Tittle : Kamjjong!

Cast : Kim jongin [Kai], Oh Sehun and Other

Genre : Romance and other

Rate : T

Disclaimer: Cast yang pasti punya Tuhan YME, orang tuanya, entertainment, dan fans.

Warning : typo(s), BL.

NO BASH! NO PLAGIAT!

Note: ff ini asli dari otak ku sendiri, bukan hasil PLAGIAT!
walau ff nya abal dan gaje, tapi ini tetap ff murni dari otak ku!

.

.

Happy Reading

.

.

.

Jung seonsaenim telah menyelesaikan pelajarannya hari ini dan tepat setelahnya bel istirahat berbunyi.

Sehun menutup semua bukunya dan meletakkannya didalam laci meja miliknya. Lalu ia menghela nafas. Kepalanya sedikit pusing saat memutar otak untuk belajar tentang rumus-rumus fisika tadi.

Sedikit informasi, fisika adalah salah satu pelajaran yang tidak begitu disukainya. Setelah matematika tentunya. Ia lebih menyukai pelajaran seni. Seperti menari dan melukis misalnya.

"Hun-ah," Tao menghampiri meja Sehun. Sehun yang tadi menundukkan kepalanya lalu mendongak menatap Tao. "ah, Tao-ya, cepat sekali kau datang." Sehun berdiri lalu berjalan keluar kelasnya diikuti Tao.

"hey, kalau aku tidak datang menghampirimu duluan, kau pasti hanya duduk diam saja disana. Kapan kau akan menghampiriku duluan, eh?" ujar Tao sedikit menyindir Sehun.

Sehun hanya mencibir mendengar sindiran Tao, "aku hanya malas datang ke kelasmu. Aku tidak sepertimu yang hanya langsung menerobos masuk dengan seenak jidatmu saja." Sehun balas menyindir.

Mereka berjalan mencari meja kantin tempat biasa mereka duduk. Saat Sehun sudah hampir menduduki salah satu meja, tiba-tiba empat orang namja sudah mendahului nya.

Salah satu dari mereka sedikit mendorong tubuh Sehun, sehingga Sehun sedikit terjungkal kebelakang. Untung Tao berada dibelakangnya dan memegangi tubuhnya.

Sehun memandang sekelompok namja-namja itu dengan tatapan tajamnya. Sekelompok namja itu adalah orang-orang yang sangat Sehun benci di sekolah ini. Mereka suka bertingkah seenak mereka saja.

"YAK! Apa-apaan kalian? menyingkirlah! Aku dan Tao yang duluan mendapatkan meja ini!" Sehun berteriak kesal tanpa memperdulikan para siswa-siswi menatapnya aneh.

Kai-salah satu dari empat namja disana- menatap Sehun lalu tertawa mengejek. "hey, anak manis, cari saja meja lain. Meja di kantin ini kan tidak hanya satu," ucap nya lalu diikuti suara tawa oleh ketiga temannya yang lain.

"ck! Tapi-"

"sudahlah, Hun. Lebih baik kita cari saja meja yang lain," Tao memotong ucapan Sehun dan merangkul pundaknya, lalu membawa Sehun menjauh dari meja sekelompok namja tersebut, dan mencari meja kantin yang lain.

Disaat teman-temannya sibuk tertawa, Kai hanya diam menatap punggung Sehun dan Tao-atau lebih tepatnya punggung Sehun-.

Luhan yang duduk disamping Kai lalu berhenti tertawa saat matanya tidak sengaja melihat Kai yang diam sambil menatap sesuatu-atau seseorang-. Luhan ikut memandang kearah pandangan Kai, lalu ia menepuk pundak namja tan itu dua kali.

"hey, apa terjadi sesuatu? Mengapa wajahmu seperti itu?" pertanyaan Luhan membuat Kris dan Chanyeol-dua namja lainnya- juga berhenti tertawa dan menatap pada Kai dan Luhan.

"Tidak apa apa. Hey, Chanyeol, pesankan makanannya," Kai mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Chanyeol untuk memesankan makanan.

"hey hey hey, seenaknya saja kau menyuruhku! Bagaimana pun juga, aku ini lebih tua darimu!" kata Chanyeol tak terima.

"ya, kau memang lebih tua darinya, tapi sifatmu jauh dibawah dia," Kris berkata sambil menunjuk Kai yang sibuk dengan handphone nya. "aish! Arraseo! Aku akan memesankan makanan! Kalian benar-benar!" Chanyeol langsung berdiri dari bangkunya dan memesan.

