Disclaimer : BoBoiBoy punya monsta. Fang punya aku.*dilemparpiring*
Warning : Typo(s), OC, sudah terlanjur OOC level max, tidak ada konflik sepertinya :v
A/N : Haii, ketemu lagi sama aku :v Kok reviewnya sedikit ya? *pundung* *nangis* *ngelapingus* Tapi, Makasih ya yang kemaren udah nge-review. Aku mau bales review dulu buat yg ga punya akun ffn.
DesyNAP : Kyaa makasih udah suka fic akuu :3
Ehem.. aku emang udah ada niatan buat bikin yang Halilintar *bisikbisik
Selanjutnya aku mau bikin fansnya Hali ngefly~ :v
Tapi aku masih bingung sama judulnya.. haha :v
LillyAiyoo1993 : WHAT?! Dila sama Fang? #tepar
Ini udah lanjut :3
GeminiStrars : Hahhh? Ahahaha xD aku bikin nama Dila itu ngasal loh .-. dia cuman sekali doang kok munculnya.. mueheheh :v
Oke, ini udah dilanjut!
Guest : Aku udah ada rencana buat yang versi Halilintar kok :3 *bisikbisik
Stay tune yah J
Syarifah Aisyah : Makasih udah bilang aku keren, hehe ;3
Rin : Waa kita sama sama fansnya Fang *tos* Ini udah dilanjut ;3
Lian : Ini udah dilanjutt, maap ngaret XD makasih dukungannya ;3
Another Guest : Ini udah dilanjut ;3
Huft selesai. Ohiya, pada minta yang versi Halilintar ya? Fuyoo~ aku emang udah ngerencanain bikin yang Halilintar kok xD jadi yang satu Fang yang satu lagi Halilintar. Sebenernya aku mau nyelesein ini dulu baru nge-post yang Halilintar, tapi udah kebelet(?) pengen nge-post :v Tapi, masalahnya.. AKU BELUM TAU JUDULNYA APA x_x aku bingung judulnya mau apa ._. kwkw. Ah sudahlah. Happy reading!
Chapter 2 : Jealous?
"Selamat pagi Fang!"
"Hm."
Aku menyapa pemuda bersurai raven yang sedang membaca bukunya di sekolah pagi ini. Aku meletakkan tasku di tempat dudukku, Disamping Fang. Setelah kejadian diantara Mira-Dila-Aku, Aku memutuskan untuk mengalah daripada menghadapi satu orang yang keras kepala dan tidak mau mengalah dan satu orang lagi yang tidak mau membantu teman sebangkunya(dulu) ini. Dan akhirnya aku duduk di bangku paling belakang dan Fang yang dengan setia duduk disampingku. Hari ini aku datang pagi – pagi. Kelas masih sepi. Aku melirik Fang yang sedang berkutat dengan bukunya. 'Masih pagi udah baca buku aja. Rajin bener ini anak,' batinku. Lalu aku melihat pemuda bertopi jingga dan memakai jaket jingga masuk ke dalam kelas ini.
"Pagi Boboiboy!" Sapaku ceria.
"Pagi juga" Balas Boboiboy dengan senyuman manisnya.
"Ohiya, Hari ini aku piket, kau juga piket kan Boboiboy?" Aku baru ingat hari ini aku piket.
"Alamak, aduh aku sampai lupa kalau hari ini aku piket," Boboiboy menepuk jidatnya. Aku terkekeh.
"Kita piket sekarang yuk, daripada piket sepulang sekolah, aku yakin kau sibuk dengan urusan OSIS dan yang lainnya pasti ngacir," ucapku sebal sambil memutar bola mataku.
"Hehehe, Oke oke. Kau sapu lantai kelas, aku menghapus papan tulis,"
"APA?! Enak saja! Kau maunya yang mudah! Kau juga harus menyapu kelas!"
Dan akhirnya terjadilah perdebatan singkat antara aku dan Boboiboy.
Sweet Moment
Aku mengayunkan sapu yang sedang ku genggam itu untuk membersihkan lantai kelas ini. Ya, tentunya aku sedang menyapu lantai kelas yang kotor ini. Sedangkan pemuda bertopi itu sedang menghapus papan tulis. Tidak adil bukan? Tapi aku dan Boboiboy sepakat kami akan menyapu lantai kelas bersama dan mengepel kelas. Karena sekarang masih sangat pagi dan kelas masih sepi, kami memutuskan mengepel kelas. Aku menyapu kelas seraya bersenda gurau dengan Boboiboy yang sedang menghapus papan tulis kelas.
"Sana ambil sapu! tolong bantu aku menyapu kelas," titahku kepada Boboiboy yang sudah menyelesaikan kegiatan menghapus papan tulis kelas.
"Enggak ah males," Boboiboy menjulurkan lidahnya.
"Apa?! Kau ini! Aku kan baru membersihkan sebagian, kau juga harus membantuku,"
"Aku kan sudah menghapus papan tulis, jadi aku tidak perlu menyapu kelas," ujar Boboiboy santai.
"Apa?! rasakan ini!" Aku memukul Boboiboy menggunakan sapu yang sedang aku gunakan untuk menyapu kelas.
