Kim Women's Contract

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Rate : M

The News

Setelah Jongin berangkat ke Paris maka Kyungsoo memiliki waktu sepenuhnya bersama dengan Chanyeol. Namun tentunya ia tetap akan mematuhi apa yang telah dibatasi oleh Jongin. No skiship with Park Chanyeol. Tetapi setidaknya ia sudah lega karena ia bisa menjelaskan pada Chanyeol kalau Jongin adalah kekasihnya.

"Kau memacari Kim Jongin, Kyungie!" Chanyeol mungkin sudah mengulang ini beberapa kali sejak pertemuan mereka hari ini. Kyungsoo baru bisa menemuinya keesokan harinya setelah ia menjelaskan kalau ia menghabiskan waktu bersama Jongin sebelum Jongin berangkat ke Paris.

"Ya ampun Chanyeol kau sudah mengulang itu untuk kesekian kalinya," jengah Kyungsoo, ia bahkan melempar potongan kentang kearah Chanyeol. Yang dilempari justru terkekeh.

"Aku hanya masih tidak mempercayainya saja, dia lebih dewasa darimu, dan dia ya ampun dia seorang Kim Jongin," lagi dan lagi, Kyungsoo memutar bola matanya malas. " Seluruh Korea saja tahu bahwa Kim Jongin seorang businessman muda yang tak lain anak dari Kim Seunghyun mantan musisi, aktor dan kini lebih terkenal sebagai producer di Korea. Dan kau Do Kyungsoo adalah kekasihnya. Apa jadinya kalau orang-orang mengetahui hal itu," Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Karena ia tidak pernah mengikuti kehidupan Kim Jongin. Ia mencari tahu tentang Kim Jongin setelah ia melihat lelaki tampan itu didepan kelasnya, menjadi dosennya. Dan ia hanya tahu kalau Jongin adalah seorang pebisnis real estate terkenal tanpa tahu siapa kedua orang tuanya sebelum Jongin menceritakannya di Italia waktu itu.

"Aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, dia memang Kim Jongin tapi aku tidak pernah memikirkan tentang Kim Jongin yang dikenal sebagai pebisnis terkenal dan anak dari Kim Seunghyun. Karena dimataku dia adalah Kim Jongin," ujar Kyungsoo.

"Aigoo, gadis kecilku yang sedang dimabuk cinta," Kyungsoo menjauhkan hidungnya yang akan ditarik Chanyeol dengan jempol dan telunjuknya. "Ya, kenapa, tumben sekali kau menjauh."

"Jangan lakukan itu lagi, Jongin tidak menyukainya," sempat terdiam sesaat lalu Chanyeol terbahak mendengarnya.

"Astaga, dia bahkan tidak ada disini Kyungie~," geleng Jongin. "Dia beruntung memilikimu, ahh tidak kalian sama-sama beruntung. Dan aku berharap dia bisa dipercaya untuk menjagamu."

"Kau bisa mempercayakan hal itu," Kyungsoo mengedip. Ia menglihkan pandangannya keluar dan melihat siluet Minho dibalik kaca mobil yang sedikit terbuka diseberang jalan. Ia hanya nyengir saja sambil menggeleng pelan. Tidak terlalu ambil pusing dengan pengawasan Minho terhadapnya.

"Oh ya, aku akan kembali ke Korea besok," ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Mwo, waeee~?" rengek Kyungsoo. "Kau tidak merajuk padakukan Chanyeol-ah?"

"Tidak Kyungie, ada sedikit masalah distudio musik," Kyungsoo mengangguk, jelas ia tahu kalau Chanyeol bersama temannya mendirikan sebuah sekolah musik kecil-kecilan bersama-sama.

"Apa masalah yang pelik?"

"Tidak juga, tapi mereka membutuhkanku disana karena aku bisa dikatakan ketua yayasan tersebut Kyungsoo-ah."

"Begitu ya, padahal aku masih rindu padamu."

"Kau bisa berkunjung ke Korea, inikan masih liburan semestermu, ibu sangat ingin bertemu denganmu Kyungsoo-ah," ucap Chanyeol. "Dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu setelah kau kembali ke Manhattan waktu itu."

"Aku tahu, bibi sering menelponku dan mengingatkanku untuk menjaga kesehatan dan jangan berfikir terlalu berat setelah kejadian itu," jawab Kyungsoo. "Aku juga sangat merindukan bibi dan paman, begitu aku memiliki waktu luang aku akan berkunjung ke Korea."

"Sepertinya akan sulit menemukan waktu luang, apalagi kau sudah dimiliki Kim Jongin sekarang," goda Chanyeol.

"Yakk Park Chanyeol jangan menggodaku," gerutu Kyungsoo. Tiba-tiba ponsel Kyungsoo yang berada diatas meja berdering. Nama Jongin sudah diganti disana menajdi 'Jongin oppa calling'.

"Yuhuu, Jongin oppa menelpon," godanya. Kyungsoo mencibir namun tersenyum malu dan ia menggeser tombol hijau untuk menjawab. Chanyeol memberikan gesture kalau ia akan ke toilet tanpa bersuara pada Kyungsoo dan Kyungsoo mengangguk.

"Oppa," sapanya.

"Hai baby girl, jadi sekarang kau sedang bersama dengan Chanyeol di Queen Burger, lagi."

"Ya, ini salah satu tempat favorit kami oppa, bagaimana kabarmu?"

"Aku baik, dan Baby bisakah kau kembali kerumahku dan tinggal disana sampai aku kembali?"

"Dirumahmu, kenapa?"

"Aku bisa pulang kapan saja, dan aku ingin melihatmu dirumah saat aku pulang," jawab Jongin diseberang. Kyungsoo tersenyum senang mendengarnya.

"Baiklah, aku akan kembali ke apartemen dulu mengambil beberapa barang yang kubutuhkan."

"Minho akan tetap mengawasimu, apa itu ok ?"

