Kuroko POV
Aku terbangun di suatu ruangan yang asing bagiku. Atap-atap yang tak kukenal, serta suasananya yang sangat asing bagiku. Oh, iya. Tadi malam, kan aku pindah ke rumah keluarga 'Akashi'... tapi, apa kamar baruku seluas ini? Ah, letak kasurnya juga berbeda. Buku-buku di rak juga bukan punyaku. Ini kamar siapa?
"Oh, kau sudah bangun," terdengar suara -yang entah kukenal atau tidak- disampingku. Ku melihat ke samping, dan kudapati seorang lelaki berurai merah darah, dengan mata berwarna kuning dan merah. Ia memakai kemeja SMP Teikou yang berwarna biru.
"Akashi...kun...?" aku terdiam sejenak karena pandanganku belum terlalu jenih. "EH?! AKASHI-" ucapanku terputus karena ia langsung mengacungkan gunting merah ke depan wajahku dengan cepat. "Jangan berisik!" ujarnya. Aku mengangguk mengerti, dan tidak henti-hentinya berkeringat dingin. Kemudian ia menyingkirkan guntingnya.
"... Akashi-kun... boleh aku bertanya?" ucapku ragu sambil menggenggam selimut dengan erat.
"hn?" ia menoleh kearahku sembari mengenakan dasi hitam.
"Ini di...mana?"
"Kamarku."
"kenapa aku bisa ada disini, ya?"
"Kau lupa? Tadi malam kau pingsan di kamarku. Oh, iya. Nih, bukumu." Ia melempar buku mtk ke pangkuanku.
"Eh?" oh, iya. Tadi malam aku memang pingsan karena ditodong gunting saat meminta diajari mtk... "Lalu kenapa kau tidak membawaku ke kamarku? Terus kamu tidurnya gimana?"
"Kamarmu terkunci. Dan tadi malam aku tidak tidur."
"Sou...? kenapa kau tidak mengambil kunci kamarku di saku-ku?"
"Kau mau aku merabamu untuk mengambil kunci? Ogah," mendengar ini, wajahku memanas dan memerah sehingga aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku. B-benar juga, sih... kalau mau mengambil kunci kamarku memang harus meraba dulu...
Cklek
Pintu kamar dibuka olehnya yang membawa jas putih SMP Teikou dan tasnya.
"Mau kemana?"
"? Tentu saja ke sekolah," mendengar ini, aku bergegas turun dari kasur dan melihat jam di meja yang menunjukkan angka 05:15. "ke sekolah? Sepagi ini?"
"Hn. Ada rapat OSIS. Aku duluan, ya," ia melangkahkan kakinya keluar kamar. "Tunggu!"
"Apa lagi?" ia menoleh dengan wajah yang seram. "hiii- m-maksudku, aku juga mau ke sekolah!"
"... sekarang? Ini masih terlalu pagi, lho."
"Tidak apa! Soalnya aku tidak tahu arah ke sekolah dari rumah ini..."
"... terserah. Kutunggu 15 menit lagi di ruang makan lantai 1," kemudian ia pergi dari kamar. Akupun segera ke kamarku. Kuletakkan buku mtk-ku di kasur, lalu berganti pakaian dan merapikan buku. Kemudian menuruni tangga ke lantai 1. Kulihat Akashi-kun sedang sarapan di ruang makan. Sepertinya masih sempat. "Duduklah," perintahnya dilontarkan kepadaku untuk duduk diepannya.
Dengan ragu, aku mendekati ruangan tersebut dan duduk. Kulihat meja di depanku terdapat 2 potong sandwitch dan secangkir teh. "A-apa ini?"
"tentu saja sarapanmu. Kau kira apa?" ucapnya sembari meminum kopi. Sepertinya ia sudah menghabiskan sarapannya.
"Sumimasen..."
"Cepat dimakan. Kita berangkat 5 menit lagi," mendengar ini, aku langsung memakan sandwitch-ku dan menghabiskan teh-ku. "Terima kasih atas hidangannya."