"Aww sakitt, ahaha. Baik baiklah aku akan membantumu,"
"Nah gitu dong, Terbaik," Aku melanjutkan tugasku menyapu kelas. Aku melirik Fang yang masih sibuk membaca bukunya.
"Asik banget baca bukunya dari tadi," sindirku yang memang ditujukan kepada Fang. Kebetulan, Aku sedang menyapu barisan tempat dudukku dan Fang. Fang melirikku malas, Tidak berniat membalas perkataanku. Tak lama kemudian, Akhirnya tugas menyapuku selesai. Aku menoleh ke arah Boboiboy yang juga sudah selesai menyapu.
"Ambil air dan ember sana,"
"Aik? Kok aku?"
"Kan kamu daritadi tugasnya gampang – gampang, udah cepat ambil sana,"
"Aku bantu nyapu juga kali," Boboiboy memasang muka cemberut.
"Baiklah, baiklah ayo ambil air dan ember bareng,"
"Nah gitu dong, Terbaik," seru Boboiboy mengacungkan jempolnya. Aku memutar bola mataku.
Sweet Moment
Aku kembali ke kelas bersama Boboiboy yang sedang menenteng ember yang berisi air. Aku menuangkan cairan pembersih lantai yang sempat aku dan Boboiboy beli di koperasi tadi. Aku memasukkan kain pel ke dalam ember tersebut.
"Boboiboy! jangan ngeliatin aja, peras kain pel ini dong."
"Kenapa aku? Malas ah, nanti seragamku basah," tolak Boboiboy.
"Tidak mau ya? Siap siap disiram air pel ini ya" Aku menyeringai. Boboiboy menatapku horror.
"Eeeeh, iya – iya aku lakukan,"
Aku tersenyum puas. Boboiboy menggulung lengan seragamnya dan mulai memeras kain pel. Setelah selesai, Boboiboy pun memegang gagang pada kain pel tersebut. Posisi tanganku juga sedang menggengam gagang kain pel tersebut. Posisi tangan kami sama, Singkat kata, Boboiboy seperti menggenggam tanganku. Tanganku dan tangan Boboiboy bersentuhan. Aku tersentak. Aku menatap Boboiboy yang sedang menatapku. Waktu terasa berhenti, sehingga...
"Gyaaaaaa kain pelnya basah lagi!" seruku kaget ketika melirik kain pel yang tercebur kedalam ember itu lagi.
"Alamak!" Boboiboy melepaskan tangannya yang menyentuh tanganku. Boboiboy pun memeras kain pel itu 'lagi'.
"Nih, pel sana,"
"Aku lagi?! A-"
"Kau belum pernah merasakan disiram air pel ya?" Boboiboy menggeleng cepat lalu menyambar kain pel tersebut dan mulai mengepel kelas. Aku melihat Boboiboy mengepel kelas dengan tidak benar alias tidak niat. Penghapus papan tulis pun melayang ke arah kepala Boboiboy.
"Wadaw," Ringis Boboiboy.
"Oi! Ngepel tuh yang bener!"
Dan akhirnya terjadilah perdebatan lagi diantara kami yang diselingi dengan tawa.
(Author's POV)
Sementara itu, sepasang mata dibalik kacamata nila menatap mereka berdua yang sedang melakukan kegiatan piket dengan tatapan tajam.
KRINGGGGGG!
Bel masuk telah berbunyi. Aku telah menyelesaikan kegiatan piketku tadi bersama Boboiboy. Aku duduk disamping Fang sambil mengatur nafasku. Kegiatan piket tadi cukup melelahkan.
"Seperti kau bahagia sekali." ucapan dengan nada dingin yang menusuk itu berasal dari pemuda bersurai raven disampingku.
"Huh?" Aku menatap Fang bingung. Apa maksud perkataannya? Fang tidak menjawab perkataanku, mungkin dikarenakan guru kami sudah masuk ke dalam kelas.
Sweet Moment
"Kau bisa melihat ke arah papan tulis?" Tanya Fang disela – sela mencatat materi. Kebetulan ini mata pelajaran matematika yang tentunya tidak bisa mengerti suatu materi jika tidak dijelaskan secara langsung.
"Bisa.." jawabku singkat.
"Bagaimana bisa?"
Aku menoleh ke arah Fang, yang sama sekali tidak menoleh ke arahku, melirik pun tidak.
"Emm.. Aku menggunakan soft lens,"
"Soft lens?" Fang mengalihkan pandangannya dan kini menatapku.
"Iya," jawabku singkat 'lagi'.
Fang menatap mataku dalam. Ia menatapku cukup lama.
"Kau terlihat.." Fang menggantungkan kalimatnya.
"Huh?"
"Tidak."
"Ih ayolah Fang, kenapa?"
"Tidak apa apa."
"Bohong! Lanjutkan perkataanmu tadi! atau kau tidak bisa menulis,"
Aku menarik buku tulis milik Fang dan menjulurkan lidahku. Fang membuang mukanya dan mendesah, lalu ia menatapku.
"Cantik."
"Hah?"
"Kembalikan buku-ku."
"Tunggu tunggu, tadi kau bilang apa?" aku masih bingung dengan pernyataan Fang tadi.
Fang memutar bola matanya.
"Cepat kembalikan."
