Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Fujoshi Furukawa Kana
Warning : Newbie, AU, OOC, typo(s), EYD hancur, deskripsi kurang, abal, dll.
A/N : Jika ada kesamaan cerita itu bukanlah kesengajaan. Plot fic ini murni punya saya dan jika menemukan kesamaan dengan cerita lain, mohon konfirmasi. Hope you like, minna ^^
.
.
Don't like, don't read.
Sebuah majalah yang dilempar kasar jatuh tepat dihadapan pemuda dengan seragam KHS membalut tubuh kekarnya. Pemuda dengan iris onyx itu hanya mampu menunduk, tak berani menatap sang ayah yang sedang murka padanya.
"Apa-apaan ini, Sasuke? Sejak kapan Otou-san mengajarkanmu menjadi gay? Apa perempuan di dunia ini sudah habis hingga kau menyukai si Sabaku itu?"
Uchiha Sasuke menghela napas, pasrah mendengar celotehan ayahnya yang mengomel tentang berita yang dimuat di majalah sekolah kemarin. Entah siapa yang lagi-lagi membuat berita tak berperikemanusiaan itu. Sudah cukup sang pujaan hati mendeklarasikan ia sebagai Uke untuk Gaara minggu lalu, sekarang masalah baru lagi muncul. Padahal dalam seminggu ini ia sudah berusaha menjauhi Gaara agar terhindar dari gosip miring, namun kenyataannya...
"Sabaku Gaara dan Uchiha Sasuke bermesraan di taman sekolah? Whooa kau hebat juga Otouto. Lihatlah, foto kalian benar-benar serasi."
"Diam kau baka-Aniki. Aku dan Gaara tidak seperti yang kau bayangkan. Dan foto itu pasti diambil saat Gaara ingin meminta maaf padaku."
"Tapi kenapa romantis sekali?" Uchiha Itachi memang sangat menyebalkan. Bukannya membantu sang adik malah menambah suasana memanas di meja makan.
"Itu adalah ulah orang tak bertanggungjawab," Sasuke menatap tajam Itachi yang masih memasang muka menggoda.
Sedangkan Fugaku-ayah Itachi dan Sasuke sedang menahan amarah, tak peduli dengan sang istri-Mikoto yang terus memintanya bersabar. Mau bersabar bagaimana jika salah satu putra kebanggaannya ternyata adalah seorang gay.
"Pokoknya Otou-san tidak mau tahu, putuskan sekarang juga Sabaku dan carilah wanita!" perintah Fugaku tegas. Sasuke yang mendengar itu langsung mendelik kesal.
"Sudah berapa kali kubilang, aku dan Gaara bukan sepasang kekasih. Aku masih menyukai wanita dan masih normal, Otou-san!" emosi Sasuke mulai meningkat ditambah ekspresi menyebalkan dari Itachi. Oke, mungkin sebentar ia akan membuat perhitungan dengan aniki-nya itu.
"Makanya kalau begitu carilah wanita! Dan sebagai pembuktian kalau kau masih normal, bawalah wanita itu kemari dan perkenalkan pada Otou-san."
Sasuke mengangguk mantap, apapun akan ia lakukan agar tak dicap gay. "Baik. Aku akan membawa calon kekasihku kemari dan membuktikan bahwa aku masih normal."
Setelah mengatakan demikian, Sasuke beranjak meninggalkan meja makan dan melangkah menuju garasi bersiap pergi ke sekolah setelah sebelumnya menarik ranselnya di dekat meja makan. Itachi yang melihat Sasuke menjauh hanya menatap geli, tak menyangka jika adik satu-satunya itu memang adalah seorang gay, sebagai uke pula. Itachi geleng-geleng kepala, turut prihatin atas masalah yang ditimpa Sasuke.
"Dan kau Itachi, jangan mengikuti jejak adikmu itu."
Anggukan yang Itachi berikan pada ayahnya sebagai jawaban. Ia tidak mungkin gay, toh ia sudah punya kekasih saat ini. Tidak seperti Sasuke, yang pacaran saja tidak pernah.
"Tenang otou-san. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Hari ini, Sasuke berencana untuk menemui Ino dan sekali lagi menjelaskan bahwa ia bukan gay. Sekalian ia ingin menembak gadis cantik tersebut dan membawanya ke hadapan keluarganya. Sudah cukup ia menderita tekanan batin seminggu ini. Ia bertekad untuk mengubahnya dengan cara membuat gadis Yamanaka itu menjadi pacarnya.