"Telat 10 detik. Ayo berangkat," ucapnya sembari membawa tasnya dan membuka pintu. Akupun mengikutinya dengan menjaga beberapa jarak.
"Tuan muda, mobilnya-"
"Tidak perlu. Bukankah sudah kubilang, kau tak perlu mengantarku ke sekolah, kan?" ucapnya kepada seorang pelayan laki-laki yang menundukkan kepalanya.
"Tapi-"
"Ini tak ada hubungannya dengan ayahku, jadi tenang saja," baru kali ini kulihat ia tersenyum seperti itu. Ah, aku memang tidak pernah melihatnya tersenyum kecuali saat pidato atau yang lain sih...
"Ayo pergi. Kamu ngapain bengong disitu?"
"Sumimasen..."
kamipun berjalan menuju sekolah, dan sesampainya disana, sudah dapat kuduga sekolah masih sepi. Tapi tak apa, karena aku tak terlalu suka keramaian. Kubuka pintu kelas 2-4, dan bergumam kecil, "O-ohayou gozaimasu..."
"Ohayou mou! Eh? Perasaan tadi ada yang masuk, deh..." ucap seorang gadis bersurai merah muda. Namanya Momoi Satsuki, bintang kelas.
"Atashi..."
"eh? KYAAAA!" ucapanku membuatnya kaget.
"Maaf... telah mengagetkanmu..."
"anata..."
"eh?"
"KAWAII! Lucu sekali! Imutnya! Kamu murid pindahan, ya? Kyaaa~!" ia memelukku dengan erat. "E-eh... aku... bukan murid pindahan... aku... sudah bersekolah disini selama... 2 tahun..."
"Eh? Kenapa aku tak menyadarinya, ya? Kalau aku sekelas dengan anak yang seimut ini! Lucu, deh!" ia memelukku tambah erat. "Eh, eh! Siapa namamu?"
"Kuroko Tetsuna...desu..."
"Atashi wa Momoi Satsuki desu! yoroshiku ne! Mulai hari ini kita berteman, ya!"
"Yoroshiku.. mou.." ucapku sembari menitikkan air mataku. 'teman'katanya? Ukh.. baru kali ini ada yang menyebutku begitu... "hik..hik.."
"E-eh? Kamu kenapa, Tetsu-chan? Eh, bentar.. Kuroko tetsuna itu... ah! Yang katanya tinggal di rumah Akashi-kun? Jangan-jangan kamu diapa-apain, ya?"
"Eh? Nggak! Aku nggak apa-apa! Aku juga nggak diapa-apain sama Akashi-kun, kok!" aku mengusap air mata yang keluar dari mataku.
"Sungguh?"
"Iya!"
Istirahat terakhir –ruang OSIS-
(Normal POV)
Ruang OSIS, pada jam istirahat terakhir. Seorang murid berkulit tan sedang menghadap seorang Akashi Seijuro yang tengah duduk di kursinya dan Midorima Shintaro disampingnya. Murid tersebut sedari tadi hanya tersenyum kaku, padahal di dalam hatinya berkata 'mati gue mati gue mati gue mati gue' berulang kali.
"Jadi? Kenapa tadi pagi kau tidak ikut rapat, Aomine Daiki?" ucap Akashi senyam-senyum ringan dengan aura hitam. Ya, murid berkulit tan itu bernama Aomine Daiki. Anggota OSIS bidang olahraga.
"A-Akashi...itu... tadi pagi meteor jatoh ke rumah gue, makanya gue harus-"
DOR
Sebuah peluru melesat ke arah Aomine. Untungnya dia menghindar makanya hanya wajahnya tergores sedikit dan rambutnya tepotong beberapa helai. Eh, tunggu. Peluru? Lu bawa pistol, Akashi? oh, ingat. Akashi itu absolut, jadi pistol bisa lolos dari penjagaan sekolah.
