Title : Kyungsoo Diary

Author : Purple Unicorn

Cast(s) : Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

Park Chanyeol as Park Chanyeol

Do Kyungsoo as Do Kyungsoo

Park Jungsoo as Chanyeol's appa

Kang sora as Chanyeol's umma

Park Yoora as Chanyeol's nuna

Cho Kyuhyun as Byun Kyuhyun (Baekhyun's appa)

Lee Sungmin as Baekhyun's umma

Huang Zitao as Byun Zitao (Baekhyun's dongsaeng)

Luhan as Luhan

Kim Jongdae as Kim Jongdae

Cameo : Zhang Yixing as Dokter Zhang

Shim Changmin as Changmin seonsaengnim

Pairing(s) : ChanBaek, ChanSoo, slight!KyuMin, slight!TeukSo

Rating : PG-13

Disclaimer : semua cast di ff ini bukan milik author yaa XD

WARNING : genderswitch, typo everywhere, also ChanSoo scene in first part of this chapter. If you don't like it, you can skip it if you want. Thanks ^_^

a/n : I'm sorry, it's really a bad story. Enjoy my ff~~^^

oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter XVII – My Wish

Chanyeol tak lagi berada di sebuah taman dengan bunga bermekaran, namun sekarang ia berdiri di hamparan pasir putih yang sangat halus. Ia berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya menemukan laut biru yang sangat indah. Ia memandang takjub dan terus mendekati laut biru itu, hingga ia berada di tepi.

"Chanyeolie…"

Chanyeol segera mengalihkan pandangannya pada suara familiar, namun sudah lama tidak ia dengar. Suara yang begitu ia rindukan.

Seorang yeoja mengenakan blouse warna putih tersenyum dan berjalan kearahnya.

Senyum dari bibir berbentuk hati.

Do Kyungsoo.

"K-Kyung-Kyungsoo yah…"

"Ne…" Kyungsoo terus tersenyum. Chanyeol langsung berlari dan memeluk Kyungsoo sebelum Kyungsoo sempat menghampirinya. Ia memeluk yeoja itu begitu erat, sampai Chanyeol bisa merasakan aroma stroberi lembut yang begitu terasa, yang juga sudah lama begitu dirindukannya.

"K-kyungsoo yah… Kyungsoo yah…" lirih Chanyeol sambil terus memeluk Kyungsoo.

"Chanyeolie" Kyungsoo melepas pelukannya lalu menatap wajah Chanyeol, mengelus pipinya. Senyum di bibir heart-shapednya berubah manyun saat menyadari sesuatu, "Ugh.. Kau terlihat begitu kurus, Chanyeolie. Aku tidak menyukainya"

"Tapi kau terlihat begitu cantik. Dan aku menyukainya"

Ya, Kyungsoo yang dilihat Chanyeol sekarang seperti Kyungsoo yang dilihatnya saat pertama kali bertemu dengan sang yeoja. Tidak ada lagi wajah begitu pucat dan bibir membiru akibat menahan sakit, yang ada hanya raut wajah bahagia di wajah cantiknya, kecantikan yang membuat Chanyeol jatuh cinta padanya.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum malu dan mengajak Chanyeol untuk duduk, menghadap laut biru yang tenang.

Keduanya terdiam, seperti tidak ingin menganggu ketenangan laut biru di hadapan mereka itu. Ada banyak yang Chanyeol ingin bicarakan pada Kyungsoo sebenarnya. Namun ia memilih untuk diam, apalagi saat Kyungsoo mulai mendekat padanya dan menyenderkan kepalanya di pundak Chanyeol, kemudian memejamkan matanya.

Chanyeol hanya tersenyum dan ikut memejamkan matanya.

'Andwaeyo… It's my turn to cry… Naega halgeyo… geudaeui nunmul moa…'

Chanyeol mendengar suara Kyungsoo yang sedang bernyanyi dengan begitu merdu, setelah keduanya terdiam untuk beberapa saat. Ia mengernyitkan keningnya bingung, karena lagu itu juga pernah ia dengar dalam mimpinya, saat seorang yeoja dengan aroma permen kapas manis memeluknya dan menenangkannya dalam tangis. Ia lalu membuka matanya saat Kyungsoo tak lagi menyenderkan kepala di pundaknya. Yeoja manis itu menatap Chanyeol sekarang.

"Chanyeolie…"

"Ne?"

Pandangan Kyungsoo kembali mengarah ke laut biru di hadapannya, namun Chanyeol tetap menatap Kyungsoo, merasakan ekspresi sang yeoja mulai berubah menjadi kelam.

"Apa aku salah jika aku meminta sahabatku sendiri untuk menggantikan posisiku untuk mencintaimu?"

Chanyeol mengatupkan rahangnya rapat. Merasakan ketenangan diantara mereka berdua rusak begitu saja akibat pertanyaan Kyungsoo barusan.

"Kalau kau diam berarti iya" mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca, namun pandangannya masih tetap mengarah ke laut biru.

