warning : Genderswitch, Bad Summary, KAISOO
kali ini aku remake dengan cast Kaisoo okeh Kaisoo, tapi aku tetep Chanbaek Ship kok, HIDUP CHANBAEK SHIP
balesan review :
12154kaisoo, Wookie-Ya, kaisoosf, chanbaekisseu, kysmpppprt, kaimes, kyungbee, beng beng max, EveInSoo : ini udah dilanjut dan diusahain aku bakal fast udate kok selama gak ada hambatan
winny : mian kalo authornim gak suka sama remake, tapi aku sering chat sama autor redApplee dan katanya ini buatan dia asli, jadi aku berani remake
Vns99 : udah dong bahkan aku sering chat sama dia hehehehe
kyle : oke deh
Xoxo98 : oke, hot gak yah, mungkin akan sedikit aku tambahin deh dari fanfic Chanbaek sebelumnya hehehehee
DLDR
.
.
.
.
.
.
RnR
.
.
.
.
.
.
.
.
FALLOW AND FAV PLEASE
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
CHAP 1
7 months ago
Kyungsoo tampak menopang dagunya dengan telapak tangan sambil memandang keluar jendela kelasnya. Memandang tanpa titik focus dikala bosan melanda dirinya.
" Are you ok baby girl ?" suara gadis pirang ikal disampingnya membuat Kyungsoo menoleh. Jessie , salah satu teman dekatnya dikampus.
" Hhh.. aku hanya mengantuk " jawab Kyungsoo.
" Jam berapa kau tidur semalam hmm, kau begadang menonton film lagi ?" Jessie jelas tahu kebiasaan simungil temannya yang berdarah Korea itu.
" Yeahh.. jam 3 kurasa ".
" Oh gosh, tapi kurasa kau akan terbangun setelah ini ".
" Kalau kau bahkan tidak menyadarinya, aku bangun saat ini Jass ".
" Maksudku sepenuhnya sadar, kau seperti zombie " ejek Jessie.
" Dan apa tepatnya yang akan membuatku fully awake ?".
" Hari ini dosen Kim yang akan masuk kelas " cengirnya.
" Siapa itu dosen Kim ?".
" Ahh aku baru ingat kau tidak masuk kelasnya minggu lalu " jawab Jessie sambil menepuk jidatnya. Gadis bermata abu-abu itu memiringkan badannya untuk memulai cerita. Namun belum sempat terealisasi pintu kelas menggeser terbuka menampakkan sosok pria dengan warna kulit yang sedikit gelap, setelan kemeja dan celana hitam senada. Rambut yang dicat cokelat almond membuat decakan kagum para kaum hawa termasuk Kyungsoo yang seolah tersihir oleh kemunculannya. " Oh my gossh " desah Jessie.
" Who is he ?" lirih Kyungsoo dengan tatapan masih mengarah pada pria tampan yang sudah mengambil tempat yang seharusnya ditempati dosen mereka.
" Mr Kim of course, you silly " kekeh Jessie pelan.
" Morning class !" Kyungsoo rasanya bisa gemetar mendengar suara itu menyapa pendengarannya. Begitu menyenangkan dan manly.