"Kau ngomong ngaco lagi, nyawa melayang, lho, Daiki. Ngomong yang bener," ucap akashi memutar-mutar pistolnya. Dan midorima yang di sampingnya hanya bisa sweatdrop.
"Eh? Hehehe... itu, Akashi... etto..." Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lu ngomong apa? Nggak kedengaran."
"Itu, Akashi... lampunya... nyala..." kali ini dia nunjuk-nunjuk lampu ruang OSIS.
SYAAAH! JLEB!
Gunting terlempar ke arah Aomine. Untungnya dia sempet menghindar. Klo nggak, nyawanya udah melayang dari tadi.
"Daiki... kau sudah bosan hidup rupanya..." ucap Akashi megang gunting dan pistol. Buset, dah. Ni anak senjatanya banyak amat...
Aomine dan midorima ber-sweatdrop ria sambil bergumam dalam hatinya 'gue mau pulang...'
"Jawab, Daiki," wajahnya berubah menjadi iblis murka. Bahkan beberapa perempatan muncul di wajahnya.
"Itu... sebenarnya gue ke acara tanda tangan Mai-chan tadi pagi... hehehe..."
"Daiki... nyadar ga? Klo rapat tadi tuh kacau gegara elu gak masuk?"
"Hehehe... jangan marah gitu, dong, akaSHIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII-?!" Aomine langsung kabur dan Akashi mengejarnya dengan tatapan seperti tadi, tatapan iblis murka. Midorima keluar ruangan, dan memastikan mereka tak kembali (parah!). kemudian ia mendapati Momoi yang bergumam "Dai-chan..." sembari melihat kebelakang, dan Kuroko dengan wajah bingung. "...Kalian ngapain kesini nodayo?" mendengar ucapan Midorima, Momoi langsung membalikkan kepalanya lagi.
"Mau nyalin pr mtk," ucap Kuroko.
"Lagi? ... ada di tas. Ambil aja nodayo. Terus kamu ngapain, Momoi? Mau nyontek pr juga?"
"Ng-gak! aku lagi nyari Akashi-kun."
"Akashi? dia lagi ngejar Aomine. Emangnya buat apa?"
"Eh? Etto... itu... tadi akashi-kun ngirim e-mail ke aku buat belanja. Katanya nanti dikasih uang pas istirahat terakhir..." ucap Momoi menunjukkan isi e-mail dari akashi. kemudian beberapa saat kemudian e-mail kembali masuk ke ponsel momoi. Ia membukanya, dan isinya adlah
From : Akashi Seijuro
To : Momoi Satsuki
Subject : minta ke Shintaro
Uang buat belanja minta ke Shintaro. Mintanya 2 ribu yen.
Kemudian Momoi menunjukkan e-mail tersebut ke Midorima dengan senyuman. "Ehehe~ Midorima-kun, minta duit, dong~"
"Ck... nih nodayo," Midorima memberi uang seribu yen 2 lembar. Momoi menerimanya sambil berkata "Sankyu~ yuk, Tetsu-chan!" dan menarik tangan Kuroko ke luar sekolah.
"e-eh?"
Midorima kembali ke ruang OSIS. duduk, dan memijat kepalanya. "Sekolah ini makin lama makin gila aja nodayo..."
-Momoi dan Kuroko-
Momoi terus menarik Kuroko ke supermarket. Bukankah ini masih istirahat? Kalau telat bagaimana? Pertanyaan itu memenuhi benak Kuroko. Tapi, karena istirahat terakhir itu masiih lama berakhirnya, jadi ia rasa tak perlu mengkhawatirkannya...
"Hei, Momoi-san... kenapa kita belanja sekarang?" Tanya Kuroko
"Eh? Itu karena ini perintah Akashi-kun," ucap Momoi dengn nada polos.
"..." ah, kuroko baru ingat kalau membantah perintah akashi, pasti gunting akan melayang... hahaha...
