Title : Kyungsoo Diary

Author : Purple Unicorn

Cast(s) : Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Park Chanyeol as Park Chanyeol

Kim Jongdae as Kim Jongdae

Luhan as Luhan

Cameo : VIXX Leo as Jung Taekwoon

SHINee Minho as Choi Minho

Pairing(s) : ChanBaek, slight!ChanSoo

Rating : PG-13

Disclaimer : semua cast di ff ini bukan milik author yaa XD

Warning : genderswitch and typo everywhere. mianhae ~_~

a/n : I'm sorry, it's really a bad story. Enjoy my ff~~^^

oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter XV – Cinta Datang Terlambat

Baekhyun menjalani hari demi harinya dengan penuh kesibukan sekarang. Ujian kenaikan kelas sudah semakin dekat, sehingga Baekhyun memilih untuk lebih giat belajar. Kompetisi duet juga tak terasa tinggal beberapa hari lagi. Sehabis pulang sekolah, ia selalu berlatih bernyanyi bersama Jongdae hingga tenggorokannya terkadang terasa sakit. Meskipun begitu, Baekhyun rela dan tidak pernah mengeluh, karena ia berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk SMA Black Pearl, dan tentu saja tak ingin menghancurkan kepercayaan Jongdae yang sudah memilihnya sebagai partner duetnya.

Fisik dan pikiran Baekhyun selalu dipaksanya sendiri untuk terus bekerja dan bekerja sampai yeoja itu terkadang merasa lelah. Namun ia merasa lebih baik merasa lelah, daripada jika harus terpikir tentang seseorang lagi.

Seseorang yang telah meninggalkan bekas luka sangat dalam di hatinya.

Masih segar terekam di ingatan Baekhyun, kejadian beberapa minggu yang lalu, saat Luhan dengan begitu beraninya menampar seseorang itu –Chanyeol– di depan banyak orang. Baekhyun langsung menarik Luhan untuk pergi dari situ, membawanya keluar, berkata padanya dengan penuh emosi, "Kenapa kau melakukan hal seperti itu, Luhan?!"

Dan Luhan balas membentaknya, "Harusnya kau tak usah mencegahku untuk menamparnya lagi! Ya Tuhan, dia sudah menyakitimu berulang kali, Byun Baekhyun! Dan kau masih saja berusaha mendekatinya?! Kau itu masokis, sakit jiwa, atau apa?!"

Baekhyun, lagi dan lagi, hanya bisa menangis saat itu, dan untung Luhan masih memiliki hati untuk memeluknya dan menenangkannya, berkata berulang kali pada Baekhyun, "Kumohon Byun Baekhyun. Jangan dekati namja itu lagi. Lupakan dia. Jika perlu buang diary Kyungsoo jauh-jauh agar kau tak lagi terbebani permintaannya untuk mencintai Chanyeol."

Dan inilah Byun Baekhyun sekarang. Mencuci otaknya sendiri agar tidak lagi teringat tentang Chanyeol. Untung saja, Chanyeol juga sepertinya menjaga jarak dengan Baekhyun. Baekhyun tak pernah lagi menemui Chanyeol di sekolah. Mungkin Baekhyun masih sempat melihatnya di sekolah beberapa kali, dan itupun dari jarak yang cukup jauh.

Pada intinya, Baekhyun sudah berhasil untuk tak peduli lagi pada Chanyeol.

Berbanding terbalik dengan hubungannya dengan Chanyeol, hubungan Baekhyun dan Jongdae malah semakin dekat. Beberapa kali usai latihan bernyanyi, mereka pergi ke kedai bubble tea tanpa ada lagi gangguan. Baekhyun mulai mengetahui lebih jauh tentang Jongdae dari kencan mereka beberapa kali di kedai bubble tea itu. Bahwa Jongdae adalah anak bungsu, dan ia memiliki kakak laki-laki. Ia sangat suka menyanyi dan ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi yang memiliki banyak album dan terjual laris di pasaran. Baekhyun dengan antusias berkata jika ia akan menjadi orang pertama yang membeli album Jongdae nanti.

Dan satu rahasia lain terbongkar di kencan mereka di kedai bubble tea hari ini.

"Aku pernah berharap Kyungsoo menjadi milikku…" kata Jongdae. Senyum charming yang biasa tampak di wajahnya kini dibalut dengan kesedihan.

"J-jinjja oppa?" tanya Baekhyun. Sebenarnya dalam hati Baekhyun tidak merasa heran, karena… Ya, siapa namja yang tidak jatuh cinta pada Do Kyungsoo.

"Ya, aku mencintainya. Dan rasanya menyakitkan karena aku hanya bisa menyimpan cinta itu dalam hati."