Kim Jongin dikenal sebagai CEO dari Kim Inc yang bergerak dibidang real estate terbesar di Manhattan. Kim Jongin adalah alumni Manhattan university yang begitu terkenal. Memiliki hubungan kekerabatan dengan rector kampus. Maka ketika ia ditawari posisi dosen untuk mata kuliah arsitektur yang dulu pernah ia geluti maka ia tidak menolak. Hari ini seperti yang ia umumkan minggu lalu, ia akan mengadakan test tertulis. Berdiri didepan kelas sambil bersedekap, Jongin mengedarkan pandangannya pada seluruh mahasiswa yang tengah mengerjakan soal test. Hingga orbs miliknya terpatri pada sosok bersurai brown, Kyungsoo. Ia memiliki daya ingat yang kuat dan seingatnya ia tidak melihat gadis itu minggu lalu. Test sudah berlangsung 15 menit dan gadis itu tampak menopang dagu sambil memuntir pensilnya santai. Sesekali ia memiringkan kepala menatap teman sebelahnya yang terpisah beberapa jarak. Lalu mata bulatnya itu mengedar memandang teman-teman lainnya hingga tanpa disengaja kedua pasang mata itu bertatapan. Jongin dengan pandangan mengintimidasinya dan Kyungsoo tatapan polos terkejut miliknya. Langkah-langkah kaki Jongin menggema diruangan yang begitu senyap saat ia melangkah mendekat ke kursi Kyungsoo. Jessie sempat melirik begitu juga beberapa mahasiswa lainnya.
" Are you finished ?" suara sexy itu bertanya.
" Y..yes.. Mr Kim " Jongin ingat sekali kalau ia telah memilih soal-soal yang tidak mudah untuk test hari ini. Namun sepertinya gadis berwajah imut yang belum ia ketahuin namanya ini bisa mengerjakan dengan mudah. Jongin menyodorkan telapak tangannya. Mengerjap sesaat namun Kyungsoo segera tersadar dan menyerahkan kertasnya. Jongin melirik nama yang tertera dibagian atas lembar jawaban.
" You can go out Miss Do " Kyungsoo dengan gugup mengangguk dan mengemasi alat tulisnya, meraih tas dan terburu-buru berdiri hingga ia tersandung kaki meja. " Argh !" ringisnya. Jongin dengan cekatan menahan lengannya.
" Perhatikan langkahmu Miss Do ".
" Ma..maafkan saya Mr Kim " Jongin melepaskan pegangannya pada lengan Kyungsoo dan dengan segera Kyungsoo melangkah menjauh. Ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang menggila karena jaraknya yang begitu dekat dengan dosen tampan itu dan sentuhan dilengannya.
Hari-hari berikutnya ketika Jongin menghadiri kelas Kyungsoo, gadis mungil itu tidak pernah mengalihkan fokusnya pada dosen tampannya itu. Tampak begitu menawan dan tegas memberikan penjelasan di depan kelas mereka. Kyungsoo rasa ia juga sudah dijatuhi pesona pria tampan keturunan Korea itu. Bukan main senangnya ia begitu mengetahui kalau Kim Jongin berdarah Korea sepertinya, semacam takdir. Sambil menopang dagu memperhatikan penjelasan Jongin, tangan Kyungsoo yang memegang pensil sibuk menari-nari diatas buku sketsa yang merupakan kesayangannya. Ia selalu membuat sketsa, apapun itu yang menarik hatinya. Dan sketsa wajah Kim Jongin hampir memenuhi 10 halaman buku sketsanya.
" Excuesme Mr. Kim !" Kyungsoo mengangkat tangan dengan gugup. Kim Jongin menoleh tanpa menjawab namun menaikkan alisnya. " Aku permisi " Kim Jongin mengangguk. Kyungsoo beranjak meninggalkan kursinya keluar untuk menuju toilet.
" Baiklah, seperti yang kukatakan minggu lalu, aku ingin kalian menuliska essai dengan topic yang baru saja kita bahas dan dikumpul 3 menit sebelum kelas berakhir, mulai " meski mengeluh namun mahasiswa-mahasiswi menuruti dan mulai mengerjakan apa yang Jongin perintahkan. Jongin mulai berkeliling hingga ia sampai di meja Kyungsoo dan terdiam disana sesaat. Sebuah sketsa wajah familiar terpampang disana. Belum sempurna namun ia menggambarkan sosok Jongin dengan baik. Jongin tersenyum kecil. Melirik mahasiswa lain yang masih sibuk dengan essai mereka ia menggerakkan tangannya membuka lembar sebelumnya dan menemukan sketsa wajah familiar yang sama, wajahnya yang sudah dibuat sempurna. Tak ingin terlihat mencolok Jongin melanjutkan kembali langkahnya namun dengan sebuah senyum kecil misterius.
