Kim Women's Contract
Cast :
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Rate : M (for NC Scene)
Night in Titania
Nickhun menyambut kedatangan Jongin dan Kyungsoo di dermaga dengan sapaan hangat khas miliknya. Ia berbicara dengan Jongin mengenai Titania yang sudah siap untul berlayar. Seorang pria Italia yang dipercaya menjaga Titania turut menjelaskan beberapa hal pula pada Jongin agar ia bisa berlayar dengan aman.
"Grazie Juan," ucapnya. "Oh and it's Kyungsoo, my girlfriend," Kyungsoo bisa merasakan pipinya memerah mendengar Jongin memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya.
"Hai nona Kyung..soo," katanya agak sulit melafalkan nama Kyungsoo. "Aku Juan, semoga kau menikmati harimu bersama Titania."
"Grazie Juan," ucap Kyungsoo.
"Kalau begitu aku akan kembali ke hotel, dan aku harus berpamitan pada kalian karena aku akan kembali ke Manhattan besok."
"Kita tidak pulang bersama ?" tanya Kyungsoo heran.
"Tentu tidak Kyungsoo-ssi, aku kemari untuk urusan dinas sementara Jongin untuk dinas dan juga berlibur denganmu."
"Apa itu tidak masalah, kau seorang CEO ?" tanya Kyungsoo khawatir. Jongin merangkulnya dengan senyuman.
"Karena aku seorang CEO maka aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan baby girl ."
"Ya, dan melimpahkan urusan perusahaan padaku," delik Nickhun bercanda dan ia tertawa kecil. "Ia membutuhkannya Kyungsoo-ssi, sejak ia menjadi dosen di universitas Manhattan ia tidak memiliki waktu luang untuk berlibur seperti ini. Urusan kantor dan universitas sangat menyita waktunya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang Kim Inc."
"Tolong urus Kim inc selama aku berlibur," Nikchun mendengus kecil namun tersenyum pada Kyungsoo.
"Nikmati waktu liburanmu, Kyungsoo-ssi."
"Tentu Nickhun-ssi," setelah Nikchun berpamitan Jongin mengajak Kyungsoo untuk segera menaiki kapal pesiar berukuran sedang yang diberi nama Titania itu. Kyungsoo masih dibuat terkagum-kagum. Bagaimana ia bisa seberuntung ini. Oh tentu saja Kyungsoo, siapa yang kini bersamamu, Kim Jongin. Maka tidak ada yang tidak mungkin baginya. "Siapa yang akan menjalankan kapalnya Jongin-ssi?" tanya Kyungsoo saat Jongin menariknya masuk bagian atas kapal. Disanalah pusat kendali kapal berada sekaligus tempat bersantai yang dilengkapi dengan sofa kulit berkualitas terbaik berwarna marun. Meja berpelitur yang berada ditengah-tengah sofa.
"Menurumu siapa?" dia balik bertanya.
"Juan?" tapi Kyungsoo ragu karena ia tidak melihat Juan ikut naik keatas kapal pesiar.
"Sudah kukatakan kita akan menghabiskan malam berdua, berlayar bersama Titania," ia menunjukkan seriangaian tampan yang membuat pipi Kyungsoo bersemburat merah ketika akhirnya ia menangkap maksud ucapan Jongin.
"Kau.. tidak bermaksud mengatakan bahwa kau yang akan menjalankan kapal ini bukan, Jongin-ssi," Jongin menaikkan alisnya sambil menapakkan lengannya yang terbentuk sempurna diatas kemudi Titania.
"Kau meragukanku?"
"Kau bisa mengendarai kapal pesiar, maksudku..maksudku kapal pesiar ini, benarkah?" Jongin selalu membuatnya terkejut dengan segala macam hal tersembunyi didalam dirinya. Jongin mengedipkan matanya pada Kyungsoo dengan seriangaian khas.
"Karena ini milikku, maka akulah yang akan mengendarainya baby girl," Kyungsoo menahan nafas mendengarnya. Ia benar-benar hanya akan berlayar bersama Jongin. " Kita akan segera berangkat, hanya tinggal menunggu isyarat dari Juan, kau bisa turun kebawah dan melihat kabin, barang-barang kita ada disana," Kyungsoo menggeleng. Ia maju beberapa langkah dan justru membalikkan tubuh Jongin hingga tubuh tegap Jongin berhadapan dengan kemudi kapal dan ia memeluk punggung hangat dan nyaman milik Jongin.
"Aku ingin memelukmu seperti ini saat kau mulai menjalankan kapalnya," bisiknya malu-malu dengan semu dipipinya. Jongin tersenyum, merasa begitu dilimpahi kasih sayang oleh Kyungsoo. Ia mengelus lilitan jemari Kyungsoo di perutnya.
"Gadisku yang manis."
.
.
Kyungsoo duduk disofa empuk berwarna marun sementara tangannya sibuk bekerja diatas buku sketsa yang selalu ia bawa kemana-mana. Bahkan ke Italiapun ia membawanya. Dan ia bersyukur Nickhun membawa buku sketsa ini saat ia membawakan barang-barangnya dan Jongin. Mata bulat itu sesekali beralih menatap punggung tegap yang kini sudah bertelanjang. Jongin yang mulai kegerahan dengan hawa panas air laut memutuskan untuk melepas pakaian atasnya dan saat itulah Kyungsoo memutuskan turun ke kabin dibawah dan membongkar tasnya. Menemukan buku sketsa serta pensilnya lalu kembali naik keatas untuk membuat sketsa sosok Jongin yang tampak begitu seksi. Punggung tegapnya, otot sayap yang terbentuk sempurna, pinggul V yang membuatnya menggigit bibirnya dengan senyuman kecil. Entah kenapa membayangkan bagaimana malam-malam yang telah ia habiskan bersama dalam ketelanjangan namun baru kali ini Kyungsoo memperhatikan Jongin begitu intens. Celana jins pudar menggantung dengan nyaman dipinggulnya, proporsi tubuh Jongin begitu sempurna.
