Title : Kyungsoo Diary

Author : Purple Unicorn

Cast(s) : Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Park Chanyeol as Park Chanyeol

Luhan as Luhan

Huang Zitao as Byun Zitao

Pairing(s) : ChanBaek, slight!ChanSoo

Rating : PG-13

Disclaimer : semua cast di ff ini bukan milik author yaa XD

Warning : genderswitch, typo everywhere, and a really short chapter. mianhae ~_~

a/n : I'm sorry, it's really a bad story. Enjoy my ff~~^^

oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter IV – Blue

Chanyeol tidak pernah menyangka, rasa sakit yang dibayangkannya sesaat lagi, rasa sakit yang akan mengantarkannya ke kematiannya, berganti dengan rasa hangat. Rasa hangat yang dirasakannya dibalik punggungnya, karena seseorang memeluknya begitu erat, seakan tidak ingin melepaskannya pergi.

Mungkin jika tidak mendengar suara yeoja yang sedang sesenggukan dibelakangnya, Chanyeol mengira bahwa ia sudah berada di surga, karena pelukan yang terasa begitu nyaman dan hangat itu.

Byun Baekhyun.

Chanyeol bahkan sudah mengetahui siapa yang memeluknya sekarang hanya dari tangisannya, saking seringnya Baekhyun menangis dihadapannya. Ada sedikit rasa bersalah yang tiba-tiba muncul begitu saja di hati Chanyeol, sudah berapa kali dirinya membuat Baekhyun menangis seperti ini?

Namja itu hanya terdiam saat berkali-kali Baekhyun mengatainya bodoh sambil terus terisak.

Ya, Chanyeol memang merasa bahwa dirinya begitu bodoh sekarang. Sampai-sampai ia ingin mengakhiri hidupnya, hanya ingin bertemu dengan Kyungsoo. Sungguh, Chanyeol sudah tidak tahan lagi menahan rasa rindunya.

'Kau harus mati, Park Chanyeol. Kau harus mati.' Gumamnya berkali-kali dalam hati, bahkan saat Baekhyun berteriak padanya, bahwa ia tak akan bertemu dengan Kyungsoo, namun berakhir di neraka karena Tuhan membencinya.

Tapi Chanyeol hanya tertawa dengan getir. Ia sudah terbiasa merasakan kebencian – kebencian yang ditujukan pada dirinya, silahkan saja jika Tuhan membencinya, Chanyeol tak peduli. Ia berusaha melepaskan pelukan erat Baekhyun agar bisa segera mengakhiri hidupnya, namun yeoja itu tidak sedikitpun melepaskan pelukannya dan malah memeluknya semakin erat.

Byun Baekhyun.

Yeoja yang sudah disakitinya berulang kali itu ada disana sekarang. Menangis dengan begitu tersedu sambil memeluknya begitu erat. Tak ingin merelakannya untuk pergi, disaat semua orang membencinya dan sudah tidak peduli padanya lagi.

'Baekhyun, apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Kenapa kau begitu peduli padaku? Bukankah tadi pagi sudah jelas kau tak ingin memaafkanku?'

Ia lalu memilih untuk mundur dari tepi bukit, karena biar bagaimanapun Baekhyun tak akan melepaskan pelukan eratnya itu.

"Byun Baekhyun…" panggilnya sekali lagi.

"Apa yang membuatmu sampai berpikiran seperti ini, Chanyeol? Hiks…"

Chanyeol dengan mudah menjawab pertanyaan yang Baekhyun lontarkan. Bahwa hidupnya sudah tak berguna lagi. Bahwa semua orang membencinya dan tak ada lagi yang peduli dengannya. Dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan pahit, untuk apa ia hidup jika seperti itu?

Akhirnya Baekhyun melepaskan pelukannya, dan Chanyeol memilih untuk membalik badannya, menatap Baekhyun. Matanya begitu sembab, namun yeoja itu masih bisa menatapnya dengan tatapan yang tajam.

"Tapi apa kau tidak berpikir, bagaimana perasaan keluargamu jika kau meninggalkan mereka dengan cara seperti tadi?"