"Aku tahu oppa…" tanggap Baekhyun. Tentu saja Baekhyun tahu bagaimana perasaan Jongdae. Karena ia pernah berada di posisi yang sama dengan namja dihadapannya itu, hanya bisa menyimpan cintanya dalam hati pada 'seseorang'.

"Tapi sekarang… Kyungsoo sudah tidak ada. Dan aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintanya lagi." Jongdae menghela nafas panjang.

"Oppa… Kau tahu, masih banyak yeoja lain di luar sana yang mungkin sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan cintamu" kata Baekhyun sambil terkekeh, berusaha membuat Jongdae juga terkekeh, karena Baekhyun mengerti pasti Jongdae merasa sedih sekarang.

Tapi Jongdae tidak terkekeh sama sekali. Ia malah menatap Baekhyun serius, satu tangannya meraih satu tangan Baekhyun, dan membuat Baekhyun gugup seketika.

"Lalu bagaimana dengan yeoja dihadapanku sekarang? Apa dia juga sedang menunggu kesempatan untuk mendapatkan cinta dariku?"

Bibir Baekhyun terkatup rapat dan jantungnya mulai berdegup kencang.

Ini adalah pertama kalinya bagi Baekhyun, seorang namja menyatakan cinta padanya.

Baekhyun rasanya hampir mencubit pipinya sendiri berulang kali, meyakinkannya bahwa ia sekarang tidak sedang bermimpi. Mungkin Tuhan memang sudah merencanakan sesuatu yang indah untuknya, dibalik rasa sakit bertubi-tubi yang sempat menghujamnya.

Baekhyun merasa begitu bodoh, karena sudah menyia-nyiakan waktunya untuk mengejar cinta namja yang membuatnya merasakan sakit itu, namun ternyata ada namja lain yang begitu memperhatikannya.

Kemudian sebuah senyuman manis terulir di wajah Baekhyun. Seperti mengiyakan pertanyaan Jongdae barusan.

Senyum pun mulai terkembang di wajah Jongdae, tangannya semakin menggenggam tangan Baekhyun erat.

"Saranghae… Baekhyunie"

Ya, seorang namja kembali mengucapkan kata itu pada Baekhyun. Namun pernyataan cinta itu benar-benar ditujukan untuknya. Bukan untuk orang lain.

Angin musim dingin tiba-tiba bertiup dengan begitu kencangnya dan membuat dua orang itu kedinginan meskipun mereka telah memakai mantel begitu tebal. Baekhyun berusaha untuk tak peduli, meskipun ia sadar, apa yang menyebabkan angin bertiup kencang sekarang, seperti merasakan kemarahan seseorang darisana.

Dalam hati, Baekhyun berlatih mengucap 'nado saranghae.. nado saranghae oppa…', dan bibirnya bergetar menahan dingin. Namun,

"N-ne oppa…"

Hanya itu yang berhasil diucapkan oleh Baekhyun.

Dan Baekhyun melihat dengan begitu jelas, senyuman charming seorang Kim Jongdae berganti dengan ekspresi penuh kekecewaan.

XOXO

Chanyeol juga menjalani hari demi hari dengan penuh kesibukan. Ia belajar dengan begitu giat untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Bahkan tiap istirahat, Chanyeol lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan, melahap semua buku-buku disana terutama yang berhubungan dengan sains. Ya, Chanyeol memiliki cita-cita untuk diterima di jurusan kedokteran dengan jalur beasiswa, tentu saja agar tak menggunakan uang appanya lagi untuk membiayai sekolahnya.

Ia juga berlatih basket setiap hari, meskipun ia masih diposisikan sebagai pemain cadangan. Di babak penyisihan kemarin, Chanyeol tak pernah diturunkan sama sekali untuk bermain. Tim basket SMA Black Pearl akhirnya memang memasuki babak final, meskipun tanpa dirinya. Chanyeol benar-benar berharap, pelatih basket yang dianggapnya keparat itu bisa sedikit membuka hati nuraninya untuk menurunkannya bermain di babak final nanti.

Terkadang teman-teman satu timnya bertanya padanya, kenapa ia berlatih begitu keras seperti tak kenal rasa lelah? Bahkan sepertinya malah ia yang lebih giat berlatih dibandingkan pemain inti. Chanyeol tak menjawab. Meskipun sejujurnya, ia ingin membogem mereka satu persatu.

Ada alasan lain sebenarnya, yang membuat Chanyeol berlatih setiap hari sampai ia merasa sakit disekujur tubuhnya.

Sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya.

Dan sesuatu itu bukan lagi seseorang bernama Do Kyungsoo.

Namun sesuatu itu berhubungan dengan permen kapas manis.

Karena rasa itu terus membekas di bibirnya.

