Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

Fujoshi Furukawa Kana

Warning : Newbie, AU, OOC, typo(s), EYD hancur, deskripsi kurang, abal, dll.

A/N : Jika ada kesamaan cerita itu bukanlah kesengajaan. Plot fic ini murni punya saya dan jika menemukan kesamaan dengan cerita lain, mohon konfirmasi. Hope you like, minna ^^

.

.

Don't like, don't read.

Teet...

Bel pertanda istirahat dibunyikan membuat sebagian besar murid dimasing-masing kelas berteriak lega. Belajar mulai pukul 8 hingga 10 memang melelahkan sekaligus membosankan bagi yang kurang suka dengan yang namanya.

Berbeda dengan teman sekelasnya lainnya yang langsung berhamburan ke kantin, pemuda dengan rambut merah bata itu memilih tetap duduk tenang di bangkunya sambil membaca buku setebal kamus. Entah apa yang ia baca hingga tatapan dari depan kelas tak ia sadari.

Uchiha Sasuke, terus memerhatikan sahabatnya dari pintu kelas. Bersandar di pintu membuatnya lebih terlihat santai walaupun batinnya sekarang tengah bergejolak.

Apa ia harus menegur Gaara?

Itulah pikiran yang terus menerus mengganggunya. Semenjak kejadian dimana berita tak senonoh berada di mading ditambah pernyataan Ino membuat Sasuke terus menjauhi Gaara. Tak menegurnya dan bertukar posisi tempat duduk dengan Shikamaru yang berada di pojok kanan belakang. Bahkan empat hari yang lalu sahabatnya itu meminta maaf dan ia tetap bersikukuh menghindar agar tak dianggap gay. Namun kenyataannya gosip miring makin terjadi hingga muncul di majalah dan berakhir dengan kemurkaan sang Otou-san.

Yah, semua itu tidak terjadi jika saja Ino tidak menganggap ia dan Gaara sepasang kekasih.

Ino... Mengingat nama itu memunculkan keberanian dan menghapus keraguan Sasuke untuk meminta maaf pada Gaara. Dipikirannya telah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja mulai sekarang bahkan jika ia kembali 'dekat' lagi dengan kapten basket itu.

"Gaara."

Gaara menoleh dan mendapati Sasuke menatapnya datar. Alisnya sedikit berkerut, menatap heran sahabatnya.

"Duduklah," ujar Gaara singkat. Sasuke menurut. Pemuda dengan iris sekelam malam itu berdehem sebentar mencoba menghilangkan rasa gengsinya. Oh ayolah Sasuke, tak perlu gengsi pada sahabatmu sendiri. Inner Sasuke meyakinkan.

"Aku... Gomen."

"..."

"Seharusnya aku tidak terpancing dengan gosip itu. Toh, kita bukan gay dan tidak akan pernah." Sasuke melirik Gaara, ingin mengetahui bagaimana reaksi yang dikeluarkan. Dan nihil. Reaksinya hampir sama dengan saat ia berada di posisi Gaara. Berdiam diri seolah tak mendengarkan.

Kheh... Apa Gaara mau balas dendam?

"Gaara."

"Kukira kau masih bersikukuh menjauhiku," akhirnya Gaara menjawab. "padahal kau lebih mengenal aku dibanding mereka termasuk Yamanaka-san."

"Yah, aku salah. Saat itu aku sedikit frustasi karena Ino menolakku."

"So, kau mau memaafkanku?"

Sejenak Gaara terdiam namun detik kemudian senyum tipis khasnya menghiasi wajah tampannya. "Tentu saja. Aku tidak seperti kau yang begitu keras kepala."

Sasuke mendengus mendengar penuturan jujur sahabatnya. Memangnya hanya ia saja yang keras kepala? Masih ada aniki-nya yang lebih tidak bisa diatur. Lho, kenapa ia malah ingat Itachi?

"Masih ada aniki yang lebih keras kepala dibanding denganku," Sasuke mencoba membela diri.

"Ah tidak. Itachi-san sangat penurut, berbanding terbalik denganmu," Gaara tahu Sasuke begitu benci dibandigkan dengan Itachi. "Buktinya ia lebih dipercaya oleh Otou-san mu untuk memegang perusahaan saat lulus kuliah nanti. Jadi-"

"Berhentilah membandingkanku dengan baka aniki itu!"