"Ya, kau memang salah. Jika saja kau tidak menyuruh Baekhyun untuk melakukan hal itu…" Chanyeol terdiam sesaat merasakan denyut sakit di dadanya yang menyeruak entah karena apa "… T-tolong beritahu aku, kenapa kau meminta hal itu padanya?"

Air mata mulai berjatuhan di pipi Kyungsoo, namun ia masih berusaha tersenyum, "Karena dia mencintaimu"

"Bagaimana kau tahu? Bagaimana kau tahu kalau dia mencintaiku?" Chanyeol semakin mengatupkan rahangnya menahan emosi, sekaligus menahan tangis.

Pandangan Kyungsoo kembali teralih ke Chanyeol, dan yeoja itu meletakkan tangannya di dada sang namja, "Disini… Hatimu mengatakan itu semua padaku."

"Tidak Kyungsoo yah…" Chanyeol masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika Baekhyun tak benar-benar mencintainya meskipun dalam hatinya mulai berteriak sebaliknya. Saat itu juga langit biru yang sangat indah mulai tertutup awan hitam tebal dan angin bertiup dengan kencang. Laut biru yang tadinya tenang juga mulai berubah menjadi mengerikan karena ombak yang begitu bergejolak ditambah gemuruh yang mulai bersahutan.

Kyungsoo langsung beranjak dari tempatnya duduk, "Chanyeolie aku harus pergi."

"A-andwae!" Chanyeol ikut beranjak dari sana dan menarik tangan Kyungsoo menahannya untuk pergi, "Aku ikut denganmu"

"Tapi kita harus berpisah sekarang, Chanyeolie," Kyungsoo berusaha melepaskan genggaman Chanyeol di tangannya.

"Kumohon jangan tinggalkan aku lagi," pinta Chanyeol bersamaan dengan gemuruh di langit.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Chanyeol, "Chanyeolie dengarkan aku… Kau harus kembali."

"T-tapi-"

Chup…

Kyungsoo mengecup bibir Chanyeol cepat membuat namja itu terdiam seketika, "Ada banyak orang yang begitu menyayangimu disana, appamu, ummamu, dan Yoora unnie. Dan seseorang… Seseorang yang begitu mencintaimu. Yang rela melakukan apa saja asalkan kau bahagia. Seseorang yang tak kau sadari sudah mengembalikan patahan-patahan hatimu menjadi bentuk yang utuh. Seseorang… yang menangis dalam doanya, berharap agar kau segera kembali. Agar ia bisa mengatakan padamu, bahwa ia begitu mencintaimu…"

"K-kyungsoo yah…" Chanyeol tak menyadari bahwa air matanya mengalir deras jika Kyungsoo tidak menghapusnya.

"Berjanjilah padaku Chanyeolie… Bahwa kau akan melanjutkan hidupmu dengan begitu bahagia, tanpa ada kesedihan dan rasa sakit karena kehilanganku lagi…"

Chanyeol masih terus menangis namun ia menganggukkan kepalanya, "Ne Kyungsoo yah. Tapi tolong jangan pernah menyuruhku untuk menghapusmu dari hatiku dan pikiranku. Kau akan selalu berada disana."

Kyungsoo tersenyum, "Aku mengerti… Oh, dan satu hal lagi… Dengarkan kata hatimu, jangan pernah melawannya"

Chanyeol belum sempat menjawabnya, karena tiba-tiba ombak besar sudah menghantamnya, membuatnya tenggelam ke dasar laut yang sangat dalam. Nafasnya begitu sesak dan ia ingin berteriak karena rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba menghujam tubuhnya lagi.

Dalam rasa sakitnya ia kembali teringat oleh aroma permen kapas manis yang begitu menenangkannya, dan kehangatan yang ia rasakan di tubuhnya saat yeoja itu memeluknya dengan erat.

Baekhyun.

Byun Baekhyun.

Chanyeol menyebutkan nama itu dengan begitu lirih, sebelum akhirnya semuanya kembali menjadi gelap.

XOXO

Baekhyun berlari dengan kencang menuju ruang ICU, meskipun ia sadar rumah sakit tidak mentolerir sama sekali jika seseorang berbuat keributan disana. Tapi ia tak peduli, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Chanyeol yang sekarang dalam keadaan kritis. Ya, nuna Chanyeol memang menelponnya tadi lewat nomor handphone Chanyeol, bahwa Chanyeol kembali berada dalam kondisi kritis. Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa nuna Chanyeol langsung memberitahunya, dan saat itu juga Baekhyun yang baru saja selesai dari penampilannya dan berada di belakang panggung langsung meminta appanya untuk mengantarnya ke rumah sakit, dan sebelumnya meminta maaf ke Changmin seonsaengnim dan Jongdae karena tidak bisa menghadiri acara saat pengumuman pemenang.

