Chap 14

Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi saat Kyungsoo terjaga dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak. Matanya terbuka perlahan dengan lelehan air mata yanag terjatuh begitu saja. Ia menangis didalam tidurnya dan terjaga karena semua yang terjadi dialam bawah sadarnya seakan membawanya pada masa-masa indahnya bersama Jongin yang telah terlewati dan kini mungkin harus dimasukkan kedalam kotak berlabel kenangan. Tatapan Kyungsoo terpatri pada bagian kosong dikasurnya yang begitu luas. Seperti Jongin, Kyungsoopun sudah mulai terbiasa tertidur dan terjaga didalam pelukan Jongin. Dan pagi ini, ia terbangun dengan air mata akan mimpi yang memuat kilasan masa-masa indahnya dan mendapati dirinya hanya sendirian di kamar yang begitu luas dan begitu terasa hampa.

Under the bed, bigger than he is
I'm like a baby, crying
Why, why, can't I get over you

I wait for you without even knowing
I must have used up a box of tissues
I swear, all my tears are going to dry up

Mungkin sedari awal langkah yang diambilnya ini sudah salah. Menyerahkan dirinya pada Jongin demi membantu kesulitan keuangan untuk menutupi hutang pada Bank. Tapi itu bukanlah alasan utama. Kyungsoo menyukainya, jatuh cinta padanya sejak pertama kali ia melihat Kim Jongin berdiri didepan kelas mengajarkan mata kuliah dikelasnya. Dan hatinya begitu sakit karena semua perlakukan Jongin, perkataan lembutnya, ucapan cintanya hingga kini masih harus dipertanyakan kebenarannya.

Need you, I miss you
I need your love
It hurts, hurts so much
I'll try to remember the good things

Menyakitkan rasanya ketika kau merasa dicintai dan dipenuhi oleh kasih sayang namun dalam sekejap hal indah tersebut direnggut begitu saja dari genggamanmu. Dan Jongin telah melakukan hal itu padanya. Maka jika Jongin bisa berlaku demikian padanya ia tidak akan datang padanya. Meskipun ia begitu mencintai Jongin namun ia tidak ingin perasaannya dipertanyakan ketulusannya oleh tuan Kim yang arogan itu. Karena sebaliknya, ketulusannya pada Kyungsoolah yang harus dipertanyakan.

.

.

Nickhun memasuki ruangan Jongin dan tidak menemukan keberadaan sahabat sekaligus atasannya itu di kursi kebesarannya. Namun ia mendengar suara seseorang muntah dan juga suara air dari keran dikamar mandi. Maka Nickhun memilih untuk duduk dikursi tepat didepan kursi Jongin. Ia perlu mengkonfirmasi tentang tiket keberangkatan Minho ke Seoul yang tentunya sudah ia bereskan dengan cepat termasuk akomodasi Minho selama ia berada di Seoul yang Nickhun tidak mengerti untuk alasan apa Minho dikirim kesana.

Cklekk ! Jongin keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tampak berantakan. Nickhun berdiri dan cukup kaget dengan keadaan Jongin.

"Kim, kau sakit?" Jongin menggeleng.

"Aku juga tidak tahu, sejak beberapa hari aku selalu muntah-muntah dipagi hari, lalu disiang hari," jawabnya sambil meraih gelas berisi air putih dan meminumnya. Ia memencet nomot extention sekretarisnya. "Clara, tolong buatkan aku teh mint,"

"Kau minum teh mint, tidak biasanya,"

"Yang kutahu itu bagus untuk diminum disaat tubuh sedang tidak sehat,"

"Kau keberatan jika aku bertanya soal keberangkatan Minho ke Seoul?" Jongin melonggarkan dasinya.

"Kita akan membicarakannya setelah Clara membawa teh ku," Nickhun mau tidak mau mengangguk dan tidak lama kemudian Clara muncul dengan secangkir teh mint. Jongin meminumnya dengan hikmat dan tampak merasa lega setelahnya. "Ia harus mengawasi Kyungsoo disana,"

"Kyungsoo, dia tidak kembali ke Manhattan?" tanya Nickhun. Jongin menghela nafas pelan. Matanya memejam mencoba meresapi hangat yang dihantarkan oleh mint yang tercampur didalam teh yang ia minum.

"Tidak,"

"Kenapa?"

"Ia memutuskan berpisah…"

"Apa, kenapa tiba…"

"Kyungsoo hamil anakku."

"Tib..apa, hamil kau bilang?" sentak Nickhun terkejut. Jongin mengangguk. "Astaga Jongin, apa ini seperti kasus Im Nana?" Jongin menggeleng.

"Kau jelas tahu Kyungsoo berbeda Nick, dan kau harus tahu kalau akulah pria pertama yang menyentuhnya,"

"Holy shit!" umpan Nickhun tidak percaya. Gadis mungil itu masih perawan saat Jongin menyentuhnya. " Lalu kenapa ia ingin berpisah darimu?"