Gaara tidak dapat menahan untuk tidak tersenyum geli, rencananya untuk membuat Sasuke kesal rupanya berhasil. Sedikit saja membandingkan si bungsu Uchiha ini dengan kakaknya, dapat dipastikan akan mendapatkan deathglare sempurna.

"Baiklah, aku akan berhenti. Jujur saja, jika kau terus bersikap emosi jika dibandingkan dengan Itachi-san, kau terlihat seperti adik kecil yang menggemaskan."

Sasuke akhirnya memberikan deathglare pada Gaara. Dirinya kadang sedikit bingung dengan Gaara yang suka sekali menggodanya. Padahal hampir semua murid di sekolah ini tak ada yang berani dengannya, yah pengecualian untuk Gaara dan Ino.

"Tidak usah bermuka masam begitu. Aku hanya bercanda," ujar Gaara sembari mengacak rambut emo milik Sasuke. Entah sengaja atau tidak Gaara melakukannya, yang jelas hal itu membuat Sasuke menepis tangan Gaara. "Jangan-jangan kau beneran gay?"

Gaara tertawa kecil.

Rupanya di dalam kelas bukan hanya sepasang sahabat itu saja yang menghabiskan jam istirahat di dalam kelas, tetapi empat anak perempuan lainnya yang berada di pojok kanan kelas tetap tinggal karena membawa bekal dari rumah.

Dan mereka melihat semuanya. Kejadian saat pertama kali Sasuke terus memerhatikan Gaara hingga pemuda bertato ai tersebut mengacak rambut Sasuke. Reaksi mereka? Tentu saja melongo disertai sepasang sumpit melayang bebas dari tangan mereka.

Gosip itu ternyata benar! Gaara dan Sasuke benar-benar pacaran!

Empat orang teman sekelas GaaSasu itu saling berpandang kemudian berbisik-bisik dengan suara keras, otomatis hal itu membuat dua pemuda di depan sana menoleh dan menatap datar. Sedangkan para gadis tak peduli dan tetap berbisik-bisik. Kali ini mereka punya sedikit keberanian terhadap sepasang sahabat atau lebih tepatnya yang mereka anggap sepasang kekasih itu. Karena tak lama lagi berita heboh akan segera beredar di sekolah mereka tercinta, KHS.

Sasuke maupun Gaara tampak tak begitu peduli. Mereka yakin semuanya akan baik-baik saja selama mereka tak meladeni gosip murahan tersebut. Mereka gay dan pacaran? Khee... Lelucon macam apa itu.

"Sebaiknya kita mencari referensi untuk tugas Orochimaru-sensei di perpustakaan," sahut Gaara dan disambut anggukan oleh Sasuke. Mereka kemudian melangkah keluar tanpa memedulikan bisik-bisik yang begitu keras terdengar.

Dan satu hal yang membuat mereka berdua tak takut lagi dianggap gay.

Karena mereka telah berhasil membuktikan pada Ino bahwa mereka adalah lelaki sejati.


Ino merenggangkan tubuhnya begitu sang guru keluar dari ruang kelas. Lelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam untuk menghafalkan rumus-rumus panjang membuatnya ingin beristirahat sejenak. Walau masih berada ditingkat dua, namun rasanya tugas serta soal-soal yang diberikan seperti mereka sudah tingkat tiga saja. Berbicara tingkat tiga, ia baru sadar jika kakak tingkatnya itu tak akan lama lagi memasuki jenjang yang lebih tinggi. Mungkin sekitar dua bulan lagi.

Ino melirik Sakura-sahabat sekaligus tablemate-nya yang sudah bersiap-siap untuk turun ke kantin. "Ayo Ino. Aku sudah sangat lapar," Haruno Sakura menarik lengan Ino tanpa adanya perlawanan.

Baru beberapa langkah, Sakura mendadak berhenti membuat Ino juga melakukan hal yang sama. "Ada apa?" tanya Ino.

"Ah sepertinya dompetku masih tertinggal di tas. Matte," ujar Sakura berlari kecil ke arah bangku mereka lagi. Membongkar isi tasnya dan akhirnya menemukan dompet pink bermotif helai kelopak sakura.

