A/N:Pagi/siang/malam readers!
jumpa lagi dengan eke-shirokuro hime di FF saya ini *bunyi terompet*
ada gak ya yang ngebaca malam-malam gini yak?
saya bingung gih,ini FF kan lama-lama kayaknya makin menjurus ke GORE...apa saya ubah ratenya ke M kah?
yang ditebelin itu lagi bicara di telfon
Disclaimer! Hetalia punya Hidekaz Himaruya
Male!Indo
Warning : Typo,sumpah serapah bertebaran,Gore ancur ,gaje,alur cerita abal-abal,cetar membahana :v
.
Laki-laki itu berlari di kegelapan malam museum. ia melihat ke belakang sesekali untuk memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Dia mati-matian mencari cara di otaknya untuk menemukan bagaimana untuk lolos dari kejaran maut pembunuh yang tengah memburunya ini-di museum ini. Kalau saja ia meninggalkan museum ini setidaknya 3 menit lebih cepat ia pasti tidak akan mengalami peristiwa buruk ini . Ia melihat ke belakang sesekali untuk memastikan pembunuh yang tengah mengejarnya tidak ada didekatnya.
"Gambar...Gambar...apa saja...ck!kenapa di saat seperti ini aku di koridor yang tak ada gambar atau patung...?!"Geramnya,kesal.
Larinya semakin kencang saat ia menyadari ada sebuah gambar tak jauh dari tempatnya berdiri . Dengan cepat ia mengangkat lukisan itu sampai sampai kabel pengamannya terlepas dan alarm pun akan segera berbunyi dan polisi akan segera ke sini, ia langsung berlari lagi meninggalkan lukisan itu-sekarang yang ia perlukan hanya tempat untuk bersembunyi museum ini tidak besar jadi kalau ia berlari terus ia pasti akan bertemu dengan pembunuh itu.
Apakah hidupnya akan berakhir disini?di tempat kerjanya?di tangan seorang pembunuh?oh tidak,dia akan mati karena penyakit bukan begini.
Dan ia punya keluarga,dia tidak mau membuat mereka sedih.
"Sial.."Desisnya.
Ia mendongak saat melihat toilet didepannya . Tak pikir dua kali ia langsung masuk ke kamar mandi dan bersembunyi di bilik paling ujung . Ia tutup mulutnya dengan tangannya agar tidak ada suara yang sengaja ataupun sengaja keluar dari mulutnya . Ia sengaja berjongkok di kloset-agar kakinya tidak nampak dari celah pintu.
"Kenapa Polisi belum datang-datang juga?"Keluhnya dalam hati saat ia melihat jamnya,sudah hampir 20 menit berlalu sejak ia menghidupkan alarm dan tak ada satupun sirine polisi yang ia dengar.
BRAK!
Gebrakan pintu terdengar dari luar-pembunuh itu disini!
Oh tidak,tidak,tidak kuatkan dirimu Emil...
Bulir-bulir air mata sudah menetes dari menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya dan mulai memanjatkan doa.
Krek...
pintu terbuka secara perlahan
Pembunuh itu didepannya,wajahnya tidak nampak karena rambutnya yang panjang menutupinya-namun semakin ia menjulurkan kepalanya ke dalam bilik itu,seringaian mengerikan itu makin nampak jelas tertera di wajahnya . Emil sudah terisak-isak dan tangisannya makin menjadi-jadi saat pembunuh itu mengangkat pisau berkarat yang ia genggam sedari tadi. Tak mau cuma diam ia melakukan perlawanan dan menendang pintu didepannya yang membuat pembunuh itu terjatuh terdorong.
Langsung ia berlari sekencang-kencangnya yang ia bisa . Takkan peduli ia maupun kaki itu tidak bisa berlari lagi, namun dewi keberuntungan tidak di pihaknya ternyata,pembunuh itu dengan lihai melempar pisaunya dan tepat mengenai kakinya , otomatis ia pun terjatuh dengan pisau itu mengenai lantai-membuat pisau itu makin dalam menancap ke dalam daging . Ia menjerit kesakitan,pembunuh itu mendekatinya dan masih memasang seringaian ala psikopat.
