Kim Women's Contract
Cast :
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Rate : M
Someone who can't be Ignored
Kim Jongin seharusnya berada didalam kamarnya dan mempelajari kembali berkas persidangan yang baru saja ia hadiri tadi pagi tentang sengketa tanah perkebunan anggurnya. Namun sebuah kartu pesan dan sebotol wine yang diantarkan oleh seorang pelayan padanya membuat ia berubah pikiran.
Hai Jonginie~
Berminat untuk menikmati kopi bersama ?
Aku menunggumu di Rooftop
Krystal Jung
Jongin melangkahkaan kaki menuju lift yang akan membawanya ke restoran yang berada di rooftop salah satu hotel terbaik di Paris itu. Jongin tidak bisa menutupi rasa senang yang muncul dihatinya saat ia menerima pesan kecil dan juga wine dari Krystal. Sejak pertemuan di lift semalam keduanya belum bertemu kembali. Krystal hanya sempat menyapanya sebentar dan pergi begitu saja karena ia tengah dikejar waktu untuk menghadiri sebuah pertemuan begitulah katanya. Seorang pelayan menyapa Jongin ramah didepan pintu masuk restoran dan ia mengatakan bahwa ia telah memiliki janji dengan seseorang bernama Jung Krystal.
"Ahh Mademoiselle Krystal," angguknya mengerti dan ia mengantarkan Jongin kedalam restoran menuju ke meja dimana seorang gadis dengan surai hitam yang digerai rapi, riasan wajah yang anggun dan saat ia berdiri Jongin bisa melihat tubuhnya tinggi berbalut dress tanpa lengan berbahan shiffon yang memperindah tampilannya.
"Kau datang," senyuman terpatri dibibir tipisnya yang indah. Jongin balas tersenyum, mengucapkan terima kasih pada pelayan. Ia mendudukkan dirinya dikursi kosong tepat didepan Kyungsoo.
"Tentu aku datang," jawabnya ringan namun dengan senyuman tampan yang khas.
"Aku pikir kau tidak akan datang, sudah lama sekali sejak kita bertemu," jawab Krystal, suara lembutnya mengalun indah. Astaga, Jongin merasa dunianya seakan berguncang dibuat oleh nona Jung ini. Ia tidak bisa membohongi letupan-letupan menyenangkan terasa dijantungnya.
"Ya, kurasa pertama dan terakhir saat reuni setengah tahun lalu di Manhattan," angguk Jongin.
"Aku senang bisa mengobrol berdua saja denganmu begini," ucapnya. Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Setelah mencatat pesanan mereka pelayan itupun meninggalkan Jongin dan Krystal.
"Aku juga, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Jongin. Ia tidak ingin terlalu lihat bersemangat dengan pertemuan mereka ini meskipun kenyataan ia sangat senang. Bagaimanapun hubungan mereka telah berakhir 9 tahun lalu. Sejak Krystal meninggalkannya di atas ranjangnya setelah malam yang penuh gairah diusia muda mereka.
"Aku memiliki perusahaan yang bergerak dibidang interior design," jawab Krystal.
"Kupikir kau ingin menjadi designer."
"Aku berubah pikiran saat sudah berada di Paris dan…." Krystal menggigit bibir bawanya dan entah kenapa hal itu membuat ia diingatkan pada sosok gadis mungilnya yang berada di Manhattan. Bibir mungil dan berbentuk hati yang membuat candu. Jongin menarik nafas pelan.
"Dan apa Krystal?"
"Aku tahu ini sudah sangat lama sekali, tetapi…aku harus minta maaf padamu," Jongin diam, menunggu kelanjutan ucapan Krystal. "Pergi begitu saja tanpa berpamitan denganmu setelah…setelah apa yang telah kita bagi bersama. Aku..aku merasa sangat buruk," Krystal memberikan pandangan yang sarat akan rasa penyesalan. Jongin tersenyum tipis dan menggeleng.
"Aku sudah melupakannya," bohong, ia jelas berbohong bahwa ia telah melupakan pengalaman yang membuat ia merasakan trauma untuk tidur bersama pasangannya. Tapi kau sudah bisa mengatasinya saat bersama Kyungsoo batinnya berkata dan tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman. "Itu hanya bagian dari masa lalu, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kita hanya perlu memulai sebuah hubungan baru Krystal," mata itu mengerjap. Sebuah senyuman terbit di bibir tipis miliknya.
"Kau…hubungan baru?" ucapnya pelan.
"Ya, kita bisa mulai menjadi teman," dan senyuman tampan Jongin seakan meruntuhkan segala harapan wanita berusia 29 tahun itu. Mungkin ia sudah 9 tahun lamanya tidak bertemu Jongin namun ia bisa mengingat senyuman itu. Itu senyuman yang begitu tulus dan jujur. Senyuman yang membuat ia jatuh cinta pada sosok Jongin dulu. Lain Jongin, lain pula Krystal. Ia rasa keputusannya ini tepat. Krystal sudah dimiliki dan ia juga memiliki sebuah hubungan dengan Kyungsoo meskipun dalam sebuah kontrak. Inilah yang Jongin inginkan untuk saat ini.
Sebuah nada dering ponsel mengusik suasana hening yang sempat tercipta diantara keduanya. Jongin meminta maaf atas gangguan dari ponselnya dan Krystal hanya bisa tersenyum maklum. Ia jelas sudah mendengar tentang mantan kekasihnya yang kini menjadi pebisnis sukses. Jadi tidak heran jika disaat seperti inipun masih ada saja telepon yang mengganggu. Jongin berdiri dan mengatakan ia harus menerima panggilan itu. Ia berjalan beberapa meter dari Krystal, berdiri didekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Paris yang begitu indah.
"Ada apa Nick?" tanya Jongin.
"Manajer hotel Ashton Hill baru saja mengatakan padaku kalau Kyungsoo membatalkan reservasi kamar hotel atas namanya," tatapan Jongin menajam mendengarnya.
"Apa maksudmu dengan membatalkan?"
"Kyungsoo menelpon manajer hotel dan menelpon ia ingin membatalkan reservasi itu, sehari setelah ia kembali dari Italia," tangan Jongin menggenggam ponsel dengan begitu erat. Tanpa memberikan jawaban atau tanggapan apapun Jongin memutus panggilan. Ia berbalik dan berjalan kearah Krystal. Berusaha tidak menunjukkan ekspresi kekesalan dan kemarahannya didepan wanita yang sama sekali tidak tahu apa-apa itu.
"Krystal, maaf sepertinya aku harus pergi karena ada hal yang harus kuurus," ucapnya.
