A/N:gila...akhirnya chapter ini selesai juga...kira-kira udah ada 3 kali saya rewrite untuk chapter ini (helo,ada yang nanya ya?)
ok! gak usah banyak bacot lagi to the point aja okei?
Listening to : White Shadows - Coldplay (kalo saya denger lagu ini,ntah kenapa jiwa crime saya muncul)
London Skyline
Hetalia (c) Hidekaz Himaruya
London Skyline (c) shirokuro hime
.
Warning! : alur gaje dan abal-abal,typo,segala macam bacotan
.
Secangkir kopi hitam pekat tergeletak tak tersentuh di meja yang terletak di ruangan bercorak minimalis itu,disebelahnya terdapat pot bunga yang berisi bunga tulip,satu-satunya orang yang berada di ruangan itu sekarang sedang menggaruk-garuk rambut jabriknya sembari ia memijit-mijit hidungnya yang mancung bersemu merah-maklum sekarang sedang bulan -berkas menumpuk rapi disebelahnya-dan itulah sebab ia berdecak dan memijit-mijit hidungnya.
stress?ya,mungkin itulah yang ia rasakan sekarang.
Alexander Nicholas Adam van Persie memang seorang agen lapangan di MI6 namun,siapa berkata ia tidak berhadapan dengan yang namanya berkas?
"terkutuklah berkas-berkas ini..."umpatnya kesal.
Jarinya terhenti dari kegiatan mengetik di laptopnya pada saat ia mendengar suara berdebum di luar ruangannya,sedetik kemudian seorang pemuda bersurai platinum sudah berdiri di sisi pintunya-ia memakai jas hitam,iris merah darahnya menatap sekeliling ruangan sebelum ia menatap Adam yang menatapnya dengan pandangan bingung.
"Gilbert.."kata Adam sambil menutup laptopnya,dan beranjak berdiri dari kursinya-mendekati pemuda itu dan berdiri di hadapannya "ada apa?"lanjutnya.
"Arthur memanggilmu"kata Gilbert sambil bersender di sisi pintu.
Adam terdiam sejenak-mengolah kata-kata yang barusan didengarnya.
"langkah sekali seorang Arthur Kirkland memanggil seseorang,biasanya ia hanya akan menghubungiku lewat ponsel"
"berarti ada yang penting"balas Gilbert "aku duluan ya,cuma itu yang ingin kusampaikan...lagipula.. berkas-berkas brengsek itu masih menumpuk di mejaku"matanya sekarang menatap ke berkas yang menumpuk di meja Adam.
"Ok,terima kasih"
Gilbert pun menutup pintu diikuti helaan panjang dari mulut mengambil jas yang ia gantungkan dan meminum sedikit kopinya yang sudah dingin membuat Adam sedikit bergidik sambil menjulurkan lidahnya.
"ugh..."Ia meraih sapu tangan berwarna biru dari kemejanya dan mengelap pinggir mulutnya "kopi terburuk yang pernah kuminum.."
.
.
.
"Sekarang mengerti?"tanya seorang pemuda berambut blonde dengan aksen british yang kental dan khas.
Pemuda asia di hadapannya menangguk "ya,aku mengerti"
"baguslah"ujarnya lega "by the way..where that bloody git..padahal sudah kusuruh Gilbert memanggilnya..."ekspresinya yang tadi senang langsung berbubah.
TOK TOK
"masuk"katanya sambil melipat tangannya di dadanya.
sesosok pemuda berambut jabrik tampak di sisi pintu
"ADAM!dari mana saja kau?!sudah lewat setengah jam aku menyuruh Gilbert memanggilmu!"pekiknya.
Adam mengelap mulutnya dengan punggung tangannya "aku tadi ke toilet..perutku tiba-tiba sakit"
"hah..oh ya,aku memanggilmu untuk mengenalkanmu pada dia"jari Arthur bergerak menunjuk ke pemuda asia disebelahnya "namanya Raka Almahendra Putra Dwijaya... sekali mengatakan namamu"(maklum lidah Arthur sudah terbiasa bercakap-cakap dengan logat British tentu saja dia sedikit kesusahan mengejakan nama Indonesia).
"hm...salam kenal.."kata Adam sedikit canggung.
"dia yang akan jadi partnermu"
sedetik kemudian kerah Arthur sudah digeret oleh Adam dan menariknya keluar dari ruangan meninggalkan Raka yang memasang muka 'wat de fak'.
Adam melepaskan cengkramannya dari Arthur setelah mereka cukup jauh dari ruangannya,langsung saja Arthur protes dengan tindakan Adam
"apa-apa-"
"siapa yang menyuruhmu untuk memberiku partner?"potongnya cepat sebelum Arthur sempat melanjutkan kata-katanya,dia kembali menarik kerah baju sang pemuda Inggris.
Arthur memandang geram iris forest green dihadapannya-hampir sama dengan matanya sendiri bedanya matanya lebih cemerlang darinya (menurutnya).
"aku atasanmu,dan inikah kelakuanmu terhadapan atasanmu?"
dengan geram Adam melepaskan cengkramannya diikuti Arthur memperbaiki dasinya yang berantakan.
"aku tak butuh partner!"
"dengar Adam,aku mengerti kau masih menyelidiki kasus adikmu..tetapi tolong jangan mencampuri ini dengan masalah pribadi..kami juga membantumu sebisa kami..dan lagi,kasus Scotland Yard itu masih belum kelar kan?"
Adam tak menanggapinya dia hanya memandang jauh bangunan-bangunan London lewat jendela di sisi kirinya.
"dan..."Arthur kembali menatapnya dengan tajam "jangan ganggu dia ya,dia masih jet lag.Kau tahu sendiri kan gimana orang di pesawat selama 21 jam?"ia berjalan menjauhi pemuda Belanda itu dan masuk ke ruangannya,meninggalkan pemuda itu menggeram sendiri di hadapan jendela menempelkan dahinya di permukaan jendela.
"hei,Raka..kau sudah boleh kembali ke flatmu..besok kau akan pergi ke TKP bersamanya"ujar Arthur sesaat ia masuk ke ruangannya.
"TKP?"ulangnya "ada kejadian apa?"
Arthur melepaskan jasnya dan merebahkan dirinya di sofa hitamnya "pembunuhan"ujarnya singkat "kau dan Adam diletakkan di divisi pembunuhan berat ya kan?"timpalnya lagi.
"siapa dibunuh?"
ia mencodongkan badannya ke depan "kepala kepolisian"
tiba-tiba Raka teringat akan headline koran yang ia baca saat ia mendarat di Heathrow Airport
'kepala kepolisian Scotland Yard dibunuh di kantornya'
Arthur kembali menyandarkan badannya,menghela napas panjang sebelum berkata
"London sudah tak aman lagi.."ia mengatupkan tangannya dan menatap ke bawah.
.
.
.
.
A/N : Ah...pendek banget ya? maaf ya..abisnya kalo misalnya saya lanjutin ceritanya lagi nanti chap 3 agak rada enggak nyambung
saya janji deh chap depan saya bikin panjang! oh iya...ada yang mau tau kenapa saya buat si nether nama belakang van persie? (udah ketebak itu)
Akhir kata...
dont forget to review! saya sangat menghargai benda yang mempunya nama 'review'
