Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

[Hanamiya x Reader/OC x Kiyoshi] fanfiction. Second POV used.

Enjoy!

.

.


Pagi hari, kau melenggang santai menuju gerbang sekolah yang berada berapa meter di depan mata. Suara murid yang saling menyapa mengisi indera pendengaran diselingi cicitan burung, menjadi suatu melodi yang indah—

"Oi, asisten. Bawakan ini ke gym."

—Namun sayangnya suara sumbang menginterupsi.

Tahu-tahu seseorang ikut berjalan di sampingmu, dan tanpa menolehpun kau sudah tahu siapa—dirasa dari aura tidak menyenangkan yang seketika merusak mood pagi ceriamu.

Delikan kaulayangkan pada si rambut hitam dengan aura tak kalah hitam itu. "Kenapa harus aku, hah? Bawa saja sendiri!" protesmu tak terima kala sosok itu menyodorkan dua kantong plastik besar berisi barang-barang entah apa itu.

"Aku kapten, jadi berhak memerintahmu. Segera bawa perlengkapan ini ke gym, manajer-chan."

Kau ingin muntah.

.

Istirahat makan siang. Baru saja membuka kotak bekal, tiba-tiba ponselmu berdering.

Belikan aku minuman, sekarang.

Hanamiya

Delikan tajam kauarahkan pada sosok yang sedang membaca buku dengan tenangnya di sudut ruangan. Secepat kilat kauketik balasan.

Beli sendiri, sialan!

Ia menghentikan kegiatan membacanya sejenak untuk mengetik balasan.

Cepatlah, aku haus. Kau pesuruhku, bodoh.

Kau ingin melempar kursi ke wajah jeleknya.

.

.

Sepulang sekolah, kalau tidak mengikuti kegiatan klub—yang kaulakukan adalah jalan-jalan dengan teman atau bersantai di rumah ditemani cemilan dan musik kesukaan. Tapi itu dulu, sekarang …

"Yak! Pemanasannya sudah cukup. Sekarang kita lanjutkan dengan latihan fisik."

Kau malah terjebak dengan kumpulan lelaki berkeringat yang bahkan tak satupun kaukenal. Duduk sendirian di bench ditemani papan klip yang akan kauisi dengan data perkembangan anggota dan segala tetek bengeknya. Padahal tugas sekolah saja sudah menumpuk, malah harus ditambah dengan hal merepotkan ini.

"Manajer jelek. Belikan minuman untuk tiap anggota. Cepat, kalau lebih dari sepuluh menit—jatah tugasmu akan kutambah."

Salahkan si brengsek yang membawamu dalam lingkaran ini!

.

.

.


Di perjalanan pulang, kau menyusuri trotoar dengan langkah diseret. Seluruh tubuhmu pegal linu gara-gara si brengsek itu menyuruhmu mengepel seluruh lantai gym. Embel-embelnya manajer, tapi kenyataannya kau diperbudak.

"Haah …" Untuk kesekian kalinya kau menghela nafas lelah. Kini kau sudah berada di kereta—dan untungnya kau mendapat tempat duduk. Rasanya tubuhmu akan remuk kalau tak segera diistirahatkan. Gila, baru sehari saja kau sudah lelah setengah mati. Lelah raga dan lelah pikiran.

Bagaimana untuk selanjutnya?

Di tengah kemelut pikiran, ponselmu berdering menandakan pesan masuk.

[Name], besok sepulang sekolah kau ada acara tidak? Aku bersama anggota klub basket Seirin akan berkunjung ke kafe dekat stasiun. [Name] ikut ya, aku mau memperkenalkan teman-temanku, hehe.

Kiyoshi

Kiyoshi mengajakmu bertemu! Oke, walau jauh dari kata kencan, tetap saja kau senang. Dalam sekejap rasa penatmu menguap. Dia seperti obat saja, huh. Tak heran kau bisa menyukainya. Bahkan jatuh cinta dua kali—ralat, berkali-kali—pada orang yang sama.

.

.

.