"Mendadak sekali Jongin."
"Ya, kuharap kau mengerti, maafkan aku," ucapnya. " Kita bisa mengatur waktu lain kali, kabari aku jika kau berkunjung ke Manhattan," Jongin mengeluarkan kartu namanya.
"Kau..kau akan kembali ke Manhattan?" terkejut Kyungsoo. Jongin mengangguk dengan senyuman tipis.
"Maafkan aku mengacaukan pertemuan kita, aku akan menggantinya dilain waktu, sampai bertemu lagi Krystal," Krystal mengangguk, Jongin tersenyum untuk terakhir kalinya sambil berjalan meninggalkan Krystal yang menatap punggungnya menghilang keluar dari restoran. Dan saat itulah mata itu menangkap sosok tinggi yang tidak asing. Krystal menghela nafas pelan. Ia tahu setelah ini pasti semuanya akan semakin sulit. Lelaki berjas hitam rapi itu berjalan menghampirinya.
"Miss Do, Mr Choi ingin bertemu dengan anda," ucapnya sopan namun tegas. Krystal mendongak dan menatap datar lelaki tinggi yang tak lain adalah bodyguardnya. Bodyguard sekaligus orang yang diperintah untuk selalu mengawasi apa saja yang ia lakukan.
"Ya, baiklah Kwangsoo-ssi," jawabnya. Ia tidak pernah tahu bahwa keputusannya setahun silam untuk menjalin hubungan dengan pengusaha kaya yang berasal dari Korea yakni Choi Siwon akan membuat hidupnya berubah menjadi seperti ini.
.
.
Sambil berjalan dilorong menuju kekamarnya, Jongin masih mencoba untuk menghubungi Kyungsoo namun tak satupun dari panggilannya dijawab. Jongin membanting ponselnya diatas sofa saat ia sudah berada didalam kamarnya. Apa maksud Kyungsoo dengan membatalkan reservasi itu. Apa ia bermaksud membiarkan Park Chanyeol itu menginap diapartemennya. Jongin menatap nyalang ponselnya begitu benda pipih itu berbunyi. Meraihnya secepat kilat dan hampir saja membantingnya karena itu bukan Kyungsoo melainkan Nickhun.
"Apa?"
"Tahan emosimu, kau kenapa sih Kim?" bingung Nickhun. Jarang sekali Jongin bersikap seperti ini sebelumnya hanya karena wanitanya berulah. Jongin menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Aku akan kembali ke Manhatttan malam ini, kau mengerti apa yang harus kau lakukan bukan Nick?" Nickhun disana terdiam sebentar namun terdengar helaan nafas pelan.
"Kita bertemu dibandara, aku akan menyiapkan jet pribadi untukmu," tanpa menjawab Jongin memutus sambungan. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa, merebahkana kepalanya diatas sandaran sofa. Astaga, moodnya benar-benar diaduk-aduk oleh dua wanita hari ini. Mulai dari Krystal yang mengajak bertemu secara tiba-tiba sampai Kyungsoo yang berulah. Oh tidak, ia melupakan Im Nana yang juga berulah dengan mengaku hamil anaknya. Sial, kenapa dia tidak menghubungi Kyungsoo setelah Minho mengatakan kalau saat itu Kyungsoo baru saja tiba disana. Ketika Nana meneriakkan bahwa ia tengah hamil anaknya. Jongin merutuki kebodohannya dan tanpa berkata apa-apalagi bergegas meraih handbag khusus lelaki miliknya. Setelah memastikan semua yang dia butuhkan berada didalam tas berukuran sedang itu ia segera keluar dari kamar hotel untuk menuju ke bandara. Do Kyungsoo, apa yang telah kau lakukan pada Kim Jongin hingga dia bisa meninggalkan segala urusannya di Paris hanya karena kau membatalkan reservasi hotel.
.
.
Kyungsoo mengedarkan pandangannya disekeliling bandara, ia tahu kalau ia terlambat 10 menit karena terjebak kemacetan saat menuju ke bandara. Dan saat ini ia tengah mencari keberadaan teman kecilnya Park Chanyeol yang seharusnya berada tidak jauh dari bagian kedatangan.
"Dimana dia?" tanyanya tidak lebih pada dirinya sendiri.
"Kyungieee!" mendengar panggilan itu membuat Kyungsoo berbalik dan tersenyum sumringah saat seorang lelaki tampan dengan tinggi melebihi rata-rata itu, senyuman kekanakan yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu melambai kearahnya.
"Chanyeoooolll!" pekiknya tertahan. Kyungsoo berlari kecil dan menghambur kedalam pelukan Chanyeol. Si lelaki yang lebih tinggi dari Kyungsoo itu menangkapnya dengan mudah. "Ya ampun, aku rindu sekali padamu Chanyeol-ah" Chanyeol terkekeh kecil mendengarnya.
"Aku juga merindukanmu Kyungieeee" ia menarik hidung mancung Kyungsoo gemas setelah melepaskan pelukan mereka. "Hei, lama tidak bertemu kau semakin cantik saja hahh, apa kau sudah punya pacar sekarang?" godanya. Kyungsoo memerah malu dan mencubit gemas lengan Chanyeol, Chanyeol meringis karena cubitan gemas itu ternyata cukup membuat nyeri.
"Jangan bicara macam-macam, ayo kita mengobrol sambil jalan saja," ajak Kyungsoo sembari menggandeng lengan Chanyeol menuju keluar bandara dimana mobilnya ia Kimirkan.
"Oh aku kangen Whitey," ucap Chanyeol sambil bersiul begitu melihat audi Kyungsoo. Ia tidak tahu saja itu bukan the old Whitey but the new Whitey namun Kyungsoo tidak berniat memberitahukan Chanyeol.
"Bagaimana kabar paman dan bibi?" tanya Kyungsoo begitu Chanyeol sudah duduk disampingnya setelah memasukkan kopernya kedalam bagasi.
"Eomma dan appa baik-baik saja, mereka menitipkan salam rindu untukmu," jawab Chanyeol.
"Aku juga merindukan mereka, hanya paman, bibi dan kau saja yang kumiliki sekarang Chanyeol-ah," Chanyeol mengelus puncak kepala Kyungsoo lembut dan tersenyum penuh kasih sayang.
"Aku tahu, jangan pernah merasa sendiri," jawabnya." Jika kau sudah lelah berada disini kau bisa kembali ke Seoul."