"Tidak masalah oppa."

"Terima kasih baby, aku merasa lebih tenang."

"Dan kenapa kau harus tidak tenang?" tanyanya polos. Diseberang sana Jongin terdiam sesaat.

"Pastikan kau meminta Koran pada Brit saat kau sudah berada dirumahku, ingat saat kau sudah berada dirumahku, apa kau mengerti?" diktenya.

"Perintah diterima, sir."

"Gadisku yang pintar, aku harus melanjutkan membaca beberapa berkas, kabari aku jika kau sudah dirumah."

"Tentu oppa, tetap semangat ya dan….I miss you," diujung sana Jongin tersenyum.

"I miss you too baby," jawabnya lembut.

.

.

Lampu-lampu berkelap-kelip menghiasi menara Eiffel yang menjadi ikon kota Paris dimana seorang wanita yang hanya memakai gaun tidur malamnya duduk di sofa sambil memegang gelas wine ditangannya. Menatap sendu pemandangan indah itu. Matanya melirik laptop yang terbuka dimeja tidak jauh dari sofa tunggal dimana ia tengah duduk. Sebuah berita tentang pengusaha muda nan kaya yang tengah menjadi perbincangan publik. Dengan judul besar dan lengkap dengan foto yang meskipun tidak dengan kualitas HD namun mata orang awampun bisa melihat dengan jelas wajah dua orang anak manusia yang tercetak jelas disana.

Kekasih Kim Jongin sang Businessman Muda asal Korea Terungkap

Begitulah judul besar yang dilengkapi dengan foto Jongin dan seorang gadis bertubuh mungil yang tak lain adalah Kyungsoo di bandara semalam. Foto itu beredar luas didunia maya dan juga surat kabar. Banyak yang mempertanyakan siapa gerangan gadis beruntung yang berhasil menarik perhatian Kim Jongin. Hingga beberapa komentar yang dibubuhkan di sebuah surat kabar elektronik mengungkap sosok mungil Do Kyungsoo yang tak lain adalah mahasiswa dari Universitas Manhattan.

"Hhh…apa aku harus mundur begitu saja?" bisiknya setelah menyesap wine, tatapannya terlihat putus asa akan keadaannya saat ini. "Tapi kau satu-satunya harapanku," lirihnya memejamkan mata, dan sebulir air mata membasahi pipi putih yang entah sudah berapa kali ternodai air mata itu. Aku lelah dengan semua ini batinnya ikut menangis. Bola mata yang memerah itu perlahan terbuka, sipemilik bangkit dan menaruh gelas wine disamping laptop dan juga sebuah berkas proposal yang baru saja diterimanya. Sebuah proposal kerja sama antara perusahaan real estate KJI Enterprise Real estate dan JKT Interior Design.

.

.

Sebuah surat kabar dibanting diatas meja, gadis berambut pirang itu menatap nyalang pada gambar yang tercetak di surat kabar dan judul besarnya yang semakin membuat hatinya terbakar. Ia menggeram tidak terima. Sebelumnya ia sudah mengalah pada seorang model Venezuela bernama Miranda Gomez karena akan sulit jika ia menghadapi wanita yang merupakan seniornya di kancah modeling itu. Namun setelah mengetahui kalau hubungan mereka berakhir ia buru-buru menyusun rencana namun apa yang ia terima sekarang. Kim Jongin telah memiliki wanita lain dan dia bahkan belum pantas dipanggil wanita. Hanya seorang bocah, mahasiswa dari kampus dimana ia mengajar sebagai Kimsen.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya manajer yang juga adalah sahabatnya Kim Kahi.

"Aku akan membuat berita yang lebih besar dari ini," jawabnya dengan seriangaian mengerikan. Kim Kahi berdiri sambil bersedekap.

"Jangan melakukan sesuatu yang dapat merusak karirmu Nana, kau tahu jika membangun karir di negeri ini tidak mudah dan jika kau merusak reputasimu maka kau bisa hancur dalam sekejap mata," Kahi mengingatkan.

"Lalu aku harus bagaimana?" sentak Nana kesal.

"Berhentilah, karena kau jelas akan ketahuan jika kau melakukan tes DNA yang di ajukan oleh Lee Junho perwakilan Jongin itu."

"Aku tidak akan melepaskannya, Hong Jonghyun sudah meninggalkanku begitu saja eounni," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha memikirkan rencanya lain.

"Jika kau tidak siap memiliki anak maka kau tahu apa yang harus kau lakukan Nana, jangan bermain-main dengan Kim Jongin," Kahi menambahkan. "Kau tahu Jongin memiliki kekuasaan, bahkan untuk mengurusimu saja ia sudah menyiapkan pengacara. Lee Junho itu berada dibawah naungan Nickhun Buck, kau tidak bisa meremehkan dia. Dan Kim Jongin bukan orang awam dalam hal seperti ini. Ia pasti telah memperhitungkan segalanya," Nana menggigit jempolnya saking bingungnya memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.

"Beri aku satu kesempatan eounni, jika aku tidak berhasil maka aku akan menyerah," jawab Nana dengan mata yang mengarah pada foto yang tercetak disurat kabar. Tepat pada sosok berambut almond yang tidak asing dimatanya.

.

.

Mata Kyungsoo membola tidak percaya saat ia melihat fotonya dan Jongin dibandara terpampang di surat kabar. Heechul bersedekap didepannya dengan tatapan mengintimidasi. Kyungsoo mendudukkan dirinya masih dengan tatapan bingung dan tidak percaya. Sekarang ia mengerti apa tujuan Jongin membawanya kerumahnya. Karena tak lama kemudian Jessie menelponnya dan Heechul mengambil alih ponselnya.