"Entahlah…mungkin ini salahku.. mungkin juga salahnya," jawab Jongin keras kepala. "Kau tahu sendiri kalau sudah banyak wanita yang mengaku hamil anakku setelah kami berpisah, dan hal itu membuatku ragu.. maksudku.. Kyungsoo…dia hamil.. seperti wanita lainnya," Nickhun menatap Jongin tidak percaya. Astaga atasannya ini, dimana sebenarnya letak pikirannya pikir Nickhun.

"Boleh aku bertanya Kim?"

"Apa?"

"Aku tidak pernah melihatmu membawa seorang gadis pada keluargamu sebelumnya, apa kau mencintai Kyungsoo?" Jongin menelan ludahnya. "Tidak menjawab bisa diartikan 'Ya' ataupun kau masih tidak yakin,"

"Kurasa aku masih tidak yakin."

"Setelah semuanya, maksudku semua waktu yang kalian lalui bersama, setelah kau mengatakan padaku untuk membatalkan Woman's Contract milik Kyungsoo, astaga Kim bagaimana caramu menggunakan otakmu sebenarnya?" Nickhun benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jongin. "Kau jelas-jelas jatuh cinta padanya, apa yang membuatmu berfikir kau masih tidak yakin?"

"Karena dia hamil."

"Dia hamil anakmu Kim, dan kau mencintainya, jadi dimana letak permasalahannya?" tanya Nickhun menekankan. "Ketika dua orang saling mencintai, bersama dan akhirnya memiliki keturunan maka itu terjadi karena cinta. Selama ini, wanita-wanita seperti Im Nana datang padamu dengan penuh trik dan kamuflase. Kau sendiri yang mengatakan kalau Kyungsoo berbeda, kau jelas mengenal dia balik baik dari pada diriku. Bahkan aku saja bisa menilai ia tidak mungkin berbuat seperti apa yang wanita-wanitamu lakukan. Dan kini ia meminta pisah denganmu, kurasa itu pilihan tepat. Anakmu mungkin saja akan malu dimasa depan memiliki ayah yang tidak tahu arti kata cinta dan bertanggung jawab!" Jongin merasakan kepalanya berdenyut-denyut nyeri mendengar semua penuturan Nickhun.

"Aku tidak bisa berfikir saat ini, kita bicarakan nanti saja Nick," ringis Jongin menekan pelipisnya.

"Kau harus memeriksakan diri jika keadaanmu tidak baik," saran Nickhun, walaupun mereka bersahabat dan Nickhun mengetahui sebagian besar tentang permasalahan Jongin namun ia tahu menempatkan posisinya. Jika Jongin meminta ia diam maka ia akan diam. "Tapi Kim, kau bilang Kyungsoo hamil?" Jongin mengangguk.

"Hmm."

"Apa kau tidak pernah melihat tanda-tandanya?"

"Maksudmu?"

"Ya, seperti muntah-muntah, lemas dan semacamnya, OH ASTAGA!" Nickhun menaikkan suaranya terkejut dengan pemikirannya sendiri.

"Ya jangan berteriak, kepalaku pusing Buck!"

"Kau mengalami morning sick!" cetus Nickhun.

"Apa?" Jongin menatapnya bingung.

"Itu lumrah terjadi pada wanita yang tengah hamil setahuku, tapi adakalanya itu terjadi pada suami,"

"Jangan mengada-ngada."

"Aku serius, itu terjadi pada saudara Tiffany saat istrinya tengah hamil," jawab Nickhun. "Astaga Kim itu benar-benar anakmu, kau akan menjadi ayah," Jongin terdiam.

Nickhun adalah orang pertama yang mengatakan hal itu. Bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah. Jongin merasa sesuatu menekan dadanya. Seakan ada sumbat yang dipaksa untuk dilepas. Namun jika sumbat itu dilepas maka kekosongan akan begitu menyergap hatinya. Kekosongan yang sempat terisi namun kembali menghilang.

"Ayah…aku?" Nickhun berdiri dan memutari meja kerja Jongin. Ia menepuk pelan pundak Jongin.

"Pikirkanlah permasalahanmu dengan kepala dingin, ingatlah saat pertama kali kau bertemu dengannya, bagaimana kau memilikinya dan menghabiskan begitu banyak waktumu denganya," ujar Nickhun. " Do Kyungsoo adalah gadis pertama yang kau bawa ketengah-tengah keluargamu, gadis yang selalu kau sebut mengingatkanmu pada sosok ibumu.

