Pesan Tak Bertuan

Chapter 4~

Enjoy!

Sekarang adalah waktu penentuan. Mati dibunuh para fans seorang Takao Kazunari atau mati di tangan sang pujaan hati, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu. Segala cara pemuda bimoli (aka. bibir monyong lima senti) menghindari fans Kazu-Kazu (itu nama fans Takao) dari nongkrong di wc selama jam istirahat, bersembunyi di kelas tetangga, sampai pura-pura sakit dan pergi ke UKS. Nijimura sangaaaat takut.

Pertama, isi fans Kazu-Kazu adalah pria-pria jones yang berotot dan kebanyakan mereka adalah anggota klub sumo. Ketua mereka adalah Okamura Kenichi, kelas 3-2. Nijimura nggak mau berurusan sama pak gorila itu. Ogah banget! Diriku ini masih ingin nonton spons yang selalu tayang di gelobal tivi. Diri ini juga masih mau makan nasi goreng buatan Mitobe-senpai.

"Udah, tenang aja bro. Klub sumo juga sedang latihan." Hibur Miyaji sambil nepuk-nepuk pundak Nijimura. Mayuzumi cuma mangut-mangut. Sebenarnya mereka berdua pengen cincang-cincang tubuh sang sahabat. Mereka iri brohhh! Iri banget! Kenapa cowok monyong ini bisa menyangkut para uke ataupun cewek yang unyu-unyu gemezin. Zialan.

Tetapi keinginan itu tidak akan mereka jalankan, karena Nijimura masih banyak hutang yang belum dibayar.

Sekarang dirinya sudah di taman belakang sekolah. Menunggu seseorang yang unyuunyupengendiemutdiputardijilatdicelupin untuk mendengar pernyataan cinta nya. Sekarang tempat itu sudah dipenuhi oleh siswa-siswi SMA Teiko. Ada yang sudah siapin kamera seperti Mibuchi dan asistennya –Otsubo Tae—yang hidungnya sudah mengeluarkan cairan merah, ada juga yang menangis dan menyumpahi Nijimura habis-habisan seperti Fukui dan Wakamatsu, ada yang main kitakorean seperti Izuki-abaikan, ada juga yang berdo'a semoga Nijimura selamat seperti Nakamura. Oh, dirimu terlalu baik, Nakamura sayang.

Untung aja nggak ada sang kekasih karena ada perlombaan karate. Syukur~

"Nijimura-san~..." Akhirnya Kazu-Kazu datang ugak.

(Nijimura mimisan untuk pertama kalinya)

Semua jadi sunyi. Dedaunan pohon jatuh sengaja menambah suasana romantis untuk mereka berdua (Nijimura : romantis dengkulmu!). Wajah Takao sudah bersemu merah, dan seribu makian datang menyerbu telinga Nijimura.

"Sial, Takao berubah menjadi super moe."

"Mati saja kau, Nijimura teme..!"

"Aku doa'kan supaya mulutnya semakin tumbuh maju dan berkembang..!"

Pemuda yang terkena makian mengakui telinga nya sangat panas.

"Ekhem. Ada apa, Takao?" Tanya Nijimura sok tenang. Takao senyum-senyum malu. "Ano, Nijimura-san. Maaf ya aku ngirim PTB doang ke Nijimura-san. Sekarang saatnya aku berani menyatakan perasaanku."

Nijimura angguk-angguk aja walaupun sebenarnya ia sedang dimasa pikiran yang labil. Tolak atau terima, sama saja membuat Nijimura mati.

"Putusin Himuro-san dong..!"

.

.

*Sementara, kita lihat Mayuzumi dan Miyaji*

Kini mereka berdua berada di belakang kerumunan manusia-manusia yang sedang menonton Nijimura dan Takao. Tidak, bukannya mereka tidak tertarik. Mereka sedang menahan sang kekasih mantan kapten basket Teiko. Seorang pemuda berambut hitam dengan poni panjangnya, lalu masih memakai *dogi karena baru saja pulang dari lomba nya.

"Minggir kalian berdua." Titahnya kepada Miyaji dan Mayuzumi. Pemuda bersurai pirang itu sudah beri kode ke pemuda bersurai abu-abu untuk berbicara kepada Tatsuya. Akhirnya Mayuzumi pun berucap.

"Ah, elu kan cuman bisa one-on-one. Coba aja dua lawan satu. Elu pasti nggak bisa menang dari kami." Miyaji tepuk jidat. Ucapan Mayuzumi seperti minta bunuh diri. Tadi pagi aja udah buat keseleo, apalagi sekarang. Pemuda penyuka nanas itu juga melihat aura-aura gelap yang menyelimuti Tatsuya.

