Kim Woman's Contract

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Rate : M

I Need You Girl

Kim Jongin bukanlah satu-satunya lelaki posesif yang begitu menjaga gadis miliknya. Karena dibelahan dunia lain ada sosok yang mirip sepertinya juga tengah berusaha untuk menjaga miliknya yang kini mulai bertingkah aneh seakan berniat melepaskan dirinya dari silelaki. Pria berkemeja putih itu menghela nafas pelan dan merebahkan kepalanya dipunggung kursi kerjanya. Matanya melirik pada sosok bersurai brown yang fotonya terpampang dilayar ipadnya. Tidak, dia bukanlah gadis miliknya melainkan gadis milik lelaki lain, milik Kim Jongin.

A few days ago

Lelaki berkaca mata hitam yang senada dengan coat yang ia kenakan itu tampak bosan menunggu supirnya yang terjebak dalam kemacetan untuk menjemputnya. Untuk menghilangkan rasa bosannya ia memasuki sebuah coffeshop bermaksud memesan segelas kopi. Sambil mengantri ia mengedarkan pandanganya hingga tatapannya terpatri pada sosok tidak asing yang fotonya telah ia lihat beberapa kali dalam sebuah perbincangan dunia maya tentang hubungannya dan Kim Jongin. Tapi apa ia tidak salah lihat. Sepengetahuannya gadis Kim Jongin menetap di Manhattan. Ia melepas kaca matanya untuk mendapatkan gambaran yang jelas. Dan ia yakin matanya tidak salah mengenali meskipun ia belum pernah bertemu gadis ini sebelumnya.

Setelah menyebutkan pesanannya ia masih berdiri sambil menimbang-nimbang haruskah ia menghampirinya. Lelaki tampan ia mengedarkan pandangannya, berfikir apakah ada bodyguard yang sedang mengawasi. Namun itu tidak melihat seseorang yang mencurigakan. Dan ia memutuskan untuk menghampirinya. Berjalan pelan hingga ia berdiri tepat disamping meja gadis bersurai brown yang tampak sedang memandang keluar etalase kaca. Namun sepertinya ia menyadari keberadaan orang lain didekatnya karena ia menoleh, dan lelaki tampan itu memberikan sebuah senyuman.

"Maaf, apa kau sendiri?" gadis itu mengagguk pelan dan mengedarkan pandangan.

"Ya, duduklah jika anda ingin duduk," ia menghela nafas lega, bersyukur karena coffeshop ramai jadi ia memiliki alasan untuk berbagi meja dengan gadis ini.

"Aku sudah khawatir tidak bisa duduk, kakiku pegal sekali menunggu supirku menjemput," jawabnya beralasan sambil mengambil tempat didepan sigadis. "Tapi, apa aku tidak mengganggumu?" ia menggeleng pelan.

"Aniya, gwechanha,"

"Apa kau baru tiba di Korea?" gadis itu menoleh. Masih belum menjawab dan lelaki itu tersenyum maklum. "Maaf, aku hanya ingin membuka obrolan agar tidak bosan tapi jika kau keberatan menjawab tidak apa-apa,"

"Tidak, seharusnya aku kembali ke Manhattan tapi aku membatalkannya," lelaki itu kembali mengangguk mengerti.

"Jadi kau akan menetap di Korea?"

"Kemungkinan untuk beberapa waktu saja."

"Ahh begitu, jadi kau pasti memiliki tempat tinggal atau keluarga disini," gadis itu tertawa kecil, namun matanya tidak ikut tertawa.

"Ya, tapi aku tidak berniat untuk kesana, mungkin aku akan mencari penginapan atau flat yang bisa disewa sementara waktu."

"Ahh aku memiliki usaha rumah peristirahatan di daerah Daegu jika kau berminat," gadis itu menaikkan alisnya. Lelaki itu tertawa kecil lalu menyodorkan tangannya untuk berkenalan. "Aku Jang Jaeyeol, kita sudah mengobrol tetapi belum saling mengetahui nama,"

"Do Kyungsoo."

"Senang berkenalan denganmu Kyungsoo-ssi, sebenarnya aku tidak memiliki maksud apapun," jawabnya tenang dan ramah. "Kebetulan aku memiliki usaha rumah peristirahatan yang sering menjadi tempat menginap turis-turis yang sedang berlibur ataupun untuk menetap sementara waktu. Yahh… anggap saja sebagai ajang promosi jika kau memang membutuhkan tempat, ahh chakkaman," ia merogoh saku coatnya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering.

