Kim Women's Contract
Cast :
Do Kyungsoo
Kim Jongin
RnR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
FAV, FOLLOW, AND REVIEW PLEASE
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Stay with Sir Kai
Kyungsoo baru saja menyelesaikan ujian semesternya dan setelah hari ini dia memiliki banyak waktu luang untuk dirinya sendiri dan tentunya juga untuk Jongin. Mengingat Jongin membuat pipinya bersemu merah. Ia telah melewatkan hampir dua bulan bersama pria tampan itu. Ponselnya berdering dan kontak dengan nama 'Sir Calling' berpender dilayar.
" Hallo sir " jawabnya pelan.
" Ujianmu sudah selesai ?".
" Ya, baru saja " diseberang sana Jongin mengangguk.
" Minho dalam perjalanan menjemputmu, kau ada janji dengan Dr. Go hari ini ingat ?".
" Ya sir ".
" Good, dan setelah itu bersiaplah untuk makan malam bersama, aku akan menjemputmu ".
" Ya sir " Jongin dan Kyungsoo terdiam sesaat, Kyungsoo menggigit bibirnya bingung harus berbicara apa.
" You know what ?".
" Hmm.. ya sir ?".
" Kau masih saja kaku dan canggung bahkan setelah hampir 2 bulan lamanya ?" Kyungsoo menggaruk pipinya lucu.
" Aku.. aku hanya bingung… ".
" Kita akan membicarakannya nanti Kyungie hmm ?" Kyungsoo suka panggilan itu. Ia tersenyum begitu manis.
" Miss Do " sebuah suara mengejutkannya.
" Apa itu Minho ?" tanya Jongin diseberang. Kyungsoo mengerjap sesaat sebelum menjawab.
" Ya sir, ia sudah tiba ".
" Baguslah, kalau begitu segera berangkat dan sampai bertemu nanti malam ".
" Hmm.. see you sir… " Kyungsoo tersenyum kecil pada Minho setelah menutup telpon. Choi Minho adalah orang kepercayaan Jongin. Selama ini jika Kyungsoo tidak membawa mobil sendiri, ia telah dibelikan mobil baru oleh Jongin ngomong-ngomong. Menolak dengan lembut mobil mewah baru dan lebih menginginkan agar Jongin bisa membelikan mobil serupa audinya yang lama. Dan Jongin mengabulkannya, ia membelikan mobil yang sama dan Kyungsoo jadi tidak perlu memberikan banyak alasan saat Jessie bertanya. Karena Jongin bahkan mampu memberikan nomor kendaraan serupa dengan mobil lamanya. Kembali pada Choi Minho, dia akan bertindak sebagai supir bagi Kyungsoo jika Jongin ingin Kyungsoo berangkat tanpa mobilnya dan disinilah Choi Minho saat ini.
" Anda sudah sampai Miss Do ".
" Terima kasih Minho " jawabnya. " Aku tidak akan lama " Minho mengangguk, ia membukakan pintu dan membiarkan Kyungsoo masuk seorang diri kedalam rumah sakit menemui dokter Go Ahra.
" Hei little girl " sapa wanita cantik berseragam dokter itu begitu ia berpapasan dengan Kyungsoo dilobi rumah sakit.
" Dokter Go, apa kabar " sapa Kyungsoo ramah.
" Aku baik, kau datang untuk mengambil pilmu ?" Kyungsoo mengangguk. Ia merangkul bahu mungil Kyungsoo dan mengajaknya menuju keruangannya. Go Ahra sampai kini masih tidak percaya bahwa salah satu sahabatnya dibangku kuliah Kim Jongin mengencani gadis yang begitu mungil ini. " Kau sangat tepat waktu, pasti Jongin selalu mengingatkanmu hmm ?".
" Demi keamanan dokter ".
" Sudah berapa kali kukatakan kau bisa memanggilku Ahra eounni ".
" Iya, Ahra eounni " Ahra tersenyum, mengambil sebotol pil dari dalam lemari kaca dan menyodorkannya pada Kyungsoo.
" Jongin selalu bermain aman " angguk Ahra. " Bagaimana perkembangan hubunganmu dan Jongin ?" Kyungsoo memandang Ahra bingung.
" Hubungan ?".