"Jadi apakah kau bisa membuat sketsa punggung seksiku, baby girl," suara sexy itu mengejutkan Kyungsoo, untung saja ia sedang tidak menggores diatas kertas. Jika tidak pasti ia akan mengacaukan sketsanya.
"Tentu saja, aku akan menunjukkannya padamu jika sudah selesai," jawabnya dengan semburat merah dipipi. Kyungsoo selalu dibuat memerah malu jika bersama Kim Jongin.
"Aku penasaran," Jongin masih belum berbalik, pandangannya masih fokus kedepan sambil mengendalikan kemudia kapal.
"Penasaran tentang apa?"
"Apa kau pernah membuat sketsa manusia bertelanjang sebelumnya ?" Kyungsoo mengetuk-ngetukkan pensil didagunya sembari mengingat-ingat.
"Ahh, ya aku pernah," jawabnya seakan bohlam baru saja dinyalakan diatas kepalanya sebagai pengingat.
"Apa ?" Jongin reflex berbalik dan menghentikan kemudinya. Jika saja mereka sedang naik mobil pastilah Kyungsoo akan terdorong kedepan dengan wajah membentur dashboard karena Jongin mengerem mendadak.
"Jongin-ssi, astaga," Kyungsoo memegang dadanya, meskipun hanya guncangan kecil tetapi cukup mengejutkan.
"Kau pernah membuat sketsa pria bertelanjang sebelumnya ?" tanyanya sambil berjalan menghampiri mendekati Kyungsoo. Kyungsoo sipolos hanya mengangguk mengiyakan. "Siapa, dimana, kapan?" buru Jongin merasa tidak senang karena ada lelaki lain selain dirinya yang dibuat sketsanya oleh Kyungsoo.
"Sebenarnya aku tidak membuat sketsanya tetapi melukisnya," jawabnya polos.
"Kau melukis lelaki telanjang?" sergah Jongin berkacak pinggang.
"Ya, itu tugas dikelas melukis yang kuambil disaat liburan musim panas," ia kembali menjawab dengan polos tidak mengerti kemarahan Jongin. Namun mendengar jawaban Kyungsoo barusan Jongin terdiam dengan tatapan sedikit bingung namun beberapa detik kemudian ia justru menghela nafas. Astaga, ia pasti gila. Jelas saja ada yang seperti itu, ketelanjangan juga adalah sebuah seni. Tanpa berkata apa-apa ia menarik Kyungsoo berdiri dan mendudukkan tubuh mungil Kyungsoo diatas meja. Tangannya menelusup kedalam kemeja denim Kyungsoo sementara bibirnya menyapa kulit leher Kyungsoo dan menciumnya begitu keras hingga Kyungsoo merasakan Jongin bisa saja berubah menjadi vampire.
"Kau tidak boleh mengambil kelas melukis dimusim panas lagi!" itu sebuah perintah. Kyungsoo menggigit bibirnya menahan desahan saat tangan Jongin meremas payudaranya dua kali lalu merebahkan kepalanya disana, tangannya yang tadi bergerilya dipinggang Kyungsoo sudah beralih memeluk tubuh mungil itu seakan mengikatnya dengan tali tak kasat mata agar tidak terlepas. "Kau tidak boleh melihat lelaki lain telanjang jika itu bukan aku, apa kau mengerti?" Kim Jongin yang posesif telah muncul. Kyungsoo mengelus surai belakang Jongin lembut dan menenangkan.
"Aku mengerti, aku milikmu, dan aku tidak tertarik untuk melihat lelaki lain bertelanjang didepanku," ia tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri.
"Siapa aktor pria favoritmu?" tanya Jongin tiba-tiba.
"Hmm, aktor pria, kenapa?"
"Jawab saja baby," desak Jongin tidak sabar.
" Johny Deep dan Leonardo Dicaprio, kenapa?" Jongin menegakkan tubuhnya dan menatap intens kedalam mata kecil Kyungsoo.
"Kau juga dilarang melihat Johny Deep dan Leonardo Dicaprio telanjang ," Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya, dan Jongin bukannya marah ia justru ikut tertawa. Menertawai kalimat posesif yang sangat konyol miliknya itu.
"Kau sangat lucu tuan Kim," Kyungsoo mengelus rahang Jongin. " Perintah diterima, aku tidak akan melihat Johny Deep dan Leonardo Dicaprio telanjang. Karena aku memiliki Jack Sparrowku disini, kau tidak mau menjalankan kembali kemudinya. Ini sudah hampir sore Jack Sparrow," Jongin terkekeh mendengar julukan baru dari Kyungsoo itu.
"Baiklah baby girl," setelah memberikan ciuman kilat pada bibir mungil Kyungsoo, Jongin kembali ke posisinya didepan kemudi sementara Kyungsoo duduk kembali disofa dan memandang hasil sketsanya yang sudah selesai. Sketsa bagian belakang tubuh seorang Kim Jongin yang dibuat begitu sempurna. Tinggi badannya, punggung dengan otot yang indah serta lekukan pinggang menggoda dan bisep yang menantang saat ia memutar kemudi. Kyungsoo bisa sesak nafas jika memandanginya terus-menerus.
"Sketsa punggungmu sudah jadi Jongin-ssi," ucap Kyungsoo.
