Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
[Hanamiya x Reader/OC x Kiyoshi] fanfiction. Second POV used.
Enjoy!
.
.
"Apa perlu kuberi tahu pada Kiyoshi kalau gadis aneh ini sebenarnya menyukainya?"
"Whoa—ja-jangan!"
Seringainya tambah lebar. Duh, tenang [Name], tenang. Kau harus menunjukkan poker face terbaikku, agar ia berpikir kalau kau samasekali tak terpengaruh oleh gertakannya.
"Yah—beritahu saja. Kurasa dia tak akan percaya dengan ucapanmu," ujarmu—pura-pura—santai.
"Benarkah? Ah—bagaimana kira-kira reaksinya, ya? Mungkin dia akan merasa risih lalu menjauhimu—"
Ugh, jujur saja kau merasa terancam. Tapi kau tak akan menunjukkannya—"Hah, tidak apa-apa~ Kiyoshi itu baik dan lagi—kami berteman dekat, jadi tak mungkin dia menjauhiku."
"Jangan pura-pura tenang, aku tahu kau sangat cemas. Terlihat jelas di wajahmu," tandasnya disertai senyuman licik yang menyebalkan. Tampak menikmati raut gelisah yang terbit di wajahmu.
"Hah, j-justru yang membuatku cemas kalau mesti berlama-lama dengan orang sepertimu!" –kaulirik jam tangan— "Berhenti bicara dan cepat selesaikan tugas ini! Aku mau pulang!"
"Baik, baik." Hanamiya memasang tatapan meledek, lalu tersenyum misterius.
.
.
(Untuk sementara waktu—biarlah ini menjadi rahasia. Biarlah nanti—pada saat yang tepat—aku sendiri yang menyampaikan isi hatiku padanya. Perasaan ini suatu saat pasti akan kuungkapkan pada Kiyoshi.)
.
.
.
Mentari musim dingin menyinari pohon-pohon meranggas yang telah digugurkan dedaunannya oleh kuasa suhu dingin. Udara menusuk tulang—mengharuskan tiap orang bersiap dengan jaket tebal serta syal agar tak membeku di jalanan. Musim semi masih beberapa minggu hari lagi—sehingga orang-orang harus bersabar bila ingin menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran.
Nyatanya—sesuatu dalam dirimu telah merekah lebih dahulu dari para bunga itu. Suatu hal abstrak yang indahnya tak kalah dari warna-warni kelopak bunga.
Setelah pertemuan tak terduga di restoran hari itu—kau dan dia kembali menjalin komunikasi. Saling berkirim SMS dan mengobrol lewat telepon untuk sekedar menanyakan kabar—juga saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Pemuda itu masih ramah dan hangat seperti dulu. Kau senang karena sosok yang mempunyai senyuman secerah mentari musim panas itu kembali hadir dalam hidupmu.
(Pertemuan hari itu telah membangkitkan perasaan yang sempat terpendam—dan merekahkannya menjadi rasa bersemi yang membuncah.)
.
.
"-san! [Name]-san! Hei, kau mendengar tidak?"
Kau tersentak. Ya ampun, tanpa sadar kau terlarut dalam lamunan—sampai-sampai tak memperhatikan pelajaran. Padahal kauselalu jadi anak baik yang tekun menyimak penuturan guru, tapi kali ini tabiat baik itu absen karena … cinta?
Euh, terdengar menggelikan.
"[Name]-san, maju dan kerjakan soal ini," perintah sensei sambil menunjuk serentetan huruf dan angka yang membentuk sebuah soal di papan tulis.
"Baik!" Segera kau maju dengan tergesa. Sesampainya di hadapan papan tulis, kau terdiam sejenak. Biasanya hanya butuh beberapa detik bagimu untuk menelaah soal—dan kemudian jemarimu akan segera menuliskan penyelesaian dengan lancar. Tapi kali ini, entah mengapa otakmu terasa buntu. Soal ini rumit sekali dan belum pernah dipelajari—oh! Mungkin sensei menjelaskannya tadi sewaktu kau sibuk melamun.
Duh, bagaimana ini. Matamu mulai melirik sana sini dengan gelisah.
"Sensei, daripada menontoni gadis ini menjadi patung, lebih baik aku saja yang mengerjakannya."
"Oh, silahkan Hanamiya-san. Kau boleh kembali ke bangkumu, [Name]-san."
"Eh—tu-tunggu sebentar, aku akan menjawabnya."