.

.

"makanlah pelan-pelan, nanti kau tersedak." Tao meletakkan jus jeruk ke hadapan Sehun yang sedang memakan ramennya dengan emosi.

"Diamlah, aku sedang emosi sekarang!" Sehun kembali menyuap ramennya dengan suapan yang lumayan besar.

"tapi ramen itu-" Sehun langsung terbatuk, "-pedas. Minumlah," Tao memberikan jus jeruk tadi ke tangan Sehun. Sehun pun langsung meneguk jus tersebut.

Tao memperhatikan wajah Sehun lalu tersenyum. "kau sangat lucu, Hun-ah,"

Mendengar ucapan Tao, membuat Sehun merona, "n-ne?"

"kau lucu," Tao mengulangi kata-katanya tadi. Sehun hanya tersenyum menanggapinya. Melihat senyuman Sehun membuat Tao juga ikut tersenyum.

Tiba-tiba senyuman Sehun memudar saat ia mengingat pesan Kai saat dikelas tadi. "ada apa?" Tanya Tao yang menyadari ekspresi wajah Sehun berubah.

Sehun menatap Tao, "Tao-ya, sepertinya nanti aku tidak jadi menemanimu untuk pergi ke toko sepatu," ujar Sehun pelan.

"kenapa?" Tanya Tao masih dengan senyumannya. "hmm, eomma menyuruhku untuk pulang cepat hari ini, jadi tidak apa kan?" jawab Sehun sedikit takut.

"haha, tidak apa, kenapa kau berbicara seperti itu? Apa aku terlihat mengerikan sekarang?" Tao mengacak poni Sehun.

"hey, jangan rambutku!" Sehun merapikan kembali poni nya sambil memanyunkan bibir tipisnya. Tao hanya tertawa.

.

.

.

Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Seluruh murid dengan semangatnya membereskan seluruh peralatan sekolah yang berserakkan diatas meja mereka, tanpa menunggu sang guru yang belum menutupi pelajaran siang itu. Sang guru hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah para muridnya itu.

Beda dengan Sehun, ia memasukkan alat-alat tulisnya dengan kurang bersemangat. Sesekali ia melirik ke pintu masuk kelasnya, disana terdapat Kai yang sedang berdiri sambil bersedekap memperhatikannya.

Setelah selesai membereskan alat-alatnya, Sehun langsung berdiri sambil menyandang tas miliknya. ia berjalan pelan menuju pintu kelas.

"kau sengaja berlama-lama seperti itu, kan?" Tanya Kai saat Sehun sudah berada di hadapannya. Sehun menatap Kai dengan tajam, "menurutmu?" Sehun langsung berjalan mendahului Kai. Sedangkan Kai hanya mendengus.

Untung Kai bisa langsung berhenti saat Sehun tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.

"hey, kenapa tiba-tiba?"

"hai, Tao-ya," sapa Sehun. Sedangkan yang disapa hanya tersenyum kearah Sehun lalu kembali berwajah datar saat melihat orang yang berada di belakang Sehun. Sehun yang merasakan suasana mulai canggung, lalu membuka mulutnya untuk berbicara duluan, namun tiba-tiba Kai berbisik kepadanya sehingga ia kembali menutup mulutnya.

"aku menunggumu di parkiran sekolah," bisik Kai pada Sehun namun masih bisa didengar oleh Tao. Setelahnya, Kai langsung beranjak meninggalkan Tao dan Sehun.

Sehun merasa tidak enak pada Tao. Pasti Tao mengira ia membatalkan janjinya bersama Tao, karena ia akan berpergian dengan Kai. Tidak tidak.

"Tao, kau tidak apa?" Sehun memegang pundak Tao yang memandang tajam punggung Kai yang semakin lama semakin menjauh itu.

"ne," jawab Tao singkat ia kembali menatap Sehun.

"i-itu… Aku benar-benar disuruh eomma untuk pulang cepat, bukan karena aku punya janji lain dengan dia, kau jangan salah paham," Sehun berusaha meyakinkan Tao.

Tiba-tiba Tao mengerutkan dahinya. Kenapa Sehun berprasangka seperti itu?

"kau kenapa, Hun-ah?" pertanyaan Tao membuat Sehun merutuk dirinya sendiri. ia seperti orang ge-er.

