Kise mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroko. Jarak mereka hanya tinggal 3 cm lagi. kemudian Kuroko refleks mendorong Kise agar memperlebar jarak mereka. "K-kise-kun... a-aku tidak bisa... melakukan itu denganmu... dan lagi, kita baru bertemu tadi, jadi..." mendengar ini, Kise tersenyum. "Memangnya kenapa? Aku sudah menyukaimu dari kelas 1, lho."
"Eh? Kenapa?"
"Umm... soalnya kamu tidak seperti cewek-cewek yang mengkurbuniku terus-ssu. Kamu nggak pernah mendekatiku-ssu. Itu membuatku penasaran, dan aku malah jadi suka padamu."
"Souka..."
"Yaaah... walaupun aku tahu pasti akan ditolak olehmu..."
"Padahal kau sudah tahu akan ditolak, tapi kenapa... kau masih menembakku?"
"..." Kise terdiam sejenak.
"Kise-kun?"
"Alasan terbesarku menembakmu bukan untuk berpacaran, kok."
"...? apa maksudmu..?"
"Aku menembakmu untuk menyampaikan perasaanku saja. Tak apa kalau kau tidak menyukaiku."
"Eh..?"
"Yaah... jam pelajarannya dah lewat. Kita sekalian bolos saja, yuk. hoaaam... ngantuknya..." Kise mendekati kasur disamping Kuroko, dan tiduran disana. Kuroko yang mengiyakan ucapan Kise angsung berbaring beristirahat. Karena kedua kasur itu dipisahkan oleh tirai, Kise dan Kuroko hanya dapat mengobrol tanpa melihat satu sama lain.
"ne... Kise-kun..."
"Nani?"
"Suka itu... apa?"
"Eh? Etto... apa, ya... err..."
"..."
"mou! Ganti topik sajalah!"
"...umm... Kise-kun itu seorang model, ya?"
"Iya! Kau tahu?"
"Um... sering lihat di majalah..."
"kau beli majalah yang memuat diriku-ssu?!"
"Nggak... waktu ke toko buku, aku melihat majalah yang cover-nya foto Kise-kun, tapi tidak kubeli."
"Eh? Kenapa tidak kau beli-ssu?"
"Aku tidak tertarik."
"Ssu... oh iya! Setelah pulang sekolah, tim basket bakal bertanding dengan SMP lain! Mau lihat?"
"Tim.. basket...?"
"Ya! Aku juga masuk tim basket, lho! hari ini yang akan bertanding adalah tim inti!"
"Kise-kun masuk tim inti?"
"Ya! Dan tim inti disebut-sebut Kiseki no Sedai!"
"Kiseki no... sedai?"
"Ya! Nnti nonton ya!"
"Memangnya boleh...?"
"Tentu saja boleh!"
"A-arigatou..."
"Ya!"
Kemudian mereka berbicara banyak hal sampai akhirnya bel pulang sekolah.
"Ayo ke GYM, Kurokocchi!" ucap Kise menghampiri Kuroko denga tas sekolahnya bergantung ditangannya. "hmmm...?" Kuroko menggaruk-garuk matanya yang masih tertutup. Sepertinya ia sempat tertidur tadi.
"Uwaaaaaa-" Kise mengalihkan pandangannya ke arah kanan dengan wajah yang memerah.
"Kise-kun? Ada apa?"
"K-k-kurokocchi..."
"Ya...?"
"C-celana dalammu..."
"Eh?" Kuroko melihat ke bagian tubuh bawahnya. Ia mendapati roknya tersingkap sehingga celana dalamnya terlihat. "uu-ukh..."
"M-maaf, Kurokocchi... etto... eh?!"
"KISE-KUN NO BAKA!"
PLAK!
"Tamparan Kurokocchi sakit sekali-ssu..." ucap Kise-kun memegangi pipi kirinya yang ditampar oleh kuroko.
"..."
"Etto... ano... Kurokocchi...?"
"..."
"Uwaa- sebentar lagi akan dimulai! Kurokocchi, ayo ke GYM sekarang!"
"Eh? Umm..." Kuroko mengiyakan dan beranjak dari tempat tidurnya. "Lho, Kurokocchi, kakimu kenapa-ssu?" tanya Kise melihat kaki Kuroko yang diperban.
"Tadi sempat terkilir..."
"Terkilir? Jangan-jangan waktu tabrakan tadi siang, ya? Aduh, kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja, kok. Tadi sudah di obati Akashi-kun."
"... Akashicchi?"