"Kau tidak bisa menerima panggilan telepon saat ini, kita harus menunggu Jongin," ujarnya dan Kyungsoo hanya mengangguk patuh. Tapi ia harus menghubungi Chanyeol dan mengatakan padanya kalau ia tidak bisa mengantarkannya ke bandara besok. Heechul khawatir wartawan akan memburunya.

"Tidak apa-apa, aku mengerti posisimu Kyungsoo-ah," jawab Chanyeol diseberang sana.

"Maafkan aku karena kunjunganmu kali ini tidak semenyenangkan biasanya," ucap Kyungsoo.

"Bukan masalah, semuanya telah berubah Kyungie jadi aku harus menyesuaikan diriku dengan keadaan yang sedang berlangsung," jawab Chanyeol tenang. "Aku hanya perlu memastikan bahwa kau akan aman ditempat Jongin dan kau terlindungi."

"Aku aman disini, jangan khawatir."

"Kalau begitu aku bisa kembali dengan tenang ke Seoul, jaga dirimu baik-baik ya, jangan ragu untuk menghubungiku jika kau membutuhkan seseorang untuk diajak bicara."

"Tentu, kau berada diurutan pertama Chanyeol-ah, terima kasih banyak, aku akan merindukanmu dan sampaikan salamku pada bibi dan paman,"

"Tentu, jaga dirimu baik-baik, aku menyayangimu Kyungie."

"Aku juga menyayangimu Chanyeolie" keduanya terkekeh pelan sebelum mengakhiri panggilan.

.

.

Nickhun dan Jongin baru saja kembali dari pengadilan, setelah melalui beberapa persidangan akhirnya masalah sengketa tanah perkebunan itu terselesaikan. Jongin bisa bernafas lega sekarang. Ia dan Nickhun berencana untuk makan siang bersama sebelum berkemas dan kembali ke Manhattan.

"Rasanya agak aneh melihat kau begitu bersemangat kembali ke Manhattan, biasanya kau selalu menikmati perjalanan dinasmu," ledek Nickhun.

"Karena ada yang menantiku dirumah," ia nyengir. Astaga, Nickhun hampir tersedak melihat cengiran Jongin. Sejak kapan sahabat yang dikenalnya selalu bersikap cool itu nyengir seperti bocah idiot.

"Yakk, jangan nyengir begitu, kau membuatku ngeri," Jongin justru tertawa mendengar ucapan Nickhun, namun seketika tawanya terhenti saat melihat seorang wanita yang tidak asing dimatanya baru saja keluar dari salah satu ruangan pertemuan di hotel yang ia tempati. Wanita yang tak lain adalah Jung Krystal itu juga tampak menyadari keberadaan Jongin. Ia melambai kecil kearahnya yang disambut anggukan ramah Jongin. "Bukankah itu wanita yang waktu itu?" tanya Nickhun.

"Ya, teman lamaku."

"Kau punya teman lama wanita juga?"

"Hai Jongin, bukankah kau bilang kalau kau akan kembali ke Manhattan?"

"Yeah, dan aku kembali lagi kemari karena urusanku sudah selesai disana, oh dan Krystal kenalkan ini Nickhun Buck," Jongin memperkenalkan Nickhun pada Krystal.

"Nickhun Buck."

"Ia pengacara dan juga penasihat di perusahaanku."

" Jung Krystal, senang berkenalan denganmu Mr Buck," Nickhun mengangguk. "Apa kau sibuk?" ia menoleh kearah Jongin.

"Tidak, kami bermaksud akan makan siang bersama dan setelah itu berkemas untuk kembali ke Manhattan," Krystal memasang wajah kecewa yang kentara.

"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajak makan siang bersama."

"Kalian bisa makan siang berdua," tawar Nickhun. Jongin dan Krystal menoleh padanya."Aku masih harus mengurus beberapa berkas sebelum pulang, tidak apa-apa nanti aku bisa makan dipesawat," Nickhun malah memberikan kedipan rahasia pada sahabatnya itu. Entah kenapa ia memiliki firasat kalau pernah ada sesuatu diantara Jongin dan wanita bernama Jung Krystal ini.

"Bagaimana, apa kau mau?" tanya Krystal. "Anggap saja pengganti yang kemarin," ia tersenyum memperlihatkan lekukan bibir tipisnya yang manis. Dan Jongin membalasnya dengan senyuman tampan disertai anggukan setuju. Sebelum keduanya berlalu Jongin sempat melirik Nickhun dan Nickhyun malah nyengir menirukan dirinya.

.

.

Dimata Kim Jongin, Jung Krystal tetaplah sosok yang menarik sejak pertama kali ia melihatnya 12 tahun yang lalu. Wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta, wanita pertama yang mengajarkannya tentang cinta dan wanita pertama yang mengenalkan rasa patah hati. Namun saat ini, wanita dihadapannya adalah sosok menarik yang berbeda. Mungkin karena saat ini keadaan telah berbeda, usia keduanya telah bertambah dan penampilan mereka juga banyak berubah. Jung Krystal yang manis menjadi begitu modis. Tidak ada bandana dan kunciran melainkan geraian rambut yang berkilau persis seperti model iklan shampoo. Jongin mengakui bahwa ia terpesona pada sosok itu saat mereka bertemu dalam acara reuni dan juga kembali terpesona saat mereka kembali bertemu di lift. Namun itu rasa terpesona yeng berbeda. Sungguh tidak sama dengan yang ia rasakan bertahun-tahun yang lalu. Karena ini bukan Jung Krystal yang dulu. Ini sosok Jung Krystal yang berbeda. Mereka terpisah bertahun-tahun lamanya dan selama itu pula keduanya mengalami banyak perubahan. Dan Jongin tidak bisa mengelakkan perasaan yang ia punya untuk Krystal kini berbeda, 100 persen berbeda dengan yang dulu.

"Jam berapa penerbanganmu?" tanya Krystal sambil menikmati steaknya dengan anggun.

"Jam 4 sore, jangan khawatir karena aku tidak buru-buru," jawab Jongin menenangkan.