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Tadi aku bilang cantik."
"Cantik? cantik apa?" aku masih belum mengerti.
Fang mendengus kesal.
"Kalau ngomong jangan setengah setengah," ujarku setengah bercanda.
"Kau terlihat sangat cantik." Ucap Fang cepat seraya mengambil bukunya di tanganku dan membuang mukanya. Aku mengerjapkan mataku berkali – kali. Fang berkata aku cantik?
Sweet Moment
"Fang, ada tugas OSIS yang harus kita selesaikan,"
"Dimana kita akan mengerjakannya?"
"Kurasa diantara rumahku dan rumahmu,"
"Terserah kau saja,"
"Baiklah kita akan mengerjakannya didi rumahmu."
Aku mendengar atau lebih tepatnya, menguping pembicaraan dua pemuda yang jabatannya sebagai ketua OSIS dan wakil ketua OSIS ini.
KRIIINGG
Bel pulang telah berbunyi. Para murid – murid berlomba – lomba keluar kelas terlebih dahulu. Aku dengan segera membereskan alat tulisku yang berserakan di meja belajarku.
"Ayo Fang!" Ucapku seraya mengambil tas dan menggendongnya di pundak(?).
"Hari ini, Boboiboy akan pulang bersama kita." Balas pemuda disampingku.
"Tunggu dia sebentar." Lanjut Fang.
Aku mengangguk mengerti. Selintas pertanyaan muncul dikepalaku.
"Tumben Boboiboy mau pulang bareng kita?"
"Aku dan Boboiboy akan mengerjakan tugas OSIS bersama hari ini." Jelasnya.
Lagi – lagi aku mengangguk mengerti.
"Ayo Fang!" ajak pemuda bertopi itu tiba – tiba. Pemuda bertopi jingga itu telah selesai dengan urusannya. Fang lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kelas ini. Aku cengo, Fang meninggalkan ku? Aku menoleh ke arah Boboiboy. Aku dan Boboiboy saling pandang. Aku pun berlari keluar kelas, menyusul Fang yang sudah berjalan jauh.
"Hey! Tunggu aku!" Boboiboy yang masih tertinggal dikelas, berlari menyusulku dan Fang.
Sweet Moment
"Hahahaha," aku tertawa ketika mendengar Boboiboy menceritakan kejadian lucu disekolah tadi.
"Coba saja aku berada di kantin saat itu, pasti aku akan tertawa berbahak bahak saat itu juga," ujar ku sambil tertawa ringan.
"Saat itu aku berusaha menahan tawa karena tidak enak menertawakan teman sendiri, kau tahu," balas Boboiboy. Dan kami terlibat dalam obrolan seru, Sampai akhirnya bus datang. Aku pun segera memasuki bus dan mencari tempat duduk. Aku melihat Fang duduk sendirian. Dengan segera, aku duduk disamping Fang. Aku menatap Fang dengan tatapan bingung. Sejak kapan Fang masuk ke dalam bus ini? apa karena aku terlalu sibuk berbicara dengan Boboiboy? aku mengamati Fang. Aku sadar, sedari tadi Fang tidak membuka mulutnya. Fang sedang memakai earphone ditelinganya. Dia menatap pemandangan diluar kaca bus.15 menit berlalu, keadaan hening. Aku dan Fang sama – sama diam. Dan akhirnya, bus yang sedang kutumpangi akan berhenti di halte dekat rumahku. Aku bersiap – siap turun dari bus.
CITTTT
Bus pun berhenti tepat di depan halte.
"Fang! Boboiboy! Duluan ya!" Pamitku seraya melemparkan senyum ke arah mereka berdua.
"Dadah," Boboiboy membalas senyumku dan melambaikan tangan, sedangkan Fang tetap diam memandang jendela bus.
"Fang?" aku menatapnya dengan tatapan bingung. Fang tetap diam. 'Tumben Fang tidak membalas perkataanku' batinku dalam hati.
"Fang?"panggilku sekali lagi. Fang masih terdiam.
"Fang!" panggilku lebih keras.
"FA-" Aku berniat berteriak jika saja aku tidak merasakan bus mulai bergerak. Aku segera menatap jalanan. Bus sudah berjalan lagi. Mataku membulat, Aku panik. Aku buru – buru berdiri dan berlari ke arah pintu bus.
"Pak, berhenti! saya mau turun," ucapku dengan nada gelisah. Supir bus mengerem busnya.
"Bukannya turun dari tadi, dari tadi ngapain aja?!" omel sang supir bus.
"Maaf pak," aku cengengesan dan melompat keluar bus. Dari balik kaca jendela bus aku bisa melihat Boboiboy yang sedang menahan tawanya. Aku segera melemparkan tatapan maut ke arahnya. Aku berpikir. 'Apa yang aku lakukan? Memanggil Fang sampai ditinggal bus,' batinku sebal dalam hati. 'memalukan,' batinku seraya mengeleng – gelengkan kepala.
Sweet Moment
Aku berjalan santai menyusuri koridor sekolah pagi ini. Sekolah masih sangat sepi. Suara langkah kakiku terdengar di koridor sekolah.
"SELAMAT PAGI!"
"HUAAAAA," Aku terkejut. Ternyata ini ulah Boboiboy yang pagi – pagi sudah mengejutkanku.