"o-ouh, tidak apa apa. Aku duluan Tao, bye…" Sehun memeluk Tao sekilas lalu dengan cepat berlalu dari hadapan Tao. Tao hanya terkekeh melihat tingkah Sehun.

.

.

.

Sehun berhenti melangkahkan kakinya saat ia sudah tiba di tempat parkiran motor. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Kai.

"dimana dia? Apa dia meninggalkanku?"

Pandangannya langsung berhenti pada sekelompok namja yang sedang bercengkrama di salah satu sudut parkiran. "aish, kenapa harus ada teman-temannya disana? Aku harus bagaimana?"

Kai menatap Sehun yang berdiri tidak jauh dari tempat dirinya dan teman-temannya berbicara sekarang.

"Hey, anak manis! Kenapa kau berdiri disana? Cepat kemari!" Kai melihat Sehun mendengus lalu berjalan lumayan pelan kearah ia dan teman-temannya.

"ah, kau pulang dengan, Sehun? Ooo, sudah sampai dimana hubungan kalian?" pertanyaan Luhan membuat Sehun mendelik.

"kami tidak mempunyai hubungan!" pekik Sehun membuat Kai dan teman-temannya menutup telinga mereka.

"hey hey, Manis manis tapi galak. Ckckck" kata Chanyeol sambil mengusap telinganya. Sehun hanya mencibir.

"sudahlah jangan ganggu dia! Hey, cepat naik!" Kai memasang helm nya. Sedangkan Sehun hanya diam berdiri.

"ok, kalau begitu kami pergi dulu. Hati-hati di jalan, Kai," Kris langsung berlalu diikuti Luhan dan Chanyeol.

Kai tidak merasakan Sehun di belakangnya, ia pun menoleh pada namja putih tersebut yang masih setia berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.

"kau tidak mendengarku? Cepat naik!" Sehun sedikit mengeluarkan umpatan yang untungnya tidak terdengar oleh Kai. Ia pun naik ke motor Kai dengan tangan yang masih setia terlipat.

"berpeganglah! aku tidak menjamin kau akan tetap duduk di atas motorku sampai kita tiba di rumah."

"apa itu perlu? Shireo! Aku tidak akan! Lebih baik cepat jalankan motornya!" Sehun masih tetap kukuh.

"ok, kalau begitu," Kai menghidupkan mesin motornya dan motor pun langsung melaju kencang membuat Sehun terjungkal dan untungnya ia langsung memeluk pinggang Kai.

"KAU INGIN MEMBUNUHKU, EO?" pekik Sehun.

Sedangkan Kai hanya mengeluarkan smirknya.

.

.

.

"kenapa kita disini?" Tanya Sehun saat melihat tempat yang bukan rumahnya. Melainkan café?

"turun saja. Aku lapar, lebih baik kita makan disini dulu," Kai mematikan mesin motornya namun ia masih tetap duduk di atas motornya tersebut, karena…

"hey, kenapa kau masih memelukku? Turunlah." Sehun pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Kai.

Sehun turun dari motor Kai, "kenapa? Kau nyaman memelukku?" Kai bertanya sambil meletakkan helm nya.

"Apa kau bilang? Nyaman? Tidak mungkin!" Sehun berusaha tidak mengeluarkan nada gugupnya. Tapi, kalau boleh Sehun jujur, pelukan Kai entah kenapa memang nyaman sekali.

Sehun langsung berjalan mendahului Kai untuk masuk kedalam café.

.

.

Kai dan Sehun memakan makanan mereka dengan tenang. Tidak ada yang bersuara, hanya suara kesibukkan di café tersebut saja yang terdengar. Mata Kai sesekali melirik Sehun sambil terus mengunyah makanannya. Ia tersenyum tipis, saat melihat sedikit saus spaghetti yang dimakan Sehun menempel disudut bibir tipisnya.

"ehem," Kai berdehem, membuat Sehun mendongak dan berhenti menyuap makanannya.

"ternyata kau masih makan seperti anak kecil ya, Sehun. Atau kau tidak pernah makan diluar? Kulihat saat dirumah, kau makan tidak seperti ini," Kai meminum Americano miliknya.