"Yeoboseyo."

"…"

"Kau sudah disini, baiklah," ia memutus panggilan dan menatap Kyungsoo dengan senyuman ramahnya. Membuat Kyungsoo segan untuk tidak membalas. "Aku harus segera pergi, terima kasih karena berbaik hati berbagi meja dan kursi," lelaki tampan dengan senyum yang menawan itu bangki dan berbalik. Baru tiga langkah ia berhenti karena sebuah suara memanggil namanya.

"Jang Jaeyeol-ssi," ia berbalik dan memandang Kyungsoo. "Boleh aku tahu dimana alamat rumah peristirahatanmu itu?" Jang Jaeyeol tersenyum tampan dengan sebuah anggukan.

"Jang Jaeyeol," ia menggumamkan nama itu dengan dengusan dan tawa kecil. Nama kecilnya sebelum diganti menjadi Choi Siwon saat ia diangkat menjadi anak oleh Nyonya dan Tuan Choi. Ya, ia adalah Choi Siwon yang tak lain adalah kekasih dari Jung Krystal. Ia tidak memiliki dendam pada Jongin, ia hanya memiliki sedikit masalah karena kekasihnya kini sepertinya mulai berusaha mendekatkan diri dengan pengusaha real estate itu. Sejak Lee Kwangsoo bodyguard kepercayaannya menyampaikan semua informasi tentang pertemuan Krystal dan Jongin di Paris ia sudah menaruh kecurigaan. Choi Siwon mulai mencari tahu ada hubungan apa diantara wanitanya dan Kim Jongin. Bukan hanya Kim Jongin yang memiliki Nichkhun Buck karena Choi Siwon juga memiliki orang yang bisa dipercaya untuk mencari tahu tentang Kim Jongin. Hingga ia mengetahui bahwa Jongin dan Krystal dulu berada disekolah menengah yang sama dan menjalin hubungan. Jelas itu membuat Choi Siwon tidak bisa tinggal diam. Apalagi menurut laporan dari Kwangsoo, Krystal akan menjalani kerja sama dengan KJI Enterprise dan Krystal juga tidak mengindahkan tegurannya. Krystal jelas mengenal bagaimana dirinya selama ini. Setahun belakangan mereka menjalani hubungan dengan begitu baik hingga hari dimana Kim Jongin muncul didalam hubungan mereka.

"Aku tidak akan mengusikmu, jika saja kau tidak muncul didalam hubungan ku dan Krystal," desisnya sambil memandang foto Jongin dan Kyungsoo dibandara yang sempat menghebohkan publik. Dan Kyungsoo adalah sarana untuk membuat seorang Kim Jongin mengerti bagaimana rasanya jika milikmu diusik oleh orang lain. Apalagi Choi Siwon menilai sepertinya sedang ada maslah didalam hubungan mereka saat ini.

.

.

Kim Jongin duduk manis didalam ruangan dokter yang tak lain adalah ruangan Go Ara. Ia sudah membuat janji untuk bertemu dengannya hari ini. Pintu ruangan terbuka dan mempelihatkan sosok cantik sang dokter.

"Hai Kim, apa kabar?"

"Tidak terlalu baik, aku butuh diperiksa olehmu."

"Apa yang tidak beres, otakmu?" Jongin mendengus. Go Ara, Nichkhun Buck dan Kim Heechul adalah orang-orang yang selalu bicara sekenanya padanya.

"Tubuhku yang tidak baik, cepat periksa aku," titahnya sekenanya sambil beranjak dan berbaring diatas kasur untuk segera diperiksa. Go Ara beranjak sambil mendelik, mempersiapkan stetoskopnya untuk memeriksa. Ia menaikkan alisnya saat mulai memeriksa detak jantung, denyut nadi. Tidak ada yang aneh dengan keadaan Jongin.

"Kau baik-baik saja, hanya butuh istirahat," jawabnya tenang sambil memasukkan stetoskop kedalam saku jubahnya.

"Aku tidak baik-baik saja dan aku perlu mengkonfirmasi sesuatu padamu," desaknya. "Aku sering muntah-muntah dipagi hari dan terkadang disiang hari, badanku lemas dan kepalaku sering terasa pusing,"

"Muntah dipagi hari, seperti gejala emesis gravidarium?"

