Kim Women's Contract

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Kim Jongin's Baby Girl

Kim Jongin menggeliat dan meraba mencari sosok yang semalam menghabiskan malam penuh gairah bersamanya, simungil Do Kyungsoo. Ia membuka mata saat tak menemukan tubuh mungil itu dalam jangkauannya. Mendudukkan diri dalam keadaan telanjang dan hanya ditutupi selimut sebatas pinggang ia mengusuk asal surai almondnya. Merasakan kekosongan dengan tidak adanya Kyungsoo disampingnya saat ia membuka mata. Segala kenangan dimasa lalunya seakan bermunculan begitu saja. Promnite, sex pertamanya bersama sang kekasih yang terjadi di kamarnya saat nenek dan kakaknya sedang berlibur ke Korea, dan pagi hari dengan kasur kosong tanpa sang kekasih, secarik kertas berisi ucapan selamat tinggal dan maaf dari sang kekasih. Astaga… ia menghela nafas pelan, itulah yang selama ini selalu menghantuinya tiap kali ia berhubungan sex dengan para wanitanya. Sejak saat itu ia tidak lagi mau melakukan hubungan sex diatas ranjangnya dan tidur bersaama sepanjang malam. Itu akan membuatnya teringat pada pengalaman pahitnya setelah malam indah penuh gairah yang ia lewatkan dengan orang yang paling ia cintai. Tidak ada tidur bersama dalam artian normal. Ia akan kembali ke kamarnya sendiri jika wanitanya telah tertidur pulas. Dan kini seakan ditampar oleh tangan tak kasat mata, perasaan seperti inilah yang dirasakan oleh wanita-wanitanya dan termasuk gadis mungilnya Do Kyungsoo. Tanpa berfikir panjang ia beranjak dari atas kasur, memungut boxernya dan memakainya begitu saja. Membuka pintu kamarnya dan segera menghampiri pintu kamar Kyungsoo yang berada disebelah pintu kamarnya.

Ckleekk ! tidak ada siapapun didalam kamar Kyungsoo, namun Jongin melihat seprai dikasur terlihat bekas ditiduri. Ia mendengar senandung dan suara shower dari dalam kamar mandi. Maka tanpa berfikir banyak ia melepas boxernya sambil berjalan memasuki kamar mandi. Kyungsoo yang masih bersenandung tidak menyadari bahwa Jongin memasuki kamar mandi.

Grepp ! Kyungsoo terkesiap ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang, meremas payudaranya lembut. Kecupan dan hisapan dilehernya yang awalnya mengejutkan membuatnya perlahan relaks. Ia tahu itu Jongin, ia mengenali sentuhan tangan Jongin ditubuhnya. Tangan Kyungsoo berada diatas tangan besar Jongin yang sedang meremas lembut payudaranya.

"Kau sudah bangun?" tanyanya sembari menjauh dari shower karena sulit berbicara saat air membasahi kepalamu.

"Hmm… dan tidak menemukanmu dipelukanku," tangan Jongin perlahan turun melingkari pinggang Kyungsoo dengan erat. Bibirnya menjamah cuping telinga Kyungsoo dan menggigitnya mesra.

"Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman," jawabnya sambil mengelus tangan yang memeluknya erat itu. " Kau tidak pernah tidur dengan siapapun bukan, jadi aku-"

"Don't do that anymore," bisiknya lembut dan mesra.

"Ya?"

"Jangan melakukannya lagi baby girl," ulangnya sabar, ohh bahkan Kyungsoo membuatnya mengulang ucapannya."Kau gadis pertama yang bercinta denganku diatas ranjangku, dan aku tidak mengizinkan kau menghilang dari pelukanku sampai aku membuka mata, apakah bisa dimengerti baby?" Jongin perlahan memutar tubuh telanjang Kyungsoo untuk berbalik kearahnya. Membingkai wajah mungil itu dengan telapak tangan besarnya.

"Tapi, bukankah…" Jongin membungkam Kyungsoo dengan ciumannya, menempelkan tubuh mereka lebih dekat.

"Kau sebuah pengeculian Baby Kyungie, jadi jangan pernah melakukannya lagi, apa gadis pintar ini mengerti" ia menggigit dagu Kyungsoo gemas, Kyungsoo tertawa kecil. Jongin tidak mengerti dasar apa yang membuat ia memutuskan hal ini. Ini seperti sebuah perjanjian tidak tertulis tentang tidak ada lagi kamar terpisah diantara Kim Jongin dan wanitanya. Tetapi ia tahu bahwa ia menginginkannya. Ia ingin terbangun dipagi hari dengan Do Kyungsoo dipelukannya.