Semenjak hari itu, Jongin jadi memiliki kesenangan sendiri sesekali memperhatikan atau mengalihkan pandangan pada simungil yang akan langsung memerah malu ketika mata mereka bersirobok. Namun sudah dua minggu ini ia tidak melihat gadis itu masuk kelas.
Kim Women's Contract
" Miss Wood, tolong kumpulkan hasil testnya dan antar keruangan dosen " Jessie mengerjap sesaat dan mengangguk. Dengan semangat Jessie mulai mengumpulkan kertas test milik teman-temannya dan menyusul Kim Jongin keruang dosen.
" Permisi Mr Pak ".
" Masuk " Jessie masuk dan menaruh tumpukan kertas tugas dimeja Jongin. " Sudah semuanya ?".
" Ya Mr Kim ".
" Ngomong-ngomong sudah dua minggu Miss Do tidak masuk " Jongin bertanya dengan pandangannya focus pada layar laptop.
" Iya Mr Kim, ia sedang cuti kembali ke Seoul " jawab Jessie. Kim Jongin mengalihkan pandanganya dan menatap Jessie, tanpa bertanya namun ekspresi wajahnya menunjukkan meminta penjelasan. " Ia sedang tertimpa kemalangan, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal di Seoul".
" Begitu " sahutnya. " Kapan dia akan kembali, ia banyak tertinggal kelas dan test ".
" Aku akan menanyakan padanya Mr Kim ".
" Suruh ia menemui aku untuk test susulan begitu ia kembali ".
" Baik, Mr Kim " angguk Jessie.
Kehidupan Kyungsoo berubah begitu ia kehilangan kedua orang tuanya, ia bahkan merasa tidak bersemangat untuk kembali ke Manhattan. Begitu sedih membayangkan ia tidak memiliki alasan kembali ke Korea karena keluarganya telah tiada.
" Kurasa aku akan mencari pekerjaan Jessie, kau punya rekomendasi ?".
" Tapi kenapa, bukankah kau memiliki asuransi peninggalan kedua orang tuamu ?".
" Asuransi itu sudah kugunakan untuk membayar gaji karyawan pabrik mendiang ayahku dan juga menutup beberapa kerugian pada pabrik di Busan, sisanya tidak seberapa dan biaya hidup di Manhattan juga biaya kuliahku tidak murah " ujarnya. Jessie mengelus pundak Kyungsoo prihatin.
" Aku akan mencoba bertanya pada sepupuku apakah dia masih membutuhkan bantuan di cafenya, cafenya sangat ramai sebulan belakangan ini ".
" Benarkah, terima kasih Jessie " Jessie mengangguk.
" Ohh dan jangan lupa temui Mr Kim untuk test susulan, aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya bukan ?".
" Ya, aku sudah belajar juga untuk menghadapi test susulan itu " angguk Kyungsoo.
Kim Women's Contract
Full Name : Kyungsoo Do
Place. Date of Birth : Bucheon, 12 January 1993
Parents : Kyuhyun Do
Juhyun Seo
Siblings : None
Majority : Architecture Major
Pintu ruangan Jongin diketuk, membuat pria berkulit tan itu mengalihkan pandangannya pada pintu yang tertutup.
" Come in " pintu berderit pelan terbuka, surai brown menyembul. Simungil yang 2 minggu ini tak terlihat berada disana. " Come in Miss Do ".
" Jessie mengatakan bahwa saya harus mengikuti test susulan pada mata kuliah anda ".