Begitu hendak melangkah menuju tempat Ino masih menunggu, ia kembali berhenti. Bukan karena merasa ada yang tertinggal lagi, namun melihat keganjalan yang terjadi pada sahabatnya itu. Dengan cepat Sakura mendekati Ino dan langsung berbisik padanya.

"Ino, apa kau datang bulan? Sepertinya kau bocor."

Ino membulatkan matanya mendengar penuturan Sakura? Datang bulan? Bukankah ia sekarang sedang hamil, kenapa bisa datang bulan?

"Kau yakin?"

Sakura mengangguk. "Aku akan membelikanmu pembalut. Kau sebaiknya tunggu di toilet, aku akan menyusul. Ah-" Sakura kembali berlari menuju sebuah bangku di depan bangku miliknya dan mengambil sebuah jaket dari dalam laci kemudian memakaikan jaket tersebut di sekitar pinggang Ino. Setelah merasa noda di rok sahabatnya itu tak terlihat, baru ia menepuk pundak Ino.

"Itu jaket Tayuya, kau pakai saja. Nah, kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya, kita makan roti di kelas saja ya. Aku tahu rasanya tidak nyaman saat datang bulan untuk jalan ke sana ke mari."

Ino mengangguk dan melihat kepergian Sakura untuk ke koperasi sekaligus ke kantin. Beruntung Sakura menyadarinya, jika tidak malu-lah ia dilihat oleh seluruh murid sekolah.

Tak ingin berlama-lama di depan kelas, Ino langsung pergi ke toilet walau di otaknya masih memikirkan bagaimana mungkin ia datang bulan?

0-0-0-0-0

Ino membasuh wajahnya dengan air di depan wastafel. Tetes-tetes air yang membasahi kulit cerahnya ia biarkan. Pikirannya kini fokus pada masalah yang tadi.

Ia sedang hamil dua bulan dan mustahil ia datang bulan. Memang, mulai dari kemarin ia merasa nyeri pada perutnya dan ia pikir itu hanya rasa sakit perut biasa. Tapi setelah dipikir-pikir mungkin rasa nyeri itu adalah penyebab dari siklus bulanannya yang kembali datang.

Oh ayolah Ino tak bodoh membicarakan mengenai tamu para wanita yang telah mengalami masa pubertas. Ia yakin, saat ini ia tidak datang bulan. Ia sedang hamil dan tidak mungkin siklus itu berlanjut.

Yah tidak akan bisa jika ia tidak melakukan hal-hal berbahaya bagi embrio di kandungannya.

Hal-hal berbahaya...

Ino memekik tertahan sambil melebarkan aquamarine jernih itu. Kedua tangannya menempel di mulut dan kepalanya bergoyang ke kanan kiri. Ia menggeleng keras, mencoba mengenyahkan pikiran yang tadi sempat terbesit.

Tapi jika dipikir lagi, itu ada benarnya. Pikiran gila itu bisa jadi adalah dalangnya.

Ino meraba perut ratanya dan menggumam sesuatu, "Apa aku keguguran?"

Tapi ia tidak melakukan hal ekstrim seperti berlari-lari sambil berloncat, maupun bertingkah yang dapat membahayakan kandungannya. Ia tidak pernah melakukan hal tersebut kecuali...

Saat ia dan Sasuke... Malam itu...

Ino merutuki kebodohannya. Kenapa ia baru sadar sekarang? Benar, ia yakin jika ia benar keguguran penyebabnya adalah si Uchiha bungsu sok cool itu padahal gay.

Jika saja malam itu ia bisa lepas dan melawan Sasuke, pasti semua ini tidak akan terjadi. Ia tidak akan kehilangan bayinya dan bagaimana ia akan menjelaskannya pada Gaara dan keluarga Sabaku?

"Kami, gomen ne tidak bisa menjaga Aka-chan," Ino terus mengelus perutnya. Walau ia terlihat ogah mengenai kehamilannya, namun bagaimanapun juga ia tetap merasa sedih dan tidak bertanggung jawab. Ia telah berjanji pada Gaara beserta keluarga Sabaku untuk menjaga bayinya, namun ternyata...