"Oh, iya, Tetsu-chan, enak nggak tinggal bareng Akashi-kun?"
"errr... jujur aja, ada enaknya, ada nggak enaknya..."
"Eh? Aku mengerti perasaanmu, Tetsu-chan... ah, kamu kecapean, ya? Duduk dulu saja, ya. Aku belikan minuman," ucap Momoi menyuruh Kuroko duduk di bangku di dekat sana, kemudian ia beranjak pergi membeli minuman.
Kuroko memang kurang suka olahraga, makanya ia cepat kecapekan kalau berolahraga lama-lama. Letih, ia duduk di bangku didekatnya. Berkali-kali ia mengatur napasnya yang tidak beraturan.
Tak lama kemudian, 2 orang lelaki dari sekolah yang berbeda duduk di sampingnya. Tanpa sadar, mereka menyenggol Kuroko dan reaksinya... Bingo! Mereka kaget. Karena dari tadi mereka kita nggak ada siapa-siapa. Kuroko yang dari tadi hanya diam menghadap kebawah juga kaget karena disampingnya sudah ada 2 orang yang tak dikenalinya. Laki-laki lagi! Idup lagi! #Kisekadigampar
"... sumimase-" Kuroko berdiri ketakutan. Bahkan kakinya sedari tadi tak bisa berhenti bergetar. Ah, sial. Kedua orang itu malah menghampiri dan mendekatinya.
"Hee? Kalau dilihat-lihat kau manis juga, ya. Kau dari SMP Teikou? Siapa namamu?" ucap salah seorang dari mereka.
"E-eh..."
"Nanti bolos saja, ya. Main sama kami saja~" salah seorang lagi berkata. Kali ini tangan Kuroko disentuh oleh mereka. Menyadari hal ini, Kuroko mulai mengingat kejadian yang menimpanya dari ayahnya.
"TIDAAAAK! JANGAN SENTUH AKU!" teriaknya. Kedua tangannya dikepal dan diletakkan didekat telinganya. Matanya tertutup, dan rintik air mata mulai keluar. Menolak untuk mendengar dan melihat apapun.
"Hei, kami hanya-"
"TIDAAAK! Sudah... cukup... hiks..." ia mulai menangis dan tubuhnya mulai terduduk lemas.
"Tetsu-chan! Kamu kenapa? Hei, Tetsu-chan!" Momoi yang datang membawa minuman kaleng mendapati teman barunya itu menangis. Ia mendekatinya dan mulai panik. Beberapa pertanyaanpun dilontarkan, namun tak dijawab satupun.
"Nee-san, bukan salah kami, lho dia jadi seperti itu~ hei, bagaimana kalau kalian berdua main dengan kami?"
"Ap-"
"Cukup," kedua lelaki bersergam SMP Teikou datang dihadapan mereka (pahlawan kesiangan~ #Digebuk). Yang satu adalah lelaki berkulit tan. Namanya Aomine Daiki. Yang satunya bersurai merah. Namanya Akashi Seijuro.
"Dai-chan! Akashi-kun!"
"Hei, nii-san. Berani sekali kau menyentuh murid sekolah kami," Aomine deathglare.
"Sudah siap mati, huh?" Akashi nunjukin wajah iblis murka sembari menyiapkan gunting.
Dan tak lama setelah mereka berdua datang, Kuroko jatuh pingsan. "Tetsu-chan!"
.
.
.
Kuroko POV
"Kalian telat datangnya, sih!"
"Eh?! Lagian tempat kalian jauh dari sekolah, sih!"
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa tahu kami ada disana?"
"Eh? Soalnya waktu ada suara teriakan, Akashi langsung nyeret aku ke sana."
"Eh? Akashi-kun? Kenapa kamu bisa tau kalau yang berteriak itu murid dari sekolah kita?"
"Huh? Karena aku merasa mengenal suaranya. Itu saja."
"Eh? Akashi, kamu kenal sama cewek ini?"
"kalau iya, kenapa?"