"BOBOIBOY!"
"Kaburrrr! Ahahaha," Boboiboy berlari meninggalkan kelas.
"SINI KAUUUU!" Aku berlari mengejar Boboiboy.
"CIEEEE YANG KEMAREN DI TINGGAL BUS, HAHA," Ejek Boboiboy seraya tertawa lepas.
"BOBOIBOY! SINI KAU!"
"TANGKAP AKU KALAU BISA!"
"PASTI BISA!"
Dan akhirnya aku dan Boboiboy kejar - kejaran di koridor sekolah. Sekolah masih sepi, sehingga tidak banyak yang melihat kami berdua. Tetapi ada beberapa murid yang sudah hadir menatap kami, lalu langsung berbisik - bisil dengan teman disamping mereka. Mungkin mereka bingung melihat sang ketua OSIS bisa berlari - lari bersamaku.
"Dapat kau!" Akhirnya aku bisa menangkap lengan Boboiboy.
"Aduduh,"
"Mau kemana kau hah?" Aku mencubit pipi Boboiboy.
"Ampun ampun," Boboiboy meringis. Aku melepaskan cubitanku. Boboiboy mengusap – usap pipinya. Aku mengedarkan pandanganku.
"Eh? Kita.. sudah di kelas?" Aku baru menyadari bahwa kita sudah berada dikelas.
"Ya, kau baru menyadarinya?"
Aku mengangguk. Lalu kemudian memasang wajah horror.
"Berarti.. kita keliling satu sekolah dong?"
Boboiboy mengangguk.
"Boboiboy! Pagi – pagi kau sudah membuatku capek saja!"
"Tidak apa, olahraga sedikit" ujar Boboiboy santai. Aku hendak membuka mulut jika saja tidak ada orang yang menyelaku.
"Hey Boboiboy! kalau kau tidak keberatan, berhentilah mengobrol dan selesaikan tugas ini."
Aku mengenali suara ini. Suara yang berbicara dengan nada dingin. Suara Fang. Aku menoleh ke arah Fang yang menatap kami berdua datar.
"Ohiya, hehe sorry," Boboiboy menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berjalan menuju tempat Fang.
"Tugasnya belum selesai?" tanyaku kepada mereka berdua.
"Belum," Jawab Boboiboy.
Entah mengapa, aku berharap Fang yang menjawab pertanyaanku tadi. Aku melirik pemuda berkacamata itu, matanya tak lepas menatap layar laptop di depan wajahnya, jarinya menari - nari diatas papan keyboard. Aku menghela nafas, lalu berjalan menuju tempat dudukku dan Fang. Aku meletakkan tasku, dan membaca novel yang kubawa sembari menunggu bel masuk. Sesekali aku melirik ke arah Fang dan BoBoiBoy yang sedang mengerjakan tugas mereka. Aku merasakan ada yang aneh dengan Fang.
Sweet Moment
"Boboiboy lagi boboiboy lagi," Ucapku dengan nada mengejek sambil bercanda.
"Kau juga. kau lagi, kau lagi," Boboiboy menjulurkan lidahnya. Lalu kami tertawa bersama.
Saat ini, kelasku sedang belajar dengan cara kerja kelompok. Dan Aku satu kelompok dengan sang ketua OSIS pengguna topi terbalik itu. Sedangkan Fang, dia berada dikelompok lain.
"Baiklah, ayo kerjakan tugas ini sekarang," pimpin Boboiboy kepada teman – teman yang lain, yang tentunya satu kelompok denganku dan Boboiboy. Sebagai ketua OSIS, wajar saja jika ia yang memimpin kelompok ini.
"Baiklah, ayo kita bagi bagi tugas. Aku-"
"Aku yang menulis," potongku cepat ketika Boboiboy mulai membagi – bagi tugas kelompok.
"Hey, aku juga ingin menulis," Boboiboy mengelak.
"Pokoknya aku yang menulis," balasku tak kalah.
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"AKU!"
Dan terjadilah perdebatan sengit yang diselingi tawa sebagian teman – teman yang satu kelompok denganku dan Boboiboy. Sebagiannya lagi, hanya menggeleng – gelengkan kepala.
"Baiklah aku mengalah," Boboiboy akhirnya menyerah.
"Yosh, memang terbaik lah! Haha," aku menepuk pundak Boboiboy.
"Dasar kau ini," Boboiboy hanya tertawa melihatku. Dan kami melanjutkan aktivitas kerja kelompok yang sempat tertunda.
Sedari tadi, sepasang mata memperhatikan pemuda bertopi terbalik dan gadis cantik yang sedang bercanda. Tatapannya menandakan bahwa ia tidak suka.
Sweet Moment
"Kau pulang duluan saja, aku ada eskul."
Aku yang sedang membereskan alat – alat tulisku dimeja berhenti sejenak, menoleh kearah sumber suara, Fang, yang juga sedang membereskan peralatan tulisnya. Aku mengangkat satu alisku, bingung. Lalu aku cepat mengerti.
"Oh, eskul basket?"
Fang mengangguk.
"Aku akan menunggumu sampai kau selesai saja," ujarku sambil tersenyum kecil.
"Terserah kau saja."