"Tentu, karena disini bukan tempatku," jawab Kyungsoo. Ia menghela nafas pelan, teringat pada Jongin dan semua panggilannya yang ia abaikan. Bukan hanya panggilan Jongin, panggilan dari Nickhun juga ia abaikan. "Oh iya, kau mau mampir ke restoran burger favorit kita untuk makan siang," tawar Kyungsoo. Karena ia tahu kebiasaan Chanyeol yang pasti hanya tidur selama penerbangan.
"Ide bagus, aku lapar sekali,"
"Tentu saja kau lapar jika kau tidak makan dipesawat dan hanya tidur seperti kerbau, Chanyeol-ah," Chanyeol tertawa mendengarnya. Ia dan Kyungsoo sudah saling mengenal sejak kecil. Baginya Kyungsoo sudah seperti saudara, adik kecil yang harus dijaganya. Tidak pernah terbersit sedikitpun rasa yang lebih dari itu. Begitupula dengan Kyungsoo.
.
.
Kyungsoo dan Chanyeol menghabiskan waktu mereka menikmati makan siang dan juga mengobrol melepas rindu di Queen Burger. Salah satu restoran burger yang sering mereka kunjungi bersama jika Chanyeol berkunjung ke Manhattan. Dan Kyungsoo biasanya kemari bersama Jessie ataupun Luhan.
"Astaga Chanyeol, kau ini lapar atau rakus sebenarnya," keduanya sama-sama tertawa. Bagaimana Kyungsoo tidak takjub jika Chanyeol sudah menghabiskan dua gelas besar coke dan tiga porsi besar burger. Sementara Kyungsoo masih menyisakan kentang gorengnya yang sekarang sedang dicomot-comot oleh Chanyeol.
"Aku benar-benar lapar," jawabnya polos. "Kau tahu, aku hanya sempat makan kimbap dan minum jus sebelum berangkat."
"Salahmu sendiri tidak menyisakan waktu untuk menikmati makanan diatas pesawat, malah menghabiskannya untuk tidur," beginilah Kyungsoo jika sudah bertemu Chanyeol. Menjadi sosok saudara perempuan yang cerewet.
"Jam berapa sekarang?" tanya Chanyeol.
"Kau memakai jam Yeol, kenapa masih bertanya padaku," sungut Kyungsoo.
"Ahh iya aku lupa, kurasa karena efek kekenyangan."
"Dasar rakus," ejek Kyungsoo. Tidak sadar mereka sudah sangat lama berada di restoran burger itu karena sekarang sudah setengah lima sore. Entah apa saja yang sudah mereka obrolkan selama itu. Tanpa Kyungsoo sadari bahwa sedari ia keluar dari dalam apartemennya, berangkat kebandara menjemput Chanyeol hingga mereka sampai di restoran burger, Choi Minho tidak pernah melepaskannya dari pengawasan sesuai dengan perintah tuannya Kim Jongin. " Cck..ccckk lihat bagaimana cara lelaki yang selalu mengatakan bahwa dia lebih tua dariku ini makan," Kyungsoo menarik tissue pocket miliknya dan mengarahkan tangannya tepat ke sudut bibir Chanyeol yang bernoda campuran saus tomat dan mayones. Keduanya tertawa kecil karena cara makan Chanyeol yang masih seperti bocah itu. Hingga mata Kyungsoo menangkap sosok berkulit tan, dengan tatapan setajam elang memasuki restoran burger dengan langkah tegas namun tenangnya. Kyungsoo merasa jantungnya berdebar cepat saat mata mereka bertemu, seakan menyortir kedalaman pandangan mereka. Ia terpaku, sisa-sisa tawanya dengan Chanyeol menghilang begitu saja.
"Hai Kyung, kau kenapa?" bukannya menjawab, Kyungsoo justru menoleh kearah lelaki yang dua langkah lagi akan sampai didekat meja mereka.
Tap
Tap
"Kau disini," lelaki itu tersenyum, senyuman yang tidak biasa. Antara seringaian dan juga sebuah ancaman yang tersirat didalam senyuman itu. Kyungsoo menelan ludahnya dan Chanyeol menatap bingung. Tidak mengenali sosok yang baru saja muncul itu.
"Kau mengenalnya,Kyung?" tanya Chanyeol. Si tatapan tajam menoleh kearah Chanyeol, tersenyum miring dan menyodorkan tangan dengan angkuh.
"Kim Jongin, dan apa Kyungsoo tidak bercerita kalau ia memiliki kekasih?" Kyungsoo membulatkan mulutnya tidak percaya dan matanya yang bulat seperti akan keluar karena kaget, Chanyeol menoleh cepat kearah Kyungsoo namun demi kesopanan ia menyambut uluran tangan Jongin.
"Aku Park Chanyeol, teman Kyungsoo," jawabnya. "Dan tidak, Kyungsoo tidak pernah mengatakan kalau ia memiliki kekasih. Hei Kyungiee kau menutupi sesuatu dariku ya?" Jongin menaikkan alisnya dan menatap tidak suka bergantian antara Kyungsoo dan Chanyeol.
"Aku..ngg..ya..maaf..aku," Chanyeol justru tertawa kecil melihat tingkah Kyungsoo, antara bingung dan juga gugup. Saking gemasnya ia mengusuk poni Kyungsoo dan sukses membuat Jongin menyipitkan matanya.
"Ehem…aku memiliki sedikit kepentingan dengan Kyungsoo, jika kau tidak keberatan supirku akan mengantarkanmu ke hotel yang telah disiapkan Kyungsoo untukmu," Kyungsoo menggigit bibirnya. Sial, Chanyeol mengepalkan tangannya melihat tingkah Kyungsoo itu. Dia harus lebih pintar menahan hasratnya. Tidak untuk saat ini, ada hal yang harus diselesaikan dengan Kyungsoo.
"Hotel, kau mereservasi hotel untukku?" tanya Chanyeol tidak mempercayai pendengarannya. Namun sebuah pemikiran membuat Chanyeol mengerti. "Ahh aku mengerti, itu bukan masalah untukku. Kau pasti tidak suka jika kekasihmu tinggal bersama lelaki lain."
"Terima kasih untuk pengertianmu tuan Park."
"Chanyeol saja, kekasih Kyungsoo berarti temanku," ia menjawab ringan.
"Supirku sudah menunggumu, kau bisa pergi bersamanya Chanyeol."Jongin secara tidak langsung mengusir namun Chanyeol, tapi Chanyeol tidak terlalu ambil hati.
"Baiklah, sampai bertemu lagi nanti Kyung, Jongin-ssi," Jongin mengangguk. Dengan santainya Chanyeol bangkit, menyeberangi meja dan memeluk Kyungsoo. Astaga, Jongin harus ekstra sabar dengan segala macam skinship diantara Kyungsoo dan Chanyeol. "Aku duluan ya, hubungi aku jika kau sudah selesai dengan urusanmu dan kau berhutang cerita," Jongin membuang mukanya saat Chanyeol menarik gemas hidung Kyungsoo.
