Author : Keewani

Title : Albino Married Panda

Cast : HunTao

Genre : Romance, a little bit humor—semoga kkk~

Length : Twoshoot

Rating : T

Warn : Genderswitch guys! Crack pair! Don't like don't read 'kay?!

Disclaimer : Ini murni dari pikiran absurd gue, maaf kalo ada kesamaan ide, tidak bermaksud untuk menjiplak kok kak. Hehehe.

.

Albino Married Panda

.

"Ini gaun satu-satunya di dunia.." Rengekku yang masih merasa kecewa. Sehun berdiri didepanku, mengganti bayanganku dicermin dengan bayangan punggungnya.

"Kau lupa? Ini juga tuxedo satu-satunya didunia.." Hiburnya seraya mengangkat wajahku dengan jari telunjuknya yang berada didaguku.

"..di dunia ini mana ada pengantin wanita yang menggunakan tuxedo?" Sahutku. Ini pernikahan, sekali seumur hidup, masa pakaianku seperti ini? tenggelam dibalik tuxedo.

"Kalau begitu kau akan jadi satu-satunya yang seperti itu. sangat special, iya kan?" Katanya lagi sambil tersenyum.

"Kenapa aku mengalami ini dihari pernikahanku.."

"Sudahlah, bagiku itu tidak penting. Yang penting itu sumpahmu nanti, bukan gaunmu." Sehun menarik tanganku dan kami pun kembali menuju mobil. Kedatangan kami disambut heran oleh Zifan, Baekchan juga supir kami yang akan mengantar kami menuju gereja.

"Jie jie, kenapa kau memakai jas-nya hyung?" Tanya Baekchan polos. Aku hanya menatapnya sendu lalu duduk disampingnya sambil menundukan wajah.

"Jie jie-mu kedinginan.." Sahut Sehun. Tentu saja, meskipun dijelaskan, anak ini tidak akan mengerti dan tidak akan bisa memberikan solusi.

"Paman, ayo jalan.." Lanjut Sehun yang sudah duduk ditempatnya. Aku memandang lesu keluar jendela. 'Semoga tidak ada kejadian aneh lagi setelah ini.' batinku sambil menghela nafas panjang. Tiba-tiba terasa sesuatu yang hangat menyentuh pipi kananku. Aku pun menoleh. Itu Sehun, dia mengusap pipiku dengan lembut diiringi senyuman teduhnya yang jarang sekali kulihat.

"Kau tetap cantik." Ujarnya lembut. Aku pun tersenyum.

"Iya jie jie, kau cantik.. cantik sekali.." Sambung Zifan malu-malu.

"Mm. kau sangat cantik jie jie." Seolah tak mau ketinggalan, Baekchan juga memujiku. Jujur ini membuatku sedikit lebih tenang.

Mobil pun memasuki area gereja dan berhenti beberapa meter didepan pintu gereja. Baba sudah menungguku diluar. Tak lama kemudian Luhan dan Baekhyun jie jie muncul dari dalam gereja. Mereka menungguku keluar dari mobil sambil tersenyum. Zifan, Baekchan dan calon suamiku keluar dari mobil terlebih dahulu. Lalu Sehun berjalan memutar menuju sisi mobil yang satunya. Dia membukakan pintu untukku dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Kuraih tangannya dan aku pun keluar dari mobil. Ekspresi baba dan kedua jie jie-ku berubah heran begitu melihat penampilanku, dan aku hanya menundukan kepala sebagai bentuk gerak refleks-ku.

"It's okay, my bride." Sehun berbisik ditelingaku. Aku mengangguk, dan kami pun berjalan menuju tempat appa berdiri yang jaraknya kira-kira sepuluh meter di depan kami.

"Hati-hati." Sehun memperingati. Gaun ini memang sedikit menyulitkanku untuk berjalan, ditambah lagi aku menggunakan high heels yang tingginya sepuluh centi. Aku harus hati-ha—

"Aaa~ Sehun~" Rengekku saat merasakan sesuatu yang lembek dan lengket melekat di heels-ku. Sepertinya.. sepertinya itu.. itu.. hiks..

"Apa? Kenapa Zitao?" Tanyanya panik. Baba, Luhan jie jie juga Baekhyun jie jie segera berlari kearah kami.

"Sepatuku.. huaa! Sepatuku, sepertinya aku menginjak.. aku menginjak.. huaa!" Aku benar-benar tidak membayangkan bisa terjadi hal seperti ini. Ini.. kenapa bisa ada kotoran hewan di tempat seperti ini? Hancur! Semuanya hancur! Mata Sehun membulat dan dia segera membawaku menuju bangku taman. Dia menyuruhku duduk dan ia berjongkok dihadapanku.