Chanyeol mendadak terbayang sosok ummanya yang begitu menyayanginya. Begitupula dengan nunanya. Dan… bahkan appanya. Ya, Chanyeol tidak berpikir apa yang terjadi dengan keluarganya jika saja Baekhyun tak mencegahnya untuk melakukan perbuatan bodoh seperti tadi. Pastilah keluarganya akan menanggung kesedihan dan mungkin rasa malu teramat sangat.

"Hiks… Dan bagaimana dengan Kyungsoo? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Hiks…"

Kyungsoo…

Chanyeol tidak berpikir jika ia mati dengan cara seperti tadi, bukan senyuman yang ia dapatkan saat ia bertemu Kyungsoo disana nanti, melainkan sebuah tamparan keras. Karena Chanyeol sadar, Kyungsoo tak mungkin mengizinkan Chanyeol melakukan hal penuh dosa seperti itu.

Air mata Chanyeol pun menetes.

"Dan… Dan bagaimana dengan aku?! Hiks…"

Dan bagaimana dengan Baekhyun? Sebegitu pentingnya kah Chanyeol dalam kehidupan Baekhyun hingga ia bertanya bagaimana dengan dirinya jika seandainya Chanyeol benar-benar mengakhiri hidupnya tadi.

"Karena sebenci apapun aku padamu, aku tetap tidak akan bisa menyingkirkanmu dari pikiranku, Park Chanyeol… Hiks…"

Chanyeol mendadak merasakan pening yang kembali menghinggapi kepalanya. Ia sadar yeoja didepannya adalah Baekhyun, namun seakan-akan Kyungsoo juga ada disana sekarang. Sama seperti Baekhyun, ia juga menangis dan menatapnya dengan marah, mengatakan hal yang sama persis dengan Baekhyun. Membuat rasa bersalah Chanyeol semakin menjadi-jadi, karena memang ia telah menyakiti dua yeoja sekaligus.

"Karena aku begitu mencintaimu…"

Cinta?

"Tolong jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi, Chanyeol… Hiks…"

Chanyeol bahkan tak bisa mendengar lagi apa yang Baekhyun katakan padanya. Ia masih syok karena Baekhyun berkata bahwa ia mencintainya. Jadi selama ini yang Baekhyun lakukan padanya, bekal tiap pagi yang diberikan untuknya, syal rajutannya dan Kyungsoo, semua perhatiannya, bahkan kehadirannya disini sekarang, karena Baekhyun mencintainya?

Ya. Cinta…

Chanyeol menatap wajah Baekhyun. Wajah yang sama manisnya dengan Kyungsoo, namun ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak dimiliki Kyungsoo, dan itu dimiliki Baekhyun. Sesuatu yang membuat tangan Chanyeol terulur ke wajah Baekhyun, dan menghapus air mata di wajah yang begitu manis itu. Ia mengatakan maaf dengan begitu lirih, berharap Baekhyun merasakannya. Bahwa ia begitu menyesal sudah membuat Baekhyun menangis berkali-kali karena dirinya. Ia menyesal karena tak menghargai semua pemberian Baekhyun padanya. Ia menyesal sudah mengatai syal hasil jerih payah Baekhyun dan Kyungsoo sebagai sesuatu yang buruk.

Namun Baekhyun hanya terus menangis.

"Jeongmal mianhae…" lirihnya sekali lagi.

Dan lagi-lagi Baekhyun tak mengatakan apa-apa. Chanyeol hanya ingin Baekhyun segera berhenti dari tangisnya dan memaafkannya. Rasa pening berganti dengan rasa frustasi dan Chanyeol tidak berpikir dua kali untuk segera melumat bibir yeoja manis dihadapannya.

Ciuman pertama.

Sesuatu yang juga baru dialami oleh Chanyeol. Karena ia sadar Kyungsoo tak mungkin pernah bisa memberikannya.

Inikah rasa ciuman pertama? Chanyeol tidak merasakan bibir semanis stroberi yang selalu ia bayangkan jika berciuman dengan Kyungsoo, namun yang ia rasakan adalah bibir semanis permen kapas manis. Permen kapas manis yang mengingatkannya pada yeoja yang selalu datang dalam mimpinya dan memeluknya, menyanyikan lagu dengan nada yang begitu menenangkannya. Namun sang yeoja tak pernah datang ke mimpinya lagi.