"Ya, hati-hati dijalan Chanyeol-ah."
"Annyeong," sepeninggal Chanyeol, Kyungsoo dan Jongin masih berdiri ditempat yang sama. Kyungsoo memandang mobil Jongin yang dikendarai Minho membawa Chanyeol pergi. Sedikit takut-takut Kyungsoo mencuri pandang kearah Jongin.
"Kunci mobilmu!" ia menunjukkan telapak tangannya pada Kyungsoo dengan suara bernada dingin dan datar. Kyungsoo dengan takut-takut menyodorkan kunci mobilnya. Bukannya mengambil kuncinya ia justru menggenggam tangan mungil Kyungsoo bersamaan dengan kunci mobil didalam genggamannya. Membawa tubuh mungil itu keluar dari dalam restoran burger menuju ke audi putih yang terparkir didepan restoran. Jongin membukakan pintu untuk Kyungsoo dan membiarkan si mungil masuk bahkan memasangkan sitbelt.
"Jangan berharap bisa kabur dariku miss Do," ucapnya pelan namun sarat akan ketajaman dan keposesifan. Kyungsoo merasakan sesuatu yang aneh, antara kesenangan terpendam dan rasa takut melihat bagaimana rasa kesal dan amarah terlihat didalam tatapan Jongin. Jongin duduk disebelahnya dan mulai menyalakan mesin mobil. Kyungsoo tidak tahu Jongin akan membawanya kemana, ia hanya memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Akankah Jongin berbuat kasar padanya, karena ia tidak pernah melihat Jongin marah sebelumnya. Dan Jongin tidak pernah berbuat kasar padanya sebelumnya. Kau tidak perlu takut Kyungsoo, Jongin berada dalam posisi bersalah saat ini. Dia berhutang penjelasan tentang seorang wanita yang mengaku mengandung anaknya sisi hitam Kyungsoo berbisik padanya. Kau seharusnya mengingat dimana posisimu Kyungsoo-ah, semuanya bisa diselesaikan baik-baik bukan dengan cara seperti ini sisi putihnya balas berbisik. Kyungsoo memejamkan matanya lelah. Perasaan dan pikirannya seakan diaduk-aduk semenjak ia mengenal Kim Jongin.
.
.
Audi putih Kyungsoo terparkir sempurna di basement gedung apartemen. Tanpa berbicara Jongin melepas sitbelt miliknya lalu berjalan keluar. Membuka pintu untuk Kyungsoo dan membawanya keluar. Tangannya tidak berhenti menggengam tangan Kyungsoo disepanjang jalan mereka menuju apartemen Kyungsoo. Jongin tidak perlu meminta kunci karena ia memilikinya. Maka seolah ia adalah pemilik apartemen itu ia mengeluarkan kunci dan membuka pintua. Mendorong Kyungsoo lembut untuk masuk terlebih dahulu. Setelah memastikan pintu terkunci Jongin berbalik dan menatap Kyungsoo yang berdiri dibelakangnya dengan tatapan layaknya bocah yang ketahuan melakukan kesalahan oleh orang tuanya.
"Kau ingin bermain-main denganku, miss Do?" tanya Jongin dengan suara berbisik sarat akan ancaman sambil berjalan mendekati Kyungsoo yang berjalan mundur dilorong apartemenya menuju ke ruang tamu. "Membatalkan reservasi hotel dengan maksud membiarkan Park Chanyeol menginap disini bersamamu, hanya berdua denganmu saja disini," tekannya dibagian akhir kalimatnya.
"Kau…disini.."
"Kau yang membuatku berada disini," sentak Jongin dan Kyungsoo tercekat. Mereka sudah sampai diruang tamu, keduanya berdiri dalam jarak beberapa langkah ditengah ruangan.
"Sebelum kau memarahiku…bolehkah aku bertanya?" tanya Kyungsoo pelan, tidak berani menatap Jongin. Tatapannya jatuh ke sepatu mengkilat Jongin dilantai apartemennya.
"Katakan!"
"Apa…seorang wanita kontrak sepertiku…diperbolehkan untuk marah…saat aku mengetahui seorang wanita…mantan wanitamu..mengaku kalau ia hamil anakmu?" tanya Kyungsoo dengan suara lirih. Jongin tersentak seakan ia baru saja dipukul dibelakang kepalanya. Menyadarkannya bahwa informasi Minho akan kedatangan Im Nana melibatkan keberadaan Kyungsoo didalamnya. Kyungsoo jelas mendengar semuanya. Ia bukan wanita yang terbiasa dengan hal-hal mengejutkan seperti ini. Ia sangat baru dan begitu polos sebelum Jongin menemukannya dan menjadikannya miliknya. Dan mungkin inilah cara Kyungsoo menunjukkan kemarahannya. Keluar dari batas yang telah ditetapkan Jongin. Tanpa sadar sebuah senyuman terbentuk dibibirnya. Ia tidak bisa marah lagi, sungguh. Bagaimana ia bisa marah, ia berada diposisi yang bersalah saat ini. Bukankah dirinya yang mengatakan bahwa ia menyukai Kyungsoo. Seharusnya setelah mendengar laporan Minho ia menghubungi Kyungsoo, menjelaskan permasalahan dan menenangkannya. Mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya terjadi dan ia akan mengurus semuanya begitu ia kembali ke Manhattan. Namun ia tidak melakukannya. Astaga Kim Jongin bodoh, kau melupakannya karena saat itu pikiranmu dipenuhi Krystal yang berada di hotel yang sama denganmu di Paris. Jongin berjalan beberapa langkah mendekati Kyungsoo. Membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Menangkup belakang kepala Kyungsoo hingga wajahnya bersandar diceruk leher Jongin.
"Maafkan aku baby girl," Jongin tidak pernah meminta maaf sebelumnya pada wanita-wanitanya karena ia merasa selalu benar namun Do Kyungsoo membuat ia melakukannya. "Seharusnya aku menelponmu dan menjelaskan semuanya padamu. Dan 'Ya' kau berhak untuk marah padaku, hal ini pasti membuatmu shock. Dan aku sama sekali tidak membantu dengan tidak menghubungimu."
"Benarkah…aku boleh marah dan merasa kecewa meskipun aku hanya wanita kontrakmu?"
"Kau adalah Kim Jongin's baby girl, persetan dengan kontrak itu," umpatnya pelan. " Tidakkah ucapanku saat itu memberimu sebuah penjelasan awal tentang perasaanku padamu?" Kyungsoo melingkarkan tangannya disekeliling pinggang Jongin.