" Ya, kau dan Jongin ?" Kyungsoo menggeleng.
" Tidak ada hal yang seperti itu diantara aku dan Mr Kim bukankah eounni mengetahuinya " Ahra hanya mengedikkan bahunya.
" Hanya berharap mungkin saja ada keajaiban kecil terjadi padanya " jawabnya. " Aku berharap yang terbaik untukmu dan Jongin ".
" Terima kasih eounni ".
kim women's contract
Pukul setengah delapan malam Jongin yang tampak sudah rapi dan tampan berdiri didepan pintu apartemen Kyungsoo, disambut oleh simungil yang begitu cantik dalam balutan dress berbahan ringan selutut berwarna salem.
" You look beautiful " puji Jongin. Dengan pipi bersemu Kyungsoo tersenyum.
" Thank you sir, you look… handsome like always " tawa kecilnya muncul, begitu cantik dan membuat Jongin tersenyum. Ia selalu menyukai tawa kecil dan malu-malu itu. Bergandengan tangan ia membawa Kyungsoo turun menuju mobilnya di basement dan mereka melaju menuju restoran favorit Jongin. Tempat pertama kali mereka dinner.
" Bagaimana ujianmu ?" tanya Jongin membuka suara sambil menikmati makan malam mereka.
" Berjalan lancar ".
" Oh yeah, seharusnya aku tidak bertanya pada salah satu mahasiswa terbaik di Manhattan university " Jongin menyeringai kecil.
" Masih ada yang lebih baik dariku, sir " elaknya malu-malu.
" Kau yang terbaik di Jurusan Arsitektur " Kyungsoo hanya tersenyum menanggapinya. " Lalu apa rencanamu ?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan bingung, astaga Jongin begitu menyukai ekspresi lucu dan polos Soo.
" Rencana.. rencana apa ?".
" Liburan semester baby girl, apalagi ?".
" Ohh.. aku.. tidak memiliki rencana " jawabnya pelan.
" Apa yang kau lakukan biasanya ?" Kyungsoo mengingatnya dan tersenyum kecil. Mata bulat itu menatap Jongin.
" Biasanya… aku akan kembali ke Korea mengunjungi orang tuaku " Jongin tersenyum menenangkan. Mengerti bagaimana perasaan Kyungsoo. " Jika tidak, aku akan mengambil beberapa kerja paruh waktu untuk mengisi waktu luang " Jongin menggeleng tegas.
" Not accepted, tidak ada kerja paruh waktu " Kyungsoo meringis kecil, Jonginlah alasan ia berhenti dari kerja paruh waktu ditempat saudara Jessie. Ia bahkan memberikan sebuah kredit card miliknya pada Kyungsoo namun tidak pernah sekalipun dipakai oleh Kyungsoo karena ia memiliki uang sendiri meski tidak sebanyak yang Jongin tawarkan. Joonmyeon mengirimkan uang ke rekeningnya, bahkan lebih banyak dari yang biasanya dikirimkan orang tuanya karena penghasilan ayahnya juga dikirimkan kerekeningnya. Bagaimanapun juga pabrik itu kini telah dialihkan keatas namanya sesuai dengan surat wasiat yang telah ditulis oleh ayahnya atas kepemilikan pabrik itu dimasa depan jika sesuatu terjadi atau ayahnya telah tiada.
" Aku mengerti, karena itu aku tidak memiliki rencana apapun untuk liburanku selain.. bermalas-malasan dirumah ".
" Kalau begitu tinggallah dirumahku " jawab Jongin tenang dan ringan. Suapan steak Kyungsoo terhenti.
" Ap.. apa ?" Jongin menaikkan satu alisnya, ia tidak suka mengulang ucapannya. " Tinggal dirumah anda ?".
" Yeah, selama liburan kau bisa tinggal dan mungkin saja setelahnya kau tidak lagi bersikap canggung dan terlalu formal " ia tertawa kecil. Jongin memiliki beragam sikap dan tingkah polah. Ia bisa sangat serius, mengintimidasi, namun juga bisa hangat dilain waktu. " Dengar Kyungie, kita memang menjalani sebuah hubungan dalam kontrak namun kau tidak perlu bersikap formal dan kaku padaku. Kau selalu memakai kata 'anda' padahal aku tidak masalah jika kau menggunakan kata informal namun sopan padaku, it's fine ".