" Benarkah?".
"Yapp," angguk Kyungsoo meskipun Jongin tidak bisa melihatnya karena pandangannya kembali terfokus kedepan.
"Kau tidak berniat membuat sketsa bagian depan tubuhku?" Kyungsoo hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengarnya.
"Ap..apa?" Jongin menghentikan kemudi kapal, ia telah sampai pada tempat yang menurutnya cukup untuk mendapatkan pemandangan indah dimalam hari dan juga pagi hari nanti. Jongin berbalik, bersedekap sambil bersandar pada dinding meja kemudi.
"Aku ingin kau membuat sketsa telanjangku," mata bulat dan bibir Kyungsoo sama-sama membulat mencetak huruf O ketika mendengar ucapan Jongin itu.
.
.
Kyungsoo baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan kini tengah menatap pantulan dirinya yang hanya berbalut handuk lembut baby pink didepan cermin. Ia melirik lingerie berwarna merah marun yang tergantung didekat pintu kamar mandi. Jongin membelikannya lingerie saat mereka menyambangi salah satu toko pakaian dalam wanita dengan merek yang terkenal dan populer dikalangan wanita.
"Baby, apa kau butuh bantuan memakai lingerienya?" tanya Jongin dari luar sana menggodanya.
"Tidak, aku bisa memakainya sendiri," sahutnya gemas karena Jongin justru menggodanya. Astaga, sebenarnya apa yang dipikirkan Kyungsoo. Ia hanya tinggal memakainya saja, toh Jongin sudah pernah melihat tubuhnya tanpa busana. "Ini hanya lingerie Kyung, hanya lingerie, kau bahkan sudah pernah bercinta dengannya…astaga apa yang baru saja kukatakan," rutuknya, ia memukul mulutnya pelan karena berbicara asal. Kembali menarik nafasnya seakan ia akan menghadapi sesuatu yang begitu berat, Kyungsoo akhirnya meraih lingerie tersebut dan mulai memakainya. Lingeri merah marun dengan model baby doll itu berbahan sheer, begitu lembut saat Kyungsoo menyentuhnya. Ia mengenakan thong terlebih dahulu setelahnya ia memasangka lingeri baby doll itu pada tubuh mungilnya. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya ketika menatap pantulan dirinya didepan cermin. Astaga, Do Kyungsoo kau mengenakan lingerie. Tanpa sadar ia malah tersenyum sendiri, ini pengalaman pertamanya memakai lingerie.
Tok..tok..tok ! Kyungsoo berjengit kaget mendengar ketukan dipintu kamar mandi itu.
"Baby, kau benar-benar tidak membutuhkan bantuanku?"
"Tidak, aku akan segera keluar."
"Aku menunggu~," Jongin menjawab dengan nada sing a song. Sementara diluar sana, disebuah kamar yang didominasi dengan warna kayu, merah merah, dan krem tampak si tampan Kim Jongin yang bertelanjang dada dengan handuk menutupi bagian pinggang hingga lututnya sedang membuka botol wine. Ketika pintu kamar mandi terbuka ia reflex berbalik dan terdiam dalam gerakannya membuka penutup wine. Kyungsoo berdiri didepan pintu kamar mandi, mengenakan lingerie yang ia pilihkan dan sialnya begitu pas membalut tubuh mungil namun sintal miliknya itu. Kakinya yang bertelanjang tampak bergerak-gerak salah tingkah. Jongin bisa melihat semburat merah dipipi putihnya.
"You look beautiful," Jongin menyeringai. "And sexy."
"Ehem..ehem.." Kyungsoo berdehem mencoba menghilangkan rasa malunya karena ditatap begitu intens oleh Jongin. "Kau sudah siap?"
"Untuk bercinta, tentu baby," Kyungsoo meringis melihat Jongin yang malah tertawa. "Tentu saja kita akan bercinta, tetapi nanti setelah kau menyelesaikan sketsaku. Jadi dimana aku harus berada, apakah aku harus duduk atau berbaring, atau berdiri?"
"Duduklah diatas kasur, menyender pada headbed dengan kaki kanan ditekuk dan kaki kiri dilipat seperti kau akan duduk bersila," Kyungsoo member intstruksi. Namun belum sempat Kyungsoo menggapai buku sketsanya, tubuh mungilnya sudah ditarik kedalam dekapan Jongin. Bibirnya mengulum bibir Kyungsoo, menggigit bibir bawahnya gemas dengan tangan kanan menekan tengkuk Kyungsoo. Kyungsoo menapakkan tangannya pada pinggang Jongin, bibirnya yang mungil berusaha mengimbangi ciuman Jongin.
"Hah..hahh, astaga baby girl, aku sangat sulit menahan diriku," Kyungsoo mengelus rahang Jongin dengan pandangan sayu.
"Bersabarlah, kau akan memilikiku diatas ranjangmu setelah ini," Jongin benar-benar telah menyesatkan Do Kyungsoo yang polos. Karena kini ia telah pandai bermain kata seduktif dengan Jongin. Gigi depan Jongin menangkap bibir bawah Kyungsoo dan menggigitnya lembut.