"Kau banyak berubah," ucap Krystal.

"Tentu saja, masa aku begitu-begitu saja," kekehnya kecil.

"Tapi tawamu tidak berubah."

"Sebenarnya…ini juga baru kudapatkan kembali," ia tersenyum, karena pikirannya saat ini mengarah pada sosok mungil yang kini berada jauh dari jangkauannya.

"Maksudmu?"

"Aku tidak benar-benar menjalani kehidupanku dengan baik namun beberapa bulan belakangan semuanya terasa lebih hidup untukku, aku merasakan diriku yang dulu kembali," ujarnya tenang sambil mengelap bibirnya dengan serbet, Jongin telah menyelesaikan acara makannya.

"Sesuatu terjadi, maksudku…kenapa kehidupanmu tidak berjalan dengan baik?" tanyanya pelan. Jongin menatap Krystal sesaat lalu menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis. Ia tidak ingin berbagi tentang perasaan hancurnya saat ditinggal Krystal hingga meninggalkan luka dan trauma bagi dirinya. Karena semua luka itu perlahan telah dibaluti oleh kasih sayang oleh seorang gadis mungil yang kini menjadi kesayangannya.

"Bukankah hidup memang begitu, tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita." Jawabnya ringan. Dan Krystal hanya mengangguk mengiyakan meskipun ia tidak puas dengan jawaban Jongin. Ia merasa progress pendekatannya tidak begitu baik, Jongin tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan masa lalu padanya. Apa mungkin karena gadis itu batinnya.

"Ahh, by the way kau menjadi topik perbincangan di media, tidakkah kau menyadarinya?" Jongin hanya mengangguk.

"Bukan masalah besar, aku tidak mau terlalu ambil pusing tentang itu."

"Apakah itu benar?" tanya Krystal. Jongin menyenderkan punggungnya pada kursi.

"Tidak ada alasan bahwa berita itu tidak benar Krystal, mereka menyertakan foto disana," Jongin ingin berteka-teki.

"Hei tuan Kim, kau ini sangat menyebalkan, aku serius," Krystal mencubit gemas punggung tangan Jongin. Hal yang suka ia lakukan jika Jongin tidak bisa diajak bicara serius.

"Pria setampan aku tidak mungkin masih single bukan," kekehnya. Dan Krystal terdiam sebentar lalu melanjutkan acara makannya. Jongin tidak menyadarinya, suasana yang sedikit berubah. "Oh iya bagaimana kabar kekasihmu, Choi Siwon-ssi?"

"Ia baik, saat ini ia sedang berada di Korea."

"Ahh tentu saja, kerajaan bisnisnya berpusat di Korea," angguk Jongin. "Ia terlihat begitu mencintaimu dan memperlakukanmu dengan sangat baik, aku bisa melihatnya saat kita menghadiri reuni," Krystal melirik dengan senyuman menggoda.

"Kau memperhatikanku dan kekasihku, yak Kim Jongin apa kau cemburu?" tanyanya. Jongin mengerjap sesaat sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman tipis.

"Saat itu aku cemburu, aku berfikir 'ahh jadi itulah lelaki Krystal sekarang' begitulah," Krystal menggenggam garpunya mendengar jawaban Jongin. "Aku cukup terkejut karena kau hadir di reuni itu setelah lama tak terdengar kabar. Tapi melihatmu begitu bahagia dan diperlakukan begitu istimewa olehnya itu membuatku tenang. Seorang teman akan bahagia melihat temannya bahagia juga," sebuah penegasan yang seolah menghantamkan kepala Krystal pada jendela restoran agar membuatnya sadar dimana posisinya saat ini. Ia hanyalah bagian masa lalu Jongin.

"Ya, dia memperlakukanku dengan sangat istimewa…sangat," bisiknya diakhir kalimat. Matanya melirik pada meja yang terletak disudut ruangan, dimana Lee Kwangsoo bodyguardnya berada. Duduk disana dengan Koran ditangan dan secangkir kopi diatas meja, menjalankan tugas yang dibebankan padanya. Mata mereka bertemu dan ia tersenyum tipis penuh peringatan. Krystal hanya bisa menghela nafas pelan.

.

.

Mendengar kabar bahwa Jongin akan kembali sore ini maka Kyungsoo dengan riangnya beranjak kedapur dan memeriksa bahan apa saja yang ada didapur itu. Ia menata beberapa bahan temuannya diatas meja panjang dan memutuskan akan membuat cupcake.

"Apa anda perlu bantuan Miss Do?" tanya salah satu pelayan.

"No,no, aku bisa melakukan sendiri," gelengnya dengan senyuman. Kyungsoo mulai mencampur bahan-bahan yang dibutuhkan kedalam wadah. Dan saat itulah Heechul dengan santainya sambil memakai apel.

"Wahh,wahh, nona muda ini sibuk membuat kudapan untuk suaminya yang akan pulang," godanya.

"Oppa~" rengek Kyungsoo malu. Heechul duduk didepan Kyungsoo yang berdiri sambil mulai memecahkan telur.

"Oppa bisa melihat ada cinta dimatamu, jadi kau melanggar peringatan oppa?" tanya Heechul. Kyungsoo menggigit bibirnya dan meringis kecil kearah Heechul.

"Oppa…"

"Oppa tahu, Kim Jongin adalah pria yang sulit ditolak," jawabnya. "Ia tidak pernah berlaku buruk pada semua wanitanya, maka jangan heran jika ada mantan wanitanya yang seperti Nana itu datang kembali dengan alasan hamil anaknya agar dinikahi Jongin. Oppa hanya berharap kau mendapatkan yang lebih baik darinya, kau tahu…meskipun ia sepupu oppa, oppa khawatir ia bisa menyakitimu kapan saja Kyungsoo-ah."

"Ia bilang ia menyukaiku," Kyungsoo membuka suara sambil mencampur gula kedalam tepung dan telur.