Dimana aku? kenapa ada suara beberapa orang disekelilingku?
Aku mencoba membuka mataku yang sembab karena menangis. Kudapati langit-langit yang kukenal namun tak terlalu kuketahui. "Ini.. dimana?" gumamku pelan.
"Oh, sudah sadar, ya."
"entah kenapa aku merasakan deja vu..."
"Ini di UKS."
Seorang lelaki berkulit tan mendekatiku. Kaget, aku langsung terduduk sambil memegang selimut dengan erat.
"Ah deja vu..."
"deja... vu?"
"Hei, kalian berdua jangan Cuma ngobrol, dong. Cewek ini kenapa, sih?" orang tersebut menunjukku. Membuatku sedikit gemetaran.
"Hei, Tetsu-chan... daijoubu?" Momoi-san mendekatiku dengan wajah khawatir. "u-um.. daijoubu.."
"Yokatta! Tapi tadi kamu diapakan?"
"Eh... i-itu..."
"Katanya, sih dia phobia laki-laki."
"Kok elu bisa tau, Akashi?!"
"Err... dikasih tau ayahku."
"Eh? Tetsu-chan, aku baruu tahu kalau kau phobia lelaki."
"iya... maaf... sudah membuat kalian khawatir.."
"Tak apa. Ini sudah jam 4. Kamu sebaiknya pulang saja dengan Akashi-kun," ucap Momoi-san menunjuk Akashi-kun. Entah kenapa, semakin lama aku melihat lelaki berkulit tan itu dan Akashi-kun, kepalaku serasa ingin meledak..
"..tidak mau... aku nggak mau... sama Akashi-kun..." gumamku sembari menutupi wajahku dengan selimut agar aku tak perlu melihat mereka lagi.
"... oh, jadi kau sudah tidak mau tinggal dirumahku lagi, nih? Ok."
"Bukan begitu, Akashi!"
"T-Tetsu-chan... ada apa?"
"Aku.. nggak mau... aku... takut..."
"Eh? T-tetsu-chan, kalau begini, kamu nggak bisa pulang, lho...?"
Perlahan, aku membuka selimut yang menutupi wajahku. Setelah melihat Akashi-kun, rasanya kepalaku kembali pusing dan mau meledak. Kejadian 'itu' terulang lagi di benakku.
"TIDAAK!"
"Tetsu-chan! Tenang! Nggak ada apa-apa, kok! Tenanglah!"
"TIDAK! TIDAK!"
"Tenanglah, Tetsuna!" suara Akashi-kun itu sekarang membuatku tambah pusing.
"TIDAAAK!"
"Kubilang tenang! Perintahku absolut. Kau sudah lupa, huh?" ia berkata sembari naik ke kasur yang kutempati dan menahan salah satu tanganku. Membuatku makin pusing "TIDAK! JANGAN SENTUH AKU!" teriakku kembali, dan melepaskan tanganku dari tangannya. Meskipun rasanya sangat sakit.
BRAAAK
Kedua tanganku kini ditahannya di didinding. Membuatku tak bisa menutupi wajahku lagi. "Tenanglah," kedua mata itu menatapku tajam.
"TID- hmpf-"
CUP
Tak kuduga, ia menciumku tanpa ragu. Membuatku tak bisa berbicara lagi. Wajahku makin memanas dan memerah karenanya. Berkali-kali ia memainkan lidahku dengan lidahnya dan melumatkannya. "mmph- mm..."
Kali ini mulutku benar-benar dibungkm olehnya. Tapi anehnya kepalaku yang tadi sangat pusing kini mereda. Tanganku juga makin melemas. Saat kucoba membuka mataku, matanya tetap terbuka,dan wajahnya tak memerah sedikitpun. Dari yang kulihat,Momoi-san dan orang yang tak kukenal berkulit tan itu tengah menatap kami berdua dengan wajah yang memerah.