"Kenapa tidak ada satu pun hal yang berjalan lancar hari ini.." Rengekku.

"Sudah diam. Kalau kau menangis lagi, aku benar-benar akan membatalkan pernikahan ini." Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Enak saja. Aku tidak sudi ditinggal calon suamiku saat beberapa menit menjelang pernikahan kami. Sehun meraih kakiku. Dengan sedikit perasaan jijik, dia melepas kedua sepatuku.

"Noona, pinjam sepatumu.." Ujarnya. Baekhyun jie jie yang duduk di samping kiriku langsung mengangguk lalu melepaskan sepatunya. Sehun pun memasangkan sepatu itu di kakiku, tapi..

"Aish, terlalu kecil.. Luhan, pinjam sepatumu saja.." Luhan jie jie yang duduk di samping kananku pun melepas sepatunya dan memberikannya kepada Sehun. Sepatunya masuk ke kakiku, tapi ini kebesaran.. aku bisa jatuh.

"Assh! Yang ini kebesaran." Aku menganga tak percaya melihat Sehun langsung duduk ditanah dan membuka sepatunya. Dia..

"Sudah, aku pakai punya Baekhyun jie jie saja. Ini kan hanya sebentar, paling lecet sedikit.. kau sudah tidak memakai jas, masa kau juga harus tidak pakai sepatu.." Sehun menatapku datar.

"How stupid you are, Huang. Siapa juga yang mau memberikan sepatuku. Punya Luhan saja kebesaran, bagaimana dengan sepatuku. Bodoh." Sahutnya dengan suara yang.. ah, dia ini tidak memahami situasi dan kondisi saat ini apa? Disaat seperti ini, masih saja cari ribut.

"Aish. Sudahlah. Aku bertelanjang kaki saja." Aku hendak berdiri, tapi Sehun menatapku tajam dan aku tidak berani bergerak dari posisiku sekarang.

"Tidak. Kau pakai kaus kakiku saja. Setidaknya kakimu tidak akan kotor karena debu. Aku tidak mau telapak kaki calon istriku kotor seperti gelandangan." Katanya seraya melepaskan kaus kaki putih yang dikenakannya lalu memakaikan kaus kaki itu dikaki-ku. Aku tersenyum. Dia ini benar-benar tidak bisa ditebak.

"Dan jangan ada yang bertanya tentang apa yang telah terjadi, ceritanya panjang. Nanti saja." Sambungnya saat Baekhyun jie jie baru saja ingin mengeluarkan suaranya.

"Xie xie, Shixun-ah.." Ucapku dengan manis. Sehun tersenyum sekilas.

"Mm." Balasnya sambil kembali memakaikan kaus kaki itu di kaki-ku.

"Baba, sarung tangan Sehun ada darahnya, bisa tukar dengan punyamu?" Tanyaku. Baba tersenyum dan mengangguk, dia membuka sarung tangannya dan memberikan sarung tangan itu padaku.

"Sini, Hun.. aku pakaikan.." Pria itu malah menatapku datar. Dia berdiri dan berkacak pinggang dihadapanku.

"Aku bukan anak kecil." Dia merebut sarung tangan itu dengan terburu-buru. Waktunya sudah hampir tiba. Tak lama kemudian ia mengulurkan tangannya ke arahku dan aku pun meraihnya.

"Emm.. paman yang beberapa detik lagi akan menjadi appa-ku, aku titip Tao sebentar. Tolong antarkan gadis ini padaku lagi di depan altar nanti.." Tuturnya sambil tersenyum. Aku, baba dan kedua jie jie di sampingku tertawa mendengar pernyataannya. Dia lucu sekali.

"Baik." Jawab baba sambil menepuk pundak Sehun. Sehun membungkukan tubuhnya memberi salam, lalu berjalan masuk kedalam gereja. Dia akan menungguku didepan altar. Luhan dan Baekhyun jie jie pun ikut berjalan masuk ke dalam gereja, dan tinggalah aku dengan appa-ku disini.

"Kau sudah besar, tuan putriku.. jadilah istri yang baik.. baba sayang padamu.." Tutur baba dengan suara bijaknya. Dapat kulihat air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Namun dia tetap tersenyum dan menahannya agar air matanya tidak tumpah di depanku.