" Be..begitukah ?".
" Ya, jadi mulai sekarang berusahalah untuk rileks padaku hmm ?" Kyungsoo mengangguk pelan. Jongin tersenyum begitu tampan membuat kinerja jantungnya menggila. " Dan nanti kita akan mampir ketempatmu untuk mengambil beberapa barang yang kau butuhkan untuk tinggal ditempatku selama liburan " itu bukan permintaan namun perintah, dan Kyungsoo mengangguk tidak memiliki alasan menolak.
kim women's contract
Kyungsoo terbangun pada pukul lima pagi dengan tenggorokan kering dan saat mengedarkan pandangannya ia tersadar bahwa ia berada dikamarnya di kediaman Jongin dalam keadaan telanjang dan berbalut selimut. Jelas ia dan Jongin berakhir diranjang setelah mereka kembali dari makan malam dan mengambil beberapa barangnya diapartemennya. Kyungsoo meraih gelas berisi air putih disamping nakas dan menenggaknya hingga tandas. Memandang bagian kosong di kasurnya. Jongin tidak tidur bersamanya. Ia mengetahuinya setelah beberapa kali mereka melakukannya dikamar ini. Jongin tidak tidur bersama wanita-wanitanya. Ia jelas mengingatnya, pagi hari setelah ia melewatkan malam pertamanya bersama Jongin. Ia tidak menemukan pria tampan itu disampingnya dipagi hari.
" Aku tidak tidur dengan siapapun, tidur dalam artian sebenarnya " jawabnya tenang dan ringan saat Kyungsoo menanyakannya diwaktu lalu. Mencoba menghilangkan kegalauan hatinya karena bahkan ia tidak bisa menjadi special dimata Jongin, Kyungsoo beranjak dari atas kasur. Bertelanjang menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
Para maid tampak terkejut saat melihat wanita dari tuan mereka berada didapur pada jam enam pagi dihari Sabtu. Tampak menyibukkan diri dengan roti dan pemanggang, diatas meja terhampar beberapa piring dengan selada, tomat, irisan dada ayam panggang, tuna dan telur. Kyungsoo tersenyum pada para maid.
" Morning " sapanya ceria. " Maaf aku menginvasi dapur pagi ini " para maid tersenyum ramah, mereka tidak bisa berkata tidak pada wanita tuan mereka. Dan Kyungsoo merupakan satu-satunya wanita dari tuan mereka yang pernah menyambangi dapur.
" Anda bisa melakukan apapun yang anda inginkan Miss Do " ucap Brit salah satu maid yang lebih tua.
" Aku bermaksud membuat sandwich untuk sarapan, kuharap aku tidak menghambat pekerjaan kalian ".
" Tentu tidak Miss, apa anda butuh bantuan ?" tanya maid satunya.
" Tidak, tidak, aku bisa melakukannya, silahkan lanjutkan apa yang ingin kalian kerjakan " jawabnya. Merekapun mengangguk dan mulai mengerjakan apa yang harusnya mereka kerjakan.
" Anda tampak luwes melakukan pekerjaan dapur miss ?" tanya Brit.
" Tidak juga, aku hanya sering melakukannya untuk diriku sendiri dan juga… orang tuaku saat mereka masih hidup ".
" Oh maafkan aku miss " Kyungsoo menggeleng dengan senyuman.
" Never mind Mrs Hans " Brittany Hans, itulah namanya dan Kyungsoo mengetahuinya dari Heechul.
" Anda bisa memanggilku Brit saja miss ".
" Tidak, itu membuatku merasa tidak nyaman jadi biarkan aku memanggilmu Mrs Hans ya " ia memasang wajah imut andalan yang menggemaskan membuat Brit terkekeh kecil.
" Tentu miss ".
kim women's contract
Jongin menuruni tangga rumahnya sambil mengedarkan pandangan mencari sosok Kyungsoo karena ia tidak menemukannya dikamarnya. Ia sudah rapi dengan kemeja berwarna abu-abu dan celana yang senada, berjalan dengan gagah menuju keruang makan dan saat itulah ia mendengar tawa yang begitu ia sukai. Kyungsoo sedang menata piring diatas meja sambil mengobrol dan tertawa bersama Brit.