"Un!"
"Hup!" Kise menggendong Kuroko di belakangnya. Membuat wajah kuroko merona. "Apa yang kau lakukan?"
"Kakimu masih sakit, kan? Aku akan membawamu ke GYM sekarang," ucap Kise.
"Aku masih bisa jalan sendiri!"
"Tidak. Meskipun begitu, aku akan tetap tidak memperbolehkanmu berjalan-ssu! Aku masih merasa bersalah-ssu!"
"T-tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi-an-ssu!"
"..."
Akhrnya Kuroko digendong oleh Kise ke GYM. Sesampainya disana, Kise langsung ke ruang ganti, sementara Kuroko menonton dari lantai 2.
Kuroko POV
karena ruang ruang kosong didekat lapangan sangat ramai, jadi aku memutuskan untuk menonton dari atas saja. Beberapa menit kemudian para pemain berjalan menuju lapangan. Aku mendengar kalau tim basket sekolah kmi sangat kuat, jadi kupikir tak mungkin mereka kalah. Namun pemikiran seperti itu hancur saat kulihat tim lawan berisikan orang-orang yang tinggi dan besar. Khawatir, aku langsung melihat ke arah tim sekolah kami. Tapi kulihat seluruh pemain di tim SMP kami sangat tenang. Tak merasa tertekan. Bahkan Aomine-kun dan Kise-kun terlihat sangat senang. Aku sangat tidak mengerti...
Oh, nggak salah Midorima-kun berkata kalau dia masuk ke klub basket juga. Apa dia ada di sana? Aku mulai mencari teman dekatku itu. dan dia ternyata ikut ke dalam pertandingan. Ia tengah berbicara dengan lelaki jangkung bersurai ungu yang tak kukenal. Melihat lelaki itu, aku jadi agak tenang. Huft-
Lho? bukankah basket dimainkan oleh 5 orng? Kenapa aku hanya melihat 4 orang saja? Aku kembali menelusuri pemain lainnya, dan kudapati Momoi-san sedang berbicara dngan pelatihnya. Hei, bukankah ini klub basket putra? Kenapa Momoi-san... ah, mungkin dia menjadi managernya. Momoi-san kemudian memanggil seseorang di belakangnya. Aku tak bisa melihat orang yang ia panggil karena orang itu tertutupi oleh bayangan. Tapi, mungkin saja orang itu salah seorang pemain. Meski begitu, aku tetap pensaran dengan wajahnya. Dia seperti apa, ya?
Orang yang dipanggil Momoi-san tidak beranjak dari tempatnya, sehingga Momoi-san yang menghampirinya. Beberapa saat kemudian Momoi-san kembali ke bangku pemain. Diikuti oleh orang yang tadi- lho? "Akashi...kun?"
Aku tersontak kaget, dan entah kenapa mataku terus mengikutinya. Aku tidak tahu kalau dia ikut klub basket...
Beberapa saat kemudian pertandingan dimulai. Kedua tim berbaris saling berhadapan.
"SMP Teikou vs SMP Seika! Hormat!"
"Yoroshiku onegaishimasu!"
Bola basket dilemparkan, dan yang mendapatkan bola adalah SMP kami. Kemudian pertandingan dimulai.
"Kise-kun!"
"Akashi-sama!"
"KYAAA! Aomine-san!"
Dukungan dari para perempuan kian mengencang sehingga aku menutup kupingku. Dari teriakan dan bangku penonton yang penuh, aku berpkir kalau mereka itu cukup terkenal.
"Kyaaa! Shoot Midorima-san tinggi seperti biasanya!"
Eh? Midorima-kun?
Aku menatap Midorima-kun yang telah menembak bola ke ring lawan dari jarak setengah lapangan, dan masuk. Aku jadi ingat waktu dulu aku bermain dengannya di lapangn dekat rumahnya yang cukup sepi, dan shoot-nya benar-benar masuk ke ring dengan sempurna. Tapi aku tidak tahu kalau dia bisa men-shoot dari jarak sejauh itu.
"Uwaaah! Itu Murasakibara-kun! Dia lagi-lagi mem-blok semua serangan di bawah ring!" mendengar ini, aku langsung menoleh ke arah keranjang. Dan benar, si surai ungu yang tinggi itu selalu berhasil mem-block semua serangan. Dia benar benar center yang tangguh!
"Ah, tidak! Akashi-sama!" aku langsung memutar pandanganku ke arah Akashi-kun yang tengah dijaga oleh 2 orang yang tingginya melebehinya. Tidak! Pasti bolanya akan direbut! Tapi kenapa... kenapa dari tadi wajahnya tetap tenang, sih?!
