Kim Woman's Contract

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Rate : M

Welcome or Goodbye

Kyungsoo duduk manis di Queen burger sambil menikmati salah satu menu favoritnya sembari menunggu kedatangan Luhan. Semalam Luhan menelponnya dan mengajaknya untuk bertemu, Luhan benar-benar merindukan Kyungsoo. Bagaimana bisa gadis mungil yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu menghilang begitu saja hampir sebulan ini.

"Oh my goooddd Kyungiieee, jie jie merindukanmu!" serunya heboh begitu memasuki Queen Burger dan berlari kecil menghampiri Kyungsoo. Memeluk Kyungsoo erat-erat saking rindunya.

"Jie jie.. jie.. aku tidak bis..sa bernafas," Luhan cekikikan melepaskan pelukannya. Kyungsoo sempat melirik sekitar, pengunjung lain tampak memperhatikan tingkah Luhan. Kyungsoo hanya bisa tersenyum tidak enak. Sedang Luhan masa bodoh. Ia mencegat salah satu pelayan yang lewat dan mengatakan pesanannya lalu duduk didepan Kyungsoo.

"Kau kemana saja, tahu-tahu fotomu dan Kim Jongin terpampang di surat kabar?" tanya Luhan.

"Aku..hanya liburan bersama Jongin oppa," cicitnya malu-malu.

"Oppa, Jongin oppa, oh my god terakhir kali kau bercerita kau harus memanggilnya 'Sir'" Luhan memelankan suaranya karena ia tahu mereka sedang berada ditempat umum dimana semua orang punya telinga untuk menguping. Luhan bukan tidak memperhatikan beberapa pengunjung memperhatikan Kyungsoo dan juga dirinyan sambil sesekali berbisik.

"Yeahh…begitulah jie jie," Luhan mencubit pipi Kyungsoo gemas.

"Aigoo~ aku ketinggalan banyak cerita, jadi kemana ia mengajakmu liburan?"

"Italia."

"Daebak, heol, aku sangat ingin ke Italia dan gadis kecil ini sudah diajak kesana, astaga Do Kyungsoo kau beruntung sekali adik kecilku," ia mengusuk gemas poni Kyungsoo. "Jadi…sudah sejauh apa hubungan kalian?" dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh keduanya Kyungsoo mulai bercerita tentang perkembangan hubungannya dan Jongin saat ini. Dan mata Luhan berbinar mendengar cerita yang dituturkan Kyungsoo. Ia tidak berhenti berkata 'woaahh', 'oh my god'. 'you're so lucky' hingga membuat Kyungsoo terkikik sendiri melihatnya.

"Aku sama tidak menyangkanya seperti jie jie, ini seperti mimpi."

"Kau pantas mendapatkan yang terbaik untukmu," Luhan menggenggam jemari Kyungsoo, ikut bahagia melihat gadis mungil yang sudah dianggap layaknya adiknya sendiri itu bahagia.

"Lusa aku akan berkunjung ke Korea, Jongin oppa akan memperkenalkan aku pada keluarganya.

"Seriously, oh my god Do Kyungsoo!" takjub Luhan. "Ia pasti serius denganmu."

"Aku..aku gugup sekali jie jie, bagaimana ini?" memelasnya manja. Luhan malah tertawa melihat tingkah bocah Kyungsoo muncul.

"Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, karena dirimu yang apa adanyalah yang membuat Jongin jatuh kepelukanmu, kau mengerti!" Kyungsoo bersemu malu namun mengangguk.

"Aigoo~ kyeopta," gemas Luhan. "Aku mengaharapkan yang terbaik untukmu, Kyungsoo-ah."

"Xie xie jie jie," sahut Kyungsoo dan keduanya tertawa ceria melanjutkan acara mengobrol mereka. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bisa mengobrol seperti ini.

.

.

Kim Jongin tampaknya memiliki sebuah hobby baru yakni memperhatikan sosok mungil yang tengah bolak-balik mengemasi pajonginannya. Do Kyungsoo sigadis mungil kini tengah disibukkan oleh kegiatan mengepack pajonginan miliknya dan juga pajonginan Jongin untuk perjalanan mereka menuju Seoul. Kakak Jongin yakni Kim Yaejin menelponnya tiga hari lalu agar ia meluangkan waktu untuk pulang ke Korea, memperingati hari kematian ibu mereka. Dan Jongin masih ingat betapa cerewetnya sang kakak ditelpon mengatakan kalau ia mendengar kabar Kim Jongin yang berkencan dengan Do Kyungsoo salah satu mahasiswanya di universitas Manhattan.

"Kau mengencani mahasiswamu?" cetus Yaejin diseberang telpon. Jongin memutar bola matanya malas mendengar suara Yaejin yang akan mulai mendiktenya ini dan itu. "Apakah tidak ada wanita yang bisa kau dapatkan hingga pria berusia 29 tahun sepertimu mengencani seorang remaja, astaga Jongin lihatlah bagaimana badannya terlampau mungil dan imut dibandingkan denganmu," Jongin menebak kalau kini Yaejin tengah memandang foto disalah satu media elektronik atau mungkin beberapa foto Kyungsoo yang tersebar begitu saja. Para awak media pastilah mengambil beberapa foto Kyungsoo dari media social miliknya.

"Noona, sekedar informasi usia Kyungsoo itu 23 tahun dan dia bukan remaja, dan lagi jangan bicara dengan nada seolah-olah aku seorang pedofil, astaga!" seloroh Jongin Yaejin justru tertawa senang diseberang sana.

"Tapi dia imut sekali, aigooo~ jinja kyeopta, bagaimana bisa kau mendapatkannya hmm, jurus apa yang kau pakai untuk menakhlukkan gadis mungil ini?" tanya Yaejin. "Ia pasti bisa mendapatkan pemuda tampan seusianya bukan ahjussi sok tampan sepertimu."

"Noona, aku bukan ahjussi sok tampan!"

"Kau memang ahjussi sok tampan, dan ngomong-ngomong Jongin-ah bawalah dia ke Seoul juga," Jongin terdiam sesaat mendengarnya.

"Noona…"

"Setidaknya noona ingin melihat secara langsung gadis yang kau akui sebagai kekasihmu itu, selama ini kau selalu mengencani wanita secara random tanpa keseriusan," ujar Yaejin. "Heechul banyak bercerita tentang gadis Do ini, jadi setidaknya biarkan juga keluargamu mengenalnya. Kau tidak tahu bagaimana reaksi apa saat mendengar kabar ini."

"Memangnya bagaimana reaksi appa, appa kan selalu berekspresi datar," Jongin acuh tak acuh padahal ia penasaran.