Aku melanjutkan aktivitas membereskan mejaku yang tadi sempat tertunda sambil tersenyum kecil. 'Akhirnya pemuda berkacamata ini berbicara juga kepadaku,' batinku senang
"Ayo Fang," aku tersenyum senang. Fang dan aku pun berjalan meninggalkan kelas ini.
Sweet Moment
Bisa dibilang, aku duduk seorang diri di bangku ini. Tetapi, ada sesuatu yang menarik didepan mataku yang membuatku tidak beranjak dari bangku ini. Aku tidak ada bosan – bosannya melihat Fang yang sedang bermain basket bersama team-nya. Mataku tidak lepas menatap lapangan basket yang berada didepanku. Tiba - tiba mataku menangkap sosok pemuda bertopi terbalik berjalan keluar dari ruang OSIS.
"BOBOIBOY!" Panggilku sambil melambaikan tangan. Boboiboy menoleh kearahku, lalu tersenyum kecil.
"Hey!" Boboiboy berjalan menghampiriku.
"Kau belum pulang?" tanyaku setelah Boboiboy duduk disampingku.
"Belum, masih ada urusan OSIS tadi," jawab Boboiboy seraya tersenyum ramah.
"Kau sendiri? Kenapa belum pulang? Hari sudah semakin sore lho,"
"Aku sedang menunggu Fang,"
"Fang?"
Aku mengangguk.
"Dia sedang eskul basket sekarang," ujarku sambil menunjuk ke arah Fang. Boboiboy hanya mengangguk mengerti.
"Bukankah dia sangat keren?" mataku memandang Fang yang sedang memainkan bola basket. Boboiboy hanya tertawa kecil.
"Kau sangat menyukainya?" tanya Boboiboy.
"Sangat," Mataku masih memandang ke arah Fang yang sedang bermain basket.
"Apa yang kau suka dari seorang Fang?" Tanya Boboiboy lagi. Aku tersenyum ketika mendengar pertanyaannya.
"Semuanya," Aku menoleh ke arah Boboiboy.
"Semua?" Boboiboy menaikkan satu alisnya.
"Ya, semua. Terutama pada sifat dingin dan cueknya. Itulah yang membuat dia berbeda dari yang lain. Itulah yang membuat aku tertarik padanya," aku tersenyum kecil ke arah Boboiboy.
Boboiboy membalas senyumku.
"Ah, kenapa aku malah curhat?" Aku tertawa kecil sambil menepuk pundak Boboiboy.
"Tidak apa, aku jadi mengetahui alasan kau menyukai seorang wakil ketua OSIS," Boboiboy balas tertawa.
"Eh, tapi aku mau tahu alasan Fang menyukaimu," Lanjut Boboiboy.
"Kau ini,kalau mau tahu, tanyakan kepada Fang," aku menyenggol lengan boboiboy.
"Kenapa? Kau tidak mengetahuinya?"
"Tidak,"
"Kalau begitu, pernahkah kau menanyakannya?"
Aku memasang pose berpikir.
"Hmm.. Sudah,"
"Lalu? Apa jawaban Fang?" tanya Boboiboy yang masih penasaran.
"Dia membuang muka lalu berusaha mengalihkan topik, kalau tidak salah aku melihat muka nya memerah sedikit,"
"Haha, dia salah tingkah tuh," Boboiboy tertawa kecil.
"Iya kah?" Aku bertanya. Boboiboy hanya mengangguk.
Tiba - tiba Boboiboy melirik aroljinya.
"Alamak, sudah jam segini, Aku harus pulang sekarang," Boboiboy bangkit dari duduknya. Aku hanya mengangguk kecil. Aku mengalihkan pandanganku dari Boboiboy ke arah lapangan basket. Aku menyadari sesuatu.
"Hey! Karena kau, aku jadi melewati aksi Fang bermain basket kan!" Seru ku protes(?) sebelum Boboiboy melangkah meninggalkan aku. Aku melewati aksi keren Fang yang sedang bermain basket.
"Benarkah?" Boboiboy menoleh ke arah lapangan basket. Lapangan itu mulai sepi.
"Lihat?" aku melirik sinis ke arah Boboiboy.
"Aehehe, aku pulang dulu ya," Boboiboy menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Ih, kau inii, berusaha kabur ya?" aku bangkit dari dudukku dan mencubit pipi Boboiboy.
"Aduduh, ampun,"
"Cish, yasudah sana pulang," aku melepaskan cubitanku. Boboiboy mengusap pipinya.
"Dadah," aku melambaikan tanganku ke arah Boboiboy.
"Dah," Boboiboy balas melambaikan tangannya. Setelah Boboiboy melangkah meninggalkan lapangan ini, aku mulai memusatkan perhatianku ke arah lapangan basket lagi. Lapangan basket sudah sangat sepi, aku hanya melihat Fang seorang diri yang sedang melempar bola basket dengan keras. Entah mengapa, aku merasa Fang melempar bolaitu dengan perasaan kesal. Terlihat dari wajah Fang yang memerah. Fang memasukan bola basket ke dalam ring, dan..
Masuk!
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat Fang. Setelah itu, Fang berjalan keluar dari lapangan basket yang sudah tidak ada orang lagi.