Onyx Sasuke pun menangkap satu objek yang diyakininya adalah sosok yang sedari tadi ia cari. "Ino."
Dan bingo, gadis itu menoleh dan menatap Sasuke polos. Rambutnya yang diikat tinggi ditambah sinar mentari yang menyengat kulitnya, membuat Ino benar-benar manis hari ini, pikir Sasuke.
"Senpai?"
Sasuke tersenyum kecil dan memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana. "Kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan."
Jika saja Ino bukan seorang fujoshi dan Sasuke yang tidak dicap gay, mungkin gadis itu akan jatuh hati pada pesona Uchiha Sasuke.
"Ya. Memangnya apa yang ingin senpai bicarakan?"
Sasuke kemudian menarik tangan Ino dan membawanya ke bawah pohon rindang di taman sekolah mereka. Sasuke melirik buku yang dipegang Ino dan ia seratus persen yakin bahwa itu adalah novel yaoi.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku," ujar Sasuke to the point. Walau ini adalah kedua kalinya, tetap saja pemuda pantat ayam itu harap-harap cemas walau sudah pasti gadis itu akan-
"Aku fujoshi, senpai. Kukira senpai sudah mengetahuinya?"
"Yah, dan aku tidak masalah."
"Tapi aku men-ship senpai dan Sabaku-senpai lho. Apa itu tidak masalah?"
"Justru itu, aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bukan gay. Ino," Sasuke memegang kedua lengan Ino dan meremasnya pelan. "Percayalah, aku tidak seperti yang kau kira. Aku masih normal."
"Jika kau menyukai yaoi, yuri atau apapun itu, it's okay. Aku bisa maklumi, tapi tidak jika kau menganggap kami khususnya aku gay. Aku menyukaimu dan kurasa itu cukup membuktikan bahwa aku normal."
Ino mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha mencerna apa saja yang baru dikatakan sang senpai tampan ini. Sasuke ingin membuktikan bahwa ia bukan gay? Oh ayolah walau seribu kali Sasuke maupun Gaara memberi bukti pada Ino, namun gadis itu tetap akan menganggap mereka gay.
"Tapi sen-"
"Atau kau ingin bukti yang lain?"
Ino mengernyit, "Eh?"
Sejenak Sasuke terdiam, menimang apakah akan mengatakannya atau tidak. Jika ia katakan, hancurlah image baiknya selama ini, namun jika tidak sampai kapanpun sang pujaan hatinya tetap tidak akan menyukainya.
"Kalau aku gay, aku pasti tidak akan menegang jika bersamamu."
1 detik
2 detik
"KYAA! Senpai hentai!" Ino memekik, tak menyangka jika sang senpai perfect ini bisa berpikiran mesum juga. Sudah cukup Gaara menggodanya pekan lalu, dan sekarang...
"Aku menawarkan itu agar kau bisa membuktikan sendiri. Jadi, apa kau mau?"
"Tidak, tidak," Ino menggeleng cepat, "Senpai tidak perlu membuktikannya, aku percaya."
Senyum mulai terbit di wajah Sasuke, "Kau percaya?"
Sekali lagi Ino mengangguk. Yah terpaksa ia pura-pura mengakuinya daripada pemuda ini berbuat aneh.
Uchiha bungsu itu menegakkan badannya kembali, "Berarti mulai saat ini kita resmi pacaran."
"Eh?!" kaget Ino membulatkan kedua matanya.
"Kenapa kau terkejut? Kau kan menolakku karena men-ship aku dan Gaara dan sekarang kau telah percaya, artinya..." seperti deja vu, Sasuke mendekatkan bibirnya di samping telinga Ino. "Kau menerimaku."
Sontak gadis dengan marga Yamanaka itu melongo tak menyangka dengan keputusan sepihak yang diterimanya. Tentu saja Ino akan menolaknya, maka ia sudah ambil ancang-ancang untuk mengeluarkan 1001 alasan.
"Senpai, dengar-"
"Aku tidak menerima penolakan," entah sejak kapan Sasuke yang menatapnya lembut menjadi menyeramkan seperti ini. Onyx itu berkilat tajam dan memandangnya sinis, seolah mengatakan penolakan adalah mutlak baginya. Aura yang semula biasa saja mendadak meningkat membuat bulu kuduk Ino berdiri seketika.