"Perintah diterima, sir."

"Ahh… panggilan itu, kau membuatku bergairah baby."

"Kudengar… lelaki memang selalu bergairah setiap pagi."

"Owhh.. kau sudah pintar ternyata."

"Bukankah aku memang pintar, sir?" tanyanya memasang tatapan polos namun sambil nyengir. Dan Jongin tidak bisa menolak keimutan namun juga gairah yang ditawarkan Kyungsoo saat jemari lentiknya menjamah otot-otot perutnya yang terbentuk sempurna dengan lembut namun menggoda.

"Kemari kau gadis kecil penggoda," tawa dan desahan Kyungsoo muncul tak lama kemudian karena Jongin tidak hanya menjamah tubuhnya namun juga berbagi candaan dengan simungil yang tanpa ia sadari perlahan membuatnya tertarik.

.

.

Sebuah ketukan dipintu terdengar ketika Jongin baru saja menarik kursi untuk duduk. Kyungsoo bermaksud beranjak dari dapur untuk membuka pintu namun Jongin mencegahnya.

"Biar aku saja," Kyungsoo mengangguk dan kembali dengan kegiatannya membuat sarapan pagi untuknya dan Jongin. Kyungsoo bisa mendengar suara pengacara Buck mengobrol dengan Jongin. "Kau sudah sarapan?"

"Aku baru saja bermaksud akan sarapan setelah memberimu dokumen itu."

"Kyungsoo sedang menyiapkan sarapan, kau mau bergabung?" Kyungsoo menoleh saat namanya disebut.

"Selamat pagi pengacara Buck," Nickhun tersenyum ramah, tidak bisa menolak senyuman cantik nan lucu gadis Jongin.

"Selamat pagi Kyungsoo-ssi, keberatan aku bergabung untuk sarapan?"

"Tentu saja tidak, tunggu sebentar ya aku hampir selesai," jawabnya riang. Nickhun melirik Jongin yang memperhatikan punggung mungil itu bergerak kesana-kemari menyiapkan sarapan sambil bersedekap dengan senyuman dibibirnya. Nickhun bisa melihat ada benih-benih cinta mulai tumbuh disana. Tak lama Kyungsoo muncul dengan nampan berisi sepiring besar sandwich ayam kalkun dan semangkok salad buah. Ia menatanya diatas meja. Mengambil piring Jongin untuk menaruh sandwichnya dan bergantian dengan piring Nickhun.

"Terima kasih Kyungsoo-ssi."

"Sama-sama, oh iya aku membuat strawberry smoothies apa kau mau?" ia bertanya pada Jongin lalu beralih pandangan pada Nickhun.

"Aku mau, kau Nick?"

"Ya, boleh," Kyungsoo kembali kedapur dan kembali keruang makan dengan membawa tiga gelas strawberry smoothies untuk mereka, duduk dihadapan Jongin dan mulai menyantap sandwich kalkun.

"Ini lezat, kau sepertinya pintar memasak," puji Nikchun, Jongin meliriknya.

"Aku terbiasa melakukannya untuk diriku sendiri, aku suka makanan buatan rumah seperti ini meskipun juga bisa dibeli di toko roti."

"Nickhun pecinta sandwich kalkun, baby."

"Ahh benarkah ?"

"Begitulah, dan ini lezat, boleh aku meminta beberapa potong untukku bawa," Kyungsoo tertawa kecil sambil mengangguk.

"Tentu saja, kau juga mau?" ia menoleh pada Jongin.

"Aku mau smoothiesnya, apa ada botol minuman jadi kau bisa menyimpannya disana untukku."

"Ada, nikmati sarapannya ya aku akan menyiapkan sandwich dan smoothiesnya," Kyungsoo sudah menghabiskan sepotong sandwich dan saladnya jadi ia bangkit dan mulai menyiapkan bekal kecil untuk Jongin dan Nickhun.

"Baiklah, harus kuakui dia mengagumkan," bisik Nickhun, mata kedua lelaki tampan itu menatap punggung mungil Kyungsoo didapur.

"Sudah kukatakan bukan."