"Kau serius?" tanya Heechul. Kyungsoo menKimngak dan memberikan tatapan serius, mengangguk seperti bocah yang ditanyai ibunya.

"Ia mengatakannya padaku dibandara sebelum aku kembali ke Manhattan, dan Jongin oppa bilang…"

"JONGIN OPPA?" serunya tidak percaya. "Daebak, heol, kau memanggilnya Jongin oppa," bahasa ibu Heechul keluar begitu saja membuat Kyungsoo tertawa kecil dengan anggukan lucu.

"Jongin oppa bilang, tidak ada kekasih yang memanggil kekasihnya dengan embel-embel –ssi dibelakang namanya," jawabnya malu-malu dengan semu dipipi. Heechul gemas dan antara percaya dan tidak percaya.

"Jongin oppa bilang, ia akan berusaha untuk membalas perasaanku, paling tidak kami telah memiliki dasar saling menyukai dalam hubungan ini. Dan Jongin oppa juga bilang kalau tidak ada lagi wanita kontrak atas nama…Kim Kyungsoo," astaga Heechul gemas bukan main karena tingkah lucu Kyungsoo yang menjelaskan bagaimana hubungannya dan Jongin telah berjalan. Antara bahagia dan juga khawatir.

Semoga saja Jongin tidak mengecewakan Kyungsoo dimasa depan. Dan ia berharap Kyungsoo adalah gadis yang bisa membawa Jongin menuju hubungan yang lebih serius dan lebih baik. Hingga tidak akan ada lagi woman's contract.

"Aigooo~ chukkahaeyo~" Heechul mengelilingi meja panjang dan menghampiri Kyungsoo. Membawa simungil kedalam pelukannya. Memutar tubuh mungil itu hingga menimbulkan tawa kecil Kyungsoo. "Oppa ikut senang jika kau kau dan Jongin juga senang,"

"Gomawo oppa," ucap Kyungsoo.

"Nah, kalau begitu mari oppa bantu kau membuat cupcake buat si mantan playboy yang sudah memiliki kekasih itu," keduanya sama-sama tertawa mendengar ucapan Heechul. Kyungsoo dengan senang hati memberikan instruksi pada Heechul untuk memasukkan bahan, mencampur dan juga mengocok aKimnan dengan benar sementara ia memotong beberapa buah untuk dijadikan topping.

"Oppa gwechanha, apa tidak sebaiknya aku yang mengocok adonannya?"

"Aniya, gwechanha," geleng Hecehul. Dia jadi merindukan rumah dan juga adiknya Yubi, mungkin ia harus berkunjung sesekali. "Dulu saat masih di Korea oppa sering melakukan ini bersama adik oppa, ia juga sangat suka membuat kudapan seperti ini."

"Oppa merindukannya?".

"Hmm..neomu,"

"Aku merasa tidak asing berada disini, bersama oppa terasa seperti berada dirumah sendiri," jawab Kyungsoo. "Mungkin karena kita sama-sama berdarah Korea, dan oppa memperlakukan aku seperti adik oppa."

"Karena kau juga mengingatkan oppa pada adik oppa," kedua tersenyum merasakan atmosfer yang hangat dan menyenangkan sebelum sebuah suara menggelegar membuat keduanya tersentak dan saling pandang bingung.

"AKU HANYA INGIN BICARA PADANYA MINHO!" Itu suara Im Nana. Kyungsoo menelan ludahnya gugup. Untuk apa wanita itu datang kemari. Mrs Hans berlari kecil kearah dapur dengan wajah agak pucat.

"Mrs Hans ada ap..?" belum sempat pertanyaannya terucap sosok Nana sudah sampai didapur dengan tatapan menusuk dan tangan bersedekap yang kaku. Langkah hak sepatunya menggema disepanjang jalan ia memasuki dapur. Ia menaikkan dagunya tinggi dengan angkuh. Astaga, Kyungsoo sebenarnya bisa sangat mengagumi sosoknya yang begitu cantik dan menawan. Namun dibalik kecantikan itu tersimpan sifat arogan yang tidak pantas.

"Aku mau bicara denganmu" ia menunjuk Kyungsoo lagi dengan telunjuknya. Heechul menatap tajam kearah Nana.

"Tidak ada yang perlu kau bicarakan dengannya Miss Im!" sentak Heechul. Nana menatapnya malas, biasanya sepupu Jongin ini tidak banyak bicara dan mencampuri urusan Jongin.

"Kenapa, kau terlihat sangat melindungi pelacur kecil ini,"mata Kyungsoo membola. Sebutan yang menyakitan untuk ia dengar. Bagaimana bisa Nana menyebutnya pelacur kecil.

"Yakk jaga mulutmu, kaulah pelacurnya disini!" sembur Heechul marah. Bagaimana bisa ia bisa berkata kasar pada gadis yang tidak mengerti apa yang tengah dihadapinya saat ini.

"Aku bukan pelacur Hecehul-ssi!" geramnya dengan tangan mengepal.

"Ohh katakan itu pada wanita yang telah berselingkuh dan datang kembali pada mantan kekasihnya untuk minta bertanggung jawab, kau pikir Jongin bodoh hahh!" tukas Heechul.

"Aku tidak peduli apa yang kau katakan dan pikirkan tentangku, yang harus kupastikan adalah pelacur kecil ini menghilang dari kehidupan Jongin karena ia punya bayi yang akan memanggilnya ayah," jawabnya penuh rasa percaya diri.

"Aku bukan pelacur kecil, Miss Im," sela Kyungsoo menatap Nana kesal.

"Ahh.. bocah kecil yang masuk dalam perangkap rayuan Kim Jongin, kau tidak lebih dari sebuah mainan baru untuknya bocah," jawabnya sekenanya dengan tawa remeh. "Apa yang bisa kau tawarkan padanya hmm," ia menatap tampilan Kyungsoo.