Dan inilah Park Chanyeol sekarang. Mencuci otaknya sendiri agar bisa melupakan semua tentang rasa permen kapas manis penuh candu itu. Namun semakin Chanyeol berusaha melupakannya, semakin kuat rasa itu muncul. Dan semakin buruk lagi, karena sang yeoja dengan bibir semanis permen kapas manis itu tak lagi menemuinya.

Awalnya Chanyeol berusaha untuk biasa saja. Lama kelamaan rasa kehilangan itu semakin mengganggunya, membuatnya hampir lepas kendali. Untung saja ia masih tertolong oleh ego yang dimilikinya.

Beberapa kali ia melihat Baekhyun di sekolah, namun egonya menahannya untuk menemui sang yeoja. Dan beberapa kali ia melihat Baekhyun yang semakin dekat dengan senior hyung yang juga dianggapnya keparat, Kim Jongdae. Bahkan Jongdae tak segan-segan untuk menggandeng tangan Baekhyun kemanapun mereka pergi, membuat Chanyeol entah kenapa merasakan rasa panas yang begitu membara di hatinya.

Dan rasa sakit.

Denyut di hatinya terasa sakit tiap melihat Baekhyun berdua dengan Jongdae. Awalnya Chanyeol juga berusaha menepis rasa itu, namun Chanyeol tak bisa lagi memungkiri bahwa rasa sakit itu benar-benar nyata berdenyut di hatinya. Dan seperti inilah rasa sakit yang dirasakan Chanyeol, seperti sesuatu yang sempat kau miliki kini telah direbut oleh orang lain.

Sampai suatu saat, Chanyeol tak dapat lagi menahan egonya untuk bertemu lagi dengan Baekhyun, setidaknya berbicara kembali dengannya dan meminta maaf. Ia menunggu Baekhyun selesai dari apapun yang sedang dilakukannya di ruang musik bersama Jongdae. Sayangnya Baekhyun kembali keluar dari ruangan itu bersama sang sunbaenim. Chanyeol rasanya ingin menarik kembali tangan Baekhyun seperti kejadian dahulu, namun sekarang ia berusaha mengontrol emosinya. Ia sudah berjanji untuk tidak menyakiti yeoja itu lagi.

Chanyeol mengikuti mereka diam-diam hingga akhirnya mereka sampai di kedai bubble tea.

Hati Chanyeol kembali berdenyut sakit namun ia masih berusaha mengontrol emosinya. Ia mendengar dengan jelas saat Jongdae berkata pada Baekhyun jika ia mencintai Kyungsoo. Emosi Chanyeol hampir pecah, namun lagi-lagi ia masih berusaha mengontrol emosinya.

Saat melihat Jongdae menggenggam tangan Baekhyun, emosi Chanyeol semakin mendidih, tangannya sudah mulai terkepal erat, dan lagi-lagi ia masih berusaha mengontrol emosinya.

"Saranghae.. Baekhyunie…"

Dan Chanyeol akhirnya sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Sungguh Chanyeol ingin meluapkan emosinya, menghabisi Jongdae saat itu juga, namun seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Hanya ada rasa sakit yang semakin berdenyut di hatinya.

Rasa yang begitu menyakitkan. Bahkan Chanyeol harus mengakui kalau rasa sakitnya melebihi saat Kyungsoo meninggalkannya.

Rasa sakit itu melebihi rasa menggigil yang ia rasakan karena angin musim dingin mendadak bertiup dengan kencang seakan menusuk tulang.

Ya, Kini Byun Baekhyun memang benar-benar telah berhasil menggeser Do Kyungsoo di ruang pikiran Chanyeol.

Air mata Chanyeol pun menetes.

Inilah karma.

Saat Chanyeol mulai merasakan cinta pada Baekhyun, Baekhyun telah memberikan cintanya pada namja lain.

Chanyeol melihat bibir Baekhyun yang bergetar, seperti bersiap untuk membalas pernyataan cinta dari Jongdae. Namun…

"N-ne oppa…"

Hanya itu yang keluar dari bibir Baekhyun. Dan terdengar sangat jelas di telinga Chanyeol meskipun Baekhyun mengucapkannya dengan begitu lirih.

Rasa sakit di hati Chanyeol sedikit berkurang. Setidaknya Baekhyun belum secara jelas membalas pernyataan cinta Jongdae.

Air mata kembali terjatuh di pipi Chanyeol. Namun senyuman terulir di bibirnya.