"Dan aku melihat bunga-bunga bermekaran disekitarmu, apa kau tidak mendengar alunan biola," Jongin memukul pelan bahu Nikchun namun tertawa kecil.

"Sialan kau, aku bukan remaja semacam itu lagi."

"Remaja atau bukan tetap saja pernah merasakan jatuh cinta Kim, makanya jangan menutup hatimu jadi kau lupa bagaimana rasanya jatuh cinta," sindirnya lalu kembali menikmati sandwich kalkun buatan Kyungsoo. Jongin menatap Kyungsoo yang kini bersenandung kecil. Apakah gadis mungil itu adalah sosok yang dikirim untuk membantunya kembali jatuh cinta, apakah dia adalah tempatnya berhenti mencari-cari dari sekian banyak wanita kontraknya. Jongin masih harus meyakinkan hatinya untuk itu.

.

.

Kyungsoo melewati hari keduanya dengan duduk di dekat kolam renang yang memiliki akses pemandangan hijau nan asri Tuscany. Ia sudah membawa serta kanvas lukisnya dan segala atribut untuk melukis. Duduk manis, tampak begitu focus dengan Hugo yang berdiri dengan jarak beberapa meter darinya, berjaga dan mengawasi sesuai perintah Jongin. Kolam itu tidak terlalu ramai namun ada sekitar 5 orang dengan tiga pemuda dan dua wanita sedang berenang disana. Mereka tampak penasaran akan kesibukan Kyungsoo dengan kanvas lukisnya. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan kulit kecoklatan keluar dari kolam, menghanduki kepalanya dan berjalan menghampiri Kyungsoo. Ia sudah memperhatikan Kyungsoo sedari tadi dan menebak Kyungsoo bukanlah gadis Italia namun gadis Asia.

"Hai," sapanya ramah. Kyungsoo menoleh dan menjauhkan kuasnya dari kanvas, tersenyum ramah namun bingung, dari tempatnya Hugo memperhatikan.

"Boleh aku duduk disini ?" ia mengangguk kearah kursi kosong disebelah Kyungsoo.

"Ya," angguk Kyungsoo lalu kembali menyapu kuasnya diatas kanvas.

"Kau suka melukis ?"

"Bukan termasuk hobby, tetapi aku melakukan dikala senggang."

"Lukisanmu bagus," pujinya Kyungsoo bersyukur sepertinya lelaki ini tahu ia bukan wanita Italia jadi ia tidak berbicara dengan bahasa Italia.

"Ini bahkan belum jadi,"

"Aku Diego ngomong-ngomong," ia mengulurkan tangan, mengerjap sebentar lalu Kyungsoo menaruh kuasnya dipalet dan menyambut uluran tangan itu.

"Aku Kyungsoo."

"Kyu.. apa?"

"Kyungsoo, K-Y-U-N-G-S-O-O, Kyungsoo," ia mengejanya, terlihat lucu seperti guru yang sedang mendikte pada muridnya. Diego tertawa kecil.

"Ok, Kyungsoo, nice to meet you."

"Nice to meet you too."

"Kau sendiri saja disini ?"

"Saat ini, ya," angguk Kyungsoo kembali meraih palet dan kuasnya. Ia biasanya ramah, namun ia sedang melukis dan membutuhkan konsentrasi maka ia hanya menjawab seadanya.

"Berminat bergabung untuk berenang bersama?"

"Tidak Diego, aku sedang melukis, terima kasih."

"Apa kau berdarah Asia ?" lelaki ini tampak belum menyerah dan masih mencari bahan pembicaraan dengan Kyungsoo.

"Ya, South Korea."

"Ahh.. gadis Korea memang cantik-cantik," pujinya dan Kyungsoo hanya tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Akan ada pesta nanti malam di club tidak jauh dari sini milik temanku, apa kau berminat bergabung?" Kyungsoo menoleh dan menggeleng.

"Tidak, terima kasih."

"Ahh jangan begitu, pasti menyenangkan bisa berpesta bersamamu, aku akan mengenalkanmu dengan beberapa temanku, bagaimana?" ia meraih bahu Kyungsoo yang hanya berbalut gaun musim panas tanpa lengan. Kyungsoo menjauhkan tangan Diego dari bahunya, memberi tatapan keberatan.