Pertanyaan Kai tadi membuat Sehun mengerutkan keningnya bingung, "Apa maksudmu mengatakanku seperti itu, eo? Kau ingin mencari masalah denganku?" Sehun sedikit meninggikan nada bicaranya dan sedikit memukul meja dihadapannya, sontak membuat beberapa pelanggan dan beberapa pelayan yang lewat melihat kearahnya. Sehun pun tersadar dan menundukkan kepalanya kearah mereka, lalu kembali menatap Kai tajam.

Sedangkan yang ditatap hanya tertawa mendengus. Kai meletakkan Americano yang sudah diteguknya lalu mengambil selembar tisu yang berada ditengah-tengah meja café tersebut, setelah itu dengan sedikit kasar, Kai menempelkan tisu tersebut ke bibir tipis Sehun.

Sehun yang menerima perlakuan seperti itu, tentu tidak terima, "Kau! Apa masalahmu, ha?" kini Sehun merasa darahnya sudah naik ke ubun-ubun semua. Ia benar-benar benci dengan sikap Kai yang selalu seenaknya. Bisakah Kai sedikit lebih sopan atau… lembut?

"tidak ada. Lebih baik kau bersihkan bibirmu itu. Kau hanya mencari malu saja. Itu jorok, kau tau?" Kai berkata dengan santai lalu kembali menyeruput Americano nya.

Sehun hanya cengo menatap Kai. Namja ini benar-benar membuat amarahnya membludak.

Sehun hendak menyemburkan semua amarahnya pada Kai yang masih santainya menyeruput Americano miliknya, namun tiba-tiba matanya menangkap sepasang namja yang baru saja masuk kedalam café. Ia mengenali salah satu dari keduanya, dan namja itu membuat suasana yang tadinya sangat panas, kini menjadi sejuk. Namun Sehun kembali merasa suasana panas yang tadi, saat menatap namja mungil yang berada disamping namja yang dikenalinya sebagai sahabatnya-yang ia sukai- itu menggandeng tangan sahabatnya, ya, Tao.

Kai memperhatikan ekspresi Sehun, lalu mengernyit bingung. Ia menoleh kebelakang, menatap objek pandangan Sehun sekarang.

Disana ia melihat Tao dan seorang namja mungil disampingnya. Lalu ia kembali menatap Sehun yang sudah menundukkan kepalanya sambil memainkan tisu yang Kai berikan tadi.

Kai menghela nafas sebentar, "kau menyukai Tao, kan?" Tanya Kai.

Jari-jari Sehun berhenti memainkan tisu ditangannya, lalu beberapa saat kemudian ia kembali memainkannya. Kai juga memperhatikan tisu malang yang Sehun mainkan, bahkan tisu itu sudah mulai robek sedikit demi sedikit sekarang.

Ketika Kai akan kembali bersuara, tiba-tiba Tao dan namja mungil tersebut menghampiri mejanya dan Sehun. Kai pun mendongak menatap dua namja tersebut.

"eh? Hun-ah, kau disini?" Tanya Tao. Sehun langsung mendongak dan sedikit kaget melihat Tao dan namja disampingnya. "oh, ah ya," jawab Sehun berusaha untuk tidak terlalu gugup.

"K-Kau juga?" Kai mendengus mendengar pertanyaan yang Sehun dan Tao lontarkan. Kenapa mereka saling bertanya 'kau ada disini?' dan 'kau juga?'. Bodoh, sudah jelas mereka berdua sama-sama berada didalam café ini kan? Mengapa ditanya lagi?

"ne, ah, Sehun kenalkan dia kekasihku, Baekhyun. Baekhyun kenalkan juga, dia sahabat nomor satuku saat di kelas tiga ini, Sehun." Tao memperkanalkan Baekhyun pada Sehun sambil tersenyum.

Saat mendengar ucapan Tao barusan, membuat Sehun terhenyak. Dada nya terasa sesak. Jadi Tao sudah mempunyai kekasih? Tapi, kenapa dia tidak menceritakannya pada Sehun?

Sehun menerima jabatan tangan Baekhyun dengan pelan, "Baekhyun," ucap Baekhyun dengan senyum manis yang terpampang diwajah imutnya.

"S-Sehun," Sehun membalas senyuman namja mungil tersebut.

Mata Baekhyun menatap kearah Kai yang sedang menyeruput minumannya santai sambil memperhatikan jalan raya lewat kaca jendela cafe.