"Gomawo…"

XOXO

Lapangan indoor SMA Black Pearl hari Minggu ini kembali dipenuhi oleh siswa, guru, dan penonton yang ingin menyaksikan pertandingan yang sebentar lagi akan diadakan disana. Ya, hari ini adalah pertandingan final turnamen basket antar sekolah. Kali ini SMA Black Pearl harus berhadapan dengan tim basket SMA Bullet Proof. Lawan yang menurut pelatih basket SMA Black Pearl sangat berat, karena di babak penyisihan sebelumnya, mereka berhasil membantai lawan mereka tanpa ampun.

Meskipun hanya diposisikan sebagai pemain cadangan, namun Chanyeol juga menyiapkan mental dan fisiknya untuk melawan SMA Bullet Proof nanti, karena ia tahu lawan mereka kali ini tidak bisa dianggapnya remeh. Dan ia tak ingin titel juara bertahan direbut oleh SMA lain tahun ini.

Pertandingan akan segera dimulai, dan langkah Chanyeol seperti biasa membawanya ke kursi pemain cadangan. Namun ia tak lagi tertunduk, ia memberanikan diri untuk melihat ke arah bangku penonton. Secara tak sengaja pandangannya mengarah ke seseorang.

Byun Baekhyun.

Seperti yang sudah Chanyeol duga, Baekhyun langsung menundukkan wajahnya seperti menghindari tatapannya. Chanyeol menghela nafas panjang, dan akhirnya mengarahkan pandangannya ke pertandingan yang mulai berlangsung.

SMA Bullet Proof sepertinya memang bernafsu untuk merebut juara turnamen basket tahun ini. Lihat saja, mereka tak sedikitpun memberikan kesempatan tim basket SMA Black Pearl untuk merebut bola basket dari tangan mereka. Berkali-kali mereka mencetak skor lewat shoot jitu mereka. Tim basket SMA Black Pearl terlihat mulai kewalahan mengimbangi permainan tim basket lawan. Pelatih tim basket SMA Black Pearl juga mulai terlihat panik dan mulai mengganti beberapa pemain inti dengan pemain cadangan.

Skor mereka mulai tertinggal jauh.

Chanyeol rasanya ingin mengumpat karena dirinya tak juga diturunkan untuk bermain. Kalau saja pergantian pemain tidak perlu disetujui oleh pelatih, mungkin Chanyeol dari tadi sudah turun bermain, dan mengejar skor ketinggalan.

Babak terakhir dimulai, tim basket SMA Black Pearl semakin tertinggal, dan Chanyeol belum juga diturunkan untuk bermain.

"Park Chanyeol! Park Chanyeol! Park Chanyeol!"

Suara penonton yang mengelukan namanya mulai bergaung di lapangan indoor sekolah. Chanyeol melihat ke arah pelatih basketnya, dan akhirnya sang pelatih basket menepuk pundaknya, mengizinkannya untuk turun bermain dan mengganti posisi kapten tim basket, Taekwoon, yang sudah terlihat sangat kewalahan.

"Kami semua bergantung padamu" kata Taekwoon sambil mengikatkan kain putih dari lengannya ke lengan Chanyeol, menyerahkan posisinya sebagai kapten tim basket pada Chanyeol untuk sementara.

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Ne hyung."

Chanyeol akhirnya turun ke lapangan, sesuatu yang diharapkannya semenjak turnamen basket dimulai beberapa minggu yang lalu. Ia dengan cekatan berhasil merebut bola basket dari tangan lawan, melemparnya ke arah teman setimnya, Minho, dan Minho berhasil melakukan shoot. Sedikit demi sedikit tim basket SMA Black Pearl mulai berhasil mengejar ketinggalan.

Tim basket SMA Bullet Proof tidak tinggal diam, dan kembali gencar melakukan serangan. Namun Chanyeol dengan tubuh tingginya berhasil memblokade lawan, sehingga menyulitkan mereka untuk kembali mencetak skor.

"Go!" sahutnya sambil mengoper bola basket kembali ke pemain yang berposisi sebagai shooting guard dan akhirnya berhasil kembali menyumbang skor.

Pertandingan tinggal menyisakan beberapa menit terakhir.

"Park Chanyeol!" Minho mengoper bola basket ke arah Chanyeol, pemain basket SMA Black Pearl yang lain menghadang pemain basket SMA Bullet Proof yang juga bersiap menangkap bola basket itu, namun Chanyeol dengan sigap menangkapnya. Dan…

Shoot!

Chanyeol memasukkan bola basket ke dalam ring dari jarak jauh, beberapa detik sebelum pertandingan berakhir. Dan akhirnya berhasil menambah 3 poin untuk skor mereka.

PRIIITTTT!

Peluit berbunyi tanda pertandingan telah usai.