Inilah Uchiha Sasuke yang dikenal oleh seluruh warga KHS, sosok penuh dendam dan misterius. Dan Ino akui, tatapan dan aura ini lebih jahat daripada Gaara.
Tak berlama-lama, Sasuke mulai melangkah menjauhi Ino. Belum sampai lima langkah, pemuda itu berhenti dan mengeluarkan suara tanpa berbalik melihat gadis di belakangnya yang masih shock.
"Jam tujuh malam aku akan mengenalkanmu pada orangtua-ku," Sasuke tak perlu jawaban dari permintaannya, toh gadis Yamanaka itu pasti tidak akan menolak. Rupanya ia hanya perlu bersikap dingin seperti biasa dan sedikit ancaman untuk dapat membuat kekasih barunya itu tunduk.
Sedangkan Ino mulai merasa dunianya berputar seketika. Dalam hati terus mengutuk dirinya yang tak membantah Sasuke. Dan sekarang? Hal yang sama sekali tak diinginkan terjadi… Sasuke menganggap mereka pacaran dan katanya malam ini ia akan dikenalkan pada keluarga Uchiha. Oh god!
"Jadi namamu Ino-chan ya?"
"Iya."
"Hmmm setahuku Ba-san keluarga Yamanaka punya kebun bunga di ujung Konoha. Apa itu benar?"
"Iya."
"Yamanaka? Haaa, apa kau mengenal Deidara? Kalian punya hubungan saudara? Seingatku Deidara baka itu punya marga yang sama denganmu."
"Dei-nii adalah sepupuku."
"Hoo begitu rupanya."
"Sejak kapan kau dengan si gay ini pacaran? Jangan bilang ia mengontrakmu untuk jadi pacarnya?"
"Diamlah aniki!"
"A-aku sudah lama menyukai Uchiha-senpai."
Aktingmu sungguh bagus Ino, tak salah kau latihan selama lima belas menit tadi. Inner Ino tersenyum.
Saat ini memang Ino sedang makan malam di kediaman Uchiha. Seperti perkataan Sasuke siang tadi, jam tujuh tepat ia dijemput dan langsung dibawa kabur. Dan alhasil, disinilah ia bersama keluarga Uchiha dengan segala pertanyaan yang dilontarkan khusus untuknya.
"Kau sudah lama menyukai Sasuke? Wah beruntung sekali Sasuke disukai barbie sepertimu," ujar Itachi terus meledek adiknya. Sedangkan Sasuke tetap stay cool, tak ingin merusak image-nya jika harus bertengkar dengan baka aniki-nya.
"Ino-chan." Ino menoleh ke ibu Sasuke yang sedang menatapnya lembut.
"Ne, Ba-san?"
"Arigatou sudah mencintai Sasuke apa adanya." Ino tersentak mendengar ucapan Mikoto. Rasa bersalah mulai menjalar dihatinya, ia merasa begitu jahat karena telah membohongi mereka semua. Terlebih lagi mereka membuka lebar jalannya untuk berhubungan dengan Sasuke.
'Gomen ne, Ba-san,' ujar Ino dalam hati.
"Doita, ba-san. Aku juga beruntung Sasuke bisa mencintaiku." Senyum wanita paruh baya itu kembali membuat Ino merasa bersalah.
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
Sontak empat pasang mata langsung tertuju pada kepala keluarga Uchiha yang sedari tadi belum membuka mulutnya biar sekedar menyapa Ino. Dan sekarang, begitu membuka mulut langsung memberi pertanyaan yang membuat siapa saja mengerutkan alis.
"Aku dan Ino masih sekolah, malah Ino masih kelas dua. Belum kepikiran ke sana," ujar Sasuke menjelaskan walau dalam hati ia oke-oke saja menikahi Ino saat ini juga kalau bisa.
"Tidak bisa. Kalian harus menikah secepatnya!"
"Otou-san!"
"Fugaku, mereka masih sekolah kenapa ingin cepat-cepat? Tunggulah beberapa tahun lagi." Mikoto memberi pengertian kepada Fugaku. Kadang, Fugaku bisa bertindak di luar kewajaran.
"Jika mereka tidak menikah sekarang, aku takut sifat gay Sasuke akan muncul lagi."
DUARRR
Rasanya bom atom Hiroshima dan Nagasaki baru saja menyerang kediaman mewah Uchiha. Empat pasang mata itu kini melotot dengan mulut sedikit terbuka beberapa centi. Pengakuan lebih tepatnya kekhawatiran Fugaku terlalu frontal untuk dibicarakan terutama di depan Ino yang notabene bukan Uchiha.