"Dasar senpai gay! Ini semua salahnya!" Ino merutuki Sasuke dan sempat berpikir bahwa akan mencekik senpai yang entah kenapa selalu mau mengurusi segala urusannya. Ino menatap dirinya di cermin, dan terus berpikir apa yang akan ia lakukan setelahnya.

Apa ia harus jujur dan minta maaf kepada keluarga Sabaku? Apa ia harus melaporkan perbuatan keji Sasuke pada keluarganya? Atau ia harus senang karena dengan begitu impiannya untuk tidak menikah dengan Gaara terkabul? Atau-

"Ino?"

Ino menoleh ke arah pintu masuk toilet melihat Sakura sedang mengernyitkan alis. Di sebelah tangan gadis itu terdapat bungkusan putih bening memperlihatkan isinya, yakni dua potong roti beserta dua kotak jus jeruk, makan siang mereka berdua.

"Kau tahu, kau membuatku menunggu hampir setengah jam dan apa yang kudapat? Kau malah asyik bercermin. Oh demi Tuhan, kau sudah cantik Ino. Tak perlu kau terus menerus pelototi kaca itu," omel Sakura sambil berkacak pinggang, sungguh bosan dan melelahkan menunggu sendirian sahabatnya itu di depan wc, dan ternyata Ino yang dikiranya masih sibuk malah bercermin ria.

Ino menghela napas lelah, rupanya pikiran tersebut masih bergentayangan dipikirannya. "Gomen ne," hanya mengatakan itu, kemudian Ino melangkah melewati Sakura. Sakura sempat dibuat melongo sampai pada akhirnya sadar bahwa ada yang tak beres dengan Ino.

"Buta-chan, matte!" teriak Sakura menyusul Ino yang sudah beberapa meter di depannya.

0-0-0-0-0

Ino menelungkupkan wajahnya di atas meja. Semenjak memasuki kelas ia langsung ke bangkunya dan malah terus memandangi halaman sekolah mereka dari jendela disampingnya, tak memeduli Sakura yang dari tadi terus merocos tak jelas.

"Ino, kau kenapa? Punya masalah?" tanya Sakura entah yang keberapa kalinya. Dan sekali lagi Ino belum mau mendongak demi melihat Sakura. Gadis beriris emerald itu mendengus kesal karena terus dicueki Ino. Akhirnya ia pun membuka bungkus roti isi selai kacang dan memakannya. Ia tak peduli dengan sahabatnya itu mau makan atau tidak, toh daritadi ia sudah mati-matian membujuknya makan.

Setelah mengunyah potongan roti terakhirnya, Sakura kemudian menusukkan sedotan pada jus jeruk yang ia beli dan menyedotnya perlahan sambil terus memperhatikan Ino.

"Ino, kalau kau tetap begini, aku tidak akan mau menemanimu belanja lagi!" ancam Sakura.

Dalam hati Sakura menghitung mundur, biasanya tidak sampai lima detik Ino akan terpancing dengan ancamannya dan akan langsung menyerah. Namun hingga hitungan terakhir Ino belum juga mendongak membuat Sakura yakin masalah sahabat sejak kecilnya ini tidak bisa dibilang mudah.

"Ino," Sakura mengguncang bahu kanan Ino. "Jika kau punya masalah, kau bisa membaginya denganku," Sakura masih membujuk Ino.

"Siapa tahu, aku bisa membantumu?"

Sebuah keajaiban. Setelah menawarkan bantuan, akhirnya gadis tujuh belas tahun itu mau mendongak memperlihatkan wajah kusut seorang Yamanaka Ino. "Kau mau membantuku?"

Sakura mengangguk yakin. "Tentu saja. Apapun untuk sahabatku."

Ino terlihat berpikir sejenak. Dan detik kemudian bangkit serta memberesi buku catatan yang masih ada di dalam mejanya untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Begitu juga dengan buku milik Sakura, Ino kumpul dan masuki ke dalam tas. Kelakuan gadis tinggi nan putih itu membuat Sakura melongo dan dalam beberapa detik hanya mampu memerhatikan tingkah Ino.

Setelah semua beres, kini Ino malah memakaikan tas berwarna pink pada Sakura begitu juga dengan tasnya sendiri dan selanjutnya menarik tangan Sakura keluar kelas.