Sweet Moment
Aku melihat Fang keluar dari ruang ganti. Aku menunggu ia menghampiriku atau setidaknya menoleh ke arahku. Aku mengerutkan keningku bingung saat Fang hanya berjalan melewatiku. Tidak menghampiriku terlebih dahulu.
Apakah aku yang terlalu berharap?
Aku pun dengan cepat berlari menyusul Fang yang sudah berjalan jauh.
"FANG!"
Fang menghentikan langkahnya. Aku pun berlari menghampirinya. Aku mengatur nafasku yang terengah – engah setelah berlari.
"Kenapa kau tidak menungguku?" ucapku dengan nafas yang masih terengah – engah. Fang hanya diam tak bergeming. Fang pun berjalan melewatiku begitu saja. Aku bengong. Aku melongo.
"FANG! TUNGGU AKU!" aku pun berlari lagi mengejar fang.
Ada apa dengan Fang?
Sweet Moment
"Fang!" sekali lagi, aku memanggil Fang. Aku dan Fang sudah berada di halte, menunggu bus datang. Nafasku masih terengah - engah karena tadi mengejar Fang.
"Apa?" akhirnya pemuda berkacamata itu bersuara setelah aku memanggilnya berkali- kali.
"Kau kenapa?" Aku berdiri menghadap Fang dan menatap mata Fang yang tidak mau ditatap oleh ku.
"Kenapa bagaimana?" suara yang datar dan dingin.
"Apa kau.. menghindariku?" aku menebak - nebak apa yang Fang lakukan tadi, saat di lapangan basket.
"Tidak." Fang pergi berlalu. Lagi - lagi dia meninggalkanku.
"Hey!" aku memanggil Fang yang sedang berjalan. Saat aku berbalik, aku baru sadar Fang meninggalkanku karena bus sudah datang. Aku menghela nafas panjang dan berjalan masuk ke dalam bus. Mataku melirik kanan dan ke kiri. Mencari sosok pemuda bersurai hitam keunguan di bus ini. Dan, aku menemukannya. Dengan cepat, aku menuju tempat duduk Fang dan duduk di sampingnya.
"Kau melakukannya,"
Fang yang tadinya menoleh ke luar jendela bus, kini menatap mataku.
"Apa?" tanya Fang dengan wajah bingung.
"Kau menghindariku kan? buktinya, tadi kau meninggalkanku," aku membalas tatapan Fang.
"Oh begitu," ucap Fang dengan nada yang menyebalkan.
Aku mendengus kesal. Aku melipat kedua lenganku dan membuang muka.
'kenapa Fang menghindariku?'
15 menit berlalu, keadaan hening. Fang, maupun aku tidak mengeluarkan suara.
CITTT
Bus berhenti tepat di depan halte dekat rumahku.
"Aku duluan ya Fang," Aku membuka suara dan beranjak berdiri dari dudukku dan hendak berjalan keluar bus. Lagi - lagi Fang tidak membalas perkataanku. Aku mengela nafas dan berjalan keluar bus.
Sweet Moment
"Selamat pagi," sapaku ketika memasuki kelas.
"Pagi juga," sahut pemuda bertopi oranye sambil tersenyum ramah. Aku membalas senyum Boboiboy dan berjalan menuju tempat dudukku. Ada pemuda berkacamata yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja. Earphone kecil berwarna putih bertengger di telinganya. Aku berniat menyapanya karena dia tidak menyapaku tadi. Kurasa dia tidur, batinku. Kuurungkan niat untuk menyapanya. Aku hanya meletakkan tasku di atas bangku-ku. Tak lama kemudian dia bangkit dari 'tidurnya'. Aku segera menyapanya.
"Pagi Fang," aku tersenyum ramah. Fang tidak membalas sapaanku, melirik pun tidak. Aku hanya mendengus malas. Padahal aku sudah melupakan rasa kesalku kemarin karena 'perbuatannya'. Tapi sekarang muncul lagi rasa kesalku.
Sweet Moment
"Fang, ke kan-" ucapanku yang lebih tepatnya mengajak, terpotong saat melihat orang yang ku ajak menyelaku dengan cepat.
"Aku duluan, Aku sibuk." Fang langsung berjalan keluar kelas
"Tin yuk," aku melanjutkan ajakanku walaupun orang yang kuajak sudah pergi duluan. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Dan, aku pergi keluar kelas dengan Nira. Sesampainya di kantin aku bisa melihat dengan jelas Fang sedang memborong donat lobak merah.
'Cih sibuk apanya?' batinku kesal.
'Cuman beli donat lobak merah doang, itu yang namanya sibuk?' aku menendang kaleng minuman didepanku dengan perasaan jengkel. Tiba – tiba terdengar suara dari pemuda bertubuh gempal yang sedang menikmati makanannya.
"Woy, niat banget ya nendang kalengnya?" Ucap pemuda itu sambil mengelus – ngelus kepalanya yang botak (?) itu. Aku baru sadar ternyata kaleng yang kutendang melayang ke arah pemuda ini.
"Ups, sorry Gopal," Kataku sambil cengengesan.