Baekhyun mengatur nafasnya saat sudah sampai di pintu emergency room yang masih tertutup rapat, menandakan bahwa Chanyeol masih ditangani oleh dokter disana, dan seperti Baekhyun sudah bayangkan, umma Chanyeol ada disana, kali ini duduk dan menangis di pelukan appa Chanyeol, dan nuna Chanyeol yang sedang memejamkan mata dan mengaitkan jemari tangannya, seperti sedang berdoa.

"Annyeonghaseyo tuan Park, nyonya Park, Yoora unnie…" sapa Baekhyun, ketiganya langsung menatap Baekhyun dan membuat Baekhyun terdiam canggung.

"Baekhyun, syukurlah kau sudah datang. Maaf jika aku mengganggumu tadi" Yoora langsung menyuruhnya duduk disebelahnya.

"G-gwenchana unnie."

"Baekhyun. Apa kau yang bernama Byun Baekhyun?" tanya appa Chanyeol, Jungsoo, dan membuat Baekhyun terkejut, karena baru kali ini appa Chanyeol itu mengajaknya berbicara.

"N-ne tuan Park." Baekhyun mengangguk.

"B-baekhyun… Chanyeol sempat mengigau dan menyebut namamu tadi, sebelum kembali dalam keadaan kritis" kali ini umma Chanyeol, Sora, yang berbicara sambil terisak.

"N-namaku?" Baekhyun melebarkan matanya tak percaya.

"Ne. Dia memanggil namamu berulang kali, Baekhyun. Ajumma pikir, Chanyeol sudah sadar. Namun kenyataan berkata sebaliknya. Hiks…" Sora umma kembali menangis, dan Jungsoo appa langsung menenangkannya lagi.

"Karna itulah aku menelponmu, Baekhyun" tanggap Yoora.

Baekhyun masih terdiam tak percaya. Bagaimana bisa Chanyeol menyebut namanya di alam bawah sadarnya, bukan menyebut nama Kyungsoo. Yeoja yang setahu Baekhyun masih belum bisa menghilang dari pikiran Chanyeol.

Beberapa saat kemudian, Kyuhyun appa, Sungmin umma, dan Zitao menghampiri ruang ICU, dan Baekhyun langsung menghampiri sang umma dan menangis di pelukannya. Meskipun masih belum mengenal satu sama lain, keluarga Byun menyampaikan rasa iba mereka atas apa yang terjadi dengan Chanyeol.

Mereka semua terdiam, terlarut dalam doa mereka masing-masing, berharap pada Tuhan agar Park Chanyeol yang begitu mereka sayangi segera sadar dan diberikan kesembuhan.

Pintu emergency room akhirnya terbuka, dan dokter Zhang kembali keluar dari sana dengan melepas maskernya. Namun senyuman nampak di wajahnya, seakan telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik.

"Dokter Zhang…" Jungsoo appa, langsung berdiri dan menghampiri dokter Zhang. "Bagaimana keadaan putra kami? Dia baik-baik saja bukan?"

Semua yang ada disana menatap dokter Zhang, berharap kabar baik yang akan segera mereka terima sesaat lagi.

Isak tangis kembali terdengar di ruangan itu, namun bukan tangisan menyayat hati yang terdengar, namun itu adalah isak tangis bahagia, saat dokter Zhang tersenyum dan berkata,

Chanyeol telah berhasil melewati masa kritisnya.

XOXO

Baekhyun harus menunggu beberapa jam sebelum Chanyeol kembali dipindahkan ke kamar 1992, dan menunggu giliran untuk menjenguknya. Ia sudah meminta appa, umma, dan sang adik untuk pulang terlebih dahulu, membiarkan ia sendiri saja yang menjenguk Chanyeol. Zitao sempat menyeringai dan berbisik kepadanya sebelum pergi tadi, "Unnie, saat pulang nanti, kami tunggu di ruang tamu, dan kau harus menceritakan semua tentang namja itu padaku, appa, dan umma. Jika tidak, tongkat wushu melayang" "Pffftttt"

"Baekhyun ah, kau boleh masuk" kata Yoora, yang baru saja keluar dari kamar tempat Chanyeol dirawat. Appa dan umma Chanyeol masih berada di ruangan dokter Zhang, membicarakan tentang kondisi kesehatan Chanyeol dan terapi selanjutnya, sehingga hanya Baekhyun saja yang ada di kamar rawat Chanyeol saat ini.

Bip.. Bip.. Bip…

Suara monitor detak jantung kembali terdengar dan aroma khas rumah sakit tercium semakin menyengat. Baekhyun kembali melihat Chanyeol yang terbaring di tempat tidur, dengan jarum infus terpasang di tangannya dan masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya. Samar-samar luka lebamnya mulai sedikit menghilang, meskipun luka jahit masih terlihat di beberapa bagian di tubuhnya.