"Tentu baby girl, tentu," Jongin melepaskan dekapannya dan segera beranjak naik keatas kasur. Kyungsoo menepuk-nepuk pelan pipinya yang memerah. Meraih buku sketsa dan pensil serta penghapus miliknya. Ia duduk diatas sofa, dan saat matanya melihat keberadaan strawberry diatas meja ia segera mengulurkan jemari lentiknya untuk mencicipi strawberry tersebut dan memasukkannya kedalam mulunya sambil mengalihkan pandangan pada Jongin. Dan Kyungsoo sukses tersedak strawberrynya. Bagaimana tidak, Jongin duduk diatas kasur dengan posisi yang telah diinstruksikan oleh Kyungsoo. Tidak ada yang salah dengan posisi itu andai saja ia tidak bertelanjang, benar-benar bertelanjang hingga Kyungsoo bisa melihat kejantanannya. "Baby girl, kenapa?" Kyungsoo menepuk dadanya sebentar lalu bangkit dari atas sofa. Ia mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu.
"Apa yang kau cari baby?" tanya Jongin bingung. Mata Kyungsoo terpatri pada selimut satin berwarna coklat yang terpasang diatas kasur. Maka ia menariknya dan naik keatas kasur. Berusaha untuk tidak mencuri pandang pada milik Jongin dan ia menutupinya dengan selimut satin itu. "Hei, kenapa kau menutupinya baby?"
"Biarkan aku mengaturnya ya," jawabnya dengan senyuman yang tidak bisa ditolak Jongin. Kyungsoo menata selimut tersebut hingga hanya menutupi bagian paha dalam dan kejantanannya. Dan membiarkan sisa selimut satin itu menjuntai dikanan kiri pinggul Jongin. " Sensual itu tidak harus benar-benar bertelanjang, pria tampan," Kyungsoo mengedipkan matanya pada Jongin. Astaga Jongin gemas bukan main pada gadisnya ini.
"Tapi itu tidak adil, kau melihat lelaki bertelanjang untuk tugas dikelas melukismu" ia kembali protes seperti bocah SD. Kyungsoo duduk disofa dan memangku buku sketsanya.
"Sebenarnya ia tidak benar-benar telanjang Jongin-ssi, ia masih memakai underware."
"Tetap saja kau melihat tubuhnya kecuali kejantanannya," debat Jongin.
"Tidak ada yang istimewa dari tubuhnya kok, lagipula itu cerita lama, jadi mari kita mulai acara membuat sketsa naked Kim Jongin-ssi."
"Baiklah, aku juga sudah tidak sabar untuk bercinta denganmu," sahutnya sambil terkekeh. Kyungsoo kembali mencomot strawberry tidak mempedulikan ucapan Jongin. " Apa posisiku sudah pas?"
"Tegakkan badanmu meskipun kau bersandar agar aku bisa menggambar…otot perutmu," suara Kyungsoo mengecil dibagian akhir. Jongin tertawa kecil namun mengikit intruksi Kyungsoo. Dan sigadis mungil pemalunya mulai berkutat dengan pensil dan buku sketsanya. Matanya akan bergerak-gerak bergantian melihat kearah Jongin dan juga buku sketsanya.
"Kau yakin bisa membuat sketsaku dengan sempurna?"
"Tidak ada yang sempurna, namun aku akan berusaha memberikan yang terbaik," jawabnya masih sambil menggores dengan pensil diatas buku sketsanya. " Jangan bergerak-gerak Jongin-ssi."
"Aku ingin menyalakan music baby," cengirnya meraih ponsel dinakas dan dengan cepat menemukan aplikasi music, menyalakan music secara acak. Dan suara music pembuka familiar menyapa gendang telingan mereka. Kyungsoo mengeryit begitu mendengarnya.
"Kau memiliki lagu ini?"
"Ya, I love Titanic," jawabnya ringan. "Bukankah aku sedang menjadi Leonardo Dicaprio saat ini?"
"Leonardo Dicaprio!" Kyungsoo masih menyibukkan dirinya dengan sketsanya sementara Jongin sudah kembali keposisinya.
"Ya,"
"Oh apa kita sedang melakukan parody Titanic sekarang, kalau begitu seharusnya kau yang membuat skestaku bukan sebaliknya, Jongin-ssi," Jongin tertawa kecil menanggapinya.
"Mari kita buat Titanic versi lain,".
"Hebat, hari ini aku melihat Jack Sparrow mengemudikan Titania dan sekarang aku tengah membuat sketsa telanjang Leonardo Dicaprio," ledek Kyungsoo namun Jongin hanyut dalam tawanya.
"Ngomong-ngomong baby, kau mau memeriksa sesuatu yang kau tutupi disini," Kyungsoo mendongak dan mendapati Jongin menunjuk kearah kejantanannya yang ditutupi selimut satin. Kyungsoo kembali menunduk dengan pipi memerah. "Ia meronta ingin dibebaskan dari selimut satin ini baby, karena sialnya kau begitu menggairahkan malam ini," Kyungsoo mencomot strawberry dan memakannya untuk mengalihkan perhatiannya.
"Jadi kau suka menonton Titanic ya, kau bilang tidak suka film romantic," Kyungsoo mencoba untuk mencari bahan pembicaraan daripada Jongin terus menggodanya.
"Titanic berbeda, ini kisah yang benar-benar terjadi bukan hanya sekedar drama cinta picisan baby," sahutnya. "Oh ya, apa kau ingat apa yang dilakukan Rose dan Jack setelah Jack menyelesaikan sketsa telanjang Rose?"
"Mereka kabur bersama karena ketahuan tunangan Rose," jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa dan sesekali memandang kearah Jongin agar bisa membuat gambar yang serupa dengan objeknya.
"Bukankah setelah itu mereka bercinta ya?" Kyungsoo mengeryit mencoba mengingat.
"Ng..ya mereka bercinta didalam mobil kalau tidak salah," angguknya.
"Sayang sekali tidak ada mobil di kapal pesiar mungilku ini, kalau tidak kita bisa mempraktekkannya juga bukan?" Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya begitupun Jongin. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menjadi sekonyol ini. Astaga Do Kyungsoo benar-benar membantunya kembali pada masa-masa ia begitu supel dan konyol sebagai remaja.
