gaara.
"Biar kami obati."Ucapnya sambil menarik tangan Sakura.
"Ini cuman luka kecil!" Ujar Sakura
"Berisik! Lebih baik kau menurut saja, dasar pinky keras kepala!" Balas Kakashi sambil ikut menarik Sakura sedangkan pemuda yang lainnya mengikuti dibelakangnya meninggalkan Menma dan Sasuke di pintu depan.
"Kau lihat kan, Sas?" Tanya Menma membuat Sasuke menoleh.
"Hn. Sepertinya masih baru." Balas Sasuke
"Itu bukan buatanmu, kan?"Menma melirik kearah Sasuke yang kini wajahnya sudah sedikit memerah.
"Bodoh. Kau bisa lihat warnanya kan. Itu seperti baru dibuat beberapa saat yang lalu, jadi mana mungkin itu Kissmark milikku!" Ujar Sasuke sambil melangkah pergi menyusul yang lain meninggalkan Menma .
Menma menatap punggung Sasuke. "Kalau bukan Sasuke, lalu kissmark buatan siapa?"
.
.
.
TBC
Balasan Review :
Dennis Kim -DK : Ahhh makasih yahh. Maksih karena sudah mau baca fic abalku dan makasih buat reviewnya :*
Eysha CherryBlossom : Haha, itu akan kebuka seiringnya berjalannya fic ini. jadi janagn lewatkan *modus* :D
CHERRYL : Iyah yah. Kenapa Sasu-chan jadi mesum begitu? *plakk . Terimakasih karena sudah membaca fic abal ini
Ccherrytomato : Hehe, gomen. Aku memang rada susah buat ngerubah kata enggaknya :P tapi karena fic ini engga pake bahasa baku banget jadi enggak papa yah
SinHye, kazuran, sofi asat, Brownchoco, Kiki RyuEunTeuk, MayuUchiHaru, hanazono yuri, azhuichan : Ini sudah ko
Jeremy Liaz Toner : ahh makasih. Kamu adalah reviewers setiaku :* ini special untuk kamu deh :*
Harulisnachan : Haha jangan panggil senpai ah, aku masih baru ko. Silahkan, jangan lupa baca terus dan review yah
uchiha kawaii : haha terimaksih ditunggu review selanjutnya
yumichan : Ini sudah memasuki Chapter 3
Nawaki Riji : Saya pun senang karena kamu mereview fic abal saya. Terimaksih
Rie Megumi : haha, harus hati-hati buat Sakuranya nih :p . Ekhem, sebenernya author yang jadi penggemar berat Kenichi Matsuyama :D
Luchy Neko : Haha, mohon doanya aja deh Untuk Sakura mah pasti kuat lah menghadapi kumpulan pria tampan xixixi
Kumada Chiyu : Terimakasih hehe, untuk limenya Author lagi berusaha :) harap mau menunggu yah
ReginaIsMe16 : Gomen yah, Sasu-channya jadi over OOC
Hatake Ridafi : Terimakasih