Miyaji pengen banget nangis.

"Hm,, bener juga sih."

Eh...

Nggak salah denger gua?

Seorang Himuro Tatsuya sudah menyerah duluan? Ini bencana. Super duper bencana. Ah, tetapi ini bertanda bagus. Mereka masih bisa menghirup udara se—

"Atsushi~..." Entah ini imaginer mereka atau bukan, yang pasti mereka merasakan gempa bumi yang lumayan kuat. Sosok pemuda dengan tinggi dua meteran berlari ke arah sumber suara. Rambutnya yang berwarna ungu membuat para sahabat/? Nijimura memasang wajah yang begitu horor. Siapa lagi bukan sosok itu.

Murasakibara Atsushi, kelas 1-3. Badannya memiliki tinggi mungkin karena overdosis makan maiubo (apa hubungannya coba?) yang katanya paling jago masak. Sejak kapan Tatsuya kenal dia? Oh, mungkin sesama ikut klub PKK. Mereka juga ingat bahwa adik kelas berambut ungu ini adalah anak kesayangan Tatsuya. Lapar, minta sama Muro-chin. Minum, minta sama Muro-chin. Susu, minta aja sama Muro-chin. Biasanya dia juga suka minum susu boneto yang bergambar tulang.

Hayo, mikirin apa nodayo?

"Nee, kenapa Muro-chin memanggilku? nyamnyamnyam." Tanya Murasakibara kepada sang mama.

"Atsushi~ hancurkan manusia-manusia dihadapanku ini ya~"

Mampuspuspuspuspus...

Ini sih lebih parah. Lihat aja tangan besarnya, pas banget tuh ngehancurin tulang-tulang.

"GYAHHHHHHHHHHHHHHHH..."

.

.

"Tenang aja kok, Nijimura-san~ Aku nggak akan suka marah-marah kayak Himuro-san. Aku juga bisa masak seperti Himuro-san." Nijimura menghela nafas berat. Tangannya yang barusan dikepalkan kini melemas. Mencoba menjawab tanpa ada yang merasa tersakiti.

"Maaf. Aku tidak mau." Raut wajah Takao berubah menjadi sedih. "Kenapa?! Nijimura-san pasti sudah tersakiti."

"Hahaha..bukan begitu." Nijimura memasang senyum yang begitu tulus, semua orang tercengang melihatnya. Baru kali ini Nijimura menjadi ganteng. Nijimura kesurupan apa?! Kok wajahnya membuat semua orang klepek-klepek?! Lihat aja Momoi dan Riko yang sudah cengo melihatnya. Mata Imayoshi juga nggak sipit lagi.

"Walaupun begitu, aku tahu Tatsuya menyayangiku. Memang benar, dia suka memukul diriku sampai-sampai aku dipijat oleh Kagetora-sensei. Tapi itu bertanda kalau dia nggak mau kehilangan diriku.

"Aku menyukai Tatsuya bukan dari segi memasak ataupun kelebihan lainnya. Tapi aku menyukai Tatsuya karena sifatnya yang berusaha mempertahankan seseorang. Jadi, sekali lagi maaf ya. Hehe.." Ucap Nijimura panjang lebar sambil menggaruk-garuk kepala nya.

Kita lihat Tatsuya yang sekarang sedang berada di kerumunan orang-orang.

Tatsuya tercengang. Dirinya udah terbang ke langit. Wajahnya memerah bagaikan udang rebus, ataupun kepiting rebus. Lho kok pada ngomongin makanan semua? Tenang, azan maghrib sudah lewat mas broh.

Mau nangis, tapi malu. Mau loncat-loncat, tapi juga malu. Ah, diri ini terlalu senang.

"Yasudah deh. Maaf ya, Nijimura-san." Akhirnya Takao menyerah. Dirinya kalah dari sang pujaan hati seorang Nijimura Shuuzo. Mungkin kekuatan cinta nya masih di level rendah. Baru saja mau pergi, tangan si pemuda berponi belah tengah ditahan oleh Nijimura. Air matanya sudah keluar begitu deras. Tangan satunya mengelap wajahnya yang sudah basah oleh cairan bening.

Sebenarnya Nijimura merasa bersalah. Untung aja klub sumo lagi nggak ada, kalau itu terjadi dia akan menyuruh Shougo untuk membuat surat perpisahan untuk kedua orangtua nya yang sedang berada di luar negri. Nijimura sepertinya lupa sesuatu, ah sudahlah, sekarang dirinya harus menghibur anak unyu-unyu yang ada di depannya.