"Dan apa pula itu emesis gravidarium?"

"Morning Sickness," jawabnya tenang namun tiba-tiba mata Go Ara memicing. "Wanita mana yang kau hamili Kim, astaga!"

"Wanita mana, memangnya ada berapa wanita yang kukencani?"

"Kau tidak mengencani wanita, kau mengontraknya seperti mengontrak rumah," ketus Go Ara. "Dan lagi aku tidak pernah melihat Kyungsoo kembali kesini untuk mengambil pilnya, apa kau juga mendepak gadis mungil itu hahh?"

"Aku tidak mendepaknya, dan sekedar informasi tentang wanita yang kuhamili adalah Do Kyungsoo," mata bulat Go Ara membola tidak percaya.

"Astaga Kim, kau serius, apa kau sengaja membuatnya hamil, selama ini kau selalu memastikan semuanya aman," Jongin menggeleng.

"Ini tidak direncanakan, terjadi begitu saja, aku dan dia bahkan tidak tahu kalau dia hamil," jawab Jongin.

"Lalu dimana Kyungsoo, kenapa dia tidak kemari bersamamu?" Jongin menghela nafas pelan, membaringkan tubuhnya diranjang periksa dengan lengan menutupi wajahnya.

"Dia tidak disini, ceritanya panjang, dan kacau,"

"Kau mengacaukannya?" Jongin langsung bangkit dan menatap Go Ara. "Kenapa, apa aku salah bicara hmm?"

"Apa aku sebegitu buruknya?"

"Apa kau mencoba lari dari tanggung jawab saat ini?"

"Tidak, Kyungsoo yang memutuskan untuk berpisah."

"Aku yakin dia memutuskan begitu karena ada alasan, Kim," sela Go Ara sambil bersedekap bersender pada pinggir mejanya. Maka mau tidak mau Jonginpun menjelaskan permasalahan yang tengah dihadapinya dengan Kyungsoo saat ini. Termasuk tentang mantan wanitanya, woman's contract yang juga diketahui Go Ara dan kehamilan Kyungsoo yang membuatnya kecewa.

"Kau tahu, dimasa depan ketika kau melihat anak itu tumbuh kau akan menyesal karena telah kecewa saat pertama kali mengetahui tentang kehadirannya," ucap Go Ara masih bersedekap. "Jangan menyamaratakan wanita Kim. Jika Kyungsoo seperti wanita-wanitamu yang lainnya maka ia tidak akan mengakhiri hubungan disaat ia tengah dalam keadaan hamil. Ia tidak melakukannya karena ia tahu, kau menolak dia dan bayinya. Dan ia berfikir, jika kau tidak menginginkan bayinya maka kau juga tidak menginginkannya. Jika kau berfikir bahwa dengan membiayai segala kebutuhan anak itu dimasa depan dan mencantumkan namamu didepan namanya itu sudah cukup maka keputusan Kyungsoo meninggalkanmu itu sudah benar. Dia berhak mendapatkan pria tampan dan memiliki hati dari pada pria tampan yang hanya memakai otak kiri untuk berfikir tentang sex sepertimu," Go Ara tahu ia berbicara agak kasar kali ini namun ia perlu menyadarkan temannya.

"Setelah Nichkhun, kini kau yang menceramahiku," dengusnya namun Jongin tidak menganggap acuh apa yang dikatakan oleh Go Ara. Ia mendengarnya dan menyimpannya dimemori otaknya.

"Kau benar-benar harus berdamai dengan masa lalumu, Kim," tukas Go Ara. Jongin menatapnya dengan pandangan serius. "Kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan jika kau masih bergelut dengan masa lalumu, kita berjalan kedepan bukan kebelakang. Ini bukan hanya tentang tanggung jawab tetapi juga tentang perasaanmu padanya. Jika kau mencintainya maka tidak ada lagi yang harus kau ragukan. Dan setahuku, lelaki yang mengalami morning sickness karena ia begitu mencintai istrinya, dalam kasusmu itu berarti kau sangat mencintai Kyungsoo. Kau mungkin menyangkal, tetapi reaksi alamiah yang terjalin diantara kalian berdua telah menunjukkan apa yang coba kau sangkal," Go Ara tersenyum lalu menepuk bahu Jongin.