Pak guru berkepala plontos itu menghela napas. "Tapi kau sedang tak fokus, [Name]-san. Tampaknya ada sesuatu yang menyita pikiranmu. Yah, mungkin kau sedang ada masalah atau apa—jadi aku memakluminya. Tapi jangan diulangi, karena sebentar ujian sebentar lagi dan kau harus fokus belajar."
"Baik, sensei."
Lalu kau kembali ke bangku, sementara Hanamiya beranjak menuju papan tulis. Saat kalian berpapasan, dia berbisik—
"Bodoh, menjawab soal semudah itu saja tidak bisa."
Heh? Dia mengataiku bodoh?!
.
.
.
Oke, kali ini kau akan konsentrasi pada pelajaran. Jangan sampai pikiranmu melayang kemana-mana seperti saat pelajaran matematika tadi pagi.
"Bagi yang bisa menjawab ini akan saya beri poin plus," ujar sang guru sembari menunjuk sebuah soal di papan tulis.
Dengan segera kau menganalisa, mengutak-atik rumus serta mengukir angka di kertas coretan—untuk menemukan jawaban dari soal di depan. Satu menit kau berkutat dengan soal fisika itu, namun tak membuahkan hasil. Soal ini sangat susah!
Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan.
"Ya, silahkan tuliskan jawabannya, Hanamiya Makoto."
Satu papan tulis dibabat habis dalam waktu semenit. Kau terpana saat menyaksikannya. Seandainya dia ini bukan si lelaki super menyebalkan, kau pasti sudah memintanya untuk mengajarimu secara privat. Setelah menerima pujian dari sensei serta pandangan kagum dari teman-teman, lelaki itu kembali ke bangkunya—yang berada tepat di sebelah kananmu dan hanya dikelang spasi antarbaris.
"Mengagumiku, heh?"
Kautolehkan kepala dan mendapati Hanamiya bertopang dagu sembari menatap remeh ke arahmu. Kau mendengus. "Yang benar saja!"
"Soal ini sangat mudah, tapi kau sepertinya begitu kesulitan." Dia berkata dengan nada super angkuh. "Dasar bodoh."
Perempatan muncul di kepalamu. " … oi, teme …"
.
.
.
"Oi, kau! Berhenti menyebutku bodoh, brengsek!" dampratmu setelah pelajaran usai dan ruang kelas telah ditinggalkan para murid. Matamu menatap nyalang sementara telunjuk kanan teracung ke arah pemuda brengsek yang berada di hadapanmu itu.
Si brengsek itu malah tertawa sinis. "Heh. Itu adalah kenyataan, nona jelek."
"Aku selalu masuk peringkat sepuluh besar seangkatan, dan kau mengataiku bodoh, huh?" Kedua tanganmu kini terlipat di depan dada.
"Kau bangga dengan hal itu?" Tanya lelaki itu skeptis. "Tentu kautahu 'kan siapa yang selalu mendapat peringkat satu?"
Oh, si penyandang peringkat satu mutlak ada di hadapanmu sendiri sekarang. Kau benci mengakuinya—tetapi kenyataannya nilainya memang selalu jauh di atas murid-murid lainnya. Dia jenius—tetapi dengan sifat buruknya itu, kebanyakan orang enggan berurusan dengannya. Kecuali kau yang malah terlibat konflik dengan kapten tim basket berjuluk bad boy itu. Salahkan sifatnya yang membuat sumbu emosimu cepat sekali tersulut bila berhadapan dengannya.
" … tch. Jangan sombong, aku … aku bisa mengalahkanmu!" teriakmu lantang dan penuh keyakinan.
Hanamiya malah menatapmu geli. "Pfft! Apa aku salah dengar? Orang yang nilainya jauh di bawahku mengatakan bahwa dia akan merebut peringkatku? Jangan mimpi, bodoh."
"Lihat saja …" Kedua tanganmu terkepal erat—dan sejurus kemudian telunjuk kananmu menudingnya dalam-dalam, gestur menantang. "Akan kubuktikan di ulangan mendatang!"
"Hoo, jadi kau menantangku? Hm, oke, oke. Kalau begitu—" Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk seringaian. "Kita taruhan."
"Boleh saja!" Tanpa pikir panjang kau menyetujuinya.
"Yang kalah harus menuruti perintah yang menang, apapun itu. Akan kuhancurkan harga dirimu yang konyol itu, nona jelek."