Sweet Moment
KRING KRING
Bel tanda sekolah sudah usai pun berbunyi. Dengan lesu, aku memasukan semua peralatan tulisku. Aku melirik ke arah seseorang disampingku yang bangkit dari duduknya. Seseorang itu, tepatnya Fang, berjalan meninggalkan kelas. Aku memutar bola mataku malas. Lagi – lagi dicuekin. Sudah seharian ini Fang cuek kepadaku. Fang memang orang yang cuek. Tapi cueknya tidak seperti biasanya. Aku pun berdiri dan menyadari ada lipatan kertas di atas mejaku. Aku pun membuka lipatan kertas itu.
'Temui aku di taman belakang sekolah. - Fang-'
Aku menaikkan sebelah alisku. Taman belakang sekolah? Untuk apa Fang memintaku untuk menemuinya disana? Aku tertawa kecil. Ternyata, Fang belum pulang. Kukira dia sudah pulang duluan meninggalkanku. Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari kelas ini menuju taman belakang sekolah.
Drap Drap Drap
Suara langkah kakiku terdengar di Taman belakang sekolah yang memang sudah sepi ini. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok pemuda bersurai raven itu. Itu dia. Aku menemukan Fang sedang duduk seorang diri di bangku panjang di taman belakang sekolah ini. Dengan ragu, aku melangkahkan kakiku mendekati bangku tersebut.
"Duduklah." Suara yang datar dan dingin itu sudah menyapaku duluan. Aku pun duduk disamping Fang.
"Ada apa?" Aku bertanya apa tujuan Fang menemuiku di taman belakang sekolah ini.
"Ada yang ingin aku katakan padamu." Jawab Fang.
"Apa itu?"
"Sebenarnya.. Boboiboy itu-"
"Boboiboy itu lucu ya, aku jadi ingin mempunyai adik seperti dia," Bola mataku bergerak ke kanan ke kiri saat mengingat sosok ketua OSIS itu.
BRUK
Fang jatuh dengan tidak elitnya.
"Eh Fang? kau tidak apa?" Aku menghampiri Fang yang 'terjatuh' dari duduknya. Fang pun mengubah posisi 'tidur'nya menjadi duduk.
"Bisakah kau mengulang perkataanmu tadi?" Bukannya menjawab pertanyaanku tadi, Fang malah balik bertanya kepadaku.
"Yang mana?"
Fang pun berdiri dan duduk dibangku taman belakang sekolah itu.
"Yang tentang Boboiboy."
"Hm.. Aku ingin mempunyai adik seperti Boboiboy,"
"Apa?"
"Kenapa?" Aku balik bertanya.
"Boboiboy itu lucu dan ramah, aku ingin mempunyai adik seperti dia," Lanjutku.
"Jadi, intinya kau ingin mempunya adik seperti Boboiboy?"
Aku mengangguk.
"Wajahnya juga unyu – unyu begitu, Haha," Aku tertawa kecil.
"Memangnya kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" Lanjutku. Aku masih bingung apa maksudnya Fang menanyakan hal ini padaku.
"Kukira.." Fang mengantungkan kalimatnya. Aku diam menunggu kalimat Fang selesai.
"Kau menyukai Boboiboy."
"Apa? kau kira aku menyukai Boboiboy?" Aku menatap mata Fang. Fang hanya mengangguk.
"Tentu saja tidak Fang, aku hanya menganggap dia sebagai teman, itu saja dan tidak lebih,"
"Lalu.. kenapa akhir – akhir ini kau dekat dengan Boboiboy?"
"Karena.. dia lucu dan rasanya aku ingin menjadikannya sebagai adikku," Jelasku.
"Jadi begitu."
Aku bisa mendengar Fang mendesah lega.
"Lalu.. kenapa kemarin – kemarin, kau juga bersikap aneh?" Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.
"Karena aku kesal. Entahlah aku kesal dengan siapa. Disisi lain aku kesal dengan Boboiboy karena aku tidak terima kau dekat dengan rivalku. Disisi lain juga aku kesal denganmu. Tapi, aku tidak tahu harus menyalahkan siapa."
Aku tertegun.
"Kau cemburu ya?" Aku mulai menyadari sikap Fang terhadap kedekatanku dan Boboiboy ternyata cemburu.
"Tidak. Siapa bilang?" Fang memalingkan wajahnya. Aku melihat ada semburat merah menghiasi pipinya.
"Mengaku lah jika kau cemburu," Aku semakin menggoda Fang.
"Tidak." Fang masih membuang muka.
"Ternyata selama ini Fang cemburu~"
Fang melipat kedua lengannya dan mendengus.
"Terserah kau sajalah."
Aku tertawa kecil. Didalam hatiku, aku senang karena Fang cemburu karena aku dekat dengan Boboiboy. Tiba - tiba aku teringat sesuatu.
"Fang,"
Fang menoleh ke arahku.
"Saat itu.. ketika kau eskul, aku sempat melihatmu melembar bola basket dengan kencang, apa kau saat itu.. sedang kesal?"
Fang diam sejenak.
"Kau ingin tau kenapa?"
Aku mengangguk mantap dan menatap iris matanya yang berwarna coklat yang tersembunyi di balik kacamata tersebut.
"Saat itu.. aku sempat melihat kau dan Boboiboy."
Aku terdiam, menyimak perkataan Fang.