Masa lalu percintaanmu mungkin sulit dan menyakitkan, tetapi Kyungsoo tidak pantas menerima imbas dari kenangan masa lalumu itu," setelah berkata begitu Nickhunpun berlalu meninggalkan ruangan Jongin. Meninggalkan sipemilik yang terdiam dengan pandangan menerawang. Jongin meraih ponselnya dan saat ia membuka locked screen disana terpampang fotonya dan Kyungsoo saat mereka berlibur di Italia. Kyungsoo tampak begitu bahagia, dengan senyuman cantiknya. Jongin mengelus layar ponselnya dengan senyuman tipis. Damn, I miss you baby girl bisiknya lembut. Dan disaat itulah ia memencet angka nomor 3 diponselnya. Karena nomor 1 jelas nomor ayahnya, nomor 2 nomor Yaejin dan nomor Kyungsoo berada di nomor 3. Lama terdengar nada tunggu disana membuat Jongin berharap-harap cemas apakah Kyungsoo telah memblokir nomornya seperti ia memblokir nomor Heechul. Tidak, tidak diblokir karena panggilannya diangkat.

"Yeoboseyo!" Jongin terkejut, itu bukan suara Kyungsoo namun suara seorang lelaki. "Yeoboseyo?" Jongin menggeser tombol merah untuk memutus panggilan. Matanya menatap nyalang pada layar ponsel yang tidak bersalah.

"Do Kyungsoo…kau…" gigi Jongin bergemerutuk saking kesalnya. Bertanya-tanya siapa gerangan lelaki yang menjawab panggilannya barusan. Itu sudah jelas bukan suara Park Chanyeol karena ia bisa mengenali langsung suara Park Chanyeol. "Akhh sial!" makinya. Jongin kembali melakukan panggilan dan kali ini ke nomor Minho.

"Ya tuan Kim."

"Setelah kau sampai di Seoul, temukan keberadaan Kyungsoo dengan GPS ponselnya dan kabari padaku semua informasi yang kau dapatkan tentangnya, kau mengerti," perintah itu begitu mutlak dan diujung sana Minho menjawab dengan sopan dan tegas. Jongin melemparkan ponselnya keatas meja, tidak mempedulikan bunyi benturan antara ponselnya dengan meja. Ia menarik nafas mencoba menteralkan segala amarah yang menggerogoti isi kepala dan hatinya saat ini. "Kau tidak sedang bermain api dengankukan baby girl," desisnya mengepalkan tangan. Jongin bisa saja terbang ke Seoul jika ia ingin, seperti apa yang ia lakukan saat Kyungsoo membatalkan reservasi hotel untuk Park Chanyeol. Namun kali ini ia ingin melihat dan mengawasi. Apa yang akan dilakukan Kyungsoo setelah mereka berpisah. Dan siapa lelaki yang tadi mengangkat telepon.

.

.

Jang Jaeyeol datang berkunjung dan mengajak Kyungsoo untuk makan bersama di restorannya. Restoran tersebut terletak tidak jauh dari gedung tempat Kyungsoo menginap. Jang Jaeyeol melirik ponsel Kyungsoo yang tertinggal diatas meja, deringnya menarik perhatian lelaki tampan dengan senyuman misterius itu. 'Jongin oppa calling' begitulah yang tertera dilayar. Sebuah senyuman miring terbentuk dibibir Jang Jaeyeol. Ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau untuk menjawab.

"Yeoboseyo," ucapnya namun tidak terdengar jawaban diseberang sana, ia bisa menebak pastilah si penelepon terkejut karena yang menjawab panggilan bukanlah orang yang diharapkan. "Yeoboseyo," ulangnya. Dan panggilan diputus begitu saja. Jang Jaeyeol menoleh kearah lorong menuju toilet memastikan Kyungsoo belum kembali. Menghapus daftar panggilan terakhir dan meletakkan kembali ponsel tersebut.

"You wanna play with me?" ia mendengus dan menunjukkan seringaian dibalik wajah tampan menawan miliknya sambil memandang layar ponsel Kyungsoo yang bergeming.

"Apa pesanannya belum datang, aku lapar," celoteh Kyungsoo saat ia muncul dan mengambil tempat didepan Jang Jaeyeol. Dan tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

"Kau menyukai makanan Jepang?" Kyungsoo menggeleng kecil.