Itachi langsung membekap mulutnya menahan tawa yang kapan saja bisa keluar. Ia begitu prihatin atas nasib Sasuke, dianggap gay oleh ayah sendiri memang tidak mengenakkan. Itu menyangkut harga diri seorang lelaki. Rupanya kegelian Itachi disambut baik oleh Ino, ia senyum-senyum sendiri dan dalam hati membenarkan ucapan Fugaku. Pasalnya sampai detik ini gadis Yamanaka itu masih menganggap Sasuke adalah uke untuk Gaara.
Sedangkan Sasuke mengepalkan tangan, kesal dengan sang ayah yang juga tak memercayainya. Ia sudah membawa kekasih ke hadapan mereka, dan ia masih dianggap gay? Oh God.
"Otou-san, aku tidak gay dan tidak akan pernah. Buktinya, aku membawa Ino ke mari. Apa itu belum cukup?"
"Belum. Sampai Ino hamil baru Otou-san percaya."
Sekarang giliran Sasuke yang menyeringai dan Ino yang mendelik. Ohohoho tentu saja Sasuke senang, pikiran kotornya langsung bekerja.
"Kalau itu mau otou-san, aku sanggup."
"Ekh?!" pekik Ino tak terima dengan apa yang pemuda di sampingnya ini. "Senpai hentai."
"Wajar aku hentai, aku kan bukan gay." Ingin sekali Ino menimpuk Sasuke dengan sendok ditangannya.
"Yosh, kalau begitu mau kalian, baiklah baiklah. Otou-san, Okaa-san, ayo kita keluar malam ini," ujar Itachi langsung berdiri dari kursi dan disambut baik oleh Mikoto.
"hai' hai'. Ne, Sasuke, Ino-chan, kami pergi dulu ya? Jangan lupa 'buat' yang banyak," kata Mikoto diakhiri dengan mengedipkan sebelah matanya pada sepasang sejoli itu, bermaksud untuk menggoda.
Alhasil, Fugaku dan Mikoto melesat keluar menyisakan Sasuke, Ino dan Itachi. Itachi? Ahh ia masih punya hal yang harus diurus sebelum menyusul kedua orangtuanya.
"Sebaiknya kalian masuk saja ke kamar. Tidak baik di sini berdua. Biar maid yang membersihkan ini." Itachi menggiring SasuIno menuju kamar Sasuke. Itachi seolah menjadi tuli saat Ino mencoba berontak minta dilepaskan. Bagaimana dengan Sasuke? Hhh... Pemuda itu malah menyeringai tak jelas dan dalam hati memuja keluarganya yang begitu baik hati.
"Nah, ganbatte! Jaa."
Blam
Pintu tertutup rapat seiring dengan langkah kaki menjauhi kamar megah nan mewah milik Sasuke. Ino menatap kesal pintu bercat putih yang tak bersalah itu dan berpikir untuk kabur saja. Namun rupanya Ino kalah cepat, saat akan menyentuh gagang pintu, Sasuke sudah lebih dulu menguncinya dan menyimpannya di kantong celana.
"Senpai!"
Sasuke menyeringai. "Gomen ne, Ino. Sepertinya malam ini kau harus menghabiskan malam denganku."
Ctak.
Empat sudut siku-siku tercetak dikedua pelipis gadis berumur 17 tahun itu. "Aku tidak mau! Senpai, aku mau pulang sekarang!"
"Bukankah kau mencintaiku?"
"Tidak, aku berbohong demi menjaga harga dirimu di depan mereka."
"Wah, kau rupanya perhatian padaku, eh?"
Ino merenggut kesal dan mencoba mengambil kunci yang di kantong celana Sasuke dengan bersusah payah pasalnya si empunya kamar begitu cekatan menjauhkan tangan Ino dari celananya.
Karena aksi itu pula, ide kotor kembali hinggap di otak jeniusnya. Ia masih membiarkan Ino sibuk dengan kunci tersebut selagi ia mulai memasang ancang-ancang untuk-
"Kyaa!"
Bruk
Jantung Ino berpacu cepat saat iris sebiru samuderanya dikunci oleh sang onyx. Jemarinya mulai dielus oleh telapak tangan yang jauh lebih besar darinya. Hembusan napas hangat menggelitik kulit lehernya yang bebas.