(Dua tahun lalu ketika kau masih mengenakan seragam SMP.)

Bel istirahat baru saja berbunyi tadi, timing yang pas berhubung perutmu sudah keroncongan. Sebelum ke kantin, terlebih dahulu kau merogoh saku untuk memastikan keberadaan dompetmu—namun nihil. Kau pun mengobok isi tas dengan agak panik. Di sela pencarian benda penting itu, seseorang menghampirimu, lalu bertanya, "Ada apa, [Name]-san? Kau kehilangan sesuatu?"

Langsung kau menoleh pada sosok itu. Ternyata dia adalah lelaki bertubuh besar—teman sekelasmu—yang bernama Kiyoshi Teppei. Kau baru mengenalnya di tahun ketiga ini, dan hubunganmu dengannya hanya sebatas teman sekelas—tak ada kedekatan khusus yang terjalin.

"Dompetku ketinggalan. Padahal aku mau beli makan siang," jawabmu.

"Oh …" Lelaki bersurai cokelat itu mengangguk paham. "Kalau begitu pakai uangku saja. Aku juga mau ke kantin."

Sekonyong-konyong kau mengibaskan tangan sambil menggeleng. "Terima kasih, tidak perlu repot-repot kok—"

Kiyoshi tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. "Tidak masalah. Teman harus saling membantu, 'kan?"

Oke, kau tak sanggup menolak kebaikan hatinya.

.

.

Kau dan Kiyoshi melenggang keluar kantin sekolah, dengan sebungkus roti serta minuman kaleng di genggaman masing-masing.

"Terima kasih banyak, Kiyoshi-kun. Nanti besok uangmu kukembalikan," ujarmu sembari tersenyum.

"Tidak usah, [Name]-san. Aku yang traktir."

"Eh, kenapa?" Kau mengerjap bingung.

"Itu, sebenarnya …" Kiyoshi menggaruk belakang kepalanya sambil menyengir. "Nilai fisikamu selalu bagus, jadi aku ingin kau mengajariku. Aku juga ingin memperbaiki nilaiku, hehe. Tolong ya?"

Kau menyanggupinya, dan sepulang sekolah kalian pun belajar di perpustakaan.

.

.

"Eh, tunggu. Planaria tidak mati setelah dipotong, dan malah tumbuh menjadi makhluk baru? Jangan-jangan … mereka ini sejenis siluman?!"

—Awalnya kaukira komentar konyol yang tidak masuk akal itu hanya lawakan darinya, tapi kaulihat ekspresinya serius dan tidak tampak gurat jenaka.

… Oke, sepertinya dia agak aneh. Tapi lucu juga.

.

.

Hari-hari berikutnya, hubungan kalian makin erat. Kalian sering belajar bersama dan terkadang menghabiskan waktu berdua di kafe. Seiring waktu, kalian makin mengenal satu sama lain.

Sore itu, kalian pulang bersama—untuk yang keberapa kalinya—setelah belajar bersama di perpustakaan untuk mersiapkan diri menghadapi ujian. Kalian berpisah di perempatan, Kiyosih ke kanan dan kau ke kiri.

"Kiyoshi! Terima kasih untuk hari ini! Nanti kita belajar bersama lagi ya!" teriakmu tanpa ragu pada sosoknya di seberang jalan sana.

Huh, sejak kapan aku merasa sedikit tak rela ketika berpisah dengannya? Sejak kapan pula jantungku sering berdegup kencang ketika di dekatnya? Dan sejak kapan kehadirannya menjadi hal yang kutunggu-tunggu?

Kau tersenyum memikirkan arti dari gejolak-gejolak yang kaurasa itu.

.

.

.

Tiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu—tanpa sadar hari kelulusan telah tiba. Kini kalian berada di ruang kelas yang telah memberi banyak kenangan. Hanya berdua; kau dan Kiyoshi, diiringi secarik aura perpisahan. Kalian berdiri di dekat jendela—memandangi pemandangan bunga sakura yang bermekaran dari jendela kelas.