Emil telungkup di lantai,memegangi kakinya yang terluka ia hanya bisa memandang kosong karena ternyata pemandangan terakhir di dalam hidupnya adalah seringaian mengerikan.
.
10:50 PM
"Brother?aku sudah membunuh target kita"
"Terima kasih Natalya , segeralah cepat kembali ke markas sebelum ada yang melihatmu"
"Ya,tetapi sesudah aku membeli pisau baru ya?sekalian aku mau jalan-jalan di London"
"Aku tidak melarangmu namun berhati-hatilah dan tinggalkan saja pisaumu disitu,kau memakai sarung tangan tidak?"
"Aku memakainya"
.
.
Jam menunjukkan pukul 11 malam,namun itu bukan jam tidurnya untuk seorang Raka Almahendra , ia masih sibuk dengan laptopnya dan sesekali mengalihkan pandangannya ke pertandingan bola liga Inggris di tv.
Biasanya kalau ada pertandingan bola ia akan bertaruh bersama teman-temannya dan dimarahi oleh bosnya karena bertaruh.
"Internet disini cepat sekali...beda banget sama Indonesia"Gumamnya saat ia menonton youtube dan garis putih sudah mencapai finish sebelum 10 detik.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu ia lansgung mengklik new tab dan mengetik nama Ivan Braginski .
Tampaknya yang dikatakan Adam memang betul . Ivan Braginski atau yang biasa dipanggil Vanya oleh teman dekatnya memang sangat berbahaya dia adalah bos sindikat mafia Rusia yang paling kuat dan berbahaya-Solntsevskaya Bratva dan bertanggung jawab atas beberapa rencana pembunuhan pm dan presiden negara,penculikan anggota legislatif Russia dan pembunuhan yang sudah berjumlah 347 orang . Biasa pemuda Rusia itu memakai pipa besi untuk membunuh.
Dan sekarang ia muncul di London dan Kepala kepolisian Scotland Yard tiba-tiba ditemukan terbunuh dengan pendarahan hebat di kepala dan senjata pelaku berupa pipa. Semua sudah sangat mungkin.
Ia mengalihkan perhatiannya sekali lagi ke tv saat ia mendengar komentator mengucapkan kata gol, Chealse ternyata membobol gawang MU dan membuat skor 2-1 sekarang . I a berdiri dari ranjangnya dan beranjak ke wastafel untuk membasuh wajahnya.
Ia kembali lagi ke ranjangnya dengan handuk ia taruh dibahunya.
Saat itu ia baru sadar kalau hp-nya bergetar.
"Halo"
"Raka!?ah..syukurlah kau belum 5 kali kutelfon kau tak mengangkat-angkatnya,aku hampir saja mau ke flatmu"
"aku biasa tidur diatas jam 12,ada apa memang?"
"Pantas kau susah dibangunin,cepat ganti bajumu"
"Hah?ganti baju?untuk apa?"
"Seseorang terbunuh lagi"
.
.
.
.
"Korban bernama Emil Steilsson..Laki-laki kelahiran Islandia,tewas karena lehernya digorok dengan benda tajam"Kata Gilbert,matanya bergerak mengikuti tulisan yang berada di dalam buku catatan kecilnya.
"Apa senjatanya sudah ditemukan?"Tanya Adam-yang rambutnya tak berdiri lagi,sepertinya ia tak sempat memakai gel kesayangannya untuk membuat rambutnya jabrik.
"Sudah,malah ditemukan di samping tubuhnya , pelaku sengaja menaruhnya disitu"Jelas Gilbert sambil menutup catatan kecilnya.
Raka lagi-lagi menguap,rambutnya masih acak-acakan karena Adam langsung menariknya keluar dari flatnya . Mereka bertiga sedang berdiri di depan museum Inggris itu-tepatnya,di lapangan parkirannya ada beberapa mobil polisi yang masih menghidupkan sirenenya dan sebuah ambulans . Orang -orang berkerumunan di dekat garis batas polisi , berbisik-bisik dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi di museum ini-yang diduga banyak orang akan jadi headline di koran besok.
"Tahan kantukmu,Raka"Tegur Adam ketika ia melihat Raka menguap.
Raka melirik ke arah Adam dan mendapati ada kantong hitam di bawah mata zamrudnya,langsung ia menyeringai.