"Mm.. aku juga. Aku sayang baba.. maafkan aku karena selalu merepotkanmu." Baba memelukku dan mencium keningku. Tangan hangatnya meraih tudung sutra dibelakangku dan menariknya ke depan. Dari balik tudung sutra ini, samar-samar kulihat air mata baba menetes. Lalu baba-ku yang hebat itu tersenyum, dan aku pun mengamit lengannya dengan lembut. Kami berjalan berdampingan menuju pintu gereja dan terus lurus berjalan menuju altar. Semua tamu undangan berdiri saat aku memasuki ruangan sakral itu. Mereka menatapku lekat-lekat. Tentu saja, penampilanku ini memang sedikit eye catching dibanding mempelai wanita pada umumnya. Dan aku tidak peduli dengan itu. Seperti kata Sehun, yang terpenting adalah sumpahku nanti.

"Kuserahkan putriku padamu, Sehun-ah.. jaga dia." Bisik baba pada Sehun sambil menyerahkan tanganku pada si albino di depanku.

"Pasti." Jawab Sehun mantap. Baba berjalan dan berdiri disamping mama juga gege dan istrinya. Di kubu satunya ada appa, eomma dan noona Sehun. Mereka semua memperhatikan kami seraya tersenyum.

Aku dan Sehun pun menghadap altar dan di depan kami sudah ada pendeta yang akan menyatukan kami dengan sumpah sehidup semati.

"Oh Sehun, bersediakah kau menjadi suami dari Huang Zi Tao dalam suka maupun duka, untung maupun malang, sehat maupun sakit dan tetap setia sampai maut memisahakan kalian?"

"Ya. Aku bersedia." Jawab Sehun dengan mantap.

"Huang Zi—."

"Interupsi pendeta." Sehun mengangkat tangannya. Semua orang di ruangan ini pun heran setengah mati.

'What?! Apa yang dilakukan si albino itu?! Ini acara pernikahan, mana ada yang namanya interupsi?! Dia.. apa-apaan dia? What the hell is this?!' rutukku dalam hati. Sehun berjalam mendekati pendeta dan berbisik padanya.

"Dia itu bodoh, aku takut dia tidak mengerti. Bisa 'kan kau lakukan itu, pendeta?" Hanya itu yang bisa kudengar. Sedangkan yang sebelumnya tidak. Apa-apaan dia? Pendeta itu pun mengangguk.

"Gamsahamnida." Ucap Sehun seraya membungkukkan badannya dalam-dalam. Si albino gila itu pun kembali berdiri di sampingku.

"Apa yang kau katakan padanya?" Aku berbisik sambil menyenggol-nyenggol lengannya menuntut jawaban. Dan dia hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Aish.

"Baik, kita lanjutkan.."

"Huang Zi Tao, bersediakah kau menjadi istri dari Oh Sehun dalam suka maupun duka, untung maupun malang, sehat maupun sakit, tetap setia dan tidak berselingkuh seumur hidupmu, melayani suamimu dengan baik dan mencintainya sampai maut memisahakan kalian?"

"Eh?" Aku terkejut mendengarnya. Kenapa isi sumpahnya berbeda? Si albino itu! ini pasti ulahnya! Kenapa pakai bawa-bawa 'selingkuh' segala?! Dia benar-benar mempermalukan aku! Oh Sehun harus mati! Wu Shixun harus ke neraka! Kudengar orang-orang menahwan tawa mereka, bahkan pendetanya tersenyum saat membacakan isi sumpah tadi.

"Cepat jawab." Bisik Sehun sambil menyenggol-nyenggol lenganku.

"Eh? Ng.. Ya. Aku bersedia." Akhirnya aku menjawab. Semua orang bertepuk tangan, ada yang sambil tertawa. Entah tertawa karena ikut bahagia atau karena melepas tawa yang sempat tertahan tadi karena kebodohan Sehun yang membuatku terlihat bodoh. Kami pun bertukar cincin, dan.. sampailah pada saat dimana kami harus… kalian tahu lah.

Sehun menatapku lekat-lekat dan mendekatkan posisinya kearahku. Ia menyibak tudung sutra yang menutupi wajahku dengan lembut. Tangan kanannya memegang pipi kiriku dan tangan satunya melingkari pinggangku. Dia mulai menunduk dan kemudian menciumku lama. Memang dia bilang tidak akan se-simple waktu itu, tapi ini 'kan di depan umum.. aku malu.

-Albino Married Panda-

Sehun's Point Of View

Zitao mencoba mendorongku, namun aku jauh lebih kuat. Anggap saja ini pelangi sehabis hujan, habis gelap terbitlah terang. Anggap saja ini imbalan untuk satu jam yang telah menguji kesabaran, memacu adrenalin dan melelahkan itu.