Namun yang berbeda kali ini adalah, mata Chanyeol yang sudah terbuka, meskipun rasanya seperti terasa sangat berat bagi namja itu untuk mengedipkan matanya. Mungkin karena efek obat anestesi yang masih bekerja di tubuhnya, sehingga namja itu masih terlihat begitu mengantuk. Namun Baekhyun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, karena namja yang begitu dicintainya itu sudah kembali ke kesadarannya.

Langkah Baekhyun terhenti saat Chanyeol mulai menyadari kehadirannya disana. Ia menatap tepat ke arah Baekhyun dan kembali mengedipkan matanya yang lagi-lagi masih terasa begitu berat. Ada sedikit rasa ragu di hati Baekhyun, namun saat teringat kata umma Chanyeol tadi, bahwa Chanyeol sempat menyebut namanya saat dalam kondisi tidak sadar, yeoja itu menyingkirkan rasa ragunya dan langsung duduk disebelah tempat tidur Chanyeol.

Ia tak kuasa lagi menahan air matanya saat menyadari bahwa Chanyeol masih menatapnya.

"Annyeong Chanyeol ah…" Baekhyun berusaha menyapa Chanyeol, dan Chanyeol tidak bisa membalasnya. Mungkin karena tubuhnya masih terasa lemas, pikir Baekhyun. Hanya saja tangan Chanyeol tiba-tiba bergerak, seperti ingin meraih tangan Baekhyun, dan Baekhyun langsung meraihnya dengan kedua tangannya.

Baekhyun menarik nafas dalam, sambil berusaha memberikan kehangatan di tangan Chanyeol yang masih terasa begitu dingin. Dalam hati ia sudah ingin berkata pada Chanyeol bahwa ia begitu mencintainya.

"Chanyeol ah…" Baekhyun kembali memanggil Chanyeol, namun kedipan mata sang namja semakin berat, hingga akhirnya namja itu kembali tertidur. Baekhyun terkekeh dalam tangisnya, dan kembali mengecup tangan Chanyeol, walaupun pernyataan cintanya harus tertunda untuk saat ini.

"Tuhan, terima kasih karena Kau telah mengembalikan seseorang yang begitu aku cintai."

XOXO

Baekhyun sudah merindukan tempat tidurnya yang begitu nyaman saat pulang nanti, karena jujur saja ia merasa begitu lelah. Ia baru sampai di rumah saat malam hari. Namun Kyuhyun appa, Sungmin umma, dan Zitao sudah duduk manis di ruang tamu dengan wajah begitu serius seperti sudah siap menginterogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar siapa Park Chanyeol dan ada hubungan apa dia dengan Baekhyun.

Singkat cerita, wajah Baekhyun benar-benar memerah seperti kepiting rebus saat akhirnya ketahuan sudah menyimpan rasa pada seorang namja bernama Park Chanyeol itu.

"Wah, appa Chanyeol itu tampan, pasti Chanyeol nya juga tampan kan?" kata Sungmin umma dengan wajah berbinar-binar, disambut dengan death glare mematikan dari Kyuhyun appa.

"Sungminie…"

"Oops.. Tapi bagiku Byun Kyuhyun yang lebih tampan" kata Sungmin umma dan langsung mengecup pipi Kyuhyun appa, walaupun Kyuhyun appa masih terlihat memanyunkan bibirnya.

"Huu umma, pelatih wushuku juga tampan seperti Chanyeol oppa. Jadi umma harus segera menyetujui hubungan kami" rengek Zitao, yang ternyata masih terkendala restu sang umma untuk mengejar cinta sang pelatih wushu.

"Andwae! Pokoknya kau harus seperti unniemu kalau mencari namjachingu. Percuma tampan kalau pekerjaannya tidak mapan"

Keluarga itu berdebat hingga malam walaupun lebih banyak diselingi oleh canda tawa. Dalam hati, Baekhyun begitu bahagia, karena sudah lama juga keluarganya tidak berkumpul seperti ini, dan sudah lama pula ia dan sang adik tidak mencurahkan isi hati mereka ke umma dan appa mereka.

Waktu sudah menunjukkan hampir larut malam, Kyuhyun appa dan Sungmin umma menyuruh Baekhyun dan Zitao untuk segera tidur karena besok mereka harus kembali ke sekolah. Setelah mencium kedua pipi appa dan ummanya, Baekhyun kembali ke kamarnya, mengecek handphonenya dan terkejut karena ada sekitar 15 missed call dan itu semua dari Jongdae.

"Aigooo apa Jongdae oppa ingin memberitahuku tetang pengumuman pemenang tadi?" kata Baekhyun yang jantungnya langsung berdegup dengan kencang karena dirundung rasa penasaran. Namun saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jongdae, karena mungkin sunbaenimnya itu sudah tidur.

"Hufff.. Masih ada hari esok," Baekhyun memanyunkan bibirnya. Ia kembali terlonjak kaget saat handphonenya berdering, dan ternyata Jongdae kembali menelponnya.

"Yeob-yeoboseyo oppa" Baekhyun tergagap saking kagetnya.