"Aku…semuanya mengejutkanku, ungkapan perasaanmu, kemunculan Im Nana-ssi, aku bingung dan tidak bisa bertanya pada siapapun karena mereka hanya memintaku untuk tenang karena itu bukan hal baru," ujarnya pelan dengan wajah menyeruak didada Jongin. "Tapi aku butuh kau menjelaskan padaku dan menenangkanku, hal itu membuatku berfikir…apakah aku berhak marah dan kecewa sementara aku hanya wanita…" belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya tubuhnya sudah ditarik menjauh dari dada Jongin dan benda kenyal yang tidak asing melumat bibirnya. Begitu dalam dan basah. Tubuhnya terangkat dari lantai hingga Kyungsoo menggantungkan kedua tangannya di leher Jongin dan kakinya melingkar dipinggangnya.
Jongin membawanya menuju sofa sambil memagut bibir mungil yang sungguh membuatnya kecanduan. Ia memutar badannya dan menempatkan dirinya disofa sementara Kyungsoo dipangkuannya. Masih saling memagut, Jongin menarik bibir bawah Kyungsoo lembut, menjulurkan lidahnya menggoda lidah Kyungsoo. Menghisap lidahnya sensual hingga menimbulkan decakan dan lenguhan dari bibir simungil. Tangan Jongin bergerak menuju pinggang Kyungsoo. Menarik tshirt putih polos Kyungsoo keatas menyebabkan ciuman mereka terlepas, ia melempar kaos itu kesembarang arah dan kembali menarik Kyungsoo mendekat. Menyatukan kening mereka dengan nafas terengah-engah.
"Bisakah kita pindah kekamarmu, baby?" tanyanya lembut, seperti Jongin yang Kyungsoo kenal selama ini. Tidak ada nada datar dan dingin lagi. Kyungsoo mengangguk mengiyakan. Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo dipangkuannya, menggendong koala mungilnya menuju ke kamar.
.
.
Jongin dan Kyungsoo berbaring diatas kasur dengan selimut beraroma lembut melindungi tubuh keduanya yang shirtless. Tidak benar-benar telanjang karena Kyungsoo masih memakai celana dalamnya sementara Jongin bertelanjang dada. Jongin sedang tidak ingin bercinta, ia sedang ingin bermanja pada Kyungsoo. Maka kegiatan bermanja favoritnya adalah breast-feeding. Kyungsoo mengelus surai almond Jongin lembut. Tidak habis pikir bagaimana mereka bisa berakhir diatas ranjang begini.
"Im Nana adalah mantan wanitaku," Jongin membuka suara, dengan mata sayu yang mulai tertutup dan wajah yang mengusak-ngusak manja pada pipi payudara Kyungsoo. "Kontrak kami berakhir hanya dalam waktu satu setengah bulan karena ia berselingkuh dibelangkangku dengan rekan sesama model di agencynya."
"Hanya satu setengah bulan?"
"Ya, karena aku tidak akan memperpanjang kontrak begitu aku mengetahui bahwa wanitaku tidak loyal padaku sesuai dengan kontrak yang ia tanda tangani," jawabnya masih dengan mata terpejam.
"Jongin-ssi, tidurlah, kau bisa…" Jongin menggeleng dengan mata terbuka sedikit.
"Aku memang lelah, tapi aku harus menjelaskannya padamu agar semuanya menjadi jelas baby," jawabnya dengan senyuman kecil. "Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi, Im Nana adalah wanita kesekian yang datang padaku dan mengaku hamil anakku. Jika memang ia sedang hamil maka kita akan melakukan test darah untuk mengetahui benarkah anak yang dikandung adalah anakku jika tidak maka aku akan terlepas dari tanggung jawab. Aku bukan pria yang tidak mengetahui apa-apa baby, aku telah memperhitungkan segalanya sebelum aku membuat woman's contract."
"Bagaiman..jika itu memang..anakmu?" tanya Kyungsoo. Jongin melingkarkan kakinya yang berada didalam selimut untuk mengunci kaki Kyungsoo, menarik Kyungsoo lebih dekat agar mereka lebih menempel seakan diberikan perekat tak kasat mata.
"Kemungkinannya kecil karena aku selalu memastikan ia meminum pil kontrasepsinya," tiba-tiba Kyungsoo merasa ditampar ketika Jongin menyebut soal pil kontrasepsi. Ia sudah absen meminum pil itu selama seminggu ini. Dan mereka selalu melakukannya tanpa pengaman.
"Kau tidak menjawabnya, bagaimana jika memang benar anakmu,?" tanya Kyungsoo, ia ingin mendengar jawaban Jongin.
"Jika itu anakku maka aku akan bertanggung jawab," jawabnya.
"Kau..akan bertanggung jawab, maksudmu menikahinya," Jongin mendongak karena kini posisinya didada Kyungsoo.
"Tentu saja tidak baby, bertanggung jawab bukan berarti aku akan menikahinya," jawabnya. "Aku akan membiayainya selama masa kehamilannya hingga ia melahirkan anak itu, dan membiayai semua keperluan anak itu dimasa depan."
"Kau.. tidak akan menikahinya, lalu bagaimana dengan status hukum anak itu,"
"Hal seperti itu lumrah disini baby, anak itu akan memakai nama keluargaku karena secara biologis dia adalah anakku."
"Hanya seperti itu saja?"
"Aku tidak akan menikahi wanita yang tidak kucintai, jika aku tidak menemukan wanita yang kucintai maka aku tidak akan menikah," lontarnya mengejutkan Kyungsoo. "Jika itu poin dari pertanyaanmu baby, maka itulah jawabanku."
"Kau benar," angguk Kyungsoo, entah kenapa ia merasakan hatinya seakan diremas. Memikirkan perasaannya juga belum tentu benar-benar terbalas oleh Jongin. "Sebuah pernikahan harus didasari oleh cinta."
"Meskipun aku terlihat brengsek dengan membuat woman's contract tetapi aku memiliki tujuanku sendiri baby, aku hanya perlu memastikan sesuatu dan mengakhiri woman's contract," Kyungsoo mengeryit bingung. Namun saat ia menunduk ia melihat Jongin tersenyum begitu tulus padanya. Ia menapakkan tangannya pada pipi Jongin dan mengelusnya lembut.
"Penjelasanmu diterima, sekarang tidurlah karena kau pasti lelah."