Semua penonton bersorak, dan penonton pendukung SMA Black Pearl lah yang paling kencang bersorak karena akhirnya tim basket SMA Black Pearl berhasil mempertahankan gelar juara mereka. Semua pemain basket SMA Black Pearl menghujani Chanyeol dengan pelukan. Ya, karena Chanyeol malaikat penyelamat mereka di pertandingan kali ini.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Chanyeol tertawa dengan begitu lepas. Ada rasa bangga dan rasa lega karena tim basket mereka berhasil mempertahankan gelar juara mereka, namun rasa bahagia lah yang paling terasa di dirinya sekarang.

Di tengah hujanan pelukan dari teman-teman setimnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dan ia adalah pelatih tim basket. Pelatih tim basket itu menjabat tangan Chanyeol, kemudian memeluknya sambil menepuk punggungnya, berkata "Tidak salah aku menurunkanmu di pertandingan hari ini. Kamsahamnida Chanyeol sshi"

'Keparat' kata Chanyeol dalam hati, namun ia balas memeluk pelatihnya erat.

Seluruh pemain basket SMA Black Pearl bersorak sambil mengangkat piala mereka saat merayakan kemenangan. Lalu pemain basket peraih gelar MVP diumumkan, dan yang meraihnya adalah sang kapten tim basket Jung Taekwoon. Chanyeol berusaha tersenyum saat melihat medali dikalungkan di leher Taekwoon meskipun ada rasa sedikit iri, karena hati kecilnya berharap bahwa dirinyalah yang mendapat gelar itu.

"Chukkae hyung.." kata Chanyeol usai Taekwoon turun dari podium menerima medali itu. Taekwoon hanya tersenyum lalu melepas medalinya dan mengalungkannya ke Chanyeol.

"Kau lah MVP yang sebenarnya, Park Chanyeol"

"Hyung?" Chanyeol menatap Taekwoon tak percaya. Tatapannya teralih ke teman-teman tim basket yang lain, bahkan pelatih basket juga masih ada disana, mereka tersenyum dan mengangguk seperti menyetujui apa yang Taekwoon katakan barusan.

Taekwoon lalu terkekeh dan menepuk pundak Chanyeol, meninggalkan Chanyeol yang saat ini tertunduk sambil memegang medalinya. Teman-teman tim basket yang lain dan juga pelatih ikut menepuk pundaknya dan berlalu meninggalkan Chanyeol.

"N-ne hyung. Kamsahamnida"

Air matanya membasahi medali itu.

Tanpa Chanyeol sadari, sepasang mata juga menatapnya dengan derai air mata…

…bahagia.

XOXO

Lapangan indoor SMA Black Pearl mulai sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang membersihkan lapangan dari sisa-sisa confetti saat perayaan kemenangan tadi. Chanyeol baru saja keluar dari ruang ganti dan bersiap untuk pulang. Ia sempat menatap lapangan sesaat.

Satu beban di pundaknya sudah berkurang. Namun masih ada beban lain, dan Chanyeol harap beban itu juga segera berkurang saat ini juga.

Ia baru saja keluar dari lapangan, saat suara yeoja yang begitu familiar memanggilnya.

"Chanyeol ah…"

Chanyeol berharap ini bukan mimpi. Karena yang ada dihadapannya sekarang adalah sang beban belum terselesaikan yang dipikirkannya tadi.

Byun Baekhyun.

Yeoja itu tersenyum begitu manis di hadapannya. Senyuman yang Chanyeol akui sudah lama ia rindukan.

Chanyeol tanpa sadar melangkahkan kakinya begitu cepat ke arah Baekhyun, dan senyuman di bibir Baekhyun semakin terkembang lebar.

"B-baek…"

DAMN!

Chanyeol mengumpat dalam hati, karena ini adalah pertama kalinya seumur hidup Chanyeol berbicara gagap seperti ini.

"Chanyeol ah…" Baekhyun tersenyum lebar, meskipun matanya terlihat begitu berkaca-kaca. "Chukkae…"

"Gomawo"

"M-mwo?" Baekhyun terlihat begitu tidak percaya. Mungkin ini juga karena baru pertama kali Chanyeol mengucapkan terima kasih padanya.

"Gomawo Baekhyun…" Chanyeol kembali mengucapkan terima kasih dan terdengar dengan begitu jelas.

Air mata Baekhyun lagi-lagi mengalir. Namun Chanyeol tidak perlu khawatir, karena pasti air mata itu adalah air mata bahagia.

Meskipun begitu, tangan Chanyeol tetap terulur ke wajah Baekhyun, menghapus air mata di wajah manis itu.

"Chanyeol ah mianhae…" suara Baekhyun terdengar lirih. Chanyeol langsung menggelengkan kepalanya. Untuk apa Baekhyun meminta maaf padanya, jika selama ini Chanyeol lah yang selalu menyakiti Baekhyun berulang kali.