"dan dia siapa?" telunjuk lentik Baekhyun menunjuk Kai. Kai yang merasa dirinya ditanya langsung menoleh dan menatap Baekhyun, "aku? aku Kai." Jawabnya lagi-lagi santai. Kai itu terlalu calm dan santai, jadi jangan heran kalau dia bersikap seperti itu. -_-

"oh, Kai. Jadi, kau pacarnya Sehun ya?" ucap Baekhyun blak-blakan.

Sehun yang sedang menyeruput Lemon Tea nya-ini karena dia melihat Kai yang sedang minum tadi-, tiba-tiba saja terbatuk. 'apa katanya? Pacar?'

"bu-" "ya, dia pacarku. Kau baik-baik saja, baby? Wajahmu merah, lebih baik kau minum air mineral ini, agar lebih tenang," Kai menyodorkan segelas air mineral kehadapan Sehun. Sedangkan Sehun hanya mendelik tajam kearah Kai, namun Kai sama sekali tidak takut, ia hanya tersenyum sok polos kepada Sehun.

"ah, jadi kalian berpacaran ternyata. Hun-ah, kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Tapi, kau berpacaran dengan namja hitam ini?" ucap Tao sambil memandang Kai dengan tatapan mengejek. Sedangkan Kai hanya mendengus dan berpura-berpura tidak mendengarkan ejekan si Panda jelek itu.

Sehun menatap Tao sendu, "a-ah, itu… k-kau juga. Kau juga tidak memberitahuku kalau kau sudah mempunyai kekasih," suara Sehun sedikit bergetar, dan hanya Kai yang menyadari itu.

"oh itu, aku selalu lupa bercerita tentang ini padamu, hehe, mianhe," Tao menggaruk kepala bagian belakangnya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih digandeng oleh Baekhyun.

"oh, begitu. Eum, kalau begitu, aku dan Kai duluan saja ne? sampai bertemu besok disekolah," Sehun berdiri dari duduknya lalu menatap Kai yang masih duduk di bangkunya. "Kai, ayo!"

"tapi, makananku belum habis, baby," Kai menunjuk makanannya yang masih tersisa setengah. "cepatlah," Kai menangkap nada getar suara Sehun. Ia pun berdiri lalu merangkul pundak namja milky skin tersebut. Jujur, ini baru dia pertama kali merangkul pundak kecil namja manis ini. Ini terasa pas di lengannya. Kai pun membawa Sehun keluar dari café.

"Tao, apa benar Sehun sahabatmu?" Baekhyun menatap Tao dengan pandangan mengidentifikasi. "iya, kenapa? Kau meragukanku?" Baekhyun menggeleng cepat.

"Tidak,"

.

.

.

Tangan Sehun memeluk pinggang Kai dengan erat. Air mata nya terus meluncur turun. Ia tidak menyangka akan menjadi sakit hati begini. Ia juga tidak menyangka Tao sudah mempunyai kekasih ternyata. Dia yang terlambat atau memang Tao bukan jodoh yang tepat untuknya?

Kai menepikan motornya di tepi jalan. Namun Sehun tidak peduli, ia tetap saja memeluk pinggang Kai dengan erat. Ia masih menangis. Ingin sekali ia menghentikan tangisannya ini, namun tidak bisa. Ini sangat sakit.

Kai mendengar isakan Sehun. Ia merasa iba sekarang.

Kalian tau? Kai itu menyukai Sehun semenjak mereka baru saja duduk di kelas dua SHS. Tapi, ia bukannya mendekati Sehun dengan perlahan-lahan atau memperlakukan Sehun secara baik dan lembut, yang seperti orang-orang lakukan saat masa-masa pendekatan, tapi dia malah terus mengganggu Sehun sampai sekarang pun juga begitu. Kai adalah salah satu namja yang gengsian. jadi, tau sendiri lah -_-

Perlahan tangan Kai mengusap pelan tangan Sehun yang masih berada di perutnya. Ia terus mengelus dan menepuk-nepuk pelan tangan tersebut.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kai dibalik helm nya. Sehun tidak menjawab dia malah semakin mempererat pelukannya. Detakan jantung Kai semakin cepat saat ini, apa Sehun kalau sedang menangis seperti ini?

'aish, jantung tidak bisakah kau berdetak normal kembali? Apa kau ingin berhenti, eo? Dan membiarkan aku mati? Aku belum berpacaran dengan Sehun, jadi tenanglah!' batin Kai.

Kai membuka helm nya lalu meletakkan helm itu di salah satu kaca spion motornya. Ia menatap jam tangannya, sudah pukul setengah empat. Lalu, ia menoleh kebelakang, menatap wajah Sehun.