"Setelah ini, kita pergi ke sekolah yang berbeda. Walau begitu, kita tetap berkomunikasi, ya!" Kiyoshi berujar ringan seolah tanpa beban. Senyuman lembut terpoles di wajahnya—membuatmu nyaman sekaligus risau, sebab tak akan bisa menyaksikannya tiap hari seperti sebelumnya.

Kautelan segala kegusaran, sebagai gantinya kautampilkan raut wajah seseceria mungkin. "Tentu. Kita punya nomor masing-masing 'kan?"

Gumaman kecil sebagai balasan—kemudian tanpa aba-aba, Kiyoshi meletakkan tangannya di atas kepalamu. Sontak jantungmu berdegup kencang, dan sepercik rona merah menghias wajah.

"A-ada apa?" tanyamu.

Senyum masih tersungging di wajahnya, sementara manik cokelatnya menatapmu teduh. Kami-sama, mata kalian bersirobok—dan itu menambah efek debaran di dadamu.

Setelah hening beberapa saat, akhirnya Kiyoshi angkat bicara. "Sebelum berpisah, aku ingin mengatakan ini padamu."

Deg.

"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Aku sangat senang bisa berteman denganmu."

Kau sempat berpikir bahwa kata-kata itu yang akan keluar, dan harapan itu menciut seketika.

"Ahaha. Itu bukan hal yang perlu diucapkan, tahu." Kau meninju bahunya pelan. "… Aku juga."

"Ah, aku mau menyampaikan salam perpisahan pada anggota klub basket. Mereka menunggu di gym. Jaa, [Name]," pamitnya.

Kau tersenyum sembari menatap punggungnya yang menjauh. Perlahan senyuman itu memudar. Di dalam hati rasa sedih merebak—lantaran kau sudah sangat terbiasa dengan kehadirannya di dekatmu. Tapi kau tak ingin perpisahan yang mengharu biru, karena setelah ini pun—kau yakin—hubungan kalian tak akan merenggang.

Dan perasaan ini ingin selalu kaujaga.

.

.

Setelahnya kalian tetap saling menyapa lewat telepon maupun pesan singkat—walau tak dipungkiri, frekuensinya terbatas lantaran kesibukan masing-masing. Terutama dia dan klub basket.

"Kami ingin menjadi nomor satu di Jepang, hehe."

Kau tersenyum mendengar kalimatnya di ujung telepon sana. Penuh harapan dan determinasi, tipikal Kiyoshi sekali.

"Akan kunantikan itu," balasmu.

.

.

Beberapa bulan kemudian, komunikasi kalian terputus. Pesanmu tak satupun yang dibalas, dan nomornya samasekali tak bisa dihubungi. Kegusaran melandamu, dan pada akhirnya kau nekat mendatangi sekolahnya.

SMA Seirin.

"Oh, Kiyoshi Teppei? Dia sudah absen selama dua minggu karena diopname di rumah sakit."

Kau syok. Segera kau melesat ke rumah sakit tempatnya dirawat. Berbagai pemikiran berkecamuk—rumah sakit? Dua minggu? Ya ampun, apa dia sakit parah? Atau kecelakaan?

Tentu saja, kau sangat mengkhawatirkannya.

Setelah perjalanan yang terasa sangat panjang, kini kau berada di depan kamar tempatnya menginap. Sebelum masuk, kau mengintip ke dalam terlebih dahulu lewat celah pintu. Dan pemandangan yang kautangkap adalah sosok bertubuh tinggi—Kiyoshi—yang berselonjor di ranjang rumah sakit, serta seorang gadis berambut cokelat pendek yang duduk di sisi ranjang.

Kau mengernyit heran. Siapa gadis itu?

"Kau akan segara sembuh 'kan? Rasanya … latihan terasa sepi tanpamu, Teppei."