"Aku tidak perlu menawarkan apapun karena aku bukan pedagang," jawab Kyungsoo mengumpulkan keberaniannya. "Lantas apa yang kau tawarkan, tubuhmu, lalu siapa yang pelacur sebenarnya," Heecul menoleh kearah Kyungsoo antara kagum dan terkejut gadis manis itu bisa mengucapkan kata-kata itu.

"Kau, sialan!" gerakan Im Nana begitu cepat hingga Kyungsoo tidak sempat menghindar dan Heechul terlambat melindungi Kyungsoo.

"YAKK IM NANA!" suara itu menggelegar mengalahkan suara Im Nana. Perhatian teralihkan pada sosok di ambang pintu dapur, berdiri tegak dalam balutan kemeja putih yang dilipat sampai siku dan celana jins hitam, Kim Jongin. Para pelayan tampak berkasak-kusuk melihat kedatangan tuan mereka. Dan Kyungsoo berdiri kaku ditempatnya, terkejut dengan serangan mendadak Nana padanya. Tubuhnya dipenuhi cairan lengket dari sebaskom telur yang dilemparak Nana kearahnya. Karena sebaskom telur itulah yang paling dekat dengan jangkauan tangannya.

"Astaga Kyungsoo-ah," Heechul segera mengambil lap bersih, dan mengelap wajah Kyungsoo. Mrs Hans turut menghampiri Kyungsoo dan membersihkan bekas-bekas cangkang telur. Jongin melangkahkan kaki jenjangnya menuju kearah Kyungsoo, melewati Nana yang berwajah pias tidak menyangka akan tertangkap basah oleh Jongin. Mrs Hans menjauh saat Jongin mendekat, Heechul memberikan lap pada Jongin.

"Hei, kau bisa mendengarku baby," Jongin berucap lembut sambil mengelap cairan kuning telur di wajah Kyungsoo dengan lembut pula. Nana mengencangkan kepalan tangannya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana Jongin begitu perhatian dan lembut pada Kyungsoo. Bukan karena ia tidak bersikap lembut saat bersama Nana dulu. Tetapi Jongin tidak pernah setulus ini sebelumnya. Dan hubungan mereka adalah sebuah rahasia didepan public. Namun gadis ini dengan mudahnya memasuki kehidupan Jongin bahkan semua orang kini mengetahui rumor tentang statusnya sebagai kekasih Jongin. "Maafkan aku, kau tidak seharusnya diperlakukan begini," mata Kyungsoo berkaca-kaca, bahkan setetes air mata telah mengalir. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini seumur hidunya. Ia tidak pernah ingin menyakiti siapapun namun rasanya begitu sakit. Ketika dirinya disebut pelacur kecil dan kini dilempari telur seakan-anak dirinyalah yang bersalah.

"Minho, bawa dia keluar!"Heechul yang berbicara. Minho mengangguk mengerti dan berjalan kearah Nana.

"Tidak, lepas, Jongin kita harus bicara, Jongin!" sentaknya. Jongin menoleh dengan tatapan tajam yang tidak pernah ia perlihatkan pada Nana sebelumnya. Tatapan yang membuat Nana merinding bukan main.

"Kau ingin aku bertanggung jawab atas bayi dikandunganmu, baik," semua yang berada di ruangan itu tersentak bahkan para pelayan. "Lakukan test DNA dan buktikan itu adalah anakku, jika kau tidak bisa membuktikan itu anakku maka kau tahu apa yang bisa kulakukan pada karirmu Im Nana," Nana menelan ludahnya pahit.

"Jongin..kau.."

"Aku yakin kau mengerti perjanjian kita, kita tidak akan saling mengusik setelah perjanjian itu berakhir, kau yang membuatku mengakhirinya," jawab Jongin.

"Kau… aku.."

"Pergilah selagi aku masih berbaik hati padamu!" tegasnya memalingkah wajah. Dan saat matanya kembali menatap pada Kyungsoo tatapan itu melembut. Ia menaruh lap diatas meja dapur dan menggendong Kyungsoo. Tidak mempedulikan pakaiannya akan kotor oleh cairan telur. Kyungsoo melingkarkan tangannya dileher Jongin, menyerukkan wajahnya disana dengan isakan kecil yang membuat Jongin merasa sangat bersalah. "Maafkan aku baby, maafkan aku," semua yang berada diruangan itu bisa melihat ada kasih sayang dimata Jongin untuk Kyungsoo. Nana merasa sesak melihatnya, Mrs Hans dan Heechul bertukar pandang dengan senyuman lega. Mereka berharap kali ini Jongin telah menemukan apa yang ia cari didalam diri Kyungsoo.

.

.

Kim Kahi melirik Nana dari kaca spion depan, sejak masuk kedalam mobil setelah keluar dari dalam rumah Jongin Nana tidak berhenti mengalirkan air mata. Untuk alasan yang Kahi sendiri tidak mengerti. Kahi tahu kalau Nana menyukai Jongin, namun dibandingkan Jongin, Nana lebih menyukai mantan kekasihnya Hong Jonghyun. Bersama Jongin ia memiliki apa yang tidak bisa Hong Jonghyun berikan padanya. Namun cintanya tetaplah milik Hong Jonghyun. Lantas apa yang membuatnya begitu tampak bersedih.

"Nana-ya, kaua mau aku mampir dan membeli Ice Americano untukmu?" tawarnya. Nana menggeleng dan menghapus air matanya dengan telapak tangannya. Masih menatap keluar jendela mobilnya yang kini tertimpa rintik hujan seakan memahami bagaimana perasaannya kini. "Kau..oke?" Nana menggeleng lagi kali ini dengan isakan.

"Aku...aku.."

"Nana-ya," Kahi menghentikan mobil tepat saat traffic light berganti menjadi merah, melirik Nana kembali lewat spion depan.