"Baekhyunie, akhirnya aku bisa menghubungimu juga. Bagaimana keadaan Chanyeol?" tanya Jongdae yang terdengar begitu panik. Baekhyun tersenyum karena orang pertama yang ditanyakan Jongdae adalah Chanyeol.

"Dia sudah sadar oppa, walaupun kondisinya masih begitu lemah."

"Syukurlah." Jongdae menghela nafas lega, "Ah ngomong-ngomong maaf karena aku menghubungimu selarut ini. Aku daritadi begitu mengkhawatirkanmu"

"Mian oppa sudah membuatmu khawatir. Aku tidak sempat mengecek handphoneku tadi."

"Ne gwenchana, Baekhyunie. Yang penting semua sudah baik-baik saja"

"Ne oppa… Eum… Ngomong-ngomong B-bagaimana hasil pengumuman kompetisi duet tadi?" tanya Baekhyun gugup.

"Hufff…" Jongdae menghela nafas panjang, "Maaf aku harus memberitahu ini tapi…"

"N-ne?"

"Changmin seonsaengnim melarangku untuk memberitahukannya padamu. Kau dan aku harus menemuinya di ruang musik besok agar kau bisa mengetahui hasilnya"

"Oppa…" Baekhyun memanyunkan bibirnya, "Tidak usah pedulikan Changmin seonsaengnim. Tolong beritahu aku hasilnya…"

Jongdae terkekeh, "Aku minta maaf Baekhyunie. Tapi aku benar-benar tidak bisa memberitahumu."

"Jongdae oppa pelit! Huuu…"

Jongdae terkekeh semakin kencang, "Selamat malam Baekhyunie".

Dan Baekhyun semakin memanyunkan bibirnya. Namun entah kenapa mendengar kekehan Jongdae tadi sedikit membawa harapan positif baginya.

XOXO

Keesokan harinya di SMA Black Pearl…

Baekhyun melangkah dengan riang saat memasuki gerbang sekolah. Dan saat itu juga ia berpapasan dengan seorang yeoja yang menangis dengan begitu tersedu sambil dipapah oleh kedua orang tuanya, dibelakangnya ada kepala sekolah yang hanya memasang wajah datar mengantar kepergian keluarga itu. Baekhyun ingat bahwa yeoja itu adalah yeoja yang sempat mendekati Chanyeol beberapa kali, meskipun Chanyeol menolaknya. Dan ia juga tahu, kalau yeoja itu merupakan salah satu siswa yang bertanggung jawab dalam peristiwa pemukulan Chanyeol beberapa hari yang lalu.

Baekhyun sempat mendengar beberapa orang siswa yang berbisik pelan, "Sayang sekali. Joohyun sshi akhirnya dikeluarkan dari sekolah." "Padahal ia adalah siswi paling cantik disini. Ternyata ia begitu kejam", dan kalimat-kalimat cibiran lainnya.

Baekhyun merasakan kelegaan dalam hatinya, yeoja itu sepertinya pantas menerima hukuman seperti itu. Dan setidaknya yeoja itu tidak lagi menampakkan dirinya di sekolah untuk mencelakai Chanyeol.

"Tapi kasihan juga sih…" gumam Baekhyun.

"Kasihan apanya Baby Baekie? Dia sudah sampai membuat Chanyeol dalam keadaan koma, dan dia pantas menerimanya," tiba-tiba Luhan sudah ada disamping Baekhyun dan melingkarkan tangannya di pundaknya.

Baekhyun melepaskan lingkaran tangan Luhan di pundaknya, lalu mencubit pipi sahabatnya itu, "Seharusnya kau juga dikeluarkan dari sekolah ini" kata Baekhyun yang wajahnya mendadak berubah jadi serius.

"Baby Baekie~ Kan aku sudah meminta maaf padamu. Dan kau juga sudah memaafkanku kan?" rengek Luhan, "Kalau aku dikeluarkan dari sekolah ini, lalu aku harus sekolah dimana lagi? Huhuuu… Dan… dan aku juga tidak bisa bertemu dengan Sehun-ku."

"Mworago?"

"A-aniyo!" Luhan langsung menutup mulutnya, saat menyadari kalau ia sudah kelepasan berbicara.

"Kau tadi bilang apa? Sehunku?" namun pendengaran Baekhyun yang tajam membuat Luhan semakin mati kutu.

"Aniyo!"

"Sehunku? Apa maksudmu Lulu? Kau sudah jadian dengannya eoh?" tanya Baekhyun penasaran.

Luhan langsung melesat meninggalkan Baekhyun yang langsung mengejarnya. Pagi-pagi seperti ini kedua yeoja itu sudah membuat keributan di lapangan sekolah, namun setidaknya persahabatan mereka kembali terjalin dan keduanya berjanji untuk terus menjaga persahabatan mereka yang tak tergantikan.