" Kyungie !" Kyungsoo menoleh dan tersenyum memperlihatkan eyesmilenya.
" Hai, morning " sapanya ceria, Jongin menyukainya. Ia tampak mulai lebih santai dan terlihat lebih ceria.
" Kemarilah, aku mencarimu kekamar dan tidak menemukanmu " Kyungsoo mendekat, dan membiarkan Jongin meraihnya dalam dekapannya.
" Aku terbangun terlalu pagi dan memutuskan membuat sarapan " jawabnya dan setelahnya bibir Jongin mengecup bibirnya, melumatnya lembut. Kyungsoo mendorong kecil dada Jongin membuat sitampan bingung.
" Apa kau baru saja mencoba menolakku " Kyungsoo melirik Brit yang tersenyum maklum.
" Kita tidak sendiri disini " bisiknya malu. Dan astaga bagaimana Jongin melupakannya, ini seorang Do Kyungsoo bukan wanitanya yang biasanya. Namun Jongin malah mendaratkan kecupan di hidung mancungnya, gemas bukan main.
" Aku menyukai warna pink dipipimu baby " candanya. " Jadi.. apa yang kau buat untuk menu sarapan pagiku ?" Kyungsoo yang bersemu mendadak kembali ceria.
" Sandwich ayam panggang dan tuna, lalu kopi hazelnut ".
" Aku suka sandwich ayam panggang, apa itu dada ?".
" Hmm.. " angguk Kyungsoo.
" You're the best " mereka duduk dikursi, Jongin dikursi ujung dan Kyungsoo disebelahnya, memperhatikan Jongin yang mulai menyantap sandwichnya. Menunggu bagaimana pendapatnya untuk sandwich buatannya itu. " Hmm… mmhh ".
" Bagaimana ?" mata Jongin memicing, mengunyah dengan gaya menilai. Menikmati wajah harap-harap cemas Kyungsoo dan ia tersenyum. Mendaratkan elusan lembut dipipi Kyungsoo.
" It's delicious ".
" Really ?" Jongin mengangguk.
" Kemari, aku akan memberikan hadiah untuk sarapan pagi yang lezat ini " Jongin menarik lembut tengkuk Kyungsoo dan lagi, mendaratkan kecupan dibibir mungil itu.
" Heiii~ " ringisnya malu.
" Oh my god… that's romantic " suara Heechul menggoda dengan kekehan. " Apa aku boleh bergabung ?" Jongin memicing.
" Bergabung sarapan, yeahh ".
" Tentu saja, kau pikir apa, tapi kalau aku boleh mencium Kyungsoo juga akan lebih menyenangkan " Jongin mendengus dan mendelik pada Heechul yang dihadiahi kekehan sang sepupu.
" Morning oppa ".
" Morning Kyungie " sahutnya. " Whoaa.. ini pertama kalinya wanita Jongin membuatkan sarapan, good girl " puji Heechul. Brit mengangguk setuju dan Jongin mau tidak mau mengakui hal itu. Ini pertama kalinya wanita-nya menyiapkan sarapan pagi untuknya. Biasanya para maid yang akan menyiapkan dan mereka hanya tinggal menikmatinya. Dan tidak biasanya pula Heechul sarapan bersamanya jika wanitanya menginap.
" Kau tidak ada rencana hari ini ?" tanya Jongin pada Kyungsoo.
" Tidak, kurasa aku akan bermalas-malasan saja " kekehnya kecil.
" Itulah yang harus dilakukan gadis seusiamu Kyungsie, menikmati liburanmu dengan bersantai " setuju Heechul. " Atau kita bisa kencan selama Jongin berada di kantor ".
" Berkencan " dengus Jongin.
" Ini hari Sabtu dan kau kerja, maka sebagai sepupu yang baik aku akan menemani adik kecilku ".
" Apa aku boleh berkunjung ke klub oppa ?" Jongin dan Heechul bertukar pandang. " Aku pernah ke klub sebelumnya, akukan bukan anak kecil lagi " suara manja Kyungsoo muncul.
" Tentu saja kau bisa kesana nanti malam " jawab Jongin. " Kita akan pergi bersama ".