Setelah dirasa kami mulai kekurangan oksigen, aku pun menyudahinya. Zitao menatapku tak habis pikir dan aku hanya tersenyum dengan innocent-nya.

"Sudah kubilang tidak akan se-simple waktu itu. Iya 'kan?" Ujarku. Zitao menggerutu ditengah tepuk tangan yang membahana di ruangan ini. Ruangan yang menjadi saksi bisu sumpah kami berdua. Mulai detik ini, aku Oh Sehun adalah suami sah Huang Zitao. Eh? Atau Oh Zitao? Aish, terdengar aneh. Bagaimana dengan Oh Panda? Aaah, itu jauh lebih aneh. Ya, whatever. Setelah ini kami akan langsung tinggal di apartemen yang telah aku beli sebelumnya. Setelah acara pemberkatan dan resepsi selesai, kami akan pulang ke apartemen yang akan menjadi rumah kami.

-Albino Married Panda-

Akhirnya kami sampai di apartemen. Aku melarang Baekhyun jie jie yang sibuk ingin menginap disini. Enak saja, aku kan mau istirahat. Ini benar-benar hari yang melelahkan. Begitu masuk kamar, Zitao langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Meregangkan otot-ototnya. Padahal dia masih menggunakan perpaduan gaun dan tuxedo itu. Bukannya mandi dulu dan ganti pakaian, dia malah berleha-leha. Wanita macam apa dia?

"Dasar pemalas. Setidaknya ganti dulu pakaianmu, dan seharusnya kau mandi dulu. Dasar jorok." Ujarku sambil mengambil pakaian dari lemari.

"Haah, aku lelah sekali." Serunya. Dia mengacuhkanku. Dasar gadis hitam putih.

"Aish.. aku mau mandi dulu. kau mau ikut?" Godaku sambil duduk merapat kearahnya.

"KYAA! Pergi sana! Dasar albino gila!" Dia memukulku dengan bantal.

"Aku kan suamimu sekarang."

"Menjauh kau OH SEHUN!" Pekiknya. Aku terkekeh lalu melenggang masuk kamar mandi. Tubuhku rasanya lengket karena keringat. Setelah setengah jam, aku pun keluar dari kamar mandi dengan baju santaiku. Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, aku mendekati Zitao. Dia tengah tertidur dengan pulas.

"Hah, pulas sekali tidurnya." Gumamku sambil mengelus puncak kepalanya.

"Kau lelah sekali ya?" Nihil kalau dia menjawab. Yang ada malah mendengkur. Kuangkat wajahnya menggunakan tangan kiriku hingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Cantik. Dengan bertopang pada tangan kanan, aku menunduk dan menciumnya dengan lembut. Belum lama aku menciumnya, dia sudah bangun.

"KYAA! Apa yang kau lakukan, OH SEHUN?!" Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Apa? Kau istriku sekarang, aku boleh melakukan apapun padamu." Jawabku santai, membatasi ruang geraknya yang masih berbaring dengan kedua tanganku.

"NO! Aku masih kuliah, Oh Sehun!" Dia histeris. Berlebihan sekali.

"Ck, sudah sana mandi." Kali ini gantian aku yang berbaring. Zitao langsung melesat menuju lemari, mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.

"Perlu bantuan untuk melepas gaunnya tidak?" Tanyaku.

"Are you crazy?! aku bisa sendiri!" Sahutnya kencang. Padahal pintu kamar mandi itu kedap suara. Panda memang berbeda. Aku pun memejamkan mataku.

Ceklek~

Terdengar suara pintu terbuka dan aku langsung melihat kearah sumber suara. Muncul Zitao yang terbungkus dalam piyamanya yang kebesaran dengan wajah kusut.

"Suara apa tadi?" Tanyaku. Tadi saat dia mandi, ada suara berbagai benda yang jatuh ke lantai. Dia duduk disampingku sambil menaikan lengan baju panjangnya.

"Aku terpeleset dan tertimpa berbagai peralatan mandimu yang jumlahnya tidak sedikit dan lengkap seperti wanita itu. Lihat ini." Tuturnya sambil menunjukan luka lecet yang ada di lengan juga kakinya.

"Bagaimana bisa?"

"Gaun satu-satunya di dunia itu.. akh, bagaimana menceritakannya ya? Pokoknya gara-gara gaun yang hanya satu-satunya di dunia." Jawabnya polos.

"HAHAHA! You fool!" Ledekku. Dia hanya mengerucutkan bibirnya dan meratapi lukanya.