"Aku mencintainya," bisik Jongin. Go Ara tersenyum sambil mengambil kertas resep untuk menuliskan resep obat Jongin.

"Wahh aku senang mendengar kau mengatakan kau mencintai seorang gadis, finally," kekeh Go Ara, ia berdiri lalu menyodorkan kertas resep. "Ini resep untukmu, semoga morning sicknessmu berkurang dan cepatlah buat keputusan untuk masa depanmu sebelum semuanya terlambat" Jongin tersenyum dan mengangguk.

"Terima kasih Ara-ya."

.

.

Jongin baru saja menebus obat yang diresepkan oleh Go Ara padanya dan segera menuju ke parkiran dimana mobilnya berada. Getaran di saku jasnya membuat ia menghentikan kegiatannya membuka pintu mobil dan mengeluarkan benda pipih berlayar datar itu. Nama Park Chanyeol berada disana, ia dan Chanyeol memang telah bertukar nomor ponsel sebelumnya saat diacara keluarga dirumah keluarga Park.

"Chanyeol!" Jongin menjawab.

"Kau di Manhattan," itu sebuah pernyataan.

"Ya, aku di Manhattan,"

"Dan Kyungsoo masih berada di Korea, apa kalian bertengkar?" tanya Chanyeol. Jongin tidak tahu ia harus mulai menjelaskan dari mana. "Dengar Kim, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu dan Kyungsoo tapi jika Kyungsoo sampai menghilang meski hanya sehari itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi. Dia tidak pernah memblokir nomorku sebelumnya," Tapi dia tidak memblokir nomorku batin Jongin bodoh, kau menelponnya sehari setelah kau berada di Manhattan sementara Heechul menelpon Kyungsoo disaat ia baru saja sampai di Manhattan. Berarti Kyungsoo memblokir semua panggilan dihari itu.

"Ada sedikit masalah, jangan khawatir aku akan segera menyelesaikannya," jawab Jongin meskipun ia sendiri belum yakin bisa menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dekat ini.

"Kuharap kau tidak menyakitinya Kim, Kyungsoo sudah seperti saudaraku jika kau menyakitinya aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," itu sebuah ancaman. Jongin tidak takut tetapi ia merasa bersalah. Ia telah berjanji pada keluarga Park tidak akan pernah menyakiti Kyungsoo.

"Aku mengerti," sambungan telepon berakhir tak lama kemudian. Jongin masuk kedalam mobilnya dan merebahkan kepalanya pada jok mobil.

"Pikirkanlah permasalahanmu dengan kepala dingin, ingatlah saat pertama kali kau bertemu dengannya, bagaimana kau memilikinya dan menghabiskan begitu banyak waktumu denganya. Do Kyungsoo adalah gadis pertama yang kau bawa ketengah-tengah keluargamu, gadis yang selalu kau sebut mengingatkanmu pada sosok ibumu. Masa lalu percintaanmu mungkin sulit dan menyakitkan, tetapi Kyungsoo tidak pantas menerima imbas dari kenangan masa lalumu itu."

"Bodoh!" desisnya merutuki dirinya sendiri.

"Kau benar-benar harus berdamai dengan masa lalumu, Kim. Kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan jika kau masih bergelut dengan masa lalumu, kita berjalan kedepan bukan kebelakang. Ini bukan hanya tentang tanggung jawab tetapi juga tentang perasaanmu padanya. Jika kau mencintainya maka tidak ada lagi yang harus kau ragukan. Dan setahuku, lelaki yang mengalami morning sickness karena ia begitu mencintai istrinya, dalam kasusmu itu berarti kau sangat mencintai Kyungsoo. Kau mungkin menyangkal, tetapi reaksi alamiah yang terjalin diantara kalian berdua telah menunjukkan apa yang coba kau sangkal."

Ucapan Nichkhun dan Go Ara terngiang-ngiang ditelinga. Jongin memejamkan matanya perlahan, teringat pada pembicaraannya dan Heechul tadi pagi. Ketika kakak sepupunya yang biasanya doyan meledak-ledak bila menyangkut Kyungsoo tampak begitu tenang saat mulut pedasnya melontarkan ucapan yang cukup mengagetkan Jongin.

"Jadi Kyungsoo meninggalkanmu?" Jongin yang baru saja menyesap teh mintnya mendongak kearah Heechul yang tengah mengoleskan selai coklat pada roti bakarnya.