" Benarkah ?" Jongin mengangguk.
" Kalau begitu siang ini kita shopping saja, bagaimana ?" tawar Heechul dan Kyungsoo mengangguk setuju, ia membutuhkan pakaian untuk pergi ke klub. Rasanya begitu menyenangkan, Jongin merasa rumahnya terasa hangat karena keberadaan Kyungsoo. Ia dengan mudahnya berbaur dengan Heechul bahkan maidnya Brit.
kim women's contract
Club milik Heechul berada di 32nd street di Manhattan Koreatown, sebuah club dengan nama Cinderella Club yang memiliki banyak pengunjung yang mayoritas adalah pemuda-pemudi berdarah Korea yang bermukim di Manhattan.
" Cinderella ?" Jongin terkekeh pelan melihat keterkejutan Kyungsoo begitu membaca papan nama berkilau didepan gedung club tersebut.
" Yeahh.. that's unique like the owner " Kyungsoo membalas kekehan Jongin. Dengan tangan memeluk pinggang Kyungsoo begitu dekat, ia membawa simungil memasuki club yang sering ia sambangi tersebut. Musik yang menghentak namun easy listening dipendengaran Kyungsoo menyapa mereka begitu keduanya memasuki ruangan klub yang dihiasi gemerlapan lampu berwarna-warni itu. Keduanya menuruni tangga dan Jongin menggiring Kyungsoo kesalah satu meja bartender dan Heechul berada disana tengah sibuk dengan kegiatannya meracik minuman.
" Hei baby girl, nice to see you here " sapa Heechul.
" Hai oppa " sahut Kyungsoo. Ia duduk dikursi tinggi dengan Jongin duduk disebelahnya.
" Sebentar ya " ia melirik minuman yang tengah dibuatnya untuk pelanggan. Kyungsoo mengangguk mengerti. Kyungsoo mengedarkan pandangannya meneliti para pengunjung.
" Apa yang kau lihat hmm " Jongin mendekatkan kursinya dengan kursi Kyungsoo, menarik pinggang langsing itu mendekat padanya.
" Disini banyak orang Korea ".
" Tentu saja, klub Heechul hyung yang terbaik disini ".
" I can see that ".
" Jadi.. ini baju baru " Jongin baru berkomentar tentang pakaian Kyungsoo, sebenarnya sedari tadi ia sudah ingin berkomentar hanya saja ia menahannya. Kyungsoo tampak begitu cantik dan juga seksi dalam balutan monochrome mini dress berwarna abu-abu, betisnya yang langsing tampak jenjang dipadukan dengan Jimmy Choo wedges berwarna silver yang memberikan kesan mengkilat.
" Hmm ya.. Heechul oppa memilihkannya untukku, ng.. bagaimana menurutmu ?" Jongin menyeringai kecil.
" Aku ingin melepasnya dari tubuh mungil menggoda ini " pipi itu bersemu merah.
" Apa karena terlihat jelek ditubuhku ?" tanyanya polos dan Jongin menggeleng dengan tawa kecil menghibur.
" Tidak baby, ini begitu indah ditubuhmu, aku menyukainya tetapi kau jelas tahu aku lebih menyukai kau yang tanpa sehelai benangpun ".
" Ohh sir " sentaknya malu dan menjatuhkan keningnya didada bidang Jongin. " Jangan berkata begitu ".
" Dan Kyungie " Jongin menyentuh lembut dagu Kyungsoo dan mengecupnya lembut.
" Hmm ?".
" Kenapa aku tidak menerima tagihan apapun untuk kartu kredit yang kuberikan padamu ?" tanya Jongin dengan tatapan intens. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya.
" Ngg.. aku belum menggunakannya " Jongin mendelik tidak suka.
" Hei, dengarkan aku Do Kyungsoo " ia meraih kedua bahu sempit Kyungsoo, menegakkannya dengan lembut dan memberikan elusan ringan disana. " Ketika kita sepakat dengan kontrak itu, segala sesuatu tentangmu menjadi tanggung jawabku. Dan saat aku memberikan kartu itu padamu, sudah sepantasnya kau memakainya untuk kebutuhanmu, apa kau mengerti ?" dia berkata begitu tegas namun lembut ditengah hiruk pikuk klub dan kebisingan music yang menghentak.