"jangan melihat kebelakang!" ucap Sehun dengan nada perintah sambil menundukkan wajahnya. Wajah Kai yang tadinya melunak kini berubah menjadi datar. Sehun kenapa, sih?

"kenapa? Kau tidak suka aku melihatmu dengan wajah memerah dan mata sembab? Serta cairan yang-" Kai berhenti berbicara saat Sehun tiba-tiba turun dari motornya. "kau sama sekali tidak bisa mengerti perasaan orang lain, ya? Kenapa kau selalu bersikap kasar eo? Seingatku, aku tidak pernah melakukan kesalahan satu biji pun padamu!" Sehun berkata dengan nada lantang.

Kai mengernyit, "hey, kau itu yang tidak peka! Jelas-jelas aku tadi akan menghiburmu dengan membawamu jalan-jalan atau membelikanmu sesuatu! Tapi, kau malah-"

"pergi! Aku butuh waktu sendiri…"

Sehun mengusirnya, eoh?

Kai sekarang tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat tingkah Sehun ini. Bisakah Sehun sedikit peka?

"baiklah! Aku pergi! Tapi, jangan salahkan aku kalau eomma mu memarahimu karena kau pulang terlambat dan tidak bersamaku!" Kai memakai helm nya lalu dengan cepat mengendarai motornya meninggalkan Sehun.

Sehun menatap motor Kai yang menjauh dengan air mata yang kembali turun.

.

.

Kai POV

Aish, namja itu benar-benar. Padahal aku sudah baik ingin menghiburnya tadi, tapi mengapa dia malah membuatku semakin kesal padanya.

Ku buka pintu rumah keluarga Oh dengan perlahan lalu masuk kedalam. Saat tiba di ruang keluarga, aku melihat eomma Sehun sedang menonton televisi. Sepertinya ia menyadari kedatanganku, kulihat dia menoleh lalu tersenyum lembut. Aku pun membungkuk hormat padanya.

"kau sudah pulang ternyata. Eo? Sehun dimana? Kau tidak pulang dengannya?"

Aku terdiam, dan berusaha mencari sebuah alasan agar eomma Sehun tidak terlalu mangkhawatirkan tentang Sehun, "i-itu, d-dia… dia mengatakan padaku, kalau dia punya tugas bersama temannya,"

"ah, begitu. Ya sudah, lebih baik kau mandi dulu sana," Aku tersenyum karena eomma Sehun tidak bertanya lebih banyak lagi tentang anaknya. Kai kembali membungkuk dan berjalan cepat menuju kamar.

Kai POV end

.

.

.

Sehun berjalan menuju halte dengan langkah gontai. Pandangannya kosong pada trotoar yang ia pijak sekarang. Ia menghela nafas, "aish, aku tidak harus seperti ini. Kenapa bisa aku jadi secengeng ini? Sudahlah Hun-ah, Tao itu hanya sahabatmu, sahabat! Tidak lebih dan tidak kurang, kau mengerti?" Sehun berusaha menenangkan dirinya.

Ia duduk di kursi halte, lalu menatap jam tangannya. Kini sudah hampir pukul setengah tujuh, mana mungkin ada bis yang masih lewat. Adapun, pasti menunggunya sangat lama.

'Jelas-jelas aku tadi akan menghiburmu dengan membawamu jalan-jalan atau membelikanmu sesuatu!'

Sehun teringat kata-kata Kai tadi. Apa si Kkamjong itu serius? Tumben sekali. Sedikit rasa bersalah dan menyesal di hatinya.

"aish, aku kenapa sih?" Sehun mengacak rambutnya.

Tiit Tiit

Sehun mendongak menatap asal suara yang berasal dari sebuah mobil merek Audi yang tak terlalu jauh dari tempatnya duduk sekarang. Sesorang didalamnya menurunkan kaca mobil tersebut, "Hey! Kenapa bisa disana? Bukannya kau tadi pulang dengan Kai, anak manis?" ucap orang tersebut.

Sehun mendelik tidak suka. Ck! Kenapa dia harus dipertemukan oleh namja ini?

"apa urusanmu eoh?"

"tidak ada! Aku hanya bertanya saja! Jadi apa yang kau lakukan disana? Bis pada jam segini tidak akan ada, pabo," Sehun hanya diam mendengar namja tersebut. Ia mengalihkan perhatiannya pada objek lain.