"ukh... AKASHI-KUN! BERJUANGLAH!" teriakku spontan. Aku segera menutup mulutku. Seluruh mta menghadapku, namun sepertinya mereka tak berhasil menemukanku sehingga ucapan seperti "siapa yang berteriak tadi?" mulai bermunculan.
Ukh... kenapa aku harus mmberi dukungan pada orang yang menolakku, sih? Aku ini bodoh sekali...
Kuberkali-kali memukul kepalaku sembari menutup mataku.
Set set
Ketika aku kembali membuka mataku, yang kulihat di lapangan adalah 2 orang yang menjaga Akashi-kun tadi telah terjatuh dilantai, dan Akashi-kun melewati mereka begitu saja. Hei, apa aku berhalusinasi? Bagaimana dia dapat menumbangkan 2 orang itu?
Kini ada seorang lagi yang menjaga Akashi-kun. Namun yang kulihat, Akashi-kun menghela napas, dan melakukan drible cepat sehingga orang yang menjaganya jatuh, dan kemudian ia men-shoot bola ke ring yang jaraknya 2 meter di depannya.
"a... apa itu tadi?!" gumamku pelan, tidak percaya.
"Ankle break," ucap seseorang di sampingku.
"Eh?" aku menoleh, dan mendapati lelaki bersurai hitam tengah berdiri di sampingku. "Anata wa...?"
"Nijimura. Nijimura Shuuzo. Aku mantan kapten tim basket ini."
"Oh... Nijimura-san...? kenapa ada di sini? Kau tidak menonton dari bangku pemain?"
"Tidak mungkin. aku sudah SMA, dan aku kemari hanya ingin menonton, kok~"
"Tidak menyapa junior-junior-mu?"
"Tidak. aku sudah tidak diperlukan. Toh, mereka punya kapten yang hebat."
"Sou desu ka...?"
"Ya... Akashi selalu bisa diandalkan, tidak seperti diriku yang dulu."
"eh...?Akashi-kun jadi kapten?"
"Iya. Kau kenal Akashi?"
"E-eh.. begitulah.."
"Kamu pacar Akashi, ya...?"
Aku spontan membenturkan kepalaku di tembok terdekat.
"...? Bukan, ya?"
"Bu- eh, iya, aku pacarnya," ucapanku terputus saat ingin berkata 'bukan', namun aku mengingat kalau statusku dan Akashi-kun sekarang adalah pacaran 'bohongan'.
"Hmm.. begitu, ya..." ucapnya memandang pertandingan dengan wajah sedih. "Ano... Nijimura-san...?"
"Waduh! Gawat, aku harus segera balik ke sekolah! Sampai jumpa!" kemudian Nijimura-san berlari melewatiku dan pergi ke luar sekolah.
"Teikou menang dengan poin 97 – 85! Hormat!"
"Arigatou gozaimasu!"
.
.
.
Normal POV
Jam 8 malam, GYM.
Tempat ini terasa sangat sepi... wajar, sih... soalnya sudah terlalu malam untuk latihan...
Pikir Kuroko mendekatkan sebuah kunci ke pintu GYM, namun sebelum ia memasukkan kunci, ia mendengar decitan sepatu di lantai dan suara bola yang dipantulkan. Pintunya juga tidak dikunci. Apa masih ada orang, ya? Pikir Kuroko sembari membuka pintu. Ia mendapati Kise tengah berlatih basket sendirian.
"Ano... tidak pulang?" ucap Kuroko menghampirinya, dan membuat Kise kaget.
"A-aah... etto... itu... sebenarnya aku punya hutang pada Akashicchi..."
"Pada Akashi-kun?"
"Ya..."
flashback
Pertandingan telah selesai, murid-murid klub basket berhamburan menuju gerbang sekolah. Dan sementara itu, di ruang ganti klub basket, berdirilah seorang Kise Ryota sedang berhadapan dengan Akashi Seijuurou. Kise menelan ludah sembari berkeringat dingin. Ya dia ketakutan.
"50x lipat~" ucap Akashi tersenyum iblis, tak peduli dengan keadaan Kise yang kini matanya telah muncul butiran air mata.
"TIDAAAAAAAAK~!"
Flashback off
"Begitulah... Kurokocchi sendiri? Tidak pulang?" ucap Kise sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eeeh... aku ketinggalan barang..."