"Tayuya, aku pinjam jaketmu ya,"teriak Ino dari depan kelas. Tanpa menunggu jawaban dari Tayuya, Ino langsung berlari dengan tangan Sakura berada digenggamannya.

"He-hei Ino. Kita mau ke mana?" Sakura bersusah payah mengikuti langkah lebar Ino.

"Aku mau menemui okaa-san mu."

Sakura mengernyit, "Tapi untuk apa?"

Mendengar pertanyaan Sakura membuat Ino memilih untuk menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sakura yang memasang wajah bingung.

"Sakura," ujar Ino berekspresi serius.

"Aku akan menceritakan padamu. Tapi tidak sekarang. Jadi selama itu, bisakah kau hanya diam dan mengikuti apa yang aku minta? Aku sedang butuh bantuanmu sekarang."

Jujur saja, melihat Ino bermuka serius membuat Sakura khawatir. Jarang-jarang Ino begini. Namun demi menghargai Ino, Sakura memilih untuk mengubur rasa penasarannya. Toh Ino pasti akan menceritakan padanya.

"Ya, wakatta. Sekarang, apa yang mesti aku lakukan?"

"Temani aku bertemu Okaa-san mu. Sekarang dimana beliau?"

"Jam segini masih di rumah sakit."

Ino mengangguk. "Baiklah, kita ke sana."

Dengan kalimat terakhir yang terlontar, akhirnya kedua sahabat itu bergegas pergi ke tempat yang mereka tuju.


Demi apapun, kabar yang barusan ia dengar seperti sebuah mimpi di siang bolong bahkan sedikitpun tak pernah terlintas dipikiran liarnya sekalipun. Kabar yang membuat otak serta perasaannya mengatakan 'kenapa?' dan 'kenapa bisa?'.

Selama ini ia berpikir semua baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan sahabatnya ini. Mereka berdua hampir setiap saat bersama, dan dirinya tak sekalipun mendapati sahabatnya melakukan hal diluar kendali.

Namun sekarang, fakta mengatakan kebenaran. Ino, sahabat terbaiknya mengalami keguguran. Artinya Ino pernah hamil. Dan artinya Ino dan pemuda-entah siapa itu- pernah-

"Shit," umpat Sakura tak terima. Ia tahu, Ino tak pernah dekat dengan lelaki manapun. Menyukai saja tidak, apalagi sampai melakukan sesuatu yang tabu. Ia yakin Ino pasti dijebak.

Pintu ruangan Ino sekarang sedang terbaring terbuka. Sakura muncul dengan senyuman berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Ino sekarang lagi butuh semangat dan teman untuk berbagi.

"Daijoubu?"

Ino mengangguk lemah, "Daijoubu."

Sakura menduduki badannya di samping ranjang Ino.

"Kau sudah mengetahuinya?"

Mata emerald Sakura menangkap rasa kecewa Ino. Entah kenapa, ia mengerti harus bersikap apa sekarang. Ia tidak boleh menekan Ino dengan segala pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Seperti; 'siapa lelaki yang berani menyentuhmu?'

"Ya, Okaa-san memberitahuku."

Ino tertawa perih. "Kau tahu, walaupun aku tidak mengharapkan anak ini, tapi bagaimanapun aku merasa kecewa."

"Seharusnya aku senang, karena dengan begini aku tidak perlu menikah dengannya. Tapi aku..."

Sakura mengenggam tangan Ino yang mendingin, berusaha menyalurkan semangat untuknya. "Aku mengerti. Itu tandanya kau menyayangi aka-chan."

Air mata yang sudah menetes di pipinya, Ino biarkan. Hatinya sedang sesak, dan ia tidak tahu bagaimana harus menghilangkannya. Ia sungguh kecewa, bayinya hilang karena kesalahannya. Andai saja ia bisa lolos, andai saja ia tidak mudah terpengaruh bujuk rayu senpai gay itu, andai saja-

"Hiks. Sakura... Aku... Hiks..."

Selanjutnya yang Ino lakukan hanya menangis kecewa, tak ia peduli tangisannya yang kencang terdengar hingga keluar ruangan yang ia tempati. Ia benamkan wajahnya di lengan Sakura yang setia memeluknya. Mengenggam seragam Sakura hingga meremasnya kuat. Dadanya masih sesak.