"Apa aku tidak begitu berharga untuk dicintai eounni?" tanya Nana lirih. "Jonghyun meninggalkanku, dan Jongin…ia menemukan..entahlah," ia menggelengkan kepalanya. Kahi memandang prihatin pada model yang ia manajeri itu.

"Setiap manusia itu berharga dan layak untuk mendapatkan cinta Nana-ya," jawab Kahi. " Kau hanya belum menemukan pria yang tepat," Nana mengelus perutnya, dimana janin berusia tiga bulan hidup dan tumbuh berkembang disana.

"Tapi bayi ini butuh seorang ayah eounni, apa yang harus kulakukan sekarang?" lirihnya dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Kahi menghela nafas pelan, ia juga sama bingungnya dengan Nana. Bayi itu sudah berkembang di rahim Nana. Bukankan akan semakin berKimsa jika ia memberikan saran untuk melakukan aborsi. "Aku bukan calon ibu yang baik eounni, eottokhae, eottokhae," isakan Nana kembali terdengar. Jika Nana tidak bisa melakukannya maka Kahi hanya punya usulan lainnya.

"Nana-ya," panggilnya. Nana menKimngak dengan mata sembab kearah Kahi yang menatap lurus kedepan kembali menyetir setelah lampu berubah menjadi hijau. "Kau bisa kembali ke Korea dan menolak perpanjangan kontrak, mungkin itu akan mengakhiri karirmu disini tapi…setidaknya kau bisa melahirkan bayi tidak berKimsa itu dan berkumpul dengan keluargamu,"

"Eounnie..aku,"

"Eounni akan membantumu menjelaskan pada keluargamu dan jika mereka tidak bisa menerima, maka kau bisa tinggal bersama eounni," Nana melihat Kahi memberikan senyuman penyemangat padanya dari spion depan. Wanita yang telah menjadi manajernya sejak ia berkarir sebagai model remaja hingga kini, wanita yang selalu berada disampingnya disaat tersulit hingga bahagianya. Wanita yang telah ia anggap layaknya saudaranya sendiri. Nana tersenyum dengan air mata mengalir dipipinya.

"Gomawo eounnie," Kahi mengangguk.

.

.

Kyungsoo duduk diatas meja panjang wastafel sementara Jongin mengisi bak mandi dengan air hangat dan menaburinya dengan garam mandi. Kyungsoo menatap punggung kokoh lelaki yang ia rindukan itu. Merasakan kehangatan saat ia membelanya didepan Nana. Namun rasa sakit itu masih ada, ketika ia diperlakukan semena-mena oleh Im Nana. Jongin berbalik dan memergoki Kyungsoo yang kembali menitikkan air mata, ia mendekat dan menangkup pipi Kyungsoo, menghapus air mata si mungil dengan jempolnya.

"Aku berharap aku bisa datang lebih awal sebelum Nana sempat melakukan ini padamu baby, maafkan aku, kau tidak pantas diperlakukan begini," ucapnya lembut. Jongin mendekatkan wajahnya bermaksud mencium Kyungsoo namun Kyungsoo memalingkan wajahnya membuat Jongin terkejut bukan main merasa ditolak.

"Ak..aku..bau amis oppa," seketika Jongin tertawa kecil.

"Aku tidak peduli kau bau amis atau tidak, kalau perlu aku akan menjilati seluruh tubuhmu agar bau amisnya berganti dengan liurku," astaga itu kalimat pervert yang membuat Kyungsoo tidak bisa menahan semu merah diwajahnya. Entah kenapa otaknya justru membayangkan apa yang Jongin ucapkan barusan, ia menggelengkan kepalanya cepat. Jongin terkekeh melihat tingkah lucu Kyungsoo, ia mencubit gemas dagu Kyungsoo. "Heiii..kau membayangkannya ya, ayo mengaku padaku," godanya, Kyungsoo menunduk malu dengan gelengan.

"Tidak kok."

"Ayooo mengaku saja padaku," godanya makin menjadi.

"Tidak kokkk~ "rengek Kyungsoo. Jongin menKimngakkan wajah Kyungsoo untuk menatapnya. Ia tersenyum dan menjatuhkan bibir apel miliknya untuk melumat bibir Kyungsoo.

"Aku minta maaf atas nama Nana, bukan karena apa-apa tetapi karena ia adalah mantan wanitaku dan ia bersikap buruk pada kekasihku," Kyungsoo bisa merasakan dimana letak perbedaannya kini. Ia bukan wanita Jongin melainkan kekasihnya. "Ia pasti sedang mengalami keadaan yang sulit, jika ia berbicara baik-baik dan meminta bantuan aku akan membantunya. Tetapi tidak dengan cara seperti ini," Kyungsoo mengelus rahang Jongin lembut.

"Kau pria yang baik dan semua wanita menginginkanmu," Jongin menyipitkan matanya sambil memeluk pinggang Kyungsoo yang duduk diatas meja panjang wastefel.

"Untuk saat ini aku hanya ingin kau yang menginginkanku, gadis kecilku hanya boleh menginginkanku."

"Aku menginginkanmu, hanya dirimu oppa," Jongin tersenyum lembut

"Tetaplah begitu, yakini aku baby," dan bibir Jongin kembali mencium bibir Kyungsoo, kali ini lebih intens dan dalam. Kyungsoo memiringkan kepalanya dengan tangan meremas lembut surai belakang Jongin. "Kurasa aku benar-benar akan menjilatimu sampai bersih baby," ucapnya sensual membuat bulu roma Kyungsoo merinding. Namun simungil tak gentar, ia menyambutnya dengan sebuah gigitan manja dibibir bawah Jongin.

.

.

"Apa yang harus dikhawatirkan honey," ucapnya selembut mungkin meski hatinya gerah dan jengah.

"…"

"Ia teman lamaku, dan perusahaannya mengajukan kerja sama untuk perbaikan design interior salah satu resortnya di Manhattan."