"Maniak Titanic, astaga jangan-jangan nama kapal ini terinspirasi dari nama Titanic!" Jongin mengangguk.
"Kau benar-benar pintar menebak baby," Kyungsoo benar-benar dibuat terkesima oleh Jongin. " Aku berharap suatu saat aku bisa membuat kapal pesiar sebesar Titanic juga untuk bisnis dan berkeliling dunia diwaktu senggangku."
"Kim Jongin dan segala Keinginan besarnya."
"Do Kyungsoo dan segala kemolekan tubuhnya," kekehnya membuat Kyungsoo mengerucutkan bibirnya karena Jongin kembali pada topik membahas tubuhnya yang berbalut lingerie itu. Waktu terus bergulir dengan sedikit keheningan dan hanya ditemani oleh suara music dari handphone Jongin. Kyungsoo yang begitu serius dengan sketsanya tampak begitu seksi dimata Jongin. Kombinasi gadis pintar dan sensual yang membuatnya harus menahan hasrat kelelakian yang sudah siap mendobrak sejak ia melihat Kyungsoo keluar dari kamar mandi memakai lingerie seksi itu. "Ini sudah 45 menit baby girl."
"Sedikit lagi." Kyungsoo menggigit bibirnya dengan tatapan serius pada sketsanya, memberikan goresan-goresan untuk memperindah gambar yang ia buat. Sialan, Jongin menegang hanya dengan melihatnya menggigit bibirnya. Dan double sialan saat suara vocalis The Weekend mendendangkan lagu Earn it lewat MP3 miliknya. "Iyappp, selesai sudah!" serunya riang, Kyungsoo bangkit dan berjalan menghampiri Jongin. Namun belum sempat ia menunjukkan hasil karyanya itu tangan kirinya yang tidak memegang apapun ditarik Jongin sementara Jongin dengan cepat mengambil alih buku sketsa dan mengamankannya diatas nakas. Jongin menjatuhkan tubuh mungil itu diatas kasur, melumat bibir Kyungsoo dengan rakus. Tangannya tidak tinggal diam menyingkap lingeri itu keatas hingga memperlihatkan payudara sintal yang bergelayut manja. Jongin menangkupnya dengan tangan kanan dan meremasnya lembut. Bibirnya masih bekerja menggoda bibir Kyungsoo, lidah yang begitu lihai mengajak milik Kyungsoo bermain. Jemari Kyungsoo turun kebawah dan mengelus dada Jongin selembut sentuhan kupu-kupu membuat Jongin merinding. Maka ia membalik keadaan, Kyungsoo kini duduk diatas miliknya yang telah menegang.
"Nikmati aku baby,"
"Jongin-ssi," desahnya dengan rambut yang tergerai acak-acakan dan lingerie yang tersingkap.
"Ride on me, baby," Jongin meremas bokong Kyungsoo menimbulkan lenguhan manis menggoda.
.
.
Kyungsoo mungkin seorang awam dalam hubungan sex beberapa bulan lalu, namun berterima kasihlah pada Jongin karena kini ia cukup mahir membuat pasangannya merasakan kenikmatan surga dunia itu. Jongin mengeram, ia tidak akan mendesah, ia seorang lelaki dan menurutnya mengeram lebih maskulin daripada mendesah. Bagaimana tidak jika kini seorang gadis tengah bertelanjang diatas tubuhnya. Dengan kejantanannya yang menyatu dengan milik sigadis. Gadis yang tak lain adalah Kyungsoo. Menapakkan tangannya didada berotot Jongin, Kyungsoo mendorong lebih dalam menghasilkan desahan miliknya sendiri. Jongin meremas Bokong Kyungsoo saat Kyungsoo memutar pinggulnya membuat kejantannya seakan dipelintir dan dijepit begitu ketat.
"Kyunghh..baby," ucapnya disela geramannya.
"Sir, ahhn…" Kyungsoo menarik tangan Jongin hingga lelaki tampan itu terduduk dengan Kyungsoo dipangkuannya. Kyungsoo melingkarkan kakinya dipinggang Jongin, menekan lebih dalam. Hingga ia merasakan dinding kewanitaannya disentuh oleh kejantanan Jongin. Kepalanya mendongak dengan lenguhan penuh ekstasi. Dan Jongin menjadi pecandu setiap desahan dan lenguhan milik Kyungsoo. Ia mengecup pipi payudara Kyungsoo dan membawa bibirnya pada nipple Kyungsoo. Menggigitnya gemas tanpa berusaha menyakiti. Sementara keduan tangannya meremas-remas bokong Kyungsoo yang masih menaik turunkankan tubuhnya mencari kenikmatannya.
"Kau menikmatinya baby?" Kyungsoo tidak bisa menjawab, ini terlalu nikmat.