"Aniya. Mianhae"

Air mata Baekhyun semakin mengalir deras dan kali ini membasahi tangan Chanyeol. Satu tangannya meraih tangan namja yang masih setia menghapus air matanya.

"Byun Baekhyun!" tiba-tiba Luhan datang dan membuat keduanya terkejut, lalu Luhan menarik tangan Baekhyun, menyeretnya lagi untuk pergi dari sana. Meninggalkan Chanyeol begitu saja.

XOXO

"Apa-apaan kau ini?!" protes Baekhyun saat akhirnya berhasil melepas tangan Luhan.

"Sudah kubilang berapa kali jauhi namja sialan itu!"

"Aku hanya mengucapkan selamat padanya. Tidak boleh?!"

"Mengucapkan selamat? Cih… Aku rasa lebih dari itu" sindir Luhan.

Baekhyun menggigit bibirnya menahan tangis, "D-dia mengucapkan maaf padaku. Kau tau?"

"Ya. Dia memang mengucapkan maaf padamu… untuk sekarang. Tapi setelah itu kau akan disakiti olehnya lagi!"

"Luhan cukup! Yang merasakan sakit itu aku, bukan kau!" teriak Baekhyun dan Luhan menghela nafas kesal.

"Aku sungguh tidak mengerti apa yang membuatmu masih mendekati namja sialan itu" ujarnya, lalu tiba-tiba saja merampas tas Baekhyun begitu saja dan mengeluarkan seluruh isinya.

Satu buah diary bercover pororo terjatuh dari sana.

Luhan menggelengkan kepalanya tidak percaya dan meraih diary itu, "Kenapa kau belum membuangnya?" Baekhyun berusaha mengambil kembali diary itu namun Luhan tak sedikitpun membiarkan Baekhyun meraihnya, "Apa aku yang harus membuangnya? Eoh?!"

"Luhan, tolong! Hiks… Itu diary Kyungsoo, aku tak mungkin membuangnya! Hiks… Tolong kembalikan!"

"Diary… Kyungsoo?"

Keduanya terlibat perebutan yang sangat sengit hingga tak menyadari kalau Chanyeol daritadi sudah berdiri disana.

Baekhyun terlihat gelagapan, dan Luhan langsung menutup mulutnya dengan tangan bergetar, membuat diary itu terjatuh dari tangannya.

"C-Chanyeol"

Chanyeol menatap Baekhyun tajam, sebelum akhirnya berjalan dan meraih diary itu.

Baekhyun hanya bisa terdiam dan Luhan juga tidak tahu harus berbuat apa, saat Chanyeol membaca lembaran diary Kyungsoo satu persatu.

Baekhyun menundukkan wajahnya saat suara air mata terjatuh membasahi lembaran diary Kyungsoo. Baekhyun bahkan tidak tahu apakah Chanyeol juga membaca isi diary yang ditulis olehnya, dan selembar surat abu-abu yang masih terselip disana, karena ia tak sanggup lagi untuk mengangkat wajahnya.

"Chanyeol kita huh?" Baekhyun merasakan kegetiran di nada bicara Chanyeol.

Chanyeol kita.

Berarti Chanyeol memang sudah membaca surat dari Kyungsoo.

"Chanyeol kita?" ulang Chanyeol sekali lagi, dan kali ini nada bicaranya terdengar begitu menyakitkan.

"Kau tahu Byun Baekhyun?" Baekhyun menundukkan wajahnya, "Aku pikir selama ini semua yang kau lakukan padaku karena kau benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata…" air mata Baekhyun semakin mengalir deras saat mendengar suara kertas yang dirobek dengan begitu penuh emosi, dan potongan kecil kertas abu-abu terjatuh di tanah.

"…aku salah."

XOXO

Jika ingin mengetahui rasa sakit apakah yang paling menyakitkan melebihi apapun, maka tanyakan ke Park Chanyeol. Ia tahu jawabannya. Karena ia merasakannya sendiri sekarang. Hatinya berdenyut pilu, kakinya melangkah tak tentu arah, bahkan ia tak dapat melihat lagi pandangannya dengan jelas karena air matanya begitu mengalir deras.

Dalam tangisnya, ia mengumpat berkali-kali pada Tuhan. Kenapa tiap kali ia merasakan cinta, Tuhan selalu menarik cinta itu kembali dengan cara yang menyakitkan.

Pertama, Tuhan sudah mengambil Kyungsoo yang begitu dicintainya begitu saja.

Sekarang saat Chanyeol menyadari bahwa yang ia rasakan ke Baekhyun adalah cinta, Tuhan juga menarik kembali cinta itu darinya dengan sebuah kenyataan pahit, bahwa Baekhyun ternyata tak benar-benar mencintainya tulus dari lubuk hati terdalam. Baekhyun melakukan itu semua hanya karena permintaan Kyungsoo.