"Barang apa? Perlu kubantu?"
"T-tidak perlu! Kise-kun berlatih saja dulu. Da-" Kuroko berjalan menuju tangga ke lantai dua, namun tiba-tiba ia didekap oleh Kise dari belakang. "Anu... Kise-kun...?" ucap Kuroko mendongakkan wajahnya agar dapat melihat wajah Kise. Namun sepertiny kau harus menyesali perbuatanmu, Kuroko. Karena yang Kuroko lihat adalah Kise tengah menutupi wajah yang memerahnya dengan tangan kanannya sehingga membuat Kuroko kembali menundukkan wajahnya sembari bergumam 'maaf'.
"Ano... Kurokocchi..."
"Y-ya?"
"Tolong lupakan kejadian yang tadi... maksudku... wajaku..."
"Baiklah... jadi, sekarang kau tidak kembali berlatih saja?" ucap Kuroko melepas tubuhnya dari dekapan Kise.
"Eh? Latihnku sudah selesai-ssu... tepat saat kau masuk."
"Eh...?"
"Jadi... aku akan membantumu mencari barangmu yang tertinggal-ssu..!"
"Errr... boleh..." dan merekapun naik ke lantai 2.
"Barang apa yang kau tinggalkan?" tanya Kise menelusuri koridor lantai 2 GYM.
"Eeeh... sebuah jimat..."
"Jimat?"
"Ya... ah! Itu dia! Untung saja ketemu! Kalau tidak, bagaimana ulangan MTK-ku besok..." Kuroko mengambil jimat berwarna biru-hijau yang ada di lantai.
"MTK? Semanjur itukah jimatnya-ssu?"
"Iya, jimat ini Midorima-kun buatkan untukku, dan sangat manjur sekali!"
"Midorimacchi? Kau kenal dengannya, Kurokocchi?"
"Eh... iya... dulu aku tinggal serumah dengannya..."
"B-begitu, ya... ngomong-ngomong soal jimat aku juga dapat jimat darinya, dan sangat manjur sekali saat ulangan~"
"Kau tidak memasukkan contekan di dalam jimatnya agar kau bisa nyontek waktu ulangan, kan?"
"Kok tahu?!"
"Serius?!"
"Gitu, deh... ngomong-ngomong, kenapa jimatnya bisa jatuh-ssu?"
"Eh? Kurasa jatuh waktu nonton pertandingan tadi bersama Nijimura-senpai..." Kise mendelik.
"Nijimuracchi? kau bertemu dengnnya?" tanya Kise kepada Kuroko dengan wajah serius.
"Eh? Iya... aku hbertemu dengannya waktu menonton pertandingan tadi..."
"Nijimuracchi menonton pertandingan tadi? Kau bohong..." Kise memalingkan wajahnya.
"Eh? Memangnya ada apa?"
"Dia..."
"...?"
"Telah berhenti bermain basket semenjak kelas 9."
"Eh? Bukankah dia itu mantan kapten kalian? Kenapa...?" Kuroko mendekati Kise, dan melihat wajah Kise yang terlihat sedih. Membuatnya tidak berniat untuk menanyakannya lagi. "M-maaf..." hening sejenak. Tak ada pembicaraan diantara mereka, sampai seorang guru datang untuk menutup GYM. "Woy! Kalian berdua! Cepat pulang! ini sudah jam setengah 9, lho!"
"Eh? Ha'i!"
Kuroko beranjak pergi dari tempatnya. "Kuantarkan pulang, ya... hari sudah gelap..." ujar Kise, masih dengan wajah yang sedikit sedih. Melihat ini, Kuroko tak bisa menolak, karena kalau ia menolak, Kise pasti akan tambah bersedih.
.
.
.
Kuroko POV
Aku sama sekali tak bisa menatap Kise-kun. Karena aku tak mau melihat wajah sedihnya lagi... apa lagi yang membuatnya bersedih adalah aku... yang bertanya tentang Nijimura-senpai...
Batinku menundukkan kepalaku.
"Ano... rumahmu dekat disini, ya?"
"Eh... iya... sebentar lagi kita sampai di rumah –tumpangan- ku."
"... Ngg..."
"Ada apa?"
"Nggak... rasanya aku pernah mengenali jalan ini-ssu..." ucapnya.
Kamipun berhenti di dpan gerbang ber-plat nama 'Akashi'. "Lho? ini, kan rumahnya Akashicchi..."
"? Iya. Kau tidak diberitahu Akashi-kun kalau aku tinggal di rumahnya?"