"haaah.. hh..." akhirnya ciuman itu berhenti. Tanganku juga sudah berhenti digenggamnya. Tapi anehnya aku tak bisa bergerak sama sekali.
"Aku masih ada urusan OSIS. Satsuki, antar dia pulang."
"Eeh? Ha-ha'i! T-tetsu-chan, kita pulang, yuk," ia menghampiriku dan mengajakku pulang dengan wajahnya masih agak memerah. namun, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tanganku yang tadi diam kini kugerakkan untuk menutupi wajahku yang sudah semerah tomat.
Tak kusangka, ciuman pertamaku adalah bersama Akashi-kun!
.
TBC~
Maaf banyak TYPO~ kiseka maleh ngebenerinnya #WOY
Maaf juga akhirannya ambigu (Tetsuna : *blush*)
CIEEEE YANG MODUS! *lirik Akashi* #Dilepargunting
Ah, iya. Maaf ya OOC bertebaran~ (~ '-')~
Karena si MAHOmine #ditimpuk belum kenalan sama Tetsuna, jadi tetsuna kubuat nggak tau namanya sekalian~
Ah, logat jepangnya banyak bertebaran lagi! Translate :
Sumimasen : aku minta maaf
Yoroshiku : salam kenal / mohon kerjasamanya
Mou : juga
Ohayou gozaimasu : selamat pagi
Atashi : aku
Anata : kamu
Kawaii : lucu / imut
Sankyu : makasih
Daijoubu : apa kamu tidak apa-apa?
Yokatta : syukurlah
Kayaknya Cuma segitu, deh. '-'
Kise : huwaaaa! Aku kapan munculnya-ssu?! *nangis*
Kiseka : mudah-mudahan di chapter 3, nak *pukpukin*
Murasakibara : kalau aku? *makan maiubo*
Kiseka : err... kalau kamu sih nggak tau...
Murasakibara : *pundung*
Kiseka : cup-cup. Disini ga ada balon, mur. Maaf, ya. Jangan nangis. Tukang jualannya belom lewat :V
Murasakibara : gue cuma pengen maiubo...
Kiseka : lha?! Situ kan dah punya! Banyak pula!
Murasakibara : mau lagi. Nanti kan bisa abis
Kiseka : kiseka KANKER, NAK! KANKER! Alias KANtong KERing!
Midorima : nggak nanya nodayo!
Kiseka : apa, sih?! Kok tetaunya muncul-muncul aja!
Oke, abaikan.
RnR plis? *puppy eye* #diguntingakashi
.
.
.
OMAKE!
Ini waktu kuroko masih tinggal di rumah Midorima. Dan itupun waktu masih pertama kali tiinggal disana. Ya, bisa ditebak, Kuroko masih takut sama Midorima.
"uuh..." kuroko bersembunyi dibelakang gorden.
"A-aku nggak nakutin, kok! Sumpah!" ucap Midorima mencoba menyakinkan Kuroko. Namun, kuroko masih bisa yakin dengan Midorima. Midorima mulai bingung gimana caranya biar bisa meyakinkan Kuroko. Aha! Kini di atas kepalanya muncul lampu pion menyala-nyala
"Kuroko, cowok bermuka aneh itu orng baik, dan yg berwajah baik itu orang jahat! Bagaimana dengan wajahku?"
"..." hening sejenak. Kuroko menatap midorima, dan berkata "...aneh.."
#JLEB
Midorima kena panah menyakitkan. Ia pundung ditempat.
"Itu artinya kamu orang baik,kan? Ehehe..."
"Eh? U-um.."
.
.
.
OMAKE 2!
"Hei, Akashi-kun..."
"Hn?"
"Sebenarnya kenapa aku pindah ke rumahmu?"
"... katanya sih gegara ayah lagi nyari temen ngobrol-ku dirumah. Padahal kalau begitu, kenapa tidak suruh Shintaro atau yang lain, ya? Yah... ayahku memang tidak bisa dimengerti."
"... Oooh..."