"Ahhh!" nyaris terpekik saat Kyungsoo akhirnya mencapai klimaksnya. Pandangannya memutih seolah segala macam warna direnggut dari pandangannya namun kenikmatan tiada tara membuat ia menyelipkan sebuah senyuman yang ditangkap oleh mata Jongin. Membiarkan Kyungsoo menikmati orgasmenya Jongin mulai melakukan kebiasaan breast-feedingnya. Sambil membaringkan tubuh Kyungsoo, mulutnya bekerja menghisap payudara milik Kyungsoo hingga membuat Kyungsoo melenguh. Kedua kaki Kyungsoo yang masih melingkar dipinggang Jongin menekan punggung silelaki untuk semakin menunduk hingga kejantanannya masuk semakin dalam. Kyungsoo mengerang dan Jongin menggeram. Sisi liarnya muncul, Jongin membawa kedua tangan Kyungsoo keatas kepalanya dan menahannya disana sementara ia menggerakkan tubuhnya naik turun untuk mencapai orgasmenya. Kepalanya pening akan gairah yang mendesak untuk diledakkan, dan begitu ia meledakkan miliknya didalam Kyungsoo bibirnya jatuh tepat diatas bibir Kyungsoo. Tangan Kyungsoo terlepas dari kekangannya. Mengelus rahang Jongin lembut, Kyungsoo mengulum bibir atas dan bawah Jongin bergantian sementara sitampan menikmati orgasmenya yang luar biasa. Mata mereka terbuka dan saling memandang. Begitu dalam hingga rasanya Kyungsoo bisa merasakan seolah tatapan itu menusuk jantungnya. Kyungsoo tersenyum mencoba menghilangkan gemuruh dihatinya dikarenakan tatapan intens namun lembut Jongin. Jongin balas tersenyum dan mendaratkan kepalanya didada Kyungsoo. Tempat istirahatnya yang begitu nyaman dan hangat. Elusan pada surai belakangnya benar-benar membuatnya merasa mengantuk. Ini bahkan baru satu kali permainan mereka. Namun segalanya telah dibagi oleh Kyungsoo hingga ia merasa begitu puas.
"Aku ingin terbangun dengan dirimu dipelukanku," gumamnya sembari menyamankan posisinya setelah lebih dulu melepas jalinan intim mereka.
"Aku akan berada dipelukanmu," bisik Kyungsoo melirik kebawah dengan senyuman sayang. Matanya menatap langit-langit kamar yang mereka tempati. Pikirannya menerawang kemana-mana. Setiap saat, ketika ia mengalami momen-momen indah bersama Jongin maka ia seolah disadarkan bahwa posisinya hanyalah sebuah wanita kontrak milik Jongin. Ia tidak ingin mengharap lebih seperti apa yang telah diperingatkan Heechul. Namun hatinya mematri sebuah pengharapan akan adanya masa depan antara ia dan Jongin. Bukan hanya sekedar wanita kontraknya.
.
.
Setelah malam panas yang dilalui Jongin dan Kyungsoo, keesokan siangnya Jongin mengajak Kyungsoo untuk ke Roma. Jika Kyungsoo ke Italia maka ia wajib ke Roma untuk melihat menara miring Pisa. Kyungsoo bukan main senangnya. Kamera dan juga polaroidnya tidak berhenti bekerja sepanjang perjalanan mereka. Namun dimalam hari ketika keduanya tengah menikmati makan malam mereka di Roma, Jongin menerima panggilan darurat dari Nickhun untu segera ke Paris. Ada permasalahan yang harus diselesaikan disana.
Nickhun sebenarnya tidak berniat mengganggu waktu liburan Jongin dan Kyungsoo di Italia. Namun apa daya jika Jongin harus segera terbang ke Paris karena ada permasalahan dengan perkebunan anggurnya disana.
"Minho akan menjemputmu dibandara dan dia akan membawamu ke rumahku, kau mengerti?" tanya Jongin. Ini masih hari kelima dan ia harus mengantarkan Kyungsoo ke bandara karena Kyungsoo akan segera pulang ke Manhattan sementara ia akan terbang ke Paris. Jongin tidak bisa membawa Kyungsoo ke Paris karena Kyungsoo mengatakan kalau teman kecilnya Kim Jongin akan datang ke Manhattan untuk berlibur. "Dan tentang teman kecilmu Park Chanyeol itu, aku akan meminta Minho menyiapkan reservasi hotel atas namamu untuknya, karena aku menolak dia menginap diapartemenmu, kau mengerti?"
"Perintah diterima, sir!" Jongin tersenyum.
"Good girl, sampai bertemu di Manhattan, aku tidak akan lama hmm," Kyungsoo mengangguk dan bermaksud berbalik sebelum Jongin memeluknya dengan erat. Mengecup puncak kepalanya lembut dan membisikan kata yang membuat detakan jantungnya menggila. Matanya mengerjap antara bingung dan tidak percaya. Jongin bisa melihat ekspresi ketidak percayaan itu. "Kau yang pertama mendengarnya dariku,baby girl," setelah berkata begitu Jongin membalikkan tubuh Kyungsoo dan mendorongnya lembut ke antrian untuk boarding pass. Kyungsoo menoleh kebelakang mendapati Jongin masih berdiri ditempat yang sama. Dalam balutan kemeja hitam dan celana jins hitamnya, melambai ringan dengan senyuman tampan mempesona. Aku menyukaimu, baby girl suara sexy itu terngiang ditelinga Kyungsoo. Itu bukan ungkapan cinta namun Kyungsoo merasa hatinya berbunga-bunga mendengar kata suka itu. Jongin menyukainya, bukan hanya karena ia butuh Kyungsoo untuk pelampiasan kebutuhan biologisnya. Astaga, Kyungsoo tidak bisa menahan senyumannya. Teringat perkataan Jongin setelah ia berbisik pada Kyungsoo tadi 'kau yang pertama mendengarnya dariku, baby girl'. Bolehkah aku berharap batinnya.
.
.
Mobil yang dikendarai Minho berhenti didepan kediaman Jongin, ia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Kyungsoo. Kyungsoo mengedarkan pandangan, merasa rindu dengan kediaman yang sering ia kunjungi itu. Namun ia lebih merindukan apartemennya.
"Saya akan membawa koper anda kedalam miss Do," ucap Minho sopan.