"Appa berkata pada Jeno 'Jeno-ya Kai ahjussi punya pacar, mungkin sebentar lagi Jeno akan memiliki teman bermain dari Kai ahjussi' appa begitu sumringah saat bebricara begitu pada Jeno," ujar Yaejin, tanpa sadar bibir Jongin membentuk senyuman. Sejak ia berkecimpung didunia bisnis dan menetap di Manhattan Jongin jarang sekali kembali ke Korea jika bukan untuk acara keluarga seperti hari kematian ibunya atau pada saat hari natal. Interaksi antara ia dan ayahnya juga tidak terlalu intens, paling sesekali mereka akan saling bertukar kabar.

"Arraseo noona, aku akan membawanya ke Korea, kurasa ia akan senang bisa mengunjungi Seoul."

"Baguslah, kalau begitu noona tunggu kedatanganmu dan gadis Do itu ya, sampai bertemu di Seoul."

Jongin mengerjapkan matanya saat ia merasakan jentikan jari didepan wajahnya. Kyungsoo berkacak pinggang sambil mengerucutkan bibirnya menggemaskan. Jongin menarik pinggang simungil mendekat dan mengecup kerucutan bibir yang membuatnya gemas itu.

"Kau melamun oppa, ada apa?" Jongin menggeleng.

"Aku sedang memikirkan pembicaraanku dan noonaku beberapa hari lalu," Kyungsoo tiba-tiba menggigit bibirnya tampak gugup. "Kenapa hmm?" Jongin menyentuh bibir bawah Kyungsoo dengan jempolnya dan mengelusnya lembut.

"Apa…aku benar-benar harus ikut?"

"Kau tidak mau ikut?" Kyungsoo memasang wajah memelas dengan bahu melemas.

"Aku…takut..maksudku…gugup…ini..ini pertama kalinya aku berkenalan dengan keluarga kekasihku," ia memasang wajah memelas. Jongin justru terkekeh dan menariknya duduk dipangkuannya. Melingkarkan lengannya dipinggang Kyungsoo, mengecup bahu terbuka Kyungsoo yang memajongin dress bertali spaghetti.

"Ini juga pertama kalinya untukku setelah 12 tahun lamanya sayangku," jawabnya. "Aku sama gugupnya denganmu, setelah sekian lama inilah pertama kalinya aku memperkenalkan seorang kekasih pada keluargaku. Diantara 12 wanita yang pernah bersamaku, hanya kau yang kubawa menemui keluargaku," Kyungsoo tersenyum, mengelus lengan Jongin yang memeluk pinggangnya. Ia menyenderkan punggungnya pada dada bidang Jongin.

"I'm so honour," bisiknya lembut.

"Aku juga merasa sangat terhormat bisa memperkenalkanmu sebagai kekasihku," Jongin mengayun-ayun pelan tubuh mungil dipelukannya itu.

"Oh ya oppa, aku juga mengabarkan paman Joonmyeon kalau aku akan berkunjung ke Korea, apa… tidak apa-apa?" Jongin mengangguk.

"Aku juga perlu bertemu dengan pamanmu, perkenalan secara resmi sebagai kekasih keponakannya."

"Tentu saja, sebelumnya paman mengenal oppa sebagai orang yang akan membeli pabrik tekstilku," Jongin memiringkan tubuh Kyungsoo dan menggigit ujung hidungnya gemas.

"Kita tidak perlu menyinggung masalah itu pada pamanmu, apa kau mengerti sayangku?" Kyungsoo mengangguk. "Katakan saja kedekatan kita terjalin begitu saja sejak kita saling mengenal sebagai dosen dan mahasiswa lalu semakin dekat setelah penawaran pembelian pabrik tekstil. Pamanmu tidak perlu mengetahui detail cerita tidak penting itu."

"Menurutku…secara pribadi..itu penting," Kyungsoo tersenyum, menangkup wajah Jongin dengan telapak tangannya dan mengelus lembut. " Jika Woman's Contract tidak ada maka mungkin kita tidak akan seperti saat ini."

"Mungkin saja sayangku," jawab Jongin. "Kita bisa berkenalan secara normal, dekat secara normal dan juga menjalin hubungan seperti pasangan lainnya."

"Berbeda itu tidak buruk, aku tidak pernah menyesali pertemuan awal kita dan juga Woman's Contract."

"Benarkah?" Kyungsoo menjawabnya dengan sebuah lumatan di bibir Jongin yang disambut dengan sangat antusias oleh sitampan. Kyungsoo mengelus rahang Jongin, menapakkan telapak tangannya pada tengkuk Jongin dan mengelusnya lembut yang membuat Jongin merinding bukan main. Jongin melepaskan pagutan bibir mereka dan memandang mata bulat yang menatapnya sayu.

"I want you baby," bisiknya mesra.

"Me too~" balas Kyungsoo lalu mendaratkan ciumannya di rahang Jongin tersenyum puas, Kyungsoo mungilnya yang polos perlahan menjadi sosok yang lebih berani. Dan itu hanya padanya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada hal itu.

.

.

Kyungsoo memasukkan semua barang yang diperlukannya kedalam tas tangan berukuran sedang, memeriksa kembali apakah ada yang kurang. Dan tatapannya terhenti pada botol berisi pil kontrasepsinya. Botol itu masih terisi setengah, tidak berkurang dari terakhir kali ia meminumnya dan itu sekitar 25 hari lalu, saat ia berangkat ke Italia. Kyungsoo buru-buru bangkit dan mengecek kalender dimeja nakas. Terakhir kali ia datang bulan adalah seminggu sebelum ia berangkat ke Manhattan dan tanggal itu akan jatuh dua hari lagi. Kyungsoo menghela nafas pelan. Ia sedang tidak dalam masa subur saat itu, Kyungsoo menggigit bibirya pelan. Semalam ia dan Jongin melakukannya dan seingatnya masa subur seorang perempuan itu adalah seminggu sebelum datang bulan dan juga setelah datang bulan.

"Kau akan baik-baik saja Kyungsoo-ah, jangan khawatir," Kyungsoo mensugesti dirinya sendiri.

"Baby, kau sudah siap?" Jongin muncul dipintu kamar. Kyungsoo berbalik dan tersenyum pada Jongin, berlari kecil dan menghambur kedalam rangkulan sitampan.

"Hmm..aku sudah siap."

"Kalau begitu ayo kita berangkat," Kyungsoo mengangguk.

"Oppa akan sangat merindukanmu, jangan lama-lama di Korea ya," Heechul memeluk erat tubuh mungil Kyungsoo mengantarkan Jongin dan Kyungsoo didepan rumah.

"Ya,ya hyung, kau membuat Kyungsoo sesak," Jongin menarik tubuh Kyungsoo terlepas dari pelukan Heechul.

"Cckk..bilang saja kau cemburu aku memeluk Kyungsoo, astaga Kim Jongin."

"Geureh, wae, Kyungsoo kekasihku jadi wajar kalau aku cemburu."