"Aka-chan, maafkan Okaa-san."

0-0-0-0-0

"Arigatou, Sakura," ujar Ino berterima kasih karena sahabatnya itu mengantarnya hingga ke depan rumahnya.

Sakura hanya membalas berupa anggukan kecil. "Sebaiknya besok kau tidak usah sekolah. Istirahatlah."

"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."

Sakura menatap khawatir wajah Ino yang pucat. "Jangan memaksakan diri. Bukan hanya fisikmu yang lemah karena habis di kuret, tapi batinmu juga."

"Hai' hai'. Sungguh, aku tidak apa-apa. Aku akan mengikuti segala saran dari Okaa-san mu, termasuk saranmu," Ino berucap sambil tersenyum.

"Aku pasti bisa menghilangkan rasa sesak ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Dalam waktu kurang dari seminggu aku yakin aku sudah kembali seperti sediakala."

Sakura tersenyum, "Aku percaya itu."

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Istirahatlah yang banyak."

Ino mengangguk dan selanjutnya Sakura memasuki mobil merahnya. Sebelum benar-benar pergi, Sakura melambaikan tangannya pada Ino dan dibalas berupa hal serupa. Dan akhirnya Sakura menyalakan mesin mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan kompleks perumahan yang Ino tinggali.

Sepeninggalnya Sakura, Ino kembali terdiam. Ia harus bisa menghilangkan rasa sedih ini, ia pasti bisa. Toh, semua merupakan garis tangannya. Walau ia kecewa, sedih, namun ia yakin semua pasti ada hikmahnya. Yah semoga saja.


Taman, lapangan, koridor hingga semua kelas dan ruangan begitu sunyi begitu Ino menapaki sekolah tercinta. Semua tampak lenggang. Lahan parkir yang biasa penuh dengan sepeda kini tampak tak satupun kendaraan di sana, begitu juga koridor yang bisa dipenuhi oleh siswa yang berkeliaran sekarang tampak kosong. Maklum hari ini Ino berniat datang pagi-pagi sekali demi ingin merasakan suasana sunyi sekolah yang sudah lama ia tidak rasakan.

Ino menggeser pintu ruang kelas dan mendapati kelas yang kosong melompong. Ternyata dugaannya benar, dirinya adalah warga sekolah yang pertama kali datang. Ia kemudian menuju bangku yang sudah seminggu tak ditempatinya. Terakhir kali saat sebelum ia mengunjungi Haruno ba-san, ibu Sakura untuk memastikan apakah ia benar-benar keguguran?

Mengenai masalah itu...

Ino sudah bisa melupakannya, walau tetap jika kembali mengingatnya ia akan kecewa. Namun toh jika ia terus bersedih keadaan tidak akan berubah. Bayinya tidak akan bisa kembali. Lagipula, Ino bukan tipikal cewek yang dapat galau berminggu-minggu. Cukup ia menenangkan diri selama seminggu, semua telah kembali seperti sediakala.

Ia tidak akan lagi sedih, kecewa. Ia akan berusaha melanjutkan hidupnya seperti biasa dan bonusnya ialah ia tidak akan menikah dengan Gaara.

Memikirkannya membuat senyuman mengembang di wajah cantik Ino. Entah kenapa ia begitu bahagia mengetahui bahwa ia tidak akan menikah secepatnya dengan begitu ia lebih leluasa dalam menggeluti hobinya sebagai seorang fujoshi.

Setelah mendapat posisi nyaman, Ino membuka resleting tas selempangnya dan mencari sebuah benda lumayan tebal ber-cover dua orang cowok yang saling bergendangan tangan.

"Takashi... Tatsuya... Aku berharap kalian benar-benar akan bersatu," ucap Ino pada komik digenggamannya seolah berbicara dengan manusia. Dan detik selanjutnya, Ino terhanyut akan bacaan di hadapannya. Kadang ia memekik kegirangan jika ada moment antara dua pemeran utama dalam komik yaoi, yakni Takashi dan Tatsuya. Kadang juga wajah Ino sampai memerah akibat si seme yang secara terang-terangan mengatakan 'suka' pada si uke.

"Takashi, kau so sweet sekali. KYAA! Tatsuya juga menyukainya. Oh Kami, mereka memang berjodoh," heboh Ino.