"Dan itu di matamu apa?kau seperti panda"Balas Raka,sengit.
Adam mendengus kesal,kembali ia menatap Gilbert yang sudah menaruh catatannya kembali ke kantongnya.
"Antonio dan Francis mana?"Tanya Adam.
"Itu"Gilbert menunjuk kepada 2 orang berambut coklat dan pirang yang sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda berkacamata."Aku menyuruhnya agar tim forensik tidak mengangkat mayatnya terlebih dahulu dan syukurlah si Bock pun tidak angkat masalah lagian"Katanya enteng sambil mengangkat bbahunya.
"Kau mau menunggu apa lagi memang?"Tanya Adam,sedikit penasaran . Biasanya Gilbert akan mempersilahkan dengan suka rela tim forensik untuk segera membawa mayat ke rumah sakit untuk diotopsi . Secara karena Gilbert yang biasa bertanggung jawab di divisi pembunuhan.
Gilbert mengedikkan kepala ke Raka "aku mau si rookie junior kita ini melihat mayat untuk pertama kali,yah tapi pasti ia sudah pernah melihat mayat kan?maksudku mayat pembunuhan"ia kemudian mendekati Raka yang sibuk melihat orang-orang hilir mudik dari tadi-tidak menyadari Gilbert sedang mendekatinya.
"Yo,Raka!"Gilbert menaruh tangannya melingkar di pundak langsung melirik ke Gilbert "ya?"
"Kau ada makan tadi?"Tanyanya,nyengir.
Raka memutar matanya,didalam hati ia bingung seniornya ini kenapa nanya-nanya masalah ia belum makan atau tidak
"Ada sih"
"Makan apa?"
Raka semakin bingung dan menjawab "Indomie"
"Ho!mie instant dari Indonesia itu ya!aku lumayan sering memakannya kalau tidak ada makanan di rumah!"Ia menatap Francis dan Antonio yang sudah balik dari percakapan mereka dengan Eduard Von Bock-ketua tim forensik yang berasal dari Estonia.
"Jangan sampai muntah ya!"Ujarnya.
Raka menyipitkan matanya,muntah?kenapa pula ia mesti muntah?dia makin curiga.
"Gilbert!Bock bilang kita punya 15 menit untuk memeriksa mayatnya"Kata Francis sambil menunjuk dengan jempolnya pemuda Estonia yang sedang menelfon.
"Sudah lebih dari cukup!ayo masuk"
.
.
.
.
CKLIK CKLIK
Lampu-lampu blizt saling sahut-menyahut di kamar mandi yang menjadi saksi pembunuhan Emil Steilsson . Gilbert ,Antonio,Francis dan Raka sudah akan mau masuk ke kamar mandi yang sudah bermandikan percikan darah itu namun Adam menolak masuk.
"Aku baru saja makan,kalian saja masuk"Ia menutup hidungnya saat aroma darah sudah mendominasi di ruangan itu.
Raka didorong Gilbert untuk masuk dan dia melihat sebuah tubuh yang ditutupi selimut putih-tepatnya merah karena sudah dinodai darah.
Gilbert mendekati tubuh itu dan berjongkok di dekat bagian kepala , ia sudah mengenggam kain itu siap untuk membukanya,ia kemudian menatap ke Raka jadi ini maksud semua pertanyaan tadi.
Gilbert mengedikkan kepalanya ke Raka "Siap,rookie?"Tanyanya.
Raka mengangguk pelan . Sesaat setelah Gilbert menyibakkan kain itu Raka menutup mulutnya dengan -betul pemandangan yang mengerikan.
Laki-laki di depannya bahkan tidak sempat menutup matanya-mata ungu kemerahan itu nampak memandang lurus dengan kosong dan yang paling mengerikan adalah luka di lehernya-luka itu memperlihatkan bagaimana sebuah leher manusia dari dalam . Betul -betul berbeda dengan mayat-mayat yang biasa Raka lihat mayat -mayat yang biasa ia lihat meninggal karena peluru,namun ia tak pernah melihat yang sepert yang ini.