"Tidak juga, aku lebih suka makanan rumah tapi karena aku belum makan sejak semalam jadi aku akan sangat rakus hari ini, jeosonghaeyo Jaeyol-ssi," Jang Jaeyeol menggeleng tidak keberatan dengan senyuman. Ponsel Kyungsoo kembali berbunyi dan membuat Jang Jaeyeol tersentak kaget, ia menajamkan matanya melirik layar ponsel. Sayangnya ia tidak bisa menerka siapa yang menelpon karena Kyungsoo langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut. "Chanyeol-ah," ia menghela nafas sepelan mungkin karena itu bukan orang yang sama dengan yang menelpon pertama kali. Sambil menikmati makanannya Kyungsoo tidak segan mengobrol dengan suara pelan ditelpon. Diam-diam Jang Jaeyeol memperhatikan wajah cantik yang merubah ekspresinya setiap beberapa detik sekali selama obrolan kecilnya itu. Jang Jaeyeol tersenyum mengagumi betapa imutnya gadis ini. Namun ia tahu ia tidak tertarik secara emosional padanya. Ia telah memiliki seseorang yang sangat ia cintai dan kini berada dibelahan dunia lain. Namun saat melihat gadis ini di coffeshop ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Perlahan, Jang Jaeyeol mengedarkan pandangannya kesekitarnya. Namun ia tidak menemukan kejanggalan apapun.

"Aku akan menceritakannya padamu tetapi tidak saat ini Chanyeol-ah, dan jangan khawatir karena aku baik-baik saja," Kyungsoo tersenyum kecil lalu mengakhiri panggilan. Ia memandang Jang Jaeyeol. "Maaf, aku tidak sopan menerima telpon saat aku sedang bersamamu,"

"Bukan masalah besar, temanmu, atau kekasihmu?" Kyungsoo menggeleng.

"Temanku," Jang Jaeyeol mengangguk.

"Kau tahu, sebenarnya aku penasaran dengan alasanmu untuk tidak tinggal bersama dengan keluargamu saat ini, apa kau sedang memiliki masalah?" Kyungsoo tersenyum kecil dan mengangguk.

"Aku hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiranku dan mempersiapkan mentalku untuk bertemu dengan mereka,"

"Sepertinya masalahmu sangat pelik ya?"

"Bisa dikatakan begitu, tapi aku yakin aku bisa mengatasinya,"

"Kau bisa meminta bantuanku jika kau membutuhkannya," tawar Jang Jaeyeol.

"Aku sudah banyak merepotkanmu, tetapi terima kasih sudah menawarkan, kau sangat baik Jaeyol-ssi," ucap Kyungsoo. "Wanita yang memilikimu pastilah akan sangat beruntung," Jang Jaeyeol menatap segelas jus apel miliknya dan tersenyum kecil.

"Aku tidak sebaik itu, entahlah…" gelengnya.

"Kenapa?" Jang Jaeyeol menatap Kyungsoo sesaat menimbang-nimbang haruskah ia bercerita. Dan akhirnya ia berkata "Aku tipe pria yang sangat posesif, kurasa kekasihku mulai merasa bosan denganku saat ini,"

"Sebenarnya tidak masalah dengan lelaki posesif," Kyungsoo tiba-tiba terpikir oleh sikap Jongin selama ini. Memerintahkan Minho untuk selalu mengawasinya. "Kalau boleh tahu apa yang membuatmu begitu posesif?"

"Aku hanya terlalu mencintainya, aku lelah kehilangan orang-orang yang kucintai," jawabnya tenang sambil menyenderkan punggungnya pada kursi. "Aku dibesarkan oleh orang tua angkat, ibuku meninggalkan aku begitu saja saat aku berusia 7 tahun dan aku dibawa ke panti asuhan oleh bibi tetanggaku sebelum akhirnya aku diangkat menjadi anak oleh sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Masa lalu percintaanku juga tidak begitu baik, aku hanya berusaha mempertahakan milikku dan menjaganya untuk tetap berada disampingku," Kyungsoo menatap Jang Jaeyeol lembut.

"Terkadang apa yang menjadi milikmu, tanpa harus kau jaga terlalu keraspun ia tidak akan pergi Jaeyeol-ssi, karena jika kau terlalu keras mengekangnya ia akan lelah," ujar Kyungsoo. " Setidaknya berilah ia sebuah kepercayaan yang bisa ia pertanggung jawabkan, kau bukan menjalin hubungan dengan bocah tetapi dengan wanita dewasa. Kepercayaan adalah modal utama dalam sebuah hubungan," entah kenapa Kyungsoo merasakan dadanya terasa sesak mengingat kepercayaan Jongin yang berubah terhadap dirinya hanya karena kehamilannya. Matanya secara tiba-tiba berkaca-kaca.

"Kyungsoo-ssi, gwechanha?" Kyungsoo menggeleng dan memalingkan wajahnya untuk menghela air mata yang secara tiba-tiba telah jatuh.

"Aku akan ke toilet sebentar ya, maaf," Jang Jaeyeol menatap punggung mungil Kyungsoo yang berlalu menuju ke toilet. Meresapi apa yang baru saja dikatakan oleh Kyungsoo. Ia rasa bukan hanya dirinya yang sedang berada dalam dilema masalah percintaan tetapi juga Do Kyungsoo tengah mengalaminya saat ini.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

maaf kalo masih banyak typo dan karakter yang belum tepat, semoga readers pada paham hehehehe

pay pay ;)