"Sakit?" Tanyaku. Dia mengangguk manja. Aku berdiri dan menarik lengannya.

"Kalau begitu, ayo. Kita makan." Ajakku.

"YA! apa hubungannya dengan makan?! Harusnya kau mengobatiku!" Protesnya. Luka seperti itu saja, berlebihan sekali dia.

"Itu hanya luka kecil. Ayo, aku lapar." Kuseret saja dia menuju ruang makan. Aku sangat lapar!

Setelah memesan makanan dari luar, kami menunggu di meja makan sambil menikmati teh hangat.

"Aish.. kau marah jagiya? " Tanyaku sok lembut. Daritadi dia hanya diam dengan mode manyun-nya. Zitao membelalakan matanya dan melonjak hingga..

GABRUK!

Dalam seketika Zitao hilang dari pandanganku. Kagetnya berlebihan hingga kursinya jadi terbalik ke belakang karena lonjakannya.

"AKH!" Tangannya muncul di atas meja disusul dengan wajah kesakitannya.

"Kau ini kenapa?" Tanyaku bingung, tapi tetap ditempatku. Salah dia sendiri, kenapa melompat diatas bangku.

"Aku baru mengerti seberapa terdengar menjijikannya kata itu jika kau ah maksudku jika kita yang mengucapkannya. Pokoknya mulai sekarang, tidak satu pun dari kita yang boleh mengucapkan kata itu. Ingat. Tidak satupun dari kita yang boleh mengucapkan kata j..ja..jag.. haah, kau tau kan maksudku." Tuturnya sambil memegangi pinggangnya. Asih, gadis hitam putih sialan. Kukira ada apa. Ternyata hanya karena kata ja..jag..jag… AKH! Apapun itu. Sumpah demi Tuhan, aku juga tidak akan mengucapkan kata absurd itu lagi!

END

-Balasan Review-

LVenge : Emang mereka mah ceroboh /g. Ini udah lanjut, semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Ko Chen Teung : Syukur deh kalo author-nim suka hehe. Itu udah manis belum ya? Wkwk. Ini sudah dilanjut thor! Semoga suka yepp! Review lagi please? Hehe

rtf69 : SERIUSAN INI FLUFFY?! Ga nyangka ada yang bilang ini fluffy wkwkwk.

littleyeoja : Taotao kan emang selalu bikin gemes kaya gue .g /slapped/ wkwk. Ini sudah dilanjut, semoga suka yepp. Review lagi please? Hehe

Kirei Thelittlethieves : Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Bunda Tao : Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

luphbebz : Sama! Wkwk. Ini sudah dilanjut kawan, semoga suka yepp. Review lagi please? Hehe

Aiko Michishige : Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

anis. : Ini sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, masalah bulan madu... ga janji yah wwkwk. Review lagi please? Hehe

Jangnanana : Pas upacara pernikahannya? Tuh udah dikasih tau, menurut kamu gimana? Hahaha. Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Dandeliona96 : Alhamdulillah kalo humornya dapet hehe. Kalo gue si udah gue bunuh itu si albino haha. Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Akuh (guest) : Syukur kalu kamu sukaa hihihi

Tantei23 (guest) : Taotao mau diapain tetep cantik kok/? Hehe. Iya jagi itu sama kayak chagi.

idda KyuSung (guest) : Emang dasar mereka mah couple rempong/?. Mari lestarikan! Hehehe. Hidup #HunTaoTrashTeam

wshxn (guest) : Hayuk ngakak sebelum dilarang wkwkwk. Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Kaisoo32 : Hayuk ngakak sebelum dilarang wkwkwk. Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Kthk2 (guest) : Sudah dilanjutt! Semoga suka yepp, review lagi please? Hehe

Thanks for all reviewers! Lafyu lahhhh heheheh! Maaf ya kalo ada kesalahan dalam penulisan pen-name, gelar, etc.^^

Selesai selesai! Gue tau kok ini endingnya gantung, emang sengaja biar kalian pada kepo LOL, tapi boong deng. Gue udah stuck mau bikin endingnya gimana hahaha. Sorry for bad ending ya gaes. Makin stress nih dikit lagi mau ujian *malah curhat*. Ohiya soal Taotao, Lay Xiumin. Doakan yang terbaik aja ya buat mereka! Biar bagaimanapun kita kan cuma fans yang harus selalu ngedukung idolanya! Gue yakin kok, keputusan apapun yang dibuat sama mereka pasti keputusan terbaik buat mereka. Okedee, gimme a review please? *puppy eyes bareng huntao*.

Regards,
Keewanii.