"Ahhh~ manisnya," goda Heechul, Kyungsoo tersenyum malu mendengar ucapan Jongin. "Arraseo, sampaikan salamku pada paman dan Yaejin."

"Tentu, kami berangkat hyung," Heechul mengangguk. Melambai kecil dengan senyuman begitu mobil Jongin melaju meninggalkan halaman luas kediamannya.

"Aku senang melihatnya menemukan kebahagiaannya, bukan begitu Brit?" Mrs Hans mengangguk setuju pada Heechul.

"Semoga setelah ini tidak ada lagi hal buruk yang mengganggu kebahagiaan mereka," ucap Brit.

"Selalu ada hal yang akan mencoba menggoyahkan eratnya suatu hubungan, mereka hanya perlu berpegang teguh pada kepercayaan mereka terhadap hubungan yang tengah mereka jalani," jawab Heechul. Mrs Hans menoleh dengan sneyuman kecil.

"Saya heran kenapa sampai kini anda masih single Mr Kim," Heechul nyengir tanpa menjawab.

.

.

Supir keluarga Kim sudah berada dibandara untuk menjemput Jongin dan Kyungsoo. Jongin tampak menyapa ramah pria seusia ayahnya yang sudah bekerja dengan keluarga mereka sejak ia masih dibangku SMP itu.

"Paman Ahn, apakabar ?"

"Aku baik tuan muda."

"Paman Ahn sudah berapa kali sih kubilang berhenti memanggilku tuan muda, apalagi didepan kekasihku, nanti aku dipikir lelaki manja tukang perintah," canda Jongin. Lelaki setengah baya berambut putih dibeberapa helai rambutnya itu tersenyun mendengar ucapan Jongin.

"Selamat datang di Korea agasshi, anda bisa memanggil saja paman Ahn, saya supir keluarga Kim," ia memperkenalkan diri. Kyungsoo membungkukkan badan sopan pada lelaki yang lebih tua darinya itu.

"Ye, annyeong hasimnika, Do Kyungsoo imnida paman, paman bisa memanggilku Kyungsoo."

"Aigoo~ anda gadis yang sopan, pantas saja tuan muda menyujongin anda."

"Tsskk..tsskk..tssk paman jangan menggoda kekasihku," Jongin pura-pura kesal, paman Ahn tersenyum melihatnya. Dan pada akhirnya paman Ahn membantu membawakan koper mereka ke mobil dan segera menuju ke kediaman keluarga Kim. Kyungsoo sedari tadi tidak banyak bicara, ia memandang keluar jendela dengan hati yang gelisah. Merasa gugup karena saat ini ia kembali ke Korea bukan untuk menemui keluarganya karena pada kenyataannya keluarganya telah tiada ataupun bertemu Chanyeol dan keluarganya melainkan untuk menemui keluarga Jongin. Kyungsoo merasakan tangannya yang digenggam oleh Jongin ditarik lembut, ia menoleh dan mendapati Jongin mengecup lembut punggung tangannya dan memberikan senyuman lembutnya.

"Jangan khawatir, mereka akan menyujonginmu seperti aku menyujonginmu," Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. Dan pada akhirnya mobil tersebut memasuki kawasan Gangnam dimana salah satu perumahan elite dan terpandang berada. Kyungsoo tahu kawasan ini biasanya memang ditinggali oleh para selebriti. Tidak heran karena orang tua Jongin dulunya adalah selebriti. Kyungsoo mengerjap kagum pada sbeuah bangunan rumah bertipe minimalis. Tampak megah dan modern dengan halaman yang cukup luas dan hijau. Kyungsoo hampir menahan nafasnya saat melihat seorang wanita dengan dress berbahan ringan, berambut pendek tengah berdiri didepan pintu rumah sambil menggendong anaknya saat mobil yang membawa mereka berhenti.

"Kau siap sayangku?" Kyungsoo mengangguk dan Jongin mengejutkannya dengan sebuah kecupan kilat setelah si tampan memastikan paman Ahn sudah keluar dari dalam mobil.

"Pamaannn!" itu suara keponakan Jongin yang berteriak saat Jongin keluar lebih dulu dari dalam mobil.

"Aigoo Jeno-ya, kau sudah besar sekali hmm," Jongin mengambil alih Jeno kedalam gendongannya. Wanita cantik yang tak lain adalah kakak Jongin yakni Kim Yaejin mengintip kebelakang punggung Jongin dan menemukan Kyungsoo tersenyum ragu padanya. Ia justru membalas dengan senyuman sumringah.

"Ya, kau tidak mau memperkenalkan kekasih mungilmu," tukas kakaknya. Jongin berbalik, dengan Jeno digendongannya ia meraih Kyungsoo kedalam rangkulan tangan kanannya.

"Noona, kenalkan ini Kyungsoo, Do Kyungsoo," Kyungsoo membungkuk sopan dengan senyuman yang ia coba berikan senyaman mungkin karena ia merasa gugup saat ini.

"Annyeong hasimnika, choneun Do Kyungsoo imnida, bangapseumnida," Yaejin maju selangkah dan membawa Kyungsoo kedalam pelukan hangatnya yang perlahan membuat Kyungsoo merasa tenang dan nyaman.

"Annyeong Kyungsooie, aku kakak Jongin Kim Yaejin, senang sekali bisa melihat dan bertemu dirimu secara langsung," ia melepas pelukannya dan mengusuk gemas poni Kyungsoo. "Selamat datang dikeluarga Kim gadis mungil Jongin," pipi Kyungsoo bersemu merah namun ia tersenyum begitu manis.

"Nuguya, paman?" tanya keponakannya Jeno.

"Igeo, kekasih paman, ayo beri salam pada Bibi Kyungsoo," Jeno mengangguk.

"Bibi Kyungsoo, annyeong hasimnika," sapa bocah berusia 4 tahun itu. Kyungsoo mendekati Jeno dan menggapan tangannya, meremasnya lembut penuh keakraban.

"Annyeong Jeno-ya."

"Oh wasseo!" suara bass yang familiar, membuat kakak beradik Kim serta Kyungsoo menoleh kearah pintu yang sedari tadi memang terbuka. Disana berdiri kepala keluarga Kim yang masih terlihat gurat-gurat ketampanan masa mudanya, berdiri dengan gagah meskipun usianya tak lagi muda.

"Appa," Jongin memberikan Jeno pada Yaejin dan menghampiri ayahnya. Memberikan pelukan akrab kerinduan pada sang ayah. Meskipun tidak sering berbicara banyak dan akrab namun setelah ibunya tiada kini hanya ayahnyalah orang tua yang ia miliki.

"Senang melihatmu diruman, nak," Jongin mengangguk. "Ahh, kau tidak mau memperkenalkan appa pada kekasihmu?" Yaejin mengajak Kyungsoo mendekat. Jongin meraih jemarinya lembut dan mengaitkannya dengan percaya diri didepan kakak dan ayahnya.