" Ya sir.. aku.. aku hanya ".
" Aku tahu kau memiliki uang meskipun kau tidak bekerja nona pemilik Do Textile " kekeh Jongin melembut dan mengelus pipi Kyungsoo. Astaga, pria tampan ini selalu membuatnya terkejut dengan sikapnya yang bisa berubah-ubah namun mempesona. " Namun kau harus menghargai pemberianku dengan menggunakannya, got it ?" tatapan mata bulat yang mengintimidasi itu membuat Kyungsoo mau tidak mau mengangguk.
" I'll do it ".
" Good girl " Jongin sepertinya tidak tahan jika sehari saja tidak mendaratkan ciumannya pada bibir Kyungsoo. Hal itu membuat Hecehul mendengus geli namun terkekeh sendiri. Jongin justru seperti layaknya pria yang tengah menikmati hubungan berpacaran normal. Biasanya ia akan duduk dipojokan bersama wanitanya, mungkin hanya sekitaran 10 menitan dan setelahnya menghilang kedalam salah satu kamar hotel. Namun ini sudah lebih dari 10 menit mereka tiba, dan tidak memilih tempat dipojokan melainkan didekat meja bar.
" Hei, hei aku masih disini " tegur Heechul, Jongin melepaskan pautan bibirnya dan mendelik pada sang sepupu yang mengganggu acara mari-mencium-Sookie. Sementara Kyungsoo menunduk malu karena lagi-lagi ketahuan berciuman didepan Heechul. " Kau ingin sesuatu Kyungsooie ?".
" Hmm… " Kyungsoo tampak berfikir.
" Gin dan tonik " jawab Jongin. " Ia tidak boleh terlalu sering mengkonsumsi minuman alcohol ".
" Ahh ya, women's contract " desis Heechul. Jongin mengabaikannya dan justru merangkul Kyungsoo mendekat. Mereka duduk begitu dekat hingga tampaknya tak ada jarak diantara keduanya.
" Bagaimana menurutmu klub oppa ?" tanya Heechul.
" Aku merasa sedang berada di Seoul ".
" Tentu saja, pengunjung disini mayoritas pemuda-pemudi Korea " angguk Heechul. " Kau tidak mau turun ke lantai dansa ?".
" No, aku tidak memiliki bakat menari ".
" Aku bisa mengajarkanmu ".
" Kau bisa menari ?" ohh Kyungsoo sudah tidak memakai kata 'anda' lagi.
" Dia buruk, tetapi ia akan memiliki kesempatan merabamu saat berada dilantai dansa " ejek Heechul.
" Yaa hyung " gerutu Jongin.
" Apa, itukan yang sering kau lakukan ".
" Cckk… mulutmu itu hyung ".
" Sepatuku tidak nyaman untuk menari " geleng Kyungsoo.
" It's fine, kita bisa duduk disini saja ".
" Terima kasih, lagipula aku suka melihat Heechul oppa meracik minuman, aku melihat oppa bereksperimen dirumah tadi ".
" Bereksperimen dengan minuman ?".
" Ya, dan beberapa dari eksperimen itu sangat enak ".
" Kau meminumnya ?" sentak Jongin.
" Hanya yang ringan saja, jangan berlebihan begitu " tegur Heechul. Kyungsoo meringis melihat bola mata Jongin menajam.
" Aku bahkan tidak mabuk, hanya mengantuk saja tadi " Jongin menghela nafas pelan.
" Berikan jus jeruk untuknya hyung ".
" Kenapa, gin dan tonik… ".
" Kau sudah banyak minum tadi maka sekarang kau hanya boleh minum jus jeruk " tegasnya dan Kyungsoo hanya bisa menurut.
" Ahh.. sangat penurut " tawa Heechul. " Dasar dictator " ia mengejek Jongin.
" Lagipula aku menginginkannya sadar agar kami bisa melewati malam panjang bersama " Kyungsoo tidak tahu sudah berapa kali pipinya memerah karena ucapan Jongin. Heechul hanya mendengus mendengar penuturuan ringan sepupunya itu, pembicaraan tentang kehidupan ranjangnya memang bukan rahasia bagi Heechul.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
hahaha kebut-kebut
see you next chap
pay pay ;)