Lima belas menit berjalan, akhirnya Ino sampai pada lembar terakhir komik yang dibacanya. Ia senyum-senyum sendiri memasukkan komik tersebut ke dalam tas. Memorinya terus memutar moment-moment romantis yang tercipta antara Takashi dan Tatsuya.

Namun tiba-tiba ia teringat antara pasangan yang ia rasa gay di sekolahnya, Gaara si seme dan Sasuke si uke.

"Uhhh pasti mereka lebih romantis jika bersama," wajah Ino benar-benar merah sekarang. Dalam hati terus berdoa agar GaaSasu bisa bersama.

Entah kebetulan atau menang takdir, begitu aquamarine Ino melirik ke lahan parkir, ia melihat sesosok pemuda berperawakan tinggi, jas dipakai dengan rapi sedang memakirkan motor besarnya. Surai merah batanya bergerak pelan searah dengan angin lagi melambai perlahan.

Itu Sabaku Gaara. Ketua tim basket KHS. Termasuk murid populer di sekolahnya, namun bagaimanapun tidak bisa menandingi si uke yang notabene merupakan peraih nilai tertinggi tiap tahunnya di susul oleh Nara Shikamaru-teman sekaligus sahabat dari kecilnya- dan ketiga adalah si Gaara sendiri.

Dan Gaara juga merupakan calon suaminya jika bayi yang dikandungnya masih terselamatkan. Ya, hanya bayi mereka yang menjadi penghubung hubungan keduanya. Jika ia tidak hamil, mana mau Ino bertunangan dengan Gaara.

Tapi bukankah sekarang bayi mereka telah gugur? Artinya ia tidak akan menikah dengan Gaara kan? Tapi bagaimana menjelaskan pada Gaara dan keluarganya? Ino yakin, mereka pasti akan marah besar padanya. Bukan hanya Gaara dan keluarga Sabaku melainkan ayah dan ibunya juga.

Ino mengendus kesal. Bingung bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan pada Gaara. Bilang secara langsung? Jika itu yang ia lakukan, dirinya tak yakin akan pulang dengan selamat.

"Kami... Cobaan apa lagi yang kau berikan?" desah Ino putus asa. Jemarinya mengetuk meja perlahan, tanda ia sedang berpikir keras. Bagaimanapun juga ia harus mengatakan pada Gaara tanpa mendapat resiko.

Sekarang, dilihatnya Gaara sudah berjalan menuju kelasnya dan akhirnya hilang saat memasuki gedung sekolah.

"Haah," Ino menyerah. Otaknya tidak cukup jenius untuk memikirkannya sendirian. Apa ia harus meminta saran dari Shikamaru? Sahabatnya itu kan pintar.

"Ahh iie. Terlalu beresiko jika pemuda nanas itu tahu."

"Benar. Kan masih ada Sakura?" Ino tersenyum sumringah. Sudah diputuskan ia akan meminta saran dari Sakura, gebetan si ketua osis, Uzumaki Naruto.

0-0-0-0-0

Tap tap tap

Ino melangkahkan kakinya lebar-lebar si sepanjang koridor lantai satu. Ditangan kanannya terdapat kotak yang dibungkus oleh kain berwarna violet. Ia baru saja dari taman sekolah, menghabiskan waktu istirahat dengan memakan bekal bersama Sakura. Ia berharap waktu istirahat ini akan dihabiskan dengan pengalaman sewaktu ia tidak hadir ataupun Sakura memberi saran bagaimana cara menghadapi Gaara, oh atau tidak Sakura menghibur dirinya. Tapi apa yang didapatnya?

Bukan cerita maupun tawa dari sahabatnya itu, malah oke-Sakura tertawa tadi, tapi tawa itu bukan untuknya melainkan seseorang yang terus menelepon Sakura. Dari awal mereka keluar kelas hingga bel masuk berbunyi sepuluh menit yang lalu. Dan selama itu Ino hanya mampu melihat keasyikan Sakura.

Rasanya ia mau merebut ponsel Sakura dan memaki orang yang terus mengganggu gadis bermarga Haruno itu.

Sekarang Ino sedang menuju kelasnya. Ia tak peduli pada Sakura yang masih asyik menelepon di taman. Biar saja, toh itu bukan salahnya jika Sakura terlambat masuk kelas.