Chanyeol semakin memperdalam ciumannya saat Baekhyun melingkarkan lengannya di leher Chanyeol, seakan mengizinkannya untuk mencium Baekhyun lebih dalam lagi. Bahkan rasanya Chanyeol sudah kehilangan kendali ketika Baekhyun membalas ciumannya.

Ternyata seperti ini rasa ciuman pertama. Dan Chanyeol bersumpah jika saja nafasnya tak pernah habis, Chanyeol akan terus mencium bibir Baekhyun lagi dan lagi karena permen kapas manis yang ia rasakannya di bibir Baekhyun seakan seperti candu untuknya.

"Saranghae…"

Rasanya jantung Chanyeol hampir berhenti saat dengan mudahnya ia mengatakan hal itu, didepan yeoja lain. Yeoja selain Kyungsoo.

Kyungsoo..

Ruang-ruang dipikiran Chanyeol kembali dipenuhi nama itu. Seakan memutar semua memori kebersamaannya dengan Kyungsoo. Dan sebuah sumpah yang ia lontarkan di hari saat Kyungsoo meninggalkan untuk selamanya, sumpah yang ia ucapkan saat hujan deras mengguyur tubuhnya.

Bahwa ia tak akan pernah jatuh cinta lagi.

Karena hatinya hanya untuk Do Kyungsoo seorang.

Chanyeol segera memutar otak agar Baekhyun tak salah paham dengan perkataannya tadi, dan segera menyebutkan nama Kyungsoo begitu saja. Tepat saat Baekhyun ingin membalas pernyataan cintanya.

Chanyeol membuka matanya, menunggu sebuah tamparan keras dari Baekhyun, atau bahkan jika Baekhyun ingin mendorongnya ke tepi bukit pun Chanyeol akan rela. Karena Chanyeol tau, hati Baekhyun pasti sudah tak berbentuk lagi sekarang.

Chanyeol rasanya ingin menghapus air mata Baekhyun yang mulai menetes lagi dan menatapnya dengan pilu, namun topeng angkuh seorang Park Chanyeol kembali terpasang, ia memilih tak peduli.

Baekhyun menghapus air matanya dan berjalan ke tepi bukit. Chanyeol sudah hampir menarik tangannya, mengira bahwa Baekhyun akan melakukan hal yang bodoh sama seperti dirinya tadi. Namun ternyata Baekhyun hanya mengambil mantel Chanyeol, berjalan ke arahnya lagi, kemudian memakaikan mantel itu kembali ke Chanyeol.

"K-kau kedinginan Chanyeol ah. Aku bisa merasakannya dari bibirmu" katanya sambil tersenyum, meskipun dengan bibir bergetar dan masih berurai air mata.

"Selesai." kata Baekhyun usai memasang kancing di mantel Chanyeol, meletakkan tangannya di dada Chanyeol untuk beberapa saat, kemudian pergi meninggalkannya, tanpa kata.

Tanpa ucapan selamat tinggal.

Betapa Chanyeol berharap ia bisa menahan langkah Baekhyun, memeluknya dari belakang, kembali mengucap maaf, namun tubuhnya tak lagi mendengarkannya.

XOXO

Hari Minggu telah tiba dan turnamen basket akan segera dimulai. Meskipun cuaca begitu dingin, namun lapangan indoor SMA Black Pearl yang menjadi tuan rumah untuk turnamen basket tahun ini sudah dipenuhi oleh siswa yang ingin menonton pertandingan itu. Kelompok cheerleaders dari sekolah masing-masing terlihat cantik dengan seragam cheerleaders dan make up mereka. Dan siswa yang tergabung dalam tim basket, terutama yang diposisikan sebagai pemain inti mulai melakukan pemanasan di lapangan, sambil sesekali melakukan show off kemampuan mereka untuk menarik perhatian para cheerleaders-cheerleaders cantik itu.

Luhan adalah satu-satunya anggota cheerleaders yang malah merasa mual saat seorang pemain basket mengedipkan mata kearahnya usai berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring dari jarak jauh. Ia memilih untuk keluar dari lapangan, melihat kearah bangku penonton, karena daritadi sepertinya Baekhyun belum datang.

"Huh.. Kemana sih Baby Baekie?"Luhan memanyunkan bibirnya.

"Lulu!" seseorang memanggil namanya dari sudut bangku penonton yang lain, dan senyum Luhan langsung terkembang dengan lebar saat melihat Baekhyun ada disana, dan sepertinya datang bersama dengan adiknya. Luhan langsung berjalan dengan cepat ke tempat Baekhyun duduk.