XOXO

Sehabis pulang sekolah, Baekhyun dan Jongdae langsung menemui Changmin seonsaengnim di ruang musik. Ia sudah begitu penasaran tentang pengumuman hasil pemenang kompetisi duet kemarin, meskipun sebenarnya ia sudah ingin buru-buru pulang agar bisa kembali menjenguk Chanyeol.

Jongdae terlihat tersenyum lebar saat Baekhyun baru saja sampai disana, tangannya tersembunyi di belakang, seperti menyembunyikan sesuatu disana. Sementara itu Changmin seonsaengnim ikut tersenyum walaupun di mata Baekhyun terlihat seperti menyeringai.

"Akhirnya murid satu ini datang juga" kata Changmin seonsaengnim sambil berjalan ke arah Baekhyun.

Baekhyun langsung tersenyum canggung dan menundukkan wajahnya, namun tiba-tiba Changmin seonsaengnim menjabat tangannya dan memberikan ucapan selamat.

"Chukkahamnida Byun Baekhyun."

"E-eh?" bingung Baekhyun. Dan Jongdae langsung mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya, sebuah piala yang cukup besar kali ini berada di tangannya, dan disana tertulis bahwa mereka memenangkan kompetisi duet tersebut dan berhasil meraih peringkat pertama.

"S-seonsaengnim? Oppa?" Baekhyun masih terlarut dalam kebingungannya saat Jongdae menyerahkan piala itu padanya.

"Ne, kita akhirnya memenangkan kompetisi ini Baekhyunie. Terima kasih karena kau telah berlatih begitu keras" kata Jongdae oppa sambil tersenyum.

Baekhyun tersenyum haru dan rasanya ingin memeluk Jongdae saat itu juga, namun ia tersadar masih ada Changmin seonsaengnim disana, dan akhirnya ia hanya bisa memeluk pialanya. Mengucapkan syukur berulang kali, berterima kasih pada Tuhan atas semua kebahagiaan yang datang padanya tanpa henti.

"Baiklah, tahan dulu perayaan kemenangannya. Sekarang seonsaengnim ingin berbicara pada kalian berdua. Silahkan duduk" kata Changmin seonsaengnim. Jongdae dan Baekhyun langsung duduk di sofa di hadapan Changmin seonsaengnim yang saat ini memasang wajah serius. Dua amplop diletakkannya di meja, dan ia mengambil salah satunya.

"Jongdae ssi"

"Ne seonsaengnim?"

"Kau sempat bingung kan kenapa aku menyuruhmu untuk mengikuti kompetisi duet itu meskipun sebentar lagi kau akan menghadapi ujian akhir?"

Jongdae menganggukkan kepalanya. Changmin seonsaengnim tersenyum lalu menyerahkan amplop itu ke Jongdae.

"Buka amplop itu sekarang" perintah Changmin seonsaengnim. Rasa gugup mulai menyelimuti Jongdae, apalagi saat melihat nama Seoul Institute of The Arts yang tertera di amplop itu, salah satu universitas terbaik di Seoul yang terkenal dengan berbagai macam jurusan seninya.. Ia mengambil surat dari amplop itu dengan tangan bergetar, sebelum kemudian membacanya.

"B-Beasiswa?" mata Jongdae terbelalak lebar, diikuti Baekhyun disebelahnya yang ikut-ikutan membelalakkan matanya. Changmin seonsaengnim terkekeh melihat ekspresi kedua siswanya itu.

"Ne Jongdae ssi. Itulah alasanku untuk mengikutkanmu di kompetisi itu. Karena pemenangnya akan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di universitas itu. Kau adalah salah satu murid terbaikku, dan aku rasa aku harus memberikan beasiswa ini ke murid yang tepat."

Jongdae tak mampu lagi berkata apa-apa, karena sejujurnya berkuliah disana merupakan salah satu keinginan terbesar Jongdae, namun ia tahu ujian masuk untuk memasuki universitas itu sangat sulit. Dan sekarang ia telah mendapatkan beasiswa, bagaikan mendapat tiket masuk gratis untuk melanjutkan sekolahnya disana. "K-kamsahamnida seonsaengnim. Jeongmal kamsahamnida" Jongdae membungkukkan badannya berulang kali, merasa begitu bahagia dan bersyukur.

"Chukkahamnida oppa~" kata Baekhyun sambil bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Jongdae. Dalam hati ia juga merasa begitu bahagia, karena ia menjadi bagian dalam kemenangan Jongdae. Satu tugasnya untuk membuat orang lain bahagia karenanya, kembali tercapai.

"Dan kau Baekhyun ssi"

"N-ne seonsaengnim?" Baekhyun menghentikan tepuk tangannya saat Changmin kembali memasang wajah serius dan kali ini menatap kearahnya. Tangannya meraih satu amplop yang masih tersisa di meja.

"Sebenarnya… Kau juga mendapat beasiswa ini"

"JINJJA SEONSAENGNIM?!" mata Baekhyun yang sudah terbelalak lebar akibat beasiswa Jongdae tadi semakin terbelalak lebar karena ternyata Baekhyun mendapatkan beasiswa itu juga sambil berteriak.