"jadi, daripada kau menunggu dengan sia-sia disini. Lebih baik aku mengantarmu. Cepat naik!" Sehun menatap namja yang berada didalam mobil tersebut yang ternyata adalah Luhan. ya, salah satu teman Kai.

"kenapa masih diam? Hey, anak manis, jarang-jarang aku memberi tumpangan kepada orang lain dengan menaiki mobilku ini, kecuali teman-temanku. Saudara ku saja tidak pernah menaikinya, jadi ini adalah kesempatan langka untukmu. Sebelum aku berubah pikiran, lebih baik kau cepat naik!" Sehun hanya memutar bola matanya malas saat mendengarkan ocehan namja tersebut.

Sehun berfikir sebentar, benar juga ucap si rusa tersesat ini. Kalau ia menunggu bis untuk datang, itu pasti akan sia-sia. Jadi…

"arraseo!" Sehun berdiri dari duduk nya lalu menghampiri mobil Luhan. Ia membuka pintu bagian belakang namun suara rusa itu menghentikannya, "duduk didepan!"

Sehun menghela nafas kasar. Ia menutup pintu bagian belakang itu dengan sedikit kasar, lalu membuka pintu depan dan menutupnya juga dengan kasar.

"Hey! Ini mobil mahal! Pintunya akan rusak kalau kau menutupnya dengan sekencang itu, berhati-hatilah!"

"aish, jalankan saja mobilnya! Jangan banyak bicara!" teriakan Sehun membuat Luhan mengerjap dan menuruti perintah Sehun.

.

.

.

"Jongin-ah, kenapa Sehun belum pulang juga?" Tanya eomma Sehun.

Kini Kai sedang membantu eomma Sehun untuk menyiram bunga-bunga kesayangannya. Kai menatap eomma Sehun, "aku akan menelfonnya ajhumma," Kai mengambil handphonenya dari saku celana pendek selutut yang digunakannya sekarang.

Terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor Sehun tidak aktif atau belum bisa di hubungi.

"bagaimana?"

"sepertinya ponsel Sehun mati, ajhumma,"

"aish, kemana anak itu? Tidak biasanya ia pulang terlalu lama seperti ini," omel eomma Sehun sambil masih menyiram bunga-bunganya.

"M-mungkin ia dan teman-temannya belum selesai belajar," eomma Sehun hanya mengangguk pelan.

Raut kekhawatiran tercetak di wajah Kai, tidak seharusnya ia meninggalkan Sehun tadi.

Tidak berapa lama setelahnya, suara mobil datang terdengar di pendengaran Kai dan eomma Sehun.

"siapa itu? Appa Sehun biasanya belum pulang pada jam segini," eomma Sehun menatap jam tangannya. Lalu ia berjalan menuju gerbang diikuti oleh Kai.

Kai dan eomma Sehun melihat Sehun keluar dari mobil tersebut disusul oleh seorang namja. Kai membelalakkan matanya, "Luhan?" gumamnya pelan.

"eo? Eomma?" Sehun kaget saat melihat eommanya dan Kai berdiri di gerbang.

"kau kemana saja? Ini sudah malam, kenapa baru pulang? Apa tugasnya banyak sekali?" ucap eomma Sehun sambil berkacak pinggang.

Luhan yang melihat Kai berada di belakang eomma Sehun terkaget. 'kenapa Kai ada disini?'

"ah, kau temannya Sehun ya? Terima kasih sudah mengantarkannya," eomma Sehun tersenyum pada Luhan.

"sama-sama ajhumma. Saya permisi pulang dulu," Luhan membungkuk pada eomma Sehun. Ia menatap Kai

'kau berhutang penjelasan padaku, Kai,'

.

.

.

TBC

Yo! Wassap readers-nim! Wkwk

Ga nyangka udah setahun ninggalin ni ff, udah ga nyambung sama chapt sebelumnya ya? Maaf, udah lupa sama jalan ceritanya hehe

Masih ada yang nungguin ga ya? Semoga aja ada haha

Maaf juga kalau masih ada typo

oiya untuk ff You're so sama IDMH, di discountinue dulu ya? ga papa kan? semoga aja gak lama kok hehe

Udah sampai disini dulu, Jiki tunggu kritik dan sarannya okey? Maaf ga bisa bales review nya dulu, tapi review kalian udah Jiki baca kok, thanks yaw wkwk

Mind to review?