"Ini Do Kyungsoo, kekasihku, Kyungsoo-ah ini ayahku," Kyungsoo menatap ayah Jongin lalu membungkuk sopan dan tersenyum begitu manis. Bukan untuk menarik perhatian namun untuk menunjukkan rasa senang dan hormatnya. Astaga, ia masih gugup namun saat melihat Kim Sanghyun secara langsung ia bukan main kagum pada ketampanan ayah Jongin. Pantas saja Jongin dan Yaejin diberkahi wajah menawan. "Katakan sesuatu baby."

"Do Kyungsoo imnida, manaso bangapseumnida," ucapnya malu-malu. "Aku..bolehkah aku mengatakan sesuatu oppa?"

"Katakanlah," Kyungsoo memandang ayah Jongin dengan tatapan kagum namun sopan.

"Anda sangat tampan, aku pernah melihat beberapa film anda saat masih muda dan anda bahkan tetap tampan meskipun sudah seusia ini," pujinya polos dan malu-malu. Kepala keluarga Kim tidak bisa menahan tawanya melihat kepolosan Kyungsoo.

"Kekasihmu lucu sekali, nak, dan terima kasih atas pujiannya gadis mungil Jongin."

"Sayangku, kenapa kau memuji ayahku sih, aku lebih tampan dari ayahku," Yaejin mencubit gemas lengan Jongin.

"Sejak kapan sikap bocahmu muncul lagi hahh, ingat usiamu!" Jongin acuh saja, ia justru mengajak Kyungsoo masuk kedalam rumah bersama ayahnya tak menghiraukan Yaejin Namun Yaejin tersenyum dibalik punggungnya sambil menggendong Jeno. Senang melihat adiknya bisa kembali tersenyum seperti Jongin yang ia kenal. Buka pria berdasi nan kaku yang selama ini selalu menjadi imej Jongin.

.

.

Suasana kediaman Kim tampak sedikit ramai dari biasanya, hal ini tentu saja karena peringatan kematian ibunya yang sedang berlangsung. Yaejin dengan senang hati memperkenalkan Kyungsoo pada keluarga besar mereka yang menghadiri acara tersebut. Dan Kyungsoo perlahan mampu beradaptasi dengan baik ditengah-tengah keluarga Kim. Yaejin adalah sosok ramah yang menyenangkan. Ia tidak melepaskan Kyungsoo dari pengawasannya karena khawatir Kyungsoo akan merasa canggung. Jongin sendiri harus bertemu beberapa saudara sepupunya yang sudah lama tidak pernah bersua semenjak ia tinggal di Manhattan.

"Bagaimana perasaanmu?" bisik Jongin mengejutkan Kyungsoo yang kini berada didapur tengah mengatur buah-buahan yang telah di tiriskan dan mengaturnya diatas piring besar.

"Astaga oppa, kau mengejutkanku," Jongin memeluknya dari belakang, Kyungsoo tidak keberatan ia justru meneruskan kegiatan mengatur buahnya.

"Aku tidak pernah melepaskan pandanganku darimu, kau tampak menikmati acaranya, berbaur dengan keluargaku bersama noona," Kyungsoo memiringkan badannya dan menyodorkan sepotong semangka ke mulut Jongin. Jongin menggigitnya setengah dan Kyungsoo memakan setengahnya. "Ini manis sepertimu," Kyungsoo tertawa kecil mendengarnya.

"Oppa memiliki keluarga yang luar biasa, mereka bisa menerimaku berada ditengah-tengah mereka, aku sempat gugup namun Yaejin noona membantuku untuk beradaptasi dan menyamankan diri," jawab Kyungsoo. "Aku merasa…memiliki keluarga baru," lirihnya. Jongin memeluk tubuh mungil itu didalam dekapannya. Menyenderkan punggung Kyungsoo pada dadanya dan mengecupi lembut puncak kepala Kyungsoo.

"Kau merindukan orang tuamu?" Kyungsoo mengangguk.

"Terima kasih oppa, karena telah membawaku kedalam keluargamu, dan membiarkan aku merasakan kehangatan berada didalam sebuah keluarga lagi," Jongin membalik tubuh Kyungsoo dan mengecup keningnya lembut.

"Aku yang berterima kasih kepadamu, kau membawa diriku kembali, terima kasih baby," Jongin menyatukan keningnya dan Kyungsoo hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

"Ehem…ehem!" Kyungsoo sontak mendorong dada Jongin menjauh saat ia mendengar dehem suara lelaki yang ternyata adalah suara ayah Jongin. Ayahnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Namun ia juga pernah muda dan mengalami letupan-letupan penuh cinta yang bisa ia lihat kini terpancar jelas dimata anak bungsunya itu.

"Ab..abeonim," gugup Kyungsoo. Jongin tersenyum mendengar panggilan Kyungsoo pada ayahnya.

"Jongin -ah, dialarang mengganggu seorang gadis saat ia sedang sibuk didapur," Jongin nyengir kearah ayahnya yang mengedipkan mata. "Ayo ikut kedepan, ayah ingin memperkenalkanmu pada beberapa teman ayah," tanpa segan Jongin mengecup pipi Kyungsoo yang memerah dan berlalu mengikuti ayahnya.

.

.

Keesokan harinya dikediaman Kim, Kyungsoo terbangun ketika mendengar suara seseorang muntah. Ia mengucek matanya dan mengedarkan pandangan mencari keberadaan Jongin. Semalam ketika acara sudah selesai dan para pelayan sudah membersihkan sisa-sisa pesta Jongin menyelinap ke kamar Kyungsoo. Ia ingin tidur bersama Kyungsoo. Tidak untuk melakukan apapun, ia hanya mulai terbiasa memeluk Kyungsoo saat ia tidur dan terbangun dengan Kyungsoo dipelukannya. Hanya saja tidak mungkin ia melakukannya di rumahnya keluarganya saat ini. Kalaupun ia melakukannya maka ia akan melakukannya secara diam-diam seperti semalam.

"Hwekk…huweekk!" Jongin memuntahkan seluruh isi perutnya didalam kloset, Kyungsoo yang mendengar suara suara muntahan Jongin itu segera bangkit dan menuju ke kamar mandi.

"Ya ampun oppa, gwechanha?" Kyungsoo memijit tengkuk belakang Jongin dan menepuk-nepuk lembut punggungnya. Jongin menggeleng dengan lemas. Tanpa merasa jijik Kyungsoo membantu Jongin mengelasp sisa muntahan dibibirnya dengan jemarinya. Menekan tombol kloset untuk membersihkan bekas muntah Jongin dan membopong pelan tubuh itu untuk bersandar diwastafel sementara Kyungsoo mencuci tangannya dan menyalakan air hangat. Membasahi tangannya dengan air hangat dan mengelap wajah Jongin yang pucat pasca muntah barusan. "Apa kepala oppa pusing, ada yang sakit, perut atau…" Jongin justru menjatuhkan tubuhnya pelan kearah tubuh Kyungsoo. Kyungsoo menangkapnya dengan cepat meski limbung. Walaupun lemah namun Jongin memeluk pinggang Kyungsoo dan menyerukkan kepalanya didada Kyungsoo.