"Aku sangat lelah, ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti," ucapnya. "Terbang dari satu negara ke negara lainnya untuk seorang wanita, ahh tidak, tapi untuk seorang gadis mungil menyebalkan yang sayangnya kusukai," Kyungsoo tersenyum. Mengelus surai Jongin lembut, merasakan kehangatan menjalari hatinya karena ucapan Jongin. Diam-diam kembali menaruh pengharapan akan munculnya rasa cinta didalam rasa suka Jongin padanya.
"Maafkan aku, tidurlah yang nyenyak hmm," Jongin menggeleng dengan mata terpejam.
"Jangan meminta maaf, ini sepadan baby, dan ya aku butuh istirahat karena mataku terasa berat sekali," Kyungsoo mengecup puncak kepala Jongin penuh kasih sayang. Jongin bergelung erat didadanya. Dan Kyungsoo mendengar lirihan sebelum akhirnya sitampan menyerah dalam rasa lelah dan kantuknya.
"Eomma..bogosieppo," Kyungsoo tersenyum kecil mendengarnya.
.
.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi, Kyungsoo sudah bangun sejak setengah jam lalu dan kini sudah berkutat didapur untuk menyiapkan sarapan. Ia sengaja tidak membangunkan Jongin karena ia pasti lelah. Bagaimanapun juga perjalanan Paerancis-Manhattan cukup melelahkan. Ditambah lagi Jongin pasti memilki banyak pikiran sekarang, ia tidak yakin permasalahan di Paris sudah selesai. Maka sebagai permintaan maaf, ia akan membuatkan sarapan yang lezat untuk Jongin. Kyungsoo sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan diolahnya. Ia berencana membuat kimbap, rolled egg dan juga kimchi jigae, pokoknya semua masakan Korea. Kyungsoo bahkan telah merebus phellinus linteus tea yang dicampur dengan jujube, salah satu resep yang diajarkan mendiang ibunya. Sangat baik untuk kesehatan. Kyungsoo menata rolled egg dan juga kimbab yang sudah selesai ia masak. Hanya tinggal menunggu kimchi jigae matang dan juga teh nya mendidih. Ponsel Kyungsoo berbunyi, sebuah panggilan dari Chanyeol.
"Yeoboseyo Chanyeol-ah, mianhae aku lupa menghubungi semalam," ucapnya dalam satu tarikan nafas begitu ia menjawab panggilan tersebut. Diseberang Chanyeol tertawa kecil mendengarnya.
"Gwechanha, aku mengerti," jawabnya ringan. "Apa kau ada acara dengan kekasihmu hari ini, kalau tidak aku ingin mengajakmu keluar bersama."
"Aku belum tahu, tapi aku akan langsung menghubungi jika aku bisa, jinja mianhae," suaranya memelas sambil mengaduk kimchi jigae.
"Tidak apa-apa, aku mengerti Kyungie," jawabnya. "Tapi kau masih memiliki hutang penjelasan padaku, ingat itu."
"Aku mengingatnya."
"Baklah, aku akan pergi bertemu beberapa teman dulu, jadi jangan khawatirkan aku ya Kyungie."
"Nikmati liburanmu Chanyeol-ah, aku akan menghubungi saat aku memiliki waktu luang."
"Geureh, keuno."
"Hahh..eottokhae?" tanya Kyungsoo tidak lebih pada dirinya sendiri setelah mengakhiri panggilan. Ia bingung harus menjelaskan apa pada Chanyeol tentang hubungannya dan Jongin.
"Apanya yang bagaimana?" Kyungsoo tersentak kaget, dan saat berbalik Jongin sudah berdiri dibelakangnya sambil menghanduki kepalanya dengan handuk yang telah Kyungsoo siapkan. Ya, Kyungsoo telah menyiapkan handuk, sikat gigi baru bahkan juga telah menyiapkan air hangat untuk Jongin di kamar mandinya jika saja lelaki itu terbangun dan ingin langsung mandi.
"Ohh morning, merasa lebih baik?" Jongin mengangguk, menjulurkan tangannya agar Kyungsoo mendekat. Kyungsoo menuruti dan ditarik masuk kedalam pelukan Jongin.
"Aku membaca catatan mungilmu," ia mengedip menunjukkan secarik kertas bertuliskan pesan untuk Jongin yang dibuat Kyungsoo dengan sticky note berwarna pink.
Morning ^^
Aku didapur menyiapkan sarapan,
Sudah ada air hangat dikamar mandi untukmu berendam
Dan aku menyiapkan sarapan special untukmu :*
K
"Tolong berikan aku ciuman selamat pagiku yang nyata," ia mencondongkan wajahnya kedepan wajah Kyungsoo. Kyungsoo melingkarkan tangannya dileher Jongin dan memberikan apa yang diinginkan sitampan. Saling melumat lembut dan tersenyum disela pagutan mereka. "Aku mencium aroma kimchi, kau membuat kimchi?" Kyungsoo mengangguk.
"Kimchi jigae, aku membawa kimchi saat aku kembali dari Seoul."
"Ahh aku laparrr, sudah lama sekali sejak aku bisa makan masakan Korea," sahutnya ceria. Begitu menggemaskan dimata Kyungsoo. Semakin lama ia bersama Jongin, ia semakin mengenal sosok lain yang berdiam didalam diri Kim Jongin. Ada sosok hangat dan menyenangkan yang tersembunyi dibalik sosok berjas dan berdasi yang selama ini ia kenal. Sisi lain Kim Jongin yang telah lama tersembunyi oleh rasa sakit dimasa lalu.
"Kalau begitu duduklah, aku akan menyiapkannya untukmu," Jongin mengangguk. Ia mengambil tempat di kursi, menatap rolled egg dan kimbap dengan mata berbinar. "Kau mau makan nasi, maksudku selain makan kimbap?"
"Tentu, aku butuh karbohidrat yang banyak untuk terbang kembali ke Paris," Kyungsoo yang baru saja membuka penutup rice cooker membalikkan badannya.
"Kau akan kembali ke Paris, maksudku..terbang ke Paris lagi?"
"Permasalahan disana belum selesai baby, aku tahu Nickhun adalah pengacara terbaik yang pernah kumiliki tetapi aku harus berada disana untuk keperluan siding dan semacamnya," jawab Jongin sambil memasukkan rolled egg kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan mata terpejam. Astaga, dia benar-benar rindu masakan rumah seperti ini. Persis seperti yang selalu dibuat ibunya dulu. "Ini lezat, kau yang terbaik baby girl," Kyungsoo tersenyum, menyodorkan semangkok nasi pada Jongin dan diterima dengan senang hati. Kyungsoo juga sudah menyendokkan kimchi jigae yang sudah matang.