"Apa?" Heechul meliriknya datar namun tenang.

"Kau mendengarku dengan baik Kim," Heechul tengah berbicara serius, jika ia menyebut nama keluarga Jongin berarti apa yang akan dikatakannya adalah hal serius. "Aku memaksa Nichkhun buka mulut," Jongin tidak heran.

"Begitulah," Heechul mendengus mendengar tanggapan Jongin.

"Aku tidak pernah mencampuri hubungan pribadimu dengan wanita-wanitamu sebelumnya Kim. Tapi gadis mungil bernama Do Kyungsoo yang kau bawa kerumah ini dan kau tiduri setelah ia menandatangani Woman's Contract mengingatkanku pada adikku Yubi," ujarnya mulai memotong-motong roti bakar yang telah terolesi selai. "Aku sudah pernah berkata padanya untuk tidak pernah mengharapkan perasaan cinta dari seorang Kim Jongin. Karena kau tidak pernah menawarkan cinta. Tapi kau memberikannya harapan dengan mengatakan kau menyukainya. Kupikir kau sudah bisa menerima masa lalumu dan memulai untuk menjalin hubungan serius dengan Kyungsoo. Tidak kusangkan kau sepengecut itu, jadi aku mendukung keputusannya meninggalkanmu," ujarnya panjang lebar membuat Jongin tertegun.

"Ia tidak pernah mengatakan ia mencintaimu tapi aku bisa melihatnya setiap kali namamu kami singgung dalam obrolan," timpalnya. "Ia hanya gadis biasa yang memiliki keinginan sederhana, bertemu pangerannya, menikah dan memiliki keluarga. Dan aku berulang kali mengatakan padanya bahwa Kim Jongin bukanlah pangeran yang akan membawanya pada altar pernikahan," Jongin benar-benar tertohok mendengar ucapan Heechul. Apa dia seburuk itu.

"Hyung…"

"Kau tidak pernah benar-benar menyukainya,"

"Aku menyukainya hyung," sentak Jongin. "Dan aku juga sadar aku telah jatuh cinta padanya," Heechul membanting garpu dan pisaunya, matanya menatap Jongin tajam namun Jongin tak gentar dan balas menatap.

"Lalu apa yang kau lakukan disini saat ini, seharusnya kau di Korea dan memperbaiki keadaan,"

"Aku akan memperbaiki keadaan tapi aku juga butuh waktu untuk berfikir hyung,"

"Kau tahu apa yang kau butuhkan?" tanya Heechul. "Penerimaan, kau harus bisa menerima kenyataan kalau Kyungsoo tengah hamil. Pikiran buruk menguasai dirimu hingga kau jadi balik berfikir kalau Kyungsoo sama saja seperti wanita-wanitamu terdahulu. Belajarlah untuk menerima dan berdamai dengan masa lalumu. Jika kau dikuasai pikiran-pikiran burukmu maka kau bisa kehilangan orang-orang yang kau cintai. Kyungsoo berada sangat jauh darimu saat ini, segala hal bisa terjadi. Dan ketika itu terjadi kau hanya bisa menyesalinya."

Jongin menghela nafas pelan, ia menggelengkan kepalanya. Jongin membuka ponselnya yang memperlihatkan notifikasi adanya email masuk. Jongin menggeser layar untuk membuka email tersebut. Pengirimnya adalah Minho. Minho sudah sampai di Korea dan ia telah berhasil menemukan keberadaan Kyungsoo. Untunglah Kyungsoo tidak lagi menonaktifkan ponselnya dan memblokir panggilan. Minho dengan mudah bisa menemukan keberadaannya. Jongin membuka folder foto yang dikirim oleh Minho dan matanya menyipit untuk memastikan bahwa ia tidak salah melihat.

"Lelaki ini," gumamnya, jarinya memperbesar foto tersebut dan matanya yang menyipit kini berubah menjadi membola. "Choi Siwon?"

.

.

Krystal baru saja sampai dikantor KJI Enterprise untuk membawakan beberapa contoh gambar yang telah ia siapkan untuk renovasi yang akan dikerjakannya. Setelah memastikan keberadaan Jongin di ruangannya Krystal segera beranjak menaiki lift untuk menuju ke ruangan Jongin dilantai teratas. Krystal tampak begitu cantik, dengan penampilannya yang modis ia melangkah penuh percaya diri begitu keluar dari lift.