Gilbert kembali menutup badan itu dan berdiri lagi-ia menatap Raka yang diam,tak menepuk punggung Raka dan berlalu "inilah pemandangan yang akan kau lihat setiap hari,biasakanlah"
Raka masih menatap badan yang sudah ditutupi kain . Adam yang sudah tak tahan lagi masuk ke dalam sambil menutup hidungnya-tak tahan dengan aroma busuk ini menepuk pundaknya dan mengajaknya pergi "ayo,aku tak tahan lagi berlama-lama disini"
Setelah itu penyelidikan dilanjutkan besok di markas pusat . Adam mengantar Raka pulang dengan mobilnya . Di tengah-tengah perjalanan hp-Adam berdering.
"Halo,Lux?ya,aku dalam perjalanan pulang...tunggu..hei!ini kan sudah jam 3 pagi,demi Tuhan!Luxie kenapa kau tak tidur?!besok kan kau sekolah?!"
Raka tanpa memandang Adam bertanya "adikmu?"
"Ya,adik yang satu itu memang sangat susah disuruh tidur"
Raka diam sejenak sebelum ia bertanya lagi "kau berapa bersaudara?"
"3"
"Kau punya adik lagi?"
"Sudah meninggal bersama orang tuaku,aku hidup berdua sama adikku yang laki-laki"
Raka merasa bersalah karena menanyakan hal yang sepertinya tidak ingin diungkit Adam.
"Maaf,aku mengingatkanmu"Sesalnya.
Adam tersenyum simpul "tak apa-apa"
Suasana hening menyelimuti selama perjalanan . Mereka berdua tak tahu topik apa lagi yang mau dibicarakan jadi mereka berdua memutuskan diam saja.
15 menit kemudian mereka sampai di depan flat Raka.
Sebelum Raka masuk Adam membunyikan klakson mobilnya dan berteriak dari dalam mobil
"Besok-eh udah hari ini ya..jam 8 nanti kau udah harus siap!"Teriaknya.
"Ehh..."Raka mulai mengeluh "ini udah jam 4 pagi!mana jam tidurku?!"
"Waktu itu uang,kalau kau masih punya waktu untuk mengeluh lebih baik kau tidur sana!"Ia pun berlalu meninggalkan Raka melongo dengan tidak elitnya.
.
.
.
Raka yang biasanya terlihat segar bugar di markas sekarang terlihat sangat loyo dan mata hitam legamnya sekarang nampak merah seperti mata Gilbert-walaupun tidak semerah pemuda kelahiran Jerman itu di bawah matanya ada kantung berwarna hitam.
Banyak orang yang berpapasan dengannya menyapanya namun tak satupun dari sapaan itu dibalasnya . Mungkin hal itu disebabkan karena ia terlalu capek,melamun,atau memang malas meyapanya . Ia masuk ke lift dan menekan tombol lantai 9,sesaat pintu liftnya akan tertutup tiba-tiba sepatu seseorang sudah menyangkut dibawah pintunya-menahannya untuk tidak menutup . Pintu lift itu kembali terbuka dan berdirilah seorang laki-laki berambut hitam yang memakai kacamata hitam dan pakaian yang juga berwarna hitam . Raka melirik ke arah laki-laki itu yang tampaknya sangat mencurigakan itu-karena dari penampilannya ia yang pasti bukan seorang agen disini dan pengawasan disini sangat ketat jadi agak mustahil orang mencurigakan ini masuk ke sini membawa sebuah tas yang kelihatannya berat dia mengira-ngira apa isi tasnya berkas-berkas brengsek kah ?atau mayat seseorang?atau bom?hah,pemikiran yang logis,mungkin . Laki -laki itu bersenandung lagu viva la vida coldplay selama di lift dan ternyata ia keluar di lantai yang sama dengan Raka-lantai 9 . Di persimpangan koridor ia berjalan berlawanan dengan Raka , sedikit curiga Raka melonggokkan wajahnya ke koridor tempat laki-laki tadi pergi-gerak geriknya sangat mencurigakan . Dengan nekat Raka pun memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu dengan mengendap-ngendap . Laki-laki itu berhenti di jendela paling ujung dan menelfon seseorang-tunggu itu bukan telefon..itu walkie talkie !Laki -laki ini SANGAT SANGAT MENCURIGAKAN .Coba pikirkan, laki-laki mencurigakan mana yang memakai kacamat hitam bergerak-gerik aneh , membawa tas besar dan sebuah walkie talkie ke markas pusat MI6?.