"Pelan-pelan, itu masih panas," Jongin mengangguk dan meniup kuah kimchi jigae. "Maafkan aku, kau jadi harus bolak-balik Paris-Manhattan, hhhh.. aku sangat childish," Jongin tertawa kecil mendengarnya.
"Aku lupa kapan aku terakhir kali sepanik itu, saat Nickhun memberitahukan kalau kau membatalkan reservasi untuk Park Chanyeol," jawabnya. " Dan.. oh my god baby, ini benar-benar lezat," Jongin tidak bisa mengendalikan senyumannya. Kyungsoo tidak menyangka bahwa ia bisa membuat Jongin memuji masakannya sampai sebegitunya.
"Benarkah?".
"Aku tidak berbohong baby, kurasa aku harus menjadikanmu istriku agar aku bisa merasakan masakan seenak ini setiap hari," pipi Kyungsoo memerah sempurna mendengarnya. Dengan gugup ia bangkit dan berbalik, pura-pura menyibukkan dirinya dengan mematikan kompor dimana ia sedang merebus teh. Jongin menyadari tingkah Kyungsoo yang berubah begitu mendengar ia berkata tentang menjadikan Kyungsoo istrinya. "Kenapa, kau tidak mau menjadi istriku?" Kyungsoo nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia berbalik dengan mug bergambar beruang yang telah terisi teh untuk Jongin.
"Jangan bicarakan tentang itu ketika kau bahkan sedang dimintai tanggung jawab oleh seorang wanita bernama Im Nana, Jongin-ssi," jawabnya. Jongin merasa tersindir, ia mendelik pada Kyungsoo.
"Hei, kau menyindirku?"
"Aku hanya ingin semuanya cepat terselesaikan, masalahmu di Paris, masalahmu dengan Im Nana-ssi, dan kau bisa hidup dengan tenang lalu setelah itu baru kita bisa membicarakan tentang…"
"Tentang kita," Jongin menyelesaikan dengan sebuah senyuman. Ia meraih tangan Kyungsoo diatas meja dan menggenggamnya erat. "Aku akan menyelesaikannya dengan segera, tentang Im Nana jangan diambil pusing. Aku akan meminta asisten Nickhun untuk menanganinya. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan ketika hal seperti ini terjadi."
"Jongin-ssi, boleh aku bertanya?"
"Tentu baby, tanyakanlah."
"Apa kau benar-benar tidak akan menikahi Nana-ssi, jika seandainya itu memang anakmu, dan ini hanya seandainya," tegas Kyungsoo. Ia sungguh penasaran ingin menanyakannya. "Kau tahu, terkadang pil kontrasepsi bisa saja tidak bekerja dengan benar."
"Tidak baby, aku tidak akan menikahinya," tegasnya setelah menyeruput teh yang dibuat Kyungsoo.
"Kenapa?" Jongin menghela nafas pelan. Ia tahu Kyungsoo pastilah penasaran. Ia masih muda dan baru dalam dunia yang ditawarkan oleh Jongin padanya ini.
"Setiap wanita yang menandatangani woman's contract sudah bisa kupastikan memiliki ketertarikan padaku," ia menyeringai kearah Kyungsoo yang bersemu. "Dari sekian banyak wanita yang tertarik itu ada yang bisa memahami dengan baik isi kontraak tersebut. Beberapa dari mereka ada yang tidak bisa menerima dan melakukan berbagai cara untuk bisa kembali padaku. Kau mungkin akan berfikir aku pria arogan namun aku berkata sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada wanita yang tidak menginginkan Kim Jongin," dalam hatinya Kyungsoo mengaminkan. Dan ia menjadi salah satu wanita yang beruntung itu.
"Dan aku sudah pernah terjebak dengan seorang wanita yang mengakui hamil anakku setelah masa kontraknya berakhir. Dia wanita yang baik, namun aku tidak pernah tahu bahwa dia memiliki obsesi berlebihan padaku. Selama ini hubungan kami seperti teman dekat namun aku merasa terkhianati saat akhirnya hasil tes DNA keluar dan itu bukan anakku. Ia mengamuk dan mengatakan ia mencintaiku, ia tidak menerima berakhirnya kontrak itu. Ia melakukan segala cara dan memaksakan keinginannya padaku. Aku sangat kecewa padanya, karena ia salah satu wanita yang kupercaya sebagai teman dekatku meskipun kami tak lagi terikat kontrak."
"Kau memiliki krisis kepercayaan terhadap perempuan."
"Ya, itu terjadi berulang kali," jawabnya. "Mantan kekasihku, lalu mantan wanitaku, aku bisa sangat loyal dan mempercayai seseorang jika mereka sebaliknya padaku. Dan aku bisa berbalik membenci jika mereka mengkhianatiku. Maksudku adalah aku sudah sangat cukup dengan hal-hal seperti itu, dan aku berharap kau berbeda baby," genggaman tangannya mengerat diatas meja.
"Kau…"
"Aku mengharapkanmu, beri aku waktu hmm," apa ini, beri dia waktu batin Kyungsoo. "Mari kita tidak membicarakan tentang kontrak atau apapun itu mulai sekarang hmm. Tidak ada wanita kontrak bernama Do Kyungsoo, aku lebih senang menyebutmu teman kencanku, kekasihku, kau suka sebutan itu," tanyanya dengan nada menggoda. Kyungsoo tidak bisa menahan senyumannya.
"Kau…serius?"
"Apa aku terlihat bercanda, setelah aku terbang jauh-jauh dari Paris ke Manhattan hanya untuk bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya, kau masih berfikir aku bercanda?" Kyungsoo menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Jongin bangkit dari kursinya. Mengelilingi meja dan sampai didepan Kyungsoo. Ia menarik tubuh mungil itu untuk berdiri menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Katakan padaku Do Kyungsoo."
"Ap..apa?"
"Kau menyukaiku bukan?" aku lebih dari menyukaimu Jongin-ssi batinnya. "Kau tertarik padaku bukan Kyungsoo?" Kyungsoo mengangguk dua kali seperti anak kecil yang menggemaskan dengan mata berkaca-kaca. Jongin mendaratkan kecupan panjang nan manis. Tersenyum dan berbisik mesra disela-sela pagutannya.
"Itu akan menjadi dasar dari hubungan ini, maka mulai sekarang bersikaplah selayaknya seorang kekasih Kim Jongin," ucap Jongin. "Katakan apa yang ingin kau katakan padaku, jangan memendam apapun. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan padaku, karena kau berhak bertanya dan mengetahui apapun itu tentangku dari mulutku sendiri, apa gadis imut dan pintar ini mengerti?"