"Kepalaku pusing, perutku juga tidak enak baby," lirihnya.

"Mungkin karena semalam oppa minum soju, Yaejin eounni bilang oppa tidak pernah minum soju sebelumnya," Jongin mengangguk lemah.

"Aku bisa minum alcohol kecuali soju."

"Ayo kita kembali kekamar, oppa harus beristirahat."

"Aku mau dikamarmu saja," rengeknya seperti bocah.

"Iya, dikamarku saja, kajja oppa," dengan perlahan Kyungsoo membopong tubuh lemas Jongin. Jongin tidak sepenuhnya menumpu tubuhnya pada Kyungsoo karena ia tahu kalau tubuhnya pastilah berat. "Tidurlah, aku akan membuatkan bubur untuk oppa, ya."

"Aku ingin memelukmu."

"Oppa akan memelukku setelah sarapan dan makan obat, bagaimana?" Jongin masih keras kepala.

"Tidak mau."

"Ayolah oppa, hmm…sebentar saja, setelah itu oppa bisa memelukku seharian."

"Janji seharian," Kyungsoo mengangguk. Maka Jongin akhirnya melepaskan Kyungsoo. Kyungsoo menyelimutinya dan mengecup keningnya lembut.

"Aku akan kembali, sebentar saja," bisiknya lembut. Kyungsoo bergegas keluar kamar dan berpapasan dengan Yaejin ditangga saat akan turun menuju dapur.

"Kau sudah bangun Kyungsooie."

"Iya eounni, Jongin oppa sepertinya tidak enak, ia baru saja muntah."

"Itu pasti karena soju yang ia minum semalam."

"Kurasa juga begitu, aku akan membuatkannya bubur dan sup ginseng," Yaejin mengangguk.

"Kau perlu bantuan?"

"Aniya eounni gwechanha."

"Kau bisa menemukan bahan-bahan untuk memasakkanya didapur ya, eounni mau melihat Jeno dikamarnya dulu," Kyungsoo mengangguk.

.

.

Yaejin memperhatikan tingkah adiknya yang begitu manja pada Kyungsoo, bahkan tidak segan-segan memeluk pinggang Kyungsoo sementara simungil menyuapinya. Kyungsoo memasang tatapan tidak enak hati pada Yaejin namun Yaejin menggeleng bermaksud mengatakan tidak apa-apa.

"Jongin memang manja kalau sedang sakit, biasanya eomma yang selalu menjadi bantal guling untuk ia peluk selama ia tertidur," jawab Yaejin. "Dan Kim Jongin, kau harus berhati-hati kalau mau menyelinap dimalam hari, ayah bisa saja memergokimu bodoh," pipi Kyungsoo bersemu merah mendengarnya. Jongin masa bodoh saja.

"Noona jangan mengomeliku, aku sedang sakit ini," Yaejin mencibir namun mengedik kearah Kyungsoo dengan sebuah senyuman.

"Eounni titip bayi besar ini padamu ya, pastikan ia menghabiskan makanan dan meminum obatnya, kalau perlu dokter kamu bisa menelpon eounni dan eounni akan meminta suami eounni untuk datang memeriksa Jongin," ujar Yaejin panjang lebar.

"Ya eounni, gomawo," sebelum pergi Yaejin mengusuk poni Kyungsoo.

"Ia beruntung memilikimu, eounni titip adik eonni yang manja ini padamu ya," Kyungsoo mengangguk dengan senyuman. Kyungsoo merasa begitu disayangi dan dikasihi berada ditengah-tengah keluarga Jongin. Jongin tidak menghabiskan buburnya karena ia bilang perutnya terasa penuh. Namun ia menghabiskan sup ayam ginsengnya dengan lahap. Dan Kyungsoo juga memberikannya obat untuk mengurangi sakit kepalanya.

"Merasa lebih baik?" tanya Kyungsoo berjam-jam kemudian karena ia terjaga saat merasakan sesuatu menekan dadanya dan itu adalah kepala Jongin. Jongin tersenyum dengan wajah yang sudah tidak terlalu pucat.

"Hmm…aku memilikimu maka semuanya menjadi terasa lebih baik," Kyungsoo mengecup kening Jongin lembut. "Kau jadi berkunjung ke rumah pamanmu?"

"Aku bisa pergi nanti saat oppa sudah sembuh."

"Kalau begitu kita pergi sekarang saja, aku sudah lebih baik."

"Oppa yakin, tapi oppa…"

"Aku yakin, ayo kita bersiap-siap," Jongin menegakkan benar-benar sudah merasa lebih baik. Sup ayam ginseng Kyungsoo membuat tubuhnya menjadi lebih hangat dan obat membantunya untuk cepat sembuh. Ditambah ia dipeluk oleh Kyungsoo selama ia tertidur.

.

.

Keluarga Park menyambut kedatangan Kyungsoo dan Jongin dengan sukacita. Kyungsoo telah mengabarkan kalau ia dan Jongin akan berkunjung ke kediaman Joonmyeon. Bibinya Yixing telah menyiapkan aneka makanan lezat kesukaan Kyungsoo. Ia juga bertanya apa saja masakan kesukaan Jongin. Dan Kyungsoo mengatakan Jongin suka semua masakan Korea namun jangan terlalu pedas.

"Annyeong hasimnika, Kim Jongin imnida," Jongin memperkenalkan dirinya dengan sopan. Joonmyeon tersenyum hangat tidak menyangka bisa bertemu muka langsung dengan anak dari Kim Seunghyun dan juga salah satu pengusaha muda sukses itu.

"Park Joonmyeon imnida, ini istriku Kim Yixing dan ini putraku Park Chanyeol,"

"Aku sudah bertemu dengan Chanyeol saat ia ke Manhattan," Chanyeol tersenyum dan berjabat tangan dengan Jongin.

"Senang melihatmu dan Kyungsoo di Seoul, Jongin -ssi,"

"Aku juga," angguk Jongin. Nyonya Park memboyong mereka keruang makan untuk segera menikmati makan malam bersama. Kyungsoo bisa melihat binar dimata Jongin saat melihat aneka makanan khas Korea yang dimasak oleh Yixing. "Anda memasak sangat banyak nyonya Park," Yixing tersenyum.

"Kau bisa memanggilku bibi Yixing seperti Kyungsoo," ucap Yixing. "Ini bukan masalah, aku suka memasak dan senang bisa menjamu kau dan Kyungsoo dengan begitu banyak makanan lezat."