"Apa yang kau pikir sedang kau lakukan anak muda ?" Kyungsoo dan Diego menoleh dan Diego langsung berdiri begitu mengetahui siapa yang muncul. Ia adalah salah satu pengunjung tetap dari Castelo di Tuscany, dan ayahnya salah satu mitra kerja Kim Jongin sang pemilik Castelo di Tuscany.

"Tuan Kim, anda disini?"

"Kau, Diego Volreya?" ia mengangguk dengan senyuman namun tidak membuat Jongin terkesan. "Kau sedang mencoba mengganggu gadisku?" Kyungsoo tersentak dan bersemu saat Jongin menyebutnya 'gadisku'. Diego tampak terkejut dan salah tingkah.

"Ahh.. maaf, aku hanya sedang menyapa… maafkan aku Tuan Kim," ucapnya tidak enak hati dan juga berbalik menghadap Kyungsoo. "Maafkan aku nona Kyungsoo," Kyungsoo menggeleng pelan.

"Aku tidak apa-apa," Jongin maju selangkah dan bertatapan dengan Diego, menatapnya datar tepat dimatanya.

"Jangan bermain-main disekitar milikku anak muda, apa kau mengerti?"

"Ya tuan Kim, maafkan saya," merasa atmosfir yang tidak enak iapun pamit pergi dan kembali pada teman-temannya.

"Dia tidak benar-benar menggangguku, aku hanya tidak nyaman dengan orang asing," ucap Kyungsoo. Jongin mendekat, duduk dikursi yang tadi diduduki Diego. Menggesernya lebih dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Jongin memutar tubuh mungil Kyungsoo hingga mereka berhadapan. Tidak mempedulikan keadaan sekitar dimana Hugo berdiri beberapa meter dari mereka lalu tentu saja tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu beberapa karyawan bahkan pengunjung yang mengetahui bahwa yang kini sedang berada di kolam renang sana, duduk bersama gadis mungil dengan dress floral musin panas adalah Kim Jongin pemilik Castelo di Tuscany.

"Aku tidak suka ada yang menyentuhmu," ia mengecup bahu yang tadi disentuh Diego lembut, beberapa kecupan manis yang membuat Kyungsoo memerah bukan main. Ia menggigit bibirnya dan matanya bisa menangkap tubuh tinggi Hugo yang membalikkan badan tidak ingin tertangkap melihat kemesraan bosnya dan wanitanya.

"Jongin-ssi… kita diruang publik," bisiknya lembut, Jongin tersenyum. Menyentuh pipi memerah Kyungsoo dengan telapak tangan hangatnya.

"I don't care, let them see," ia balas berbisik mesra. "You are Kim Jongin's," dan bibir apel itu menangkap bibir hati Kyungsoo, menggigit gemas namun lembut bibir bawahnya. Kyungsoo rasa wajahnya pasti sudah memerah karena mereka melakukannya didepan umum, ditempat dimana semua orang mengenal Jongin. Tangan Jongin berpindah pada tengkuk Kyungsoo, memiringkan kepalanya untuk memasukkan lidahnya saat Kyungsoo membuka mulutnya bermaksud meraup oksigen. Sebuah French kiss, dan mereka melakukannya didepan mata-mata yang penuh dengan rasa penasaran.

"Hhh..hh..Jongin-ssi," Jongin menarik Kyungsoo kepangkuannya, memeluknya erat dengan kepala bersender didada Kyungsoo. Terasa begitu nyaman dan hangat dan ia tersenyum merasakan detakan jantung Kyungsoo. Bisa dipastikan itu karenanya. Bibir Kyungsoo masih terasa basah dan semakin tebal akibat perbuatan Jongin namun ia menyukainya. Meski canggung ia mengangkat tangannya dan mengelus surai belakang Jongin.

"Aku bisa tertidur jika kau memanjakanku seperti ini baby girl."

"Kau sangat suka memanggilku baby girl," Jongin tertawa kecil.

"Karena kau memang baby girl, Kim Jongin's Baby girl " jawabnya. Ia mengangkat wajahnya dari dada Kyungsoo dan memberikan senyuman tampannya untuk Kyungsoo. "Aku tidak bisa menyebut gadis mungil ini seorang wanita meskipun kau memiliki tubuh seorang wanita yang begitu seksi baby."