"Selamat siang Miss Jung, Mr Kim sudah menunggu anda," Krystal mengangguk dengan senyuman ramah yang mengundang rasa ingin tahu. Karena belakangan Krystal sering terlihat di gedung KJI Enterprise dan Kim Jongin tak lagi terlihat bersama Do Kyungsoo yang telah dikonfirmasi sebagai kekasihnya.

Cklekk ! Krystal mengintip kecil kearah ruangan Jongin dan mendapati sosok berkemeja merah marun itu tengah duduk disofa dengan laptop didepannya dan beberapa berkas diatas meja. Namun yang membuat Krystal mengeryit adalah sepiring strawberry shortcake dengan potongan besar yang berada diatas mejanya. Setahunya Jongin tidak terlalu suka makanan manis.

"Hai Jongin!" sapanya, Jongin mendongak dan tersenyum pada Krystal.

"Masuklah, aku sudah menunggumu," Krystal berjalan menghampiri Jongin dan duduk disofa panjang sementara Jongin duduk di sofa tunggal sambil memeriksa berkas dan sesekali mencomot cake dengan garpu.

"Kau tampak menikmati strawberry shortcakemu Jongin-ah," Jongin nyengir. Krystal menyodorkan map berisi rancangan yang telah ia siapkan dan Jongin menerimanya. "Setahuku kau tidak terlalu suka makanan manis," Jongin mengedikkan bahu.

"Aku hanya ingin, ngomong-ngomong kau mau minum apa?"

"Apa saja boleh," Jongin mengangguk, memencet nomor extention Clara sekretarisnya untuk membawakan teh. Tak lama Clara muncul dan membawakan secangkir teh dan juga setoples cemilan.

"Thank you Clara," wanita bule itu mengangguk sopan dan meninggalkan ruangan. Krystal duduk sambil menyilangkan kakinya sambil memperhatikan Jongin yang tengah membolak-balikkan gambar rancangannya.

"Ngomong-ngomong Krystal-ah, bagaimana kabar kekasihmu?" Jongin membuka obrolan membuat Krystal terkejut dengan pilihan pertanyaannya itu.

"Kabarnya baik," jawabnya pendek.

"Dia berbisnis di Korea, bukan?" Krystal mengangguk.

"Ya, bisnisnya bergerak di bidang manufaktur tapi ia juga memiliki beberapa usaha seperti apartemen dan restoran," jelas Krystal. Jongin mengangguk.

"Hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Jongin. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya.

"Kami…baik…yahh..begitulah," Jongin menatap Krystal.

"Itu berarti hubungan kalian sedang tidak baik," simpulnya. Krystal menyandarkan punggungnya pada sofa.

"Apa tidak masalah jika kita berbicara masalah pribadi di jam kantor begini?" canda Krystal.

"Bukan masalah, kita teman bukan?" Krystal hampir mendengus mendengarnya. Ia sedang berusaha memangkas jarak itu untuk mengubah 'teman' menjadi lebih dari teman.

"Hubungan kami sedang sedikit merenggang saat ini,"

"Kenapa?" Jongin tampak was-was saat ini, ia khawatir Choi Siwon sedang mengincar Kyungsoo.

"Aku lelah dengan sikapnya," lirih Krystal. Ia tidak bersandiwara saat ini, ia berkata apa adanya tentang kelelahannya dengan hubungan yang telah dijalin selama setahun belakangan ini. "Ia terlalu mengekangku, aku bukanlah anak kecil yang harus selalu didikte, ini tidak boleh, itu tidak boleh, kau adalah kekasihku jadi jangan dekat dengannya, astaga itu bahkan dengan teman sejawatku. Ia benar-benar posesif, ia bahkan menempatkan seorang bodyguard untuk mengawasi dan mengikuti kemanapun aku pergi. Demi tuhan aku bahkan bukan selebriti Hollywood yang harus dilindungi dan diawasi 24 jam," ujarnya panjang lebar menuangkan segala hal yang bercokol didalam hatinya.

"Jadi lelaki tinggi yang sering terlihat disekitarmu itu bodyguard?" Jongin bukan tidak menyadari jika selama ini jika ia dan Krystal keluar bersama selalu ada lelaki tinggi berpakaian rapi yang mengawasi mereka.