Telingamu berjengit mendengar gadis itu memanggil nama kecil Kiyoshi—hal yang bahkan belum pernah kaulakukan. Perasaan tak enak mulai merubungi hatimu. Jangan-jangan …

"Tenang saja Riko, aku akan kembali bermain basket bersama kalian! Tunggu saja." Kiyoshi tersenyum lembut sembari mengelus puncak kepala gadis itu "Dan juga … Aku rindu pada Riko."

Deg.

Seketika sekitarmu menjadi senyap. Seluruh daya seolah terbang dari tubuhmu—membuatmu lemas dan akan roboh bila saja dinding tak kaufungsikan sebagai senderan. Selama beberapa detik kau merasakan kakimu terbuat dari jeli dan sekujur tubuhmu mati rasa.

Kaukepalkan kedua tangan sekuat tenaga hingga buku-buku jarimu memutih dan kuku-kuku hampir mengoyak telapak tangan bagian dalam. Guna memberi sentakan agar tubuhmu dapat berfungsi—dan membawamu pergi dari sini sekarang juga.

Kau berlari ke stasiun dalam keadaan kalut. Rasa sesak menari-nari di dada tanpa bisa kaucegah. Segala penantian dan pengharapanmu seolah runtuh begitu saja sore itu. Sesampainya di rumah, pertahanan dirimu roboh. Bantalmu dibasahi air mata. Ternyata kau tak sanggup bermain tegar, karena bagaimanapun—patah hati itu menyakitkan.

.

.

Kau tak ingin berlama tenggelam dalam keterpurukan—jadi kauputuskan untuk melupakannya. Lagipula, setelah kaupikir-pikir, kalian sudah punya kehidupan masing-masing. Dan adalah hal yang wajar—sangat wajar malah—bila dia menemukan tambatan hatinya di SMA. Itu hal yang lumrah—dan kau, sang gadis yang menyukainya diam-diam dari kejauhan bukanlah apa-apa, dan hanya bisa berlapang dada akan fakta itu.

Majalah olahraga yang berisi profilnya kausingkirkan—pun dengan foto-fotonya yang diambil ketika SMP. Tidak dibuang, melainkan dimasukkan dalam sebuah kotak yang kusimpan rapat di dalam lemari. Kenangan indah itu tak bisa dilupakan begitu saja, heh?

Hidupmu berjalan seperti biasa, hingga hari itu kau diseret temanku untuk menonton pertandingan basket tim sekolahmu di babak pra-penyisihan Winter Cup. Di saat itulah kau tersadar bahwa ada yang aneh dengan cara bermain tim Kirisaki Dai Ichi. Strategi yang mengandalkan kelicikan dan permainan kasar—kesimpulanmu.

Dan ketika pertandingan terakhir—yang menentukan keikutsertaan tim Kirisaki Dai Ichi dalam laga Winter Cup—nostalgia menghantammu. Seirin. Kiyoshi Teppei.

Selama pertandingan berjalan, manikmu tak terlepas dari sosok yang berdiri gagah di bawah ring itu. Bola oranye yang menjadi pusat atensi seluruh orang di stadion dikalahkan oleh pesona sang pemain tertinggi itu—bagimu.

Dan saat itulah kau menyaksikan tubuh lelaki itu dihantam berkali-kali oleh tangan kasar pemain tim kalian. Pasti itu sangat sakit, namun kaulihat—sorot matanya memancarkan kekuatan yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan akan terus berdiri kokoh.

Dia melindungi teman-temannya. Bahkan seiring waktu, dia tetap menjadi sosok yang tangguh, eh? Debaran nostalgia semakin kuat menyelimutimu—bercampur aduk dengan rasa geram. Kau mengepalkan kedua tanganku erat—dan menatap tajam sosok bersurai hitam yang ada di lapangan sana. Kau yakin, dia—selaku kapten—yang menginstruksikan hal ini. Akan kau sampaikan komplainmu!

(Itulah yang membawamu menemui sang kapten tim basket pada suatu siang di atap sekolah.)

.

(End of Flashback)

.

.