"Pergilah dan temui Midorima sekarang. Lalu kau harus minta maaf padanya." Dan Takao hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu berlari lagi meninggalkan Nijimura yang masih tersenyum tulus.

.

.

Yuk sekarang tengok Mayuzumi dan Miyaji yang masih cengo.

Baru kali ini.

BARU KALI INI NIJIMONYONG KALO SENYUM JADI GANTENG...!

Lihat aja Mayuzumi yang daritadi datar menjadi ikut senyum juga karena merasa adem melihat senyuman sahabat/? nya. Miyaji udah usap-usap matanya, takut matanya kenak minus atau apalah. Tetapi yang mereka lihat barusan adalah termasuk keajaiban dunia. Mereka sering kok lihat Nijimura senyum. Tapi mukanya jadi semakin pengen ditinju.

"Nee, Atsushi. Ayo kita pulang."

"Tapi Muro-chin, nggak tunggu Niji-chin?"

"Nggak usah. Ayo."

Akhirnya ibu dan anak beranjak pergi. Miyaji menghela nafas lega. Sepertinya tidak ada yang keseleo lagi hari ini.

"Oi, kalian.." Tak lama kemudian, Nijimura menghampiri kedua sahabatnya. "Ayo kita pulang. Gua mau siapkan stamina dulu sebelum digebukin Tatsuya."

Mayuzumi dan Miyaji hanya bisa tersenyum tipis. Sepertinya Nijimura tidak melihat kalau Tatsuya mendengar ucapannya yang super gombal tetapi tulus banget.

Ah, yang penting mereka harus pulang ke rumah masing-masing untuk menghilangkan rasa capek.

Baru kali ini mereka mempelajari satu hal.

Walaupun oon dan mempunyai bibir dengan panjang yang berlebihan, tetapi rasa cintanya terhadap sang kekasih sangat besar.

Eits, kalo ngomong tentang sahabat, Nijimura lebih pilih yang mana?

"Oi, nyong.." Di tengah perjalanan, Mayuzumi memanggil Nijimura. Yang dipanggil hanya bergumam tanda dirinya merespon panggilan sang surai abu-abu.

"Elu pilih mana, Tatsuya atau gua?"

"Hah?"

"Eh, maksudnya elu pilih Tatsuya atau gua ama Miyaji?"

Miyaji mengerutkan dahinya, kaget dengan pertanyaan Mayuzumi yang seperti itu. Nijimura pun juga heran. Langkah pemuda bersurai hitam itu menghentikan langkah kakinya, dan kedua sahabatnya juga ikutan.

"Elu cemburu?" Tanya Nijimura dengan nada heran.

"Nggak. Gua kan cuman nanya."

"Huh..." Nijimura buang muka dan melanjutkan aktifitas jalannya. Kini malah Mayuzumi yang heran, kenapa temannya malah ngambek. Salah apa gua?

"Elu ngarep Mayuzumi cemburu, Nyong?" Eh, malah Miyaji yang nimbrung kayak gitu.

"Bukan, bego."

"Lha terus?"

"Kalo cuman nanya iseng kayak gitu, gua nggak akan mau jawab."

Ya sudah, deh. Iyain aja ucapan Nijimura. Bilang aja malu mau jawab.

Ah, sudahlah. Kita akhiri saja karena pengirim PTB pun sudah ditemukan :v

FIN~


Dogi : baju karate

Akhirnya udah selesai ugak ni chapter... terkena webe itu menyakitkan sekali... haduhhh endingnya malah MayuNiji -_- /bukan

Terimakasih yang sudah mau baca sama ripiw panpic ane... :")

Balasan Review :

Vee Hyakuya : iya tuh. Banyak yang nggak nyangka si Kazu yang ngirim. Ini udah lanjut~ makasih yo ripiw nya :3

macaroon waffle : tuh si mido sama si kazu berantem :( nijimonyong deh yang jadi pelampiasan, hiks. Tenang, Nijimura masih setia kok :'3jadi nggak ada pertarungan kayak di eftivi XD

cupicakue : yap, pengorbanan nijimonyong sia-sia :")

Akari Kareina : ups,, maap deh udah buat ente nggak bisa tidur X'D jangan kasian sama niji~~ si monyong nggak perlu dikasihani :v

Kousawa Alice : yap,, selamatt! anda udah nemu ff ini XD. maafkan ane ya,, mungkin sandwich (sumpah, Cuma liat tulisan ane jadi lapar) HimuNijiTaka mu tidak bisa dipenuhi. Kenapa? Karena hari ini puasa /plak/ yapp, makasih yaa ripiw nyaaa.. ini udah lanjut :3