"Kalian.. mengobrol seru dan sesekali tertawa. Kau terlihat bahagia. Aku juga melihat kalian saling tatap menatap, dan kau tersenyum kepada Boboiboy."
Lagi - lagi aku tertegun.
"Jadi.. karena itu.. kau kesal?"
Fang mengangguk.
"Kau orang yang cemburuan ternyata," Ujarku menggoda Fang lagi.
"Aku tidak cemburu." Elak Fang.
"Kau cemburu, tapi kau terlalu gengsi untuk mengatakannya," Aku tersenyum jahil kepada Fang. Fang terdiam.
"Kenapa diam? aku benarkan?" Lagi - lagi aku menggoda Fang. Fang hanya membuang muka.
"Diamlah."
Aku tertawa kecil dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tahu?"
Fang masih membuang muka, dan tidak menanggapi perkataanku yang tidak menarik karena kalimatnya masih menggantung.
"Saat itu, aku dan Boboiboy sedang membicarakan kau," Aku tersenyum mengingat kejadian hari itu. Fang menolehkan kepalanya ke arahku. Mulai tertarik dengan penjelasanku.
"Kau lah yang membuatku tersenyum saat itu. Aku bercerita kepada Boboiboy kenapa aku menyukai seorang Fang. Dan itu membuatku tersenyum sendiri," Aku menarik nafas sebelum melanjutkan ceritaku.
"Lalu aku tertawa saat itu karena menyadari aku ternyata sedang curhat kepada seorang Boboiboy. Dia sebenarnya cocok juga dijadikan teman curhat," Aku tertawa kecil. Aku melirik ke arah Fang yang tersenyum tipis dan ada semburat merah tipis menghiasi wajahnya.
"Lalu Boboiboy bertanya kepadaku.. apa alasan seorang Fang menyukai ku, tapi aku belum tahu alasannya," Aku melirik ke sembarang arah. Fang berdeham.
"Kau ingin tahu alasannya?"
Dengan cepat aku mengangguk dan menatap Fang penuh harap.
"Kau berbeda dari yang lain. Itu kenapa aku menyukaimu." Jawab Fang yang menatap sembarang arah.
"Huh?" Aku masih mencoba mencerna apa yang Fang katakan barusan.
"Berbeda? berbeda apanya?" Aku menatap mata Fang yang tidak mau menatap mataku.
"Sudah sore. Ayo pulang."
Aku kesal. Aku menepuk pundak Fang.
"Jangan coba mengalihkan topik!" Aku menatap tajam Fang. Fang mendengus.
"Kau terlihat apa adanya."
"Tunggu, apa maksudnya?" Tanyaku polos. Fang memutar bola matanya malas.
"Nanti juga kau akan tahu."
Aku mendelik ke arah Fang. Kami terdiam sejenak.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanyaku setelah beberapa menit terdiam.
"Bagaimana apanya?" Fang balik bertanya.
"Jika kedekatan aku dan Boboiboy membuatmu cemburu, lalu aku harus bagaimana?" Aku mengulang pertanyaanku lagi.
"Aku tidak melarangmu untuk bersahabat dengan Boboiboy. Jika kau ingin bersahabat dengannya, terserah kau."
Aku menatap Fang sendu.
"Terserah aku? Tidak bisa begitu dong,"
"Lalu maunya bagaimana?" Fang menatapku malas. Aku terdiam, berpikir sejenak.
"Aku akan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Boboiboy. Tapi aku akan tetap bersahabat dengan dia," Aku tersenyum kepada Fang. Fang mengangguk dan tersenyum kecil.
"Baiklah. Terserah kau." Fang menatap alorjinya.
"Sudah sore. Ayo pulang." Fang bangkit dari duduknya. Dan aku hanya mengikutinya.
"Aku sudah terlalu jujur kepadamu hari ini." Aku menoleh ke arah Fang yang sedang memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana. Matanya dibalik kacamata itu menatap sembarang arah. Aku hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Fang.
"Fang," panggilku. Yang dipanggil menoleh ke arahku. Aku pun langsung memeluk tubuh Fang yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Terima kasih.. karena sudah terlalu jujur kepadaku hari ini," Aku tersenyum di dalam pelukanku. Aku dapat mendengar Fang tertawa kecil walau aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku melepaskan pelukanku dan menatap Fang.
"Ayo pulang,"
Fang hanya mengangguk. Dan kami berdua berjalan meninggalkan taman belakang sekolah ini.
End of chapter 2
A/N : Boboiboy sama Fang aku jadiin OSIS disini karena suatu hal, muahaha. Ohiya sebenernya, di fanfic ini ada sebagian yang aku ambil dari pengalaman nyata lho XD wkwk. Ohiya maap ya telat updatenya XD mau nge-post, tapi kakakku yang pea ini pelit minjemin laptopnya -_- wkkk. Kalo udah baca harus review! *maksa* kalau gak review di setrum Halilintar :v canda kok :v peace woo. Ohiya satu lagi. Aku udah setengah jadi nih bikin fanfic yang versi Halilintar. Tolong kasih saran judulnya dund :3 ceritanya ya ga jauh beda sama yang ini XD ya pokonya liat aja entar :v. Buat Silent readers, Review please!