"Tch, jangan meremehkanku! Aku akan merebut peringkat satu darimu! Lihat saja, akan kubuat kau menjilat ludahmu sendiri!"
"Yah, sampai jumpa di medan perang—ujian sekolah seminggu mendatang."
.
.
.
Setelah deklarasi perang tersebut, kau berusaha mati-matian agar bisa menjadi pemenangnya. Sepulang sekolah kauisi dengan mengunjungi perpustakaan, pun dengan malam hari yang kaugunakan untuk mempelajari materi pelajaran. Karena determinasimu terlampau kuat untuk mengalahkan orang yang namanya berada paling atas dalam list musuhmu itu.
Hmm, nanti ketika menang apa yang akan kaulakukan ya? Mungkin kau akan menyuruhnya berjalan menggunakan tangan mengitari sekolah—ah, atau kaupakaikan dress dan kudandani seperti wanita, lalu kufoto dan kutempel di majalah dinding!
Kau tertawa saat membayangkan berbagai kemungkinan 'hukuman' yang akan kauberi. Sementara kedua temanmu berbisik sambil memberi tatapan aneh. "Apa [Name] sehat? Dari tadi senyum-senyum aneh, dan sekarang malah tertawa seram …"
" … entahlah."
.
.
Hari ini pengumuman hasil ujian.
Dengan harap-harap cemas kaudekati papan pengumuman, yang bagimu terasa bagai penentuan hidup-mati.
.
.
.
1. Hanamiya Makoto
2. Ayuzawa Minako
3. Yuzuki Yosuke
4. Shinohara Jin
5. [Full Name]
"…."
Kau tak berkutik kala melihat hasil yang tertempel. Saat kautoleh ke samping, si brengsek itu sudah menyeringai penuh kemenangan.
(Oh, sial.)
.
.
Di halaman belakang sekolah yang sepi hanya ada kalian berdua. Sengaja kaupilih tempat ini, karena kau tak ingin ada orang lain yang mengetahui perihal taruhan—yang berbalik menjadi senjata makan tuan untukmu—ini. Kami-sama, kau mendapat bencana yang sangat gawat …
"Jadi … Aku menang." Hanamiya tersenyum setan. "Siap untuk menerima hukuman, nona kalah taruhan?"
Kau menenggak ludah. "Ugh … Ja-jangan yang aneh-aneh ya!" Kedua tangan kausilangkan—memasang gestur melindungi tubuh.
Hanamiya menatapku lekat-lekat, membuatmu sedikit risih. "Hmm, aku ingin kau membayarku dengan tubuhmu."
Jderr. Petir imajiner menyambarmu.
…
"TIDAK AKAN PERNAH! KATAKAN ITU SEKALI LAGI—DAN KUHAJAR KAU!" Wajahmu sangat menyeramkan sekarang.
"Bercanda, bodoh. Aku tak mau dengan gadis tak menarik sepertimu," ujar pemuda brengsek itu enteng.
"Tak-tak menarik?!"
Tanpa menggubris teriakan tak terimamu, ia lanjut bicara dengan seenaknya. "Begini, kau akan menjadi budak yang harus menuruti tiap perintahku, apa saja."
Cih, sudah kauduga, pasti macam ini hukumannya. Bagaimana ini …
"Tidak ada yang lain?" Kau mencoba menawar—sungguh, Kau tak rela menjatuhkan harga dirimu di depan orang ini.
"Ah … bagaimana kalau—"
Grep.
Sejurus kemudian ruang sekitarmu menjadi sempit. Kau terjebak antara dinding dan tubuh tinggi pemuda itu. Kedua tangannya menutup aksesmu untuk melarikan diri. Persis seperti adegan kabe-don yang sering kaulihat di anime. Tak pernah berpikir akan mengalaminya di dunia nyata, apalagi dengan seorang Hanamiya Makoto. Sialan—si brengsek ini, jarak antara tubuh kalian terlalu dekat, jauh melewati zona nyaman!
Kau melayangkan tangan kanan untuk meninju—ditangkis, lalu tangan kanan—ditangkis juga. Jantungmu berdegup kencang. Jelas saja, aku sedang dalam bahaya sekarang!
"Menjauh dariku …" desismu, wajahmu yang biasanya menatap nyalang penuh kebencian kini teralih ke samping—tak sanggup menatap wajah si pemuda dari dekat, entah mengapa—seolah seluruh nyalimu terisap oleh tubuh lelaki yang kini hanya berjarak beberapa senti darimu itu.