"Terima kasih bibi Yixing," ucap Jongin. Berada ditengah-tengah keluarga Kyungsoo dan melihat sosok Yixing membuatnya teringat pada sosok ibunya. Meskipun ibunya begitu sibuk namun jika sudah berada dirumah ia sendiri yang akan memasakkan makanan untuk keluarganya. Pembicaraan berlanjut sambil menikmati makan malam lezat yang disajikan oleh keluarga Kim. Jongin bahkan malu-malu menambah karena masakan bibi Yixing memang sangat lezat.

"Kau jangan khawatir Jongin-ssi, jika kau menikah dengan Kyungsoo maka ia akan memasakkan masakan lezat untukmu setiap harinya," ujar Chanyeol membuat Kyungsoo membolakan matanya pada sahabatnya itu namun dengan pipi yang memerah.

"Ya, aku yakin itu," angguk Jongin. "Ia pernah membuatkan masakan Korea untukku dan rasanya sangat lezat, Kyungsoo yang terbaik," pujinya smabil memandang lembut pada Kyungsoo.

"Seharusnya hal seperti ini dialami Kyungsoo bersama keluarganya," Joonmyeon membuka suara, ia mengelus puncak kepala Kyungsoo lembut dengan tatapan penuh kasih sayang layaknya orang tua pada anaknya. "Aku sudah menganggap Kyungsoo seperti anakku sendiri, dan aku tidak berkebaratan kau berada disini dan juga menerimamu menjadi bagian dari keluarga selama itu membuat Kyungsoo bahagia,".

"Terima kasih paman," ucap Kyungsoo.

"Kyungsoo sudah seperti putri kandung kami sendiri Jongin-ssi, kami telah melihatnya tertawa dan menangis," ujar Yixing pula. "Maka kami berharap kau bisa memberikannya sebuah kebahagiaan, dan jika ia menangis aku harap itu adalah tangis kebahagiaan. Sayangilah dia selalu," Jongin mengangguk dengan tegas sambil menggenggam tangan Kyungsoo. Kyungsoo memiliki orang-orang yang begitu mengasihinya. Dan Jongin tidak merasa kecil akan hal itu karena iapun memiliki rasa sayang yang besar untuk Kyungsoo bahkan mungkin telah berubah menjadi cinta tanpa ia sadari. Meskipun hingga kini ia belum pernah mengatakannya pada Kyungsoo.

.

.

Malam itu Jongin tidak membawa Kyungsoo kembali ke kediaman keluarganya, ia jsutru membawa Kyungsoo kesebuah penthouse yang ia miliki didaerah Incheon. Penthouse itu sangat mewah dan juga berada ditingkat teratas hingga Kyungsoo bisa melihat panorama malam yang begitu indah. Jongin tentu memiliki tujuan kenapa ia membawa Kyungsoo kemari. Ia ingin bermesraan dan menghabiskan malam bersama Kyungsoo hanya berdua saja. Ia tidak mungkin melakukannya dirumahnya. Tidak dengan adanya ayahnya, Yaejin dan suaminya juga Jeno keponakannya. Meskipun ia yakin ayahnya berfikiran terbuka begitu juga Yaejin namun ia tidak mau memberi contoh buruk secara terang-terangan pada Jeno.

Cklekk ! Jongin yang sedang menyesap wine menoleh kearah pintu, disana tampak Kyungsoo yang baru saja selesai mandi. Dengan rambut setengah basah ia tampak begitu menggoda. Dan Jongin tidak bisa menahan hasratnya. Lelaki yang sudah topless itu berjalan pelan menghampiri Kyungsoo. Memeluknya dari belakang sambil tangannya bergerak melepas bathrobe Kyungsoo. Kyungsoo berbalik dan seketika tali bathrobe tersebut lepas memperlihatkan celah tubuh telanjangnya. Jongin menapakkan tangannya pada leher Kyungsoo, mengelusnya lembut hingga tangannya perlahan menggeser bathrobenya dan terjatuh memperlihatkan bahu sebelah kanan Kyungsoo. Jongin mendaratkan kecupan kupu-kupu yang membuat Kyungsoo meremang. Jongin menurunkan bathrobe dibahu kiri Kyungsoo hingga kini bathrobe tersebut jatuh kelantai. Tubuh telanjang itu ditarik mendekat ketubuh keras dan liat JJongin hingga sitampan mendesis saat merasakan puncak payudara Kyungsoo bersentuhan dengan kulitnya. Jongin menyibah rambut setengah basah Kyungsoo dan mengecup, melumat leher Kyungsoo. Tubuh itu bahkan belum sepenuhnya kering dan kini bertambah basah dan lengket karena keringat yang ditimbulkan oleh kegiatan panas mereka. Tangan Kyungsoo dengan perlahan meraih kancing celana Jongin dan membukanya dengan bibir saling bertautan dengan bibir Jongin diatas sofa tunggal yang mengarahkan mereka pada panorama malam kota Seoul. Kyungsoo berhasil membuka kancing celana, Jongin sedikit menaikkan bokongnya agar simungil bisa menarik turun celana Jongin. Ia senang Kyungsoo yang melakukannya. Jongin meremas gemas bokong Kyungsoo yang berada dipangkuannya. Bibirnya menemukan nipple Kyungsoo dan melumatnya membuat Kyungsoo mendesah dan meremas rambut belakangnya agak kencang. Jongin memainkan nipple Kyungsoo dengan lidah didalam mulutnya.

"Ahnn…sir!" Jongin merasakan gairahnya terbakar begitu mendengar desahan Kyungsoo lengkap dengan panggilan favoritnya itu. Jongin mendorong dirinya untuk memasuki Kyungsoo. Kyungsoo mendongak begitu merasakan kejantanan Jongin sedang berusaha memasukinya. Ia memutar pinggulnya untuk membantu memudahkan Jongin melakukan penetrasi.

"Kyunghh…" Jongin menggeram karena gerakan Kyungsoo seakan memelintir kejantanannya. Astaga ia merasakan pening akan gairahnya. "Baby, pegangan, aku mungkin akan sedikit keras," Kyungsoo mengangguk.

"La..lakukan..nnhh!" Kyungsoo terlonjak dengan kepala semakin mendongak dan bibir terbuka, antara nikmat dan juga sakit saat Jongin menekan jauh kedalam dirinya. Jongin membuat gerakan yang liar saat ia mendorongnya semakin kedalam. Kyungsoo kewalahan, ia meremas rambut Jongin saat orgasmenya siap datang. "Akkhh… ahn!" ini pertama kalinya Kyungsoo menjerit begitu keras saat orgasmenya. Ia merasa begitu penuh. Jongin bangkit dan melepas kontak diantara mereka. Ia menempatkan tubuh depan Kyungsoo pada jendela besar yang samar memantulkan bayangan ketelajangan mereka. Nafas Kyungsoo masih terengah. Jongin meremas payudara Kyungsoo dari belakang dengan tangan memeluk pinggang Kyungsoo dan kembali melakukan penetrasi. Kyungsoo meringis menahan perih. Jujur saja ini pertama kalinya Jongin melakukan penetrasi dengan posisi ini. Kyungsoo tersentak membentur kaca jendela saat Jongin bergerak.