"Eh? EEEEEEEH?! Dia tidak memberitahuku-ssu!"
"... kalau begitu, jaa... mata ne.." ucapku membalikkan badanku dan membuka gerbang, kemudian masuk ke dalam rumah. Maid-maid dan butler-butler di sana menyambutku dengan sopan, tak lupa kutundukkan badan tanda 'terima kasih' ke merka. Aku berganti sepatu, dan beranjak ke lantai 3, dimana kamarku berada. Masih dengan menundukkan wajahku, aku berjalan melalui koridor, dan kudengar lantunan biola dari sebelah kamarku. Oh, iya. Biasanya jam segini Akashi-kun main biola di ruang musik...
Aku bersandar pada pintu ruang musik untuk mendengar lantunan biola lebih jelas.
Cklek BRAAAK
Sialnya, pintu itu terbuka saat aku bersandar sehingga aku terjatuh di lantai. "Ittai.." gumamku pelan sembari berusaha untuk berdiri. "Lagi-lagi kau... ada apa?" ujar Akashi, masih dengan tangan kananya menempel di gagang pintu.
"Nggak... aku hanya mau mendengarkan kau bermain biola..."
"ooh, begitu... kalau begitu, dengarkan saja dari kamarmu. Jangan di depan pintu," ucapnya membalikkan badannya.
"A-ano.."
"Ya?"
"Kenapa Nijimura-senpai berhenti bermain basket?" disini, aku melihat Akashi terbelalak kaget. Ia membalikkan badannya kembali. "Kau mengenalnya?"
"Eh... aku baru bertemu dengannya tadi.."
"Oooh... titipkan ucapan maafku padanya bila kau bertemu dengannya," "Tung-" kemudian ia menutup pintu kembali. Tak membiarkan aku bertanya.
Aku tak mengerti... apa yang terjadi anatara Kise-kun, Nijimura-senpai, dan Akashi-kun?
~TBC~
Yosh! Akhirnya chapter 4 update juga~! Hyahoooo~!
Oh, maaf kalau Akashinya nggak terlalu keliatan disini... terus maaf juga bagi karakter2 yang nggak ada dialognya disini...
Nijimura : entah kenapa gue ngerasa kalau peran gue disini Cuma jadi pemanas Kise dan Akashi...
Kiseka : Gomen~ toh dengan ini jadi lebih seru~
Aomine : nggak seru... ceritanya terlalu terbelit-belit... lagi pula kapan adanya aokuro di ic ini? Perasaan gak ada sama sekali...
Midorima : tumben otak kamu ngeh , Aomine...
Kiseka : teheeee~ soal AoKuro, nanti Kiseka masukin kapan-kapan...
Akashi : terus pairingnya diganti gitu?
Kiseka : nggak, kok! Fic ini tetep AkaKuro! Serius!
Kise : kisekacchi PHP terus nih! -3-
Kiseka : elah! Ya udah, ya, Kise! Kiseka bikin kamu mati di chapter selanjutnya!
Kise : HAA? JANGAN GITU DONG TAT
Kiseka : bercanda doang, kok...
Murasakibara : terus guenya ngilang gitu?
Kiseka : hahahaaaa... nggak tau...
.
.
.
Translate logat jepangnya~
Arigatou : terima kasih
Sou desu ka : begitu, ya?
Jaa, mata ne : dah, sampai jumpa besok
Kayaknya Cuma segitu.. atau ada yang kelewat? Ya sudahlah~ #WOY
.
.
.
OMAKE
"Kyaaa! Shoot Midorima-san tinggi seperti biasanya!"
.
.
.
"Tidak kusngka, ternyata kau cukup terkenal juga, Midorima-kun..." ujar Kuroko meminum vanila milkshake-nya.
"Kuroko... aku juga punya hati, lho..."
.
.
.
Selanjutnya!
Kise dan Akashi telihat canggung bila berhubungan dengan Nijimura! Apa yang sebenarnya terjadi?!
"Tolong jangan sebut namanya didepanku."
"Kau tak perlu cemas-ssu!"
Midorima menceritakan kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu!
"Dulu sewaktu Nijimura-san masih menjadi kapten kami..."
"Kurasa Akashi dan Kise yang paling merasa bersalah disini-nodayo..."
Eeeeeh- tunggu, kenapa Kise mengajak Kuroko kencan?!
"Kurokocchi! Temani aku ke taman bermain besok, ya!"
"Tetsuna, kau milikku di sekolah. Ingat itu."
"Ha'i..."