Wajahnya mendekat—
Lalu mulutnya terbuka untuk menyampaikan sebuah kalimat—yang langsung tersalurkan dengan baik ke gendang telingamu.
"Bagaimana kalau kau menjadi pacarku?"
Deg. Kau terbelalak maksimal. Jantungmu rasanya akan meloncat keluar dan panas merambat di wajahmu. Sial, dia sudah keterlaluan—menyudutkanmu dalam situasi begini. Seenaknya mendesakku ke tembok, lalu mengutarakan kalimat macam itu. Si brengsek ini, kau ingin melemparnya hingga terpental ke angkasa!
"Huh, yang benar saja! Mana aku mau, brengsek! Menjauh dariku!"
"Memangnya kenapa? Kau tak punya pacar kan? Daripada menghabiskan waktu SMA sebagai gadis kesepian yang tak laku, bukankah lebih baik denganku?"
Rasanya kau ingin meledak.
"Aku memang tak punya pacar, tapi sudah ada orang yang kusukai!" bentakmu.
"Hoo, memangnya siapa?"
(Imaji sosok itu terproyeksi di benak—diiringi dengan kilauan bunga yang diterpa mentari musim semi.)
.
.
"Kiyoshi Teppei! Aku menyukai Kiyoshi Teppei! Suatu saat akan kubuat dia menerima cintaku, jadi kau jangan coba ikut campur urusan romansaku!"
Hanamiya bergeming, sementara kau terengah-engah sehabis berteriak-teriak tadi.
.
.
.
.
"Pfft—hahahahahahaha!"
Kau mengernyitkan alis tak mengerti.
"Hmph. Sudah kuduga. Kau mudah sekali dipancing." Ia menarik tubuhnya—kembali menaruh jarak yang semestinya. Kau bernapas lega.
"Hah?"
"Kau mudah sekali dipermainkan. Lihat saja wajahmu tadi saat aku menyudutkanmu—seperti orang bodoh saja. Dan … kalimat terakhirmu tadi sudah kurekam."
Deg
"Itu akan jadi bukti konkrit kalau kau menyukainya—jadi kalau kuperdengarkan pada pujaan hatimu itu—"
Tubuhmu lemas. "Ja-jangan … "
"Kalau kau ingin aku menjaga ini, maka jadilah anak penurut dan terima hukumanku, nona jelek."
"Kau … ingin aku jadi pacarmu?"
"Hah, itu cuma pancingan, bodoh. Aku juga tak sudi—bahkan walau pura-pura—pacaran dengan gadis jelek macam kau."
"Cih. Jadi kau mau apa?! Menjadikanku budak?! Menyuruhku jadi anjingmu?! Terserah—terserah kau saja, maniak gila! Lelaki brengsek yang sadis!" bentakmu dengan amarah yang berkilat-kilat.
"Tenang, kurasa hukumanku akan membuatmu senang. Aku memerintahkanmu untuk manajer tim basket."
" … hah? Bisa kauulangi?"
"Jadi manajer kami."
Menjadi manajer tim basket? Tim yang dipimpin oleh lelaki brengsek bertabiat jelek dan gemar memperlakukan orang lain dengan buruk itu? Baru memikirkannya saja aku sudah lelah. Tapi setidaknya—hukuman ini jauh lebih 'normal'.
"Ingat, kau harus menuruti tiap perintahku—sebagai kapten sekaligus pelatih dan juga. Tugasmu sebagai manajer merangkap budak. Jadi kau harus menyiapkan minuman, mengantarkan handuk, membersihkan lapangan usai latihan, membuatkan bekal, dan lain-lain untuk kami."
"…"
(Ya, ini adalah bencana—dan entah apa yang akan kuhadapi setelah ini.)
.
.
.
TBC
.
.
A/N:
Gomennn updatenya lama ;_;
Di chapter ini aku ganti jadi sudut pandang pertama, menurut kalian enakan pake First or Second POV? ._.
Mungkin kalian bertanya; lha ini chapter kok isinya Hanamiya semua? Jawabannya adalah karena Hanamiya tampan /Salah!/ Ehm—temanya masih triangle love kok, jadi di chapter depan giliran hubungan reader dan kiyoshi akan dieksplor lebih jauh.
.
.
See you next chapter! Jangan lupa tinggalkan jejak yaa (^_^)