"Ngh… !" Jongin menggertakkan bibirnya menahan hasratnya karena demi apa Kyungsoo benar-benar ketat bahkan setelah seringnya mereka berhubungan intim. Bibirnya menjamah telingan Kyungsoo dan melumatnya sementara tangannya tidak berhenti meremas payudara Kyungsoo. Kyungsoo menahan tubunya dengan tangan kananya menapak pada kaca. Ia terengah-engah dan kakinya terasa mulai lemas seperti jelly.

"Anh..anh.. sir, anh..!" Jongin memegang pinggul Kyungsoo dan menekan dirinya semakin dalam membuat Kyungsoo tersedak ludahnya karena gerakan Jongin. Jongin kehilangan kendali atas dirinya. Gairahnya memuncak dan ia perlu mencapai orgasmenya hingga ia tidak bisa menahan dirinya yang bergerak begitu liar. Menaikkan satu kaki Kyungsoo membuat Kyungsoo harus menumpukan dirinya dengan kedua tangan di kaca. Samar-samar Kyungsoo bisa melihat pantulan dirinya dengan Jongin yang bergerak dan mengerang dibelakangnya.

"Akhh!" Jongin mendesah untuk pertama kalinya selama mereka melakukan hubungan intim. Ia menumpahkan dirinya didalam Kyungsoo hingga cairannya bahkan mengalir disepanjang paha Kyungsoo. Tubuh besar Jongin merengkuh Kyungsoo kedalam pelukannya begitu ia merasakan Kyungsoopun orgasme dan tubuhnya limbung. Keduanya terengah dengan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Selama ini Jongin selalu lembut dan tidak seliar ini. "Apa aku menyakitimu baby?" tanya Jongin menjatuhkan tubuhnya lembut diatas sofa dengan jalinan diantara dirinya dan Kyungsoo yang telah ia lepas. Kyungsoo meringkuk didalam pelukannya. Jongin memutar kesamping tubuh Kyungsoo hingga ia bisa memandang wajah lelah dan sayu Kyungsoo. Jongin mengelus lembut pipi Kyungsoo, menyingkirkan anak rambut yang lengket di wajahnya.

"Tidak..aku baik..oppa," bisiknya lirih meskipun Baekyun masih bisa merasakan sedikit perih di kewanitaannya.

"Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diriku," Kyungsoo membawa kepala Jongin kedadanya dan mengelus surai belakang Jongin lembut.

"Aku baik-baik saja oppa," Jongin mengusuk pipinya pada pipi payudara Kyungsoo. Kyungsoo terkekeh geli diperlakukan demikian oleh Jongin. Jongin berdiam disana beberapa menit, keduanya terdiam untuk saling meresapi detak jantung yang berdebar. Jongin tersenyum merasakan detak jantung Kyungsoo ditelinganya. Ia menegakkan tubuhnya dan menangkup wajah mungil Kyungsoo, memberikan sebuah lumatan lembut pada bibir merah merekah yang lembab itu.

"Aku mencintaimu," bisiknya lembut. Dan Kyungsoo bisa merasakan bulu romanya berdiri dan jantungnya berdetak kencang. Jongin mengucapkannya dengan begitu lembut dan tulus. Mata Kyungsoo memejam saat Jongin menciumi sudut-sudut bibirnya dengan tawa kecil. "Aku bilang.. aku mencintaimu sayangku," Kyungsoo membuka matanya dan menarik Jongin lebih dekat. Ia raup bibir Jongin dengan bibir mungilnya dan menekan tengkuk Jongin lembut.

"I..love..you..more," jawab Kyungsoo mesra disela-sela pagutannya. Jongin tidak pernah merasa sebahagia dan selengkap ini sebelumnya. Dan kedua sejoli itupun berpelukan erat berbagi kehangatan dengan hati yang dipenuhi oleh buncahan cinta. Tanpa tahu mungkin keesokan harinya salah satu dari sipengucap mempertanyakan kembali perasaannya.

.

.

Jika semalam Kyungsoo yang terbangun karena mendengar suara seseorang yang tengah muntah maka pagi ini Jongin terbangun karena menyadari Kyungsoo tidak berada disebelahnya. Ia mengucek matanya sambil mengedarkan pandangan kesekeliling kamarnya di penthouse.

"Baby!" panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Nne…" Kyungsoo menjawab lirih dari dalam kamar mandi. Jongin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Maka ia meraih boksernya dan memajonginnya dan menyusul Kyungsoo kekamar mandi. Baru saja sampai didepan pintu kamar mandi Jongin dikejutkan oleh Kyungsoo yang membungkuk di meja panjang wastafel dengan tangan memegang perutnya. Namun yang membuat ia terkejut adalah aliran darah di betis Kyungsoo hingga menodai lantai marmer kamar mandi.

"Baby, astaga apa yang terjadi?" Jongin mendekati Kyungsoo dan menegakkan tubuh mungil Kyungsoo lembut, hingga ia bisa menangkap wajah pucat Kyungsoo. "Oh my god, baby kau bisa mendengarku, baby?" namun Kyungsoo telah terkulai sepenuhnya dipelukan Jongin. Jongin tampak panik karena Kyungsoo pingsan.

"Tidak,tidak, Baby, sadarlah!" dengan panik Jongin menggendong Kyungsoo keluar dari kamar mandi. Dan setelahnya ia bergerak secepat kilat menelpon ambulan yang datang tidak lama kemudian. Ia ikut masuk kedalam ambulan tersebut bersama Kyungsoo yang masih pingsan dan begitu pucat. Sesampainya di rumah sakit Kyungsoo segera dilarikan ke UGD sementara Jongin menungguinya diluar ruangan. Ia bolak-balik didepan ruangan tersebut sambil sesekali mengintip kedalam ruangan dan melihat salah seorang suster yang akhirnya menyibak tirai dimana Kyungsoo tadi dibawa kedalamnya. Jongin tidak tahu sudah berapa lama ia berada disana. Ia terlalu panik untuk menelpon keluarganya dan mengabarkan kalau Kyungsoo berada dirumah sakit.

"Jongin!" Jongin menoleh kearah suara yang memanggilnya dan mendapati kakak iparnya berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya sambil menghampiri Jongin.

"Hyung, Kyungsoo masuk rumah sakit, ia… aku tidak mengerti tapi ia seperti mengalami pendarahan," pintu ruang UGD terbuka menampakkan seorang wanita ber jas putih. Ia tersenyum pada kakak ipar Jongin lalu mengalihkan pandangan pada Jongin.