"Baby Baekie! Aku kira kau tak datang! Ughh.." kata Luhan sambil memeluk erat Baekhyun dan mengambil posisi duduk disebelahnya.

"Biasa… Aku kesiangan" kata Baekhyun sambil terkekeh pelan dan membuka ikatan syalnya.

"Kau pasti begadang lagi ya? Matamu bengkak seperti itu!" Luhan memanyunkan bibirnya. Baekhyun hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya membuat Luhan menyadari sesuatu.

"Ap-apa kau menangi-"

"Lulu unnie! Kau tidak menyapaku?!" pekik Zitao memotong pertanyaan Luhan barusan.

"Hei hei dongsaengku yang manis~ Lama tidak bertemu" pandangan Luhan teralih ke Zitao, sambil mengacak rambutnya meskipun Luhan masih dihinggapi perasaan khawatir tentang sahabatnya. Dan Luhan berharap Baekhyun tidak menangis karena seseorang lagi.

"Wow unnie kau cantik sekali. Kapan ya Baek unnie bisa secantik dirimu?"

"Yah! Dongsaeng kurang ajar! Unnie ada disini!" Baekhyun mendeathglare Zitao, dan Zitao langsung menjulurkan lidahnya. Luhan terkekeh.

"Lulu, kenapa kau tidak di lapangan saja?" tanya Baekhyun. Matanya teralih ke lapangan, seperti mencari sosok seseorang.

"Kau tau banyak pemain basket dari sekolah luar yang sok pamer dengan kemampuan mereka. Aku rasanya hampir muntah" kata Luhan sambil memasang wajah jijik.

"Unnie~ Kan pemain basketnya tampan-tampan. Masa' tidak ada sedikitpun yang kau taksir?" tanya Zitao.

"Zizi, sudah ada namja lain yang lebih tampan yang sedang Lulu unnie taksir. Tau tidak?" tanggap Baekhyun.

Wajah Luhan langsung merah padam.

"Waaa unnie yang mana yang mana?!" Zitao langsung heboh sendiri di kursi penonton dan Baekhyun harus membekap mulutnya agar yeoja itu diam.

"Mian Lulu…" Baekhyun kembali terkekeh dan Luhan memutar bola matanya. Setidaknya ekspresi sedih tak lagi terlihat di wajah Baekhyun yang saat ini sedang melakukan adu death glare dengan sang adik usai ia melepaskan bekapan tangannya.

"Oh iya Baek unnie.. Lulu unnie… Soo unnie pernah bercerita padaku kalau namjachingunya itu pemain basket, yang mana orangnya?" tanya Zitao penasaran.

Luhan langsung melirik ke arah Baekhyun, dan merasakan ekspresi sedih kembali terlihat di wajah yeoja itu. Luhan pun mulai mengerti, pasti seseorang itu yang membuat Baekhyun seperti ini lagi.

"Unniedeul~ yang mana?" rengek Zitao.

"Well Zizi, sepertinya kau baru bisa melihatnya saat pergantian pemain, karena posisinya hanya sebagai pemain cadangan."

"Yah sayang sekali." Zitao memanyunkan bibirnya, "Padahal kata Soo unnie dia itu pemain basket yang hebat, kok malah jadi pemain cadangan?"

Luhan mengendikkan bahunya. Dalam hati ingin tertawa karena mendengar pertanyaan polos dari dongsaeng Baekhyun itu. Pertanyaan yang sangat jelas menunjukkan kalau Zitao sama sekali belum pernah merasakan rasa sakit karena kehilangan, tentu Luhan berharap Zitao tidak akan pernah merasakan hal itu.

Luhan sekali lagi melirik kearah Baekhyun, yeoja itu hanya terdiam, masih dengan ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajahnya. Tangan Luhan mulai mengepal, tidak habis pikir bagaimana seseorang itu bisa menyakiti sahabatnya itu berulang kali tanpa ampun.

"Luhannie! Kenapa kau ada disitu? Ayo cepat kembali ke lapangan, pertandingannya akan segera dimulai!" tiba-tiba teman-teman cheerleaders Luhan memanggilnya. Luhan kembali memutar bola matanya, karena sejujurnya Luhan merasa lebih nyaman berada disitu.