Saat ini, kau sedang berada di kafe bersama Kiyoshi dan teman-temannya dari klub basket Seirin. Walau baru berkenalan dengan mereka tadi, kau dapat berbaur dengan baik. Mereka adalah orang yang menyenangkan—pantas saja Kiyoshi sangat senang berada di SMA Seirin.

"Ngomong-ngomong …" Di sela obrolan, pemuda bermulut kucing—yang bernama Koganei—berujar sambil tersenyum misterius. Sejurus kemudian ia menunjukkan layar ponselnya pada kalian. Semua yang ada disana langsung melongok untuk melihat apa yang ada disana.

Ternyata itu adalah foto seorang pemuda tinggi yang berjalan di sebelah gadis berambut cokelat pendek di sebuah distrik perbelanjaan. Semuanya—termasuk dirimu—langsung mengenalinya sebagai center dan pelatih Seirin—yaitu Kiyoshi dan Aida.

"Kemarin pasti kalian berkencan!" teriak Koganei penuh keyakinan.

"Eh? Aku dan Teppei hanya membeli perlengkapan basket." Aida memasang raut heran, karena merasa itu adalah hal yang tak patut dipermasalahkan. "Oke, kerena kau sudah bicara macam-macam, latihanmu kugandakan besok."

Si pemuda kucing terkaget dan tampak sangat menyesal. (—"Aku hanya bercanda, kok!")

Sementara kau tercenung. Selama ini memang ada yang mengganjal hatimu. Dan konversasi barusan menyemai kegusaran itu.

.

"Disini kau rupanya, gadis tukang bolos."

.

.


TBC


.

.

Haloo~ Pertama aku mau mengucapkan terima kasih bagi yang sudah mengikuti, memfav/follow, dan terlebih bagi yang mereview fanfic ini. Dukungan kalian menjadi pendorongku untuk melanjutkan fanfic ini :") Maaf kalau update-nya lama pake banget, sebut saja saya punya penyakit S&M—sadis dan masokis, eh salah sibuk dan males maksudnya. Terkadang kepenatan membuat mood untuk menulis hilang, hehe. /alasanlu!

FYI, aku mendapat ilham untuk bagian ini dari mendengar lagu JKT48 yang judulnya "Kimi ni Au Tabi Koi wo Suru" –lagu itu pas dengan perasaan si cewek ke Kiyoshi. Sengaja di chapter ini langsung full flashback karena untuk kedepannya bakal bersih dari flashback dan fokus ke plot. Dan saya bawa-bawa Riko disini, soalnya 'kan ada official information kalau dia dan Teppei is used to date, uhuk.

Oke, sekarang aku bakal membalas satu persatu review dari chapter sebelumnya. Maaf baru sekarang

Natsume27: Wahaha, emang sadist tuh Hanamiya … Ketularan tsundere dari Midorima? Bisa jadi tuh, untungnya nggak ikutan maniak Oha Asa XD

Caramel JY: Yosh! Ini udah semangat! =) Bener, si Hanamiya emang keterlaluan nih, siapa ya yang ngajarin dia begitu xD

Uchiha sintha: Hehe, aku juga selalu nggak sabar untuk update, nih lanjutannya :D

Yohey57: Yup, cinta segitiga~ Entahlah, authornya pun masih galau bakal sama siapa /duaghh/ okee, terima kasih dukungannya~

Mell Hinaga Kuran: ehehe, makasih dukungannya, ini udah lanjut~

Kumacchi desu: ya, kehidupan pembaca bakal seru (baca: nggak damai) dengan kehadiran kedua orang itu kekeke

Nurunuzu: okee, ini udah lanjut. Wuaah, baguslah kalo ceritanya mudah dipahami~ semoga selanjutnya kelakuan hanamiya tetap membuatmu deg-degan, hehe xD

.

.

Preview untuk next chapter(?)

.

"Eh?! Jadi [Name]-chan adalah manajer tim basket Kirisaki dai Ichi?!"

.

"Nee, Kiyosh apa kau menyukai Aida?"

.

.


*Abaikan preview gaje di atas xD*

Akhir kata, tinggalkan jejak di kolom review yaa!