" Benar, duduklah " ia mengangguk pada kursi kosong dihadapannya dan Kyungsoo menurut. Dengan sedikit gugup Kyungsoo mendudukkan dirinya disana. Jongin memperhatikan tiap gerak-gerik gadis berusia 23 tahun itu. Kyungsoo bukan tipenya, ia terlalu mungil selayaknya bocah padahal usianya 23 tahun. " Aku akan memberikan soal testnya, kau melewatkan dua kali test. Dan kerjakan disini, aku memberikan waktu 45 menit untukmu, mengerti ?".
" Yes, Sir " Jongin tertegun sesaat, tatapannya menancap pada bibir mungil yang baru saja mengucap kata 'Sir' itu dengan intens.
" Aku tidak mendengarmu Miss Do " bisiknya berbahaya, ada gejolak aneh saat mendengar kata itu diucapkan oleh bibir mungil itu.
" Yes Sir, I got it " Jongin mengeratkan pegangannya pada lengan kursi duduknya. Namun Jongin mampu menguasai diri dan gairahnya yang muncul secara tidak dikira itu dengan sebuah senyuman kecil. Menyodorkan dua kertas soal pada Kyungsoo.
" Waktumu dimulai dari sekarang Miss Do " ucap Jongin. Kyungsoo yang sesungguhnya merasa begitu gugup mencoba berkonsentrasi dengan soal yang diberikan Jongin. Sementara Jongin bersender dan bersedekap. Meneliti penampilan Kyungsoo. Rambut brown yang dikepang fishtail menyamping dengan poni depan membingkai wajah mungilnya. Pipinya tidak berisi seperti 2 minggu lalu saat mereka bertemu dikelas. Jelas Kyungsoo kehilangan beberapa kilo berat badannya. Mata nakalnya melirik collarbone yang menonjol dibalik sweater bermotif bubble yang ia kenakan. Tidak tampak gurat kesulitan saat ia mulai mengerjakan soal tersebut. Tidak heran, Kyungsoo salah satu murid terpandai yang dimiliki oleh Manhattan University. Terlalu focus dengan soal-soal yang dikerjakannya hingga tidak sadar bahwa Jongin tidak melepas pandangan dari dirinya sejak awal ia focus mengerjakan soal test.
" Any problem ?" cetus Jongin menghilangkan pikiran nakalnya saat melihat Kyungsoo menggigit ujung pensilnya tampak berfikir. Kyungsoo menatapnya namun langsung menunduk, kegugupan itu muncul secara tiba-tiba. Ia menggeleng pelan.
" No, Sir " Jongin menelengkan kepalanya sedikit, jempolnya menggesek bibir bawahnya penuh minat. Begitu menyukai lirihan ' Sir' yang Kyungsoo ucapkan. Ruangan senyap kembali hingga 10 menit kemudian Kyungsoo bernafas lega karena telah menyelesaikan testnya.
" Saya sudah selesai Mr Kim " Jongin menaikkan alisnya, Kyungsoo tidak memanggilnya 'Sir' lagi.
" Aku akan memeriksanya, kuharap hasilnya bagus karena kau memiliki waktu untuk belajar dan kau salah satu murid terpandai " ucapnya dengan suara tegas, tidak terlihat memuji namun lebih kepada sebuah pernyataan.
" Ya, Mr Kim terima kasih untuk test susulannya ".
" Dan Miss Do " langkah Kyungsoo terhenti saat ia baru memutar kenop pintu dan menoleh kebelakang. " Aku turut berduka untuk orang tuamu " Kyungsoo terpaku sesaat dan memberikan senyuman kecilnya.
" Ya Sir, terima kasih " Jongin mengepalkan tangannya melihat senyuman Kyungsoo dan kata 'Sir' yang terucap dari bibir mungil itu. " Saya permisi ". Jongin meregangkan lehernya sejenak, merasakan bagaimana urat-uratnya seakan mengencang hanya karena seorang gadis berusia 23 tahun. Jongin meraih ponselnya dan memencet nomor 9.
" Honey, hai " suara riang diseberang menyahut.
" Come to my house tonight " suara erangan senang terdengar menyambut disana.
" Sure honey, I miss you so much ".