Laki-laki itu meninggalkan tas itu dan berjalan kembali-sepertinya ia mau turun lewat tangga . Raka yang sudah sangat-sangat mencurigai laki-laki ini memilih untuk nekat dan mencegat pria itu.
Wajah Raka menyiratkan tanda tanya yang sangat jelas . Laki -laki itu sepertinya agak terkejut melihat sosok . Raka mencoba berbicara sambil melotot ke arah tas yang ditinggalkan laki-laki itu.
"Sepertinya kau bukan seorang agen dan gerak gerikmu sangat mencurigakan kau tahu?"Ujar Raka dengan agak mendesis,ia menunjuk tas itu "dan itu,apa-apaan itu?kami tak menerima sumbangan apapun yang ada di tas itu"
Laki-laki itu tak menjawab apapun,namun Raka tahu kalau laki-laki itu kebingungan dari gerak-geriknya , spontan ia pun berlari ke arah jendela tadi dan mengeluarkan walkie talkienya "PLAN B!PLAN B!"Serunya.
Bingo
Laki-laki ini menyelundup ke sini! dengan sigap ia juga berlari dan mengejar laki-laki itu. Laki -laki itu mulai panik dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Raka terperanjat.
Sebuah pistol diarahkan tepat ke kepalanya . Ia pun mengumpat didalam hati dan segera meraba kantongnya.
Kosong
Pistolnya ia titipkan ke Adam.
"Brengsek!"Desisnya.
Laki-laki itu makin panik dan dengan gelagapan ia menarik pelatuk pistol itu.
DOR!
Dengan cepat Raka menghindar dari peluru yang dikeluarkan dari pistol laki-laki itu,namun kurang cepat pundaknya ditembus oleh peluru itu . Otomatis ia pun terjatuh dan segera memegangi pundaknya,darah mulai merembes dan corak merah kental sudah tercetak jelas di kemeja hitamnya.
"Bangsat..!tunggu..brengsek!"Umpat Raka,geram ketika laki-laki itu meloncat keluar dari jendela dan ternyata sebuah helikopter sudah menunggu untuknya.
Ia terkena sedikit serpihan kaca tadi,membuat pipi dan tangannya tergores . Tak buang buang waktu lagi,ia berdiri-masih mengumpat-umpat dalam hati dengan bahasa indonesia . Ia berjalan tertatih-tatih mendekati tas itu dan betapa terkejutnya saat ia melihat benda yang berada di dalamnya.
Tinggal sisa 2 menit sebelum gedung ini meledak.
.
.
.
TBC
A/N:Omg...si Emil belum dapat peran apa-apa udah saya bunuh...kasian amat elu Mil...
Dan...akhirnya...chapter ini sudah siap...terima kasih untuk film-film action yang saya nonton akhir-akhir ini yaitu the raid 2,skyfall,brick mansion,dan frozen-lupakan yang paling akhir-membuat saya bisa menyelasaikan chap wikipedia...tanpa anda...saya tidak bisa menulis chap ini
Ok!ayo kita bales review!
Luciano Fyro:
Nyehehe!Dan bagaimana dengan Chap ini?saya memasukkan bumbu Awesome khas anda dan bumbu Greget dan anti menstrim #plakk wahahaha Allistor kan emang cetar membahana dari sununya wkwkwkwkwk
Review lagi ya! #inimoduspalingcetarmembahananpujakelapajaibnagaindosiar
Anon :
Makasih udah membaca,memuji,dan mereview FF ini :3 jangan lupa ngeriview lagi ye (ini modus)
Rangga Senggak :
Tenang aja!Ivan bakal muncul dan mendapat peran besar di FF ini!Dan dia sudah eksis sedikit kan di chap ini bersama adiknya dan menjadi cameo #tewasditabokpipa
Aniwei makasih udh ngereview dan read jangan lupa kembali lagi ya ;3
Thank you for the review guys!
Saya sangat membutuhkan saran dan kritik dari minna semua jadi...
Please Review-nya! (Ngangkat mangkok minta review)