"Aiyy.. jangan bicara tentang itu," malunya. Jongin tidak bisa absen tersenyum bahkan tertawa jika bersama Kyungsoo. Tingkah manisnya selalu sukses membuat ia gemas.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita membicarakan tentang lukisanmu ini," masih memangku Kyungsoo kali ini giliran Kyungsoo yang menyerukkan kepalanya di leher Jongin manja.

"Ini lukisan pemandangan Tuscany."

"Aku bisa melihatnya, dan ini indah."

"Itu bahkan belum jadi Jongin-ssi, jangan mencoba menyogokku dengan pujian begitu," cemberutnya.

"Tapi bahkan belum jadi saja sudah bagus baby, aku tidak sembarangan menilai," terang Jongin. "Bagaimana jika kau menyelesaikannya sekarang, aku akan menemanimu."

"Kau tidak sibuk ?" tanya Kyungsoo.

"Semuanya sudah selesai, meeting, peninjauan lokasi, jadi aku free," Kyungsoo mengerjap.

"Tapi kita akan berada disini selama seminggu, kupikir perjalanan dinasmu selama itu Jongin-ssi?"

"Tidak, hanya dua hari sibuk dan setelahnya aku free, dan itu adalah waktu untuk kita menikmati liburan."

"Benarkah?" binar jenaka membias dimata Kyungsoo yang berpoles tipis eyeliner.

"Of course baby girl."

"Ahh you're so kind."

"And you're so cute," setelah mendaratkan kecupan singkat dengan malu-malu Kyungsoo membenarkan duduknya dipangkuan Jongin, meraih palet dan kuas untuk memulai kembali kegiatan melukisnya. Jongin melingkarkan tangannya dipinggang Kyungsoo, menemaninya melukis. Menikmati memandangi wajah imut yang begitu serius memoles cat diatas kanvas. Jongin menaruh dagunya di bahu Kyungsoo. "Kau memiliki jiwa seni baby, kenapa memilih mengambil jurusan arsitek bukan seni lukis?"

"Karena aku ingin membangun istana," jawabnya ringan. Jongin memiringkan wajahnya untuk menatap Kyungsoo.

"Istana?"

"Ya, istana, seperti milikmu ini Castelo di Tuscany sangat mengagumkan, aku memimpikan sebuah rumah sebesar ini," terkikik kecil membayangkan impian bocahnya. "Aku sangat suka dongeng seorang putri, istana juga pangerannya. Serial Disney adalah favoritku. Kau harus melihat rumahku Jongin-ssi."

"Rumahmu?" Kyungsoo mengangguk, memberikan sentuhan terakhir untuk lukisannya. Sederhana, perpaduan warna hijau, kuning dan juga jingga mendominasi. Menyatu membentuk sebuah harmonisasi yang indah. Sederhana namun manis. "Ada apa dengan rumahmu?" Kyungsoo menaruh palet dan kuasnya diatas meja dan memutar tubuhnya menyamping.

"Mendiang ayahku membangun sebuah kastil mini untukku dikawasan Cheondamdong, dimana kami menempatinya bersama sebagai rumah tinggal," jawab Kyungsoo. "Tidak mudah untuk bisa membangunnya apalagi itu akan direnovasi secara keseluruhan dari bentuk rumah asli tetapi ayah melakukannya untukku. Aku membuat gambaran rumah yang kuinginkan dan ayah mewujudkannya menjadi hadiah ulang tahunku yang ke 17. Jadi saat aku berusia ke 17, aku merayakannya di istana kecilku bersama orang tua dan teman-temanku," kenangan itu merembes kedalam ingatannya. Membuat ia merasakan kerinduan pada sosok ayah dan ibu yang telah tiada.

"Kau adalah seorang putri kecil keluarga Do sebelum bertemu devil prince sepertiku," Jongin entah kenapa merasa bersalah telah membawa Kyungsoo pada dunianya.

"Tapi rumah itu sudah digadaikan ke Bank," lirihnya. Jongin menarik lembut dagu Kyungsoo membuatnya mendongak.

"Digadaikan?"

"Ya, pinjaman yang ayah ajukan ke Bank sangat besar untuk membangun pabrik di Busan dan kerugian yang ditanggung melebihi dari itu," Kyungsoo mengedikkan bahunya.

"Kau menginginkan rumah itu kembali?" Kyungsoo mengerjap lalu menggeleng pelan. Ini hanya pemikirannya tetapi ia khawatir Jongin akan membeli rumah itu jika ia mengatakan 'Ya'.