" Aku akan mengirimkan hadiah untukmu dan pastikan kau memakainya malam ini ".
" Aku selalu suka hadiah seksi pemberianmu meskipun pada akhirnya akan kau robek ketika kita bercinta honey " Kim Jongin menyeringai.
" Persiapkan dirimu, aku mungkin tidak akan berhenti hingga kau pingsan " bisik Jongin penuh gairah dan ancaman sensual. Diseberang sana suara tawa manja membalas.
" Aku selalu suka caramu menyiksaku, Sir " desisan sensual diseberang itu justru membuat Jongin membayangkan bibir Kyungsoo ketika ia mengucapkan kata 'Sir' padanya.
" See you " Jongin menutup sepihak, selalu seperti itu. Gairahnya pada wanita itu tiba-tiba saja disamarkan dengan sosok mungil itu. Jongin menatap kertas jawaban test dihadapannya dan mendesiskan nama sang pemilik yang tertulis rapi. " Kyungsoo Do ".
Kim Women's Contract
Jessie menepati janjinya dengan membantu Kyungsoo mendapatkan pekerjaan sebagai waitress di café milik sepupunya. Setidaknya 2 bulan ini Kyungsoo sudah bisa bernafas lega karena ia bisa membayar uang sewa apartemennya tepat waktu dan menabung untuk biaya kuliahnya semester depan. Namun sebuah kabar tidak menyenangkan datang dari wakil direktur yang kini mengambil kendali pabrik keluarga Kyungsoo di Seoul.
" Kita mungkin bisa melakukannya paman, tapi tidak untuk pabrik di Seoul " ucap Kyungsoo sambil menyender pada mobil audi putih miliknya di kimiran.
"…".
" Pabrik itu adalah impian ayah semasa ia hidup, aku… tidak bisa membiarkan pabrik itu dijual ".
"…".
" Apa penjualan pabrik di Busan bisa menutupi hutang pada Bank ?".
" … ".
" Hhh.. kalau begitu aku akan mencari solusinya, tolong pertahankan pabrik yang di Seoul paman ".
"…".
" Tidak, akulah yang sangat berterima kasih karena paman begitu baik mau mengambil alih pabrik sementara waktu ".
"…".
" Entahlah paman, mungkin aku akan kembali ke Seoul saja dan membantu paman mengelola pabrik peninggalan ayah ".
"…".
" Aku tahu… itu impianku.. tapi… rasanya begitu sulit disini paman… ".
"…".
" Terima kasih paman, sampaikan salamku pada bibi dan Chanyeol, aku merindukan mereka, ya paman sampai jumpa " Kyungsoo menghela nafas pelan begitu mengakhiri telepon dengan sahabat sekaligus wakil direktur ayahnya dipabrik, Park Joonmyeon. Ia memandang kap mobilnya yang berwarna putih mengkilat. " I really love you Whitey, hhh… tapi kurasa aku harus mengucapkan perpisahan padamu ". Kyungsoo memasuki mobilnya dan menyalakan mesin tanpa menyadari sosok dibalik jendela ruangan bergorden merah marun. Ruangan tempat ia menjalani test beberapa bulan lalu. Kim Jongin berdiri disana sambil bersedekap menyandar pada dinding disamping jendela yang berhadapan dengan parkiran mobil khusus siswa. Tepat dimana Kyungsoo memarkirkan mobilnya beberapa menit yang lalu. Ia tidak bermaksud menguping, namun kemunculan Kyungsoo disana menggugah rasa ingin tahunya hingga ia berakhir mendengar percakapan Kyungsoo dengan seseorang ditelepon yang ia panggil paman itu. Sebuah seringaian muncul begitu saja dibibirnya. Ia merogoh saku celana dan menekan nomor 3, nomor telepon sahabat sekaligus pengacaranya.
" Ya Kim " sahut suara diseberang.