Ino terus melangkah tanpa memedulikan sekitar. Namun pandangannya langsung tertuju pada satu ruangan yang bertuliskan 3-1. Yah, itu kelas Gaara dan Sasuke.

Entah kenapa Ino merasa seperti tertarik untuk mengintip ke kelas yang isinya orang-orang jenius. Saat berhasil berjinjit, dan mendongak, ia dapat melihat rambut pantat ayam sedang mempresentasikan sesuatu di depan kelas. Saat ini, kharisma seorang Uchiha Sasuke keluar. Kharisma yang Ino yakin dapat membuat semua orang kelepek-kelepek. Sasuke dengan wajah datar terus menjelaskan tanpa sedikitpun kecacatan.

Dan entah kenapa Ino yakin, bahwa Sasuke adalah seme sesungguhnya dibanding Gaara.

Sasuke... Gaara...

Dua nama berbeda dan dua karakter berbeda namun akan berkesinambungan jika di gabung. Gaara yang membuatnya hamil dan Sasuke yang menggugurkannya. Ia merasa seperti sebuah kebetulan yang tak mengenakkan.

Tentu saja tidak mengenakkan. Apa jadinya jika Gaara menanyakan alasan kenapa ia sampai keguguran? Ia tidak mungkin mengaku jika Sasuke lah dalang dibalik semuanya. Ia ingin marah pada Sasuke namun percuma. Bayinya tidak akan kembali dan menambah resiko jika Sasuke tahu bahwa ia pernah hamil. Cukup keluarganya, keluarga Sabaku beserta Sakura dan Haruno ba-san yang tahu.

Ino menghela napas pelan, mungkin yang harus ia lakukan sekarang adalah diam dan terus menjauhi sepasang gay tersebut. Biarkan waktu yang akan membongkarnya. Ia cukup menikmati moment GaaSasu dari jauh dan ia yakin itu sudah cukup. Karena bagaimanapun, ia adalah seorang fujoshi yang menginginkan Gaara dan Sasuke bersatu.

"Etto..." Ino melangkah menjauhi kelas 3-1. "Jadi yang seme sebenarnya siapa? Sabaku-senpai atau Uchiha-senpai?"

Ino memang seorang fujoshi akut.

TBC

Balesan reviews buat yang gk login ^^

de-chan

Makasih udah mau RnR De-chan. Hehe Fugaku udah frustasi hingga nyuruh Sasu buat hamilin Ino. Sama Gaara? Nanti dilihat ya Ino nya sama siapa. Sekali lagi makasih ^^

.

Dewi Sati

Eh!? Ke rated M? Author mah gk berani , Mungkin cukup sebatas gitu doank hehhehe. Maaf ya telat banget updatenya. Makasih udah RnR ^^

.

lastri nara

Iya, ini udah lanjut. Maaf ya kalo telat. Arigatou Lastri-chan ^^

.

Tyara

Yah yang terjadi antara SasuIno pasti udah bisa ketebak, dan nasib anak Gaara seperti yang diatas. Maaf ya T.T Makasih udah RnR Tyara-chan ^^

.

uchiha ulin

Makasih ya udah RnR. Iya ini udah lanjut tapi maaf kalo telat banget ^^

.

yamanaka hikari

Maaf gk bisa update kilat Hikari-chan T.T Tapi makasih ya udah mau RnR. Moga tetap baca yaa…

.

A/N: Minna-san… Hontou ni gomenasai telat banget update nya T.T Soalnya Kana punya kesibukan yang entah kenapa gk ada habisnya. Belum lagi sempat lupa password hedeehh =,=" Sekali lagi maaf ya Minna-san…

Dan sesuai janji lagi, chap ini gk ada interaksi antara si Barbie dengan pasangan sejoli yang so sweetnya minta ampun hehhehe tapi lebih fokus pada si Barbie yg kehilangan baby-nya. Sebenarnya sedih sih cuma itu tuntutan cerita jadi maaf jika ada yg gk berkenan T.T

Aku masih mengharapkan kesediaan Minna-san untuk RnR fic yg gk berkualitas ini. Jangan bosan yaa ^^

RnR ne ^^