"Aku tidak ingin tinggal disana lagi, aku akan membangun istanaku sendiri," ia tersenyum kecil dengan tangan yang perlahan dikalungkan keleher Jongin. "Karena ada begitu banyak kenangan yang akan membuatku merindukan mereka jika aku berada disana."

"Tapi kau memperjuangkan pabrik ayahmu," Jongin menaikkan alisnya.

"Tentu saja, pabrik itu berdiri saat aku berusia 10 tahun dan istana mungil yang dibangun ayahku bisa terwujud karena adanya pabrik itu bukan," Jongin mengangguk. Jelas ia mengerti maksud Kyungsoo. "Jadi pabrik tekstil keluargaku jauh lebih berharga dari pada istana mungil itu."

"Gadis imutku yang bijaksana," Jongin mengecup dagu Kyungsoo gemas.

"Aku lapar dan belum makan siang karena sibuk melukis," Jongin mendengus.

"Aku tahu, Hugo mengatakannya padaku dan untuk itulah aku menyelesaikan meetingku dengan cepat lalu kemari untuk mengajakmu makan siang diluar."

"Kemana, kenapa tidak disini ?"

"Aku akan mengajakmu makan siang lalu kita bisa berkeliling Italia, berbelanja, mengunjungi beberapa tempat yang bagus, apapun yang membuat liburanmu terasa menyenangkan " ujarnya.

Cup

Cup

Cup

Kyungsoo mengecup kening, hidung dan bibir Jongin secara bergantian sebagai bentuk terima kasihnya. Memerah malu karena ya ampun mereka masih diruang publik.

"Sekarang kau mempertegas pada siapapun yang melihat bahwa kau adalah milikku."

"I'm Yours, Kim Jongin's Baby Girl," dan Jongin merasakan kehangatan serta rasa puas mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Kyungsoo. Jonginpun memerintah Hugo untuk membawakan alat-alat melukis Kyungsoo setelah Kyungsoo meyakinkan Hugo untuk hati-hati karena lukisannya belum kering.

.

.

Jongin membawa Kyungsoo ke Torino untuk makan disebuah restoran pizza L'osteria yang menjadi langganannya jika ia dan kakaknya berkunjung ke Italia. Kyungsoo mengatakan ia ingin makan pizza, pizza sudah menjadi makanan favoritnya sejak ia beranjak remaja.

"Ini sangat lezat," lenguhnya setelah menggigit potongan pizza pertama.

"Aku tahu kau akan menyukainya."

"Apa sebelumnya kau pernah kemari ?"

"Pernah, dengan noonaku ."

"Kau memiliki noona ?" Jongin mengangguk.

"Dan kau anak tunggal."

"Ya, aku anak tunggal, ayahku seorang pemilik pabrik tekstil dan ibuku seorang ibu rumah tangga sejati," kekehnya. "Bagaimana denganmu ?" Jongin menaikkan alisnya.

"Aku?" Kyungsoo mengangguk. Ia mulai mencomot-comot pizza miliknya sembari menatap Jongin.

"Bolehkah aku bertanya tentang keluargamu?" Jongin terdiam sesaat, namun akhirnya ia tersenyum. Keduabelas wanitanya dulu tidak pernah menanyakan secara spesifik tentang kehidupan keluarganya. Mereka hanya mengenal sosok Kim Jongin tanpa mengetahui silsilah keluarga Kim. Hanya satu wanita yang mengetahuinya, pacar pertamanya, cinta pertamanya. Dan kini Kyungsoo menanyakan hal itu padanya. Ia tidak hanya ingin mengenal Kim Jongin seorang namun ia juga ingin mengenal keluarganya. Sebuah rasa hangat lainnya yang berhasil dimunculkan oleh gadis berusia 23 tahun ini. "Jika kau keberatan kau tidak perlu menceritakannya Jongin-ssi," Jongin menggeleng.

"Aku hanya sedikit terkejut kau menanyakannya, tidak ada wanita-wanitaku yang bertanya tentang keluargaku sebelumnya seakan aku terlahir dan hidup sendiri didunia ini," Jongin tersenyum, menyeruput pepsinya sebentar sebelum memulai. "Ayahku dulunya seorang musisi dan aktor, mungkin kau pernah mendengar nama Kim Seunghyun."