"Baby Baekie, Zizi, aku ke lapangan dulu. Sampai berjumpa nanti."

"Ah ye unnie! Fighting!" Zitao mengepalkan tangannya, diikuti Baekhyun yang kembali tersenyum padanya.

"Ne gomawo!" Luhan mengacak rambut Zitao sekali lagi, dan menggenggam tangan Baekhyun sesaat sebelum turun ke lapangan.

XOXO

Chanyeol menatap dirinya di cermin ruang ganti. Ia terlihat tampan dengan seragam basket SMA Black Pearl bernomor punggung 61 itu. Ya, sepertinya memakai baju apa saja Chanyeol tetap akan terlihat tampan. Ia terkekeh getir sambil mencengkeram seragamnya basketnya. Seragam basket yang tak akan berguna, karena sepanjang pertandingan Chanyeol mungkin hanya akan duduk di kursi pemain cadangan.

Ia menatap wajahnya yang masih tampak pucat, meskipun rasa pening di kepalanya sudah tidak separah hari-hari sebelumnya. Semalam pun Chanyeol juga tidak bermimpi apa-apa, sehingga namja itu bisa bangun tanpa kondisi yang menyakitkan. Walaupun sejujurnya, ada rasa sakit yang lain yang masih terus mengganjal di hatinya semenjak kejadian di bukit belakang sekolah kemarin.

Chanyeol lalu melihat refleksi cermin dibelakangnya. Ia bisa melihat beberapa pemain inti yang sedang serius membicarakan strategi untuk melawan tim basket SMA El Dorado, SMA yang akan menjadi lawan pertama mereka di turnamen nanti. Lawan yang menurut Chanyeol cukup mudah untuk ditaklukkan, karena setahun yang lalu Chanyeol yang saat itu menjadi pemain inti bersama tim basketnya berhasil mengalahkan mereka.

Beberapa waktu kemudian, pelatih basket mengumpulkan mereka semua di tengah ruang ganti, memberikan semangat untuk mereka semua dan berharap agar SMA Black Pearl bisa mengalahkan lawan dan melangkah ke pertandingan berikutnya di minggu depan. Ia berkata bahwa semua pemain, baik pemain inti dan pemain cadangan harus mempersiapkan fisik dan mental mereka masing-masing, dan Chanyeol bisa melihat dengan jelas mata pelatih yang melirik kearahnya saat mengucapkan kata pemain cadangan. Lagi-lagi ia hanya mengepalkan tangannya menahan emosi.

Pertandingan akan segera dimulai. Satu persatu pemain basket SMA Black Pearl mulai memasuki lapangan, begitu pula dengan tim basket SMA El Dorado. Betapa Chanyeol berharap bahwa ia akan terus melangkah ke lapangan, namun langkahnya membawanya ke kursi pemain cadangan. Namja itu hanya bisa menundukkan wajahnya, merasa bahwa semua penonton sedang mengarah ke kursinya sekarang, menatapnya dengan tatapan kasihan, walaupun pada kenyataannya penonton sama sekali tidak memperhatikan pemain-pemain di kursi cadangan itu.

Namun memang ada satu penonton yang sama sekali tidak terfokus kearah lapangan, ia memperhatikan sosok pemain bernomor punggung 61 yang sedang menundukkan wajahnya, seperti ingin menguburkan dirinya disana.

Dan tatapannya begitu pilu.

XOXO

Siswa serta guru SMA Black Pearl bersorak dengan penuh kegembiraan karena tim basket SMA Black Pearl berhasil mengalahkan tim basket lawan, dan berhak menuju ke pertandingan berikutnya di minggu depan. Tim cheerleaders ikut bersorak kegirangan, dan beberapa ada yang mengambil handuk kecil dan melap keringat para pemain basket itu. Namun tidak untuk Luhan. Ia memilih kembali menyingkir ke tepi lapangan. Langkahnya membawanya ke kursi pemain cadangan, tempat dimana Chanyeol berada. Chanyeol memang sama sekali tidak diturunkan untuk bermain selama pertandingan tadi. Walaupun terjadi pergantian pemain, pemain cadangan lain lah yang diturunkan.