"Baekhyun ssi" Changmin seonsaengnim langsung mendeathglare Baekhyun dan seketika Baekhyun langsung menciut dan menutup mulutnya rapat.

"Sayangnya…"

Baekhyun mulai melengos kecewa di kursinya.

"Kepala sekolah memberitahuku kalau aku tidak bisa begitu saja memberikan beasiswa ini padamu. Kau harus belajar dengan giat dan menjadi siswa yang rajin, dan satu hal lagi yang paling penting, kau tidak boleh lagi terlambat. Baru aku bisa memberikan beasiswa ini padamu saat kau sudah lulus nanti."

"Ne algesseumnida seonsaengnim" Baekhyun memanyunkan bibirnya kecewa. Tapi setidaknya itu bisa menjadi salah satu motivasi baginya untuk menjadi siswa yang lebih baik lagi kedepannya.

Usai memberikan lagi beberapa nasihat pada Jongdae dan Baekhyun, terutama bagi Jongdae yang beberapa hari lagi sudah harus menghadapi ujian akhir, akhirnya Changmin seonsaengnim pamit untuk pulang, menyisakan Jongdae dan Baekhyun berdua saja di ruang musik.

"Jongdae oppa~ Sekali lagi selamat~"Baekhyun tak dapat lagi menahan dirinya untuk memeluk Jongdae dengan begitu erat, sampai rasanya Jongdae tidak bisa bernafas. Namun Jongdae hanya terkekeh dan balas memeluk Baekhyun erat.

"Gomawo Baekhyunie. Jeongmal gomawoyo"

"Aku yang harusnya berterima kasih oppa. Jika tidak karena oppa yang menunjukku sebagai partner duetmu, aku tidak akan merasakan kebahagiaan seperti ini sekarang."

"Aniyo. Aku yang benar-benar harus berterima kasih padamu. Jika tidak karena kau yang berlatih begitu keras, aku juga tidak akan merasakan kebahagiaan seperti ini. Dan juga beasiswa itu, aigoo rasanya aku masih belum begitu percaya"

Baekhyun melepaskan pelukannya dan tersenyum begitu manis di hadapan Jongdae, "Bukan aku saja yang berlatih dengan keras, tapi kau juga berlatih dengan keras, oppa."

"Ne…" Jongdae terkekeh dan kembali mengacak rambut Baekhyun. Mereka berdua memang berlatih begitu keras, dan terbayarkan dengan peringkat pertama di kompetisi duet antar sekolah, sehingga kembali menyumbang prestasi lain untuk SMA Black Pearl.

"Oppa, aku pasti akan merindukan saat-saat berlatih denganmu. Dan sebentar lagi kau juga akan lulus, aku pasti akan benar-benar merindukanmu," ujar Baekhyun. Ekspresi cerianya berubah menjadi sedih.

"Aku juga akan merindukanmu, Baekhyunie," jawab Jongdae, berusaha tersenyum walaupun sebenarnya ia juga merasa sedih jika harus berpisah dengan Baekhyun nantinya.

"Oppa, aku dengar di universitas itu yeojanya cantik-cantik dan beberapa adalah artis terkenal. Aku harap kau bisa bertemu jodohmu disana."

"Hahaha Baekhyunie," Jongdae terkekeh, "Aku bahkan belum kuliah disana, kau sudah berkata seperti itu.

"Perkataan itu kan doa oppa" Baekhyun memanyunkan bibirnya.

"Iya. Iya. Gomawo Baekhyunie. Dan ngomong-ngomong tentang jodoh, apa kau tidak menjenguk Chanyeol hari ini?" tanya Jongdae dan seketika wajah Baekhyun kembali memerah.

"Op-oppa… apa hubungannya jodoh dengan Chanyeol?"

"Aku tahu kau sudah tidak sabar ingin menjenguknya lagi. Cepatlah pulang. Chanyeol mungkin juga sudah menunggumu"

"N-ne oppa. Jalja~ Dan sekali lagi semangat untuk ujian akhirmu, fighting oppa!" Baekhyun mengepalkan tangannya memberi semangat untuk sunbaenim kesayangannya.

"Fighting!"

XOXO

Rumah Sakit Phoenix…

Baekhyun berdiri di depan pintu kamar 1992, dengan bunga matahari di tangannya. Senyumannya begitu lebar, berharap agar kondisi Chanyeol semakin membaik saat ia sudah menemuinya nanti. Ia mengetuk pintu kamar rawat Chanyeol sebelum masuk, dan di dalam sana ternyata ada umma Chanyeol yang sedang berusaha menyuapi Chanyeol untuk makan, namun Chanyeol menolaknya.