Kayuyu : iya bener.. aku baru tahu dari temen ane juga XD. tenang~ si monyong sudah tabah karena nasib sialnya selalu di kehidupan dia :v nih udah lanjut ;3

Haruki and Mimi : niji selalu sabar kok :'3. WAHAHAHAHA... MAAF DEH KALO UDAH BUAT KAMU GULING-GULING, SUMIMASENNN! /ikut gaya Sakurai/ :v. Yah~ begitulah~ mereka itu cocok untuk disatukan :3 namanya juga sayang... Himuro mah gitu orangnya :v dan ini udah apdet yaa Mimi-san! :3 Terima kasih ripiw nyaaa XD ane semangat lho baca ripiw dirimu :"D

rarateetsuuyaa: wahahaha... makasih banyaakk XD iya ane baru tahu lhoo~ XD ono khenso is de best...

Hiria-ka : tenang Hiria-san,, ane juga kejepit sama MayuNiji XD entah mengapa mereka cucok bangettt. wahahaha.. nggak apa2... yang penting ente baca dah :v makasih ripiw nyaaaaaaaa.

Yang sedang puasa, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasanya. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah swt.

Amin :)


Omake

Takao masih sedih karena cinta nya ditolak. Lebih sedih lagi karena sang senpai tercinta tahu bahwa dirinya sedang ada masalah dengan sang kekasih, Midorima. Cuma gara-gara salah beli lucky item terus terkena ciuman sampai Takao hampir kehabisan nafas sebagai hukuman. Takao mah gitu orangnya, nggak suka banget dengan tindakan Midorima yang tiba-tiba beri ciuman kayak gitu. Hm, diri ini sedih.

Ya elah mas, kalau Shin-chan mu tsundere malah dirimu suka ngomel. Salahin aja terus tuh Midorima nya.

Padahal Nijimura itu ganteng banget (jangan protes!). Bibirnya yang seksi, sifatnya yang tegas dan kasar, ah yang penting nggak tsundere dan baper kayak Shin-chan!

Takao berjalan ke WC yang tidak jauh dari tempat dirinya dan Nijimura berkumpul barusan. Sudah sampai, kini dirinya membasahi wajahnya supaya lebih segar. Masa nanti ditanya 'Takao, kamu kenapa?' atau 'Kazu-chan! kenapa dirimu menangis?!' dia tidak ingin ditanya seperti itu. Diri ini seterong seperti kuku bima energi. Segera dirinya memakai bando merahnya kembali dan pergi dari WC alias toilet.

"Eh, Takao." Sial, padahal dirinya nggak mau bertemu dengan seseorang yang ada di hadapannya sekarang. "Uhm, Shin-chan? Nggak pulang?" Tanya Takao basa-basi.

"Kita ada latihan basket, bodoh. Kau kenapa masih berkeliaran di sekitar sini nodayo?"

Takao tepuk jidat. Lupa dengan jadwal klubnya sendiri. "Ahahahaha. Ini sebentar lagi aku ke sana." Takao segera berlari dan meninggalkan Midorima. Tetapi sebuah tangan menahan pemuda berponi belah tengah itu.

Midorima membalikkan tubuh Takao dan melihat wajahnya seperti memerhatikan sesuatu yang mengganjal.

Pemuda bersurai hijau itu menghela nafas berat, tangan kirinya –yang jari-jarinya ditutupi oleh perban—mengusap kepala Takao dengan lembut. "Maafkan aku nanodayo. Aku berjanji nggak akan melakukan itu lagi."

"Hee.. nggak apa-apa kok, Shin-chan." Akhirnya Midorima bisa melihat senyuman Takao yang begitu cerah. Lega rasanya karena senyuman itu terhias lagi di wajah temannya. Eh bukan, pacarnya. Takao langsung menarik kedua tangan Midorima. "Ayo, Shin-chan! Nanti Akashi bisa menghukum kita dengan gunting saktinya, hehe."

Dan Midorima tersenyum tipis. "Hm, terserahmu nodayo."

.

.

"Oi Takao."

"Eh, apa?"

"Kau nggak serius kan naksir sama Nijimura-san?"

Kini wajah Takao memucat. Takut kalau ketahuan juga naksir sama sang mantan kapten basket nya. "Uhm, nggak kok, hehe. Aku masih cinta dengan Shin-chan." Duh dusta banget. Padahal dia naksir banget sama abang Nijimura.

Ah. itu jadi rahasia Tuhan, Takao dan kita-kita semua.

FIN..