"Hei…" Luhan menyapa Chanyeol yang hampir beranjak dari kursinya. Pemain-pemain cadangan lain sudah beranjak terlebih dahulu menuju ke lapangan untuk memberi selamat pada tim mereka sehingga hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di tempat itu.

"Ada apa?" tanya Chanyeol dingin, dan Luhan justru malah tertawa sinis.

Luhan semakin mendekati Chanyeol dan kini tepat berdiri di hadapannya. Meskipun tubuh Chanyeol begitu tinggi dan Luhan harus mendongakkan kepalanya, namun sama sekali tidak ada rasa terindimasi di diri Luhan.

PLAK!

Sebuah tamparan keras melayang di pipi kanan Chanyeol. Semua penonton dan orang-orang yang berada di lapangan mulai melihat kearah mereka.

"Itu untuk Baekhyun" kata Luhan, masih berusaha menunjukkan ekspresi tenang walaupun dirinya sudah dipenuhi luapan emosi sekarang.

Chanyeol tetap terdiam di posisinya, memegang pipinya yang masih terasa sakit akibat tamparan yang tidak disangkanya tadi.

"Sakit bukan?" Luhan kembali tertawa, "Tapi kurasa rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit yang Baekhyun rasakan akibat semua perbuatanmu."

Chanyeol tetap terdiam karena merasa bahwa ia memang pantas menerima tamparan itu. Luhan hampir ingin meluapkan emosinya lagi saat seseorang mendatangi mereka.

"Lulu! Ayo pergi dari sini" kata yeoja itu lalu menarik Luhan untuk pergi darisana.

Chanyeol menatap yeoja itu sesaat, sebelum mereka berdua pergi, dan yeoja itu sama sekali tidak menatap balik kearahnya.

Namun Chanyeol bisa merasakan sorot mata yeoja itu meskipun ia tidak menatapnya.

Sorot mata yang dipenuhi perasaan sakit.

Dan pilu.

TBC

Annyeong readerdeul~~

Semoga gak kecewa yaa dengan updetan kali ini X'D maaf juga karna chapie ini sangat pendek dan updetannya lumayan lelet. Soalnya ini efek koko lay hapus semua piku2 di ig nya jadinya author gak bisa kirim surat cintrong buat koko lagi TT_TT /curcol/

Jeongmal kamsahamnida untuk readerdeul kesayangan author yang berbaik hati meninggalkan jejaknya untuk chapie kemarin.

baekyeol, anaknya cabe, nova. k, AnggyeEXOnBTS, Guyliner, clouds, byunkaebb, chanichen, baekhyunina, Guest, sojuyeolb, indrisaputri, Fionny13, parkbaekyoda92, CB, BaebyYeolliePB, Nanda yusri, MbemXiumin, tjabaekpedes, ParkByun, byunnie, NichanJung, ifhachanchan, Hanbyeol267, cassiewol, H Luv, nur991fah, neli amelia, Yulyul, baconslight, narsih556, lilly, seul gi shin, Lala Maqfira, anon, niaaaaa26, Sniaanggrn, vivinovi38, 1004baekie, ByunViBaek, beelovecee, xanyeol, Nayunda, SyiSehun, Nanas RabbitFox, Yoni. parkbyun, ChanBaekLuv, Guest, sparklinghun

Review kalian seperti biasa menjadi semangat untuk author, ditengah keinginan author untuk discontinued karena sudah gak tau lagi mo bawa epep ini kemana huhuuu :") /PLAK! #authorditamparlulu / tapi author udah janji ama diri author sendiri untuk ngelanjutin epep ini sampe the end. Sama kayak koko lay yang janji untuk tetep stay di EXO. Yah, semoga janji kami berdua bisa terpenuhi :") /apa sih thor -,,,-/ target author untuk epep ini pokoknya gak sampe melebihi 20 chapter, karna author sendiri udah bosen ama cerita di epep ini yang muter disitu2 aja huhuu X'D /nyadar thor? -,,,-/

Jeongmal kamsahamnida juga untuk new reader. Annyeong~ Selamat datang dan selamat menikmati epep gaje ini.. salam kenal yaa^^

Jeongmal kamsahamnida untuk silent readers. Kritik dan sarannya author tungguin juga :))

Yupp, sekian cuap2 dari author. See ya in next chapie~^^

p.s : happy birthday to our lovely panda, Tao yah~ /love love love/