"Apa anda yang datang bersama gadis yang baru saja mengalami pendarahan?" tanya dokter perempuan itu.

"Ya, saya Kim Jongin dan ia kekasih saya," jawab Jongin.

"Ada apa dokter Kwon, apa pasien mengalami pendarahan yang parah?" dokter dengan name tag Kwon Yuri itu tersenyum pada kakak ipar Jongin namun sedetik kemudian ia merubah kembali ekspresinya menjadi datar saat menoleh kearah Jongin.

"Melakukan hubungan intim disaat istrimu sedang hamil tidak dilarang asalkan anda melakukannya dengan hati-hati," ujarnya memulai namun membuat Jongin tersentak kaget dan kakak iparnya tidak kalah terkejutnya. "Ia sedang hamil muda dan anda hampir saja kehilangan bayi anda jika tadi ia tidak segera dibawa kemari," Jongin terdiam.

"Jadi ia sedang hamil?" tanya kakak ipar Jongin. Dokter Kwon memandang kakak ipar Jongin dan Jongin bergantian.

"Anda tidak mengetahuinya?" Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Entah itu dimaksudkan sebagai jawaban ketidak tahuan atau sebuah penolakan tentang kenyataan yang baru saja ia terima.

.

.

Kyungsoo terjaga lima menit yang lalu dan menemukan dokter Kwon tengah memeriksa keadaannya dan memberitahukan sebuah kabar mengejutkan. Normalnya ia seharusnya merasa bahagia saat ini. Karena ia tengah mengandung, usia kandungnya memang masih 2 minggu dan mengejutkan karena kandungan bisa begitu kuat dikehamilan muda itu. Namun ada yang lebih dicemaskan oleh Kyungsoo karena Jongin tak tampak dikamar inapnya saat ia terjaga. Kakak iparnya sudah datang menjenguk dan mengucapkan selamat. Kyungsoo tidak tahu harus bahagia atau tidak tetapi ia perlu bertemu dengan Jongin untuk mengetahui reaksinya. Kyungsoo menarik nafas pelan, tepat saat itu pintu kamar inapnya dibuka dan sosok Jongin muncul. Mata itu menatap Kyungsoo dari jarak jauh karena ia menghentikan langkahnya didepan pintu. Namun tatapan itu tidak sehangat yang pernah diingat Kyungsoo. Dingin dan datar membuat hati Kyungsoo resah.

"Oppa," lirihnya. Jongin berjalan mendekat tanpa melepaskan tatapan datarnya pada Kyungsoo dan duduk dikursi disamping kasur Kyungsoo.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan nada datar yang membuat Kyungsoo bergidik. Ini benar-benar bukan Jongin yang biasanya.

"Oppa..aku.." bola mata itu terpancang dengan tajam menatap Kyungsoo yang menjadi ciut untuk berbicara.

"Aku mempercayaimu Do Kyungsoo," desisnya dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari mata Kyungsoo berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu oppa," cicitnya. "Aku sungguh-sungguh…"

"Kau bersungguh-sungguh melakukannya padaku?" tanya Jongin. "Bahkan setelah aku mengucapkan kalau aku mencintaimu semalam, apa kau mendapatkan yang kau inginkan sekarang?" Kyungsoo menggeleng.

"Aku tidak pernah berfikiran seperti itu oppa sungguh," air mata Kyungsoo sudah luruh membasahi pipinya. Jongin memalingkan pandangannya. Ia tidak mengerti, disudut hatinya ia tahu bahwa ia mencintai Kyungsoo tapi ia merasa Kyungsoo merusak kepercayaannya dengan kabar kehamilan yang dibawanya ini. Bagaimana jika seandainya saja Jongin belum benar-benar mencintainya, apa Kyungsoo akan meneruskan semua ini dan melakukan apa yang wanita-wanitanya terdahulu lakukan padanya.

"Aku juga seorang wanita oppa, aku menginginkan sebuah pernikahan," ucap Kyungsoo dengan air mata yang masih mengalir. "Aku ingin membangun sebuah keluarga denganmu, tapi aku tidak akan melakukan hal seperti apa yang kau pikirkan terhadapku oppa. Aku akan menunggumu… tidakkah kau mempercayaiku oppa?" Jongin bangkit dari kursi.

"Entahlah," ia tertawa sumbang seakan menertawakan dirinya sendiri. "Kau menanda tangani woman's contract," ia mengedikkan bahu. Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan tidak percaya, sisa air mata jatuh lewat pelupuk matanya. Bagaimana bisa Jongin berkata demikian, secara tidak langsung dia mengatakan Kyungsoo sama saja dengan semua wanita yang menandatangani woman's contract. Kyungsoo mengatupkan bibirnya menahan isakan. Jongin bangkit dari kursi dan berbalik memunggungi Kyungsoo.

"Kita akan membicarakan tentang masa depan bayi itu di Manhattan, setelah kau keluar.."

"Pergilah," lirih Kyungsoo membuat ucapan Jongin terhenti. Suara Kyungsoo sangat lirih sarat akan rasa kecewa didalamnya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," Jongin sontak berbalik dan menatap Kyungsoo dengan pandangan yang sulit diartikan, antara tidak percaya dan juga kesal.

"Do Kyungsoo…"

"Secara kontrak aku bukan lagi wanitamu," Kyungsoo membuka suara, memandang kosong pada seprai putih yang membalut tubuhnya. "Kontrak itu telah berakhir beberapa waktu lalu, kau tidak perlu mempertanggung jawabkan apapun terhadapku. Aku tidak akan melakukan test DNA karena aku tidak akan menuntutmu untuk mengakui bayi ini…pergilah," Kyungsoo membaringkan tubuhnya dan membelakangi Jongin dengan mata yang kembali mengeluarkan bulir-bulir kepedihan. Jongin masih berdiri disanam tercekat tidak percaya dengan tangan mengepal. Bagaimana bisa seorang Do Kyungsoo meperlakukan ia seperti ini. Ia adalah Kim Jongin. Dengan segala keangkuhan dan keegoisannya Jongin berbalik dan berjalan keluar dengan sedikit bantingan pada pintu. Kyungsoo terisak dibalik seprai. Jemarinya dengan lembut menyentuh perutnya dimana sebuah kehidupan tengah bernaung didalam perutnya. Apa yang harus ia lakukan kini. Baru saja sebuah kebahagiaan menaunginya dan Jongin. Namun kini sebuah kabar mengejutkan tentang kehamilannya membuat Kim Jonginnya yang lembut berubah menjadi pria yang tidak ia kenali. Haruskah mereka mengucapkan selamat tinggal? Disaat ucapan selamat datang bahkan baru terucap.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

maaf kalo masih banyak typo, maaf banget

rencananya aku bakal post dua chap nih, semoga pada nunggu ya,

dan untuk seterusnya aku bakal post satu chap heheheheeh

;)