" Kita bertemu dikantorku jam 2 siang ini " tanpa mendengar jawaban Jongin menutup telepon. Selalu begitu, Kim Jongin selalu berlaku sesuka hatinya. " Let see what I can do for you Miss Do " seriangainya penuh rencana nakal dan tak terduga.
Lelaki bertubuh tinggi berdarah America – Thailand itu duduk didepan Kim Jongin setelah melonggarkan kancing jas miliknya. Nickhun Buck, sahabat, penasihat perusahaan dan juga pengacara kepercayaan Kim Jongin.
" Ada apa ?" tanyanya.
" Kapan kontrak Miranda berakhir ?" Tanya Jongin namun pandangannya masih focus pada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.
" Tanggal 16 April ini ".
" Berarti 3 hari lagi " Nickhun mengangguk.
" Buatkan kontrak baru atas nama Kyungsoo Do, cari tahu tentang asal usulnya dan pastikan semua datanya lengkap ".
" Wanita baru lagi, kupikir kau cukup puas dengan wanita Venezuela itu, Miranda Gomez " jawab Nickhun namun jari jemarinya sudah berkutat pada ipadnya untuk memulai pencarian tentang Kyungsoo Do yang disebut Jongin.
" Aku tidak pernah puas, kau tahu itu dude ".
" Yeahh.. kupikir " sahutnya. " Kyungsoo Do ?" Nickhun menaikkan alisnya memandang sebuah foto yang muncul di laman pencarian. Ada beberapa akun media social dengan nama itu. Dan dari foto yang muncul, tampak sosok imut bersurai almond.
Kim Women's Contract
" Ya, Kyungsoo Do " angguk Jongin.
" Mahasiswi Manhattan University ?".
" Ya, Architecture Major ".
" Mahasiswamu ?".
" Tepat ".
" Oh my god, usianya 23 tahun, kupikir ia masih 17 tahun " cetus Nickhun begitu melihat data diri Kyungsoo pada sebuah akun media sosialnya. " Sama sekali bukan tipemu Kim ".
" Memang bukan, tapi aku menginginkannya dan tugasmu untuk mendapatkannya untukku ".
" Like always " Jongin hanya tertawa mendengar jawaban Nickhun. " Aku akan mencari data dirinya dan kukirim padamu secepatnya ".
" Selalu bisa diandalkan " Jongin tersenyum puas. " Dan sampaikan pada Miranda tentang kontraknya yang berakhir ".
" Yes lord ".
" Thank you Servant !".
" Sialan kau " umpat Nickhun dan Jongin hanya terkekeh menyahutinya.
Kim Women's Contract
Nickhun baru saja mengklik tombol print ketika pintu ruang kerjanya dibuka dan seorang wanita cantik dengan senyuman muncul disana.
" Are you busy honey ?" tanyanya.
" No, come in Tiff " Tiffany Hwang, kekasih Nickhun memasuki ruangan, matanya melirik pada hasil print yang tercetak.
" Who's is she ?" Tiffany mengambil kertas tersebut dan membawanya serta sambil menghampiri Nickhun. Nickhun membawanya untuk duduk dipangkuan.
" Who else, Jongin's new Women ".
" Seriously, are you sure she's not a high school student " Nickhun terkekeh mendengar ucapan polos kekasihnya itu.
" Awalnya aku juga berfikir demikian tetapi usianya 23 tahun ".
" Berbeda 6 tahun dari Jongin, kurasa ia yang paling muda diantara mantan wanita Jongin, oh wait bukankah ia memiliki kontrak dengan Miranda Gomez model asal Venezuella itu ?".