Chanyeol tertawa dengan begitu pahit, karena ia merasa begitu bodoh. Bagaimana bisa Chanyeol jatuh begitu saja kedalam kebohongan Baekhyun selama ini.

Chanyeol begitu terbuai dalam kesedihannya, dan tak menyadari beberapa orang namja sedari tadi mengikutinya dan menatapnya dengan seringai yang begitu mengerikan. Hingga akhirnya Chanyeol berjalan ke sebuah gang yang sempit dan gelap, dan tak menyadari bahwa ia sudah benar-benar terjebak oleh perangkap mereka.

"Oopsie.. Sepertinya seorang pecundang datang kesini untuk meminta maaf" kata salah satu dari mereka dengan suara begitu berat.

Chanyeol mendongakkan wajahnya saat mencium aroma alkohol yang begitu menjijikkan dari mulut namja itu. Saat itu ia baru tersadar kalau ia sudah terkepung oleh beberapa orang namja disekelilingnya. Namja yang menjadi lawannya saat pertandingan basket tadi, tim basket SMA Bullet Proof.

"Aigoo dia datang kesini bukan untuk meminta maaf, Namjoonie~" seseorang dengan wajah begitu feminin tiba-tiba merangkul pundak Chanyeol, dan Chanyeol langsung berusaha melepaskan diri dari rangkulan itu, "Tapi dia ingin merayakan pesta kekalahan ini dengan kita. Hiks~" kata namja itu, dan Chanyeol rasanya ingin muntah karena lagi-lagi aroma alkohol tercium begitu kuat.

"Tapi maaf. Pesta sudah berakhir~" tiba-tiba namja yang dipanggil 'Namjoonie' tadi dan namja lain yang merangkulnya menahan tubuh Chanyeol, masing-masing menahan tangan kiri dan tangan kanannya agar tidak bisa bergerak. Chanyeol hanya bisa berteriak kesakitan saat siswa lain membogem wajahnya, diikuti dengan siswa lain yang menghantam anggota tubuhnya yang lain. Singkat kata, Chanyeol benar-benar babak belur dihabisi oleh siswa berjumlah tujuh orang itu tanpa ampun,bahkan Chanyeol tak lagi harus dipegangi tubuhnya karena namja itu sudah tidak dapat bergerak lagi.

Seorang yeoja dari tadi bersembunyi di balik tembok, sedikit meringis melihat namja yang pernah begitu digilainya kali ini mulai tidak berdaya dengan hantaman, pukulan, dan tendangan bertubi-tubi kearahnya. Namun begitu mengingat semua sikap kasar Chanyeol padanya, yeoja itu membuang rasa kasihannya jauh-jauh. Ia memang menjadi otak dibalik peristiwa ini. Memanfaatkan kekalahan tim basket SMA Bullet Proof untuk menyalurkan rasa balas dendamnya juga. Dan dengan wajah secantik itu, tak butuh waktu lama menyuruh para namja itu untuk menghabisi seorang namja bernama Park Chanyeol. Lalu sang yeoja memilih keluar dari persembunyiannya.

Yeoja itu mulai mengambil satu balok kayu yang tergeletak di tanah, lalu menyuruh siswa – siswa suruhannya tadi untuk berhenti menggebuki Chanyeol yang sudah tidak berdaya dengan sekujur tubuh yang sudah dipenuhi luka lebam dan darah.

"Annyeong Chanyeol oppa" sapanya dengan senyuman manis, namun bagi Chanyeol itu adalah senyuman paling mengerikan sepanjang hidupnya.

Chanyeol hanya bisa terbatuk dan darah segar keluar dari mulutnya.

Senyuman di wajah yeoja itu berubah menjadi seringai yang membuat ekspresinya terlihat semakin mengerikan. Dan…

BUG!

Balok kayu menghantam pinggang Chanyeol membuat namja itu kembali memuntahkan darah sebelum akhirnya tersungkur di tanah dan kehilangan kesadaran.

Siswa-siswa itu menatap sang yeoja tidak percaya. Karena di perjanjian awal, mereka hanya disuruh untuk membuat Chanyeol babak belur saja, tidak sampai membuatnya sampai kehilangan kesadaran seperti itu. Mereka menatap tubuh Chanyeol ketakutan, dan mulai berlari meninggalkan tempat itu. Sang yeoja pun mulai dihinggapi rasa takut, menjatuhkan balok kayu dari tangannya yang bergetar, sebelum akhirnya juga pergi.