"Malam ini kau cantik," ujar Sasuke tanpa sadar memberatkan suaranya, mungkin efek Ino yang seolah begitu pasrah di bawahnya.
Otak Ino berdering keras tanda bahaya sudah di depan mata. Aquamarine itu melirik cepat ke arah jemari Sasuke yang telah mengelus pipinya. Sungguh, Ino benci situasi seperti ini.
Deja vu. Yah ini deja vu. Ino pernah mengalaminya sekitar dua bulan lalu. Saat di mana pemuda di depannya menggodanya dengan suara berat dan mengelus pipinya perlahan. Seperti situasi sekarang, namun yang membedakan ialah pemuda di hadapannya dulu bukanlah tuan Uchiha Sasuke yang dijuluki Prince of KHS melainkan...
Sabaku Gaara, si seme milik Sasuke.
"Ne, Ino." Onyx tetap mengikat aquamarine. "Mari kutunjukkan bahwa aku seratus persen normal. Tidak gay seperti yang kau impikan."
Bahaya! Situasi makin berbahaya! Kedua tangannya yang tergeletak di kanan-kirinya ditekan kuat oleh tangan besar Sasuke. Kakinya pun terkunci akibat dihimpit oleh tubuh kekar itu, untung saja kasur king size yang menjadi tempat penyangganya empuk jika tidak sudah dapat dipastikan tubuhnya akan remuk.
"Senpai-"
"Shhh... Diam dan nikmatilah."
Ingin rasanya Ino berteriak lantang bahwa saat ini ia sedang mengandung anak dari 'kekasih' Sasuke namun entah kenapa bibirnya mendadak kelu saat onyx hitam pekat Uchiha Sasuke mengikatnya.
Tidak tidak. Ini tidak boleh terjadi! Sudah cukup Gaara berbuat tidak senonoh padanya, jangan lagi dengan Sasuke. Namun walau pikirannya dipenuhi oleh rasa takut, satu hal yang terus mengganjal pikirannya, yakni-
'Hei... Seharusnya Uchiha-senpai yang berada diposisiku dan Sabaku-senpai yang menindihnya. Tapi kenapa situasinya malah seperti ini?'
Ino... Ino... Disaat genting dan tak ada seorangpun yang bisa menolongmu, kau masih bisa memikirkan percintaan antara Gaara dan Sasuke? Ckckck...
Seringai Sasuke makin tajam. "Bersiaplah, Ino."
"KYAAA!"
Dan untuk selanjutnya biarlah menjadi rahasia mereka berdua.
TBC
Balesan reviews buat yang gk login ^^
Xoxo
Xoxo-san makasih udah review ya ^^ Ino kan seorang fujoshi akut dan berharap SasuGaa dapat bersatu jadilah dia tetap nganggap mereka sepasang sejoli walau dia-nya sendiri udah hamil hehehe… Makasih ya
Guest
Sebelumnya makasih udah mau baca dan review ya. Iya, ini udah lanjut kok hehehe ^^
.
De-chan
Makasih udah review ya De-chan ^^ Mereka kek gay beneran? Welehh berarti mereka memang jodoh kali ya*plak… Iya,gk akanada konflik berat kok. Paling Cuma masalah SasuGaa yg stress karena sang pujaan hati masih bersikukuh nganggap mereka gay dan lainnya menyusul hehe… Moga tetap suka ya, arigatou ^^
.
Mochachocolata
Mocha-san, arigatou udah review yaa… Iya, di chap kemarin mereka kek gay beneran dan berharap emang gitu*plak hehehe bercanda. Ending GaaIno? Nanti lihat ya, belum bisa nentuin pairing mana nantinya. Moga tetap suka ya.. arigatou ^^
.
A/N: Minna-san… Kana kembali lagi hahahaa… Ne, bagaimana? Aneh ya? Maaf ya kalau rada aneh, gk tau otak tiba-tiba koslet = = Dan gk menjeremus ke M kan? Takutnya malah kesitu, masih polos dan gk berani*plak
Dan sesuai janji chap ini khusus untuk SasuIno dimana mereka lagi-lagi buat ulah khususnya Sasuke yang makin kelihatan OOC-nya wkwkwk. Buat chap depan kek-nya gk SasuIno/GaaIno deh tapi fokusin ke Ino dulu. Yosh, aku masih mengharapkan kesediaan senpai, dan para reader buat membaca dan me-review cerita yang membosankan ini.
RnR ne ^^