"Kim Seunghyun?" ulang Kyungsoo mencoba mengingat. "Oh my god, Kim Seunghyun yang itu, maksudku yang dulu dikenal dengan nama TOP ?"

"Benar, Kim Seunghyun yang itu," tawa Jongin.

"Daebak, pantas saja kau sangat tampan, ayahmu sangat sangat tampan Jongin-ssi," Jongin menyipitkan matanya.

"Jadi kau naksir ayahku ?"

"Bukan begitu, aku… " cicit Kyungsoo, Jongin terkekeh, ia hanya bercanda.

"Aku bercanda, dan ibuku bernama Sandara Kim," lanjutnya. " Ibuku seorang designer dan kakakku Kim Yaejin, sebelum ia menikah ia bekerja sebagai seorang announcer disalah satu stasiun televisi di Seoul. Nah, perkenalan keluargaku selesai."

"Kau pernah mengatakan tentang 'mendiang ibuku' sebelumnya Jongin-sii, apakah…?" Jongin tersenyum kecil melihat Kyungsoo menatapnya dengan pandangan tidak enak hati.

"Ibuku meninggal saat aku berusia 23 tahun karena penyakit jantung," jawab Jongin.

"Maafkan aku, aku.."

"Tidak apa-apa baby, aku tidak keberatan menceritakannya."

"Lalu bagaimana kau bisa menetap di Manhattan ?" Kyungsoo mengalihkan ke pertanyaan lain.

"Kakakku ingin melanjutkan kuliah di Manhattan, saat itu nenek kami masih hidup jadi kami tinggal bersama nenek. Aku ikut ke Manhattan karena aku juga ingin merasakan bagaimana bersekolah diluar negeri," cengir Jongin mengingat masa remajanya. "Ayah dan ibuku tetap berada di Seoul namun sesekali mereka akan datang ke Manhattan mengunjungi kami, karena ayahku sudah beralih profesi menjadi produser, ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya di Korea begitu pula dengan ibuku."

"Kau punya keluarga yang menakjubkan, ayah seorang aktor dan produser, ibu designer dan kakak seorang announcer, kau sendiri pebisnis yang sukses."

"Aku mendapatkannya bukan karena aku adalah anak Kim Seunghyun tetapi karena aku berusaha dengan sangat keras untuk itu, aku tidak percaya sebuah keberuntungan tanpa usaha baby girl," jawab Jongin. "Jika begitu akan ada banyak orang yang berpangku tangan berharap akan datangnya keberuntungan untuk mereka."

"Kim Jongin dan segala pemikirannya."

"Do Kyungsoo dan segala kepolosannya," tawa terlepas begitu saja dari bibir mereka. Sudah lama sekali sejak ia bisa tertawa selepas ini jika bersama dengan wanitanya. Biasanya Jongin hanya akan menghabiskan waktu dengan berbelanja dibutik terkenal. Atau makan siang dan makan malam di restoran terkenal. Tetapi Do Kyungsoo menyukai hal-hal sederhana namun manis seperti ini.

"Bagaimana kalau setelah ini kita berkeliling kota saja, aku ingin melihat bangunan-bangunan di Italia," jawabnya ceria. "Italia memiliki arsitektur yang tak kalah bagusnya dari Barcelona."

"Kita akan ke Barcelona lain kali," Kyungsoo tersenyum mengangguk. Namun hatinya berkata lain, akankah masih ada lain kali itu.

.

.

Semua lelaki adalah makhluk visual itulah pemikiran Jongin. Karena begitupulalah dirinya. Wanita-wanitanya sebelumnya adalah sosok yang begitu menarik untuk dipandang mata. Memiliki fisik yang enak dipandang, seperti kata Heechul yakni layaknya model Victoria Secret. Namun Jongin tidak memandang sebelah mata pada sosok mungil Kyungsoo. Dibalik tubuh mungil yang berbalut hotpants jins dan kemeja denim sepaha itu tersembunyi kemolekan ciptaan tuhan yang hanya bisa disentuh dan dilihat olehnya, Kim Jongin. Dan perasaan itu muncul kembali, melihat keceriaan Kyungsoo, tawanya, senyumannya, membawanya pada saat-saat ia masih remaja. Menjalin cinta untuk pertama kalinya. Mencintai dengan sepenuh hati untuk pertama kalinya dan berangan-angan tentang masa depan dengan seorang gadis untuk pertama kalinya, dan gadis itu adalah Jung Krystal. Jongin menggelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan nama itu dari ingatannya. Belakangan ini nama dan sosok itu sering berseliweran dipikirannya. Sejak Kyungsoo menanyakan tentang kisah cinta masa remajanya.