"Terima kasih Minho-ssi," Minho mengangguk. Saat ia baru saja mencapai pintu matanya mendapati keberadaan sebuah mobil sport berwarna merah menyala ditempat Kimir Jongin. Mobil itu tampak asing karena setahunya tidak ada yang memiliki mobil warna merah itu sebelumnya.
Ckleek ! pintu terbuka secara mendadak membuat Kyungsoo menoleh dan mendapati sosok cantik dengan tubuh tinggi semampai, surai pirang yang jatuh dipunggungnya dan bola mata besar berpoles make up yang membingkai matanya indah. Kyungsoo memundurkan langkahnya agar tidak menghalangi jalan sementara mata wanita pirang itu menatapnya tajam.
"Miss Im anda..oh Kyungsooie," itu suara Mrs Hans. "Kau sudah sampai?"
"Ya Mrs Hans," jawab Kyungsoo lalu melirik wanita cantik bak model itu.
"Siapa dia Brit?" tanyanya ketus pada Mrs Hans.
"Aku Do Kyungsoo, maaf anda.."
"Siapa kau, apa yang kau lakukan disini?" potongnya sambil menunjuk Kyungsoo dengan telunjuknya yang berpoles cat kuku merah.
"Miss Im, apa yang anda lakukan disini?" itu Minho, muncul secara tiba-tiba menamengi Kyungsoo dari serangan telunjuk sipirang. Wanita itu terdiam sesaat, menatap Minho dan surai almond yang menyembul dibalik punggung Minho bergantian.
"Kau…jangan katakan kalau.." matanya membola tidak percaya. "Bagaimana mungkin, tidak mungkin," ia melotot kearah Kyungsoo.
"Mari Kyungsooie, kita masuk kedalam," Mirs Han membawa Kyungsoo masuk sementara Minho masih mencoba menghalangi sipirang untuk menyusul Kyungsoo.
"DIA TIDAK BISA MEMILIKI WANITA BARU SELAGI AKU MENGANDUNG ANAKNYAAA!"teriakan sipirang membuat langkah Kyungsoo terhenti. Ia menoleh kearah Mrs Han dengan tatapan bertanya.
"Apa maksudnya itu Mrs Hans?" tanyanya dengan mata yang membesar tidak percaya. Mrs Han menghela nafas pelan. Minho sepertinya sudah berhasil mengurusi wanita itu karena teriakannya tidak lagi terdengar.
"Wanita itu bernama Im Nana, dia salah satu mantan wanita Mr Kim," ujar Mrs Han. "Ia mengatakan kalau ia harus bertemu dengan tuan Kim dan membicarakan sesuatu yang penting."
"Tapi..tadi dia bilang kalau dia hamil."
" Miss Im bukan wanita pertama yang datang dan mengaku tengah hamil Kyungsooie, jangan terlalu dibawa pikiran karena Mr Kim akan menyelesaikan masalahnya, percayalah padaku," bagaimana mungkin Kyungsoo tidak memikirkannya. Ia baru saja kembali dari Italia, melewati liburan romantisnya bersama Jongin dan saat ia kembali ke Manhattan justru dipertemukan dengan wanita cantik yang mengaku mengandung bayi Kim Jongin.
.
.
Meskipun Kyungsoo mencoba untuk melupakan kejadian pertemuannya dengan Im Nana mantan kekasih Jongin. Nyatanya ia masih saja sering kepikiran bagaimana nasibnya jika Im Nana benar-benar hamil anak Jongin. Apakah kontrak akan berakhir. Tapi diluar semua itu ia merasakan sakit dihatinya. Meskipun ia hanya wanita kontrak tetapi ia harus akui bahwa hatinya telah berhasil diambil oleh Jongin. Ia jatuh cinta kepada pria berusia 29 tahun itu. Dan mengetahui wanita lain tengah hamil anak dari lelaki yang kau cintai sungguh menyakitkan.
"Aku mendengar dari Brit tentang Im Nana," Heechul membuka suara begitu mereka sampai didepan gedung apartemen Kyungsoo. Hari ini Kyungsoo akan menginap diapartemennya karena Kai akan tiba di Manhattan siang ini.
"Ya, aku bertemu dengannya didepan rumah."
"Jangan terlalu dipikirkan, kejadian seperti ini bukan pertama kalinya untuk Jongin."
"Aku tahu oppa, aku hanya.. shock ya shock," Kyungsoo berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa kecewanya. Karena bagaimanapun ia telah mengatakan pada Heechul kalau ia tidak akan jatuh cinta pada Jongin.
"Minho sudah mangabari Jongin tentang Im Nana, apa dia sudah menghubungimu?"
"Belum, ia pasti sangat sibuk di Paris."
"Ya, ada masalah dengan tanah perkebuna anggurnya," jawab Heechul. "Tapi Nikchun adalah pengacara terbaik dan ia akan membantu Jongin menyelesaikan masalah. Dan selama itu kau harus menikmati harimu bersama teman kecilmu yang akan datang berkunjung," Heechul mengusuk gemas puncak kepala Kyungsoo.
"Ya oppa, tentu saja."
"Kau perlu menikmati masa-masa mudamu Kyungsoo-ah, jangan seperti Jongin," kekehnya. "Patah hati membuat ia melewatkan masa-masa indah diusia mudanya. Kim Jongin boleh memilikimu diatas kontrak tapi ia tidak boleh memiliki perasaanmu jika pada akhirnya ia tidak mampu membalasnya. Kau mengerti maksud oppa bukan?" Heechul bukan bermaksud jahat. Ia sungguh mengkhawatirkan Kyungsoo jika saja gadis ini jatuh cinta pada Jongin. Karena Jongin belum tentu bisa memberikan hatinya. Kyungsoo galau, haruskah ia mengatakan kalau Jongin bilang ia menyukainya. Tetapi Kyungsoo memutuskan untuk tidak mengatakannya dan menyimpannya sendiri.