"Annyeong ajumma.. Annyeong Chanyeol ah…" sapa Baekhyun. Sora umma langsung tersenyum saat melihat Baekhyun dan menyuruhnya untuk duduk disebelahnya. Baekhyun membungkukkan badannya sekali lagi ke Sora umma, sebelum meletakkan bunga matahari di vas bunga yang masih kosong, dan akhirnya duduk disebelah umma Chanyeol itu.

"Baekhyun ah, lihat Chanyeol. Dari tadi dia tidak mau makan" keluh Sora umma. Kondisi Chanyeol terlihat semakin membaik, masker oksigen tidak lagi menutupi mulut dan hidungnya, namun selang infus masih terpasang di tangannya.

"Chanyeol ah, kau harus makan" pinta Baekhyun dengan wajah khawatir.

Chanyeol memasang wajah dingin dan menggelengkan kepalanya.

Sora umma dan Baekhyun sama-sama menghela nafas panjang.

"Baekhyun ah, ajumma bisa meminta tolong padamu?"

"Ne ajumma?"

"Tolong suruh Chanyeol untuk makan. Sebenarnya dari tadi ajumma sudah harus menemui dokter Zhang, dan Yoora belum datang kesini juga. Ajumma minta tolong ya?"

"Ne algesseumnida, ajumma."

Sora umma menyerahkan mangkuk berisi bubur ke Baekhyun, tersenyum padanya sebelum berpamitan untuk pergi.

"Chanyeol ah annyeong…"

"Annyeong…" balas Chanyeol dengan suara yang masih terdengar parau meskipun ia tidak menatap Baekhyun, namun Baekhyun tersenyum lebar karena Chanyeol membalas sapanya.

"Kenapa kau tidak mau makan?"

"…"

"Apa karena kau tidak suka bubur?"

"…"

"Bubur itu enak, tau tidak? Kalau bubur ini bukan buatmu, aku sudah memakan-"

"Byun Baekhyun…"

Baekhyun mendadak gugup karena tiba-tiba Chanyeol memotong semua perkataannya, memanggil namanya, dan menatapnya dengan serius.

"N-ne?"

"Apakah kau benar-benar mencintaiku?"

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Annyeong readerdeul~~~

Author datang kembali dengan ff tergaje sepanjang sejarah dunia perffan di ffn X'D /thooorrr -,,,-/

Author yakin deh pasti semuanya lagi serius mantengin te el karena sekarang lagi ada di dream concert.. heheheee…

Anywayyy, author sebelumnya mo ngucapin jeongmal kamsahamnida sedalam-dalamnya buat readerdeul yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di chapie kemarin,

artiosh, byunkaebb, Nanas RabbitFox, edifa, parkbaekyoda92, Namika Ayugai, realbaekhyunne, baekhyunina, indrisaputri, H Luv, Ajeng suhesti jung, ifhachanchan, ParkByun, BaebyYeolliePB, Lala Maqfira, Sniaanggrn, byunnie, nova. k, SyiSehun, Phyro, AnggyeEXOnBTS, 1004baekie, clouds, XYeol, cb. rala, sojuyeolb, ByunViBaek, Fionny13, parkchanni, narsih556, kthk2, MbemXiumin, Hanbyeol267, cassiewol, ariviavina6, rachel suliss, baekyiol, cheonsa92, sPARKlingYEOL, anaknya cabe, Yoni. parkbyun, nur991fah, Danti613, anisnurcho, LHR Official Couple Shipper, shelpcylulu18, RieYuri, memomy

mian belum bisa bales review readerdeul satu2 lagi huuhuu. pokoknya review kalian semangat dan motivasi untuk author untuk melanjutkan ff ini sampai ending.. sekali lagi jeongmal gomawoyo~~^^

tapi author bingung nih, kenapa beberapa readerdeul ngira kalau Chanyeol bakal amnesia? X'DD apa gara2 author demen nonton ftv? #plak! atau penjelasan yayang author (read koko lay aka dokter Zhang) yang bilang kalo Chanyeol mengalami benturan di kepala lalalala? #pletak! tapi kalau author bikin Chanyeol amnesia mah tandanya chapternya bakal lebih panjang lagi dan author makin kena writer's block dan akhirnya ff ini gak selesai2 #gedebug!

Abaikan bacotan author barusan^^

Oh iya buat H Luv, terima kasih karena sudah mengingatkan author :') Jujur sebenernya di scene itu author hanya ingin menunjukkan kalau appa Chanyeol benar-benar menyayangi Chanyeol banget, dan tau juga kan kondisi seorang ayah kalau anaknya lagi dalam keadaan seperti itu , pasti terpukul banget dan udah nggak bisa mikir apa2 lagi. Jadi author nggak bermaksud untuk nggak menganggap keberadaan Tuhan. Mungkin cara author aja yang salah dalam menyampaikan maksudnya, author minta maaf yaa..

Buat new readers, annyeong~~ salam kenal.. semoga ff ini gak membosankan^^/

Buat silent readers, author masih setia menunggu review dari kalian^^

YOOSHHH~~~

Sekian cuap2 dari author…

Jalja~~^^