" Akan berakhir 16 April nanti " Tiffany menggelengkan kepala. Ia jelas tahu cerita tentang sahabat kekasihnya Kim Jongin. CEO muda yang tidak pernah berkomitmen sepanjang masa eksistensinya. Namun ia membuat sebuah konttrak perjanjian yang diurus langsung oleh Nickhun. Jongin menyukai hubungan fisik namun tidak hubungan emosional. Ia tidak ingin dikendalikan oleh makhluk berwujud perempuan. Dan ia ingin bermain aman dengan para wanita yang membuatnya tertarik. Membuat kontrak hubungan selama beberapa lama sampai ia bosan, sejauh ini ia hanya melakukan kontrak selama 3 bulan. Maka selama 3 bulan itu ia hanya akan berhubungan dengan wanita tersebut saja. Jongin mungkin berganti pasangan selama kurun waktu 3 bulan namun selama ia dalam kontrak ia tidak akan menyalahi kontrak dengan berhubungan fisik bersama wanita lain. Maka ia menerapkan hal serupa pada wanita kontraknya. Kim Jongin tidak berbagi.
" Kau tahu, ini sebenarnya konyol honey, ia tidak perlu membuat kontrak jika hanya ingin memiliki pasangan sex " ucap Tiffany.
" Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin bahwa ini sekedar sex baginya " Tiffany menaikkan alisnya bingung.
" Lalu apa, dia mencampakkan wanita-wanita itu setelah 3 bulan ".
" Aku sedang memikirkannya dan belum terlalu yakin dengan pemikiranku, karena Jongin bukanlah tipe seperti yang kupikirkan itu ".
" Apa, katakan padaku ?" rengek Tiffany manja.
" Nanti, jika aku sudah yakin " sahut Nickhun. Ia hanya berfikir bahwa Jongin pastilah tidak hanya sekedar membuat kontrak untuk memastikan bahwa wanita kontrak tersebut tidak akan membeberkan hubungan mereka namun pasti ia memiliki alasan khusus.
Kim Women's Contract
Jongin membaca sebuah paper yang telah disiapkan oleh Nickhun mengenai latar belakang Do Kyungsoo yang kini menjadi incarannya. Nickhun memang bisa diandalkan karena ia mendapatkan data dengan komplit.
" Jadi pria ini yang dipanggilnya paman ?" ia bertanya tidak lebih pada dirinya sendiri.
" Park Joonmyeon, ia wakil direktur dari pabrik tekstil milik mendiang ayah Kyungsoo " jawab Nickhun memberikan penjelasan. " Memiliki seorang istri Zhang Yixing dan seorang anak lelaki Park Chanyeol yang seusia dengan Kyungsoo. Dialah kini yang menangangi pabrik peninggalan keluarga Do, namun mereka sedang mengalami krisis keuangan hingga memutuskan menjual pabrik di Busan. Hutang pada Bank bahkan tidak bisa tertutupi dengan penjualan pabrik tersebut. Namun jika pabrik di Seoul yang masih beroperasi dijual ada kemungkinan seluruh hutang pinjaman di Bank untuk pembangunan pabrik di Busan akan terlunasi ".
" Gadis itu tidak akan menjualnya " gumam Jongin membalikkan lembar berikutnya.
" Ya, Park Joonmyeon menolak menjualnya meski ada beberapa penawar ".
" Sampaikan pada Park Joonmyeon bahwa aku menawar pabrik tersebut dengan harga tinggi " putus Jongin.
" Kau sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak akan menjual pabriknya ".
" Dia tidak akan menjualnya tapi dengan cara itu aku bisa menyampaikan maksudku padanya " Nickhun menatap tidak mengerti. " Just do it Nick, selain itu aku yang akan mengurusnya seperti biasa ".
" Ya, baiklah perintah diterima my lord " Jongin terkekeh sebentar lalu membuka halaman pertama paper dimana foto Kyungsoo terpajang disana. Ia menyeringai memandang wajah imut yang tersenyum kearah kamera tersebut. You didn't have a choice Miss Do batinnya.
'
'
'
'
'
'
TBC
.
.
semoga reders semua suka sama chap 1 ini, ditunggu masukan, review, follow and favnya, yaudah cuap-cuapnya, see you next chap
pay pay ;)