"Ya oppa, aku mengingatnya dengan baik, gomawo".
"Gadis penurut," setelah itu Kyungsoo keluar dari dalam mobil dan melambai pada mobil Heechul yang berlalu didepannya. Kyungsoo menghela nafas pelan. Tiba-tiba merasa kesal pada Jongin. Jongin mengatakan ia menyukainya. Namun ia tidak mencoba menghubungi untuk menjelaskan atau setidaknya menenangkan Kyungsoo tentang wanita bernama Im Nana. Kyungsoo merogoh saku hoodienya dan mengeluarkan ponsel lalu memencet nomor ponsel manajar hotel dimana Kim Jongin telah memesan kamar untuk Kim Jongin teman kecilnya.
"Ini aku Miss Do."
"…"
"Aku ingin membatalkan reservasi kamar hotel atas namaku," ucapnya sambil memasuki gedung apartemennya. Kyungsoo ingin melihatnya, apa yang akan dilakukan Kim Jongin jika ia membatalkan reservasi. Apa ia masih tidak akan menghubungi Kyungsoo. Astaga Do Kyungsoo, jangan besar kepala hanya karena ia mengatakan kalau ia menyukainya. Pikiran didalam kepalanya seakan-akan menyalahkan dan mengingatkannya dimana posisinya. Namun Kyungsoo ingin mencoba, setidaknya jika hasilnya tidak sesuai ia sudah mencobanya. Dan tepat saat lift terbuka pada lantai kamar Kyungsoo, ponselnya bordering dengan layar berpendar menunjukkan 'Sir Calling'. Kyungsoo tidak bisa menahan senyumannya. Namun ia tidak menjawab panggilan itu dan memasukkan ponselnya kedalam saku hoodienya. Mari kita lihat seberapa menyukainya anda padaku Kim Jongin-ssi sisi baru Kyungsoo muncul. Kau seharusnya tidak melakukannya Kyungsoo, ini hanya menambah daftar harapan semumu suara lain berbisik. Namun Kyungsoo sepertinya lebih mendengarkan sisi baru dirinya. Mengabaikan sisi yang mencoba mengingatkannya agar tidak terjerumus dalam harapan semu.
.
.
First day in Paris
Begitu sampai di Paris, Nickhun sudah berada dibandara untuk menjemput Jongin karena ia sudah berada di Paris sejak semalam, untuk lebih dulu mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dalam menghadapi permaasalahan tanah kebun anggur milik Jongin. Tanah itu dulunya merupakan tanah sengketa dua pihak. Dan Jongin telah membelinya dari salah satu pihak yang memang menunjukkan bukti-bukti kepemilikan atas tanah tersebut. Namun pihak lain yang mengakui tanah itu miliknya mengajukan tuntutan dan membawa berkas-berkas miliknya sendiri yang menurut Nickhun masih dicek keabsahannya.
"Sidang pertama akan dilaksanakan besok, kau harus hadir karena kau pihak yang membeli tanah tersebut," ujar Nickhun.
"Aku mengerti," jawab Jongin sembari mempelajari berkas yang diberikan Nickhun.
"Kita hanya perlu memastikan kalau berkas yang dibawa pihak pelapor itu asli atau tidak, karena yang ku tahu pihak pelapor sedang terlilit hutang dan membutuhkan uang," ujarnya menjelaskan. "Jadi bisa saja ia melakukan segala cara agar bisa mendapatkan kembali tanah tersebut dan meminta uang penjualan yang kau berikan pada pihak pemilik tanah sebelumnya."
" Buang-buang waktu dan uang saja," dengus Jongin. "Memangnya memalsukan dokumen tidak membutuhkan biaya, itu sama saja dia menumpuk hutangnya."
"Kita sampai," kedua lelaki tampan itu keluar dari dalam mobil sementara bagasi mereka akan diurus oleh pihak hotel. Jongin dan Nickhun berdiri didepan lift menunggu lift tersbut turun ke lantai satu. "Jadi Kyungsoo sudah kembali ke Manhattan?"
"Ya, dia tidak bisa ikut karena temannya akan datang, si Park Chanyeol anak Park Joonmyeon," Jongin jelas mengingat isi file data diri Kyungsoo yang diberikan Nickhun.
"Kau terlihat tidak menyukainya."
"Tentu saja, karena ia biasa menghabiskan liburan di Manhattan dan menginap di apartemen Kyungsoo, lelaki dan perempuan di apartemen yang sama," Nickhun mendengus.
"Seperti kau dan Kyungsoo-ssi tidak saja, kalian sering berdua-duaan di kamar bukan," ejeknya.
"Kyungsoo adalah milikku dan aku jelas tidak berbagi Nick," Nickhun terkekeh pelan dan mengangguk mengerti. Lift sampai dilantai satu dan terdengar bunyi 'Ting' sebelum akhirnya terbuka. Jongin menatap pintu lift yang perlahan mulai terbuka itu dengan mata yang semakin lama semakin indah. Sosok cantik berbalut dress selutut dipadu dengan blazer berwarna pink salem berdiri disana. Balas memandangnya dengan mata indahnya. Bibir itu perlahan terbuka dan mengeluarkan suara.
"Jongin!" dan Jongin sukses terpana.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
aku bakal post beberapa chapter tapi maaf kalo banyak typo, gak sempet ngedit