XOXO

Di alam bawah sadarnya, Chanyeol merasakan dingin yang begitu menusuk dan rasa sakit yang sangat luar biasa. Ia juga merasakan butiran-butiran salju yang lembut yang menghujani tubuhnya yang terasa begitu kaku.

Cukup lama Chanyeol merasa begitu tersiksa dalam keadaan seperti itu, sampai akhirnya rasa sakit kembali berganti dengan rasa hangat. Karena seseorang kembali memeluknya.

Seorang yeoja dengan aroma permen kapas manis.

Samar-samar ia masih mendengar suara lirih dari sang yeoja,

"Chanyeol ah.. Bangun.. Hiks.."

"Aku mencintaimu.. Hiks.. Kumohon bertahanlah.. Hiks.."

"Aku sungguh-sungguh mencintaimu…"

Sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Annyeong readerdeul~~~~

Author geje is back again… Iya deh author tau updetan kali ini lelet lagi. Dan kayaknya reader juga bosan dapat ucapan maaf dari author terus.. sayangnya author yang gak pernah bosen buat minta maaf ke kalian..:p

Mianhae… jeongmal mianhae…. :') /bow sedalam2nya/

Author pengen curcol boleh gak? Kalo gak boleh yaudah diskip aja curcolan ini X'D

/Curcol part : bagi author /ceileh/ ini adalah salah satu chapter tersulit yang author tulis untuk ff ini.. author berkali2 ngetik terus diapus lagi terus ngetik lagi terus hapus lagi, saking author ngerasa kalo chapter ini gak jelas bangeettt X'D tapi moga reader bisa memahami apa yang author ingin sampaikan lewat chapter ini.. terutama dari sudut pandang chanyeol.. kalo misalnya reader masih merasa kurang jelas sama scene2 lain di ff ini, boleh deh ditanyain di kotak review ;)) / end of curcol

Okaayyy, author juga mo ngucapin jeongmal kamsahamnida sedalam2nya buat readerdeul terkece yang paling author sayang yang udah berbaik hati meninggalkan reviewnya di chapie kemarin,

anaknya cabe, artiosh, nova. k, ByunViBaek, neli amelia, Cheryn Byun, dandelionleon, cheonsa92, lilly, rimEchan, narsih556, indrisaputri, Yulyul, leon, xanyeol, MbemXiumin, 1004baekie, byunkaebb, queenbrilliant57, Guest, BaebyYeolliePB, ParkByun, Hanbyeol267, pzsehun27,BF, h luv, anoncikiciw, byunnie, Ahn Seul Chanbaek,AnggyeEXOnBTS, Guest, Nayunda, geum hee, Taman Coklat, Sniaanggrn, parkbaekyoda92, Guest, nur991fah, vivinovi38, ChanBaek98, baekyeol, Nanas RabbitFox, theonygilda, nengsofiah. latifah, SyiSehun, RieYuri, ChanBaekLuv, ICHA, Danti613, ariviavina6, parkchanni, cbyunb, PrincessAvenAvengeline, yshin, anisnurcho, kim. J. hae. 77, Marhamah826

Review kalian semangat untuk author untuk melanjutkan ff ini^^ gomawo untuk semangatnya dan juga masukannya yaa^^ muah muaahh :* /kisseu pake bibir bias kalian masing2/

Buat nova. k, nee gak apa2 kok, justru kalo semakin banyak diprotes author akan semakin terpacu buat melanjutkan ff ini X'DD #plak!

Buat lilly , selamaaattt! Kamu menjadi reader dengan komen terBAPER di chapie kemarin XDDD

Buat leon, gomawo untuk masukkannya ya.. nee, author akan berusaha untuk menjadi author yang lebih profesional lagi^^

Buat pzsehun27, nihh.. author udah updet sehabis kamu UN kan? XDD Semoga bisa mendapatkan hasil yang terbaik yaaa^^

Buat RieYuri, miaann.. tapi koko itu panggilan author buat Lay kalo di rumaahhh XDDD #plak!

Buat BaekYeol yang bahagia banget namanya ditaruh di paling depan X'D, hey heeyy.. iyaaa gak apa2 kok kamu gak follow dan like ff ini.. asal kamu review aja author udah seneng^^

Buat AnggyeEXOnBTS, miaann authornya katrok jadi gak punya bbm X'DD /bow 180derajat/

Buat new readers, annyeong~~^^ salam kenal yaa.. semoga chapter demi chapter di ff ini gak mengecewakan kalian^^

Buat silent readers, seperti biasa author tunggu reviewnya^^

YOOSSHHHH~~~

Sekian cuap2 dari author…

Jaljayo~~^^

p.s : author minta recommend ff2 bagus di ffn dung :3 ff kalian sendiri juga gpp deh^^