"Yes, sir."
"Kau tidak perlu memanggilku Sir lagi baby, kau bisa memanggilku baby juga, hmm," godanya menggigit ujung hidung Kyungsoo lembut. Kyungsoo berjinjit melingkarkan tangannya dileher Jongin, memeluk erat lelaki tampan yang baru saja memberi jalan bagi harapan-harapan yang coba dibangun Kyungsoo selama ini.
"Terima kasih Jongin-ssi, aku…aku mencintaimu," bisiknya dibagian akhir kalimat. Jongin mengeratkan pelukannya. Ungkapan gadis polos ini begitu menghangatkan hatinya hingga membuat ia serasa kembali pada masa-masa indahnya ketika pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Namun baginya terlalu cepat untuk menyebut dirinya jatuh cinta kini. Ia perlu waktu untuk meyakinkan hatinya.
Semalam, selama perjalanan dari Paris menuju ke Manhattan Jongin berfikir. Jung Krystal adalah wanita yang selalu mendapatkan perhatiannya meskipun kini mereka sudah berstatus mantan kekasih dan wanita itu telah memiliki kekasih. Namun bukti nyatanya Jongin tidak bisa mengabaikan begitu saja ajakannya untuk bertemu dan sekedar minum kopi bersama. Namun kini, ada seseorang lagi yang memiliki tempat seperti itu dihatinya. Do Kyungsoo, bagaimana ia bisa membuat Jongin kalap hingga memesan jet pribadi untuk bisa membawanya ke Manhattan sesegera mungkin untuk bertemu dengan Kyungsoo.
Ia tidak bisa mengabaikan Kyungsoo begitu saja setelah apa yang telah ia ucapkan pada gadis mungil ini. Jongin telah membangun harapan kecil dihatinya. Maka Jongin tidak akan menyia-nyiakan harapan kecil yang telah ia tanamkan itu.
"Terima kasih baby girl, berikan aku untuk membalas perasaanmu, hmm," Jongin mengecup puncak kepala Kyungsoo lembut.
"Aku akan menunggu."
.
.
Jongin dan Kyungsoo berjalan beriringan sambil bergandengan memasuki bandara, Jongin akan berangkat sore ini untuk kembali ke Paris. Sebelum kembali ke Paris ia terlebih dulu menyelesaikan segala hal yang harus ia selesaikan di Manhattan. Termasuk menghubungi Lee Junho asisten Nickhun untuk mengurus masalah Nana.
"Kau sudah menghubunginya?" tanya Jongin via telepon sambil mendudukkan dirinya dibangku tunggu bersama Kyungsoo disampingnya. "Bagus, segera atur pertemuan dengannya untuk menjadwal pemeriksaan DNA di rumah sakit. Aku yakin hasilnya bisa didapatkan hari itu juga."
"…"
"Katakan padanya kalau aku tidak ingin bertemu dengannya, ada begitu banyak hal yang lebih penting harus kuurusi," jawab Jongin tenang. Jempolnya dengan lembut mengelus punggung tangan Kyungsoo digenggamannya sementara Kyungsoo duduk nyaman disampingnya menunggu Jongin menelpon asisten Nickhun itu.
"…"
"Aku tahu kau bukan orang awam dalam menghadapi ini Junho, jika ia ingin mengajukan permasalahan ini ke ranah hukum maka ia harus memiliki bukti bahwa itu adalah anakku, maka kau harus memastikan ia melakukan tes DNA tapi jika ia menolak maka katakana padanya selamat tinggal untuk usahanya menarik perhatian Kim Jongin," ujar Jongin sekenanya. "Aku sudah memiliki seseorang yang lebih membutuhkan perhatianku daripada memikirkan gadis yang mengaku sedang hamil anakku itu," Jongin menoleh kearah Kyungsoo dan mengedipkan matanya membuat Kyungsoo memerah, dan menyembunyikan wajahnya dilengan Jongin.
"…"
"Baiklah, kabari aku perkembangan masalahnya, aku tahu aku bisa mengandalkanmu Junho-ya," setelah berkata begitu Jongin mengakhiri panggilan teleponnya. Dan sebuah panggilan dari pengeras suara untuk para penumpang pesawat menuju ke Paris membuat Jongin menegakkan tubuhnya dan bangkit dari kursi diikuti oleh Kyungsoo. "Aku sudah harus berangkat."
"Hmm, semoga urusanmu bisa cepat selesai," Jongin menyipitkan matanya lalu mencolek dagu Kyungsoo.
"Kenapa hmm, kau sudah merindukanku yaa, bahkan sebelum aku pergi."
"Isshh Jongin-ssi."
"Yakk, mana ada kekasih yang memanggil kekasihnya dengan embel-embel –ssi," protes Jongin.
"Jongin-ah?" tanyanya polos. Jongin mencubit gemas hidung Kyungsoo.
"Akukan lebih tua darimu, dasar bocah," ejeknya. "Panggil aku oppa, ahh aku tidak pernah dipanggil begitu sebelumnya," kekehnya merasa lucu sendiri.
"Baiklah, Jongin..oppa."
"Ahh jinja kyeopta," Jongin melenguh gemas lalu membingkai wajah Kyungsoo dengan telapak tangannya. "Aku akan berada jauh darimu untuk beberapa saat dan aku perlu menekankan beberapa hal padamu. No skinship dengan Park Chanyeol, aku akan mengetahuinya jika kau dan si bocah Park itu melakukannya. Minho akan selalu mengawasimu baby," Kyungsoo mengangguk, seakan tidak terbebani sedikitpun dengan kenyataan bahwa Minho akan mengawasinya dari jauh kemanapun dirinya pergi.
"Perintah diterima, Jongin oppa."
"Oh my god, aku akan sangat merindukanmu," setelah mendaratkan kecupan kilat di dahi Jongin memeluk tubuh mungil itu erat-erat.
"Oppa, kau harus segera berangkat," Kyungsoo mengingatkan.
"Aku akan segera kembali."
"Aku akan menunggumu."
"Gadis pintar, aku pergi baby girl," ia mengecup dahi Kyungsoo sekali lagi, lalu berjalan mundur perlahan sambil melambai. Kyungsoo memberikan gesture untuk berbalik sambil melambai. Ia menghela nafas pelan. Merasakan kelegaan dan rasa hangat dihatinya. Kini hatinya yakin, jika ia berusaha maka ia pasti bisa membuka hati Kim Jongin sepenuhnya untuknya. Kyungsoo hanya tidak tahu, apa yang hari esok akan berikan padanya.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
lanjuutttt lanjuuuutttt