"Ya, namanya Lee Kwangsoo dan ia adalah bodyguard kepercayaan Choi Siwon-ssi," jawabnya.

"Lalu kenapa kau tidak bicara padanya dan menjelaskan pemikiranmu?" Krystal menggeleng.

"Aku tidak berani mengatakannya," Jongin menghela nafas pelan. Ia menaruh map yang dibawa Krystal diatas meja. Ia perlu memastikan sesuatu karena ia sempat memikirkan hal ini beberapa waktu, melihat gelagat yang Krystal tunjukkan.

"Krystal-ah, apa saat ini kau sedang mencoba mendekatkan diri denganku?" Krystal tercengang.

"Ap..apa?"

"Aku hanya perlu memastikannya, kau tahu kita sudah sejak lama tidak saling menghubungi sebelum pertemuan di Paris," ujar Jongin. "Aku mengingat dengan baik bagaimana caramu menyapaku di pesta reuni, kau tampak tidak tertarik untuk berbicara banyak denganku. Mungkin karena masa lalu kita tidak berakhir dengan baik atau juga karena kau enggan bicara padaku saat itu. Tapi sekarang kau tampak begitu luwes dalam setiap pertemuan dan pembicaraan kita. Aku mengenalmu Jung Krystal, meski kita berpisah untuk waktu yang lama namun aku bisa membedakan rasa tertarik dan rasa pertemanan. Maka aku perlu memastikannya padamu," ungkap Jongin. Krystal menundukkan wajahnya, merasa ia telah ketahuan oleh Jongin.

"Aku…"

"Kau sedang mencoba menjadikanku pelarianmu?" Krystal menggeleng mengelak.

"Tidak Jongin, aku…" Jongin menggapai tangan Krystal dan menggenggamnya lembut dengan senyuman menenangkan.

"Dengarkan aku Krystal-ah," ucapnya. "Kita pernah memiliki masa lalu bersama, itu tidak akan terlupakan olehku bahwa kau adalah gadis pertama yang membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Meskipun hubungan kita berakhir dengan tidak baik namun aku berusaha untuk menganggap itu hanyalah bagian masa lalu kita. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena tidak akan memberikan keuntungan apapun untukku ataupun dirimu. Saat ini, ketika aku memandangmu, perasaan itu tidak lagi sama Krystal-ah. Kau bukan lagi gadis yang sama yang membuatku jatuh cinta seperti dulu. Perasaan yang kumiliki murni selayaknya teman. Karena aku…mencintai gadis lain," Jongin tersenyum pada Krystal meskipun alasan senyumannya adalah karena mengingat sosok mungil Kyungsoo yang telah membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya.

"Maafkan aku Jongin-ah, aku berfikir…aku bisa datang padamu dan meminta perlindunganmu untuk membawaku pergi darinya, aku benar-benar lelah dengan hubungan kami," Jongin mengelus genggamannya dengan tangan kanannya.

"Kalau begitu kau harus ikut denganku ke Seoul," Krystal yang berkaca-kaca menatap bingung pada Jongin.

"Apa, Seoul?" Jongin mengangguk.

"Karena aku dan kau harus menyelesaikan masalah kita," Krystal masih belum mengerti karena Jongin menyebutnya 'masalah kita'. "Mungkin kau perlu melihat ini selagi aku meminta Nichkhun menyiapkan tiket untuk kita berangkat ke Seoul," Jongin menyodorkan sebuah map coklat pada Krystal, ia bangkit dan mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menelpon Nichkhun sambil mencomot cake. Krystal yang penasaran membuka map coklat tersebut dan matanya membulat saat mendapati foto-foto kekasihnya bersama dengan gadis yang dikenalnya sebagai kekasih Kim Jongin. Tidak ada yang berlebihan difoto itu. Keduanya hanya duduk berhadapan menikmati makan siang bersama di sebuah restoran sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Foto lainnya memperlihatkan keduanya tampak menghabiskan waktu sambil berjalan-jalan di taman di kawasan Woobang Land. Krystal mengalihkan pandangannya pada Jongin yang juga tengah menatapnya, memperhatikan ekspresi terkejut Krystal dengan handphone tertempel ditelinganya.

"Dua tiket penerbangan ke Korea malam ini atas namaku dan Jung Krystal," ucapnya ditelpon.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

see you next chap

pay pay ;)