"Jongin-ssi," Jongin menoleh dan mendapati Kyungsoo tengah mengambil fotonya dengan Polaroid.

"Hei, aku pasti terlihat aneh difoto itu," protes Jongin.

"Tidak kok, kau tetap tampan bagaimanapun ekspresimu, lihatlah," Kyungsoo menunjukkan foto tersebut pada Jongin. Kyungsoo tidak berbohong, bahkan saat terlihat tanpa ekspresipun Jongin tetap tampan.

"Kemari kau gadis nakal," Jongin meraihnya dalam pelukan. Mereka kini sedang berada di Royal Palace of Caserta. Kyungsoo sangat excited saat Jongin mengajaknya mengunjungi tempat ini. Ia mengetahui banyak hal tentang Royal Palace of Caserta. Apalagi tentang film-film yang pernah memakai tempat ini sebagai lokasi syuting. "Kau lelah ?" tanya Jongin sambil memeluk Kyungsoo. Kedunya menyusuri jalan sambil saling merangkul layaknya sepasang kekasih.

"Tidak, aku beruntung memakai sneakers," ia menunjukkan kakinya yang berbalut Nike Sneakers pada Jongin. "Akan sangat sulit menikmati jalan-jalan jika memakai wedges ataupun higheels."

"Kau benar baby girl," setuju Jongin.

"Setelah ini kita akan kemana?" tanya Kyungsoo.

"Aku sudah meminta Nickhun untuk menyiapkan Titania untuk kita," Kyungsoo mendongak dengan keryitan di dahinya.

"Titania, siapa Titania ?" Jongin terkekeh mendengar nada bingung Kyungsoo.

"Kapal Pesiar mungilku," mata sipit itu membola tidak percaya. Ohh apa yang tidak dimiliki oleh lelaki tampan ini.

"Kapal pesiar ?"

"Iya, jadi malam ini kita berdua akan menginap disana."

"Tap.. tapi aku tidak membawa pakaian."

"Aku sudah meminta Nick membawakan barang-barang kita untuk berlayar."

"Kau serius dengan berlayar ?" Kyungsoo menghentikan langkahnya dan keduanya kini saling berhadapa. Jongin mengelus pipi Kyungsoo lembut.

"Tentu saja baby, aku kan mau pamer mainan baruku padamu," Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya. Astaga, itu sebuah kepal pesiar dan ia mengatakan kalau itu mainan barunya.

"Kau benar-benar seorang Kim Jongin," gemas Kyungsoo, menjinjitkan kakinya untuk mengecup bibir Jongin. Jongin menariknya lembut hingga tubuh mungil itu berada didalam pelukannya. Kyungsoo melingkarkan kakinya dipinggang Jongin. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar yang melihat mereka sambil geleng-geleng kepala bahkan tersenyum-senyum. Dasar anak muda begitulah pikir mereka. Kyungsoo meremas lembut surai belakang Jongin dan melepaskan ciuman basah mereka. Ujung hidung mereka saling bersentuhan, nafas bersahutan saling membaur. Jongin mengecup lembut bibir basah Kyungsoo.

"Ayo kita pergi," ucap Jongin tanpa menurunkan Kyungsoo dari gendongannya.

"Kau tidak berniat menurunkan aku tuan Kim ?"

"Tidak, kau bisa menjadi koala sampai kita tiba di mobil," jawabnya ringan. Maka Kyungsoo dengan senang hati merebahkan kepalanya di bahu Jongin. Membiarkan dirinya digendong layaknya anak koala disepanjang jalan menuju Kimiran. Kyungsoo bersumpah ia tidak akan pernah melupakan momen-momen indah ini jika kontrak mereka telah berakhir. Bukankah ini yang ia inginkan. Memiliki Kim Jongin meskipun hanya selama 3 bulan lamanya seperti yang tertulis dalam Woman's Contract. Maafkan aku appa, eomma, aku tidak bermaksud menggadaikan diriku demi pabrik kita. Aku menginginkan pria ini, sungguh batinnya.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

maaf kalo banyak typo, gak sempet ngedit hehehehe