"…"

"Aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat, begitu proyek disini selesai aku akan ke Manhattan untuk melanjutkan proyek di resort miliknya," suara diseberang tampak tidak sabaran.

"…"

"Ini bukan tentang uang, astaga harus berapa kali kukatakan," tukasnya. "Ini adalah impianku dan ini adalah pekerjaanku, kau berjanji tidak akan membatasi apapun itu yang ingin kulakukan asal Kwangsoo tetap bersamaku. Mengertilah honey, berhentilah bersikap terlalu posesif seperti ini," suara lelahnya tampak kentara.

"…"

"Percayalah padaku, apa kau…" ucapannya terhenti saat sebuah kata-kata terlontar diujung sana, begitu mengejutkan dan ia tidak menyangka bahwa seseorang diseberang sana, kekasihnya mengetahui hal itu.

"…"

"Oppa…kau…aku…percayalah padaku oppa," lirihnya lelah. "Arraseo, hmm…iya, sampai nanti oppa," ia menghela nafas lelah entah untuk keberapa kalinya. Mengubur wajahnya dalam telapak tangan dengan pikiran yang terasa sangat penuh. Aku tahu dia mantan kekasihmu honey, lantas bagaimana aku tidak khawatir jika kau bekerja sama dengannya.

"Dia mengetahuinya," gumamnya pelan setelah menKimngak dengan wajah lelah dan make up yang tak lagi tersapu sempurna. "Hhh…jika kau tidak mempercayaiku, mungkin aku harus benar-benar melakukan apa yang selalu ada dipikiranmu tentangku…haruskah?" tanyanya pada diri sendiri seakan ia telah kehilangan akal sehatnya. Ia rasa ia memang telah kehilangan akal sehatnya sejak ia bersama lelaki itu.

"We will see," ia tersenyum penuh rahasia.

.

.

Setelah bercinta dibawah guyuran shower dan merealisasikan keinginannya untuk menjilati tubuh Kyungsoo yanag justru membuat Kyungsoo terkikik kegelian akhirnya sepasang sejoli itu memutuskan untuk berendam menenangkan pikiran dan mengistirahatkan tubuh mereka.

"Kau lelah baby?" tanya Jongin sambil mengecup leher Kyungsoo yang duduk dipangkuannya dan menyenderkan kepala didadanya.

"Hmm…oppa tidak bermaksud untuk melanjutkan yang tadikan?" tanyanya dengan rengekan manja yang khas.

"Tidak, aku tahu kau lelah," jawabnya lembut. Kyungsoo meraih tangan Jongin dan memainkan jemarinya yang lebih besar dari jemarinya.

"Oppa."

"Hmm."

"Berita yang tersebar itu…bagaimana?" Jongin mengeratkan lingkaran tangan kanannya dipinggang Kyungsoo.

"Kau tidak perlu khawatir soal itu, Nickhun akan mengurusnya dengan media," jawab Jongin tenang.

"Bagaimana pengacara Buck menyelesaikannya?"

"Ia hanya perlu mengkonfirmasi tentang kabar tersebut, lagipula aku bukanlah selebriti yang harus membuat konfirmasi resmi semacam konfrensi pers atau apapun itu," jawab Jongin.

"Dan…mereka akan tahu, kalau aku kekasihmu?" Jongin menunduk dan meraih dagu Kyungsoo untuk dimiringkan kearahnya.

"Kau keberatan?" Kyungsoo menggeleng.

"Aku hanya khawatir tentang masalah pihak kampus," cicitnya. Jongin mengecup bibir mungil Kyungsoo.

"Aku akan berbicara dengan pihak kampus."

"Itu sangat riskan bukan, pihak pengajar memiliki hubungan dengan mahasiswa."

"Manhattan tidak sekaku itu baby, kita hanya sedang 'beruntung' saja kepergok wartawan saat di bandara," Jongin memberikan tanda dengan jemarinya membentuk tanda kutip pada kata beruntung yang dimaksudkan sebaliknya. "Aku akan mengurus semuanya, kau tidak perlu khawatir. Yang perlu kau lakukan adalah berdiam dengan manis disini sampai keadaan lebih tenang. Liburanmu masih lama, kau bisa bersenang-senang bersama Heechul hyung. Aku harus memastikan kau aman dan terlindungi," Kyungsoo tersenyum.

"Kau mengingatkanku pada Chanyeol," Jongin memasang wajah kesal saat mendengar nama Chanyeol.

"Hei, jangan menyebut nama pria lain saat kau bersama kekasihmu," Kyungsoo mengecup jakun Jongin dan menggigitnya gemas. "Hei..hei gadis kecil penggoda, jangan melakukan itu, kau tidak berniat membangunkan adik kecil yang tenang dibawah sana bukan," keduanya terkekeh dengan istilah Jongin itu.

"Teman kecilku sudah kembali ke Korea hari ini, dan jika ia mengetahui kalau aku diperlakukan buruk oleh Im Nana dia bisa marah padamu karena ia percaya oppa bisa menjagaku," Kyungsoo mencoba memberikan ancaman kecil pada Jongin. Jongin mengerjap lalu tersenyum senang.

"Baguslah jika ia sudah kembali ke Korea, dan soal Nana, aku minta maaf soal itu, aku…" bibir Kyungsoo membungkam bibir Jongin dan melumatnya dengan lembut. Kyungsoo semakin lama semakin pandai berciuman, berterima kasihlah pada Jongin yang telah menjadi gurunya selama ini.

"Hei baby girl, jangan pernah mencium lelaki lain selain Kim Jongin, karena sumpah demi apa kau semakin pandai berciuman?" Kyungsoo tertawa kecil dengan anggukan. Perasaannya lebih baik setelah Jongin kembali dan meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan apa yang telah ia alami hari ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Sebagai konsekuensi mencintai Kim Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

oke see you next chap, udah dulu ya hari ini